Berkunjung.. How’s Life?

Lama banget nggak ngurusin blog ini. Sibuknya luar biasa. Harus ngurusin ini itu. Akhirnya harus fokus pada satu hal aja dulu. Nggak bisa disambi kayaknya. 😀

Nanti kalau ini udah selesai semua, saya mau ubah format blog. Biar fresh. Mungkin ada beberapa kategori yang saya pisah dan bikin blog sendiri. Biar lebih fokus lagi. Oke sip.

Banyak hal terjadi dalam bulan ini. Nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Tepatnya sih terlalu panjang untuk diceritakan 😀

Ya sudah. Ini dulu ya. Hahaha. Kayak bikin surat. 😛

[Review Buku] Hujan Pertama untuk Aysila

Judul: Hujan Pertama untuk Aysila

Penulis: Edi AH Iyubenu

Terbit: Maret 2015

Penerbit: DIVA Press

Jumlah halaman: 182

Blurb

Suara kecil dari balik jendela kafe yang terkuak di sebelah kursi Aysila itu terdengar begitu lamat. Nyaris punah ditelan bising hujan. Suara yang amat dikenal Aysila dengan baik, yang begitu karib dengan hari-harinya.

Setelah diam beberapa jenak untuk berpikir, Aysila menjulurkan kedua lengannya ke luar jendela, memenuhi pinta suara yang lirih itu. Ia biarkan tubuhnya ditarik dari luar dan hinggap sempurna dalam pelukan tubuh yang hangat itu.

Hujan kian mengendur. Hujan kian menyusut. Tapi tidak dengan sepasang kelopak mata Aysila yang katup. Air hangat yang tak lagi sanggup dibendung tanggul hatinya yang kian nganga dibabat luka begitu deras menetas di pematang matanya. Berjatuhan ke pipinya, lalu sebagiannya hinggap ke dagu dan lehernya, dan sebagian lainnya jatuh ke tanah, larut bersama air hujan, kemudian lesat entah ke mana…

***

Buku ini terdiri atas 12 cerpen yang ditulis oleh Edi AH Iyubenu. Jika diamati, temanya cukup beragam. Yang sama adalah 2 hal, kentalnya permainan diksi dan nama Aysila. Jadi, jangan heran jika di setiap cerpen, kita akan menemukan Aysila meskipun dengan karakter yang berbeda-beda.

Aysila di cerpen pertama adalah seorang gadis buta yang berhati baja.

Para lelaki berbisik-bisik di kafe murahan yang berada di seberang bangku jalan sambil menatapnya bahwa dialah gadis terbaik di kota ini yang amat dirindukan oleh setiap lelaki untuk melahirkan anak-anak mereka.

Mengapa? Karena Aysila hidup hanya untuk setia.

Aysila memang sedang menunggu kekasihnya yang mengatakan akan pulang pada saat hujan pertama turun menyapa tanah. Aysila terus menunggu bahkan hingga pemilik kafe telah pamit dan ia dipersilakan menunggu sampai pagi. Penantian Aysila berbuah indah. Kekasihnya datang dan memeluknya di tengah hujan.

Cerpen kedua memiliki tema yang bisa dibilang sama, yaitu kesetiaan. Aysila digambarkan sebagai perempuan yang setia menunggu di hari ulangtahunnya. Aysila yang setia—yang lain—pun bisa ditemukan di cerpen berjudul Kutunggu Kamu di Hagia Sophia. Rupanya kesetiaan sedikit banyak sudah melekat dalam karakter Aysila dalam kumpulan cerpen ini.

Cerpen yang paling menarik bagi saya adalah yang berjudul Cara Mudah untuk Bahagia. Dari judulnya, cerpen ini agak sedikit meragukan. Tampak seperti judul tips-tips murahan yang banyak kita temui di internet. Namun, isinya tidaklah sesederhana itu. Cerpen ini berisi perbincangan antara 3 orang, yaitu Erdem Bora, si lelaki pemurung, Aysila Dilara (lagi-lagi), dan Pamuk, nama yang juga beberapa kali muncul dalam beberapa cerpen. Mereka berbincang-bincang tentang hal-hal yang filosofis. Tak salah jika dalam cerpen ini bertebaran nama-nama seperti Derrida, Sartre, dan sebagainya. Salah satu hal yang mereka perdebatkan adalah bagaimana cara untuk tetap merasa bahagia. Saya menikmati dialog mereka dan bagaimana penulis menyelesaikan cerita itu.

Meskipun judulnya sangat datar—yang mana justru menjadi daya tarik tersendiri—isinya nggak terkesan mengkhotbahi. Meskipun saya rasa penikmat cerpen-cerpen berat terbatas jumlahnya. Kita harus belajar memahami apa itu hiperrealitas, cogito ergo sum, dan sebagainya.

**

Apa yang disebut penulis sejak awal—bermain-main dengan diksi—saya kira berhasil. Meskipun saya rasa ada beberapa hal yang tak sesuai. Misalnya, ungkapan tumpukan wanita (hal. 97). Saya rasa sih yang ditumpuk-tumpuk biasanya hanya benda, tidak termasuk manusia.

Namun, lain daripada itu, saya menyukai dan menyenangi diksi-diksi yang mengejutkan dalam cerpen-cerpen ini. Misalnya, sekuntum kabut. Ini sangat puitis, bukan? Masih banyak keindahan-keindahan lain yang bisa ditemukan dalam kumpulan cerpen ini. Tinggal bagaimana cara kita menikmatinya saja. Selamat membaca.

[Review Buku] Pameran Patah Hati

Judul: Pameran Patah Hati

Penulis: Mini GK

Tahun terbit: 2015

Penerbit: PING!!!

Jumlah halaman: 203

Blurb

“Jika kita tidak bisa melupakan mantan, itu bukan karena kita tidak mampu melakukannya, melainkan karena kitalah yang masih berusaha mengingatnya.”

Ode tak pernah akur dengan Yosinta sejak SMP, membuat Ever frustrasi. Mereka selalu memperebutkan hal yang sama, termasuk hati gebetan.

Di sisi lain, Enko, kakak Ode, merasa terkhianati oleh si pacar. Sedangkan, Atlas–kakak Ever–sedang berusaha mencoba untuk meloakkan kenangannya.

Ini tentang cinta, persahabatan, persaudaraan, dan tentu saja patah hati.

Ceritanya, Ode dan Yosinta adalah musuh bebuyutan sejak SMP. Sebabnya sederhana: bersaing merebut perhatian guru olahraga. Persaingan itu pun berlanjut di segala bidang. Yang tahu tentang persaingan itu adalah Ever, teman dekat Yosinta.

Tema ini sebenarnya menarik dan membumi. Siapa sih yang nggak pernah mengalami atau paling tidak merasakan aroma persaingan di usia remaja. Sebabnya macem-macemlah. Mulai dari prestasi, gebetan, hingga penampilan. Tindakan yang dilakukan untuk memenangkan persaingan pun sangat variatif. Mulai dari yang halal sampai yang engga. Haha. Dan ini sangat menarik seandainya diangkat menjadi kisah novel.

Dalam novel ini, saya tahu Mini GK berusaha demikian keras untuk memunculkan konflik di antara Ode dan Yosinta. Hal ini terlihat dari interaksi yang dibangun antara keduanya. Hampir semuanya bersifat negatif. Berantemmm terus… Fiuh. Nggak heran juga kalau Ever sampai jenuh dan bosen melihat pertengkaran itu.

Sebenarnya, dalam cerita ini, Yosinta yang selalu mulai memantik api permusuhan. Ada aja penyebabnya. Rebutan parfum di mall, rebutan perhatian guru, dan sebagainya. Ode digambarkan sebagai pihak yang selalu menjadi korban keegoisan dan ambisi Yosinta untuk menjadi yang pertama. Tanpa angin tanpa hujan, Yosinta bisa saja mendatangi Ode dan membuat gara-gara hanya untuk meluapkan ketidaksukaannya pada gadis itu.

“Eits, mau kemana?” Yosinta menarik kuat ransel Ode dengan paksa, lalu melepasnya cepat. Hampir-hampir membuat tubuh mungil Ode terjengkang.

Hebatnya, meskipun di-bully seperti itu, Ode bukannya takut atau menyerah. Ia tetap menjadi dirinya sendiri dan berani melawan dominasi Yosinta. Ini berbeda dengan novel-novel yang mainstream, yang isinya menunjukkan kesengsaraan si tertindas.

Sayangnya, menurut saya, konflik antara Ode dan Yosinta tidak digarap dengan mendalam. Masih banyak hal-hal yang sepertinya bisa dieksplor. Misalnya, tindakan paling tak menyenangkan yang bisa dilakukan Yosinta. Lantas, bagaimana respons (manusiawi) Ode terhadap tindakan itu. Yang saya tangkap dari kisah ini hanyalah sikap diam Ode meskipun diperlakukan semena-mena oleh Yosinta.

Soal karakter, saya merasa Yosinta memang sudah cocok menjadi pencari gara-gara. Ia tipe cewek penuntut, selalu minta diperhatikan, dan selalu mau menang sendiri. Dandanannya pun sudah seperti orang dewasa. Nah, kalau Ode, saya belum bisa membayangkan karakternya dari gambaran penulis. Ode terlihat sebagai cewek pendiam, badannya mungil, tetapi nakal. Namun, Ode juga bisa galak, kelihatan dari bagaimana ia melindungi kakaknya Enko, dari kekasihnya yang berselingkuh. Jadi, menurut saya karakter Ode kurang “tegas”. Sebagai pembaca, saya bisa bingung mengimajinasikan Ode.

Selain Ode, Yosinta, dan Ever, ada beberapa tokoh lain dalam novel ini yang “seolah-olah” menjadi karakter utama, antara lain Enko dan Dipati, serta Atlas. Enko adalah kakak Ode, sedangkan Atlas adalah kakak Ever. Hal yang menautkan keduanya adalah sama-sama pernah merasakan patah hati. Persamaan itu menjadi benang merah dalam cerita ini. Ode pun mengalami patah hati, juga Yosinta. Banyaknya kisah patah hati dalam novel ini merujuk pada judul Pameran Patah Hati.

Nah, gimana rasanya membaca sebuah novel dengan hampir semua tokohnya patah hati? Temukan di sini jawabannya.

Insert

Saya pernah membaca dan meresensi buku Mini GK yang berjudul Le Mannequin. Di novel itu, saya lumayan terkesan dengan caranya menggambarkan perjuangan seorang gadis desa yang meraih mimpinya. Menarik. Namun, di novel ini saya agak kecewa karena kemistri antara para tokohnya kurang terasa. Cerita menjadi terasa hambar.

Selain itu, adegan dalam novel ini terputus-putus. Sebuah bab dalam novel terbagi atas beberapa bagian. Maksudnya mungkin agar pembaca tidak bosan karena teks yang terlalu panjang. Bisa juga menjadi pemisah adegan yang tak bisa dipaksa disatukan. Namun, saya malah merasa terlontar ke sana kemari karena adegan-adegan tersebut seperti datang begitu saja atau putus begitu saja. Misalnya di hal.8-11 ketika Ode dan Yosinta bertengkar. Nggak ada ujung pangkalnya selain untuk menunjukkan bahwa mereka adalah musuh. Mengapa mereka tiba-tiba bertengkar, saya tak paham. Hal-hal seperti ini berulang di bagian-bagian berikutnya.

Day 38: [Review Buku] Married, Single, and in Betweeen

Judul: Married, Single, and in Between

Penulis: Ca

Tahun terbit: Desember 2014

Penerbit: DIVA Press

Jumlah halaman: 459 

Blurb:

Oh Hyesung, Park Yookwon, Kim Chunhee, Byun Jaeho, dan Do Shiyoon adalah sahabat sejak kuliah. Di antara mereka hanyalah Hyesung yang belum menikah. Dia skeptis karena masa kecil yang buruk.

Yookwon terkungkung dalam pernikahan bersyarat. Jaeho terpaksa melupakan impiannya menjadi ayah bagi Remi serta tertuduh perusak masa depan Moonhye. Chunhee lebih sering menghilang akibat enggan bertatap muka dengan istri yang dijodohkan keluarganya. Dan Shiyoon, menjalin hubungan dengan seseorang dari kalangan minoritas yang perlu disimpannya rapat-rapat.

Hyesung tak pernah menyangka, keterlibatannya dengan pria-pria yang telah menikah, perlahan mengubah pandangannya. Dia pulalah si benang merah itu..

 ♠

Membaca novel yang lumayan tebal ini, seperti sedang menonton drama Korea yang mengaduk-aduk perasaan. Oh Hyesung, Park Yookwon, Kim Chunhee, Byun Jaeho, dan Do Shiyoon adalah karakter utama dalam novel ini. Memiliki latar belakang yang berbeda-beda, kelimanya tetap bersahabat dan saling membagi rahasia. Di antara mereka, Oh Hyesung sendirilah yang belum menikah.

Penulis memulai cerita dari sudut pandang Hyesung. Pria yang bekerja di perusahaan milik keluarga Park ini harus membereskan kekacauan yang disebabkan oleh Yookwon dengan meluluskan permintaan Nam Sooni, wanita yang dibawa Yookwon ke Pulau Jeju selama beberapa hari.

Sampai di sini, saya menduga-duga, apakah Yookwon adalah tipe pria tak tahu diri, yang meskipun telah beristri tapi masih menginginkan wanita lain? Ternyata bukan. Yookwon memiliki alasan di baliknya. Oleh karena itu, ia tak segan-segan melakukannya dan melimpahkan sisanya kepada Hyesung, orang yang dianggapnya kolega sekaligus sahabat.

Aku tidak bisa datang sendirian ke sana dan mengembuskan rumor ketidakharmonisan pernikahan. Bukan masalah, karena itu pesta topeng. Tak ada yang mengenali kami. Hal 20

Ternyata Sooni bukan wanita sembarangan. Demi ibunya, ia bertekad untuk bekerja di perusahaan Park, bukan sekadar menuntut balasan atas apa yang telah dilakukannya untuk Yookwon. Lalu karena hubungan dengan Gain terdesak, Yookwon memohon Hyesung untuk mencari dan membawa Sooni. Sekadar membuat Gain percaya bahwa Yookwon dan Sooni tak memiliki hubungan apa-apa. Keadaan menjadi tak terkendali hingga tanpa sengaja Hyesung dan Sooni “dijodohkan”.

Sejak itulah, perasaan berbeda di antara Hyesung dan Sooni pun tumbuh. Mereka berdua mulai berusaha mencari satu sama lain. Tampaknya, tidak begitu ada masalah dalam hal ini.

Konflik yang justru diangkat oleh penulis adalah kehidupan keempat sahabat Hyesung. Novel ini ibarat 4 kisah berbeda, dengan kondisi yang berbeda-beda, dalam satu buku. Namun, jangan salah, masing-masing di antaranya terkait erat. Misalnya, hubungan Shiyoon dengan Hyesung pada bab terakhir. Sebuah kejutan dihadirkan oleh penulis. Tanda-tanda kejutan ini telah disisipkan di cerita-cerita sebelumnya, meskipun sangat halus.

Cara membangun kejutan ini saya rasa butuh keahlian tersendiri. Pembaca tak kehilangan arah meskipun cerita melebar kemana-mana. Ada bagian-bagian terkait yang bisa dilihat ulang dan bikin kepala kita mengangguk-angguk maklum, “Oh, pantas saja…”

Hal kedua yang saya suka dari novel ini adalah gaya bahasa dan kosa kata penulis. Tidak kaku, justru mengalir dan tak bikin bosan. Renyah. Kepiawaian itu juga terlihat dari adegan-adegan yang ditulis dengan manis. Misalnya pada halaman 122, ketika Hyesung meminta Sooni memanggilnya dengan sebutan, “Oppa..” Atau ketika Shiyoon memijat kaki sang istri di halaman 340.

Selain konflik dalam hidup Yookwon, Jaeho pun berjuang dengan statusnya sebagai ayah muda yang “ditinggal” istrinya. Remi, sang anak, masih sangat kecil untuk mengerti kesulitan orangtuanya. Tanpa bisa dicegah, Yookwon dan sahabat-sahabat yang lain pun ikut berinisiatif membantu—meskipun ditolak mentah-mentah oleh Jaeho. Chunhee dan Shiyoon memiliki masalah yang berbeda pula.

Namun, tema utama dari novel ini adalah permasalahan di dalam keluarga. Bagaimana tradisi atau keinginan orangtua justru membuat hidup suami istri menjadi tak nyaman. Ada yang dijodohkan, ada yang dipisahkan, dan sebagainya. Kita, pembaca, belajar dari sudut pandang seorang laki-laki/suami, bagaimana melihat dan memperjuangkan apa yang dinamai keluarga.

Novel ini menarik secara keseluruhan. Hanya saja memang tebalnya perlu diantisipasi oleh orang yang bernafas pendek saat membaca. Harus tahan berlama-lama sampai menghabiskan seluruh halamannya. Namun, jangan takut, alurnya menarik untuk diikuti.

Buknakah menginginkan sesuatu yang sangat tak mungkin didapatkan berasa begitu menyakitkan? Hanya bisa bermimpi tanpa kepastian, hanya bisa membayangkan sesuatu tanpa bisa menyentuhnya. Hal. 459