Hari-hari Terakhir

Judulnya kok agak serem, ya? Tapi, tenang. Maksud sebenarnya adalah “hari-hari terakhir di 2015”. 🙂

Saat ini, kita sudah hampir mencapai pengujung tahun. Yang biasanya jamak dilakukan adalah merefleksi apa yang sudah terjadi selama setahun ini.

Mungkin bagi saya (atau sebagian orang lain), ini semacam tradisi.

Keuntungannya bagi saya pribadi adalah mampu melihat sejauh mana sudah berjalan, apa yang kurang tepat, dan apa langkah selanjutnya. Pijakan untuk maju. Karena, bagaimana mungkin kita memutuskan untuk melakukan sesuatu kalau sebelumnya kita tidak tahu berada di posisi mana.

Meskipun hanya sekadar merenung di sela-sela waktu kosong–nggak pake ditulis secara detail kayak waktu jaman muda dulu–cukup membantu juga kok. Kalau sekarang sih, lebih ke garis besarnya saja. Misalnya, apa kira-kira yang “kurang” dari tahun ini? Apa yang perlu saya “tambahkan” di tahun depan? Bagaimana caranya? Dan sebagainya.

Nah, jadi apa yang kira-kira “kurang” dari hidupku selama ini? (Kurang maksudnya belum saya lakukan). Hmm, coba saya merenung dulu deh. Masih ada waktu beberapa hari sebelum tahun berakhir, bukan? 🙂

Iklan

New Theme

Sudah lama saya ingin mengubah theme blog ini. Alasannya lebih pada kesegaran saja. Sejak mulai punya rumah di sini, theme-nya cenderung sama. Pernah beberapa kali ganti, tapi kemudian nggak sreg.

Bukan hanya theme, saya juga ingin membuat isi blog lebih terarah. Selama ini kan isinya gado-gado alias apa saja masuk. Saya mencoba mencari konsep yang cocok, tapi sepertinya hidup saya terlalu ribet. Akhirnya, untuk sementara (entah sampai kapan) saya mungkin akan bertahan dengan kesemrawutan ini. Mungkin saya hanya perlu membuatnya lebih tertata saja.

Semoga perbaikan-perbaikan ini semakin menciptakan semangat nulis yang lebih baik.

Memilih Pelabuhan Cinta

Amora

Merindukan sosok ayah, Amora memutuskan untuk kuliah di Venice. Tapi, Gelateria Paolin, pemuda murung yang datang setiap senja, dan bos baru pemilik gelateria mengacaukan hari-harinya…

Tom

Duduk di meja nomor 13 dan memesan dua mangkuk gelato stroberi. Lalu sambil memandang senja, ia bercakap-cakap sendiri. Menyebut nama seorang gadis. Isabella…

Diego

Sebagai generasi penerus usaha gelateria dan meski telah bertahun-tahun menjejakkan kaki di tanah lahirnya, Itali, Diego tak pernah membuang ingatan masa lalunya. Kenangan yang tersimpan dalam sebuah foto lama dan kapal mainan…

♣♣♣

Judul: Amore Mio

Penulis: Rofie Khaliffa

Penerbit: deTEENS

Tahun terbit: September 2015

Jumlah halaman: 268 hlm.

ISBN: 978-602-255-966-5

♣♣♣

Kisah ini diawali dengan perbincangan kedua anak kecil bernama Gaga dan Momo. Keduanya bersahabat. Suatu hari, si Gaga pamit kepada Momo karena akan pergi ke Italia. Mereka pun saling menukarkan mainan, yaitu kapal otok-otok dan gondola.

Selanjutnya, kita akan dibawa ke belasan tahun kemudian. Settingnya adalah di Italia, dimana ada seorang bernama Tom (Thomas Renon) mendatangi Gelateria Paolin S. Stefano, sebuah kafe gelato (es krim khas Italia) dan memesan dua mangkuk gelato stroberi. Ia dilayani oleh Amora Natasha (yang tak lain adalah Momo). Sayangnya, Tom datang ke sana bukan untuk menikmati gelato, tapi untuk mengenang kekasihnya, Isabella.

Cerita pun bergulir antara Tom dan Amora. Dalam hati Amora, timbul rasa penasaran yang cukup dalam pada Tom yang selalu murung. Hingga suatu kali, mereka memiliki kesempatan untuk berkunjung ke Verona. Pengalaman itu membekas di hati Amora. Namun, setelah itu, Tom menghilang.

Hidup Amora tentu tetap berjalan. Meskipun ia masih menyimpan harapan akan kehadiran Tom lagi. Di saat itu, datanglah seorang laki-laki yaitu anak dari pemilik gelateria tempat Amora bekerja. Laki-laki bernama Diego ini berasal dari masa lalu. Laki-laki ini pula yang ingin menepati janjinya kepada Amora dengan berbagai cara. Dalam hatinya, tersimpan cinta untuk Amora.

Banyak hal terjadi setelah itu. Amora harus memilih antara Diego dan Tom–yang datang kembali dan mengakui sesuatu yang mengagetkan. Di sisi lain, Diego telah menghabiskan tenaganya untuk memiliki hati Amora.

Alur novel ini tak mudah ditebak. Ia juga bukan kisah mainstream yang memenuhi konsep: cinta masa kecil ditakdirkan untuk bersama. Justru penulis ingin memberikan peluang baru bagi siapapun untuk bebas menentukan pilihan. Toh, semua ada di tangan kita. Jangan karena masa lalu, apa yang ada di depan menjadi samar.

Penggambarkan karakter para tokoh pun cukup total menurut saya. Ia menampilkan masing-masing tokoh secara kuat dan khas. Meskipun kadang-kadang saya suka bingung dengan karakter Diego dan Tom yang sama-sama dingin. Hampir senada, istilahnya.

Amora terhenyak mendengar kritik pedas Tom yang benar-benar memojokkannya….. Tak ada kata-kata lagi yang ia lontarkan. Langkahnya terburu meninggalkan Amora dan tempat itu. Hal 16-17

Diego berjalan congkak mengitari semua pegawainya. Senyum khas seorang tokoh antagonis di film-film tersungging di bibirnya yang sedikit kemerahan. Hal 98

Untuk mendukung setting tempat di Italia, penulis memasukkan kata-kata bahasa Italia yang menarik diperhatikan. Misalnya, come stai? Grazie mille, buona notte, dan sebagainya. Sederhana sih, tapi cukup bisa membawa kita pada suasana yang mendukung cerita.

Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, ending novel ini bukan ending yang biasa saja. Kita akan terbawa pada suasana yang diciptakan penulis. Hanya saja dalam beberapa bagian, cerita terasa berjalan lambat. Kita dituntut untuk memperhatikan setiap detail dan gambaran yang dimunculkan penulis. Hal ini semakin berkurang ketika sudah mendekati akhir karena alur cerita berjalan semakin cepat.