Selamat 18 Bulan, Nak, Ibu Mencintaimu

Foto dokpri

Tanggal 14 kemarin, W tepat berusia 18 bulan. Yes, terima kasih Tuhan. Tak terasa, kami tiba juga di titik ini. Saat melihat ke belakang, rasanya kok nggak percaya. Tau-tau udah gede aja anaknya, hahaha.

Ada banyak perubahan yang terjadi. Saya memang tidak merekamnya satu-persatu, tetapi setidaknya saya mengalami dan menikmatinya. Salah satunya, pada aktivitas makan. Sekarang, W udah bisa makan sendiri, looo! Ah, senangnya. Jadi, kami bertiga bisa sesekali makan bareng. Ayah makan, Ibu makan, dan W jugaaa. Yeay.

Meskipun kalau badmood, (atau mungkin kalau lauknya nggak cocok), dia suka bertingkah. Sendoknya dibuanglah, piringnya dibalik sampe nasinya pada tumpah semua. Hadeuhhh *urut jidat*. Ibu sih pengennya sabar menghadapi tingkah seperti itu. Namanya juga kan anak-anak ya. Mau dilempar, dibalik, silakan saja, Nak. Yang penting kamu bisa mengekspresikan diri.

Susahnya kalau ibu lagi capek. Awalnya mungkin masih bisa mengontrol emosi, lama-kelamaan yang lepas juga. Untungnya, ayah selalu ada untuk menengahi. Ia akan datang dan mengangkat W, membawanya melihat ayam di luar atau mencari cicak. (Ya, anakku gemar nyari cicak hixx).

Perubahan lain yang saya rasakan adalah dari segi berbahasa dan kemampuan menirunya. Kosakata W sudah semakin banyak aja. Denger sekali pun ia sudah bisa meniru ucapan. Misalnya, kita nyebut “Ini nenek..” Dia pun mengulang, “Nek” dan begitu terus. Aduh imut banget pokoknya. Langsung deh ibu ciwel-ciwel pipinya yang montok lalu ditepis hahaha.

Bukan hanya perkataan, W juga senang meniru gerakan tubuh. Misalnya, ia melihat ayahnya mengorek kuping dengan cuttonbud, eh ya ampun anaknya juga ikut-ikutan. Meskipun cuttonbud yang ia dekatkan ke telinga entah ke mana arahnya.

Begitu pula jika ia dilarang, “No no no!” sambil telunjuk digoyang-goyangkan. Lha, besoknya ia tiba-tiba melakukan hal yang sama, tanpa sebab. Jiahahha.

Tapi hal itu membuat kami menjadi lebih berhati-hati. Bisa-bisa apa yang kami lakukan ditiru mentah-mentah oleh dia. Salah satu kebiasaan ayah yang “sulit” dihilangkan adalah melempar barang-barang, entah kunci, handuk, dll. Tak heran jika suatu saat pun W akan melakukan hal yang sama.

Nah, yang masih menjadi doa serta harapan saya adalah W seharusnya sudah mulai bisa berjalan. Namun, sejak bayi, ia memiliki riwayat keterlambatan gerak motorik kasar. Ya, serba terlambat, mulai dari tengkurep, berdiri, sampai berjalan. Meskipun sudah dilatih, sepertinya masih belum bisa juga berjalan. Ya, setidaknya saya bisa sedikit lega karena ada tanda-tanda meskipun ia belum berani melepaskan tangan kita saat berjalan.

Apakah saya khawatir? Ya, sedikit. Tapi, saya rasa dengan perkembangannya sampai sekarang, saya harus sedikit bersabar. Mungkin ada waktunya ia akan mengejutkan kami sembari bilang “Ibu, saya bisa berjalan!” Ah, kalau momen itu datang, saya mungkin akan langsung menangis.

Untuk sementara, saya harus bersabar. Saya nggak ingin menuntut W untuk harus sama dengan anak lainnya. Sambil melihat kemungkinan lain apakah W perlu terapi lagi atau cukup berlatih di rumah.

Nah, perubahan yang ketiga yang saya rasakan adalah W sekarang sudah jarang sakit. Horee. Pengalaman saya dahulu, hampir tiap bulan W demam. Mungkin kelelahan aja tiap hari ke sana kemari, dari rumah ke sekolah dengan jarak yang cukup jauh. Apalagi daya tahan tubuhnya masih belum sempurna.

Ibu seringnya sedih kalau W sakit, bahkan jika cuma demam. Kasian anaknya. Apalagi jika W lantas rewel nggak karuan. Haduhhh. Rasanya pegel semua badan ini. Tapi, bagaimana pun, saya ibunya yang harus mendampingi dia untuk menghadapi sakit itu. Saat W sakit, saya tambah stok sabar hingga berkali-kali lipat. Rasanya tak adil kalau saya marah karena ia rewel akibat sakit.

Nah, salah satu cara terpercaya yang saya lakukan untuk mengatasi demam W adalah menggunakan Tempra Syrup. Ini merupakan obat demam yang aman bagi lambung dan tidak perlu dikocok karena sudah larut 100%. Dengan menggunakan Tempra Syrup, dosis yang digunakan benar-benar tepat dan sesuai kebutuhan alias tidak overdosis maupun kurang dosis.

Saya selalu berharap W tidak sakit. Karena itu, kami juga melakukan tindakan-tindakan pencegahan. Misalnya, rajin makan jeruk sebagai sumber vitamin C. Ia juga harus makan secara teratur.

Di usia barunya ini, W sedang masa-masanya “iseng”. Ia senang banget “menggoda” dengan cara berteriak, merengek, marah, menangis kencang, dan sebagainya jika keinginannya tidak dituruti. Bahkan, hal-hal yang tak mungkin dilakukan juga membuatnya marah. Saya berharap bisa ada perubahan di soal ini. Ya, nggak ada salahnya kan berharap dia makin dewasa hehe.

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra.

 

Iklan

Ini Resolusi 2018 Saya, Mana Punyamu?

Dok foto: Pixabay.com

Sebentar lagi 2017 akan berakhir. Ada rasa lega karena berhasil menjalani tahun ini dengan sehat dan bahagia. Ada pula sedikit rasa nggak ikhlas karena berpikir, “… Ah, seharusnya saya bisa lebih baik dari itu.”

Bagaimana pun, saya tetap bersyukur banget. Terutama untuk pencapaian-pencapaian yang saya alami tahun ini. Ini menjadi salah satu bukti bahwa ketika kita “naik tangga”, ada pemandangan baru yang bisa dilihat. Tentunya lebih memesona, dong.

Nah, berdasarkan apa yang saya alami pada tahun ini, saya sudah mendapatkan gambaran harus ngapain pada tahun depan. Tentunya, berkarya, berkarya, dan berkarya lagi. Belajar, belajar, dan belajar lagi. Yes!

Supaya saya semakin konsisten dengan resolusi tersebut, saya menuliskannya di sini. Sebab, yang menjadi saksi tentu lebih banyak. Entah perjalanan yang ditempuh akan penuh gelombang, saya rasa tak apa selama tetap kuat dan teguh pendirian. Selain itu, jika sukses, saya juga bisa merenungkan kembali kebaikan Pencipta atas apa yang sudah saya dapatkan dari-Nya.

Dok foto: Pixabay.com

Berikut 6 resolusi tahun baru yang akan saya lakukan.

1. Menerapkan Gaya Hidup Minimalis

Saya mengenal istilah ini sejak lama. Dan saya pengen banget menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Cumaaa.. ya begitulah. Seringnya kurang berkomitmen saja. Ada godaan sedikit, pendirian bisa langsung goyang *huft.  Nah, kali ini tekad saya sudah bulat. Pokoknya, nggak boleh lagi kepancing untuk melanggar komitmen itu.

Btw, apa sih gaya hidup minimalis itu? Sederhananya, gaya hidup minimalis adalah kebiasaan untuk “nggak ribet”. Taulah maksud saya, apalagi ibu-ibu yang hobi berbelanja, mulai dari pakaian, kosmetik, hingga peralatan dapur.

Berapa sering sih kita akhirnya menyadari bahwa kantong belanjaan yang baru saja ditenteng pulang itu ternyata nggak berguna-guna amat. Ternyata, setelah melewati pintu toko, rasa menyesal datang tanpa diduga. Ahhh..

Belum lagi jika sudah sampai rumah, kita bingung mau meletakkannya di mana. Rumah makin penuh, rasa tertekan kita pun akan semakin besar.

Gaya hidup minimalis bukan sekadar soal penghematan, tetapi juga pada manfaat lainnya. Khususnya, hidup tanpa beban. Ya, tidak ada tuntutan, tidak ada kewajiban yang terlalu muluk-muluk (memuaskan ego, misalnya). Namun, dengan gaya hidup ini, kita bebas menjalani hidup yang lebih menyenangkan dan memuaskan.

Singkirkanlah barang-barang yang sudah menumpuk di sudut kamar, berikan kepada yang membutuhkan. Lebih rajin memasak makanan sendiri ketimbang jajan.

2. Membaca Lebih Banyak

Rasanya sudah bertahun-tahun saya tidak menyentuh buku untuk dibaca lebih dalam. Karena keterbatasan waktu tentunya. Nah, tahun ini, saya ingin membaca lebih banyak dan lebih sering. Saya juga ingin membeli buku-buku inspiratif  yang membangkitkan semangat. Pada gilirannya, buku-buku ini pasti akan berguna sebagai modal bagi saya untuk meningkatkan keahlian.

Saya juga ingin benerin lagi akun Goodreads karena di sanalah terdapat rekomendasi terbaik mengenai buku yang layak beli dan layak koleksi. Dan tetunya, ikut tantangan tahunan di Goodreads. Yeay. semoga saya berhasil. Saya juga ingin menularkan kebiasaan membaca kepada W, anak saya. Herannya mekskipun saya dulu termasuk kutu buku, W sama sekali belum saya belikan buku satu pun hingga usianya 18 bulan.

3. Menjadi Ibu Terbaik

Ups, maksud saya adalah mencoba menjadi ibu terbaik bagi W. Karena yang sempurna sebenarnya tidak ada. Karena itu, saya membangun web baru saya yang bertagline, Ibu Belajar. Saya ingin terus belajar menjadi ibu ideal karena itulah hak W yang harus saya penuhi terutama pada masa-masa awal pertumbuhannya ini.

Cara untuk menjadi ibu terbaik saya rasa bermacam-macam. Bagi saya salah satunya adalah menjadi sabar. karena W saat ini sudah pandai memancing emosi sang ibu yang mood-nya cenderung nggak stabil ini.

4. Menjadi Lebih Produktif

Salah satu impian saya adalah memiliki brand tersendiri. Okelah, itu mungkin terlalu muluk-muluk. Tapi tujuan itu penting  bukan? Jadi, kita memiliki arah untuk melangkah. Nah untuk membangun brand, saya rasa itu cukup sulit dan butuh perjuangan.

karena itu, saya mulai saja dulu dari satu tahun ini dengan konsisten mengurus blog saya. Ada banyak orang yang menjadi inspirasi saya selama ini dan saya harus menginvesasikan waktu untuk belajar dari mereka.

Produktif bukan hanya soal menelurkan karya, tetapi juga belajar banyak ilmu dari banyak orang. Sudah saya mulai dan saya harap lebih maksimal di tahun depan ini. Saya juga ingin memanfaatkan berbagai fasilitas yang saya miliki untuk mendapatkan yang terbaik.

Dok foto: Pixabay.com

5. Membangun Jejaring

Ini adalah PR bagi saya, terutama karena saya adalah introvert sejati berkepribadian melankolis. Yes. Sulit memang bagi saya untuk mencari teman. Begiti pula mempertahankan hubungan pertemanan. Namun, saya rasa sudah waktunya untuk berubah dan memulai perbedaan sedikit demi sedikit.

Jejaring bukan hanya orang-0rang yang lama, tetapi juga baru. Pokoknya siapa pun dan saya ingin memliki sebuah program khusus yang bisa memicu saya untuk lebih semangat berjejaring.

6. Menjaga Kesehatan

Terakhir dan sangat penting adalah selalu menjaga kesehatan dengan tindakan-tindakan sederhana. Jujur saja, saya ingin berumur panjang supaya bisa melihat W tumbuh dan mandiri. Saya tidak bisa membayangkan ia hidup tanpa kasih sayang ibu. Jadi, saya selalu berusaha sebaik mungkin untuk menjaga kesehatan.

Caranya adalah dengan melakukan langkah-langkah praktis, seperti makan makanan bergizi, cukup istirahat, dan selalu berpikir positif.

Sakit bagi saya adalah masalah berat karena saya tidak bisa merawat anak. Jadi, pengennya kalau sakit adalah cepat-cepat sembuh supaya saya bisa kembali bermain dengannya. Untuk mendukung pemulihan dari sakit, saya memilih Theragran-M. Ini adalah vitamin yang bagus untuk mempercepat masa penyembuhan. Dengan demikian, saya tidak membutuhkan waktu lama untuk bisa segera sehat kembali.

Lagipula, kalau sakit jangan lama-lama, deh. Selain nggak enak, tugas-tugas pun akan terbengkalai. Bahkan, waktu dengan si kecil akan banyak berkurang.

Ohya, vitamin ini dapat dibeli di apotek atau toko obat terdekat, kok.

Nah, demikian beberapa resolusi yang ingin saya lakukan pada tahun depan. Bagaimana dengan Anda?

Dok foto: pribadi

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Theragran-M.

 

Jadi Bisa Mandiri Berkat The Power of “Jempol”

Suatu hari, koneksi internet di kantor saya putus. Sontak semua orang  langsung menggerutu. Bagaimana tidak, aktivitas kerja rutin jadi terganggu. Surel nggak bisa dibuka. Obrolan dengan klien via video call tertunda. Mau update berita apalagi, jangan harap deh!

Untungnya sekarang ada alternatif lain, yaitu menggunakan gadget milik sendiri. Terutama ketika koneksi internet di kantor nggak bisa diandalkan, gadget layak dinobatkan sebagai penyelamat sementara. Dengan berbagai fitur luar biasanya, kehadiran benda ini sangat bermanfaat.

Apa yang saya alami sebenarnya bukan hal yang aneh. Menurut hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) yang dikutip dari Kompas.com, pengguna internet di Indonesia pada 2016 lalu mencapai 132,7 juta orang. Setengah di antaranya mengakses internet melalui komputer dan perangkat genggam dan hanya lebih dari 2 persen yang mengakses internet melalui komputer.

Gadget memang bisa dibilang telah menjadi primadona, bukan hanya di kalangan pekerja masa kini, tetapi juga masyarakat biasa. Gadget adalah teman ketika bersantai, pun ketika melakukan tugas.

Saya merasakannya sendiri. Kala itu, saya sedang dalam masa cuti melahirkan. Selama tiga bulan penuh, saya bersama si kecil menghabiskan waktu di rumah. Kami jarang sekali ke luar rumah. Mau ke luar pun bingung hendak ke mana karena rumah saya cukup jauh dari keramaian.

Hiburan satu-satunya bagi saya ketika si kecil sudah lelap adalah berselancar di dunia maya. Melalui itu, saya juga sempat memperoleh beberapa job menulis freelance. Tentu saja, brief-nya harus diakses secara online.

Apesnya ketika paket data kebetulan mau habis. Pulsa juga mepet gila. Padahal saya diwajibkan online secepatnya untuk koordinasi penting. Mau minta tolong suami untuk membelikan paket data rasanya nggak tega karena sebelum berangkat ia cerita sedang pusing nyiapin laporan bulanan.

Ya, sudah. Mau nggak mau saya harus ikhlas menerima “semprotan” nggak sedap dari sang Project Manager. Ini salah saya sendiri karena tidak mampu menjaga komitmen.

Lantas saya pun mendengar kabar melegakan ini. Traveloka ternyata menyediakan fasilitas menjual pulsa dan paket data dengan cara yang cepat dan mudah, semudah membeli di gerai-gerai pinggir jalan.

Berikut saya akan membagikan pengalaman mencoba membeli pulsa atau paket data di Traveloka.

1. Install Aplikasinya

Caranya gampang, kok. Cari saja di Playstore dan langsung install. Mau lewat website saja juga dipersilakan, lo.

2. Pilih Top Up & Data Packages

Ada banyak banget fitur yang tersedia di sini. Oke, langsung pilih saja Top Up & Data Packages ya.

3. Masukkan Nomor dan Pilih Nominal

Perlu diketahui, pulsa dan paket data yang tersedia di aplikasi ini lengkap banget. Jadi, tak perlu khawatir, guys. Nominal yang tersedia pun bermacam-macam.

4. Lakukan Pembayaran

Setelah form order dilengkapi, pilihlah metode pembayaran yang diinginkan. Kita bisa menggunakan Credit Card, ATM, BCA Klikpay, Mandiri Debit, Indomaret, dan Alfamart. Praktis banget kan? Kita hanya perlu memilih salah satu metode pembayaran yang paling memungkinkan.

***

Keputusan-keputusan yang tepat akan membuat hidup kita menjadi lebih berkualitas. Saya sangat memercayai konsep sederhana itu. Beberapa kali, saya “diselamatkan” dalam sebuah situasi karena sebelumnya telah mengambil keputusan yang tepat.

Contohnya beberapa waktu lalu. Kebetulan, saya ada tugas ke luar kota. Setelah selesai, saya pun berkemas pulang. Ketika sedang dalam perjalanan menuju bandara, saya baru ingat kalau ada barang penting yang tertinggal di kamar hotel. Wah, saya langsung bingung banget. Mau balik ke hotel jelas tidak memungkinkan karena nggak sempat. Lalu, saya ingat kalau di sana masih ada teman yang baru akan pulang sore hari. Saya WA, tapi nggak digubris. Mau nelpon, aduh pulsa habis.

Di saat galau begitu, saya ingat aplikasi Traveloka yang beberapa hari sebelumnya saya install. Segera saja saya pencet dan voila! pulsa pun langsung masuk. Segera saya telpon teman yang masih di hotel dan memintanya mengecek ulang kamar yang saya tempati. Benar saja, ia pun segera mengamankan barang itu. Ah, leganya.

***

Sejak saat itu, tak terhitung berapa banyak pengalaman serta keuntungan yang saya nikmati berkat aplikasi ini. Saya jadi bisa mandiri sekaligus berprestasi karena mendapat bala bantuan yang diperlukan pada saat yang tepat.

Bagi saya, sangat penting untuk tidak merepotkan orang lain dengan hal-hal yang bisa dilakukan sendiri, termasuk untuk urusan membeli pulsa. Bener, kan?

 

Untung Milyaran dengan Menabung, Siapa yang Tak Mau?

nabung

“Haahh?? Beneran, nih??”

Begitu reaksi surpres saya ketika melihat subjek sebuah surel yang bertengger di kotak masuk email saya. Di situ tertulis: “Selamat Para Pemenang Undian Grand Prize Sobatku”. Mata langsung berbinar-binar. Ya, iyalah, dapet hadiah geto loh, siapa sih yang nggak butuh?

Tapi.. sebelum telanjur melonjak kegirangan (dan dikira lebay), saya mencoba merenung sebentar. Ini hadiah dari mana ya? Saya ingat sih, beberapa waktu lalu saya memang mengunduh aplikasi Sobatku di smartphone. Konon kabarnya, dengan menabung di tabungan online yang berbasis aplikasi ini, kita memiliki kesempatan memenangkan ratusan hadiah dengan total miliaran rupiah.

Apa nggak keren, tuh!

Tentu saja, saya pun tertarik dan mencoba untuk mengunduh Sobatku. Caranya gampang saja. Kita hanya perlu membuka Google Play atau App Store, lalu mencari aplikasi Sobatku. Udah deh, setelah itu bisa langsung register. Eits, registernya juga gampang kok, yaitu dengan mengisi data standar, seperti nama lengkap, nomor handphone, alamat email, tanggal lahir, PIN, dan pertanyaan keamanan.

Nah, nantinya, nomor handphone serta PIN inilah yang akan digunakan untuk login ke akun Sobatku.

Keunggulan Sobatku

Sebelum lebih jauh, sebenarnya apa sih yang disebut dengan Sobatku? Barangkali ada yang belum kenal, berikut saya akan memaparkan secara singkat, yaaahh.

Sobatku atau disebut juga Simpanan Online Sahabatku adalah aplikasi yang memungkinkan kita untuk menabung secara online. Bayangkan, hanya dengan menggunakan nomor telepon, kita sudah bisa melakukan berbagai transaksi keuangan.

Berikut adalah beberapa keunggulan Sobatku yang bisa kita nikmati.

  • Download Aplikasi Sangat Mudah, Kakak!

Hal ini sudah saya buktikan sendiri, lo! Tidak butuh waktu lama, tidak harus ke mana-mana, bahkan tidak ada biaya yang harus dibayar. Cukup dengan niat saja, bukibuk. Tinggal set set set, akun sudah terdaftar dan bisa langsung digunakan.

  • Nomor Rekening? Ya, Nomor Handphone

Siapa tahu nih ya, ada temen yang berniat menyampaikan ucapan terima kasih, tetapi segan meminta nomor rekening kita (karena biasanya nomor rekening kan nggak diumbar ke mana-mana, yah, kecuali ada keperluan). Nah, dengan nomor handphone saja, ia bisa lo melakukan transaksi transfer. Mudah dan gratis lagi.

Ini juga berarti kita tak perlu lagi ribet menghafalkan angka-angka nomor rekening karena nomor handphone berfungsi sekaligus sebagai nomor rekening.

  • Say No untuk Biaya Administrasi

Pada titik tertentu, pemotongan pada saldo tabungan kadang bikin trenyuh juga. Apalagi jika jumlah saldo sudah mulai mengkhawatirkan. Nggak ngapa-ngapain kok uangnya lama-kelamaan menyusut. Hadeuh. Merasa rugi dikit, kan. Nah, dengan aplikasi Sobatku, hal itu tidak akan terulang lagi. Kita bebas menabung dengan nominal berapa saja dan tidak ada pemotongan untuk biaya administrasi. Yeay!

  • Tanpa Saldo Minimal, Boleh Ambil Semuanya

Mungkin hal ini nggak kerasa saat ini. Tapi, giliran tanggal tua banget dan pas lagi butuh-butuhnya, aduh, nominal 20 ribu aja bakal diperjuangkan kok. Lumayan buat beli stok mi instan kan, ya. Haha. Nah, Sobatku tidak menerapkan aturan saldo minimal, alias bisa ditarik hingga 0 rupiah. Eits, tapi jangan lupa untuk kembali menabung ya kalau sudah ada rezeki.

  • Beli Pulsa Gratis. Mau Juga!

Kalau ini sih, jangan ditanya. Lumayan juga kok kalau dipikir-pikir.

  • Tarik Tunai di Alfamart/ Alfamidi. Hore!

Keluarga saya adalah pelanggan Alfamart/Alfamidi. Biasanya, kami berbelanja susu untuk si kecil, popok, dan kebutuhan lainnya. Nah, kebetulan banget kan kalau Sobatku bisa ditarik melalui minimarket ini. Kan jadi nggak repot lagi harus cari ATM kalau kekurangan uang untuk berbelanja. Kalau mau langsung tarik uang secara tunai juga bole-bole aja, Kakak! Siapa tahu, mau beli bakso di pertigaan jalan yang lagi rame-ramenya itu.

  • Transfer Antar Bank Murah

Mau transfer antar bank juga murah sekali dengan menggunakan Sobatku. Jadi, kalau ada keperluan mendadak harus melakukan penyetoran ya tinggal pencet-pencet aja.. smartphone-nya hehehe. Apalagi ini nih, bukibuk yang gemar berbelanja online, daripada ribet harus keluar rumah untuk transfer ke olshop langganan, ya lewat Sobatku ajah.

  • Program Undian dengan Grand Prize 100 Juta

Naaahh, ini nih yang dari awal tadi saya ceritakan. Sobatku juga menyelenggarakan program undian milyaran rupiah sebagai bentuk apresiasi kepada para penggunanya. Selain hadiah grand prize sebesar 100 juta yang digelar setiap 3 bulan, ada pula hadiah bulanan senilai 10 juta, 5 juta, 1 juta, 500 ribu, dan 100 ribu untuk ratusan orang.

Syaratnya gampang saja. Kita hanya perlu menabung dengan rajin karena setiap nominal yang kita tabung akan dihitung sebagai poin. Semakin besar saldo, semakin besar pula kesempatan untuk menang. Sayangnya, hiks, saya belum mengisi saldo Sobatku milik saya sehingga hanya bisa ngiler melihat para pemenang yang beruntung itu.

nabung 2

Cara Menabung

Nah, bagi Anda yang ingin menabung di Sobatku, ada 3 cara yang bisa ditempuh.

Pertama, melalui ATM

Caranya berikut ini:

  • Masukkan kartu ATM dan PIN
  • Pilih Menu Transaksi Lainnya, lalu Transfer, lalu Transfer ke Bank Lain
  • Masukkan kode bank Sahabat Sampoerna yaitu 523
  • Masukkan 16 digit virtual account Sobatku yang bisa dilihat di menu Akun Saya
  • Masukkan nominal yang akan ditransfer
  • Cek kembali nomor tujuan dan nominal transfer
  • Selesai

Kedua, melalui Alfamart atau Alfamidi

Caranya berikut ini:

  • Datanglah ke gerai Alfamart
  • Ajukan permintaan setor tunai di Top Up Loket Sahabat di kasir
  • Sebutkan nomor handphone
  • Berikan uang yang akan ditransfer/disimpan
  • Petugas akan memproses transaksi
  • Jika sukses, kita akan mendapatkan notifikasi di handphone

Ketiga, menabung melalui teman

Caranya berikut ini:

  • Cari teman pengguna Sobatku
  • Berikan uang tunai dan minta menggunakan menu transfer ke sesama sobatku
  • Setelah transfer berhasil, ada notifikasi dan jumlah saldo di akun akan bertambah

Nah, gampang sekali bukan? Jadi, ya tunggu apa lagi sih, yuk yuk kita bisa nabung uang nganggur di Sobatku dan mendapatkan keuntungan yang bisa bikin hari kita menjadi lebih cerah.

Disclaimer:

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Sobatku. Artikel ditulis berdasarkan pengalaman dan opini pribadi.

Surat untuk Anakku

Sudah lebih dari 13 tahun Ibu tinggal di Pulau Jawa ini. Sembilan tahun di antaranya adalah di Jogja, tempat tinggal kita kini. Banyak yang mengatakan, Jogja adalah kota yang sangat indah. Ibu sangat setuju. Itu pula salah satu sebab yang membuat Ibu memutuskan untuk menetap di kota ini.

Sebelum menjadi warga Jogja, Ibu adalah seorang penduduk di pulau kecil yang terletak di sebelah barat Pulau Sumatera. Nama pulau itu Pulau Nias. Jaraknya lumayan jauh dari Jogja. Makanya, Ibu jarang sekali pulang ke rumah.

Semenjak merantau di Pulau Jawa, Ibu baru 3 kali pulang kampung. Pertama, pada saat Ibu menyelesaikan kuliah. Kedua, pada saat kakak Ibu (pamanmu) menikah. Ketiga, pada saat (calon) Ayahmu ingin menjumpai Nenek dan Kakek. Itu semua peristiwa penting yang “memaksa” Ibu untuk menempuh perjalanan jauh.

Seberapa jauh memangnya? Dengan menggunakan transportasi udara atau pesawat, Pulau Nias bisa ditempuh dalam waktu satu hari. Maksud Ibu, kita bisa berangkat dari Jogja pada pagi hari dan tiba di Pulau Nias sore hari, sekitar pukul 15.00 WIB atau 16.00 WIB. Namun, kalau ada masalah penerbangan–delay misalnya–kita bisa saja sampai keesokan harinya.

Melelahkan, ya.

Meskipun demikian, Ibu tak pernah menyesali–justru begitu menyukai–3 kali momen kepulangan tersebut. Masing-masing merupakan pengalaman yang luar biasa dan membuat Ibu ingin mengulangnya.

Karena itu, Ibu dan Ayah pun berencana untuk mengajakmu berkunjung ke Pulau Nias kelak. Pada hari yang tepat dan ketika kita semua sudah siap. Nah, sekaligus sebagai janji Ibu, berikut kira-kira rancangan perjalanan yang akan kita lalui nanti.

Perjalanan Jogja-Nias yang Penuh dengan Drama

Kepulangan terakhir Ibu bersama Ayah diwarnai oleh masalah yang sangat rumit. Bukan, maksud Ibu bukan pada hubungan kami, tetapi pada kondisi penerbangan yang luar biasa melelahkan. Saat itu, ada sebuah peristiwa yang menghebohkan, yaitu delay belasan bahkan puluhan jadwal penerbangan oleh salah satu maskapai.

Salah satu penumpang yang tak beruntung itu adalah Ibu dan Ayah. Sebenarnya, sejak dari Jogja, masalah itu sudah mulai terasa. Misalnya, ketika jadwal penerbangan molor sekitar  1 jam. Sudah begitu, pesawatnya pun bukan pesawat yang tersebut dalam tiket. Namun, kami merasa bahwa hal itu masih wajar-wajar saja.

Dari Jogja, dibutuhkan waktu sekitar 45 menit penerbangan ke Jakarta. Kami tiba di Jakarta sekitar pukul 08.30 WIB. Ya, kita memang harus transit di Jakarta sebelum menuju ke Nias-Gunungsitoli. Pilihan lain, kita bisa memilih untuk transit di Batam. Kami tiba di Jakarta dalam keadaan selamat. Namun, kabar buruknya, Bandara Soekarno-Hatta dipenuhi oleh para penumpang yang terlantar. Mereka sudah lama menunggu pemberangkatan. Tentu saja, kedatangan kami semakin menambah parah suasana.

Saat itu, Ayah dalam kondisi yang agak kurang sehat. Jadi, Ibulah yang berusaha untuk mencari informasi ke sana ke mari. Anehnya, para petugas dari maskapai tersebut pun menghilang. Sangat khawatir, itulah perasaan kami saat itu. Terkatung-katung di tengah ketiadaan informasi itu benar-benar menakutkan.

Setelah menunggu hingga cukup lama, kami pun akhirnya diberangkatkan sekitar pukul 17.00 WIB. Kali ini, kami akan transit di Bandara Kualanamu Medan. Untungnya, kami membeli tiket terusan melalui website tiket.com sehingga penerbangan selanjutnya tidak hangus. Memesan tiket di tiket.com memang sangat praktis dan efektif juga.

Namun, karena penerbangan terakhir ke Pulau Nias hanya dilayani hingga maksimal pukul 15.00 WIB, kami tampaknya terlambat.

Sebenarnya, ada drama yang masih berlangsung di bandara ini. Mulai dari simpang siur informasi mengenai keberangkatan selanjutnya hingga soal penginapan yang belum pasti. Namun, kami akhirnya bisa beristirahat dengan cukup nyaman dan diberangkatkan keesokan paginya ke Bandara Binaka, Gunungsitoli, Pulau Nias.

Menyusuri Pantai hingga Wisata Kuliner

Anakku, orang Nias menyebut dirinya, “Ono Niha” atau bermakna “Anak Manusia” dalam bahasa Indonesia. Entahlah, Ibu juga kurang mengerti asal-usul nama tersebut. Yang Ibu tahu, sebagai masyarakat yang tinggal di daerah paling barat di Indonesia, Ono Niha itu unik.

Salah satu di antaranya adalah bahasanya yang (katanya) sulit untuk dipelajari oleh penduduk luar. Ayah saja saat itu baru bisa mengucapkan salam khas Ono Niha, yaitu “Yaahowu!”

Selain keunikan bahasanya, kamu perlu tahu bahwa kamu adalah seorang “anak pantai” dan “anak gunung” sekaligus. Mengapa Ibu mengatakan demikian? Karena tempat tinggal Ibu berada di dataran tinggi, tetapi setiap hari Ibu selalu menyusuri pantai. Jalan raya dari rumah kita menuju kota adalah tepat di pinggir pantai. Debur ombak bukan lagi hal yang asing, begitu pula bau asin lautan di udara. Dengan kondisi ini, meskipun Ibu tidak bisa berenang dan hanya sesekali main ke pantai, rasanya masih boleh menyebut diri sebagai anak pantai.

Ketika Ayah datang ke Nias, Ibu pun tak ketinggalan mengajaknya berkunjung ke pantai. Saat itu, kami memang memiliki waktu sedikit di sela-sela persiapan acara yang sangat padat. Bukan hanya sekali, bahkan dua kali Ayah menikmati suasana pantai di Nias. Yang sekali lagi bersama keluarga besar kita.

Sebagai daerah di pinggir pantai, Ibu tumbuh sebagai pecinta makanan laut, khususnya ikan laut. Hampir setiap hari, Ibu makan ikan. Harganya jangan ditanya, murah sekali. Mungkin itu pula sebabnya kamu suka makan ikan. Hehe.

Selain ikan, ada banyak kuliner yang menggugah selera di Nias. Salah satu kesukaan Ibu adalah miesop. Favorit Ibu adalah salah satu warung mie sop di pinggir pantai di pusat kota. Saat Ibu mengajak Ayah ke sana, ia suka sekali. Rasanya memang lezat. Setelah lidah dimanjakan oleh miesop yang menggugah itu, kami juga menikmati es campur yang rasanya tak kalah maknyus. Kalau saat itu kamu sudah ada, kamu pasti akan suka juga, Nak.

Sayangnya, kami hanya beberapa hari di Nias. Namun, pengalaman itu adalah pengalaman yang menarik, khususnya bagi Ayah. Sayangnya lagi, Ayah belum sempat berkunjung ke tempat-tempat wisata yang sebenarnya terkenal di Nias.

Pulau Nias dan Objek Wisatanya yang Tersembunyi

Lihat saja pengalaman Ibu dan Ayah yang penuh perjuangan untuk tiba di Nias. Tentu bagi orang-orang yang belum pernah ke Nias, hal ini pasti akan lebih menegangkan lagi. Tak salah jika Ibu menyebut pulau nenek moyangmu ini sebagai pulau tersembunyi. Mungkin, hanya orang-orang nekat saja yang berani memutuskan untuk datang ke Nias.

Nah, jika kelak kamu ikut pulang ke rumah kita di Nias, Ibu akan mengajakmu ke sebuah daerah yang disebut Teluk Dalam. Ini merupakan daerah yang terkenal dengan objek wisatanya. Dari Kota Gunungsitoli, Kota Teluk Dalam bisa dijangkau dengan waktu 3-4 jam perjalanan. Bila jalan raya sudah agak mulus, sepertinya waktu tersebut masih bisa dipangkas.

Di Teluk Dalam, kamu bisa melihat dengan jelas kebudayaan orang Nias yang masih kental. Mulai dari berkunjung ke Bawomataluo, sebuah desa yang terletak di ketinggian dan dipenuhi oleh rumah adat Nias, hingga bersantai di pinggir Pantai Lagundri yang eksotis.

FB_IMG_1505663575153
Kampung Bawomataluo
FB_IMG_1505663632013
Rumah Adat Nias

Di Bawomataluo, selain melihat kemegahan rumah adat Nias yang ditopang oleh beberapa tonggak berdiameter lebih dari sepelukan orang dewasa bernama, “Ehomo”, pengunjung pun dapat menikmati atraksi budaya yang dikenal dengan nama Lompat Batu atau Fahombo Batu.

Fahombo Batu adalah salah satu kebudayaan orang Nias yang maknanya adalah tanda kedewasaan seorang remaja laki-laki. Atraksi ini adalah dengan melompati batu setinggi 2 meter hanya dengan bantuan sebuah batu kecil sebagai tempat berpijak. Dahulu, ini merupakan prosesi yang penting, tetapi seiring perkembangan zaman, atraksi ini kini sebatas pertunjukkan saja.

FB_IMG_1505663651001
Atraksi Lompat Batu
FB_IMG_1505663643024
Bersama pelompat batu yang mengenakan pakaian adat Nias

Ibu tak bisa bayangkan jika masih berlaku, kamu tentu harus menjalaninya pula. Aduh, cukup khawatir juga melihat batu yang berdiri tegak itu.

Nah, dari Bawomataluo, perjalanan akan dilanjutkan ke pinggir pantai. Sebenarnya, ada banyak pantai di sekitar daerah ini. Namun, ada beberapa yang sudah dikelola dan menarik banyak pengunjung. Salah satunya di Pantai Lagundri.

FB_IMG_1505663622972
Pemandangan dari pinggir pantai

Selain duduk-duduk santai, aktivitas lain yang bisa dilakukan di pantai-pantai di Nias adalah berselancar air. Ya, karena daerah ini terletak berbatasan dengan Samudera Hindia, ombaknya sangat tinggi. Tak heran, banyak peselancar, baik warga asing maupun warga lokal, memanfaatkannya. Di kejauhan, kita akan bisa melihat mereka menari di permukaan lautan yang bergelombang. Ah, seru sekali pokoknya.

Situasi dan kondisi di sekitar pantai juga masih asri dan sebagian besar belum tersentuh oleh perkembangan zaman. Jadi, ingin membawa bekal sambil bercengkerama bersama keluarga akan sangat menyenangkan.

Jika kita sempat berkunjung ke sana nanti, Ibu yakin kamu akan sangat senang dan bahagia. Bebas berinteraksi dengan alam sambil menikmati indahnya ciptaan Tuhan.

Nah, itu saja cerita Ibu yang belum sempurna detailnya. Ibu berharap, hal itu membuat kamu semakin tertarik untuk datang dan menyaksikan sendiri indahnya Pulau Nias, sebuah surga yang tersembunyi.*

FB_IMG_1505663457768
Berkunjung ke pantai sore-sore

Tips Efektif Mengatasi Rasa Bosan

Pernah merasa bosan? Saya sering. Apalagi jika melakukan pekerjaan yang sama terus-menerus. Meskipun–menurut saya–kebosanan itu datang kalau kondisinya udah “keterlaluan”.

Intinya, saya bukan orang yang mudah bosenan. Sampe bener-bener nggak kuat, baru nyerah. Itu juga biasanya masih disertai dengan keraguan-keraguan, seperti, “Ah, saya terlalu cepat menyerah….”

Nah, tapi ada juga yang cepet merasa bosan. Saya punya temen yang kayak gitu. Dan kadang-kadang, saya heran (sekaligus bingung) bagaimana cara supaya bisa membuatnya nggak cepat merasa bosan.

Kalau saya sih, ada beberapa tips yang biasanya akan saya lakukan untuk mengatasi rasa bosan. Ini dia:

Ganti Aktivitas

Yap, cara pertama yang bisa kamu lakukan untuk bebas dari rasa bosan adalah mengganti aktivitas (yang membuatmu bosan). Misalnya, kamu sedang tidur-tiduran sambil melamun. Eh, lama-kelamaan kok bosen juga. Ya, udah. Bangun dong. Beresin tempat tidur dan lakukan aktivitas lain. Jogging, misalnya?

Lakukan Aktivitas Ringan

Kebosanan biasanya menyerbu saat kamu melakukan aktivitas serius dan butuh perhatian. Karena itu, ubahlah jenis aktivitasmu. Lakukan beberapa aktivitas ringan (dan menyenangkan) yang kamu sukai. Misalnya, sekadar berjalan-jalan di taman sambil menikmati suara burung berkicau.

Ngumpul Sama Teman

Bosan karena sendirian? Ngumpul aja sama teman. Ajaklah mereka untuk hang out ke kafe yang baru buka atau melakukan kegiatan seru bersama. Dijamin deh, rasa bosanmu pasti akan langsung menjauh.

Lakukan Kegiatan Amal

Eits, jangan anggap kalau kegiatan amal itu sesuatu yang rumit dan butuh persiapan. Bisa kok kamu melakukan sesuatu yang sederhana–dan tentunya bermanfaat–untuk orang-orang yang membutuhkan. Misalnya, berkunjung ke panti asuhan, Di sana, kamu akan bisa melihat perspektif yang baru.

Travelling

Ini adalah cara yang cukup efektif untuk mengatasi rasa bosan. Lakukanlah travelling, baik solo maupun bersama-sama ke tempat-tempat yang menyenangkan. Kamu bisa pilih suasana alam yang memesona dan menantang atau ke tempat-tempat bersejarah. Intinya adalah menyegarkan pikiran dengan melihat pandangan yang berbeda.

Tidur

Apabila semua hal tersebut tidak memungkinkan untuk dilakukan, masih ada satu cara lagi yang dapat mengusir rasa bosanmu, yaitu tidur (atau beristirahat). Rasa bosan disebabkan karena kamu tidak lagi fokus pada sesuatu yang sedang dikerjakan. Daripada tidak produktif, lebih baik kamu menginvestasikan waktu untuk beristirahat sehingga pikiran bisa segar kembali.

Nah, bagaimana dengan kamu, apa cara favoritmu untuk mengatasi rasa bosan?

Nyesel, Kenal Uri-Cran Kok Baru Sekarang…

Produk Uri-cran
Sumber gambar: screenshot dari uricran.co.id

Seorang teman pernah bilang begini, “Ternyata, menjadi wanita itu ribet banget yaa..” Pernyataan ini tiba-tiba ia lontarkan setelah mendengar kabar banyak wanita yang meninggal karena diserang penyakit mematikan, seperti kanker serviks, kanker payudara, dan sebagainya.

Ia juga kenal beberapa orang yang masih bergumul mati-matian untuk pulih dari penyakit-penyakit tersebut. Banyak di antara mereka–meskipun sudah dinyatakan sehat–tidak se-strong sebelumnya.. Jadi, pernyataannya bisa dibilang ada benarnya juga.

Namun, jangankan penyakit mematikan seperti itu, pada keseharian saja juga banyak wanita yang mengeluh karena kesehatannya. Contoh sederhana, menderita rasa kram yang berlebihan pada saat haid. Atau tulang yang terasa mulai ringkih akibat kekurangan kalsium. Termasuk dalam hal ini, anyang-anyangan.

Pernah nggak kamu mengalami anyanganyangan? Kalau ada yang belum tahu, anyang-anyangan adalah sebuah kondisi di mana kita sudah BAK (buang air kecil) tapi terasa belum selesai. Kayak masih ada yang tertinggal, tetapi sebenarnya udah nggak ada. Anehnya, selang beberapa waktu kemudian, rasa pengen BAK muncul lagi… Kan, kzl!

Saya beberapa kali mengalami ini, sodara-sodara! Dan, tentunya sangat tidak nyaman. Apalagi karena setiap hari saya harus beraktivitas di luar rumah alias di kantor. Sebagai pekerja 9 to 5, kondisi ini sungguh mengganggu. Beneran.

Karena tampaknya bukan penyakit “parah”–dan dasarnya saya memang males ke dokter (jangan ditiru, ya!)–saya biarin saja deh hal itu berulang beberapa kali. Padahal ya, anyang-anyangan adalah pertanda tidak baik karena bisa jadi merupakan gejala Infeksi Saluran Kemih. Duh, kalau namanya udah infeksi, apa nggak bikin gemetar, bukibuk?

Sebenarnya, apa sih penyebab anyanganyangan? Saat saya hamil, saya juga mengalami anyang-anyangan, tepatnya di trimester ketiga kehamilan. Menurut yang saya baca, ini wajar karena kandungan makin membesar sehingga menekan kandung kemih. Ibaratnya, tempat penampungan urine makin sempit sehingga ibu pun harus bolak-balik ke kamar mandi.

Yang perlu diwaspadai adalah ketika anyang-anyangan terjadi sebelum itu atau bahkan saat tidak hamil. Apalagi jika ditambah dengan rasa sakit buang air kecil. Wah, itu berarti gejala ISK sudah semakin jelas. Sebaiknya, perlu dilakukan tes urine.

[Sebenarnya, penyebab sakit saat buang air kecil adalah akibat infeksi tersebut. Kalau sudah sampai pada tahap ini, selain tidak nyaman, juga berbahaya bagi kesehatan kita.]

Tes urine sebenarnya sederhana, kok. Kita hanya perlu menyerahkan sampel urine untuk diperiksa di lab. Hasilnya juga cepat dan biayanya murah. Jadi, nggak perlu takut seandainya dokter menyarankan untuk melakukan tes urine untuk memastikan apakah benar kita mengalami ISK.

Namun, lagi-lagi karena keras kepala dan kadang-kadang menyepelekan sesuatu, saya justru mengambil tindakan yang sangat tidak tepat. Cara mengatasi anyanganyangan yang SALAH yang saya lakukan (sekali lagi, bukan untuk ditiru!) justru adalah:

  • Menggunakan pantyliner. Okelah, ini bisa membuat saya lebih nyaman pada saat harus ngantor. Saya hanya perlu menyediakan stok yang banyak untuk ganti sesering mungkin. Tapiii… sejauh mana kondisi ini bisa bertahan? Bukankah itu berarti saya hanya mengatasi akibatnya, tetapi bukan sumbernya? Kan lucu kalau berharap sembuh.
  • Mengurangi minum. Ya, ampun, kalau dipikir-pikir lagi, ini keputusan paling buruk yang pernah saya buat. Jadi, logikanya, karena nggak mau bolak-balik ke toilet untuk BAK,  saya merasa lebih baik jika mengurangi minum sekalian. Apalagi pada malam hari ketika saya butuh istirahat yang berkualitas. Maksudnya untuk mengurangi frekuensi BAK, eh ternyata malah menyebabkan dehidrasi. Ginjal juga jadi terkena dampaknya. Hmmm..

Lalu, saya pun mendengar sebuah solusi jitu, yaitu Prive Uri-cran. Berbahan dasar tanaman, yaitu ekstrak cranberry, suplemen ini disebut bisa membantu memelihara kesehatan saluran kemih. Ada 2 jenis yang tersedia, yaitu kapsul dengan dosis minum 1-2 kapsul per hari. Ada pula Prive Uri-cran Plus berupa powder sachet dan diminum 1-2 sachet per hari.

Ekstrak cranberry yang mengandung proantocyanidin ini bisa menangkap bakteri e.coli yang awalnya hendak menempel di dinding saluran kemih dan menyebabkan infeksi. Jadi, dengan rutin meminum Prive Uri-cran, anyang-anyangan bisa dicegah deh hehehe.

Ah, seandajnya dari dulu saya sudah mengenal Uri-cran, mungkin saya nggak perlu melakukan hal yang kurang bijak dan tidak baik untuk kesehatan ini. Saya juga bisa mengatasi susah buang air kecil dengan cara yang lebih mudah, praktis, sekaligus alami..

Maafkan saya, tubuh! Sekarang, saya mau deh nyobain Uri-cran supaya terhindar dari anyang-anyangan dan kesehatan tetap terjaga. Kamu juga, ya.