[Resensi Buku] Meraih Mimpi di Lapangan Hijau

Sepak bola menjadi titik balik kemampuanku setelah entah sudah berapa ratus kali kalah dalam pertarungan Tazos, Bayblade, maupun Tamiya. Setelah menemukan passion itu, aku harus berjuang untuk bersama Bang Jep demi mencairkan tim sepak bola Garuda Baja yang sudah setahun dibekukan. Jatuh bangun kami menghidupkan tim kembali…

Duh, kok jadi kayak lagu.

Persatuan dan kesatuan kami diuji ketika kekalahan dan hal lain menghampiri. Rupanya, strategi dan kemampuan saja tidak cukup. Kerja sama sangat dibutuhkan. Apalagi setelah sebagian besar anggota ada yang dapat kontrak iklan sosis dan kacang atom, kumat main PS, milih nemenin ceweknya, piala Wali Kota makin berat didapat.

Kami adalah sekumpulan pejuang di lapangan.

“Di lapangan, kita satu tim. Di luar lapangan, kita sahabat!”

♣♣♣

Judul: Wrecking Eleven

Penulis: Haris Firmansyah

Penerbit: PING!!!

Tahun terbit: 2015

ISBN: 978-602-279-179-9

Tebal: 180 halaman

♣♣♣

I love this book!

Itulah kesan yang saya simpulkan setelah menyelesaikan pembacaan Wrecking Eleven. Saya akan membeberkan satu persatu alasan mengapa saya menyukai buku ini.

Tema

You know, tema sebuah novel sangat penting. Banyak orang ingin mengetahui tema apa yang diangkat dalam sebuah kisah sebelum membeli atau membaca sebuah buku. Mengapa? Ya, karena dengan mengetahui tema kita memastikan apakah buku itu menarik bagi kita atau tidak. Misalnya, ada yang suka tema tentang olahraga, pasti akan menggemari buku-buku olahraga. Sebaliknya, jika seseorang sangat mencintai dunia kuliner atau travelling, pasti akan sangat suka kisah tentang kedua hal itu. Jadi, tema itu sangat menentukan. Tema yang diangkat oleh penulis adalah tentang sepak bola, sebuah olahraga yang bagi sebagian orang sangat membius. Bahkan, banyak pula penggemar olahraga yang sangat fanatik terhadap aksesori yang berkaitan dengan klub yang diidolakannya. Ini sebuah peluang bukan? Dan, saya rasa penulis mampu melihat bahwa sepak bola adalah peluang yang patut segera dimanfaatkan.

Dalam pembawaannya, novel ini tetap gaul alias tidak terlalu teoritis. Sebagai pembaca awam–yang tidak terlalu suka sepak bola–saya masih bisa menikmati novel ini.

Penceritaan

Jika berbicara tentang penceritaan, setiap penulis punya gaya masing-masing. Saya kira, itu bebas aja dan merupakan hak segala orang. Tidak ada pula gaya bercerita yang lebih baik daripada yang lain. Namun, menurut saya, gaya bercerita yang paling oke adalah ketika saya bisa memahami sebuah cerita dengan cepat tetapi tidak juga terlalu dangkal. Ada sih beberapa buku mikir yang saya suka, tapi tentunya itu terbatas saja. Mampu memahami ide cerita dan menikmati aliran cerita melalui gaya bercerita penulis adalah kemewahan dalam sebuah novel. Pasti males bukan kalau udah beli sebuah buku tapi ternyata isinya biasa saja atau justru berat banget.

Jadi, melalui penceritaan penulis, saya bisa menikmati kisah dalam novel ini dengan cukup tenang. Kalimat-kalimatnya disusun dengan rapi dan singkat. Penulis terlihat sangat jeli memikirkan bagaimana cara supaya pembaca tidak mudah bosan sekaligus tetap melanjutkan pembacaan sampai selesai.

Bukan hanya itu, penulis pun menyelipkan berbagai humor yang cukup menghibur ketika ia bercerita. Misalnya pada lembar-lembar pembuka ketika ia menjelaskan masa kecil Seto yang selalu ketinggalan mode soal mainan.

Yang keluar bukannya Pikachu, malah emaknya Rahmet. Langsung menjewer kuping anaknya. “Bangor banget lu jadi bocah. Disuruh beli mecin, malah mainan tazos!” bentak emaknya Rahmet. “Emang lu mau makan pakek sayur tazos?” Hal.8

Lihat juga dalam rangkaian kalimat berikut

Bersama, aku dan Mulyadi memberanikan diri mengetuk pintu rumah Pak RT. Apakah yang akan menyambut kami di balik pintu ini? Apakah uang tunai sebesar sepuluh juta rupiah? Ataukah, hanya zonk berupa sandal jepit sebelah doang yang dilempar Pak RT ke muka kami? Hal. 23

Apakah Anda ingat adegan apa yang mirip dengan gambaran ini? Yaa.. Anda benar. Acara yang meminta pesertanya menebak ruangan mana yang berisi hadiah atau zonk. Ah, kok acara itu nggak ada lagi, ya..

Anyway, masih banyak banget hal-hal menarik yang disuguhkan penulis melalui penceritaannya. Sebagian akan membuat kita kaget dan tertawa. Mungkin sebagian lagi rasanya seperti familiar karena memang sering kita dengar dalam keseharian. Itulah menariknya. Menggabungkan kisah dalam novel dengan apa yang kita alami sehari-hari membuat novel ini tidak asing justru akrab dan kita bisa masuk ke dalamnya.

Hikmah

Apalah gunanya sebuah cerita bila tidak ada tujuannya. Meskipun sederhana, novel ini mengandung banyak hikmah. Termasuk di dalamnya, bagaimana menjadi anggota tim yang profesional tanpa kesibukan yang mengganggu kinerja tim seperti iklan sosis dan kacang atom. Di sisi lain, novel ini juga mendorong pembacanya untuk berjuang meraih mimpi sesuai passion kita. Tetap semangat dan tetap berusaha, bahkan bila kondisi tidak mengizinkan dan orang-orang tidak mendukung.

Saya rasa novel-novel ringan seperti inilah yang dibutuhkan oleh para generasi muda. Tidak menggurui ataupun menghakimi. Memang begitu adanya kondisi zaman sekarang dan kita harus menerima serta beradaptasi dengannya.

Oh, ya, meskipun bercerita tentang anak-anak muda yang hobi sepak bola, bumbu-bumbu romantisme pun tak ketinggalan. Sedikit sih, tapi sudah cukup kok, menurut saya.

So, tunggu apalagi, novel ini lumayan banget, lho untuk menemani weekend. Tapi, jangan salahkan saya ya kalau kamu nanti jadi sering tersenyum-senyum sendiri saat membacanya 🙂 .

Iklan

[Piknik] Nonton di Cinemaxx

Bagi kami, nonton di bioskop itu semacam kemewahan tertentu. Bukan hanya soal uang, tetapi waktu. Biasanya kalau sore udah capek plus ada kerjaan juga. Jumat, 21 Agustus 2015, saya dapat informasi mengenai promo yang diadakan Cinemaxx dalam rangka apa ya… kalau nggak salah HUT RI.

Promonya adalah buy 1 ticket get 1 ticket di Cinemaxx. Dan promo ini hanya berlaku sampai 24 Agustus. Oh my… Tinggal bentar lagi dong. Berhubung itu hari Jumat dan besok2nya ada rencana lain, ya akhirnya kami memutuskan untuk nonton malemnya. Waktu merencanakannya singkat banget. Tau-tau sama-sama setuju aja. Sebelumnya, saya udah mencari jadwal yang paling pas, 20.30 wib. Cocok. Bisa pulang dulu, beres-beres, mandi, dan berangkat.

Cinemaxx di Jogja ada di mall baru, Lippo Mall. Karena baru kali ini ke mall itu, kami sempat tersesat menuju lantai 1 dari ground floor. Setelah nanya sana sini, akhirnya kami menemukan tulisan Cinemaxx. Sepi. Nggak ada yang ngantri. Karena belum tau gimana dan dimana harus beli tiket, kami beberapa saat berdiri di depan loketnya. Di board di atas petugasnya ada semacam menu seperti di restoran cepat saji. Saya merasa salah membeli tiket nonton di sini. 😦 Tapi, dengan senyuman manis, si petugas menyilakan kami dan menanyakan kebutuhan kami. Sweet banget deh.

Nah, setelah tiket ada di tangan, kami sempat berkeliling sebentar. Liat-liat sendal dan akhirnya beli untuk bapak mertua yang udah pesen. Kapan lagi ada waktu untuk cari-cari. 20.30 kami masuk ke studio 1 dan nonton MI5. Yess, Tom Cruise masih memukau seperti biasa. Dan yang menghibur.. Benji? Benji? Hmm, good movie-lah. Senang liat dia menikmati film itu. Yaiyalah, dari pada animasi.

Besok nonton Inside Out yaa, Mik? *keeptrying*

Untuk studio Cinemaxx, saya bisa bilang, lumayan suka juga. Dominasi warna oranye di kursinya menyegarkan. Ruangannya nggak terlalu besar. Hanya saja, saya salah milih tempat. Jadi, malah milih nomor besar dan itu terletak jauh dari pintu keluar. Oke, gpp kali ini. Sound-nya? Mancap. AC-nya juga nggak terlalu dingin. Aihh.

Film selesai sekitar pukul sebelas lebih. Udah sepi banget. Pas mau turun dari lantai 4, liftnya penuh. Cuma ada 2 ternyata. Orangnya bejubel. Jadi, ya nunggu agak lama. Agak kurang praktis sih sebenarnya. Anyway, suka pengalaman yang ini. Semoga besok masih ada kesempatan. Amin.

[Piknik] Pasar Kangen 2015

Haee.. apa kabar? 😀

*Kayak prolog surat aja*

Oke, saya mau share dikit tentang pengalaman mengunjungi Pasar Kangen yang tahun ini berlokasi di TBY (Taman Budaya Yogyakarta). Lokasinya sama sih dengan tahun kemarin. Jadi, yang pernah ke PK tahun kemarin pasti udah ngerti lah ya. Kalau yang belum tau TBY itu dimana? Emm, kamu dapat mencarinya di dekat Shopping Centre (yang jual buku-buku) atau Pasar Beringharjo. Kira-kira itulah tempat yang lumayan populer bagi wisatawan luar Jogja.

Pasar Kangen adalah sebuah even tahunan yang ingin memuaskan keinginan generasi masa kini terhadap hal-hal yang bersifat tradisional, khususnya kuliner. Di even ini, kita akan menjumpai beragam makanan khas Yogyakarta yang jarang dijumpai di resto-resto mewah. Kalau dulu sih (atau mungkin sekarang masih ada) kita bisa menemukan aneka kuliner ini di pasar tradisional dan dikonsumsi sehari-hari.

Saya dan mantan pacar tanpa rencana datang ke PK pada hari Selasa, 25 Agustus 2015. Ini tanpa rencana karena hanya ingin mengisi waktu luang saja. Kebetulan juga hari itu pembukaan PK. Pulang kerja, balik rumah, siap-siap, baru berangkat lagi ke TBY. Anehnya, mungkin karena udah kelaperan, kami memutuskan untuk makan dulu di rumah.

Helooo, kita ini mau ke even kuliner, kan? Iya kan?

Okelah, mungkin itu bedanya piknik anak muda dengan pasangan muda yang mikirnya kepanjangan alias tak mau ambil risiko. Pengalaman tahun lalu, udah habis berapa tapi masih belum kenyang juga. So, diputuskanlah untuk makan besar dulu di rumah dan mencari dessert di PK. Halah.

Kami tiba di TBY sekitar pukul 7. Hmm, udah rame banget situasinya. Orang-orang berdesakan mencari makanan yang disukainya. Stand makanannya pun lumayan full. Macem-macem isinya, mulai dari jajanan pasar, sate, soto, nasi angkringan, dsb. Kita tinggal nunjuk dan bayar deh.

Mungkin karena perut udah terisi, kami jadi bingung mau makan apa. Setelah muter sekali, saya pun memutuskan untuk membeli semacam bubur sumsum yang isinya singkong. Enak dan hangat. Sempat tumpah juga karena nabrak-nabrak (atau ditabrak) pengunjung lainnya.

Setelah itu, kita nyari tempat duduk. Di sana, memang tempat duduknya nggak terlalu banyak. Stand-stand makanan ada juga yang menyediakan tempat duduk sendiri untuk makan bagi pengunjung, ada yang menggelar tikar. Tapi, lebih banyak yang berjalan ke sana ke mari memburu makanan kesukaannya.

Untunglah, dua-duanya udah dapet kursi. Tapi, dia belum beli apa-apa. Masih bingung juga. Lalu, pertunjukkan dimulai. Kalau nggak salah, ada grup keroncong namanya OPM. Kepanjangan OPM? Lupaa.. hehehe. Kirain sih ini cuma grup keroncong biasa, ternyata campur guyonan juga. Jadi, mereka memadukan musik dengan bercanda alias komedi. Seruu. Lucu. Dia beberapa kali terbahak-bahak. 🙂 🙂

Setelah selesai, kami pun memutuskan untuk pulang. Sebelum pulang, saya mencari teman yang kebetulan buka stand di sana. Jualannya batik tulis dari Purbalingga. Waw, sukses ya, Ce. Semoga banyak yang beli. Oh, ya, di sana juga banyak yang jualan macem-macem mulai dari produk kreatif sampai produk jadul nan unik.

Sekitar pukul 9, kami pun balik. Dan… dia masih belum membeli apa-apa….

[Review Buku] Bertemu Lima Orang Penting

Eddie bekerja di taman hiburan hampir sepanjang hidupnya, memperbaiki dan merawat berbagai wahana. Tahun-tahun berlalu, dan Eddie merasa terperangkap dalam pekerjaan yang dirasanya tak berarti. Hari-harinya hanya berupa rutinitas kerja, kesepian, dan penyesalan.

Pada ulang tahunnya yang ke-83, Eddie tewas dalam kecelakaan tragis ketika mencoba menyelamatkan seorang gadis kecil dari wahana yang rusak. Saat mengembuskan napas terakhir, terasa olehnya sepasang tangan kecil menggenggam tangannya. Ketika terjaga, dia mendapati dirinya di alam baka. Dan ternyata Surga bukanlah Taman Eden yang indah, melainkan tempat kehidupan manusia di dunia dijelaskan oleh lima orang yang telah menunggu. Lima orang yang mungkin orang-orang yang kita kasihi, atau bahkan orang-orang yang tidak kita kenal, namun telah mengubah jalan hidup kita selamanya, tanpa kita sadari.

♣♣♣

Judul: The Five People You Meet in Heaven

Penulis: Mitch Albom

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: 2007

ISBN: 978-979-22-1349-2

Tebal: 208 halaman

♣♣♣

Setiap orang pasti akan meninggal. Hanya saja, kita tidak tahu kapan waktunya. Berangkat dari ide tersebut, Mitch Albom meramu kisah yang luar biasa. Tersebut seorang lelaki–Eddie–penjaga wahana permainan di Ruby Pier. Usianya di dunia ini tersisa 50 menit saja. Kebetulan, hari yang diceritakan itu adalah ulang tahun Eddie yang ke-83. Eddie bekerja seperti biasa, sebagai maintenance. Sisa hidup Eddie yang tinggal sedikit itu ternyata berisi sebuah peristiwa besar. Peristiwa yang berkaitan dengan penyesalan terbesar mantan prajurit yang kini kakinya tak bisa normal lagi.

Setelah Eddie meninggal, kisah tidak serta merta selesai. Justru, penulis mulai meraih satu-persatu benang merah yang ia tinggalkan sebelumnya. Satu demi satu ia simpulkan seolah-olah itulah waktu yang tepat. Di alam baka tersebut, Eddie bertemu dengan lima orang yang paling berpengaruh dalam hidupnya.

Kita sering berpikir dengan dangkal bahwa orang-orang yang kita kenal saat inilah yang sepenuhnya menjadi bagian dari kehidupan kita. Dengan sangat lihai, Mitch Albom membantah pengetahuan umum itu. Bahkan, orang-orang yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya, bisa pula menjadi bagian dari kehidupan kita yang sederhana ini. Rumit sekali jika dibayangkan hubungan-hubungan yang terjadi.

Di dunia nyata, hal itu tidak mustahil. Seberapa sering kita berkenalan dengan seseorang dan ternyata ia adalah kakak dari sahabat kita di masa lalu? Atau teman dari guru les idola kita? Katanya, dunia ini sempit. Kita bersinggungan dengan orang-orang yang sejatinya memiliki kaitan dengan kita. Dan bukan hanya berkaitan, orang-orang tersebut bisa jadi mempengaruhi jalan kehidupan kita.

Bermain-main dengan alur maju mundur membuat pembacaan novel ini sangat menarik. Kita memang harus belajar untuk fokus–dan itu bukan hal yang sulit, permainan kata Mitch Albom yang sangat indah akan mendukung kita melakukannya. Saya hanya ingin terus memakukan mata pada baris-baris kalimat Albom, berharap tak ada satu pun yang terlewatkan.

Bicara secara menyeluruh, novel ini sangat kaya. Memang rasanya kurang masuk akal. Bagaimana mungkin Surga bisa seperti itu? Albom memang belum pernah ke Surga. Namun, esensi dari karyanya ini benar-benar tercapai dan jelas sekali. Siapa yang kira-kira akan kita temui pada waktunya kita sudah mati? Apakah yang akan mereka katakan jika nanti mereka menjelaskan jalan hidup kita yang tampaknya tak berarti?

Atas cerita dari pamannya sendiri, Albom meramu sebuah kisah yang bukan hanya menginspirasi tetapi juga memotivasi. Tentu saja dengan menanamkan kesadaran dalam diri pembaca masing-masing bahwa hidup yang sekali ini sungguh tak layak untuk disia-siakan. Jika pun kita merasa itu sia-sia, kita hanya belum tahu siapa yang merasa beruntung karenanya.

Kadang-kadang kalau kau mengorbankan sesuatu yang berharga, kau tidak sungguh-sungguh kehilangan itu. Kau hanya meneruskannya pada orang lain. The Five People You Meet in Heaven – halaman 97

[Review Buku] Manisnya Kesempatan Kedua

You know you’re in love with the right person when falling in love with him turns you into the best version of yourself.

Setiap pasangan punya cerita masing-masing, kadang manis, kadang juga pahit. Enam tahun setelah Divortiare dan dua tahun setelah Twivortiare, Alexandra dan Beno kembali hadir melalui akun Twitter @alexandrarheaw. Melalui buku ini, kita kembali diajak “mengintip” kehidupan mereka sehari-hari, pemikiran Alexandra yang witti dan selalu apa adanya, bahkan merasakan langsung interaksi antar karakter-karakter yang diceritakannya. Membaca Twivortiare 2 seperti mendengarkan sahabat sendiri bercerita tentang manis dan pahitnya hidup, tentang pilihan, kesalahan masa lalu, dan tentang makna sesungguhnya dari kesempatan kedua.

♣♣♣

Judul: Twivortiare 2

Penulis: Ika Natassa

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: 2014

ISBN: 978-602-03-1136-4

Tebal: 488 hlm

♣♣♣

Saya telah membaca hampir semua novel Ika Natassa, kecuali Underground. Waktu itu, saya menemukan A Very Yuppy Wedding dan Antologi Rasa. Merasa cocok dengan cara berceritanya yang simple dan ringan, saya pun melacak buku-buku lainnya. Puas. Itulah perasaan saya ketika menyelesaikan seluruh kisahnya.

Twivortiare 2 adalah lanjutan dari cerita tentang Alexandra dan Beno. Karena ini lanjutan, berarti seharusnya kita membaca bagian sebelumnya, ya? Menurut saya nggak apa-apa sih kita baca dulu yang ini baru kemudian nanti mencari bagian yang sebelumnya. Secara pribadi, hal itu menolong saya untuk lebih “awas” ketika membaca buku sebelumnya. Seolah-olah, saya sudah melihat ke masa depan tokoh ini, dan segala yang dilakukannya sekarang menjelaskan semuanya. Tapi itu saya. Agak aneh memang. 😀

Oke, kita bahas bukunya.

Novel ini bercerita tentang kehidupan seorang banker dan seorang dokter yang telah mengalami pasang surut. Mereka pernah bercerai, lalu kembali menikah. Namun, bukan berarti tantangan dalam hidup selesai. Mereka masih berjuang untuk mendapatkan anak dalam perkawinan tersebut. Banyak hal dalam buku ini sangat menyerupai kenyataan, seperti bagaimana perasaan seseorang ketika ia “selalu” ditanyai soal keturunan. Manusiawi banget jika si Alex ini akhirnya males kalau ada pertemuan-pertemuan keluarga.

Masih seperti buku sebelumnya, Twivortiare 2 menggunakan konsep bercerita ala Twitter. Dimana, Alex ngetwit aktivitasnya–termasuk berkaitan dengan suaminya, Beno. Perasaannya sebagai wanita, keinginan, dan harapannya terlihat jelas dalam cuitan-cuitannya. Kita bisa mengenal Alex dan mengimajinasikan sosoknya hanya dengan menelusuri jejak-jejak di akun Twitternya.

Anyway, ini memang novel dewasa. Ada beberapa istilah yang hanya orang dewasa yang tahu dan sadar. Yang masih anak-anak? Jangan dulu ya, Nak. Hehe.

Secara keseluruhan, saya menyukai konsistensi Ika Natassa dalam tulisannya. Meskipun ada satu hal yang mengganjal, tentang bagian yang ada bahasa Jawanya. Rasanya belum pas aja di telinga. Mungkin karena terlalu sedikit ya. Hehehe.

Bagian favorit adalah ketika Alex melakukan mirror exercise pada Beno yang lempeng dan minim ekspresi. Rasanya, saat membaca adegan itu, saya sedang melihat Beno yang mati-matian berusaha keras mengetahui apa yang sedang terjadi pada istrinya itu. Dan mukanya pasti memelas banget. Hehehe.

Oh, iya, saya rasa, anak kuliah Sastra Indonesia perlu nih menjadikan Twivortiare sebagai bahan skripsi. Ini kan hal baru di dunia Sastra Indonesia. Kalau dulu sih saya pakai buku Icha Rahmanti, Cintapuccino karena menurut banyak pihak, itu adalah salah satu tonggak kebangkitan chicklit di Indonesia. *malah curcol*

Buku ini layak dibaca. Jangan sampai ketinggalan.

[Review Buku] Cara Melupakanmu

Judul: Caraphernelia – What If I Can’t Forget You?

Penulis: Jacob Julian

Penerbit: PING!!!

Terbit: 2015

Jumlah hlm: 196 hlm

ISBN: 978-602-279-178-2

Caraphernelia: A broken heart disease whenever someone leaves you but leaves all their things behind. www.urbandictionary.com

Cerita ini dimulai dengan adegan seseorang yang baru saja terbangun dalam kondisi mengenaskan. Orang ini tidak mengenali dirinya sendiri. Berbagai pertanyaan membingungkan seperti siapa dia, dimana dia berada, dan mengapa dia bisa seperti itu berputar-putar di benaknya. Ia pun semakin kaget ketika mengetahui dirinya terluka dan pintu kamar terkunci. Ia sungguh-sungguh tidak memahami apa yang sedang terjadi sampai handphone-nya berbunyi dan dari seberang sana seseorang memanggilnya dengan sebuah nama.

“Jona, kau masih di sana?”

Jona… dia mendengar nama itu. Jona.. apa itu namanya?

“Jona? Dengarkan aku! Aku sudah menunggu-“

“Siapa ini?” Suara Jona terasa berat.

“Aku Alvin! Ini Jona, bukan? Siapa kau?!”

“A..aku.. tak tahu siapa diriku.”

Tidak ingat apa-apa adalah hal yang paling dibenci orang. Tapi ada yang justru menginginkan tidak mengingat apa-apa setelah bangun tidur. Hal. 6.

Sedikit demi sedikit, karena telepon itu dan usaha kerasnya, Jona mulai mengingat-ingat hal terakhir yang dilakukannya. Ruangan tempatnya berada adalah kamar Alvin. Ia meminjamnya. Obat-obatan yang berserakan di sekelilingnya adalah miliknya. Bahkan, ia juga akhirnya ingat bagaimana lukanya terjadi. Saat Alvin akhirnya datang ke tempat itu, Jona khawatir dan bingung. Di tengah kebingungannya, ia tak mengizinkan Alvin untuk ikut campur dalam masalah yang dihadapinya saat itu. Selain itu, ia memang merasa hilang ingatan, ia tidak tahu masalah apa yang sedang menimpanya.

Orang kedua yang secara tidak sengaja bertemu dengan Jona di sebuah minimarket adalah Alana. Alana mengenali Jona sedangkan Jona lupa siapa Alana. Setelah itu, Alana pun membawa Jona ke apartemennya. Pertemuan Jona dengan Alana dan pembicaraan mereka membawa Jona pada sebuah keputusan. Ia harus menemui sumber masalahnya. Berbagai hal dilakukan Alana untuk mencegah Jona karena takut Jona mengalami hal-hal buruk. Pertemuan mereka yang sebentar berhasil menumbuhkan perasaan kasihan dan harapan dalam hati Alana. Namun, apa mau dikata, Jona memiliki keputusannya sendiri.

***

Ada sebuah alasan mengapa Jona mengonsumsi obat-obatan yang efeknya membuat hilang ingatan. Sayangnya, mengubur ingatan bukan berarti mengubur masa lalu. Selalu saja ada hal-hal yang mengingatkannya tentang itu di sekitarnya.

Melihat tokoh Jona, seperti melihat seorang manusia pengecut yang ingin lari dari masalah. Ia ingin memulai awal yang baru tanpa menyelesaikan yang lama. Alhasil, yang ada malah tumpang tindih dan ia tidak benar-benar bisa maju. Penyelesaian yang ia pilih terasa aneh dan tak masuk akal.

Novel ini sarat dengan percakapan-percakapan. Tokoh-tokohnya berbicara panjang lebar mengenai “hidup” dan “masalah”. Saya jadi ingat gaya bercerita Paulo Coelho yang selalu membuat segalanya menjadi filosofis. Hal itulah yang kental dalam novel ini. Misalnya pembicaraan tentang masalah.

“Apa kau tidak pernah punya masalah?”

“Tidak ada yang istimewa dari masalahku ini. Aku cenderung menyelesaikan semua masalah yang berada di sekitarku sebelum menyentuh masalah lainnya. Aku punya prioritas.”

Alana. Hal. 130.

Sesungguhnya, tema novel ini menarik. Penulis ingin sekali memberitahu pembacanya—terutama yang terjebak dalam persoalan caraphernelia—bahwa menghilangkan ingatan bukan penyelesaian yang tepat. Apalagi akhir-akhir ini, virus galau dan PHP menjadi wabah dan menyerang anak-anak muda. Sayangnya, rasanya jadi seperti sedang mendengarkan ceramah. Konfliknya kurang wow dan kehadiran tokoh-tokoh lain hanya sebagai pendukung. Bahkan, Alana sebagai teman bicara tokoh utama paling banyak dalam novel ini kurang memukau.

Dari segi kepadatan, saya sebagai pembaca juga kurang puas. Mengingat, dalam beberapa hari itu, tidak ada kejadian berarti. Cerita bersifat lambat dan membosankan. Saya kira, menaruh konflik yang mengena akan membuatnya lebih menarik.

Bagaimanapun, novel ini memiliki kekuatan dari segi penggambarannya. Detail dan menyeluruh. Diksinya pun luar biasa. Meskipun dalam percakapan, kaku dan tidak menyentuh. Saya rasa, novel ini memiliki penggemar tersendiri, sesuai jenis dan gaya tulisan. Terutama bagi mereka yang suka “mikir”. Setiap peristiwa di dalam caraphernelia bisa dianalogikan dalam kehidupan sehari-hari meskipun tidak sedramatis itu. Saya penasaran, tema apalagi yang akan diangkat penulis berikutnya?