Day 129: Bucket List 2014

Ah, belum. Masih beberapa jam lagi tahun akan berganti. Ini adalah salah satu momen yang ditunggu-tunggu kebanyakan orang. Membuat resolusi, melakukan refleksi. Semua itu baik. Setidaknya menghindarkan kita dari ketidakpedulian.

2014 nanti-jika diizinkan hidup lebih lama-saya ingin melakukan hal-hal yang berbeda. Yang baru. Yang takut dihadapi. Yang malu dijalani. Hal-hal yang tertunda. Hal-hal sederhana yang memberi warna baru. Berikut daftar (yang akan terus bertambah) yang patut dicoba.

  • Berkenalan dengan orang asing dan menjadi teman baik
  • Belajar alat musik
  • Menonton konser keroncong
  • Travelling keluar kota sendirian
  • Memiliki seorang sahabat pena
  • Menjadi relawan sebuah kegiatan sosial
  • Menulis kisah tentang seseorang yang marjinal dan tersisih
  • Bertemu dan berfoto dengan idola
  • Sekolah lagi
  • Memberi kado sederhana untuk seseorang yang berpengaruh
  • Menjadi vegetarian untuk beberapa saat (:D 😀 :D)
  • Berbicara di depan umum
  • Mengoleksi sesuatu

Oke, sementara itu dulu. Bagaimana dengan kamu? Punya daftar juga?

Day 128: Buku Untuk Para Pecinta Kopi

Gambar

Judul: The Various Flavours of Coffee

Penulis: Anthony Capella

Penerbit: GPU

Tahun: 2012

Tebal: 667 hlm

Genre: Fiksi, Novel, Terjemahan

Sebagian orang sangat tergila-gila pada kopi. Mereka menganggap benda itu sebagai dewa yang bisa menyelamatkan seseorang dari kebosanan menjalani hidup. Mereka menyembahnya. Berawal dari semua kisah tentang fanatisme pemuja kopi itu, lahirlah karya-karya fiksi yang memberi nafas kepada gaya hidup eksklusif. Salah satunya buku ini.

Buku ini memang tentang kopi. Sejak awal, penulis telah membeberkan beberapa teori dan fakta tentang kopi, mulai dari produksi, pengemasan, dan promosi. Tersebutlah seorang pengusaha bernama Pinker yang memiliki usaha impor dan distributor kopi. Tapi, tunggu dulu. Sebelumnya penulis bercerita tentang seorang “penyair belum jadi” bernama Robert Wallis. Wallis sangat tipikal. Ia menginginkan kemerdekaan dalam segala hal, terutama cara hidup. Lalu, suatu kebetulan membawa kedua tokoh ini bertemu.

Selanjutnya, Wallis bertemu dengan Emily Pinker, anak sang pengusaha. Lalu, Wallis dikirim ke Afrika dan bertemu Fikre. Meskipun bukan pria alim–sering keluar masuk rumah bordil–Wallis bisa juga jatuh cinta kepada kedua wanita yang berbeda ini dengan kepedihannya sendiri-sendiri. Dengan Fikre, ia dikhianati. Dengan Emily, ada sebuah tembok kokoh yang tak bisa dihancurkan untuk membuat mereka bersatu. Tembok ini tak terlihat dan menyerap energi. Saya melihat, penulis menghabiskan hampir semua alur cerita untuk menjelaskan kepada pembaca mengenai persoalan ini. Bisa bersatu tetapi tak disatukan. Inilah dilema yang seringkali terjadi dalam kehidupan kita. Sulit dijelaskan.

Bagaimanapun, tampaknya penulis benar-benar patuh pada koridor tema yang diusungnya. Cinta dan kopi. Kopi dan cinta. Meskipun kompleksitas cerita cukup kaya, misalnya tentang hysteria yang pada masa itu begitu populer, perjuangan kaum wanita untuk dianggap setara, sampai masalah perbudakan di Afrika. Dengan berbagai referensi yang cukup, buku ini terbangun dengan sangat baik dan hidup. Tentu saja, benang merahnya adalah kisah cinta yang diselimuti oleh harumnya kopi yang digiling.

Tidak ada yang lebih menyenangkan dibandingkan menyelesaikan sebuah buku yang layak untuk dibaca. Buku ini salah satu yang memberi pengalaman berkesan di akhir tahun.

Day 122: Mengumpulkan Mood yang Berserakan

1488890_10202055317618432_321732952_nSayup-sayup suara Frank Sinatra yang berat dan maskulin menemaniku siang ini. Ruangan kecil ini terasa hangat dan hidup; setelah empat hari kemarin kuhabiskan untuk menonton belasan film. Kadang-kadang, aktivitas itu bisa menjadi kesenangan langka yang tak terhingga.

Sepertinya saya jalan di tempat. Beberapa hari belakangan, saya samasekali tidak mood menulis. Sebenarnya ini sudah lama terjadi. Kebosanan datang seperti air bah. Saya bangun pagi dan berharap malam cepat datang. Nah, kalau sudah malam saya pun berharap pagi cepat datang. Ada semacam penyesalan karena menyia-nyiakan hari dan berjanji besoknya lebih baik. Sayangnya, itu cuma semangat sesaat. Saya tahu, di ujung jalan nanti saya pasti kesusahan mengejar deadline. Fiuh.

Namun, hari ini sepertinya sudah lumayan membaik. Saya membuka buku catatan dan mengamati coretan-coretan di dalamnya. Terasa asing. Apakah saya yang menulis semua itu? Dimana semangat yang dulu?

Situasi seperti ini sudah berulang kali terjadi. Datang dan pergi. Bahkan saya pun mencatat waktunya. Ini seperti siklus yang bisa dipelajari. Hanya saja, kadang lama kadang sebentar. Cara menyelesaikannya pun tidak selalu sama. Ada yang bisa selesai dengan tidur seharian, ngobrol seharian, atau menonton film seharian.

Bagaimanapun, tidak seharusnya ada kata menyerah. Meskipun jalan masih panjang. Lebih baik dijalani selangkah demi selangkah. Dinikmati sedetik demi sedetik. Sambil terus berharap dan berusaha. Jika menyerah sekarang, apa lagi yang bisa dilakukan?

Day 110: Help! Indonesia Butuh Perpustakaan

Aku memasuki gedung itu dengan antusias. Udara di luar panas. Matahari terik. Kulangkahkan kaki dengan cepat. Terbayang sejuknya ruangan itu. Rak-rak yang berdiri megah dipadati ratusan ribu buku. Meja-meja coklat yang mengkilat. Orang-orang yang asyik membaca. Suasana yang menyenangkan..

Bilang saja saya kebanyakan nonton film. Namun, bayangan tentang perpustakaan yang seperti itu terus melayang-layang di benak. Saya tinggal di sebuah kota yang sering disebut kota pelajar. Banyak mahasiswa menuntut ilmu di tempat ini. Perguruan tinggi juga tak kalah banyak. Mirisnya, tidak ada perpustakaan yang memadai di kota pelajar ini. Saya menduga, di kota-kota lain pun keadaannya hampir sama.

Ada dua perpustakaan “besar” yang berdiri di kota ini. Satu, perpustakaan dari pemerintah daerah. Dua, perpustakaan dari pemerintah kota. Keduanya berada di tempat terpisah. Benar. Tidak sedikit orang yang datang ke tempat ini. Biasanya mereka mengejar fasilitas wi-fi yang disediakan. Hampir semua pengunjung membawa laptop untuk mengerjakan sesuatu.

Namun, jika kita melihat kondisi buku-bukunya.. Entahlah. Kebanyakan buku-buku itu koleksi lama. Tidak beraturan. Berdebu. Ampun. Betul sih, sekarang kita hidup di era teknologi canggih dengan internet sebagai pintu gerbang dunia. Namun, jangan salah lho. Internet bukan satu-satunya sumber informasi. Bisa dibilang, informasi di internet tidak bisa dipercaya sepenuhnya karena tidak semua melakukan verifikasi data. Setiap orang boleh menulis sesuatu. Entah benar, entah tidak. (Bukan berarti, tidak ada yang benar lho!)

Sementara buku, buku adalah karya intelektual. Buku lahir dari proses yang panjang dengan berbagai tahap yang mempertajam isinya. Kita masih butuh buku, semodern apapun kehidupan kita saat ini. Di sanalah Indonesia seharusnya memberi perhatian. Kepada para generasi muda yang ingin membaca, mengetahui banyak hal, dan mengenal dunia. Saat ini, berapa sih anggaran untuk pendidikan di Indonesia? Seandainya digunakan untuk membeli buku-buku bermutu dan menambah koleksinya setiap minggu atau bulan. Daripada untuk korupsi. Atau, apakah Indonesia kekurangan penulis ya?

Jadi, di sinilah saya. Berjuang untuk menyelesaikan proyek ini. Mencari bahan di perpus, tetapi sayang tidak ada colokan listrik untuk laptop sehingga saya terpaksa pindah tempat dan mengubur keinginan untuk berlama-lama. Tetap semangat! Banyak jalan menuju Roma!

Gambar

Day 109: Sang Penolong

Perannya sentral. Tak tergantikan. Roda zaman menuntutnya untuk terus bergerak. Tenaga dan kapasitasnya tak henti diuji oleh kebutuhan hidup. Mampukah para wanita tetap bertahan di tengah berjibunnya tanggung jawab itu?

Pada zaman sekarang, wanita tidak hanya memegang tanggung jawab sebagai istri dan ibu. Banyak wanita yang memiliki posisi penting di berbagai bidang pekerjaan. Mereka ikut menguasai bidang-bidang yang sebelumnya lazim ditekuni oleh pria. Sebut saja sebagai pilot, manajer, atau berkecimpung di dunia politik. Tak ketinggalan, mereka pun setia mengabdikan diri dalam pelayanan gereja. Memikul beragam tanggung jawab tersebut tidak mudah. Rentan lelah dan stres. Apa mau dikata, keadaan itulah yang kini tengah mengancam keberadaan kaum wanita.

Istri Modern

Wanita yang sudah berkeluarga memiliki kebutuhan psikologis. Ia tidak semata-mata mengurus rumah tangga, anak, dan suami. Menurut Mariani Sutanto, wanita pun ingin diakomodasi keunikannya sebagai seorang pribadi. Ia ingin bisa diterima apa adanya oleh keluarganya. “Artinya, kalau misalnya wanita ini bersifat outgoing, suka keluar rumah, keluarga mengetahui dan menerima itu sehingga kebutuhan bisa terpenuhi.”

Dalam kebudayaan pada masa lalu, istri harus manut kepada suami. Satu di depan, yang lain di belakang. Kini, perkembangan zaman mengikis sedikit demi sedikit kebiasaan tersebut. Istri dan suami berjalan beriringan, bukan hierarki. Semakin lama, setiap orang harus menghargai keunikan masing-masing pribadi. Namun, kata Mariani, wanita atau istri harus belajar menyesuaikan kebutuhan tersebut dengan kondisi keluarganya. Ada waktu ketika wanita tidak bisa serta-merta menuntut kebutuhannya dipenuhi. Kewajiban sebagai ibu rumah tangga tak bisa dipungkiri dan ditiadakan begitu saja.

Meski terhalang, bukan berarti wanita hanya bisa diam dan berkeluh kesah. Beragam solusi kini hadir mengatasi keterbatasan manusia karena situasi. Salah satunya adalah memanfaatkan teknologi internet. Melalui jaringan global tersebut, wanita bisa mengekspresikan diri meskipun tak memiliki waktu untuk keluar rumah secara fisik. “Minimal sebagian kebutuhan psikologisnya terjawab di situ. Bila hal itu tidak diusahakan, wanita akan terkungkung di rumahnya sendiri. Ia nggak ngerti apa-apa. Ia pun akan mendidik anak-anaknya seperti didikan yang diterimanya pada zaman dulu, bukan dengan visi masa depan,” ujar Mariani.

Memiliki Keunggulan

Selain menjadi ibu rumah tangga, kini banyak wanita yang bekerja. Ini pun adalah dalam rangka memenuhi kebutuhan, baik secara ekonomi maupun psikologis. Menurut Yoeannie, kesempatan berkarier bagi wanita kini terbuka lebar, sama seperti pria. Kemampuannya tidak dinomorduakan. Wanita juga memiliki berbagai keunggulan ketika dipercaya memegang jabatan tertentu di sebuah perusahaan.

“Wanita dikaruniai keluwesan atau fleksibilitas. Mereka lebih bisa diterima di mana-mana dan mudah masuk ke segala segmen, bukan hanya di antara sesama gender,” kata Yoeannie. Namun, fleksibilitas dan keramahan tersebut tidak berdiri sendiri. Untuk menjadi pekerja profesional, wanita membuktikan keseimbangan perfomance dan appearance-nya dengan ilmu pengetahuan. Hal itu menjadi nilai tambah bagi wanita pekerja masa kini. Keunggulan tersebut semakin disadari dan diasah oleh para wanita sehingga kaum ini semakin potensial mengisi posisi penting dalam pekerjaannya.

Meski demikian, wanita pun memiliki kelemahan dalam statusnya sebagai pekerja. “Mereka kadang-kadang cengeng. Ada masalah yang tidak terlalu besar, lantas dibesar-besarkan. Akibatnya pikiran terbelah sementara banyak hal yang belum terselesaikan,” papar Yoeannie. Wanita yang sudah mengatur goal, baik dalam karier maupun keluarga, dipastikan tidak akan mengalami kesulitan menjalani perannya yang begitu kompleks.

Berurusan dengan keluarga, wanita pekerja tidak lepas dari tanggung jawab. Mengatur rumah tangga dan mengasuh anak adalah kewajiban yang tak terelakkan. Menurut Yoeannie, kuncinya adalah manajemen waktu yang tepat. Membekali orang kepercayaan untuk menemani anak ketika ibu sedang bekerja adalah ide yang brilian. “Memang tidak gampang. Harus ada trial and error. Banyak orang menilai, ibu yang sukses dalam karier sering kali anak-anaknya tidak terurus. Menurut saya, itu bergantung ketegasan mengambil langkah-langkah yang diperlukan. Saya sudah membuktikan sendiri,” ujar ibu tiga anak yang pernah menjabat sebagai pemimpin cabang sebuah bank swasta nasional ini.

Berperan Sentral

Dilihat dari perspektif alkitabiah, wanita atau istri akrab disebut sebagai penolong. Ia berada di tengah-tengah, menjadi penghubung antara suami dan anak-anaknya. Dalam rumah tangga, peran wanita sangat sentral. “Peran ini bukan berarti menyingkirkan tugas lelaki. Wanita justru bersifat menolong. Tuhan menempatkan wanita dalam posisi yang sangat khusus dan menentukan. Dalam lingkup pergumulan sehari-hari, tanggung jawab utamanya adalah mengurus keluarga,” jelas Pdt. Matheus Mangentang, Rektor STT SETIA, Jakarta.

Sibuk bekerja di luar rumah bahkan memimpin organisasi apa pun, menurut Matheus, bukan pilihan yang salah. Pilihan itu menjadi tak relevan ketika wanita mengabaikan tugas utamanya sebagai ibu. “Sentuhan seorang ibu dalam rumah tangga itu beda, lho. Ada kasih sayang yang lembut. Hal ini tidak mungkin diperankan atau diwakili oleh pria,” papar Matheus.

Meskipun tidak dijelaskan panjang lebar, terdapat kisah beberapa tokoh wanita yang bisa dijadikan panutan sesuai porsinya dalam Alkitab. Misalnya, Ester yang bergerak di bidang politik pada masa itu. Selain itu, ada Rut yang memiliki keteguhan, keuletan, dan kesetiaan. Ia bertanggung jawab atas kelangsungan hidup mertuanya. Di satu sisi, perannya bisa menjadi contoh.

Pdt. Debora Vivi M., S.Si. (37) juga menyebut Lidia, perempuan dari Tiatira, kota kecil di Asia Kecil. Lidia adalah pedagang kain yang mendengar pengajaran Rasul Paulus dan bertobat. Bukan hanya itu, seluruh keluarganya juga ikut bertobat. Wanita lain yang disebut-sebut adalah Debora, seorang istri yang juga berprofesi sebagai hakim wanita satu-satunya dalam sejarah umat Tuhan. Ia dipakai Tuhan memimpin bangsa Israel untuk menang atas orang-orang Sisera.

Debora sepakat dengan peran istri sebagai penolong. Gambaran perempuan ideal jelas tercantum dalam Ams. 31:10–31 . Dukungan terhadap suami tidak hanya berupa dukungan batiniah, tetapi juga lahiriah. Istri bisa mendukung suami dalam hal materi atau penghasilan. Oleh karena itu, menurut Debora, wanita boleh saja bekerja di luar rumah asal dalam kerangka menjadi penolong bagi suaminya. “Istri yang bijak harus mampu membagi waktu dan perhatian, baik untuk keluarga, pelayanan di gereja, maupun masyarakat.”

Tentukan Prioritas

Persoalan yang sering dialami kaum wanita pada masa kini adalah terjebak di antara kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri dan tanggung jawabnya sebagai ibu rumah tangga. Akibatnya, stres timbul. Semua pemenuhan tanggung jawab justru terbengkalai dan tidak maksimal. Mariani mengatakan, wanita yang bekerja tetapi tidak merasa bahagia harus menguji kembali motivasinya. “Kalau ia bekerja hanya agar tidak dipandang rendah oleh suami dan teman-temannya, ini menjadi beban. Bekerja harus sesuai dengan passion.”

Hal ini juga diamini oleh Yoeannie. “Ketidakbahagiaan bisa dicari penyebabnya. Mengapa saya tidak menyukai pekerjaan ini? Itu bisa dianalisis. Mungkin ada juga yang bekerja karena tidak mempunyai pilihan lain, misalnya harus menghidupi keluarga. Pada kondisi ini, tekanan bisa muncul. Karena itu, suami istri sebagai tim harus membuka ruang diskusi. Tim harus memiliki goal yang sama dan menanggung konsekuensinya bersama.”

Apabila keluarga tersebut berada dalam kondisi ekonomi yang aman, bekerja tidak menjadi keharusan bagi seorang ibu. Selanjutnya keduanya perlu mengadakan negosiasi, pekerjaan apa saja yang bisa ditekuni ibu tanpa menyampingkan keluarga. Dalam hal ini, suami memiliki peran penting. Sebagai nakhoda dalam keluarga, suami bertugas memberi pandangan yang menyeluruh serta jauh ke depan.

Keseimbangan Hidup

“Seorang wanita memerlukan hikmat Tuhan untuk melaksanakan perannya dengan baik sesuai kehendak Tuhan. Prioritas diberikan untuk bagian yang sungguh-sungguh memerlukan kehadirannya. Prinsip menentukan prioritas ini ditentukan dengan memandang faktor tanggung jawab, kepentingan, kebutuhan, dan risiko,” ujar Debora. Komunikasi dan keterbukaan dalam kehidupan rumah tangga sangat menentukan idealnya tindakan perempuan ketika menentukan prioritasnya.

Banyaknya tanggung jawab akan diikuti oleh banyaknya persoalan. Sebagai tim, suami dan istri harus saling menopang. Jika suami tidak ada, atau karena kondisi tertentu ia tidak bisa diandalkan, istri harus menyerahkan segala keluh kesah dan bebannya kepada Tuhan. “Berbagi juga kepada sesama kaum di lingkungan gereja atau orangtua yang patut dipercaya,” saran Matheus.

Agar tetap merasa bahagia, Yoeannie menyarankan para wanita untuk banyak bersyukur. “Ketika bangun tidur, kita harus segera bersyukur dan berdoa. Kita diciptakan luar biasa dan dipercayakan banyak tanggung jawab. Bersyukur untuk pekerjaan, keluarga, bahkan untuk hal-hal kecil yang kita miliki. Ucapkan afirmasi-afirmasi positif. Dengarkan lagu yang ceria dan bersemangat. Baca buku-buku yang menginspirasi dan menambah pengetahuan.”

Jadikan Sederhana

Meski dijuluki penolong, wanita bukan makhluk perkasa dan tahan banting. Ada waktunya untuk merasa lelah. Melakukan hal-hal sederhana untuk melepaskan kelelahan akan sangat membantu, misalnya menyisihkan waktu untuk me time. Ini adalah waktu bagi wanita untuk meletakkan bebannya sejenak serta menarik napas panjang. “Me time tidak harus pergi ke kafe, salon, dan tempat-tempat lain. Minum segelas cokelat hangat sambil ngemil beberapa potong biskuit pada pukul sepuluh pagi di sela-sela rutinitas, sudah termasuk me time berkualitas. So simple,” tutup Mariani tersenyum.

(Dimuat di BAHANA, Oktober 2013)

Day 109: Alasan yang Meredakan Amarah

Mengambil kesimpulan yang terburu-buru dapat menciptakan persepsi yang salah. Persepsi yang salah dapat menimbulkan amarah yang tidak tepat. Akibatnya berbahaya dan berdampak panjang.

Semua orang pasti pernah marah. Penyebabnya berbeda-beda. Ada orang yang marah karena diperlakukan tidak sepantasnya. Ada juga yang marah karena tidak bersedia menerima kemarahan orang lain sehingga memutuskan untuk membalas. Namun, tidak jarang pula kita jumpai orang yang moody, emosinya cepat berubah, dan amarahnya sering tersulut karena hal sepele. Orang ini blak-blakan, bersifat menyerang, dan membahayakan.

Sylvia Carolina Maria Y. M., S.Psi., M.Si. (40), dosen Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta menjelaskan, rasa marah adalah salah satu bagian emosi manusia. Selain rasa marah, ada juga rasa senang, sedih, kecewa, dan sebagainya. Secara umum, emosi seperti amarah adalah bentuk pertahanan individu. Ketika menghadapi situasi tertentu, emositersebut muncul dari dalam diri manusia sebagai respons.

Dari sudut pandang theologi, Pdt. Puji Swismanto, M.Th. (51) menjelaskan, rasa marah adalah dosa warisan yang telah ada dalam diri manusia semenjak dilahirkan. Bahkan dalam Alkitab, amarah telah muncul pada generasi kedua, yaitu Kain. Kain mempersembahkan kurban bakaran, tetapi tidak diterima oleh Tuhan. Karena peristiwa itu, Kain menjadi marah lantas membunuh saudara kandungnya, Habel, padahal Habel tidak bersalah. Kisah kemarahan antarsaudara di Alkitab adalah antara Esau dan Yakub. Esau marah kepada Yakub karena adiknya telah menipu dan mengambil hak kesulungannya. Akibatnya, timbul permusuhan di antara keduanya dalam jangka waktu lama.

Salah Sasaran

Dengan alasan apa pun, tindakan Esau membunuh Habel tidak bisa diterima. Sylvia memaparkan, tindakan agresif bisa muncul dari seseorang yang sedang dikuasai emosi marah. Jika individu tersebut terbiasa spontan dan blak-blakan, rasa marahnya bisa diekspresikan secara langsung. “Ekstremnya kalau pelaku membawa benda tajam, ia bisa membahayakan orang-orang di sekelilingnya,” kata Sylvia.

Sebuah kabar mengejutkan muncul dari China pertengahan tahun ini. Seorang bocah kecil dianiaya sang ibu karena menyusu hingga melukai puting ibunya. Normalnya, ibu memiliki naluri melindungi anaknya. Pada kasus ini, bayi yang lemah itu justru mendapat siksaan sehingga mengakibatkan luka-luka di sekujur tubuhnya. Kasus serupa banyak muncul beberapa tahun belakangan.

“Ibu itu pasti sudah tidak mampu mengendalikan emosinya. Kemungkinan si ibu memiliki masalah, gangguan kejiwaan atau stres sehingga anak menjadi pelampiasan. Ada rasa jengkel terhadap hal lain yang belum diselesaikan. Jadi, ketika ia merasa sakit secara fisik, amarahnya meluap. Anak menjadi sasaran karena dekat, bisa dijangkau, dan lemah,” ujar Sylvia.

Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam mengekspresikan kemarahan. Menurut Sylvia, hal itu dipengaruhi oleh kecenderungan kepribadian seseorang. Orang yang pendiam cenderung memendam kemarahan. Sebaliknya, orang yang spontan akan cenderung agresif dan menyerang. Dalam buku Overcoming Emotions That Destroy, disebutkan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi seseorang dalam mengeskpresikan kemarahan adalah kepribadian, keadaan diri yang sekarang, budaya, gender, usia, dan pengalaman masa lampau.

Kedua bentuk ekspresi kemarahan tersebut sama saja. Tidak ada yang lebih baik. Bedanya, orang yang agresif langsung kelihatan jika sedang marah. Lawan bicara bisa menangkap ekspresinya sehingga dapat menentukan sikap yang tepat untuk menghadapinya. Namun, orang yang memendam kemarahan tidak bisa dideteksi dengan mudah. Tiba-tiba saja hubungan menjadi dingin. Ketika tidak setuju dengan suatu hal, mereka tidak mengungkapkannya secara eksplisit. Akibatnya, masalah tidak bisa segera diselesaikan. Meskipun ekspresinya berbeda-beda, amarah selalu berpotensi untuk menghancurkan, baik relasi maupun reputasi.

Dalam Perjanjian Baru, terkenal kisah yang menceritakan kemarahan Yesus di Bait Suci. Ia marah kepada orang-orang yang menyalahgunakan fungsi gereja. “Semestinya gereja adalah tempat berdoa, tetapi dipakai untuk berjualan. Lantas Yesus menjungkirbalikkan meja dan kursi yang dipakai oleh para pedagang tersebut,” ujar Pudji. Sebelumnya, Yesus dikenal lembut, menyukai anak-anak, dan penuh belas kasihan.

Menurut Pudji, apa yang dilakukan Yesus disebut marah yang kudus karena Ia memiliki alasan yang tepat. Allah juga pernah murka ketika manusia jatuh ke dalam dosa. Amarah tersebut diekspresikan dengan mengusir manusia keluar dari Taman Eden. Pada zaman Nuh, Allah menghapus kehidupan di bumi dengan air bah, kecuali makhluk hidup dalam bahtera. Kemarahan itu juga terjadi ketika Allah melihat bangsa Israel menyimpang dari jalan yang benar. Allah mendisiplin untuk mendatangkan kebaikan kepada manusia.

Sementara itu, kemarahan manusia sering bersifat perseptif. Sylvia menjelaskan bahwa alasan seseorang marah adalah ia mempersepsi bahwa dirinya terancam, baik ego maupun fisik. “Ketika ego terancam, misalnya ada orang lain yang meremehkan saya, saya akan menjadi marah. Orang ini telah berani dengan saya. Reaksi seperti itu telah terbentuk sejak nenek moyang kita ketika mereka menghadapi hal-hal yang berkaitan dengan pertahanan hidup.”

Merusak Relasi

Amarah adalah emosi normal manusia. Oleh karena itu, rasa marah tidak selamanya bersifat negatif. Selain alasan yang tepat, marah yang baik adalah marah yang proporsional dengan derajat yang pas. Rasa marah yang tidak tepat timbul dari prasangka tanpa mengkonfirmasi kebenarannya. Contoh ekstremnya, ketika seorang preman menentukan siapa calon korbannya. Bagi mereka, hanya ada dua jenis manusia, yaitu korban atau bukan korban. Jika orang yang diamati tersebut memberi sinyal sebagai calon korban, mereka lebih berani mendekati. Hal yang sama juga dialami oleh orang yang marah tanpa kendali. Mereka memproses informasi dengan terburu-buru sehingga persepsi yang timbul memicu kemarahan, padahal persepsi tidak selamanya benar.

Selain merusak relasi dan reputasi, amarah juga berpotensi mengganggu kesehatan. “Ini ada kaitannya dengan neurofisiologis atau sistem saraf. Ketika marah, kita merangsang munculnya hormon adrenalin. Pada kondisi tertentu, hormon ini sangat membantu. Misalnya, bisa mempertahankan diri ketika hendak dijambret. Namun, adrenalin membuat denyut jantung dan peredaran darah lebih cepat. Orang berada dalam kondisi waspada. Marah yang berlangsung terus-menerus akan memicu timbulnya tekanan darah tinggi atau serangan jantung,” ungkap Sylvia.

Pudji mengatakan bahwa marah untuk mendatangkan kebaikan itu boleh saja. Syaratnya, kemarahan tidak disimpan atau berlarut-larut. Alkitab menyebutkan, batas kemarahan adalah sampai matahari terbenam. “Redakan amarahmu setelah terjadi perubahan yang lebih baik. Sama seperti Yesus, setelah marah harus kembali rendah hati, murah hati, dan memaafkan. Yesus merangkul dengan lemah lembut sehingga terjadi pemulihan,” ujar Pudji.

“Amarah yang tidak diselesaikan akan berdampak buruk bagi keturunan kita. Contohnya, Herodes membunuh bayi-bayi yang tidak berdosa ketika Yesus lahir. Jika ditelusuri secara historis, Raja Herodes adalah orang Edom, yaitu keturunan Esau. Kemarahannya ditumpahkan dengan menghabisi anak-anak Rahel atau anak Yakub. Ternyata, perseteruan keduanya pada masa lampau masih menyisakan kebencian sehingga mengakibatkan amarah yang salah sasaran,” tambah Pudji.

Spirit Kemarahan

Lantas, bagaimana cara mengendalikan emosi negatif tersebut? Menurut Sylvia, kebiasaan itu bisa dilatih. Emosi sebenarnya terkait dengan aspek kognitif, yaitu pikiran, perasaan, dan tindakan. Ketika marah, semuanya dimulai dari pikiran, setelah itu diikuti oleh perasaan dan tindakan. “Perhatikan sinyal-sinyal yang membuat emosi kita naik. Misalnya, kita tidak suka jika privasi diganggu. Sebelum benar-benar marah, cobalah untuk menarik napas panjang. Tenangkan diri sehingga kita bisa mempelajari permasalahannya lebih dalam. Jika tidak, kita bisa menyesali tindakan yang berdampak panjang,” ujarnya.

Ps. Samuel Saputra menceritakan pengalamannya menghadapi para pemarah khususnya anak-anak asrama ketika ia mendirikan Pondok Penuai pada 1996. “Sebagian besar dari mereka berasal dari disfunction family atau keluarga yang tidak berfungsi dengan baik. Mereka tidak dididik secara karakter dan etika. Ketika dikumpulkan dalam asrama, itu seru banget. Ketika ditegur atau diberi disiplin, mereka justru akan balik marah. Muka mereka terlihat tidak senang. Ada yang menantang, walaupun tahu mereka salah,” cerita pria yang akrab dipanggil Ko Sam ini.

Untuk menghadapi situasi tersebut, Ko Sam menerapkan beberapa bentuk disiplin, mulai dari yang ringan hingga yang berat. Semua disiplin itu bertujuan untuk mengingatkan dan menanamkan hal yang baik dalam diri anak yang bersangkutan. Namun, ada juga anak yang benar-benar sulit ditangani. Karena tidak berhasil, anak itu pun dipulangkan ke daerah asalnya.

Menurut Ko Sam, emosi adalah anugerah yang diberikan Tuhan kepada manusia. Namun, emosi negatif bersumber dari dua sisi, yaitu luka dalam hati dan kejadian tertentu yang bisa menjadi pemantik. “Anak yang sejak kecil ditinggal oleh ayahnya akan mengalami kepahitan. Jika ada sebuah kejadian yang mengingatkannya kepada ayahnya, emosinya akan meledak. Kalau tidak disembuhkan, akan timbul spirit of anger. Spirit ini mengikat jiwa dan emosi seseorang,” jelas Ko Sam.

Seperti Cara Yesus

Merasa marah karena tidak diperlakukan semestinya adalah reaksi yang wajar. Prinsip ini bertolak belakang dengan reaksi Yesus ketika hendak disalib. Amarah-Nya tidak timbul meskipun orang-orang tidak menghargai-Nya sebagai anak Allah. Respons-Nya tidak terduga. Ia justru mengampuni.

Persoalan yang terjadi di antara umat Kristen saat ini adalah ketidakmampuan mengolah emosi tersebut. Sasaran dan penyebab kemarahan sering buram dan tidak jelas. Namun, Yesus telah memberi teladan yang kasat mata tentang cara mengendalikan amarah. Harga diri pribadi tidak boleh menjadi alasan untuk mengumbar kemarahan apalagi hingga menyakiti dan melukai orang lain.

(Dimuat di BAHANA, September 2013)

Day 109: Ibu Tua Penjual Roti

Ara sudah berkali-kali melihat seorang ibu tua menawarkan dagangannya kepada pembeli di warung bakso itu. Biasanya orang-orang hanya melambaikan tangan untuk menolak, bahkan tanpa menoleh. Maklum saja, jajanan yang ditawarkan pun tidak tampak menggoda.

Ibu tua itu berpenampilan lusuh. Ia mengenakan kebaya batik bermotif kuno. Kakinya dilapisi sandal jepit yang kotor. Senyumnya memelas. Tanpa kata, ia mengulurkan satu dua roti berbungkus plastik putih. Kibasan tangan penolakan mewarnai hari-harinya.

Bila tak ada yang membeli, ibu tua itu akan kembali ke tempatnya mangkal di seberang jalan. Wajahnya sayu seperti belum makan. Kadang-kadang, ada orang yang berbaik hati mengajaknya ngobrol sambil membeli beberapa roti sekaligus. Saat itu, wajah ibu tua tampak bahagia tak terkira.

Hari itu, Ara mengajak Laras makan di warung bakso langganannya itu. Mereka ingin merayakan keberhasilan Ara meraih juara pada lomba menulis minggu lalu. Saat sedang asyik bercakap-cakap, si ibu tua pun datang. Seperti biasa, Ara hanya menghadiahkan senyum manis sambil melambaikan tangan tanda tak tertarik.

Setelah ibu itu menjauh, tiba-tiba Laras nyeletuk perlahan, “Kasian ya..”

Ara mengangguk. “Memang. Tetapi, aku nggak berani membeli roti itu. Takut udah kadaluarsa. Nanti malah terbuang percuma.”

“Iya juga sih,” sahut Laras. Mereka pun melanjutkan makan.

**

Pagi itu, Laras tiba di sekolah dengan tergopoh-gopoh. Wajahnya terlihat menyimpan sesuatu. Ia segera mencari Ara. Sahabatnya itu biasa datang pagi-pagi untuk membaca renungan sebelum kelas terlalu riuh oleh suara siswa lainnya.

“Araaa..”

Ara terkejut mendengar kedatangan Laras yang terburu-buru. “Ada apa, Ras? Kamu kenapa kok seperti dikejar maling?”

“Ara, kamu ingat ibu tua yang kita lihat kemarin siang di warung bakso?”

“Hmm, ibu penjual roti itu. Kenapa?”

“Tadi pagi ibu tua itu ada di depan rumahku!”

“Hah?”

“Iya. Pagi tadi, aku lihat ibu itu sedang membersihkan halaman rumahku. Aku heran, itu kan ibu tua yang kemarin. Tetapi aku udah nggak sempat bertanya kepada ibu. Jadi, aku langsung berangkat dengan masih penasaran.”

“Wah, yang bener? Jangan-jangan…”

Alis Laras terangkat. “Jangan-jangan apa, Ra?” tanyanya agak panik.

Ah, enggak mungkin, batin Ara menepis dugaan itu. Rumah Laras memang tidak jauh, tetapi nggak mungkin.

“Araaaa… malah melamun. Jangan-jangan apa?”

“Ehm, ini cuma perkiraanku, Ras. Jangan-jangan ibu itu mengikuti dan memata-mataimu di rumah. Ah, aku juga tidak yakin.”

Laras bergidik. “Aku harus gimana, Raaa…”

Dengan kalem, Ara berusaha menenangkan Laras. “Udah, nggak apa-apa. Di rumahmu kan masih ada orang. Lagian cuma seorang ibu tua. Kalau ia berniat jahat, banyak yang bisa menolongmu.”

“Iya sih, tapi akhir-akhir ini banyak penculikan, Ras. Siapa tahu ibu tua itu hanya salah seorang komplotannya. Tugasnya memata-matai rumahku. Baru nanti setelah sepi… hiyy..”

Ara diam. Hatinya juga ikut was-was. Pikirannya melayang membayangkan kemungkinan terburuk. Kalau ada komplotan penculik yang ingin mencelakakan sahabatnya, ia tidak akan membiarkan begitu saja. Diam-diam, ia mengingat-ingat nomor telepon polisi sahabat ayahnya. Tuhan, lindungilah Laras, amin, doa Ara dalam hati.

Pulangnya, Laras minta ditemani. Rumah mereka memang tidak terlalu jauh. Ara juga ingin mencari tahu kebenaran kabar ibu tua yang sedang memata-matai rumah Laras.

Sesampai di rumah, Laras segera mencari ibunya. Bu Lis sedang membersihkan pot bunga kesayangannya.

“Eh, udah pada pulang. Ayo makan dulu. Ajak nak Ara sekalian,” kata Bu Lis. Wanita itu memang selalu ramah.

“Hehe, nggak usah, Bu. Cuma menemani Laras pulang.”

“Lho kenapa Laras harus ditemani. Manja bener.”

“Bu, Ibu baik-baik saja? Hari ini nggak ada yang aneh kan?”

“Aneh gimana, Ras? Kamu kenapa tiba-tiba nanya begitu?”

Laras segera menjelaskan maksudnya. Bu Lis mendengarkan dengan cermat. Di akhir cerita Laras, Bu Lis malah tersenyum lebar.

“Oh, itu. Nama ibu tua itu Ibu Kedasih. Ibu bertemu dengannya kemarin sore saat menjemput kalian di warung bakso. Ingat kan? Lalu, Ibu bercakap-cakap dengannya. Ibu kasihan, dagangannya nggak laku-laku. Jadi, Ibu minta ia datang tiap pagi untuk membantu di sini,” jelas Bu Lis.

Laras membulatkan matanya. “Tapi, Bu. Kalau dia bukan orang baik-baik gimana? Kalau dia komplotan penculik? Ibu nggak takut?”

“Aduh, Laras. Imajinasi kamu itu deh. Ibu sudah mencari tahu kok. Dia itu warga RT sebelah. Ibu juga sudah bertanya-tanya. Tenang. Selama kita berniat baik kepada sesama, Tuhan tidak akan membiarkan kita diperlakukan jahat. Kamu mengerti, Nak?”

Laras menghela napas lega. Ia menoleh kepada Ara yang juga ikut-ikutan merasa lega.

“Iya Bu. Laras lupa hehehe. Semoga Tuhan tetap melindungi kita.”

“Aminnnnn. Nah, begitu dong,” kata Bu Lis tersenyum. “Udah, kalian makan dulu. Ada Bu Kedasih di belakang.”

Laras dan Ara berpandangan sambil tertawa. Mereka ingin bertemu ibu tua itu lagi.

(Dimuat di Renungan Anak Muda, Nov- Des 2013)