Untung Milyaran dengan Menabung, Siapa yang Tak Mau?

nabung

“Haahh?? Beneran, nih??”

Begitu reaksi surpres saya ketika melihat subjek sebuah surel yang bertengger di kotak masuk email saya. Di situ tertulis: “Selamat Para Pemenang Undian Grand Prize Sobatku”. Mata langsung berbinar-binar. Ya, iyalah, dapet hadiah geto loh, siapa sih yang nggak butuh?

Tapi.. sebelum telanjur melonjak kegirangan (dan dikira lebay), saya mencoba merenung sebentar. Ini hadiah dari mana ya? Saya ingat sih, beberapa waktu lalu saya memang mengunduh aplikasi Sobatku di smartphone. Konon kabarnya, dengan menabung di tabungan online yang berbasis aplikasi ini, kita memiliki kesempatan memenangkan ratusan hadiah dengan total miliaran rupiah.

Apa nggak keren, tuh!

Tentu saja, saya pun tertarik dan mencoba untuk mengunduh Sobatku. Caranya gampang saja. Kita hanya perlu membuka Google Play atau App Store, lalu mencari aplikasi Sobatku. Udah deh, setelah itu bisa langsung register. Eits, registernya juga gampang kok, yaitu dengan mengisi data standar, seperti nama lengkap, nomor handphone, alamat email, tanggal lahir, PIN, dan pertanyaan keamanan.

Nah, nantinya, nomor handphone serta PIN inilah yang akan digunakan untuk login ke akun Sobatku.

Keunggulan Sobatku

Sebelum lebih jauh, sebenarnya apa sih yang disebut dengan Sobatku? Barangkali ada yang belum kenal, berikut saya akan memaparkan secara singkat, yaaahh.

Sobatku atau disebut juga Simpanan Online Sahabatku adalah aplikasi yang memungkinkan kita untuk menabung secara online. Bayangkan, hanya dengan menggunakan nomor telepon, kita sudah bisa melakukan berbagai transaksi keuangan.

Berikut adalah beberapa keunggulan Sobatku yang bisa kita nikmati.

  • Download Aplikasi Sangat Mudah, Kakak!

Hal ini sudah saya buktikan sendiri, lo! Tidak butuh waktu lama, tidak harus ke mana-mana, bahkan tidak ada biaya yang harus dibayar. Cukup dengan niat saja, bukibuk. Tinggal set set set, akun sudah terdaftar dan bisa langsung digunakan.

  • Nomor Rekening? Ya, Nomor Handphone

Siapa tahu nih ya, ada temen yang berniat menyampaikan ucapan terima kasih, tetapi segan meminta nomor rekening kita (karena biasanya nomor rekening kan nggak diumbar ke mana-mana, yah, kecuali ada keperluan). Nah, dengan nomor handphone saja, ia bisa lo melakukan transaksi transfer. Mudah dan gratis lagi.

Ini juga berarti kita tak perlu lagi ribet menghafalkan angka-angka nomor rekening karena nomor handphone berfungsi sekaligus sebagai nomor rekening.

  • Say No untuk Biaya Administrasi

Pada titik tertentu, pemotongan pada saldo tabungan kadang bikin trenyuh juga. Apalagi jika jumlah saldo sudah mulai mengkhawatirkan. Nggak ngapa-ngapain kok uangnya lama-kelamaan menyusut. Hadeuh. Merasa rugi dikit, kan. Nah, dengan aplikasi Sobatku, hal itu tidak akan terulang lagi. Kita bebas menabung dengan nominal berapa saja dan tidak ada pemotongan untuk biaya administrasi. Yeay!

  • Tanpa Saldo Minimal, Boleh Ambil Semuanya

Mungkin hal ini nggak kerasa saat ini. Tapi, giliran tanggal tua banget dan pas lagi butuh-butuhnya, aduh, nominal 20 ribu aja bakal diperjuangkan kok. Lumayan buat beli stok mi instan kan, ya. Haha. Nah, Sobatku tidak menerapkan aturan saldo minimal, alias bisa ditarik hingga 0 rupiah. Eits, tapi jangan lupa untuk kembali menabung ya kalau sudah ada rezeki.

  • Beli Pulsa Gratis. Mau Juga!

Kalau ini sih, jangan ditanya. Lumayan juga kok kalau dipikir-pikir.

  • Tarik Tunai di Alfamart/ Alfamidi. Hore!

Keluarga saya adalah pelanggan Alfamart/Alfamidi. Biasanya, kami berbelanja susu untuk si kecil, popok, dan kebutuhan lainnya. Nah, kebetulan banget kan kalau Sobatku bisa ditarik melalui minimarket ini. Kan jadi nggak repot lagi harus cari ATM kalau kekurangan uang untuk berbelanja. Kalau mau langsung tarik uang secara tunai juga bole-bole aja, Kakak! Siapa tahu, mau beli bakso di pertigaan jalan yang lagi rame-ramenya itu.

  • Transfer Antar Bank Murah

Mau transfer antar bank juga murah sekali dengan menggunakan Sobatku. Jadi, kalau ada keperluan mendadak harus melakukan penyetoran ya tinggal pencet-pencet aja.. smartphone-nya hehehe. Apalagi ini nih, bukibuk yang gemar berbelanja online, daripada ribet harus keluar rumah untuk transfer ke olshop langganan, ya lewat Sobatku ajah.

  • Program Undian dengan Grand Prize 100 Juta

Naaahh, ini nih yang dari awal tadi saya ceritakan. Sobatku juga menyelenggarakan program undian milyaran rupiah sebagai bentuk apresiasi kepada para penggunanya. Selain hadiah grand prize sebesar 100 juta yang digelar setiap 3 bulan, ada pula hadiah bulanan senilai 10 juta, 5 juta, 1 juta, 500 ribu, dan 100 ribu untuk ratusan orang.

Syaratnya gampang saja. Kita hanya perlu menabung dengan rajin karena setiap nominal yang kita tabung akan dihitung sebagai poin. Semakin besar saldo, semakin besar pula kesempatan untuk menang. Sayangnya, hiks, saya belum mengisi saldo Sobatku milik saya sehingga hanya bisa ngiler melihat para pemenang yang beruntung itu.

nabung 2

Cara Menabung

Nah, bagi Anda yang ingin menabung di Sobatku, ada 3 cara yang bisa ditempuh.

Pertama, melalui ATM

Caranya berikut ini:

  • Masukkan kartu ATM dan PIN
  • Pilih Menu Transaksi Lainnya, lalu Transfer, lalu Transfer ke Bank Lain
  • Masukkan kode bank Sahabat Sampoerna yaitu 523
  • Masukkan 16 digit virtual account Sobatku yang bisa dilihat di menu Akun Saya
  • Masukkan nominal yang akan ditransfer
  • Cek kembali nomor tujuan dan nominal transfer
  • Selesai

Kedua, melalui Alfamart atau Alfamidi

Caranya berikut ini:

  • Datanglah ke gerai Alfamart
  • Ajukan permintaan setor tunai di Top Up Loket Sahabat di kasir
  • Sebutkan nomor handphone
  • Berikan uang yang akan ditransfer/disimpan
  • Petugas akan memproses transaksi
  • Jika sukses, kita akan mendapatkan notifikasi di handphone

Ketiga, menabung melalui teman

Caranya berikut ini:

  • Cari teman pengguna Sobatku
  • Berikan uang tunai dan minta menggunakan menu transfer ke sesama sobatku
  • Setelah transfer berhasil, ada notifikasi dan jumlah saldo di akun akan bertambah

Nah, gampang sekali bukan? Jadi, ya tunggu apa lagi sih, yuk yuk kita bisa nabung uang nganggur di Sobatku dan mendapatkan keuntungan yang bisa bikin hari kita menjadi lebih cerah.

Disclaimer:

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Sobatku. Artikel ditulis berdasarkan pengalaman dan opini pribadi.

Iklan

Surat untuk Anakku

Sudah lebih dari 13 tahun Ibu tinggal di Pulau Jawa ini. Sembilan tahun di antaranya adalah di Jogja, tempat tinggal kita kini. Banyak yang mengatakan, Jogja adalah kota yang sangat indah. Ibu sangat setuju. Itu pula salah satu sebab yang membuat Ibu memutuskan untuk menetap di kota ini.

Sebelum menjadi warga Jogja, Ibu adalah seorang penduduk di pulau kecil yang terletak di sebelah barat Pulau Sumatera. Nama pulau itu Pulau Nias. Jaraknya lumayan jauh dari Jogja. Makanya, Ibu jarang sekali pulang ke rumah.

Semenjak merantau di Pulau Jawa, Ibu baru 3 kali pulang kampung. Pertama, pada saat Ibu menyelesaikan kuliah. Kedua, pada saat kakak Ibu (pamanmu) menikah. Ketiga, pada saat (calon) Ayahmu ingin menjumpai Nenek dan Kakek. Itu semua peristiwa penting yang “memaksa” Ibu untuk menempuh perjalanan jauh.

Seberapa jauh memangnya? Dengan menggunakan transportasi udara atau pesawat, Pulau Nias bisa ditempuh dalam waktu satu hari. Maksud Ibu, kita bisa berangkat dari Jogja pada pagi hari dan tiba di Pulau Nias sore hari, sekitar pukul 15.00 WIB atau 16.00 WIB. Namun, kalau ada masalah penerbangan–delay misalnya–kita bisa saja sampai keesokan harinya.

Melelahkan, ya.

Meskipun demikian, Ibu tak pernah menyesali–justru begitu menyukai–3 kali momen kepulangan tersebut. Masing-masing merupakan pengalaman yang luar biasa dan membuat Ibu ingin mengulangnya.

Karena itu, Ibu dan Ayah pun berencana untuk mengajakmu berkunjung ke Pulau Nias kelak. Pada hari yang tepat dan ketika kita semua sudah siap. Nah, sekaligus sebagai janji Ibu, berikut kira-kira rancangan perjalanan yang akan kita lalui nanti.

Perjalanan Jogja-Nias yang Penuh dengan Drama

Kepulangan terakhir Ibu bersama Ayah diwarnai oleh masalah yang sangat rumit. Bukan, maksud Ibu bukan pada hubungan kami, tetapi pada kondisi penerbangan yang luar biasa melelahkan. Saat itu, ada sebuah peristiwa yang menghebohkan, yaitu delay belasan bahkan puluhan jadwal penerbangan oleh salah satu maskapai.

Salah satu penumpang yang tak beruntung itu adalah Ibu dan Ayah. Sebenarnya, sejak dari Jogja, masalah itu sudah mulai terasa. Misalnya, ketika jadwal penerbangan molor sekitar  1 jam. Sudah begitu, pesawatnya pun bukan pesawat yang tersebut dalam tiket. Namun, kami merasa bahwa hal itu masih wajar-wajar saja.

Dari Jogja, dibutuhkan waktu sekitar 45 menit penerbangan ke Jakarta. Kami tiba di Jakarta sekitar pukul 08.30 WIB. Ya, kita memang harus transit di Jakarta sebelum menuju ke Nias-Gunungsitoli. Pilihan lain, kita bisa memilih untuk transit di Batam. Kami tiba di Jakarta dalam keadaan selamat. Namun, kabar buruknya, Bandara Soekarno-Hatta dipenuhi oleh para penumpang yang terlantar. Mereka sudah lama menunggu pemberangkatan. Tentu saja, kedatangan kami semakin menambah parah suasana.

Saat itu, Ayah dalam kondisi yang agak kurang sehat. Jadi, Ibulah yang berusaha untuk mencari informasi ke sana ke mari. Anehnya, para petugas dari maskapai tersebut pun menghilang. Sangat khawatir, itulah perasaan kami saat itu. Terkatung-katung di tengah ketiadaan informasi itu benar-benar menakutkan.

Setelah menunggu hingga cukup lama, kami pun akhirnya diberangkatkan sekitar pukul 17.00 WIB. Kali ini, kami akan transit di Bandara Kualanamu Medan. Untungnya, kami membeli tiket terusan melalui website tiket.com sehingga penerbangan selanjutnya tidak hangus. Memesan tiket di tiket.com memang sangat praktis dan efektif juga.

Namun, karena penerbangan terakhir ke Pulau Nias hanya dilayani hingga maksimal pukul 15.00 WIB, kami tampaknya terlambat.

Sebenarnya, ada drama yang masih berlangsung di bandara ini. Mulai dari simpang siur informasi mengenai keberangkatan selanjutnya hingga soal penginapan yang belum pasti. Namun, kami akhirnya bisa beristirahat dengan cukup nyaman dan diberangkatkan keesokan paginya ke Bandara Binaka, Gunungsitoli, Pulau Nias.

Menyusuri Pantai hingga Wisata Kuliner

Anakku, orang Nias menyebut dirinya, “Ono Niha” atau bermakna “Anak Manusia” dalam bahasa Indonesia. Entahlah, Ibu juga kurang mengerti asal-usul nama tersebut. Yang Ibu tahu, sebagai masyarakat yang tinggal di daerah paling barat di Indonesia, Ono Niha itu unik.

Salah satu di antaranya adalah bahasanya yang (katanya) sulit untuk dipelajari oleh penduduk luar. Ayah saja saat itu baru bisa mengucapkan salam khas Ono Niha, yaitu “Yaahowu!”

Selain keunikan bahasanya, kamu perlu tahu bahwa kamu adalah seorang “anak pantai” dan “anak gunung” sekaligus. Mengapa Ibu mengatakan demikian? Karena tempat tinggal Ibu berada di dataran tinggi, tetapi setiap hari Ibu selalu menyusuri pantai. Jalan raya dari rumah kita menuju kota adalah tepat di pinggir pantai. Debur ombak bukan lagi hal yang asing, begitu pula bau asin lautan di udara. Dengan kondisi ini, meskipun Ibu tidak bisa berenang dan hanya sesekali main ke pantai, rasanya masih boleh menyebut diri sebagai anak pantai.

Ketika Ayah datang ke Nias, Ibu pun tak ketinggalan mengajaknya berkunjung ke pantai. Saat itu, kami memang memiliki waktu sedikit di sela-sela persiapan acara yang sangat padat. Bukan hanya sekali, bahkan dua kali Ayah menikmati suasana pantai di Nias. Yang sekali lagi bersama keluarga besar kita.

Sebagai daerah di pinggir pantai, Ibu tumbuh sebagai pecinta makanan laut, khususnya ikan laut. Hampir setiap hari, Ibu makan ikan. Harganya jangan ditanya, murah sekali. Mungkin itu pula sebabnya kamu suka makan ikan. Hehe.

Selain ikan, ada banyak kuliner yang menggugah selera di Nias. Salah satu kesukaan Ibu adalah miesop. Favorit Ibu adalah salah satu warung mie sop di pinggir pantai di pusat kota. Saat Ibu mengajak Ayah ke sana, ia suka sekali. Rasanya memang lezat. Setelah lidah dimanjakan oleh miesop yang menggugah itu, kami juga menikmati es campur yang rasanya tak kalah maknyus. Kalau saat itu kamu sudah ada, kamu pasti akan suka juga, Nak.

Sayangnya, kami hanya beberapa hari di Nias. Namun, pengalaman itu adalah pengalaman yang menarik, khususnya bagi Ayah. Sayangnya lagi, Ayah belum sempat berkunjung ke tempat-tempat wisata yang sebenarnya terkenal di Nias.

Pulau Nias dan Objek Wisatanya yang Tersembunyi

Lihat saja pengalaman Ibu dan Ayah yang penuh perjuangan untuk tiba di Nias. Tentu bagi orang-orang yang belum pernah ke Nias, hal ini pasti akan lebih menegangkan lagi. Tak salah jika Ibu menyebut pulau nenek moyangmu ini sebagai pulau tersembunyi. Mungkin, hanya orang-orang nekat saja yang berani memutuskan untuk datang ke Nias.

Nah, jika kelak kamu ikut pulang ke rumah kita di Nias, Ibu akan mengajakmu ke sebuah daerah yang disebut Teluk Dalam. Ini merupakan daerah yang terkenal dengan objek wisatanya. Dari Kota Gunungsitoli, Kota Teluk Dalam bisa dijangkau dengan waktu 3-4 jam perjalanan. Bila jalan raya sudah agak mulus, sepertinya waktu tersebut masih bisa dipangkas.

Di Teluk Dalam, kamu bisa melihat dengan jelas kebudayaan orang Nias yang masih kental. Mulai dari berkunjung ke Bawomataluo, sebuah desa yang terletak di ketinggian dan dipenuhi oleh rumah adat Nias, hingga bersantai di pinggir Pantai Lagundri yang eksotis.

FB_IMG_1505663575153
Kampung Bawomataluo
FB_IMG_1505663632013
Rumah Adat Nias

Di Bawomataluo, selain melihat kemegahan rumah adat Nias yang ditopang oleh beberapa tonggak berdiameter lebih dari sepelukan orang dewasa bernama, “Ehomo”, pengunjung pun dapat menikmati atraksi budaya yang dikenal dengan nama Lompat Batu atau Fahombo Batu.

Fahombo Batu adalah salah satu kebudayaan orang Nias yang maknanya adalah tanda kedewasaan seorang remaja laki-laki. Atraksi ini adalah dengan melompati batu setinggi 2 meter hanya dengan bantuan sebuah batu kecil sebagai tempat berpijak. Dahulu, ini merupakan prosesi yang penting, tetapi seiring perkembangan zaman, atraksi ini kini sebatas pertunjukkan saja.

FB_IMG_1505663651001
Atraksi Lompat Batu
FB_IMG_1505663643024
Bersama pelompat batu yang mengenakan pakaian adat Nias

Ibu tak bisa bayangkan jika masih berlaku, kamu tentu harus menjalaninya pula. Aduh, cukup khawatir juga melihat batu yang berdiri tegak itu.

Nah, dari Bawomataluo, perjalanan akan dilanjutkan ke pinggir pantai. Sebenarnya, ada banyak pantai di sekitar daerah ini. Namun, ada beberapa yang sudah dikelola dan menarik banyak pengunjung. Salah satunya di Pantai Lagundri.

FB_IMG_1505663622972
Pemandangan dari pinggir pantai

Selain duduk-duduk santai, aktivitas lain yang bisa dilakukan di pantai-pantai di Nias adalah berselancar air. Ya, karena daerah ini terletak berbatasan dengan Samudera Hindia, ombaknya sangat tinggi. Tak heran, banyak peselancar, baik warga asing maupun warga lokal, memanfaatkannya. Di kejauhan, kita akan bisa melihat mereka menari di permukaan lautan yang bergelombang. Ah, seru sekali pokoknya.

Situasi dan kondisi di sekitar pantai juga masih asri dan sebagian besar belum tersentuh oleh perkembangan zaman. Jadi, ingin membawa bekal sambil bercengkerama bersama keluarga akan sangat menyenangkan.

Jika kita sempat berkunjung ke sana nanti, Ibu yakin kamu akan sangat senang dan bahagia. Bebas berinteraksi dengan alam sambil menikmati indahnya ciptaan Tuhan.

Nah, itu saja cerita Ibu yang belum sempurna detailnya. Ibu berharap, hal itu membuat kamu semakin tertarik untuk datang dan menyaksikan sendiri indahnya Pulau Nias, sebuah surga yang tersembunyi.*

FB_IMG_1505663457768
Berkunjung ke pantai sore-sore

Tips Efektif Mengatasi Rasa Bosan

Pernah merasa bosan? Saya sering. Apalagi jika melakukan pekerjaan yang sama terus-menerus. Meskipun–menurut saya–kebosanan itu datang kalau kondisinya udah “keterlaluan”.

Intinya, saya bukan orang yang mudah bosenan. Sampe bener-bener nggak kuat, baru nyerah. Itu juga biasanya masih disertai dengan keraguan-keraguan, seperti, “Ah, saya terlalu cepat menyerah….”

Nah, tapi ada juga yang cepet merasa bosan. Saya punya temen yang kayak gitu. Dan kadang-kadang, saya heran (sekaligus bingung) bagaimana cara supaya bisa membuatnya nggak cepat merasa bosan.

Kalau saya sih, ada beberapa tips yang biasanya akan saya lakukan untuk mengatasi rasa bosan. Ini dia:

Ganti Aktivitas

Yap, cara pertama yang bisa kamu lakukan untuk bebas dari rasa bosan adalah mengganti aktivitas (yang membuatmu bosan). Misalnya, kamu sedang tidur-tiduran sambil melamun. Eh, lama-kelamaan kok bosen juga. Ya, udah. Bangun dong. Beresin tempat tidur dan lakukan aktivitas lain. Jogging, misalnya?

Lakukan Aktivitas Ringan

Kebosanan biasanya menyerbu saat kamu melakukan aktivitas serius dan butuh perhatian. Karena itu, ubahlah jenis aktivitasmu. Lakukan beberapa aktivitas ringan (dan menyenangkan) yang kamu sukai. Misalnya, sekadar berjalan-jalan di taman sambil menikmati suara burung berkicau.

Ngumpul Sama Teman

Bosan karena sendirian? Ngumpul aja sama teman. Ajaklah mereka untuk hang out ke kafe yang baru buka atau melakukan kegiatan seru bersama. Dijamin deh, rasa bosanmu pasti akan langsung menjauh.

Lakukan Kegiatan Amal

Eits, jangan anggap kalau kegiatan amal itu sesuatu yang rumit dan butuh persiapan. Bisa kok kamu melakukan sesuatu yang sederhana–dan tentunya bermanfaat–untuk orang-orang yang membutuhkan. Misalnya, berkunjung ke panti asuhan, Di sana, kamu akan bisa melihat perspektif yang baru.

Travelling

Ini adalah cara yang cukup efektif untuk mengatasi rasa bosan. Lakukanlah travelling, baik solo maupun bersama-sama ke tempat-tempat yang menyenangkan. Kamu bisa pilih suasana alam yang memesona dan menantang atau ke tempat-tempat bersejarah. Intinya adalah menyegarkan pikiran dengan melihat pandangan yang berbeda.

Tidur

Apabila semua hal tersebut tidak memungkinkan untuk dilakukan, masih ada satu cara lagi yang dapat mengusir rasa bosanmu, yaitu tidur (atau beristirahat). Rasa bosan disebabkan karena kamu tidak lagi fokus pada sesuatu yang sedang dikerjakan. Daripada tidak produktif, lebih baik kamu menginvestasikan waktu untuk beristirahat sehingga pikiran bisa segar kembali.

Nah, bagaimana dengan kamu, apa cara favoritmu untuk mengatasi rasa bosan?

Nyesel, Kenal Uri-Cran Kok Baru Sekarang…

Produk Uri-cran
Sumber gambar: screenshot dari uricran.co.id

Seorang teman pernah bilang begini, “Ternyata, menjadi wanita itu ribet banget yaa..” Pernyataan ini tiba-tiba ia lontarkan setelah mendengar kabar banyak wanita yang meninggal karena diserang penyakit mematikan, seperti kanker serviks, kanker payudara, dan sebagainya.

Ia juga kenal beberapa orang yang masih bergumul mati-matian untuk pulih dari penyakit-penyakit tersebut. Banyak di antara mereka–meskipun sudah dinyatakan sehat–tidak se-strong sebelumnya.. Jadi, pernyataannya bisa dibilang ada benarnya juga.

Namun, jangankan penyakit mematikan seperti itu, pada keseharian saja juga banyak wanita yang mengeluh karena kesehatannya. Contoh sederhana, menderita rasa kram yang berlebihan pada saat haid. Atau tulang yang terasa mulai ringkih akibat kekurangan kalsium. Termasuk dalam hal ini, anyang-anyangan.

Pernah nggak kamu mengalami anyanganyangan? Kalau ada yang belum tahu, anyang-anyangan adalah sebuah kondisi di mana kita sudah BAK (buang air kecil) tapi terasa belum selesai. Kayak masih ada yang tertinggal, tetapi sebenarnya udah nggak ada. Anehnya, selang beberapa waktu kemudian, rasa pengen BAK muncul lagi… Kan, kzl!

Saya beberapa kali mengalami ini, sodara-sodara! Dan, tentunya sangat tidak nyaman. Apalagi karena setiap hari saya harus beraktivitas di luar rumah alias di kantor. Sebagai pekerja 9 to 5, kondisi ini sungguh mengganggu. Beneran.

Karena tampaknya bukan penyakit “parah”–dan dasarnya saya memang males ke dokter (jangan ditiru, ya!)–saya biarin saja deh hal itu berulang beberapa kali. Padahal ya, anyang-anyangan adalah pertanda tidak baik karena bisa jadi merupakan gejala Infeksi Saluran Kemih. Duh, kalau namanya udah infeksi, apa nggak bikin gemetar, bukibuk?

Sebenarnya, apa sih penyebab anyanganyangan? Saat saya hamil, saya juga mengalami anyang-anyangan, tepatnya di trimester ketiga kehamilan. Menurut yang saya baca, ini wajar karena kandungan makin membesar sehingga menekan kandung kemih. Ibaratnya, tempat penampungan urine makin sempit sehingga ibu pun harus bolak-balik ke kamar mandi.

Yang perlu diwaspadai adalah ketika anyang-anyangan terjadi sebelum itu atau bahkan saat tidak hamil. Apalagi jika ditambah dengan rasa sakit buang air kecil. Wah, itu berarti gejala ISK sudah semakin jelas. Sebaiknya, perlu dilakukan tes urine.

[Sebenarnya, penyebab sakit saat buang air kecil adalah akibat infeksi tersebut. Kalau sudah sampai pada tahap ini, selain tidak nyaman, juga berbahaya bagi kesehatan kita.]

Tes urine sebenarnya sederhana, kok. Kita hanya perlu menyerahkan sampel urine untuk diperiksa di lab. Hasilnya juga cepat dan biayanya murah. Jadi, nggak perlu takut seandainya dokter menyarankan untuk melakukan tes urine untuk memastikan apakah benar kita mengalami ISK.

Namun, lagi-lagi karena keras kepala dan kadang-kadang menyepelekan sesuatu, saya justru mengambil tindakan yang sangat tidak tepat. Cara mengatasi anyanganyangan yang SALAH yang saya lakukan (sekali lagi, bukan untuk ditiru!) justru adalah:

  • Menggunakan pantyliner. Okelah, ini bisa membuat saya lebih nyaman pada saat harus ngantor. Saya hanya perlu menyediakan stok yang banyak untuk ganti sesering mungkin. Tapiii… sejauh mana kondisi ini bisa bertahan? Bukankah itu berarti saya hanya mengatasi akibatnya, tetapi bukan sumbernya? Kan lucu kalau berharap sembuh.
  • Mengurangi minum. Ya, ampun, kalau dipikir-pikir lagi, ini keputusan paling buruk yang pernah saya buat. Jadi, logikanya, karena nggak mau bolak-balik ke toilet untuk BAK,  saya merasa lebih baik jika mengurangi minum sekalian. Apalagi pada malam hari ketika saya butuh istirahat yang berkualitas. Maksudnya untuk mengurangi frekuensi BAK, eh ternyata malah menyebabkan dehidrasi. Ginjal juga jadi terkena dampaknya. Hmmm..

Lalu, saya pun mendengar sebuah solusi jitu, yaitu Prive Uri-cran. Berbahan dasar tanaman, yaitu ekstrak cranberry, suplemen ini disebut bisa membantu memelihara kesehatan saluran kemih. Ada 2 jenis yang tersedia, yaitu kapsul dengan dosis minum 1-2 kapsul per hari. Ada pula Prive Uri-cran Plus berupa powder sachet dan diminum 1-2 sachet per hari.

Ekstrak cranberry yang mengandung proantocyanidin ini bisa menangkap bakteri e.coli yang awalnya hendak menempel di dinding saluran kemih dan menyebabkan infeksi. Jadi, dengan rutin meminum Prive Uri-cran, anyang-anyangan bisa dicegah deh hehehe.

Ah, seandajnya dari dulu saya sudah mengenal Uri-cran, mungkin saya nggak perlu melakukan hal yang kurang bijak dan tidak baik untuk kesehatan ini. Saya juga bisa mengatasi susah buang air kecil dengan cara yang lebih mudah, praktis, sekaligus alami..

Maafkan saya, tubuh! Sekarang, saya mau deh nyobain Uri-cran supaya terhindar dari anyang-anyangan dan kesehatan tetap terjaga. Kamu juga, ya.

Kita Perlu Kue Ulang Tahun?

Rabu, 14 Juni 2017, W ulang tahun. Momen ini saya tunggu sejak lama. Bukan mau apa-apa sih, cuma karena baru pertama kali saja.

Dari pagi, emaknya ini udah baper nggak karuan. Saya bangun pagi-pagi banget, antara lain karena tidurnya kecepetan. Lalu, memandang wajah anak lanang yang masih lelap di tengah kegelapan. Damai rasanya.

Nah, hari itu sebenarnya berlangsung biasa sih. Kami hanya mengucap syukur dan berbagi sedikit dengan guru-guru W di sekolah. Nggak ada roti, nggak ada lilin yang ditiup. Saya udah cukup bahagia karena W sembuh dari demam berhari-hari.

Namun, saat pulang, si ayah mampir BreadTalk. Ternyata… dia mau beliin kue ultah buat W, yang bentuknya Angry Birds. Astagaaa… Haha. Emaknya yang berpikir fungsional menolak. Ah, si dede kan belum bisa makan roti begituan. Beli yang lain aja, bolu kek, atau yang lembut-lembut.

Wkwkwkwk…

Habis itu jadi nyesel sih saya melarangnya. Padahal, niatnya mungkin pengen ngerayain ultah pertama anak lanang. Biar sepesial dikit.

Nah, kalau saya prinsipnya beda. Nggak mau mainstream. Udah biasalah pake kue buat ngerayain ultah. Justru.. kalau nggak dirayain malah membanggakan (buat saya). Dan saya pengen kelak W juga nggak selalu berharap ultahnya dirayain, dapat kado macem-macem. Karena memang bukan itu intinya. Saya pengen dia bersyukur aja dengan sederhana setiap tanggal ultahnya.

Sesederhana itu pertentangan kemarin. Tapi, saya jadi berpikir juga. Besok-besok, mesti akan banyak pertentangan lain dalam merawat W. Boleh ini atau boleh itu. Perlu ini atau perlu itu. Ikut prinsip siapa? Semoga selalu ada jalan tengah dimana kami bisa menyelaraskannya. Semoga selalu ada yang mau mengalah di antaranya keduanya.

NB: W sekarang sudah bisa bilang, “Cicak”, “Kereta”, dan “Topi”. Dia juga bisa niruin suara tekek. Hahaha.

Piknik Pertama W di Bonbin Gembiraloka

Bulan April dan Mei ini banyak hari liburnya. Senang, sih. Itu berarti saya punya waktu lebih banyak di rumah bersama W. Sedihnya, nggak ada kegiatan. Masa cuma leyeh-leyeh saja sepanjang hari. Bosen!

Nah, beberapa hari sebelum tanggal 1 Mei, si ayah tiba-tiba ngomong dengan nada bertanya, “Libur panjang ini kamu mau ke mana, *Nogu?” Saya yang dengerin dari ruang tengah langsung menyahut. “Emang mau ke mana kita?”

Hahaha. Dasar ibu-ibu kurang piknik! Ayah pura-pura cuek saja dan masih sibuk ngegodain anak lanang. Nyiumin sampe bayi itu ketawa terkekeh-kekeh.

Setelah dikorek baik-baik (karena si ayah ini jarang banget usul soal piknik dan hal-hal yang bikin “senang” lainnya), akhirnya mau juga dia menjelaskan. Tepatnya sih, memaparkan rencananya untuk berwisata ke Kebun Binatang Gembiraloka dengan mengajak W. Yeaayy!

Saya… langsung saja setuju tanpa mikir apa-apa lagi. Akhirnya…

Senin, 1 Mei 2017, kami berangkat sekitar pukul 09.00 WIB. Takutnya kalau kesorean bakal hujan. Repot. Untungnya hari itu cerah banget, malah cenderung panas terik. Sebelumnya, kami mampir di toko Essen, toko roti langganan. Rencananya, kami sudah pulang sebelum makan siang. Jadi, kami cuma beli makanan kecil saja.

Tiba di Gembiraloka, suasana masih sepi. Ya, ada beberapa gerombol anak-anak yang riang banget berlarian. Ada juga ibu-ibu yang bawa balita-balita seperti W. Heuheu, banyak temen jadinya.

Setelah membayar tiket, kami pun masuk. Tentu saja, tiket hanya untuk orang dewasa. Sekarang harganya Rp30.000 per orang. Bersama tiket, kami dibekali selembar brosur yang berisi peta wilayah bonbin dan beberapa informasi seputar bonbin lain.

Setelah W lepas jaket (biar lebih nyaman), kami mulai berkeliling. Tujuan pertama adalah menonton acara Gelar Satwa Terampil. Ini adalah sebuah atraksi yang menampilkan beberapa satwa di Gembiraloka. Semuanya memiliki keterampilan khusus. Misalnya, mendorong gerobak, menghitung, mengerek tali bendera, dan sebagainya. Maafkan, saya lupa nama-nama hewannya. Hehe. Yang jelas, semuanya pinter-pinter dan nurut kata pemandunya.

Pertama kali lihat atraksi itu, sekitar dua atau tiga tahun lalu, kami tertarik dengan burung-burung yang dipandu untuk terbang ke sana kemari. Mereka cantik-cantik banget dan suaranya indah. Nah, kami pengen mengajak W juga melihat itu.

Si ayah pun mengajak kami untuk memutar arah. Kalau biasanya para pengunjung diarahkan untuk menyusuri jalan yang sudah disediakan (yaitu belok kiri), kami justru ke kanan. Katanya, “Biar cepet nyampe. Soalnya atraksinya pukul 10.00 WIB”. Dan.. kami pun berjalan tergopoh-gopoh mengejar itu.

Aih, dan ternyata tempatnya jauh juga ya dari pintu masuk. Saya yang kebagian menggendong W lumayan ngos-ngosan. Rasanya kok seperti jalan tak berujung. Halah!

Area bonbin memang luas. Jadi, ya siap-siap saja kakinya pegel. Sebenarnya ada kereta yang disebut Taring berkeliling di sepanjang area bonbin, tapi kami memilih untuk jalan kaki saja. Sekalian olahraga hahaha.

Tepat pukul 10.00 WIB, kami tiba di lokasi atraksi. Ini adalah semacam panggung kecil yang dikelilingi tempat duduk dari papan kayu. Suasana udah rame. Masih ada tempat  kosong di sudut dan kami pun menuju ke sana.

Atraksi sepanjang 30 menit itu cukup bagus. Hanya saja, apa yang kami harapkan nggak muncul. Entah ke mana burung-burung itu pergi. Hiks. Dan sedihnya lagi, W malah nggak bisa menonton dengan jelas karena posisi kami di sudut. Dia malah asyik ngemil roti. Wew.

BERSAMBUNG…

*Nogu (bahasa Nias): Anakku

[Resensi Buku] Ogomadara Kanojo – Zephyr

Judul: Ogomadara Kanojo

Penulis: Zephyr

Penerbit: PING

Cetakan pertama: 2016

Jumlah halaman: 200

ISBN: 978-602-391-164-6

***

“Jika kau berhasil menemukan hoshizuna, keberuntungan akan segera datang kepadamu.”

“Jadi, keberuntungan apa yang akan kau dapat setelah ini?”

Gadis itu berdiri kaku, merasa begitu bodoh karena kesulitan menjawab pertanyaan sederhana itu. Tenggorokannya tercekat, jemarinya terkepal erat saat menyadari betapa selama ini hanya sedikit sesuatu yang bisa membuatnya tersenyum. Matanya mengerjap, kenangannya seketika terbang bersama kepakan sayap ogomadara yang baru saja hinggap di bahunya.

“Kau suka ogomadara?”

Jantung sang gadis berdenyut begitu dalam saat pertanyaan itu tiba-tiba meluncur dari bibir pria di sampingnya—pertanyaan yang bukan kali pertama ia dengar. Rekaman memori dalam benaknya seakan diputar kembali hingga membuatnya sedikit gemetar, karena yang ia lihat saat ini bukanlah ayahnya.

***

Apakah Ogomadara? Menurut cerita dalam novel ini, ogomadara adalah spesies kupu-kupu beracun berwarna hitam dan putih. Semasa menjadi ulat, hewan ini memakan houraikagami—jenis rumput beracun. Racun bernama danaidone ini tersimpan dalam tubuh ogomadara hingga ia menjadi kupu-kupu.

Chouko, tokoh utama dalam novel ini, tak menyukai ogomadara. Padahal ayahnya senang sekali menyamakannya dengan kupu-kupu ini. “Karena ogomadara adalah kupu-kupu tercantik di pulau kita!’

Chouko memiliki dua orang saudara, yaitu Hayato dan Masaru. Mereka adalah pendatang di Kota Chiba. Telah terjadi sesuatu pada keluarga Chouko sehingga mereka pindah dari Pulau Taketomi. Di kota itu, Hayato bekerja untuk menghidupi mereka bertiga.

Karena kasihan, Chouko juga membantu kakaknya dengan menjadi pelayan di kafe milik sepupu Yoshida Shiki, teman satu-satunya di SMA. Adapun Shiki adalah anak seorang konglomerat, tetapi tak terlalu menonjol. Bertemu dengan Chouko semacam takdir. Meskipun gadis itu berkarakter dingin dan sulit didekati, Shiki pantang menyerah.

Dalam novel ini, kita akan disuguhi perjalanan hidup Chouko dan kedua saudaranya. Anak SMA itu harus belajar mandiri supaya bisa bertahan hidup. Di sisi lain, ada karakter Shiki yang memiliki segalanya sekaligus merasa kosong karena dianggap invisible oleh teman-temannya.

Tema besar cerita ini sebenarnya sederhana, yaitu bagaimana dua karakter bertemu dan saling melengkapi. Kemudian, terciptalah reaksi yang wajar terjadi dan alamiah.

Konflik yang cukup sempurna membuat novel ini terasa hidup. Chouko, Hayato, dan Shiki memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Pengalaman inilah yang menentukan sikap mereka selanjutnya. Apa yang sebenarnya terjadi pada keuarga Chouko akhirnya terbongkar pada halaman-halaman selanjutnya. Di sini, kita menyadari betapa wajar sikap gadis itu setelah peristiwa yang terjadi.

Membaca novel ini membuat kita larut dalam situasi yang diciptakan penulis. Karakter para tokoh dibuat sedemikian rupa supaya tak terkesan dibuat-buat. Konfliknya menyatu dan saling berkaitan.

Selain itu, kita juga bisa mempelajari beberapa istilah-istilah sederhana dalam bahasa Jepang. Istilah ini dilengkapi dengan penjelasan yang lengkap sehingga pembaca memahami maksudnya.

Novel ini menurut saya cukup lengkap secara struktur. Alurnya pun tak membosankan karena disusun maju mundur. Para tokohnya memesona dengan caranya masing-masing.

Kita disuguhi oleh perjuangan berat seorang gadis muda untuk membuat keluarganya yang tersisa tetap utuh. Sembari menyembuhkan diri dari kesalahan masa lalu, masa depan harus dijalani. Chouko menunjukkan kepada pembaca bahwa bangkit dari kesalahan serta tak menyimpan penyesalan yang mendalam adalah kunci untuk maju.

Bagi yang suka hal-hal berbaju Jepang, novel ini juga patut dikoleksi. Pemaparan setting-nya sangat mendukung dan menolong kita sebagai pembaca untuk membayangkan di mana peristiwa itu terjadi. Meskipun tidak terlalu kental, aroma Jepang tetap terasa.

Hal itu juga diperkuat oleh cover buku yang sangat Jepang. Kita jadi ingat komik-komik romantis Jepang, tetapi ini versi novel. Jadi, bagi penggemar komik, Ogomadara Kanojo ini bisa dicoba.