Day 14: Kita Istimewaaa #InspirasiJumat

Bagaimana kita memandang diri sendiri? Biasa aja atau istimewa?

Hari ini, di kelas Jumat kami berdiskusi tentang keistimewaan manusia sebagai ciptaan Tuhan. Ada orang yang tampak sangat lemah, tidak sempurna atau menonjol. Kita sering underestimate dan menganggapnya tak ada. Ada orang yang terlihat “aneh” atau “berbeda”, kita mengejek atau bahkan tidak peduli.

Bila diamati, tidak ada manusia yang benar-benar sempurna di dunia ini. Selalu ada kelemahan dan kekurangan. Namun, pasti ada kelebihan dalam diri setiap orang. Jika kita sendiri yang merasa “aneh” atau “berbeda”, sebisa mungkin renungkan apa yang menjadi kelebihan kita. Perhatikan dalam hal apa kita melakukannya lebih baik dari orang lain. Dengan mengetahui hal itu, kita bisa mengelolanya dan menjadikannya bermanfaat bagi orang lain. Sebaliknya, jika kita pernah melihat orang lain yang “aneh” atau “berbeda”, jangan buru-buru meng-judge. Kembali lagi, nggak ada lho orang sempurna. Dan.. setiap orang memiliki kelebihan. Mungkin kita belum melihat aja kelebihan orang tersebut.

So, mari kita berkarya dengan bakat dan kemampuan kita. Meskipun terasa sederhana dan tak berarti, bila ditekuni, kita akan melihat kebaikan dari situ. Kita masing-masing istimewa adanya.

Day 13: Meraih Mimpi Menjadi Cleopatra

Judul: Haseki Sultan

Penulis: Zhaenal Fanani

Penerbit: DIVA Press

Jumlah halaman: 480

Tahun terbit: 2014

haseki

Ketika seorang selir menggantikan “tuhan” dalam kelambu sultan adalah saat negara menunggu kejatuhannya. (Zhaenal Fanani)

Alexandra Anastasia Lisowska adalah gadis kecil yang suka mengejar kupu-kupu bersayap beludru ketika ayahnya memimpin misa harian di gereja. Pada masa kecilnya itu, ia terpesona dengan cerita Cleopatra, wanita cantik dan tangguh yang meluluhkan hati dua lelaki penguasa, Alexander dan Mark Anthony. Alexa tumbuh dengan cita-cita yang muluk: menjadi seperti Cleopatra.

Peristiwa yang Mengubah Hidup

Sebuah peristiwa tak terduga terjadi di suatu malam di Rohatyn, tenggara Lviv, barat Ukraina. Alexa yang tenggelam dalam keputusasan tiba-tiba dikejutkan oleh kehadiran segerombolan lelaki di rumahnya. Ketika membuka mata, ia sudah berada di sebuah ruangan tertutup. Ia diculik.

Pada masa itu, Imperium Ottoman yang menguasai hampir seluruh bekas kekuasaan Romawi mengadopsi tradisi harem dalam istana yang dihuni oleh selir-selir yang mengelilingi tahta sang penguasa. Pola ini dimanfaatkan oleh beberapa klan dengan menculik para wanita untuk dijadikan pemuas atau dijual sebagai budak.

Keberuntungan berpihak kepada Alexa. Saat ia dipamerkan untuk dijual, seorang kasim (laki-laki yang sudah dikebiri dan bekerja di istana) melihat potensi dan kecantikan gadis itu. Transaksi terjadi dan Alexa pun dibawa ke istana untuk mengawali hidupnya sebagai odalik (pembantu selir).

Harem yang dihuni oleh ratusan perempuan cantik dan para kasim itu tak bebas dari konflik. Justru, sebagian dari mereka saling menjatuhkan secara diam-diam. Tidak ada ketulusan atau kawan sejati.

Hal itu dialami Alexa–yang mengubah namanya menjadi Roxela. Ia menjadi odalik Aysel Zge, wanita yang menjadi iqbal (selir favorit) Sultan. Meskipun bagi Roxela yang polos, persahabatan itu penuh arti, Aysel  Zge hanya ingin memanfaatkan kepolosan itu dan menjegal siapa pun yang berpotensi mendekat pada Sultan.

Untung saja, Roxela bertemu dengan kasim baik hati, Samiye, yang membantunya beradaptasi dengan kondisi istana. Samiye menjelaskan segala hal yang harus dilakukan oleh Roxela. Menurut kebiasaan, kasim yang membantu selir menjadi orang penting di istana, turut kecipratan keuntungan alias posisinya naik.

Sayangnya, banyak orang yang ingin Roxela lenyap, apalagi ketika ia mulai mendapat perhatian Sultan. Salah satunya Mahidevran Gulbahar, haseki (selir yang melahirkan putra) dan kadinlar (istri sah) Sultan. Menggunakan kuasanya, Mahidevran meminta bantuan Kiral Berk–kizlar agha (pemimpin kasim hitam), Ugur Yildrim–kapi agha (pemimpin kasim putih), Ibrahim Pasha, sahabat Sultan Sulayman, sekaligus Wazir Agung.

Namun, Roxela, gadis yang cerdik dan tak mudah putus asa itu belajar membawa dirinya. Ia menggunakan seluruh akalnya untuk mencapai impiannya menjadi Cleopatra. Kecantikannya pun sanggup membuat Sultan Sulayman tak berpaling. Hingga satu hal, pencapaian terbesar seorang selir, berhasil ia dapatkan. Pencapaian ini mengukuhkan posisinya di depan banyak orang dan membuatnya tak lagi bisa disentuh. Mimpinya terwujud.

Mengapa Harus Baca?

Seruuu. Itulah kesan yang saya dapatkan setelah menyelesaikan buku yang lumayan tebal ini. Saya sangat ingin tahu bagaimana kelanjutan perjalanan Alexa menuju tempat impiannya. Saya gregetan membaca kerasnya persaingan di lingkungan harem. Saya bahkan merasa khawatir jika langkah Alexa terhenti di tengah jalan atau ia mendapat kemalangan. Tentu saja, itu berarti penulis piawai mempermainkan perasaan pembaca.

Sebagai wanita yang hidup di lingkungan istana–yang dikelilingi ratusan gadis cantik dan dianggap sah oleh tradisi negara–mau tak mau Mahidevran harus menyediakan kesabaran panjang, menahan kecemburuan dan membuat lompatan-lompatan strategis untuk menjaga harta berharga yang sudah ada di tangannya. Shahzade Mustafa. Hal. 104

Banyak istilah baru yang saya ketahui, terutama soal sebutan bagi masing-masing orang yang tinggal dalam istana kesultanan. Keberadaan harem dan selir bukan tema biasa yang sering kita temui di novel-novel. Penggambarannya seolah nyata dan membuat kita seperti sedang menonton film yang menarik.

Namun, ada satu hal yang saya catat, yaitu adanya pola pengulangan dalam menyelesaikan masalah. Misalnya, ketika Ugur Yildrim memeras Mahidevran. Permintaan Ugur Yildrim adalah ingin “bersama” dengan Mahidevra. Meskipun berstatus kasim, Ugur Yildrim masih bisa melakukan hubungan pria dan wanita. Ketika Roxela datang, tawaran ini pun diberikan Ugur Yildrim. Hal yang sama tampak ketika Mahidevran menginginkan bantuan Ibrahim Pasha. Jadi, seolah-olah “hal itu” dianggap sebagai alat transaksi yang bisa digunakan saat kepepet.

Anyway, melalui novel ini kita diajak berkelana dalam sebuah pusaran yang besar dan dalam. Banyak masalah terjadi dan setiap orang harus bijak menyelesaikannya. Sekali salah melangkah, bisa jatuh dan mengakibatkan kemalangan pada masa depan. Nah, ingin ikut terjebak dalam ramainya persekongkolan di sebuah harem, mungkin buku ini bisa menjadi pilihan….

Day 13: Romantisme Persahabatan Remaja

Judul: Membagi Rindu

Penulis: Koko Ferdie

Penerbit: PING!!!

Jumlah halaman: 220

Tahun terbit: 2014

2014-11-27 13.18.42

“Bagaimana kalau kita membagi rindu ini berdua. Satu untukmu, satu untukku, dan tak ada sisa bagi yang lain.” Hal. 185

Saya sukaaa kaver buku ini. Hihihi. Warna krem plus pink berpadu membentuk kesatuan yang enak dilihat. Saya menduga, isinya sesuatu yang romantis ala abege2 zaman sekarang. Kalau disuruh milih secara cepat, saya pasti akan langsung menunjuk buku ini. *abaikan* #SubjektivitasSemata

Romantisme Persahabatan Remaja

Cerita dimulai dengan sebuah adegan percobaan bunuh diri. Rain, mengenakan piyama rumah sakit, berdiri tepat di ujung lantai atas gedung. Sahabatnya Nadia berteriak memintanya turun.

Rain adalah seorang cewek blasteran yang telah kehilangan ibunya. Papanya menikah lagi dan kini ia punya mama tiri. Papa Rain adalah tipe ayah yang sibuk dengan pekerjaan. Jadi, Rain terlihat seperti remaja yang kurang diperhatikan keluarga, kecuali oleh Omanya yang tinggal di Berlin.

Rain bertemu sahabat-sahabat baru saat ia mulai masuk SMA. Mereka adalah Nadia, Awan, dan Samudra. Seperti remaja pada umumnya, timbullah kisah cinta di antara mereka. Nadia menyukai Awan, Awan menyukai Rain, sedangkan Rain terpesona pada sosok Seam, sahabat Awan.

Lalu, muncul konflik dipadu dengan persoalan hidup masing-masing. Konflik inilah yang diramu penulis sehingga menciptakan sebuah alur cerita. Pada akhirnya, persahabatan mereka tetap terjalin meskipun melewati berbagai tantangan.

Remaja Masa Kini

Saya sangat menghargai upaya penulis yang mencoba menyisipkan konflik-konflik kecil di sepanjang alur cerita. Karakter dan kondisi tokoh dibikin kompleks sehingga menyulitkan pembaca untuk memihak. Misalnya, Samudra, cowok yang digambarkan menarik, ternyata menderita penyakit jantung koroner. Awan bermasalah dengan ibunya yang suka mengekang. Rain yang tak suka mama tirinya. Dan Nadia yang galau lantas patah hati.

Hanya saja, dalam eksekusinya, karakter tokoh dan interaksi antar tokoh nggak digali dengan mendalam. Misalnya, Rain, seorang blasteran berambut pirang kecokelatan. Dalam cerita, Rain digambarkan oleh Samudra melalui pertemuan pertama mereka yang sekilas.

Secara fisik, cewek itu terlihat menarik; tinggi, wajah kebulean, dan rambutnya lurus sebahu. Hal 25.

Fisik Rain sebenarnya berbeda dengan cewek lain di sekolahnya. Agar kurang wajar jika kemudian ia tak menjadi pusat perhatian. Satu-satunya cowok yang awalnya tertarik pada Rain adalah Awan, tetangganya sendiri. Hingga cerita selesai, saya tak mendapati “kelebihan” Rain ini berpengaruh pada alur cerita. Artinya, adegan Oma yang tinggal di Berlin, sebenarnya bisa diganti dengan adegan lain.

Hal kedua yang agak mengganggu adalah kebiasaan-kebiasaan tokoh. Disebutkan bahwa Samudra sebenarnya penyakitan, tetapi bersikeras mengikuti turnamen sepak bola agar bisa mempersembahkan sebuah gol untuk ayahnya. Di sisi lain, cowok ini pun terbiasa merokok dengan santai. Samudra juga memiliki mobil sendiri. Kalau dibayang-bayangkan, penggambaran karakternya agak nggak pas, yaa.. Hehe. Tapi, mungkin aja sih, di kota-kota besar, pemandangan seperti itu udah biasa. Hanya saja, dengan tema novel teenlit romantis, kehadiran Samudra agak janggal.

Justru dari penggambaran penulis, gerak-gerik Samudra tampak seperti cowok berusia 25 tahun. Dewasa muda gitulah. Sudah bekerja. Terkesan macho. Haha. Maunya.

Nah, sebenarnya ada satu hal lagi yang tak wajar, yaitu alasan Rain ingin bunuh diri. Biar nggak spoiler, baca sendiri aja ya hehehe. Bagi saya sendiri (mungkin sih pengaruh prinsip pribadi) rugi banget jika Rain memilih bunuh diri hanya karena alasan itu. Apalagi jika melihat dan mengamati interaksi yang terjalin sebelumnya tak begitu kuat.

Perlu Baca, Nggak?

Novel ini tak terlalu tebel. Cocok untuk temen menunggu. Isinya juga berkisah seputar persoalan remaja di sekolah dan bagaimana persahabatan bisa jungkir balik karena itu. Namun, kita juga bisa belajar bahwa persahabatan bisa dijaga melalui ketulusan dan keinginan membantu. Karya-karya teenlit kan menolong kita untuk menciptakan kembali kepolosan yang hilang dalam diri orang dewasa. Saat baca, mungkin rasanya lebay, ah, masak sih begitu. Tapi jauh di dalam hati, ada rasa kangen ingin mengulangi masa-masa menyenangkan itu. Iya kan?

Dalam hidup, hal yang nggak bisa dipilih cuma satu, kembali ke masa lalu. Hal. 86

Day 10: Berkunjung ke Semarang

2014-11-19 15.45.202014-11-19 15.45.442014-11-19 15.45.112014-11-19 15.44.53_201411200832262032014-11-19 15.44.442014-11-19 15.44.302014-11-19 15.44.152014-11-19 15.43.202014-11-19 15.44.072014-11-19 15.43.582014-11-19 15.43.032014-11-19 15.42.262014-11-19 15.42.44

19 November kemarin, saya ke Semarang (dalam rangka kerjaan sih). Banyak yang berubah. Terutama jalan-jalannya. Udah lebih rapi dibanding dulu. Banyak kafe-kafe dan tempat nongkrong. Salah satunya du Portrait. Sayangnya, aturan di sana harus makan besar dulu baru boleh poto-poto pake kamera gede. Jadi, karena waktu sedikit dan kamera biasa aja, ini aja yang sempat tersimpan.

Semoga besok-besok bisa ke Semarang lagi..

Day 10: Blog Competition ”Warna Warni Indah Pasar Rakyat (Tradisional) Indonesia” bersama Yayasan Danamon Peduli #Kompasiana

Syarat dan Ketentuan:

  • Peserta terdaftar sebagai anggota Kompasiana. Jika belum terdaftar, silahkan Anda registrasi dahulu.
  • Peserta disarankan sudah terverifikasi, belum terverifikasi? Verifikasi di sini. (Mohon konfirmasi melalui message ke akun Admin Kompasiana jika sudah melakukan verifikasi)
  • Artikel yang diikutsertakan adalah karya orisinal, perorangan, bukan saduran, bukan terjemahan.
  • Artikel tidak pernah memenangkan lomba sejenis dan tidak sedang dilombakan di tempat lain.
  • Konten tulisan tidak melanggar Tata Tertib Kompasiana.
  • Konten tulisan sesuai dengan tema yang telah ditentukan.
  • Lomba terbuka untuk umum. Peserta wajib menayangkan artikelnya secara langsung di Kompasiana (www.kompasiana.com).
  • Peserta boleh mengirim lebih dari satu tulisan dengan jeda waktu tayang antar tulisan minimal satu jam.
  • Seluruh foto dan narasi menjadi milik panitia, dimana hak cipta tetap menjadi hak peserta.

Mekanisme Lomba:

  • Tema Lomba:
    • Tema 1: Keunikan Pasarku
      • Menceritakan keunikan budaya/kearifan lokal/kuliner/arsitektur bangunan/adat istiadat/komoditas atau apapun keunikan yang dimiliki pasar rakyat di daerah anda yang tidak dimiliki pasar rakyat lainnya.
    • Tema 2: Inovasi Pasarku
      • Ceritakan mengenai inovasi yang sudah dilakukan oleh pemangku kepentingan seperti pedagang, pelanggan, pemerintah daerah setempat demi memajukan pasar rakyat di daerahnya masing-masing.
    • Tema 3: Gagasanku untuk Pasar Rakyat
      • Berikan ide/gagasan anda dalam sebuah tulisan yang membangun untuk kemajuan pasar rakyat daerah anda berdasarkan potensi yang dimiliki pasar rakyat di masing-masing daerah Anda.
  • Semua artikel yang diikutsertakan harus ditayangkan di Kompasiana dengan menyantumkan tag: pasarrakyat
  • Peserta dapat memilih salah satu tema yang dilombakan
  • Peserta dapat mengirim lebih dari satu tulisan dengan tema yang berbeda
  • Tulisan wajib mencantumkan foto pendukung dari objek yang diceritakan dalam tulisan dengan ukuran yang proporsional.
  • Peserta hanya diwajibkan menceritakan hal baik atau positif tentang pasar rakyat, cerita berbentuk keluhan akan digugurkan dari kompetisi.
  • Periode: 24 November – 20 Desember 2014
  • Artikel ditulis dalam bentuk pengalaman (reportase) atau opini BUKAN karya fiksi
  • Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia
  • Artikel wajib di share di twitter dengan mention akun @kompasiana dan @danamonpeduli dengan tagar #pasarrakyat
  • Tulisan yang lolos ke tahap penjurian hanya yang memenuhi semua Syarat dan Ketentuan Lomba dan dikirim dalam rentang waktu yang sudah ditentukan
  • Tulisan di luar tema dan tidak sesuai dengan lomba akan dikeluarkan keikutsertaannya

Hadiah:

  • Juara 1: Tabungan Danamon sebesar Rp 3.000.000,- + Piagam Danamon & Kompasiana.
  • Juara 2: Tabungan Danamon sebesar Rp 2.000.000,- + Piagam Danamon & Kompasiana.
  • Juara 3: Tabungan Danamon sebesar Rp 1.000.000,- + Piagam Danamon & Kompasiana.
    • Pemenang akan diumumkan 1-2 minggu setelah Blog Competition ditutup.
    • Kriteria pemenang lomba menjadi hak panitia/juri.
    • Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.
    • Pemenang akan dihubungi oleh pihak Kompasiana.
    • Pengiriman hadiah akan dilakukan pihak Kompasiana.

Info lebih lanjut di Kompasiana

Day 10: Lomba Resensi Buku “Revolusi dari Desa”

Syarat dan Ketentuan Lomba

  • Peserta terdaftar sebagai anggota Kompasiana. Jika belum terdaftar, silahkan Anda registrasi dahulu.
  • Tulisan bersifat baru, orisinal (bukan karya orang lain atau hasil plagiat), dan tidak sedang dilombakan di tempat lain.
  • Tulisan berupa resensi buku “Revolusi dari Desa: Saatnya dalam Pembangunan Percaya Sepenuhnya kepada Rakyat”.
  • Konten tulisan tidak melanggar Tata Tertib Kompasiana.
  • Dapat mengirimkan lebih dari satu tulisan sesuai dengan aturan jeda tayang Kompasiana.

Mekanisme Lomba

  • Peserta wajib mencantumkan tag: revolusidaridesa dalam tiap tulisan
  • Periode lomba: 10 – 30 November 2014
  • Tulisan yang tidak sesuai dengan ketentuan dan tema lomba tidak bisa diikutkan lomba.
  • Pengumuman pemenang akan diumumkan 2 minggu setelah periode lomba berakhir.

Hadiah

Hadiah total uang senilai Rp 22.500.000,00. Selain itu, 25 resensi terbaik(termasuk 3 resensi pemenang utama) akan dibukukan. Berikut rincian hadiah untuk 3 pemenang utama:

  • Pemenang I mendapatkan uang senilai Rp 10.000.000,00
  • Pemenang II mendapatkan uang senilai Rp 7.500.000,00
  • Pemenang III mendapatkan uang senilai Rp 5.000.000,00

Sumber: Kompasiana

Day 10: Becoming A Good Listener (H55) – Respons yang Tepat

Ada yang bilang, mendengar itu adalah menyediakan telinga bagi orang lain. Namun, tentu aja kita ga bisa hanya diam dan mengangguk-angguk. Kesannya kok ga perhatian dan ga peduli.

Memang sih, ada juga orang yang justru senang kalau lawan bicaranya diam aja. Jadi, ia lebih bebas untuk menumpahkan uneg-unegnya. Namun, ada tipe orang yang membutuhkan respons seperti saran, usul, ataupun sekadar perkataan yang melegakan hati.

Nah, bagaimana seharusnya respons kita ketika sedang mendengarkan orang lain?

Yang pertama, tentu kita harus tahu dong karakter orang yang sedang berbicara kepada kita. Apakah ia senang kalau kita diam aja atau justru menginginkan kita mengatakan sesuatu.

Kedua, kita harus ingat bahwa ketika kita berposisi sebagai pendengar (atau dalam hal ini belajar mendengar lebih baik), kita ga boleh memposisikan diri sebagai yang utama. Biasa kan dalam percakapan, kita selalu ingin menjadi orang yang lebih tahu, lebih bijak, dan sebagainya. Sementara orang yang sedang curhat, kita ajarin untuk melakukan ini itu.

Ketiga, setelah mendengarkan dengan sungguh-sungguh, berikan saran yang paling baik yang pernah dipikirkan. Lebih baik lagi jika kita pernah mengalaminya sehingga kita ga sekadar omong kosong doang.

Keempat, bersikaplah netral. Sering banget nih ya, ketika ada orang yang curhat, kita justru menambah-nambahkan bara api dalam hatinya. Misalnya dengan ikut mengatakan hal-hal jelek terhadap orang yang ia bicarakan dan sebagainya. Menjadi pendengar adalah menjadi pihak yang netral. Meskipun tak menutup kemungkinan kita juga ikut berempati terhadap kemalangan atau kesedihan yang menimpanya.

Respons yang tepat akan membuat keahlian mendengar kita menjadi sempurna. Lalu, bagaimana supaya kita mengeluarkan kata-kata bijak atau saran-saran yang mumpuni? Kita kan bukan motivator atau apalah namanya itu. Tentu aja dengan mengasah karakter kita sendiri. Karakter kita akan keluar dalam wujud saran kepada orang lain. Kalau kita tak mampu menyelesaikan masalah kita sendiri dengan bijak, bagaimana kita memberi saran kepada orang lain, kan?