Day 167: Minta Maaf, Yaaa…

Huray, aroma liburan udah mulai kerasa. Bagi karyawan yang masih masuk kantor pada hari Sabtu–seperti hari ini, rasanya jiwa udah nggak genap. Pengennya segera pulang, packing, lalu holiday. Saya sih nggak kemana-mana karena kampung jauh di mata. Saya hanya diajak  pacar untuk berkunjung ke rumahnya selama beberapa hari. Aktivitas ini bisa dibilang liburan mengingat keadaan di sana juga masih asri, hawanya adem, dan makan terjamin. Hahaha. Khas anak kos banget sih. Tapi.. daripada sendirian di kota yang semakin dipadati para pelancong, tampaknya itu pilihan menarik :p

Liburan panjang ini tentu untuk menghormati sekaligus merayakan — bagi yang merayakan — datangnya Idul Fitri. Hari yang penting bagi kaum Muslim. Kebiasaan yang saya lakukan adalah mengirimkan ucapan selamat lewat pesan pendek kepada teman-teman yang merayakan.

Momen seperti ini seringkali berlanjut dengan tanya-tanya kabar soalnya udah lama banget loss contact. Nomor handphone ada di list, di facebook juga temenan, tapi terlampau sok sibuk untuk sekadar say hi. Jadi, tentu ada untungnya kita disatukan oleh kesempatan menyelamati orang lain.

Saat Idul Fitri, saling memaafkan wajib hukumnya. Ucapan mohon maaf lahir dan bathin pun deras mengalir baik secara langsung maupun sms. Meskipun sebenarnya kita merasa memiliki hubungan baik dengan para relasi, nggak tertutup kemungkinan kita pernah melakukan kesalahan yang nggak disadari.

Semoga dengan momen ini, kita semua –bukan hanya yang merayakan– ikut merasakan kegembiraan, keikhlasan, dan ketulusan hidup berdampingan dengan orang lain. Ucapan maaf yang keluar dari bibir sebagai ungkapan hati akan mekar dan menghasilkan bunga-bunga yang memperindah kehidupan.

Selamat merayakan Idul Fitri, sesamaku.

 

Day 164: Mengapa Tuhan Masih Mencintaiku?

Jika kita mengamati silsilah kelahiran Yesus Kristus dengan saksama, akan terlihat bagaimana Allah tetap memakai pribadi yang sebenarnya tak layak sebagai alat penggenapan rencana-Nya bagi dunia ini. Apa pengaruh tindakan Allah tersebut terhadap kita, ciptaan-Nya?

 

Masih ingat kisah Tamar dan Yehuda? Ah, tentu saja. Ini adalah salah satu kisah dalam Alkitab yang mengguncang konsep berpikir kita mengenai moral dan etika. Betapa tidak,  dikisahkan ada seorang wanita yang hamil di luar nikah setelah berhubungan badan dengan mertuanya, yaitu Tamar. Dari hubungan tersebut, lahirlah anak kembar bernama Peres dan Zerah. Jika dirunut kemudian, dari keturunan Pereslah lahir Yusuf, suami Maria, ayah Yesus.

Di rentang silsilah tersebut, kita bisa menemukan seorang sosok berpengaruh yang tergelincir dalam dosa perzinaan. Benar, ia adalah Daud. Daud dikenal sebagai figur yang ideal dan berkenan di hadapan Tuhan. Sejak muda, ia telah dipilih untuk menjadi seseorang yang menggoreskan sejarah dalam perjalanan umat Israel. Tuhan memandangnya begitu istimewa, hingga pada suatu hari, seorang wanita cantik menggetarkan hatinya. Sayangnya, wanita itu telah bersuami. Lalu, terjadilah seperti cerita yang tertera dalam Alkitab. Setelah Daud melewati masa-masa penyesalan serta penyelesaian dengan Allah, Batsyeba, istri Uria, melahirkan seorang anak yang dinamai Salomo. Dari Salomo, lahirlah generasi-generasi selanjutnya yang kemudian menjadi nenek moyang Yesus secara lahiriah.

Sebelum itu, ada pasangan Boas dan Rut yang berasal dari Moab. Bangsa Moab adalah keturunan dari hasil hubungan inses Lot dan anak perempuan sulungnya. Jika dilihat secara pribadi, Rut memiliki latar belakang yang tidak begitu bagus. Ia hanya seorang janda miskin yang meminta-minta makanan. Sementara, Boas tidak jauh berbeda. Ia adalah anak Rahab, seorang perempuan sundal dari Yerikho. Pasangan ini adalah nenek moyang Raja Daud.

Lantas, pertanyaan besar yang tentu menggantung di benak kita adalah apakah saat itu Allah kekurangan orang-orang kudus lain yang bisa dijadikan sebagai cikal bakal kelahiran Yesus Kristus di dunia ini? Mengapa Allah memilih orang-orang dengan jejak-jejak kehidupan yang tidak beres? Apa sebenarnya maksud Allah.

Dosa Manusia

Sejak kejatuhan manusia dalam dosa di Taman Eden, ada yang disebut dengan janji induk. Janji induk adalah dampak dari kejadian antara Hawa, Adam, dan ular atau Iblis. Pada peristiwa ini, ada semacam perjanjian tak tertulis antara Iblis dan anak-anak manusia. Intinya, dari keturunan seorang wanita akan datang seorang penyelamat, sementara Iblis tak henti-hentinya akan berupaya menghancurkan manusia.

“Karena tahu bahwa keselamatan akan datang dari seorang wanita, Iblis mencoba menghancurkan itu. Itulah sebabnya ketika ditelusuri, ternyata Yesus bukan berasal dari garis keturunan baik-baik. Ini adalah usaha Iblis untuk menggagalkan rencana penyelamatan Allah terhadap manusia,” ungkap Pdt. Dr. Budyanto (65), Dosen Theologi di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Yogyakarta.

Akan tetapi, rencana Allah tidak bisa digagalkan oleh kebobrokan manusia tersebut. Sebenarnya, Allah telah merancangkan hal-hal baik untuk mencapai tujuan-Nya. Namun, karena tersandung oleh godaan duniawi, manusia menjadi jatuh dan berdosa. Namun, itu tidak berarti rencana Allah mandeg sampai di situ. Kasih-Nya yang besar mengambil alih. Rencana penyelamatan tetap berjalan meskipun diliputi oleh berbagai halangan, yaitu ketidaktaatan manusia.

Pendekatan Secara Pribadi

Seseorang dikatakan beriman bukan karena tidak pernah jatuh dalam dosa. Namun, beriman berarti bangkit lagi meskipun pernah jatuh dalam dosa. Siapa, sih, manusia yang tidak pernah berdosa? Ada banyak tokoh Alkitab yang mengalami hal tersebut, seperti Abraham, Musa, bahkan Petrus.

Kita mengenal Petrus sebagai figur yang impulsif dan ekstrover. Ia adalah murid Yesus yang sangat suka berbicara. Ia mengungkapkan perasaannya dengan blak-blakan, termasuk janjinya untuk menjadi sependeritaan dengan Gurunya. Namun, pada malam penyaliban itu, Petrus justru menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Apakah tidak sebaiknya Yesus memecatnya sebagai murid?

“Gaya teguran Tuhan Yesus memang sangat berbeda. Ia tidak menghakimi terlebih dahulu, tetapi justru merangkul. Setelah itu baru memberi tahu, ‘Kamu itu salah’,” ujar Budyanto. Hal itu dialami sendiri oleh Petrus. Pada akhirnya, Yesus mendatangi Petrus secara pribadi dan memulihkannya. Ia kemudian memakai rasul itu untuk menyelamatkan 3.000 orang pada hari Pentakosta

Ada banyak tokoh lain yang dipakai Yesus dengan luar biasa tanpa melihat latar belakang kehidupan mereka. Jejak suram yang mereka tinggalkan dibiarkan Tuhan tak terlihat. Tampak jelas, Yesus begitu mengasihi manusia dan tidak membiarkan ketidaksempurnaan menghentikan proses penyelamatan.

“Kasih Tuhan itu luar biasa. Bisa kita lihat secara jelas saat Dia menyelesaikan persoalan perempuan pezina. Ia tidak menghakimi. Ia justru meminta, jika ada, orang-orang yang tak berdosa untuk melemparkan batu. Yang ingin ditunjukkan Yesus adalah bahwa setiap orang sudah berdosa. Mungkin bukan kejahatan seksual, bisa saja korupsi, menipu, memanipulasi, dan sebagainya,” jelas mantan Rektor UKDW ini.

Mengadopsi Prinsip Allah

Cara yang dipakai Yesus tersebut tidak mudah dijalani. Ada risiko yang harus ditanggung di balik keputusan untuk menerima dan mengasihi orang lain apa adanya. Untuk mempertahankan prinsip seperti itu, Yesus bersedia dihina dan direndahkan. Begitu pula setiap orang atau gereja dan komunitasnya harus bersedia mengalami kerepotan, dianggap tidak berdaya, untuk mengikuti teladan Yesus. “Saat ini gereja hanya berada dalam zona nyaman,” tambah Budyanto.

Akan tetapi, hasil dari menanggung risiko tersebut tidak sia-sia. Dalam kasus Petrus, rasul besar ini bukan hanya menyelamatkan 3.000 orang sekaligus, ia juga menjadi rasul yang setia sampai mati. Perhatian dan kepedulian Yesus secara pribadi justru membangkitkan sisi paling dalam dari Petrus untuk mengasihi sesamanya. Ia memberitakan Kabar Baik dengan menggebu-gebu.

Setidaknya itu juga yang dirasakan oleh Pdt. CH. Martinus Nussy, S. Miss. (46). Martinus adalah anak ke-9 dari sebuah keluarga kaya. Ketika ia dilahirkan, kondisi keluarganya sedang tidak baik alias sedang mengalami kebangkrutan. Sang ayah juga ketahuan berselingkuh. Sejak bayi, Martinus diasuh oleh orang lain yang bukan beragama Kristen dan ia dikucilkan dari lingkungan keluarga.

Latar belakang yang tidak ideal ini tidak menjadi penghalang bagi rencana besar Allah dalam hidup Martinus. Setelah melewati masa-masa penolakan karena ia kuliah di sebuah sekolah theologi dan dibaptis menjadi orang percaya, kini Martinus mengelola sebuah panti asuhan, yaitu Lembaga Pelayanan Peduli Anak Bangsa Batu Penjuru di Kulonprogo, Yogyakarta. Lembaga ini baru berdiri pada 11 Juni 2011 lalu. Visi mereka adalah mencari anak-anak yang terhilang dan mengubahnya dari nothing menjadi something.

Pengalaman Martinus secara pribadi bersama Yesus membawanya pada komitmen yang kuat untuk melayani dan mengasihi anak-anak di Batu Penjuru. Kesempatan baru serta pertolongan yang tak henti dari Tuhan menguatkan Martinus bersama istri untuk mengelola panti asuhan dengan kasih yang datang dari hati.

Sulit, Tetapi Tidak Mustahil

Stevanus Sanjaya, seorang psikolog, mengatakan ada kecenderungan pada seseorang untuk takluk jika didekati dengan kasih. Hal ini bermula dari pengalaman pertama manusia bersentuhan dengan kasih, yaitu sejak bayi. Namun, kemampuan untuk mengasihi orang lain yang sesungguhnya tidak ideal untuk dikasihi adalah berkat kematangan spiritual.

“Mungkin dalam hidupnya ia pernah mengalami kekurangan kasih. Namun secara psikologi, dalam diri setiap manusia ada dokter dan apotek sehingga ia bisa menyembuhkan luka-lukanya. Orang yang terlatih menyembuhkan luka batinnya akan mampu menolong dirinya sendiri. Ketika berjumpa dengan orang-orang yang tidak layak dikasihi, ia justru bisa mengasihi. Ini adalah orang-orang tipe teflon, dalam hatinya tidak lengket perbuatan buruk orang lain,” ujar Stevanus.

Selain pendekatan secara psikologis tersebut, umat kristiani pun dilimpahi kasih yang menakjubkan dari Allah. Penerimaan-Nya terhadap keberadaan manusia tanpa memandang jejak-jejak masa lalu adalah penegasan bahwa Dia, Allah yang Pengasih, memiliki rencana agung yang tidak tergoyahkan oleh kebobrokan manusia. Itulah sebabnya Dia terus bersedia menerima manusia dengan kelemahannya terhadap godaan.

Pada dimensi yang berbeda, gereja memiliki tanggung jawab untuk meneladani sosok Kristus ketika menghadapi para pendosa yang bertobat. Mengucilkan dan menghakimi adalah cara-cara duniawi yang sejatinya tidak sealiran dengan ajaran Yesus. Jika masih ada gereja atau komunitas umat Kristen yang melakukan tindakan seperti itu, pertanyaan paling mendasar yang harus direnungkan adalah, “Apakah kita masih mengusung Kristus sebagai teladan hidup?”

(Dimuat di BAHANA Desember 2013)

Day 164: Selamat Datang, Presidenku!

http://indonesia-baru.liputan6.com/read/2081932/jokowi-jk-susun-kabinet-usai-lebaran
http://indonesia-baru.liputan6.com/read/2081932/jokowi-jk-susun-kabinet-usai-lebaran

Akhirnya, setelah perjalanan panjang pesta demokrasi, 22 Juli 2014 kemarin, Jokowi-JK memenangkan pemilihan umum. Bagi sebagian orang, kemenangan pasangan capres-cawapres 2 ini dipandang sebagai hasil dari doa, kerja keras, dan harapan segenap pihak yang terlibat, baik tim sukses maupun relawan (rakyat). Sebagian lain memandangnya sebagai hasil ketidakjujuran dan kecurangan yang dilakukan tanpa aturan.

Selama ini, saya mengamati proses pemilu dengan perasaan biasa saja. Bukan apa-apa, saya tipe orang yang nggak mau terlalu fanatik dengan sesuatu atau seseorang. Fanatisme menutup mata kita terhadap kelemahan idola serta menumpulkan sikap kritis. Jadi, sembari ikut mendengar berita – sekali-kali gemes dengan media yang menampilkan siaran yang timpang – saya mencoba merenungkan: siapa sebenarnya yang pantas memimpin Indonesia.

Bagi kedua belah pihak, capres pilihannya jelas paling pantas. Segala kebaikannya diungkapkan. Dan segala kelemahan lawan pun dibawa ke permukaan. Rekam jejak menjadi sangat penting. Karakter yang terlihat ketika menyikapi persoalan dan masalah ikut diamati. Rakyat begitu jeli dan teliti. Bahkan untuk hal-hal yang sangat kecil. Lantas, semua itu digunakan sebagai amunisi untuk membela calon masing-masing.

Sebulan dua bulan terakhir, media, termasuk media sosial ramai sekali. Bahkan, satu dua orang yang dulunya bukan siapa-siapa bisa terkenal dalam hitungan jam karena meluncurkan tweet fenomenal. Semua berlomba-lomba menunjukkan bahwa calonnya sangat pantas menjadi orang pertama di Indonesia. Ada yang melakukannya dengan cara yang santun, ada pula yang tidak. Semua itu tergantung pada karakter dan moral seseorang.

Sekarang, rakyat sudah menentukan. Nomor urut 2 yang akan memimpin Indonesia dalam 5 tahun ke depan. Saya sih berharap, dukungan yang mengalir meluap-luap yang diberikan kepada mereka berdua nggak akan berhenti sampai di sini. Dukungan itu terus ada hingga 5 tahun ke depan. Bukan dukungan kosong yang omong doang, bukan juga dukungan buta yang maunya manut, tetapi dukungan yang kritis dan jernih. Mendukung penegakkan keadilan di bumi pertiwi.

Kita juga harus sadar. Siapapun yang tanpa paksaan mencoblos nomor 2 benar-benar siap untuk dipimpin menjadi lebih baik. Tentu dengan cara yang baik pula. Jangan menyangka, kalau pilihan kita udah menang, lantas bisa bermalas-malasan. Kita rindu perubahan, termasuk perubahan dalam birokrasi, mental, dan kehidupan sehari-hari dan kita harus mengusahakannya. Kalau besok-besok ada kebijakan yang terasa “kejam”, jangan buru-buru berpikir negatif. Ingat kembali  alasan dari perjuangan yang ‘berdarah-darah’ untuk membawa presiden baru ini ke kursi kepemimpinan.

Tanpa bermaksud ikut larut dalam euforia, saya turut mengucapkan: “Selamat datang, presidenku. Selamat memimpin Indonesia bersama rakyat. Amanat rakyat kini ditaruh di pundakmu. Kalau lelah, berceritalah, tetapi jangan mengeluh. Di belakangmu, kami siap mendukung.”

Day 157: Rekan Kerja Terlalu Inisiatif? Hadapi Dengan Cara Ini.

Atasan bukan, saudara juga bukan. Tapi, kenapa ya, ia seneng banget mengambil alih tugas kita. Ia juga suka mengatur dengan nada bicara yang nggak enak. Awalnya sih suka-suka aja karena ada yang bisa diandalkan. Lama-kelamaan nyebelin karena bikin urusan jadi repot dan berantakan. Bahkan, bisa jadi timbul kesalahpahaman di antara sesama rekan kerja. Lalu, gimana caranya menghadapi orang-orang semacam ini?

  • Abaikan Saja

Cara pertama yang paling gampang adalah mengabaikan. Biarkan ia melakukan tugas atau pekerjaan itu. Toh, itu artinya pekerjaan Anda akan berkurang. Hanya saja, pastikan Anda mengantisipasi efek yang mungkin akan terjadi, misalnya perubahan kualitas, tabrakan kepentingan dengan rekan kerja lain, dan sebagainya. Lihatlah dari sudut pandang yang positif dan menguntungkan. Dengan begitu, Anda akan lebih sabar meskipun tindakannya tersebut melewati alur kerja yang sesungguhnya.

  • Sepakati Alur Kerja Ideal

Jika hal itu terjadi berulang kali, tentu bukan perkara mudah. Apalagi jika efek samping mulai mengganggu dan justru menambah beban pekerjaan. Tanpa membuatnya tersinggung dan kecewa, bicarakan alur kerja yang sebaiknya dipatuhi oleh rekan satu tim. Sepakati hal itu sehingga masing-masing mengetahui tugasnya. Jika ia mau membantu, sepakati tata caranya sehingga tidak ada yang merasa dirugikan atau dimanfaatkan.

  • Tegur Dengan Baik

Wah, ternyata kesepakatan bersama nggak mempan juga. Ajaklah ia untuk berbincang dengan serius tapi santai. Jika memungkinkan, lakukan pada saat senggang ketika beban pekerjaan nggak banyak. Berbicara dari hati akan membuat seseorang lebih mudah menerima masukan. Tekankan bahwa sikap dan tindakannya itu baik dan membantu, hanya saja perlu diatur. Pastikan ia juga menyadari kerepotan yang Anda hadapi jika tindakan tersebut terus dilanjutkan.

  • Gali Motivasi

Ada banyak alasan orang menjadi over inisiatif. Pertama, kebiasaan. Ia memang terbiasa mengatur dan membantu orang lain. Jadi, meskipun bukan pekerjaannya, ia terbiasa mengambil alih. Kedua, ingin dipuji. Orang-orang seperti ini biasanya para pencari muka. Mereka bersedia melakukan banyak hal (bahkan di luar tugasnya) karena ingin dilihat dan dipuji orang lain. Mereka nggak memberi kesempatan kepada rekannya untuk berkarya dan berusaha. Ketiga, memang ada ketimpangan dalam tim. Bisa jadi, ia berinisiatif melakukan sesuatu karena Anda nggak melakukannya dengan baik. Evaluasi diri sendiri dan mintalah atasan untuk memberi masukan.

  • Diskusikan dengan Atasan

Langkah terakhir yang bisa Anda lakukan adalah berbicara dengan atasan. Ingat, tujuan Anda bukan untuk mengadukan rekan tersebut. Tujuan Anda adalah memastikan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab Anda bisa terlaksana dengan baik. Oleh karena itu, Anda perlu membeberkan masalah-masalah yang Anda hadapi termasuk rekan kerja yang terlalu inisiatif. Berikan bukti-bukti yang mendukung sehingga Anda tidak disebut omong doang. Tanyakan kepada atasan apa tindakan yang sebaiknya dilakukan. Mudah-mudahan dengan saran dan dukungan dari atasan, pekerjaan menjadi lancar kembali.

Day 153: Ketika Melucu Tak Mudah Lagi

cover YNFE

Judul               : You’re Not Funny Enough

Penulis             : Jacob Julian

Penerbit           : PING!!!

Jmlh Hal          : 280 halaman

Tahun              : Juni 2014

 

Membaca judul buku ini, yang sekilas terlintas dalam pikiran adalah sejenis buku humor yang akan membuat saya terpingkal-pingkal. Ya. Funny. Kosakata yang sangat menarik. Dalam dunia kita yang semakin ruwet, mendapati kelucuan untuk ditertawakan adalah sebuah mukjizat.

TIDAK LUCU LAGI

Jamie Dupont alias JD ingin menjadi pencipta mukjizat. Ia adalah seorang comic yang biasa manggung di Jukebox Scene, kafe milik sahabatnya, Beni. Tugas Jamie adalah menghibur para pengunjung dengan menampilkan stand up comedy.

Masalah mulai muncul ketika lawakan Jamie tidak lagi menghibur. Ia tidak mampu menggerakkan saraf tawa penontonnya. Jokes-nya garing dan hambar. Show yang digelar setiap malam hanya menuai kekecewaan, terutama bagi Jamie sendiri.

Apa penyebabnya? Ia sungguh tak mengerti. Berbagai materi sudah dieksplor. Latihan tak ketinggalan. Tetap saja tak mempan. Klimaksnya, ia memutuskan untuk hengkang dari kafe dan memulai kehidupan baru yang jauh dari panggung.

Beni berkali-kali memintanya untuk berpikir ulang. Sang sahabat baik ini selalu berusaha membuka pintu kesempatan bagi Jamie. Kafenya bebas digunakan sebagai tempat pertunjukkan. Namun, bukan hanya “persoalan tak lucu” itu yang mengintimidasi Jamie, bayangan mantan pacar, Sonya, pun terus hadir seolah-olah sedang mengolok-olok.

Ia putus – tepatnya ditinggalkan oleh gadis itu – karena profesinya yang tidak menjanjikan. Bagaimana mungkin seseorang bisa hidup dan membangun keluarga hanya dari menjual guyonan. Tidak ada kepastian dan kemapanan. Padahal, para perempuan kebanyakan mengejar kedua hal itu.

Akhirnya, Jamie mengambil langkah besar. Ia memutuskan hijrah ke Kalimantan, cukup jauh dari Madiun, tanah kelahirannya. Di atas kapal, ia bertemu pasangan Luka dan Fey. Keduanya akan segera menikah. Ternyata, Fey penggemar stand up comedy. Jamie pun didapuk untuk tampil. Lumayan sukses. Namun, semangat Jamie terlanjur redup. Tawaran kapten kapal untuk menjadi penghibur tetap dilewatkannya.

Ia mendarat dengan selamat di pulau tujuan. Dalam keputusasaan, ia bertemu dengan Gaiman, kepala cleaning service di sebuah mal. Uniknya, Gaiman adalah mantan pesulap. Seorang penghibur. Seorang penguasa panggung. Hal ini diketahui Jamie lama kemudian karena terhalang karakter Gaiman yang kurang bersahabat.

Dengan cara mereka sendiri, interaksi terjadi. Saling menyemangati meskipun bukan dalam percakapan yang hangat. Namun, hal itu memuluskan jalan pulang Jamie ke dunia lawak. Ia bertemu dengan orang-orang yang mendorongnya untuk kembali memperjuangkan passion. Hasilnya, ia memulai tur lima kota, termasuk Madiun. Pada saat itu pula, ia bertemu kembali dengan Fey, semangatnya yang baru.

IDE CERDAS

Ide yang ditawarkan penulis melalui novel ini saya akui cerdas. Siapa sangka, di balik profesi seorang comic, ada kisah hidup yang menggetarkan. Tawa, mantra ajaib yang menciptakan suasana menyenangkan, ternyata melewati proses yang tidak mudah. Tidak semua orang bisa menjadi pembuat tawa. Bahkan, mungkin saja ada pelawak yang hatinya menangis di balik tawa para penontonnya.

Untuk menceritakan kisah Jamie, penulis melakukannya dengan sederhana. Ia memakai alur maju yang mudah dipahami. Tidak merepotkan. Kita bisa membacanya dengan santai sambil menyeruput secangkir kopi di beranda rumah.

Namun, masih ada beberapa bagian yang cukup mengganjal. Misalnya, hubungan Jamie dan Sonya yang terus-menerus dibahas dari bab awal sampai akhir. Buat saya, poin ini mengambang karena tidak digali lebih dalam. Sonya tidak lebih sebagai lambang kegagalan bagi Jamie, bukan inti persoalan. Padahal, pudarnya semangat Jamie kurang lebih disebabkan oleh gadis itu. Setidaknya, itulah yang tertangkap oleh saya sebagai pembaca.

Selanjutnya, penulis juga kurang memberi perhatian pada  kehadiran Fey di awal-awal pertemuannya dengan Jamie. Tidak ada sentuhan emosional yang membuat jantung berdebar-debar. Akibatnya, posisi Fey menjadi tidak kuat. Seandainya mereka tidak bertemu lagi di akhir cerita, tampaknya bukan masalah besar. Ohya, sebagai pasangan Fey, Luka pun belum maksimal menjalankan perannya.

Yang unik adalah tokoh Gaiman. Bagi saya, tokoh Gaiman memegang peranan yang sangat penting dalam perjalanan hidup Jamie, khususnya dalam fase kebangkitannya. Ya, hubungan mereka cukup jelas dan saya mengagumi imajinasi penulis yang menyatukan profesi seorang cleaning service dengan pesulap. Di luar sana, banyak pekerja seni yang juga hidup sengsara. Realita yang sering kita ingkari.

Penulis rupanya menggelisahkan hal-hal yang luput disadari sehingga melahirkan buku yang memaksa pembaca untuk merenung. Sehabis membacanya, sebuah pertanyaan pasti akan menyelinap ke kepala: “Apakah kehidupan para pelawak di negeri ini juga penuh dengan drama yang tak terbayangkan?” Bisa jadi. Kesadaran itu membuat kita bersyukur; semua orang pun memiliki masalah, tak terkecuali mereka yang seperti raja di atas panggung.