Day 6: Katrina dan Ran

Judul: Runaway Ran

Penulis: Mia Arsjad

Penerbit: GPU

Tahun: 2013

Tebal: 368 hlm

Genre: Fiksi, Novel, Metropop

Awal novel ini dimulai dengan kesalahan; setidaknya itu yang dirasakan Katrina, sang tokoh utama. Coba dia nggak terlalu penasaran untuk nguping perbincangan orangtuanya tentang ayah yang di-PHK. Tentu saja hidupnya akan baik-baik saja. Uang jajan cukup, uang kuliah aman, dan masih bisa belanja barang bermerek di online shop langganan.

Berita buruk itu seperti badai yang menggoncang hidup Katrina. Oke, dia sih masih bisa makan, bahkan meneruskan kuliah S2 Manajemen-nya. Toh, Ayah dan Ibu berusaha merahasiakan hal itu darinya dan tetap mengucurkan dana untuk biaya hidupnya. Tapi, Katrina adalah cewek yang masih punya hati. Dengan penuh semangat, ia pun mencari kerja sampingan alias freelance. Dasar belum pernah bekerja, permintaannya macem-macem. Nggak boleh menyita waktu, tetapi gajinya harus lumayan. Yah, dia kan juga masih kuliah.

Dengan bantuan Alya, sahabatnya, pekerjaan menjadi asisten seorang komikus terkenal yaitu J.F. Ran pun didapatkannya. Lumayan untuk pekerjaan yang sederhana; membantu Ran mengarsir sketsa komik. Hmm, hobinya menggambar tersalurkan, plus mendapat pemasukan. Sepertinya masalah hidupnya sudah teratasi, tetapi tidak.

Dari titik ini, penulis memunculkan konflik yang membuat Katrina bolak-balik ingin mundur sebagai asisten Ran. Karakter Ran yang dingin dan cuek serta ‘pacar’ Ran – Viana – yang menyebalkan minta ampun. Hal-hal ini cukup memberatkan Katrina. Ia mempertimbangkan untuk tidak meneruskan pekerjaannya sebagai asisten Ran. Namun, sebelum Katrina berputus asa, karakter-karakter baik Ran dimunculkan.

Penulis juga memancing rasa kasihan Katrina dengan membuat hidup Ran terlihat menyedihkan. Ibu yang dirawat di rumah sakit jiwa dan ayah yang tak jemu-jemu meminta maaf karena kesalahan di masa lalu. Kedua hal ini mampu menahan Katrina untuk tetap berada di samping cowok cuek namun pelan-pelan ia cintai.

Akhirnya bahagia. Meskipun sang Ibu meninggal, tetapi terjadi rekonsiliasi dengan sang Ayah. Lalu, Katrina dan Ran menjalin hubungan yang lebih dari sekadar asisten dan bos. Ohya, Ran juga rela memendam keinginannya membalas dendam kepada Viana dan ibunya yang telah menghancurkan keluarga Ran yang bahagia.

Dibanding beberapa novel Mia sebelumnya, teknik penceritaan Runaway Ran semakin spontan. Banyak hal-hal menarik dan mengejutkan yang diselipkan penulis di dalam alur yang biasa-biasa saja. Ini adalah senjata supaya pembaca tidak sempat meletakkan buku yang sedang dipegang; tetapi dilahap sampai habis. Alur sampingan – Alya dan pacarnya – sedikit banyak juga membangun karakter kedua tokoh utama. Artinya, tidak berdiri sia-sia.

Hanya saja, yang sedikit mengganggu adalah peristiwa ketika Katrina dengan bodohnya menerima job dari seorang agen bernama Dini. Tanpa pikir panjang, demi sebuah tas idaman, Katrina mengabaikan kekhawatiran Alya. Padahal, detail pekerjaan belum dipastikan. Sebagai orang awam, dalam kondisi ini rasa waspada biasanya muncul. Apalagi fee-nya besar. Kewaspadaan ini yang rupanya alpa dipertimbangkan penulis. Rasanya seperti tidak masuk akal, lantas pembaca terpancing untuk mengutuk kelalaian Katrina sebagai cewek metropolitan.

Namun, secara keseluruhan novel ini menggugah. Siapa sangka, di kota besar yang sedemikian individualis, masih ada ide untuk menciptakan superhero, meskipun dengan cara yang sederhana. Siapa tahu memang benar-benar ada.

Iklan

Day 1: Kapan Saya Harus Berhenti?

Kehilangan semangat hidup bisa terjadi karena tubuh sudah lelah, visi memudar, karya tak berarti lagi. Yang terasa justru kesia-siaan. Mengapa ini bisa terjadi?

Pada suatu petang yang sejuk di California, seorang lelaki berusia empat puluhan tahun sedang duduk terisak-isak di pinggir jalan. Ia adalah gembala senior yang telah melayani sejak dua puluh tahun yang lalu. Ia juga pemimpin komunitas yang bertanggung jawab terhadap belasan ribu anggota jemaat, serta memastikan keluarganya tetap aman secara finansial.

Lalu, momen itu datang. Setelah berhasil memenuhi serangkaian jadwal pelayanan yang ketat dan pulang dengan tubuh kelelahan, ia sampai pada batas energinya. Awalnya ia begitu antusias menambahkan sejumlah pelayanan ke agenda, tetapi sekarang ia tidak yakin bisa melanjutkan semua itu. Orang tersebut bernama Wayne Cordeiro, penulis buku Ketika Anda Lelah Memimpin.

Pada masa lampau, ada pula seorang pengkhotbah terkemuka yang telah kenyang bergumul dengan depresi seumur hidupnya. Ia adalah C.H. Spurgeon (1834-1892). Tahun-tahun hidupnya penuh kegelisahan akibat mengemban tanggung jawab luar biasa terhadap tugas pelayanan gereja. Ia sering menjadi sasaran fitnah, ejekan, dan hinaan. Pada umur 23 tahun, ia pernah mengalami hal menyedihkan sehingga hatinya hampir hancur.

“Salah satu tokoh Alkitab yang pernah mengalami kelelahan adalah Elia. Hal ini tercermin dari tindakannya menyendiri dan pergi ke luar kota, serta ungkapan isi hatinya kepada Tuhan. Ayub juga mengalami hal yang sama. Awalnya Ayub adalah pria yang saleh dan tabah saat menghadapi pencobaan, bahkan ia tetap memuji Tuhan dan tidak berdosa dalam pergumulan seberat itu. Namun, ketika waktu terus berjalan dan Ayub tidak mengalami pemulihan, kelelahan mulai terlihat dalam dirinya. Akibatnya, ia lebih banyak mengatakan hal negatif seperti menyalahkan diri sendiri maupun orang lain,” ujar Pdt. Tulus Raharjo, Ph.D. (47), dosen Pascasarjana STT-P Karawaci, Tangerang ini.

Menurutnya, Elia maupun Ayub mempunyai kemiripan pandangan, yaitu menganggap kematian sebagai jalan keluar dari pergumulan yang berat.

Kelelahan Kronis

Dr. Lisa Kurnia Sari, M.Sc., Sp.PD. mengungkapkan bahwa kelelahan adalah rasa lemas, kurang tenaga, atau ingin istirahat karena berkurangnya kekuatan. Pada tingkat yang lebih tinggi dikenal istilah Chronic Fatigue Syndrome atau Sindrom Kelelahan Kronis. Kelelahan ini adalah jenis kelelahan berat, tidak hilang saat istirahat, mengganggu aktivitas sehari-hari, dan berlangsung selama 6 bulan atau lebih.

“Biasanya disertai dengan keadaan yang tidak nyaman bahkan sampai 24 jam setelah aktivitas fisik, nyeri otot, sendi, dan kepala, gangguan memori, gangguan tidur, sulit menelan, dan nyeri pada kelenjar limfa,” papar dokter spesialis penyakit dalam ini.

Kelelahan terjadi karena terlalu banyak bekerja, kurang tidur, cemas, bosan, atau justru kurang olahraga. Kelelahan bisa juga terjadi sebagai gejala penyakit tertentu. Kelelahan memberi tanda bagi tubuh untuk istirahat karena tubuh butuh waktu untuk regenerasi.

Selain karena aktivitas fisik, situasi stres emosi seperti depresi dan kecemasan juga bisa menyebabkan kelelahan. Gangguan psikis tersebut mengakibatkan reaksi peradangan serta menurunkan daya tahan tubuh. “Akibatnya, di dalam tubuh rentan terjadi infeksi dan penyakit kronis seperti diabetes, tekanan darah tinggi, sakit maag, atau kanker,” ujar dr. Lisa.

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Yogyakarta ini juga mengatakan depresi disertai oleh perasaan sedih, kurangnya minat terhadap aktivitas yang biasa disenangi, perubahan berat badan, gangguan tidur, hilangnya energi, perasaan tak berguna, bahkan perasaan ingin mati atau bunuh diri.

Mengenal Depresi

Drs. Singgih Wibowo S., S.U. (63), dosen Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta, mengatakan bahwa depresi adalah kondisi ketika daya tahan seseorang jauh lebih kecil daripada tekanan yang diterimanya. Ketika tekanan tersebut menumpuk dan tidak dikelola dengan baik, depresi muncul. Semakin banyak tekanan yang menimpa seseorang, semakin berat jenis depresinya.

“Jika satu hal kecil tidak diselesaikan, malah dipikirkan terus, dirasakan, dan dianggap sebagai kegagalan, hal itu akan menjadi depresi. Padahal setiap orang pasti akan mengalami tekanan masalah, tergantung bagaimana mengelolanya,” kata Singgih.

Singgih mencontohkan, misalnya ada tiga siswa, yang satu biasanya mendapat ranking satu, yang lain biasa-biasa saja, sedangkan yang satu lagi biasanya berada di ranking bawah. Suatu hari, mereka mendapat nilai yang sama, yaitu B. Bagi siswa yang biasanya berada di ranking bawah, nilai B sangat menggembirakan. Sementara bagi siswa yang biasanya mendapatkan ranking satu, nilai B itu merupakan pukulan. Tidak hanya itu, tekanan juga muncul dari orangtua yang mungkin mempertanyakan penurunan prestasinya tersebut.

Orang yang memiliki toleransi frustrasi yang tinggi akan sadar dan menganalisis serta mampu melihat kondisi tersebut secara objektif. Toleransi frustrasi adalah kemampuan untuk tetap tegar menghadapi tekanan atau masalah karena melihat orang lain juga kuat menghadapi tekanan yang lebih berat. Jika toleransi frustrasi ini diperbesar, seseorang tidak akan mudah larut dalam depresi.

Karena Dosa?

Tulus menjelaskan, Ayub mengalami kelelahan karena menghadapi persoalan yang bertubi-tubi di usaha peternakannya dan keluarganya. Segala kekayaannya hancur dalam waktu yang singkat. Ia juga menderita penyakit di seluruh badannya. Dalam kondisi demikian, Ayub tidak memperoleh dukungan dari istri yang seharusnya berperan sebagai penolong. Sebaliknya, istri Ayub melemahkan harapannya untuk mengalami pemulihan bersama Tuhan.

“Pada prinsipnya, kelelahan yang dialami seseorang bisa terjadi karena dosa, langsung atau tidak langsung. Kelimpahan harta benda yang dimiliki keluarga Ayub ternyata membawa mereka kepada kebiasaan berpesta-pora. Karen itu, pada waktu Iblis ingin menghancurkan kekayaan Ayub, Tuhan mengizinkan. Dengan kata lain, dosa anak-anak Ayub bisa menjadi salah satu alasan Tuhan mencabut pagar yang melindungi Ayub untuk sementara,” jelas Tulus.

Kesendirian

Wayne Cordeiro mengisahkan perjuangannya menghadapi kelelahan pada masa-masa sibuk pelayanan dalam buku Saat Anda Lelah Memimpin. Sejak momen terisak-isak di pinggir jalan itu, ia mulai menyadari bahwa energinya telah habis terkuras. Satu-satunya cara untuk pulih adalah mengisi ulang tangki energi. Tiga tahun selanjutnya, ia fokus merenungkan di mana sesungguhnya titik pemicu insiden tersebut sehingga ia bisa menata ulang hidupnya.

Langkah pertama yang disarankan oleh seorang psikolog Kristen kepadanya adalah mengisi ulang energinya selama enam hingga satu tahun. Wayne kaget. Sebagai pengkhotbah besar dan memiliki tanggung jawab yang tidak sedikit, berlibur enam minggu saja tampak mustahil. Banyak jiwa harus ia layani. Namun, Wayne didesak. Jika ia tidak menuruti nasihat tersebut, tabrakan tidak akan bisa dihindari.

Lalu, ide itu muncul dari pengalaman seorang teman yang pernah menghabiskan waktu di pusat retret di pinggir pantai di California. Kesunyian dan kesendirian telah memperbarui dan menyegarkan jiwanya. Di tempat itu, Wayne mulai bertualang bersama para nabi di Alkitab. Ia merasakan pengalaman Yeremia ketika mengalami masa penolakan, kekecewaan, dan penderitaan batin. Wayne menemukan jawaban dari lembar-lembar firman Tuhan yang ia gumuli dalam kesunyian tersebut.

Mengalami Pemulihan

Tindakan Wayne disebut Singgih sebagai aktivitas refleksi, yaitu menyendiri untuk memahami diri sendiri agar mampu berpikir secara objektif. Hal itu bisa sangat membantu. “Tetapi, jangan dengan pikiran kosong. Itu sangat berbahaya karena tidak ada yang menuntun ke dunia yang objektif. Ada baiknya jika ditemani dan didampingi.”

Tulus melanjutkan, salah satu cara Ayub mengatasi kelelahannya adalah bertukar pikiran dengan sahabat-sahabatnya, meskipun hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Ayub juga memperbaiki hubungan dengan Tuhan sebagai sumber kekuatan. Dalam proses itu, Ayub menemukan dan mengadakan konfirmasi dengan Tuhan sehingga ia memiliki iman yang kuat tentang siapa Tuhan. Hasilnya adalah pemulihan hubungan antara Ayub dan Tuhan.

Kelelahan bisa menimpa siapa saja. Baik orang yang fisiknya kuat maupun yang lemah. Gembala senior atau jemaat awam. Kaya atau miskin. “Berpikir dan berharaplah realistis. Jika Anda ingin menjadi yang terbaik, berusahalah sesuai harapan tersebut. Ketidakseimbangan antara harapan dan kenyataan hanya akan menimbulkan tekanan yang tinggi sehingga Anda mudah lelah,” saran Singgih.

Sementara itu, dr. Lisa menyarankan istirahat dan makanan sehat. Melakukan hal-hal yang disenangi atau hobi dan rekreasi juga bisa memperbaiki kelelahan mental. Jika mengalami kelelahan lebih dari dua minggu, sebaiknya dikonsultasikan ke dokter karena bisa jadi merupakan gejala penyakit serius.

Jalan Pulang

Tidak menyadari batas kemampuan diri sendiri adalah masalah yang dimiliki hampir seluruh umat manusia. Akibatnya, kelelahan datang menyergap. Aktivitas terhenti. Penyakit berdatangan menyerbu tubuh. Pemulihannya tidak bisa instan dan terburu-buru, selalu butuh sejumlah waktu untuk sembuh dan segar kembali. Berkaca dari pengalaman Ayub dan Elia, tidak mengabaikan sumber kekuatan sejati, yaitu Tuhan sendiri adalah tindakan yang paling bijak untuk dilakukan. Penyegaran bersama Tuhan itu akan membangkitkan kembali semangat yang baru.

(Dimuat di BAHANA, Agustus 2013)

Day 1: Menghargai Berarti Mengasihi

Perilaku menghargai orang lain adalah keharusan alamiah. Tidak semata karena kebiasaan atau formalitas, tetapi karena kasih.

Alkisah, seorang peternak sapi dikunjungi oleh petugas peternakan. Petugas itu bertanya kepada peternak sapi, “Diberi makan apa sapi-sapi ini setiap hari? Peternak sapi menjawab, “Oh, cuma rumput saja.” Petugas pun berkata, “Kalau begitu, Bapak saya denda karena memberi makan sapi ini secara tidak layak.”

Tak lama kemudian, petugas itu datang lagi. Ia pun mengajukan pertanyaan yang sama kepada si peternak. Dengan bangga peternak menjawab, “Saya beri mereka keju, hamburger, dan susu.” Tanpa diduga, si petugas justru marah dan menjatuhkan denda yang lebih besar. “Bapak memberi mereka makan di luar batas kewajaran!” kecam petugas.

Seminggu setelah insiden tersebut, si petugas kembali mengunjungi peternakan sapi. Dengan nada tak sabar, ia bertanya kepada peternak, “Pak, sapi-sapi diberi makan apa hari ini?” Peternak itu menghela napas dengan kesal, “Begini, ya. Setiap hari masing-masing sapi itu sekarang saya beri uang tiga ribu rupiah. Terserah mereka mau makan di mana.”

Kebutuhan Manusia

Anekdot tersebut secara implisit bercerita tentang cara manusia memberi penghargaan. Rupanya peternak sapi dan petugas peternakan memiliki cara yang berbeda untuk ‘menghargai’ ternak tersebut. Kisah lain yang akrab di telinga kita adalah perumpamaan Yesus tentang domba yang hilang. Seorang gembala diceritakan tiba-tiba kehilangan seekor domba. Saking sayangnya, gembala tersebut meninggalkan 99 ekor domba lainnya di padang gurun, lalu pergi mencari yang hilang itu. Perumpamaan ini dipakai Yesus untuk menunjukkan penghargaan-Nya kepada manusia berdosa yang bertobat.

Menghargai bisa berarti memandang penting, bermanfaat, dan berguna. Menurut Lita Widyo Hastuti, S. Psi., M. Si. (44), Dosen Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang, menghargai adalah sikap yang gampang-gampang susah. Sikap ini sebaiknya mulai ditumbuhkan dalam kehidupan keluarga. Dalam ilmu psikologi, penghargaan berada di tingkat ketiga hierarki Maslow, yaitu kebutuhan manusia pada tataran sosial atau kasih sayang.

“Ketika seseorang tidak merasa dihargai atau dimanusiakan, ia bisa mengalami luka batin. Ia merasa direndahkan atau dilecehkan,” ungkap Lita. Contoh sederhana, ketika seseorang berbicara, tetapi tidak direspons dengan baik oleh lawan bicaranya. Apalagi pada zaman sekarang, gadget sudah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari aktivitas personal. Akibatnya, orang lebih sibuk mengurusi gadget ketimbang berinteraksi dengan sesama.

Basis Ekonomi

Menurut Andreas Susanto, Ph. D. (50), Kepala Program Studi Sosiologi Universitas Atmajaya, Yogyakarta, hubungan saling menghargai adalah bagian dari interaksi sosial. Di sisi lain, hubungan tersebut selalu dipengaruhi oleh relasi power atau kuasa. Ini adalah karakter hubungan sosial. “Namun, kuasa kan tidak selalu berarti tidak seimbang. Meskipun pada kenyataannya relatif tidak seimbang. Ada mekanisme lain yang bisa diciptakan untuk mengatur itu. Artinya, yang lebih berkuasa bisa diatur supaya tidak mengeksploitasi yang tidak berkuasa, atau dengan kata lain menghargai mereka,” urai Andreas.

Selain mendalami ilmu sosial, Andreas juga mengamati perubahan masyarakat. Secara umum, dasar penghargaan bersifat universal, tetapi cara menghargai bisa berbeda-beda. Ketika zaman berkembang, dasar dan cara tersebut berubah. Kini, masyarakat semakin terobsesi untuk lebih menghargai sesuatu yang berbasis ekonomi. “Misalnya orang kaya dan punya mobil akan semakin dihargai. Sebaliknya juga demikian.”

Menurut analisis Andreas, perkembangan kemampuan seseorang menghargai orang lain tidak bisa dilepaskan dari tingkat peradabannya. Secara selintas, Andreas menjelaskan contoh kasus majikan dengan pembantu di mana di dalamnya terdapat relasi kuasa. Meskipun ada perbedaan status, pembantu tidak perlu diperlakukan kasar atau direndahkan. Artinya, semakin beradab seseorang, ia semakin mudah menghargai orang lain meskipun berada di pihak yang lebih berkuasa.

Menjaga Kepedulian

Penghargaan dimulai dari kepedulian. Karakter itu tidak lahir serta-merta. Lita menegaskan, keluarga dalam hal ini memiliki peran penting. Meskipun orangtua sedang sibuk bekerja, anak tetap harus diajari bagaimana menghargai orang lain. Ketika nilai-nilai tersebut tidak terbentuk dengan baik dalam keluarga, otomatis anak tidak bisa menghargai orang lain maupun lingkungan sosialnya.

Sementara Andreas melihat dari ruang lingkup yang lebih luas. Ia mengatakan bahwa penghargaan dibentuk oleh sistem. “Jadi, ada sistem yang mau tidak mau membuat orang “tanpa dipaksa” mau menghargai. Sistem ini disosialisasikan kepada masyarakat dengan menjelaskan sanksi dan reward-nya. Sistem bersifat memberi insentif. Kalau itu tidak ada, penghargaan hanya akan diberikan kepada yang punya kuasa tadi.”

“Idealnya, sistem ini diciptakan oleh masyarakat. Masyarakat memikirkan dan menganggap itu sesuatu yang baik, lalu disepakati dan dipraktikkan bersama-sama. Kemudian negara atau pemerintah mengontrol serta menjamin pelaksanaannya supaya setiap pribadi mengarah ke tujuan tersebut. Intoleransi dalam kehidupan beragama akhir-akhir ini terjadi karena lemahnya peran pemerintah mengarahkan itu,” urai Andreas.

Lantas, apakah ada hambatan bagi lahirnya sistem yang ideal tersebut? Andreas melanjutkan bahwa jika diselidiki lebih jauh, alasannya mungkin adalah kepentingan kelompok dan golongan bahkan ekonomi. Dalam hal ini, masyarakat kelas bawah dengan relasi kuasa yang lebih lemah tidak memiliki ruang dan waktu untuk menciptakan itu. Kemampuan mengolah dan proses berpikir pun dibutuhkan. “Mereka mencari makan saja susah. Semestinya bukan mereka yang bertanggung jawab membuat konsep itu. Mereka justru yang menjadi korban utama,” kata Andreas.

Belajar Mengasihi

Giamyati Tedjaseputra, MRE, M. Th., Ketua Sekolah Tinggi Theologi Salem, Malang, mengatakan bahwa konsep menghargai ada dalam Alkitab. Dalam Perjanjian Lama, manusia adalah makhluk ciptaan yang terutama. Tuhan menciptakan manusia segambar dengan Allah. Sementara itu, makna menghargai dalam Perjanjian Baru adalah memerhatikan orang lain, seperti teladan Yesus. Ia datang bukan untuk dilayani melainkan melayani. “Konsep menghargai yang benar dinyatakan dalam sikap mengasihi orang lain seperti mengasihi diri sendiri. Inti seluruh pengajaran Alkitab adalah mengasihi Tuhan dan sesama manusia.”

Kisah seekor domba yang hilang atau kembalinya anak yang hilang menggambarkan  nilai manusia yang berharga di hadapan Tuhan. Meskipun sang anak telah melakukan kesalahan yang menyakiti hati ayahnya, kepulangannya tetap diharapkan. Kasih itu nyata ketika ia disambut dengan pelukan hangat serta pesta meriah. Dalam sejarah kekristenan, tak terhitung banyaknya ungkapan kasih Tuhan untuk menyatakan penghargaan-Nya kepada manusia. Salah satu peristiwa yang paling menggetarkan adalah kematian Yesus untuk menebus dosa-dosa manusia. Peristiwa ini menjadi puncak kasih dan penghargaan Allah kepada manusia.

Secara praktis, umat Kristen dibekali aturan mengenai cara berinteraksi dengan orang lain. Dalam keluarga, hubungan suami dan istri digambarkan seperti hubungan jemaat dan Kristus. Istri harus menghormati, mengasihi, dan menghargai suaminya. Sedangkan suami, selain memimpin keluarganya, harus pula mengasihi dan menghargai suaminya sama seperti Kristus menyerahkan hidup-Nya untuk manusia. Hubungan anak-anak dan orangtua pun perlu dilapisi dengan sikap saling menghargai. Dalam Kolose 3:21, orangtua ditegur untuk tidak menyakiti hati anak-anaknya. Ini adalah salah satu cara untuk menghargai. Sebaliknya, anak-anak harus menaati orangtua mereka.

Timbal Balik

Selain keluarga, lingkungan sosial yang dihadapi seseorang adalah dunia kerja. Alkitab juga memuat aturan mengenai interaksi tersebut. Orang yang menjadi tuan harus berlaku jujur dan adil terhadap hambanya. Sedangkan hamba pun dituntut untuk taat dan tulus bekerja kepada tuannya seperti kepada Tuhan.

“Lantas bagaimana kalau orang tersebut tidak berjalan dalam kebenaran firman Tuhan? Ini sering menjadi pertanyaan. Lebih mudah menghargai orang yang baik serta menghargai dan mengasihi kita juga. Jauh lebih sulit mengasihi orang yang hidupnya tidak benar dan selalu menimbulkan masalah serta memusuhi kita. Namun, itulah perbedaan ajaran Kristus yang berdasar pada kasih kepada sesama. Harga seorang manusia di hadapan Allah menjadi ukuran bagi kita untuk menghargai orang lain,” jelas Giamyati.

Hal yang sama juga diterapkan di dunia kerja. Dalam Roma 13:1-2, Tuhan menghendaki setiap orang tunduk pada pemerintah karena Tuhan yang menetapkan mereka. Kitab Roma bukan ditulis pada zaman pemerintahan pemimpin yang baik. Namun, sikap yang diinginkan Allah adalah tunduk seraya yakin bahwa Ia memegang kontrol atas situasi seburuk apa pun.

Dilihat dari sudut pandang psikologi, Lita menjelaskan bahwa pemimpin yang tidak bisa menghargai bawahannya tidak bisa menjadi role model. Akibatnya, perilakunya tidak menjadi contoh. Semua kebijakan yang diambilnya belum tentu diamini atau bahkan tidak dilaksanakan. Kalaupun dilaksanakan, pasti tidak sepenuh hati. Jika ia turun panggung dan tidak lagi memiliki kekuasaan, otomatis ia tidak lagi dihargai. “Lain halnya jika seseorang memimpin dengan menghargai orang lain. Ketika sudah tak memimpin pun, orang-orang masih mengunjunginya sebagai bentuk loyalitas.”

Bukan Formalitas

Andreas menambahkan, pengaruh lingkungan sangat besar dalam membentuk karakter seseorang. “Masyarakat kita ini tidak berproses secara bertahap, tetapi melompat-lompat sehingga nilainya acak-acakan. Terjadi chaos sosial. Orang bingung, sebetulnya mana yang benar. Menolong , tapi kok malah kena tipu. Pejabat, tapi kok boleh melakukan hal yang tidak baik. Terjadi disorientasi nilai. Kondisi inilah yang membentuk kita sekarang ini. Orang sehat yang berada dalam situasi ini pun lama-lama bisa sakit.”

Akan tetapi, tidak berarti harapan telah pupus. Meskipun kondisi ideal mustahil dicapai, setidaknya ada niat dan tindakan menuju ke sana. Asal diberi waktu, perkembangan peradaban masyarakat bisa menjadi harapan baru. Karena sopan santun sosial yang bersifat artifisial dan formalitas belumlah cukup, bila tak disertai kasih dan kepedulian. Itulah motivasi yang paling sempurna.

(Dimuat di BAHANA, Juni 2013)

Day 1: Mengampuni, Sekali Tak Berarti Selesai

Setiap pribadi mempunyai potensi untuk mengampuni. Meski sulit, tidak berarti mustahil. Syaratnya, miliki hati yang penuh kasih.

Menurut Reinhard Hirtler dalam bukunya Kuasa Pengampunan, ada empat penyebab luka batin. Pertama, manusia hidup dalam dunia yang berdosa dengan orang-orang berdosa. Hirtler menyebutkan, banyak peluang bagi manusia untuk saling menyakiti sesamanya karena manusia bukan makhluk sempurna. Kedua, timbulnya harapan palsu. Ketika seseorang mulai tidak realistis terhadap harapannya pada orang lain, rentan sekali terjadi luka dalam hubungan tersebut. Ketiga, kurangnya batasan. Manusia dikarunia kehendak bebas, termasuk keputusan untuk membiarkan dirinya disakiti atau tidak. Batasan yang tidak sehat terhadap hal tersebut akan menciptakan luka batin. Terakhir, Iblis memiliki tujuan nyata untuk menghancurkan hidup manusia.

Senada dengan Hirtler, Dorkas Dwi Susilorini (43), konselor di Impact Counseling Service, Yogyakarta, mengatakan bahwa manusia memiliki berbagai kebutuhan seperti kasih sayang, perhatian, penghargaan, dan penerimaan. Bila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, otomatis muncul kekecewaan dan sakit hati. Bahkan, seorang anak yang tidak diinginkan sejak dalam kandungan, luka batinnya ternyata masih ada ketika ia dewasa. Untuk mengatasi luka batin tersebut, perlu ada pengampunan.

Makna Pengampunan

Secara theologis, pengampunan adalah tindakan Allah untuk membebaskan manusia dari segala tuntutan dan hukuman yang diakibatkan oleh dosa dan pemberontakan di hadapan-Nya. “Ketika mengampuni, Allah membebaskan orang-orang berdosa yang beriman dan memercayakan diri kepada-Nya. Ia menyatakan mereka sebagai orang benar. Padahal manusia yang berdosa seharusnya dihukum. Namun, karena iman kepada Kristus, manusia menerima pengampunan dan berdamai dengan Allah,” papar Pdt. Fa’arododo Telaumbanua, M. Th. (33), Wakil Gembala Sidang di GKRI Diaspora Cinere, Jawa Barat.

Sementara itu, Dwi menjelaskan bahwa pengampunan perlu dilakukan oleh seseorang bagi dirinya sendiri untuk menyembuhkan luka dalam batin. Luka tersebut bisa terjadi ketika manusia berinteraksi dalam lingkungan keluarga, masyarakat, atau pekerjaan.

“Selain terluka karena interaksi dengan orang lain di lingkungannya, ada juga orang yang tidak bisa mengampuni sebuah situasi. Misalnya, ‘Wah seharusnya dulu seperti itu, ya.’ Ia mempersalahkan waktunya. Kalau sudah jengkel begitu, ia bisa marah sama Tuhan. Realitasnya demikian. Kita juga harus ingat, walaupun kita sudah dipulihkan secara roh, mungkin telah menjadi Kristen sejak kecil, tetapi jiwa kita ini belum dipulihkan sehingga bisa terluka,” ujar Dwi.

Koordinator Encounter di GBI Keluarga Allah, Yogyakarta ini menambahkan, pengampunan juga perlu diberikan kepada diri sendiri. Ketika semua orang dituntut menjadi sempurna, sebagian orang tidak bisa mengampuni dirinya saat melakukan kesalahan. Padahal, ada kalanya Tuhan mengizinkan manusia mengalami ganjalan seperti ketidaksuksesan. Sempurna memang kondisi yang ideal, tetapi gagal sekali bukan berarti tidak dikenan Allah.

Warisan Psikis

Drs. Hadi Sutarmanto, M.S. (60), Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta memaparkan, proses pengampunan dalam religiusitas adalah semacam ketidaksadaran kolektif yang dimiliki oleh setiap manusia yang diwarisi dari nenek moyang. Menurut Karl Gustaf Jung, inti ketidaksadaran kolektif tersebut disebut arketipus.

“Arketipus ada di dalam setiap diri manusia. Orang mempercayai Tuhan karena arketipus. Misalnya, ketika kita ditanya tentang kehadiran Tuhan, ‘Dimanakah Tuhan itu?’ Ia tidak kelihatan, tetapi kita tetap percaya. Contoh lain, siapa yang mengajari kita menangis saat sedih dan tertawa saat senang? Tidak ada. Sejak kecil kita sudah bisa melakukan hal itu. Begitu juga dengan memaafkan. Pada dasarnya, setiap orang memiliki kemampuan untuk melakukannya,” ungkap Hadi.

Dalam teori Jung, tidak ada arketipus yang bersifat negatif. Ketika disakiti, seseorang bisa saja menjadi dendam. Namun, dendam adalah emosi, bukan arketipus. Artinya, hal-hal negatif yang dilakukan oleh diri manusia atau self-nya, bukan karena manusia itu pada dasarnya buruk melainkan karena pengaruh lingkungan. Sering kali keberadaan arketipus ini tenggelam sehingga perlu dimunculkan melalui kebiasaan dalam kehidupan beragama seperti berdoa dan mendekat kepada Tuhan.

Mengapa Mengampuni?

Alasan utama manusia harus mengampuni ada dalam Matius 6:14-15. Tuhan mengatakan bahwa pengampunan adalah timbal balik. Ketika seseorang mengampuni orang lain, Tuhan juga akan mengampuni orang tersebut. Sebaliknya, bila tak mau mengampuni, Tuhan juga melakukan hal yang sama. “Betapa menderitanya apabila seseorang sudah demikian percaya kepada Tuhan, tetapi tidak diampuni dan berkenan di hadapan-Nya. Tuhan sudah baik sekali memberikan jalan. Kita hanya perlu mengambil keputusan dan berubah. Ketika kita tahu teorinya, tetapi tidak melakukannya, kita membuat penghalang yang menjauhkan diri kita dari Allah,” sebut Dwi.

Selain menerima pengampunan dari Tuhan, dampak pengampunan adalah kebahagiaan (Mzm. 32:1-2). Faarododo mengatakan, pengampunan menimbulkan sukacita yang meluap-luap yang timbul dari dalam hati. Hubungan dengan Tuhan dipulihkan. Begitu juga yang terjadi ketika manusia saling mengampuni kesalahan sesamanya. Tuntutan dihapuskan. Relasi diperbarui.

Dalam ilmu kesehatan, penelitian mengenai dampak positif mengampuni sudah sering diungkapkan. Orang yang bisa memaafkan kesalahan sesamanya akan hidup lebih sehat dan bahagia. Jelas sekali menunda untuk melakukan hal tersebut ibarat membiarkan sumber penyakit tersimpan dalam tubuh.

Tidak Mudah

Secara teori, mengampuni itu mudah. Pada praktiknya, sulit sekali. Dwi menjelaskan, langkah pertama yang harus dilakukan oleh orang-orang yang merasa terluka dan mengambil keputusan untuk mengampuni adalah mengakui bahwa ia terluka. Ini kesulitan terbesar yang dihadapi seseorang yang mengalami luka batin.

“Ia akan menggenggam kejengkelan itu terus-menerus sampai tertimbun sambil mengatakan, ‘Ah, gampang.’ Banyak orang sengaja mengabaikan dan mengecilkan makna pengampunan secara total. Atau justru, orang tersebut hidup pada masa lalu. Ia tidak mau mengakui bahwa segala sesuatu sudah terjadi. Rasa sakit akibat kesalahan tersebut diungkit terus-menerus sehingga energinya habis. Kadang-kadang muncul pembenaran diri sendiri, ‘Aku kan seperti ini, bukan begitu,’ Itulah yang membuat pengampunan menjadi sulit,” tutur wanita yang memulai pelayanan konseling sejak 2004 lalu.

Jadi, hal pertama yang harus dilakukan oleh orang yang ingin terbebas dari luka hati adalah menerima bahwa dirinya bukan makhluk sempurna. Ia memiliki kemungkinan melakukan kesalahan. Setelah mengakui itu, ia harus mengambil keputusan untuk memberi maaf secara tulus kepada apa pun dan siapa pun yang membuatnya terintimidasi, baik kondisi yang disebabkan orang lain maupun situasi yang dialaminya sehari-hari.

Berkali-kali

“Alkitab menegaskan bahwa pengampunan harus dilakukan terus-menerus. Pengampunan itu tidak terbatas. Namun, kita juga harus ingat bahwa Tuhan sama sekali tidak membuka peluang bagi seseorang untuk terus melakukan dosa,” tegas Faarododo, alumnus STTII Jakarta ini.

Contoh paling jelas ditunjukkan Yesus ketika mengampuni perempuan pezina. Seharusnya, sikap orang yang telah diampuni adalah hidup dalam kebenaran. Bila ada yang tidak seperti itu, mungkin saja orang tersebut tidak memahami nilai pengampunan yang diterimanya atau justru belum mengalami pengampunan sejati.

Berkaca dari prinsip tersebut, hal yang sama juga perlu diaplikasikan manusia dalam kehidupannya sehari-hari. Relasi di dunia tidak terlepas dari gesekan. Konflik bisa terjadi terus-menerus. Demikian juga pengampunan bukan proses yang terjadi satu kali lalu selesai. Namun, setelah sanggup mengampuni, manusia semakin bisa mengevaluasi apa yang Tuhan inginkan melalui hidupnya.

“Pengampunan bukan sesuatu yang dangkal, tetapi benar-benar dilakukan sehingga seseorang benar-benar dipulihkan dan disembuhkan. Ketika bertemu lagi dengan masalah yang mirip, kita tidak akan kembali jatuh di dalamnya. Ini terutama bagi orang-orang yang berada di dalam proses pendewasaan rohani. Ketika diuji dalam hal yang sama, ia tidak akan terusik lagi. Jika belum lulus, hal itu diizinkan Tuhan untuk datang dan pergi dalam hidupnya,” jelas Dwi.

Setelah Mengampuni

Fa’arododo mengungkapkan, selain berkuasa mengampuni, Tuhan juga menghajar dan mendidik orang-orang yang dikasihi-Nya dan diakui-Nya sebagai anak. Konsep ini berbeda dengan penghukuman. Penghukuman terkait dengan masa lalu, sementara didikan atau hajaran terjadi untuk masa depan yang lebih baik. Namun demikian, perbuatan dosa selalu membawa konsekuensi serius bagi orang yang melakukannya, yaitu rasa malu, budak dosa, kematian dalam pelayanan atau berkat dan sebagainya.

Dalam kehidupan sehari-hari, mengampuni tidak berarti meniadakan proses hukum yang berlaku. Dwi mengingatkan bahwa Tuhan memberi hikmat kepada manusia untuk mengatasi masalah-masalah yang terjadi dalam hidupnya. ketika ada keluarga Kristen yang mengalami ketidakadilan, mengampuni harus dilakukan seiring dengan hukum yang berjalan.

Setelah mengampuni, langkah selanjutnya adalah menyatakan pengampunan. Fa’arododo mengatakan bahwa Tuhan pun menyatakan pengampunannya secara terus terang. Alkitab memakai istilah ‘Saling mengaku dosa atau saling mengampuni’. Hal ini mengindikasikan bahwa pengampunan perlu dinyatakan.

Akan tetapi, Dwi memberi pengecualian, “Ketika seseorang tidak sengaja melakukan kesalahan kepada kita, yang artinya ia tidak tahu telah berbuat salah kepada kita, sebaiknya kita hanya perlu memaafkan tanpa melibatkan orang tersebut. Seperti prinsipnya, pengampunan adalah sesuatu yang kita lakukan untuk diri kita, bukan dalam rangka mendapatkan kemenangan yang dangkal melawan orang lain. Apabila seseorang sudah mengampuni dengan tulus dan membereskan hal tersebut dalam hatinya, tanpa perlu dipaksa ia akan mengambil inisiatif untuk menyatakan pengampunan.”

Kasih yang Sejati

Peristiwa kematian Yesus diwarnai dengan kisah pengampunan yang mengharukan. Pada saat-saat terakhir hidup-Nya, Ia masih sempat mengampuni seorang penjahat bahkan menawarkan pengampunan kepada orang banyak. Hal itu digerakkan oleh kasih yang tulus dan sejati. Tanpa teladan dan kasih dari Allah, manusia tidak akan sanggup mengampuni sesamanya dan selamanya tetap hidup dalam bayang-bayang kesedihan yang kelam.

(Dimuat di BAHANA, Mei 2013)