[Resensi Buku] Mimpi Desainer Belia

Sheeza yang baru berusia 14 tahun ini punya cita-cita besar jadi desainer. Gara-gara kebaya hasil rancangannya yang dikenakan Bu Lidya menarik perhatian banyak orang, Sheeza pun kebanjiran pesanan ngedesain pakaian. Biar semakin banyak orang yang melihat hasil karyanya, Sheeza memutuskan membuat blog. Fesyenisheeza, namanya. Tapi, selalu aja ada yang sirik terhadap kebrrhasilannya. Bianca dan gengnya nggak suka Sheeza jadi perhatian. Mereka bakal berbuat apapun untuk mencuri keberhasilan Sheeza.

♣♣♣

Judul: Fesyenisheeza

Penulis: Nita Lana Faera

Penerbit: Ping

Cetakan pertama: 2016

Jumlah halaman: 188

ISBN: 978-602-391-060-1

♣♣♣

Merancang baju sendiri? Hmm, tampaknya menyenangkan ya.. Dengan kemampuan ini, kita bisa berkreasi sesuka kita dengan bahan-bahan kain yang kita inginkan. Saya pernah memiliki impian menjadi desainer yang bisa bikin rancangan baju sesuai keinginan diri sendiri. Namun, apa daya, karena kemampuan menggambar kurang baik, impian itu perlahan-lahan menghilang 😀

Bagi Sheeza, keinginan menjadi desainer bermula saat ia membuat gambar daster lucu untuk kucingnya. Waktu itu, ia masih anak-anak. Nggak heran kalau imajinasinya di luar batas. 

Beranjak remaja, hobi Sheeza pada fashion tidak berkurang. Ia masih tertarik melihat rancangan-rancangan baju di majalah langganan sang mama. Karena itu, ia pun memutuskan untuk belajar desain lebih serius. Akibat keseriusannya itu, ia jarang berinteraksi dengan teman-temannya. Kebiasaannya adalah mengurung diri di kamar karena asyik mempelajari berbagai jurus membuat desain baju yang bagus. Situasi ini ditanggapi dengan lebay oleh sang mama dan mengira Sheeza kenapa-kenapa.

Ya, mungkin ibu-ibu memang seperti itu ya. Anaknya terlalu banyak keluar rumah dicurigai. Terlalu banyak ngendon di kamar pun dituduh macem-macem. Fyuh.. kasihan Sheeza. 

Namun, gadis itu tidak menyerah dengan kelakuan Mama yang super aneh itu. Ia justru semakin rajin dan sedikit demi sedikit berhasil menciptakan desain yang keren-keren. Selanjutnya, Sheeza pun mulai dikenal di sekolah karena kemampuannya itu. Jasanya banyak digunakan oleh guru-guru maupun teman sekolah.

Tema seperti ini jarang diangkat di novel-novel remaja . Sebagian besar cerita remaja pasti kental dengan kisah cinta romantis, bukan kerja keras atau usaha untuk mencapai prestasi tertentu. Dengan tema ini, penulis ingin mengatakan bahwa masa remaja nggak selamanya harus “berwarna pink dengan lope-lope dan bunga-bunga.” 

“Tips Pacaran Murah Meriah untuk Anak Sekolah,” Sheeza baca judul artikel itu dengan ekspresi enek. “Pacaran murah meriah? Kalau nggak pengin duit abis, kenapa juga harus pacaran?…” Hal 21.

Nah, lucunya si Mama malah kebalikan dari Sheeza. Justru ialah yang gencar berusaha menjodohkan Sheeza dengan anak temannya. Bener-bener orangtua antimainstream deh. Anak 14 tahun kok udah disuruh pacaran. 

Tapi ya sudahlah, anggap saja hal itu menjadi hiburan tersendiri saat membaca novel ini. Gaya bahasa yang digunakan pun sangat ringan dan anak muda banget. Sangat sesuai dengan target pembacanya. Kita akan tersenyum-senyum dengan adegan-adegan yang terkesan lebay dan ngelantur kemana-mana. 

Seluruh dewan guru serentak menghirup aroma parfum dari seragam Pak Gun yang disemprotin berulang-ulang. Bahkan ada salah seorang guru yang sampe bersin 38 kali karena pas lagi napas, wangi parfumnya Pak Gun ikut kehirup. Coba aja tadi gue nggak napas, sesal Pak Guru yang mulai meler. Hal 69.

Sementara untuk alur, novel ini bisa dibilang tidak terlalu bergejolak. Memang ada gangguan dari gank Bianca, tetapi Sheeza bisa kok mengatasinya dengan tenang. Seperti layaknya tokoh protagonis, Sheeza nggak membalas kelakuan Bianca. Ia tetap bisa memaafkan meskipun pernah didzolimi. Aduh, baik banget ya kamu, Sheez..

“Oh, itu. Tadi pagi kan dia  ngajak gue buat duduk sebangku. Trus mereka juga udah minta maaf. Ya udah, kenapa gue masih harus marah?” Hal 174.

Berbicara soal ending, penulis mencoba untuk tetap realistis. Tokoh Sheeza, meskipun berbakat, masih pribadi yang perlu banyak belajar. Ending seperti ini menurut saya cocok dan membumi. Tidak perlulah terlalu melambungkan harapan soal tokoh serba bisa. Dengan begitu, Sheeza bisa menjelma dalam hati setiap remaja yang juga ingin menggapai impiannya. Itu pesan yang sangat jelas dan pantas diketahui oleh remaja Indonesia masa kini.

Untuk tampilan luar, kaver novel ini menurut saya cukup menarik. Dominasi warna putih begitu menyatu dengan desainnya yang sederhana tetapi elegan. 

Iklan

[Thankfulness] #4 Untuk Kecukupan

Hal keempat yang saya syukuri pada usia saya saat ini adalah kecukupan.

Kecukupan dalam bentuk apa?

Banyak.

Pertama, saya punya tempat berteduh. Ada orang-orang yang tidak punya tempat berteduh. Saya bersyukur, saya dan suami diberi kecukupan untuk menyewa sebuah tempat kecil sebagai tempat kami berteduh. Meskipun itu bukan rumah mewah milik sendiri, saya tetap bersyukur. Kami bisa membayar sendiri sewa setiap bulan dengan lancar dan itu adalah hal yang luar biasa.

Kedua, saya bisa makan setiap hari. Meskipun, ada waktu-waktu dimana kami harus berhemat dan menahan keinginan untuk membeli makanan “sesukanya”. Setidaknya kami tidak pernah merasa kelaparan. Yang sederhana juga bisa kok membuat kenyang. Saya bersyukur, kami diberi kecukupan untuk memenuhi kebutuhan setiap hari.

Ketiga, saya masih bisa membantu orang lain. Jangan bayangkan bantuan berupa uang jutaan atau hal-hal luar biasa lainnya. Jelas, itu belum bisa saya lakukan. Namun, dalam kecukupan, kami bisa menyisihkan satu dua bagian untuk menolong orang lain. Sederhana, tetapi membuat hati ini lega. Setidaknya saya masih bermanfaat bukan hanya untuk diri sendiri.

Masih ada hal-hal lain yang tidak saya sebutkan sebagai tanda kecukupan yang diberikan Tuhan kepada saya dan keluarga kecil saya. Setiap hari, saya berusaha untuk mengingat-ingat hal itu supaya tidak cepat khawatir ketika menjalani hidup. Ke depan, kebutuhan akan semakin banyak, ada hal-hal yang lebih besar yang harus ditanggung. Namun, dengan apa yang sudah pernah Tuhan lakukan dalam hidup kami, saya begitu saja percaya. Tidak ada alasan lagi alasan untuk ragu.

[Thankfulness] #3 Untuk Kesehatan

Seberapa sering kita menyadari bahwa bangun pagi setiap hari dalam keadaan sehat adalah sebuah keajaiban?

Saya pernah mendengar pernyataan bahwa “tidur adalah kematian sementara”. Pada saat tidur, tubuh kita–selain melakukan tugas-tugas rutin untuk menunjang kehidupan–benar-benar tidak sadar. Ada musibah kebakaran misalnya, kita bisa saja mati tanpa menyadarinya. Bahkan, ada juga yang bisa mati saat sedang tidur karena penyakit jantung atau penyakit-penyakit lain yang datang mendadak. Tanpa sempat pamit, jiwa begitu saja meninggalkan tubuh.

Waktu masih kecil, salah satu kekhawatiran terbesar saya adalah menjadi sakit. Bukan hanya karena sakit itu nggak enak, tetapi juga karena itu berarti saya tidak bisa melakukan apapun yang saya inginkan dengan bebas. Pokoknya, saya takut menjadi sakit.

Kekhawatiran itu masih tersisa ketika beranjak dewasa. Beberapa kali saya mengalami gejala yang sebenarnya mungkin biasa-biasa saja tapi saya anggap luar biasa. Contoh, sakit kepala seharian. Saya segera mencari tahu penyebabnya di internet dan mulai merasa takut.

Saya juga pernah merasa ada penebalan kulit di daerah bibir dan merasa sangat takut sehingga buru-buru datang ke dokter praktik. Akibatnya, saya diberi salep seharga 70 ribu. Beberapa kali oles, penebalan itu hilang. Salepnya sisa banyak banget.

Sakit paling berat yang saya alami sepanjang hidup adalah ketika mengalami demam berdarah. Saat itu, saya langsung opname beberapa hari di rumah sakit plus istirahat di rumah hingga hampir 2 minggu. Rasanya nggak karuan. Namun, melalui sakit itu, saya juga bisa merasakan perhatian para sahabat.

Semakin bertambahnya usia, saya ingin semakin memprioritaskan kesehatan. Misalnya dengan mengonsumsi makanan sehat dan bergizi, minum air dalam jumlah yang cukup, istirahat yang cukup, dan sebagainya. Sayangnya, saya sering abai di waktu-waktu tertentu.

Saya bersyukur, di usia ini, saya sudah diberi kesehatan yang baik oleh Tuhan. Saya masih bisa bekerja dan melakukan kewajiban dengan baik. Meskipun kadang-kadang saya merasa kurang enak badan, semoga itu hanya sebagai sinyal dari tubuh supaya saya tidak menganggap remeh kesehatan.

Saya berdoa bagi mereka yang sedang didera penyakit supaya tetap sabar dan berusaha. Melalui keadaan kita masing-masing saat ini, semoga kita diberi kesempatan untuk merasakan kebaikan Tuhan dan pertolongan-Nya, dalam bentuk apapun.

[Thankfulness] #2 Untuk Pekerjaan

Pekerjaan pertama saya–yang menghasilkan uang–adalah guru les untuk anak kelas 3 SD. Gaji bulanan pertama dan terakhir saya waktu itu kurang dari 100 ribu. Terakhir karena setelah itu ibu si anak meminta saya digantikan oleh guru les lain, yang tentunya lebih kompeten.

Sejak kegagalan itu, saya memutuskan bahwa saya mungkin tidak berbakat menjadi guru les. Yang saya ajarkan kepada anak-anak itu justru bagaimana cara menulis dan mengungkapkan ide lewat kertas. Nggak heran kalau si ibu kecewa.

Peristiwa ini terjadi pada waktu saya masih kuliah dan sangat bersemangat untuk mencari pemasukan tambahan. Padahal, karena tidak punya kendaraan sendiri, saya harus mengeluarkan banyak uang untuk transportasi. Udah gitu, lesnya dimulai pukul 7 malam. Bayangin saja saya harus naik angkot malam-malam menempuh jarak yang cukup jauh.

Saya nggak nyesel dengan pengalaman itu. Justru hal itu menjadi pemacu saya untuk memperbaiki kualitas diri.

Setelah lulus kuliah, saya bekerja di sebuah perusahaan penerbitan. Pekerjaan saya saat ini sesuai dengan passion saya, yaitu menulis. Ada waktu-waktu dimana saya sangat menyukai apa yang saya jalani setiap hari. Saya bisa travelling ke berbagai tempat karena pekerjaan saya. Saya bisa berkenalan dengan banyak orang dari berbagai tipe. Saya bisa mengembangkan kemampuan menulis. Saya bisa hidup dari pekerjaan dan karya saya.

Namun, ada pula waktu-waktu dimana saya merasa bosan dan ingin berhenti. Itulah waktu ketika saya menginginkan hal yang lebih karena membandingkan diri dengan orang lain. Saya menginginkan kebebasan menurut pandangan pribadi saya.

Anehnya, saya sudah bertahan sekitar hampir 7 tahun di pekerjaan pertama saya ini. Padahal hubungan love-hate yang saya jalani penuh perjuangan. Banyak teman yang sudah memutar kemudi ke pekerjaan lain atau pindah ke perahu lain (karena berbagai alasan). Namun, saya tetap di sini.

Sejauh ini, saya bersyukur. Bukan berarti apa yang saya jalani baik-baik saja. Toh, kalau saya bekerja di tempat lain, masalah yang sama atau pun berbeda, pasti saya temui. Dan saya nggak ingin pergi karena menyerah pada masalah yang saya hadapi. Saya akan pergi ketika saya tahu karya saya sudah tidak dibutuhkan dan saya sudah merasa cukup membagi apa yang saya punya.

Saya bersyukur, di usia ini, saya memiliki pekerjaan tetap untuk ikut menghidupi keluarga kecil saya. Saya bersyukur, masih bisa bertahan, masih bisa mengambil sikap positif di antara segala tantangan. Dan saya bersyukur, saya masih bisa bekerja sesuai passion saya.

Saya ingat sebuah quote yang bunyinya kira-kira seperti ini: “Kadang hidup yang kita keluhkan adalah hidup yang diimpikan orang lain.”

Semoga saya tetap memilih untuk bersyukur, apapun yang terjadi.

[Inspirasi Jumat] Cara Mendatangkan Keajaiban

Ada 3 hal yang kami pelajari dalam kelompok belajar Jumat kali ini. Ketiga hal tersebut yaitu:

  • Iman

  • Visi

  • Tekad

Secara sederhana, iman adalah keyakinan kita kepada Tuhan. Iman adalah kesadaran kita bahwa Tuhanlah satu-satunya yang mampu melakukan segala sesuatu dalam hidup kita, terlepas dari segala upaya kita.

Toh, kalau Tuhan tidak menghendaki, bukankah upaya-upaya tersebut samasekali tidak ada gunanya?

Sementara visi adalah tujuan, rencana, cita-cita, atau impian. Visi adalah sesuatu yang kita harapkan akan terjadi. Milikilah visi maka kamu akan tahu menuju kemana. Tanpa visi, kita akan berputar-putar di tempat. Kita tidak akan tahu sejauh mana sudah berjalan.

Ada pula yang prinsipnya mengalir seperti air karena takut kecewa dengan visi yang tidak tercapai. Namun, menurut saya, visi bukan sesuatu yang “harus” tercapai. Karena kalau begitu, kita justru akan terbeban dan tidak menikmati prosesnya. Visi hanya arah yang kita lihat dari kejauhan supaya tidak tersesat. Jalannya boleh berliku asal pandangan kita tetap ke sana, ya kita pasti akan mencapai tempat itu, cepat atau lambat.

Yang ketiga, tekad. Punya iman dan visi, tetapi tidak punya tekad? Jangan mimpi untuk menerima keajaiban dalam hidup ini. Perlu ada upaya yang nyata dari seseorang untuk mendapatkan sesuatu. Bahkan keajaiban.

Misalnya, visi saya adalah memiliki rumah sendiri pada usia 40 tahun. Saya beriman dan yakin bahwa hanya Tuhan yang mampu mewujudkannya. Tapi, apakah itu berarti saya hanya perlu diam-diam saja sambil ongkang-ongkang kaki sembari menunggu keajaiban datang? Tidak dong.

Saya pun harus melakukan sesuatu. Entah itu berupa hal kurang penting seperti mencari informasi dimana ada rumah yang dijual, berapa harganya, dan sebagainya.

Akan tetapi, imanlah yang membuat visi tersebut “genap” tercapai.

Lalu, apa kesimpulan dari pelajaran hari ini? Yaitu harus memiliki ketiga hal tersebut untuk mendatangkan keajaiban. Tanpa salah satu di antaranya, mustahil kita bisa merasakan keajaiban.

Nah, tema ini cocok sekali diterapkan pada awal tahun ini. Kita tentu memiliki beberapa rencana dan melalui ketiga hal ini, kita akan bisa mewujudkannya. Yakin? Harus dong. 🙂

[Thankfulness] #1 Untuk Suami dan Kamu

*Untuk merayakan ulang tahun yang ke-30, saya ingin mencatat 7 hal yang paling saya syukuri dalam hidup. Catatan ini sekaligus menjadi ucapan syukur atas pertolongan dan kebaikan Tuhan selama ini pada saya. Tentu masih banyak hal lainnya.

Seperti kebanyakan single, saya berkali-kali merenungkan tujuan hidup saya. Ada waktu-waktu yang terasa begitu panjang ketika saya terus-menerus berdoa mengenai pasangan hidup. Lalu, kemudian doa itu surut karena kesibukan kerja, mengejar target di proyek tertentu, dan sebagainya.

Namun, tetap saja, berkeluarga adalah impian masa depan yang terpampang di depan mata meskipun tak begitu jelas. Lha wong, pacar saja belum punya kok mikir mau nikah segala?

Pada suatu siang, 6 Januari 2014–saya masih ingat, itu adalah hari yang biasa-biasa saja–seseorang mengirimkan pesan pada saya. Saya tak begitu kenal orang ini. Tahu, tapi tidak kenal dekat. Intinya sih, kami mulai berkomunikasi. Semakin lama semakin intens. 

Gambaran perasaan saya selanjutnya terhadap  orang ini saya tuangkan dalam 9 Surat Cinta ini.

Kehadirannyalah yang kemudian menciptakan harapan. Bersamanya, saya merancang masa depan yang sebelumnya tampak kabur. Hingga pada 2 Juni 2015, kami menikah. Itu adalah salah satu hari yang membahagiakan dalam hidup saya. Akhirnya saya menikah… Setelah melewati fase “pertanyaan-pertanyaan klise” yang kadang bikin kuping jadi merah.

Apa yang terjadi tersebut ingin saya tampakkan sebagai pesan kepada setiap orang-yang-kepengen-banget-tahu-jalan-hidup-orang-lain bahwa segala sesuatu sudah ada yang mengatur–hidup, mati, menikah, dll. Seperti prinsip saya selama ini.

Lalu, sekitar bulan Oktober di tahun yang sama, kabar gembira selanjutnya tiba. Akhirnya kami memiliki “kamu”. Ya, kamu yang ada di dalam sana. Kamu yang kami tunggu-tunggu kehadirannya. Saya bersyukur, Tuhan akan mempercayakan seseorang dalam bimbingan kami melalui sebuah keluarga kecil. Sungguh sebuah tanggung jawab yang besar sebenarnya. Namun, tentu saja kami harus siap dengan hal itu. Meskipun banyak hal yang harus dilewati dalam masa-masa penantian ini, saya dan suami berharap bisa melakukan segala sesuatu dengan baik.

Terima kasih Tuhan untuk dua pribadi yang Kau tempatkan di hidup saya pada usia ini. Ajar saya menjaga dan mengasihi mereka dengan sungguh-sungguh.

[Resensi Buku] Petualangan di Avalon

Ekor naga berwarna kuning yang sangat besar, dengan sisik-sisik berdiri tajam, terus bergerak-gerak menghancurkan menara.. Dan bukan hanya naga yang muncul di balik reruntuhan itu..

Delapan anak istimewa dipanggil ke Avalon untuk belajar sihir. Cael dan Alexis yang cemerlang, Lori si gadis kecil yang cerewet, Mariska yang bisa meramal, Gabriel dan Brielle yang mirip lukisan hidup, Altan si cengeng, dan Robin si bocah jenius.

Sementara, sebuah rencana jahat tengah disusun rapi. Melibatkan seorang penyusup yang pandai menyamar, seorang tahanan di penjara Avalon, dan mimpi-mimpi buruk salah seorang murid baru.

♣♣♣

Judul: Wonderworks Prodigy

Penulis: Ginger Elyse Shelley

Tahun Terbit: 2015

Penerbit: PING!!!

Jumlah halaman: 216

ISBN: 978-602-0806-47-1

♣♣♣

Ini buku ketiga dari Ziggy Z. atau Ginger Elyse Shelley yang saya baca. Sebelumnya ada Meant To Be dan Dear Miss Tuddles. Tampaknya Z ini produktif menulis karena saya melihat masih ada beberapa buku lain yang belum saya baca.

Berkaca dari pengalaman membaca kedua bukunya, ada sebuah persamaan yang kentara, yaitu cara bercerita yang sungguh lancar. Misalnya dalam Dear Miss Tuddles. Selain itu, ia juga merangkai peristiwa dengan baik dan logikanya bisa dipahami. Karakternya pun kuat. Saya rasa Ziggy memang memiliki bakat menulis yang bisa dinikmati melalui karya-karyanya.

Namun, dalam cerita mengenai petualangan di Avalon ini, saya seperti sedang berhadapan dengan versi berbeda Harry Potter. Wonderworks Prodigy secara umum bercerita tentang sekolah sihir dan berbagai peristiwa yang melibatkan para penghuninya.

Ada juga tokoh Robin Locket yang masih sangat muda tetapi memiliki potensi sihir yang luar biasa.

Suara kecil itu berasal dari belakang. Gabriel menengok ke belakang sofanya dan menemukan anak lelaki kecil berambut coklat meringkuk di belakangnya. Matanya melebar kaget. Hal 20.

Locket pun telah terbiasa dengan sihir dan sedang bergumul dengan masalahnya sendiri ketika datang ke Avalon. Dalam cerita ini, para guru dan mentor mereka pun turut terlibat dalam penyelesaian masalah Locket.

Lalu ada Nadine Harper yang selalu membayangi mimpi Locket karena sebab tertentu.

“Aku berusaha menyelamatkan kakakku dari dalam dunia mimpi, berusaha menyingkirkan Nadine Harper. Setiap aku tidur, aku kembali ke dunia itu, tapi dunia itu sudah berubah.” Hal 105

Selebihnya, para peserta kursus sihir ini berkutat dengan bagaimana cara membuat tongkat, merapal mantra, duel sihir, dan sebagainya. Namun, pada ending cerita, ada “pertempuran” yang tidak diduga siapa penyebabnya.

Selain bercerita tentang dunia sihir dan berbagai pernak-perniknya, novel ini juga bercerita tentang persahabatan, kepedulian, dan ketekunan mempelajari hal-hal yang sebelumnya mereka tak tahu. Tidak ada konflik yang berarti antara sesama pelajar ataupun bentakan-bentakan tak penting dari senior. Justru, para senior inilah yang membantu anak-anak baru untuk beradaptasi dengan lingkungan baru mereka.

“Saya tidak ingin kejadian di pelatihan lalu terulang. Dan, ingat, kalian harus memperhatikan mereka dengan baik-baik. Sangat baik-baik. Kita kedatangan peserta-peserta yang sangat istimewa tahun ini.” Hal 16.

Ya, patut dicontoh dalam sistem pendidikan kita juga. 😀

Yang mungkin agak mengganggu saya adalah berkaitan dengan tema. Tema yang senada dengan HP membuat saya mengharapkan “lebih”. Namun, rupanya harapan saya tidak terkabul. Hal ini pula yang akhirnya menciptakan kebosanan di tengah-tengah bacaan, berbeda dengan karya-karya Z sebelumnya yang proses membacanya sangat saya nikmati.

Sementara itu, soal setting dan penokohan menurut saya cukup kuat dan mendukung keseluruhan penyampaian gagasan sang penulis.