Tips Efektif Mengatasi Rasa Bosan

Pernah merasa bosan? Saya sering. Apalagi jika melakukan pekerjaan yang sama terus-menerus. Meskipun–menurut saya–kebosanan itu datang kalau kondisinya udah “keterlaluan”.

Intinya, saya bukan orang yang mudah bosenan. Sampe bener-bener nggak kuat, baru nyerah. Itu juga biasanya masih disertai dengan keraguan-keraguan, seperti, “Ah, saya terlalu cepat menyerah….”

Nah, tapi ada juga yang cepet merasa bosan. Saya punya temen yang kayak gitu. Dan kadang-kadang, saya heran (sekaligus bingung) bagaimana cara supaya bisa membuatnya nggak cepat merasa bosan.

Kalau saya sih, ada beberapa tips yang biasanya akan saya lakukan untuk mengatasi rasa bosan. Ini dia:

Ganti Aktivitas

Yap, cara pertama yang bisa kamu lakukan untuk bebas dari rasa bosan adalah mengganti aktivitas (yang membuatmu bosan). Misalnya, kamu sedang tidur-tiduran sambil melamun. Eh, lama-kelamaan kok bosen juga. Ya, udah. Bangun dong. Beresin tempat tidur dan lakukan aktivitas lain. Jogging, misalnya?

Lakukan Aktivitas Ringan

Kebosanan biasanya menyerbu saat kamu melakukan aktivitas serius dan butuh perhatian. Karena itu, ubahlah jenis aktivitasmu. Lakukan beberapa aktivitas ringan (dan menyenangkan) yang kamu sukai. Misalnya, sekadar berjalan-jalan di taman sambil menikmati suara burung berkicau.

Ngumpul Sama Teman

Bosan karena sendirian? Ngumpul aja sama teman. Ajaklah mereka untuk hang out ke kafe yang baru buka atau melakukan kegiatan seru bersama. Dijamin deh, rasa bosanmu pasti akan langsung menjauh.

Lakukan Kegiatan Amal

Eits, jangan anggap kalau kegiatan amal itu sesuatu yang rumit dan butuh persiapan. Bisa kok kamu melakukan sesuatu yang sederhana–dan tentunya bermanfaat–untuk orang-orang yang membutuhkan. Misalnya, berkunjung ke panti asuhan, Di sana, kamu akan bisa melihat perspektif yang baru.

Travelling

Ini adalah cara yang cukup efektif untuk mengatasi rasa bosan. Lakukanlah travelling, baik solo maupun bersama-sama ke tempat-tempat yang menyenangkan. Kamu bisa pilih suasana alam yang memesona dan menantang atau ke tempat-tempat bersejarah. Intinya adalah menyegarkan pikiran dengan melihat pandangan yang berbeda.

Tidur

Apabila semua hal tersebut tidak memungkinkan untuk dilakukan, masih ada satu cara lagi yang dapat mengusir rasa bosanmu, yaitu tidur (atau beristirahat). Rasa bosan disebabkan karena kamu tidak lagi fokus pada sesuatu yang sedang dikerjakan. Daripada tidak produktif, lebih baik kamu menginvestasikan waktu untuk beristirahat sehingga pikiran bisa segar kembali.

Nah, bagaimana dengan kamu, apa cara favoritmu untuk mengatasi rasa bosan?

Nyesel, Kenal Uri-Cran Kok Baru Sekarang…

Produk Uri-cran
Sumber gambar: screenshot dari uricran.co.id

Seorang teman pernah bilang begini, “Ternyata, menjadi wanita itu ribet banget yaa..” Pernyataan ini tiba-tiba ia lontarkan setelah mendengar kabar banyak wanita yang meninggal karena diserang penyakit mematikan, seperti kanker serviks, kanker payudara, dan sebagainya.

Ia juga kenal beberapa orang yang masih bergumul mati-matian untuk pulih dari penyakit-penyakit tersebut. Banyak di antara mereka–meskipun sudah dinyatakan sehat–tidak se-strong sebelumnya.. Jadi, pernyataannya bisa dibilang ada benarnya juga.

Namun, jangankan penyakit mematikan seperti itu, pada keseharian saja juga banyak wanita yang mengeluh karena kesehatannya. Contoh sederhana, menderita rasa kram yang berlebihan pada saat haid. Atau tulang yang terasa mulai ringkih akibat kekurangan kalsium. Termasuk dalam hal ini, anyang-anyangan.

Pernah nggak kamu mengalami anyanganyangan? Kalau ada yang belum tahu, anyang-anyangan adalah sebuah kondisi di mana kita sudah BAK (buang air kecil) tapi terasa belum selesai. Kayak masih ada yang tertinggal, tetapi sebenarnya udah nggak ada. Anehnya, selang beberapa waktu kemudian, rasa pengen BAK muncul lagi… Kan, kzl!

Saya beberapa kali mengalami ini, sodara-sodara! Dan, tentunya sangat tidak nyaman. Apalagi karena setiap hari saya harus beraktivitas di luar rumah alias di kantor. Sebagai pekerja 9 to 5, kondisi ini sungguh mengganggu. Beneran.

Karena tampaknya bukan penyakit “parah”–dan dasarnya saya memang males ke dokter (jangan ditiru, ya!)–saya biarin saja deh hal itu berulang beberapa kali. Padahal ya, anyang-anyangan adalah pertanda tidak baik karena bisa jadi merupakan gejala Infeksi Saluran Kemih. Duh, kalau namanya udah infeksi, apa nggak bikin gemetar, bukibuk?

Sebenarnya, apa sih penyebab anyanganyangan? Saat saya hamil, saya juga mengalami anyang-anyangan, tepatnya di trimester ketiga kehamilan. Menurut yang saya baca, ini wajar karena kandungan makin membesar sehingga menekan kandung kemih. Ibaratnya, tempat penampungan urine makin sempit sehingga ibu pun harus bolak-balik ke kamar mandi.

Yang perlu diwaspadai adalah ketika anyang-anyangan terjadi sebelum itu atau bahkan saat tidak hamil. Apalagi jika ditambah dengan rasa sakit buang air kecil. Wah, itu berarti gejala ISK sudah semakin jelas. Sebaiknya, perlu dilakukan tes urine.

[Sebenarnya, penyebab sakit saat buang air kecil adalah akibat infeksi tersebut. Kalau sudah sampai pada tahap ini, selain tidak nyaman, juga berbahaya bagi kesehatan kita.]

Tes urine sebenarnya sederhana, kok. Kita hanya perlu menyerahkan sampel urine untuk diperiksa di lab. Hasilnya juga cepat dan biayanya murah. Jadi, nggak perlu takut seandainya dokter menyarankan untuk melakukan tes urine untuk memastikan apakah benar kita mengalami ISK.

Namun, lagi-lagi karena keras kepala dan kadang-kadang menyepelekan sesuatu, saya justru mengambil tindakan yang sangat tidak tepat. Cara mengatasi anyanganyangan yang SALAH yang saya lakukan (sekali lagi, bukan untuk ditiru!) justru adalah:

  • Menggunakan pantyliner. Okelah, ini bisa membuat saya lebih nyaman pada saat harus ngantor. Saya hanya perlu menyediakan stok yang banyak untuk ganti sesering mungkin. Tapiii… sejauh mana kondisi ini bisa bertahan? Bukankah itu berarti saya hanya mengatasi akibatnya, tetapi bukan sumbernya? Kan lucu kalau berharap sembuh.
  • Mengurangi minum. Ya, ampun, kalau dipikir-pikir lagi, ini keputusan paling buruk yang pernah saya buat. Jadi, logikanya, karena nggak mau bolak-balik ke toilet untuk BAK,  saya merasa lebih baik jika mengurangi minum sekalian. Apalagi pada malam hari ketika saya butuh istirahat yang berkualitas. Maksudnya untuk mengurangi frekuensi BAK, eh ternyata malah menyebabkan dehidrasi. Ginjal juga jadi terkena dampaknya. Hmmm..

Lalu, saya pun mendengar sebuah solusi jitu, yaitu Prive Uri-cran. Berbahan dasar tanaman, yaitu ekstrak cranberry, suplemen ini disebut bisa membantu memelihara kesehatan saluran kemih. Ada 2 jenis yang tersedia, yaitu kapsul dengan dosis minum 1-2 kapsul per hari. Ada pula Prive Uri-cran Plus berupa powder sachet dan diminum 1-2 sachet per hari.

Ekstrak cranberry yang mengandung proantocyanidin ini bisa menangkap bakteri e.coli yang awalnya hendak menempel di dinding saluran kemih dan menyebabkan infeksi. Jadi, dengan rutin meminum Prive Uri-cran, anyang-anyangan bisa dicegah deh hehehe.

Ah, seandajnya dari dulu saya sudah mengenal Uri-cran, mungkin saya nggak perlu melakukan hal yang kurang bijak dan tidak baik untuk kesehatan ini. Saya juga bisa mengatasi susah buang air kecil dengan cara yang lebih mudah, praktis, sekaligus alami..

Maafkan saya, tubuh! Sekarang, saya mau deh nyobain Uri-cran supaya terhindar dari anyang-anyangan dan kesehatan tetap terjaga. Kamu juga, ya.

Kita Perlu Kue Ulang Tahun?

Rabu, 14 Juni 2017, W ulang tahun. Momen ini saya tunggu sejak lama. Bukan mau apa-apa sih, cuma karena baru pertama kali saja.

Dari pagi, emaknya ini udah baper nggak karuan. Saya bangun pagi-pagi banget, antara lain karena tidurnya kecepetan. Lalu, memandang wajah anak lanang yang masih lelap di tengah kegelapan. Damai rasanya.

Nah, hari itu sebenarnya berlangsung biasa sih. Kami hanya mengucap syukur dan berbagi sedikit dengan guru-guru W di sekolah. Nggak ada roti, nggak ada lilin yang ditiup. Saya udah cukup bahagia karena W sembuh dari demam berhari-hari.

Namun, saat pulang, si ayah mampir BreadTalk. Ternyata… dia mau beliin kue ultah buat W, yang bentuknya Angry Birds. Astagaaa… Haha. Emaknya yang berpikir fungsional menolak. Ah, si dede kan belum bisa makan roti begituan. Beli yang lain aja, bolu kek, atau yang lembut-lembut.

Wkwkwkwk…

Habis itu jadi nyesel sih saya melarangnya. Padahal, niatnya mungkin pengen ngerayain ultah pertama anak lanang. Biar sepesial dikit.

Nah, kalau saya prinsipnya beda. Nggak mau mainstream. Udah biasalah pake kue buat ngerayain ultah. Justru.. kalau nggak dirayain malah membanggakan (buat saya). Dan saya pengen kelak W juga nggak selalu berharap ultahnya dirayain, dapat kado macem-macem. Karena memang bukan itu intinya. Saya pengen dia bersyukur aja dengan sederhana setiap tanggal ultahnya.

Sesederhana itu pertentangan kemarin. Tapi, saya jadi berpikir juga. Besok-besok, mesti akan banyak pertentangan lain dalam merawat W. Boleh ini atau boleh itu. Perlu ini atau perlu itu. Ikut prinsip siapa? Semoga selalu ada jalan tengah dimana kami bisa menyelaraskannya. Semoga selalu ada yang mau mengalah di antaranya keduanya.

NB: W sekarang sudah bisa bilang, “Cicak”, “Kereta”, dan “Topi”. Dia juga bisa niruin suara tekek. Hahaha.

Piknik Pertama W di Bonbin Gembiraloka

Bulan April dan Mei ini banyak hari liburnya. Senang, sih. Itu berarti saya punya waktu lebih banyak di rumah bersama W. Sedihnya, nggak ada kegiatan. Masa cuma leyeh-leyeh saja sepanjang hari. Bosen!

Nah, beberapa hari sebelum tanggal 1 Mei, si ayah tiba-tiba ngomong dengan nada bertanya, “Libur panjang ini kamu mau ke mana, *Nogu?” Saya yang dengerin dari ruang tengah langsung menyahut. “Emang mau ke mana kita?”

Hahaha. Dasar ibu-ibu kurang piknik! Ayah pura-pura cuek saja dan masih sibuk ngegodain anak lanang. Nyiumin sampe bayi itu ketawa terkekeh-kekeh.

Setelah dikorek baik-baik (karena si ayah ini jarang banget usul soal piknik dan hal-hal yang bikin “senang” lainnya), akhirnya mau juga dia menjelaskan. Tepatnya sih, memaparkan rencananya untuk berwisata ke Kebun Binatang Gembiraloka dengan mengajak W. Yeaayy!

Saya… langsung saja setuju tanpa mikir apa-apa lagi. Akhirnya…

Senin, 1 Mei 2017, kami berangkat sekitar pukul 09.00 WIB. Takutnya kalau kesorean bakal hujan. Repot. Untungnya hari itu cerah banget, malah cenderung panas terik. Sebelumnya, kami mampir di toko Essen, toko roti langganan. Rencananya, kami sudah pulang sebelum makan siang. Jadi, kami cuma beli makanan kecil saja.

Tiba di Gembiraloka, suasana masih sepi. Ya, ada beberapa gerombol anak-anak yang riang banget berlarian. Ada juga ibu-ibu yang bawa balita-balita seperti W. Heuheu, banyak temen jadinya.

Setelah membayar tiket, kami pun masuk. Tentu saja, tiket hanya untuk orang dewasa. Sekarang harganya Rp30.000 per orang. Bersama tiket, kami dibekali selembar brosur yang berisi peta wilayah bonbin dan beberapa informasi seputar bonbin lain.

Setelah W lepas jaket (biar lebih nyaman), kami mulai berkeliling. Tujuan pertama adalah menonton acara Gelar Satwa Terampil. Ini adalah sebuah atraksi yang menampilkan beberapa satwa di Gembiraloka. Semuanya memiliki keterampilan khusus. Misalnya, mendorong gerobak, menghitung, mengerek tali bendera, dan sebagainya. Maafkan, saya lupa nama-nama hewannya. Hehe. Yang jelas, semuanya pinter-pinter dan nurut kata pemandunya.

Pertama kali lihat atraksi itu, sekitar dua atau tiga tahun lalu, kami tertarik dengan burung-burung yang dipandu untuk terbang ke sana kemari. Mereka cantik-cantik banget dan suaranya indah. Nah, kami pengen mengajak W juga melihat itu.

Si ayah pun mengajak kami untuk memutar arah. Kalau biasanya para pengunjung diarahkan untuk menyusuri jalan yang sudah disediakan (yaitu belok kiri), kami justru ke kanan. Katanya, “Biar cepet nyampe. Soalnya atraksinya pukul 10.00 WIB”. Dan.. kami pun berjalan tergopoh-gopoh mengejar itu.

Aih, dan ternyata tempatnya jauh juga ya dari pintu masuk. Saya yang kebagian menggendong W lumayan ngos-ngosan. Rasanya kok seperti jalan tak berujung. Halah!

Area bonbin memang luas. Jadi, ya siap-siap saja kakinya pegel. Sebenarnya ada kereta yang disebut Taring berkeliling di sepanjang area bonbin, tapi kami memilih untuk jalan kaki saja. Sekalian olahraga hahaha.

Tepat pukul 10.00 WIB, kami tiba di lokasi atraksi. Ini adalah semacam panggung kecil yang dikelilingi tempat duduk dari papan kayu. Suasana udah rame. Masih ada tempat  kosong di sudut dan kami pun menuju ke sana.

Atraksi sepanjang 30 menit itu cukup bagus. Hanya saja, apa yang kami harapkan nggak muncul. Entah ke mana burung-burung itu pergi. Hiks. Dan sedihnya lagi, W malah nggak bisa menonton dengan jelas karena posisi kami di sudut. Dia malah asyik ngemil roti. Wew.

BERSAMBUNG…

*Nogu (bahasa Nias): Anakku

[Resensi Buku] Ogomadara Kanojo – Zephyr

Judul: Ogomadara Kanojo

Penulis: Zephyr

Penerbit: PING

Cetakan pertama: 2016

Jumlah halaman: 200

ISBN: 978-602-391-164-6

***

“Jika kau berhasil menemukan hoshizuna, keberuntungan akan segera datang kepadamu.”

“Jadi, keberuntungan apa yang akan kau dapat setelah ini?”

Gadis itu berdiri kaku, merasa begitu bodoh karena kesulitan menjawab pertanyaan sederhana itu. Tenggorokannya tercekat, jemarinya terkepal erat saat menyadari betapa selama ini hanya sedikit sesuatu yang bisa membuatnya tersenyum. Matanya mengerjap, kenangannya seketika terbang bersama kepakan sayap ogomadara yang baru saja hinggap di bahunya.

“Kau suka ogomadara?”

Jantung sang gadis berdenyut begitu dalam saat pertanyaan itu tiba-tiba meluncur dari bibir pria di sampingnya—pertanyaan yang bukan kali pertama ia dengar. Rekaman memori dalam benaknya seakan diputar kembali hingga membuatnya sedikit gemetar, karena yang ia lihat saat ini bukanlah ayahnya.

***

Apakah Ogomadara? Menurut cerita dalam novel ini, ogomadara adalah spesies kupu-kupu beracun berwarna hitam dan putih. Semasa menjadi ulat, hewan ini memakan houraikagami—jenis rumput beracun. Racun bernama danaidone ini tersimpan dalam tubuh ogomadara hingga ia menjadi kupu-kupu.

Chouko, tokoh utama dalam novel ini, tak menyukai ogomadara. Padahal ayahnya senang sekali menyamakannya dengan kupu-kupu ini. “Karena ogomadara adalah kupu-kupu tercantik di pulau kita!’

Chouko memiliki dua orang saudara, yaitu Hayato dan Masaru. Mereka adalah pendatang di Kota Chiba. Telah terjadi sesuatu pada keluarga Chouko sehingga mereka pindah dari Pulau Taketomi. Di kota itu, Hayato bekerja untuk menghidupi mereka bertiga.

Karena kasihan, Chouko juga membantu kakaknya dengan menjadi pelayan di kafe milik sepupu Yoshida Shiki, teman satu-satunya di SMA. Adapun Shiki adalah anak seorang konglomerat, tetapi tak terlalu menonjol. Bertemu dengan Chouko semacam takdir. Meskipun gadis itu berkarakter dingin dan sulit didekati, Shiki pantang menyerah.

Dalam novel ini, kita akan disuguhi perjalanan hidup Chouko dan kedua saudaranya. Anak SMA itu harus belajar mandiri supaya bisa bertahan hidup. Di sisi lain, ada karakter Shiki yang memiliki segalanya sekaligus merasa kosong karena dianggap invisible oleh teman-temannya.

Tema besar cerita ini sebenarnya sederhana, yaitu bagaimana dua karakter bertemu dan saling melengkapi. Kemudian, terciptalah reaksi yang wajar terjadi dan alamiah.

Konflik yang cukup sempurna membuat novel ini terasa hidup. Chouko, Hayato, dan Shiki memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Pengalaman inilah yang menentukan sikap mereka selanjutnya. Apa yang sebenarnya terjadi pada keuarga Chouko akhirnya terbongkar pada halaman-halaman selanjutnya. Di sini, kita menyadari betapa wajar sikap gadis itu setelah peristiwa yang terjadi.

Membaca novel ini membuat kita larut dalam situasi yang diciptakan penulis. Karakter para tokoh dibuat sedemikian rupa supaya tak terkesan dibuat-buat. Konfliknya menyatu dan saling berkaitan.

Selain itu, kita juga bisa mempelajari beberapa istilah-istilah sederhana dalam bahasa Jepang. Istilah ini dilengkapi dengan penjelasan yang lengkap sehingga pembaca memahami maksudnya.

Novel ini menurut saya cukup lengkap secara struktur. Alurnya pun tak membosankan karena disusun maju mundur. Para tokohnya memesona dengan caranya masing-masing.

Kita disuguhi oleh perjuangan berat seorang gadis muda untuk membuat keluarganya yang tersisa tetap utuh. Sembari menyembuhkan diri dari kesalahan masa lalu, masa depan harus dijalani. Chouko menunjukkan kepada pembaca bahwa bangkit dari kesalahan serta tak menyimpan penyesalan yang mendalam adalah kunci untuk maju.

Bagi yang suka hal-hal berbaju Jepang, novel ini juga patut dikoleksi. Pemaparan setting-nya sangat mendukung dan menolong kita sebagai pembaca untuk membayangkan di mana peristiwa itu terjadi. Meskipun tidak terlalu kental, aroma Jepang tetap terasa.

Hal itu juga diperkuat oleh cover buku yang sangat Jepang. Kita jadi ingat komik-komik romantis Jepang, tetapi ini versi novel. Jadi, bagi penggemar komik, Ogomadara Kanojo ini bisa dicoba.

[Resensi Buku] Cafe Lovers – Rosyidina Afifah

Judul: Cafe Lovers

Penulis: Rosyidina Afifah

Penerbit: deTeens

Cetakan pertama: Juni 2016

Jumlah halaman: 268

ISBN: 978-602-391-179-0

***

Berawal dari insiden kantong belanja yang tertukar, Ersen bertemu dengan Adile, gadis periang yang mendalami lukisan aliran surealis. Setiap tiga hari, Adile mengunjungi Ersen di Kafe Velvet, tempat pria itu bekerja.

Suatu ketika, Adile menjanjikan sebuah kejutan pada ulang tahun Ersen, tepat seminggu lagi. Ersen amat tak sabar dengan itu. Ia penasaran, kejutan seperti apa yang disiapkan Adile untuknya.

Di hari ulang tahunnya, Ersen mendapatkan kejutan yang lain. Adille menghilang. Kenapa? Apa yang terjadi pada Adile? Begitulah tanya Ersen setiap hari. Rasa tanya itu menghantuinya, menuntut jawaban. Akan kah Ersen mendapatkan jawaban dari segala tanyanya akan Adile?

***

TOKOH

Ada dua tokoh utama dalam novel ini, yaitu Ersen dan Adile. Ersen, lelaki berusia 26 tahun baru saja pindah dari Izmir ke Istanbul. Adile, seorang gadis pelukis dengan rambut cokelat almond bergelombang sepunggung. Keduanya bertemu dalam insiden tertukarnya tas belanjaan.

Ersen bekerja di sebuah kafe bersama Sahan. Tak lama kemudian, Sahan membuka kafe sendiri dan Ersen pun pindah ke sana. Ada sebuah alasan besar yang membuat Ersen terpaksa harus pindah meskipun sudah betah di Kafe Velvet.Hal ini berkaitan dengan Adile, gadis yang sudah menjadi temannya yang sering mengunjungi kafe itu.

Penggambaran kedua tokoh ini menurut saya biasa saja. Ersen mungkin hanya lelaki kebanyakan yang tak memiliki keunikan. Saya juga tidak terlalu menangkap karakter dasarnya melalui percakapan atau penjelasan langsung. Kalau Adile.. saya rasa dia mungkin agak gaul, lumayan menarik, tetapi suka terburu-buru.

Ada tiga tokoh lain yang cukup berpengaruh yaitu Sahan, Ayla, dan Ardic. Ketiganya diberi tugas untuk menyempurnakan konflik dalam cerita. Di sini, peran Sahan agak membingungkan. Yang cukup jelas adalah Ardic, yang ternyata mantan Adile. Lalu, terjadilah tarik-menarik antara Ersen dan Ardic dengan memanfaatkan ketidaktahuan Adile.

SETTING

Kisah ini terjadi di Kota Istanbul. Penulis menjelaskannya dengan menjabarkan situasi di sana, misalnya:

“Sistem tata kota Istanbul memang sengaja membuat terowongan bawah tanah untuk dilalui oleh pejalan kaki yang ingin menyeberang dari satu sisi jalan ke sisi yang lain di kota ini, sehingga lajur kendaraan di jalan utama tidak terganggu. Dan biasanya, ada beberapa toko yang meramaikan suasana terowongan itu.” Hal. 15.

“Dari kejauhan, lelaki itu mengamati salah satu objek wisata terkenal di kota Istanbul itu. Mulai dari atap kerucutnya, turun ke balkon yang mengelilingi menara 360 derajat, lalu mengamati susunan bebatuan kokoh penyusun Menara Galata.” Hal. 25.

Sedikit banyak, kita diberi gambaran mengenai keadaan outdoor di sana. Begitu juga penggambaran di dalam ruangan, lumayan menolong kita berimajinasi.

“Ersen memasuki kafe itu yang lebarnya mungkin kurang lebih sekitar lima meter. Di luar, kafe ini memiliki suasana full colour yang cerita. Namun ketika menapakkan kaki di dalam, nuansa vintage dan klasik akan menyelimuti hati tiap pengunjung yang datang.” Hal. 27.

ALUR

Dengan menggunakan alur maju, cerita novel ini cukup mudah dipahami. Kita hanya perlu mengikuti setiap percakapan dan peristiwa yang dibangun oleh penulis. Kita diminta untuk bersimpati pada Ersen yang menyukai seseorang tetapi terhalang oleh peristiwa yang tak terduga.

Namun, endingnya menurut saya kurang mantap. Bukannya saya penggemar happy ending, tetapi cara membangun ending yang seperti itu yang menurut saya agak terburu-buru dan terkesan dibuat-buat.

Novel dengan halaman 268 ini saya rasa terlalu tebal dan masih bisa diringkas. Menghilangkan bagian-bagian yang tidak berdampak terhadap alur utama cerita. Sebaliknya, untuk mendukung ending yang bagus, tentu dibutuhkan struktur yang mengarah ke sana. Karena agak kurang fokus, cerita justru kelihatan mengambang di permukaan.

Secara keseluruhan, saya menyukai ide ceritanya. Kisah yang mengangkat kehidupan para pelayan kafe ini cukup menarik dan sederhana, seperti layaknya kisah hidup sehari-hari. Di sini kita bisa memahami bahwa ternyata dari hal-hal sederhana juga bisa muncul sebuah konflik yang bisa diolah menjadi kisah yang panjang.

Jika Anda menyukai novel dengan setting luar negeri dan berhubungan dengan dunia kafe, novel ini bisa menjadi salah satu pilihan.

Perjuangan Busui (1): Pengalaman Pertama

Tantangan selanjutnya setelah masa-masa begadang lumayan berkurang (atau sudah bisa diadaptasi), yaitu menyusui.

Jujur banget, baru sadar kalau ternyata seribet ini jika berkomitmen memberikan 6 bulan ASI eksklusif untuk baby W. Maklum, ibunya buruh pekerja yang “hanya” dapat cuti 3 bulan saja. Artinya, 3 bulan selanjutnya adalah perjuangan yang butuh strategi.

Saya ceritakan dulu ya pengalaman pertama menyusui 😀

Karena melahirkan secara SC, ASI belum bisa keluar spontan. Begitulah katanya. Jadi, selama beberapa hari, saya minum tablet pelancar ASI. Jangan tanya merknya karena saya hanya disediakan oleh suster untuk diminum pada jam tertentu. Lumayan manjur juga meskipun nggak serta merta mengucur deras gitu.

Satu dua hari pertama setelah baby W lahir, ia mulai belajar menyusu. Secara singkat, suster menjelaskan caranya dan kapan harus disusui. Idealnya, setiap 2 jam, ia harus diajak/dibangunkan supaya bisa minum.

Awal-awal kelahirannya, baby W tidurnya lama sekali. Hampir bisa dihitung berapa lama ia membuka mata. Nah, ini malah jadi tantangan tersendiri. Saat ia tidur lelap sekali, kami kesulitan membangunkannya. Dasar orangtua baru, khawatirnya berlebihan. Takut dia kelaparan karena nggak mau bangun. Belakangan diberitahu, bayi membawa ransum untuk maksimal 3 hari saat dia lahir. Jadi, nggak makan apa pun, ia tetap bisa sehat. Ia juga cuma butuh satu sendok teh ASI karena ususnya baru sebesar kelereng. Hihi, imut ya.

Namun, ternyata aturan menyusui 2 jam sekali itu supaya ia mulai belajar menyusu dan merangsang keluarnya air susu ibu. Kami pun melakukan berbagai cara supaya ia bisa bangun, mulai dari memanggil nama, menyentuh, hingga menggelitik. Enggak bangun juga! Haduh, sampai susternya juga turun tangan lalu angkat tangan. Solusinya, kami disuruh terus mencoba.

Sesampai di rumah, ASI mulai lancar. Kesulitannya hanya pada bagaimana mencari posisi yang tepat. Supaya ia dan saya merasa nyaman. Mulai dari duduk di kursi, punggung tegak, hingga pake bantal sebagai alas. Saya sendiri masih agak takut mengangkat bayi yang keliatan rapuh itu. Masa itu menjadi masa yang lumayan menantang.

Kemudian, masalah selanjutnya muncul: puting lecet. Wuahh. Rasanya lumayan. Apalagi baby W harus tetap menyusu. Tiap dia mulai mengisap, saya harus menahan sakit. Hal itu berlangsung hampir seminggu, sebelum benar-benar sembuh. Di antara waktu itu, saya mencoba untuk melakukan perah di payudara yang lecet. Dan, baby W pun minum dari botol. Hore, dia mau lho. Hitung-hitung belajar kalau nanti ibunya mulai bekerja.

Sekarang, semua udah terasa nyaman. Mulai dari posisi nyaman hingga cara menyusui. Bahkan, “menyusu” sekarang tampaknya menjadi solusi jika ia sedang rewel. Akibatnya lumayan pegel juga.

Fase selanjutnya untuk melanjutkan ASI eksklusif adalah menyediakan ASI perah selama saya bekerja. Ternyata enggak mudah lho. Saya harus cari-cari banyak informasi soal itu.

Bersambung…