Menabung, Mewujudkan Mimpi

Menikah adalah momen yang tak mungkin akan terlupakan. Pada saat itu, sepasang manusia meneguhkan janji untuk hidup bersama seumur hidup. Ini adalah langkah besar, termasuk bagi saya. Bukan keputusan yang mudah, mengingat kita nggak bisa pakai acara tukar tambah atau lem biru alias lempar beli baru.

Karena itu, saya dan dia berusaha sebaik mungkin mempersiapkan diri untuk memasuki jenjang kehidupan yang baru itu. Persiapan mental, misalnya. Dari kehidupan lajang yang hanya memikirkan diri sendiri berubah menjadi kehidupan bersama, tentu tidak mudah. Tanggung jawabnya lebih besar dan mengaitkan pihak lain yaitu pasangan. Keputusan-keputusan pun harus berdasarkan pertimbangan dua pihak. Nah, sudah sanggupkah kedua orang ini untuk saling mengalah demi kebaikan bersama?

Persiapan lain yang tak kalah penting adalah soal dana. Memang benar, perkawinan alias marriage lebih penting daripada acara pernikahan alias wedding itu sendiri. Wedding sih hanya selesai dalam waktu sebentar. Sedangkan marriage, kita harus menjalani selamanya. Namun, bukan berarti bahwa kita juga nggak boleh melaksanakan wedding yang indah, khidmat, dan elegan. Setidaknya, jika kita ingat betapa susahnya menyelenggarakan pernikahan, kita nggak akan mudah-mudah amat untuk mengabaikannya. Hehehe.

Setelah keduanya sudah bersepakat untuk membangun rumah tangga bersama, tentu langkah yang paling penting adalah bagaimana supaya acara pernikahan tersebut bisa terlaksana. Untuk ukuran manusia dewasa, baik pria dan wanita, mereka tentu berpikir bagaimana supaya acara tersebut tidak merepotkan banyak pihak, termasuk orangtua. Pengennya sih, kami berdua melakukannya dengan menggunakan uang pribadi. Namun, apakah mungkin? Mengingat kami hanya karyawan biasa, gajinya juga biasa saja.

Bagaimanapun, kami masih memiliki waktu untuk menabung selama setahun. Dalam jangka waktu itu, hal pertama yang perlu dilakukan adalah membuka tabungan baru. Bukannya nggak percaya dengan kemampuan menabung masing-masing, tetapi untuk menghindari hal-hal yang tak perlu, misalnya tak sengaja kepake. Bisa aja lho khilaf begitu. Jadi, setelah sama-sama berkomitmen untuk menabung bersama, kami membuka tabungan.

Nah, sekarang bagaimana cara menabung? Tentu saja kami harus menyisihkan sebagian pendapatan sesuai kesepakatan bersama. Awalnya cukup berat. Biasanya gaji digunakan untuk memenuhi seluruh kebutuhan dan keinginan sendiri-sendiri, sekarang harus menahan diri sedikit. Beberapa daftar keinginan pun dicoret. Sempat tak bisa mengendalikan, akhirnya malah harus pinjam dulu sebelum tanggal gajian datang lagi. Namun, semakin lama semakin mudah.

Ada beberapa hal yang saya pelajari dalam proses menabung ini:

  • Kuncinya adalah membiasakan diri. Pada awalnya, kita memang merasa tak sanggup. Banyak pos-pos yang harus dipotong. Misalnya, dulu sering banget nonton di bioskop, sekarang sih jadi nggak bisa lagi. Lama-kelamaan pasti akan terbiasa untuk tidak menonton di bioskop. Dalam hal kuliner pun ini berlaku.
  • Selalu mencatat dan “merenungkan” kembali apa saja yang sudah dibeli. Merenungkan artinya mengevaluasi apakah benda/hal itu sebenarnya perlu dibeli atau tidak. Meskipun statusnya sudah terjadi, bisa menjadi semacam pembelajaran aja supaya tidak terulang.
  • Kreatif menyediakan substitusi. Misalnya, kalau nggak bisa lagi nonton di bioskop, saya bisa mencari film sewaan. Kesenangannya agak berkurang dikit, tapi esensinya tetap dapat. Kalau dulu senang jajan dimana-mana, sekarang belajar untuk bikin jajanan sendiri. Bisa nambah keahlian juga, kan.
  • Kalau bisa berkomitmen bersama orang lain. Ini sangat membantu kita untuk saling mengingatkan. Jika hanya sendiri, tidak ada yang menegur bila lalai. Kalau berdua, meskipun itu pacar sendiri, ya malu juga kalau nggak bisa nabung sesuai nominal yang disepakati bersama. Jadi, usahakan ada orang lain yang membantu kita untuk menabung, minimal untuk mengingatkan dan memberi semangat.
  • Belajar setia dan tekun. Menabung tidak bisa hanya dilakukan sekali saja. Harus dilakukan setiap saat secara kontinyu. Oleh karena itu, kita harus setia melakukannya. Dari sana, kita pun akan belajar untuk setia dalam hal-hal lain, termasuk hal-hal besar. Manfaatnya? Banyak.
  • Produksi, produksi, dan produksi. Menghargai uang akan membuat kita semakin bersemangat untuk menghasilkan uang. Kalau dulu uang seribu rupiah statusnya nggak dianggap, dengan menabung kita pun akan semakin menghargainya. Tidak digunakan sesukanya. Kita pun akan semakin kreatif dan produktif. Lebih fokus untuk menghasilkan uang daripada menghabiskannya. Mindset seperti inilah yang harus kita miliki (dan ubah).

Banyak orang berpikir bahwa dengan menabung, kita akan kehilangan kesempatan untuk bersenang-senang. Jika berpikir pendek sih bisa jadi iya. Kita mungkin juga kehilangan teman kelompok yang biasanya suka kuliner bareng atau travelling bareng. Namun, jangan salah, ada pula kebahagiaan yang akan dipetik dari hasil menabung. Saya menyebutnya kebahagiaan jangka panjang dan sejati. Misalnya, ketika saya dan dia akhirnya menikah dan bisa menanggung sebagian biaya pernikahan, rasanya plong di hati. Beberapa hal dalam acara pernikahan pun kami tentukan sesuai keinginan dan membiayainya sendiri, seperti undangan, suvenir, dan sebagainya. Ini sungguh menyenangkan.

Saat ini, kami sedang memulai langkah baru untuk kehidupan yang baru. Setelah merasakan manfaat menabung, kami akan terus melakukannya. Tujuannya juga sudah berbeda, lebih fokus untuk masa depan. Menabung memang perlu latihan dan konsistensi. Setelah terbiasa, tidak akan terlalu sulit lagi.

Oh, ya, jika ingin lebih cermat mengatur keuangan dan semakin ahli dalam hal finansial, bisa juga lho ngulik Cermati.com.

Selamat menabung.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Share Tips Menabungmu bersama Blog Emak Gaoel dan Cermati

banner lomba

[Review Buku] Cinta untuk Napoli

Judul: Napoli

Penulis: Riskaninda Maharani

Penerbit: DIVA Press

Tahun terbit: Mei 2015

Jumlah halaman: 268

♥♥♥

“Kau tahu ada sebuah mitos dunia? Barang siapa melempar sebuah koin ke air mancur itu akan kembali ke Roma? Barang siapa melempar dua koin akan menemukan cinta? Dan, barang siapa melempar tiga koin, dia akan segera menikah?”

“Sebenarnya jika ada sebuah air mancur yang bisa membuatku menjadi seorang warga negara Italia, aku akan lebih suka pergi mengunjunginya.”

Mulai dari sinilah perjalanan Revina dimulai. Perkenalannya dengan para moreno membuat hidupnya penuh dilema. Pengalaman bersama Francesco membuatnya cukup takut untuk mengakui perasaannya, keadaannya. Kehidupannya berputar di negeri orang, bersama bayangan kegagalan masa lalu. Persimpangan selalu menghadirkan kekuatan tersendiri; antara Italia dan Indonesia, Stefano dan Alejandro, bahkan antara Revina dan egonya. Napoli, ketika jatuh di pelukanmu….

♥♥♥

Saya sudah beberapa kali membaca novel yang mengambil setting di luar Indonesia. Sebagian berhasil menciptakan perasaan seolah-olah kita sedang berada di negeri yang berbeda, sebagian lain gagal. Kegagalan yang wajar menurut saya. Apabila si penulis belum pernah sama sekali ke negeri yang ditulisnya itu dan hanya mengandalkan riset dari sumber bacaan. Rasanya pasti beda. Memandang dengan mata kepala sendiri atau hanya membayangkan. Meskipun, kekuatan seorang penulis adalah imajinasinya.

Napoli–seperti judulnya–bercerita tentang sebuah daerah di Italia. Kisah dibuka oleh kedatangan Revina di Bandara Fiumicino, Roma, Lazio, Italia pada suatu hari di musim panas. Sebagai pendatang, Revina begitu awas dan hati-hati. Ia menunggu dijemput oleh teman dunia maya bernama Danilo. Dari Roma, Revina akan bertolak ke Napoli untuk melanjutkan kuliahnya selama 1 tahun.

Diceritakan, keluarga Revina di Indonesia mengalami krisis. Namun, tidak ada kesan yang tertinggal di benak saya tentang keluarga Revina setelah menyelesaikan novel ini. Komunikasi pun hampir tak ada. Seluruh cerita difokuskan pada kehidupan baru Revina di Italia.

Di Napoli, Revina tinggal serumah dengan sahabat dunia mayanya yang lain bernama Stefano. Stefano adalah tipe lelaki yang dingin dan cuek. Awalnya sih Revina waswas karena ia tak pernah bertemu dengan Stefano. Apalagi ditambah dengan karakter Stefano yang kurang menyenangkan. Namun, entah bagaimana, justru Revina dibuat jatuh cinta dengan Stefano. Dalam perjalanannya, Revina juga bertemu dengan sekumpulan lelaki lain, seperti Pablo, Alejandro, dan sebagainya.

Cerita ini, menurut saya, terlalu terburu-buru. Penulis terburu-buru mengaitkan satu peristiwa dengan peristiwa yang lain tanpa repot-repot menunggu tumbuhnya reaksi yang pantas di antaranya. Misalnya, bagaimana hubungan Revina dan Pablo. Mereka disebut teman baik bahkan Revina menganggapnya “kekasih hati” dalam arti lain. Namun, proses menuju ke sana tak mengesankan dan berbekas. Saya yang membaca merasa semua itu tak masuk akal. Emosi sama sekali tak terpancing.

Namun, “kekasih hati” dalam arti yang lain dalam kamus Revina adalah Pablo, lelaki yang bersedia membagi suka duka dengannya di malam-malamnya tanpa kenal lelah dan letih. Halaman 205.

Hal lain yang kurang digali adalah hubungan Revina dengan para teman dunia mayanya tersebut sebelum kopdar. Mereka pasti pernah berbincang-bincang sebelumnya. Sedikit banyak, mereka seharusnya juga telah saling mengenal. Nggak mungkin aja rasanya kalau Revina mau tinggal bersama Stefano tanpa kenal cukup banyak. Revina pun pasti bisa mengira-ngira bagaimana kehidupan yang dijalani Stefano. Namun, hal itu tersembunyi dalam novel ini.

Saya juga masih bingung dengan sebab akibat mengapa para lelaki itu, terutama Stefano dan Alejandro begitu tergila-gila terhadap Revina. Memang, sejak awal penulis menceritakan bahwa Revina cantik. Meskipun penjelasan tentang itu kurang detail. Saya sebenarnya agak berharap untuk mendapatkan penjelasan tentang seberapa menarik sih sosok Revina hingga mampu meruntuhkan hati para lelaki di Italia itu. Bahkan, mereka membeli barang-barang berkelas demi untuk mendapatkan hati Revina. Jelas, ini bukan kisah cinta yang asal-asalan.

Tepat jam tujuh malam ketika Revina keluar dari kamar tidurnya lengkap dengan gaun perak metalik tanpa tali, sebuah dompet mewah perak metali, dan sepatu sandal high heels tujuh senti yang berwarna sama. Sepasang anting dan kalung mutiara tampak menghiasi lehernya yang jenjang…

Sementara Alejandro hanya menatap takjub tanpa bisa berkata apa-apa. Halaman 113

Kesannya, setelah selesai membaca novel ini, yang tersisa adalah kegamangan. Penulis menurut saya belum berhasil menciptakan perasaan “merasa” seperti tokoh yang ditampilkan. Saya belum menjadi “Revina” yang bangga menjadi idola para cowok seksi nan ganteng versi Italia.

Namun, saya angkat jempol untuk pelajaran bahasa Italia yang saya temui dalam novel ini. Kalimat-kalimat tersebut lumayan menghibur dan menunjukkan bahwa penulis bukan hanya sembarang pindah lokasi setting cerita aja. Bagaimanapun, usaha seperti itu layak diapresiasi.

[Review Buku] Petualangan Bersama Sang Nyai

Judul: Sang Nyai 2–Bumi yang Tersembunyi

Penulis: Budi Sardjono

Penerbit: DIVA Press

Tahun terbit: Mei 2015

Jumlah halaman: 312

♥♥♥

Setelah bermimpi aneh, Sam mendapati dirinya terbangun di rumah sakit. Yang mengejutkan, seorang perawat bernama Sri Menur menyatakan bahwa di dalam tubuh pria itu bersemayam sebuah keris! Untuk mengeluarkannya, dia harus memakan tiga buah pisang emas setiap jam satu.

Sam yang akhirnya tertolong, kemudian terlibat jalinan hubungan mesra, mistis, sekaligus aneh dengan Sri Menur. Tak hanya itu, perjalanannya diwarnai oleh Tyas, titisan prajurit Roro Jonggrang yang membawa Sam menelusuri tempat persembunyian harta Roro Jonggrang di Prambanan; Dyah dan Sari yang mengantarkan Sam ke Gua Nagaraja, tempat harta pusaka tombak Tunggul Negoro tersimpan; dan akhirnya Sam bertemu kembali dengan Sri Menur untuk mengarungi ombak menuju Pulau Majeti, pulau keramat dengan naga-naga penjaga.

Sam, seorang wartawan freelance menjelajahi dimensi waktu, ke tempat-tempat yang tidak semua orang tahu akan keberadaannya di dunia ini.

♥♥♥

“Kalau saya laki-laki, saya juga ingin menjadi Sam…”

Begitu pikir saya setelah menamatkan cerita ini. Siapa yang enggak mau, sudah bertemu dengan para wanita cantik, diberi kesempatan pula untuk mengambil harta terpendam (terserah berapapun). Tanpa syarat apapun. Sam, seorang wartawan yang “kalah” dengan para juniornya karena usia, hidup dengan sederhana. Istri dan kedua anaknya pulang ke Temanggung demi mengurangi biaya hidup yang tinggi di Jakarta. Sementara Sam–seperti kebanyakan lelaki yang menjunjung tinggi harga dirinya–pantang pulang dan mengakui kelemahannya.

Di Jakarta, ia tetap bertahan, hingga suatu saat sakit tanpa sebab. Seorang wanita yang mengaku sebagai perawat, memberinya tiga buah pisang emas untuk dimakan. Benar saja, Sam pun sembuh. Dari tubuhnya keluar sebilah keris. Setelah itu, Sam merasa sembuh dan pulih. Kesembuhan Sam yang tiba-tiba tentu saja mengundang tanda tanya. Mereka pun mencari perawat bernama Sri Menur yang menyembuhkannya, tetapi tak ada yang mengenali.

Tak hanya sampai di situ, Sam mengalami banyak hal-hal lain yang tidak lazim. Di sini, penulis mencoba menggambarkan situasi dimana Sam seakan-akan bersama dan berkomunikasi dengan makhluk yang tak kasat mata–meskipun Sam sendiri bisa menyentuhnya, memeluk, bahkan mencium.

Membaca novel ini, kita dibawa bertualang mengenali dunia yang mungkin tak pernah terpikirkan atau bahkan menakutkan. Bagaimana tidak, kita berhadapan dengan makhluk di luar nalar yang entah memiliki kemampuan apa yang membahayakan. Namun, penulis rupanya tak ingin mengangkat sosok-sosok menyeramkan–meskipun membacanya saya juga agak-agak merinding. Penulis justru ingin mengajak kita berpikir seimbang, bahwa roh pun seperti manusia. Mereka bisa membalas budi, seperti halnya Tyas yang membawa Sam melihat bahkan mengambil harta karun yang jumlahnya tak terhingga.

Bisa dibilang, novel ini bebas dari tokoh antagonis. Sam tak menghadapi konflik besar, selain sakit itu sendiri. Sakit yang membawanya menikmati pengalaman-pengalaman mendebarkan sekaligus menyenangkan. Sam hanya mengalami konflik batin, terutama bagaimana agar akal warasnya bisa menerima hal-hal yang aneh, misalnya ketika naik travel dari Semarang menuju Temanggung.

Tiba-tiba muncul penyesalanku kenapa tadi menerima begitu saja ajakan sopir gemblung ini! Sebenarnya aku bisa menolak. Lebih baik tadi mencari losmen dan menginap semalam di Semarang, lalu baru besok pagi menuju Temanggung. Aku bisa mencari tukang pijat dulu untuk mengurut tubuhku yang pegal-pegal tidak keruan rasanya. Hal 120.

Saya rasa, penulis berhasil membuat kita terbawa emosi karena keputusan dan sikap tokoh Sam yang seakan tak mengenal rasa takut.

Hanya saja, ada semacam pengulangan yang agak janggal ketika membahas soal keris dengan Sri Menur dan Kresna, teman Sam (perhatikan hal 55 dan hal 105). Penjelasannya bisa dibilang sama persis. Jadi, rasanya seperti mengalami de javu, padahal yang mengatakannya dua orang yang berbeda.

Secara keseluruhan, novel ini menyenangkan untuk dibaca. Banyak hal-hal mengejutkan yang bisa kita temui, termasuk sindiran-sindiran cerdas dan mengena. Menemukan novel ini, saya rasanya semakin pengen untuk menciptakan dunia sendiri dengan kisahnya, tentunya dengan alur cerita yang tak kalah menyenangkan. Itulah keuntungan menjadi penulis, bukan? Selamat membaca juga.

A New Start

Rasanya sudah tak terhitung berapa puluh kali saya ganti blog. Tak lain karena ingin menghapus jejak-jejak lama dan ingin memulai yang baru tanpa terpengaruh oleh yang lama itu. Saya rasa itu kebiasaan buruk. Bagaimanapun, masa lalu bisa menjadi tempat kita untuk belajar; jangan sampai mengulangi yang keliru.

Okelah, meskipun saya memulai langkah baru di bulan dan tahun ini, sudah berencana pula untuk mengubah macem-macem khususnya soal blog, setelah dipikir-pikir lagi, ada baiknya saya tetap mempertahankan yang satu ini. Sedikit banyak, blog ini sudah membantu dan menghidupi saya. Sebagai bentuk apresiasi, saya akan tetap mempertahankannya sebisa mungkin.

Setelah acara besar yang kemarin–yang menyita banyak sekali waktu–hidup sudah mulai stabil lagi. Saya mulai membuka diri dan mulai menjalankan proyek-proyek yang sempat tertunda atau yang samasekali baru. Ada yang beda sih, soal waktu. Sekarang saya nggak bisa semaunya sendiri ngelemburin kerjaan, harus menyesuaikan dengan jadwal bojo. Di rumah pun ada tambahan tanggung jawab. Ya.. gitu deh, PR-nya ya harus pintar bagi waktu. Nggak boleh malas juga ya kan. Setiap detik berharga.. Hehehe.

Nah, gitu dulu aja untuk pemanasan. Semoga ke depan ada banyak hal baru yang bisa saya share melalui blog ini dan tentunya bisa bermanfaat. Amin.