Memperjuangkan Cinta yang Tak Mungkin

“Kurasa aku benar-benar jatuh cinta. Aku tahu ini sangat konyol. Aku hampir selalu mencemooh pembicaraan soal cinta selain pernyataan tentang betapa palsunnya kata itu. kurasa ini yang namanya ironi.”

Matteus Macgregor tak pernah percaya pada cinta—pernikahan yang dilandasi cinta. Meskipun ia menginginkannya, itu sama seperti ingin bertemu unicorn. Namun, tanpa ia sadari, Kimberley Tuddels menyelusup ke hatinya.

Kimberley Tuddels adalah pelayannya. Hubungan cinta antara majikan dan pelayan adalah skandal besar di kalangan bangsawan Inggris zaman Victoria, tahun 1800-an.

Bagaimana cara Matteus dan Kimberley meraih kebahagiaan dan cinta mereka di tengah situasi sosial yang demikian?

♣♣♣

Judul: Dear Miss Tuddels

Penulis: Ginger Elyse Shelley

Penerbit: DIVA Press

Tahun terbit: Oktober 2015

Jumlah halaman: 224 hlm.

ISBN: 978-602-255-967-2

♣♣♣

Kimberley Tuddles adalah seorang pelayan baru di kediaman Macgregor. Ia berusia 12 tahun ketika bertemu dengan Tuan Muda—Matteus Macgregor. Ia ditugaskan menjadi asisten Mrs. DiBeneditto alias Granny Catarina yang mengasuh Matteus sejak bayi. Usia Matty memang masih muda–tidak jauh berbeda dari Kim. Dan, ia menolak diasuh dua orang sekaligus. Namun, karena Granny sudah mulai renta, Kimberleylah yang diharapkan bisa menolongnya.

Kim sendiri, seperti pelayan yang berasal dari kampung pada umumnya, tidak bisa membaca. Menurut Matty, ia agak bodoh atau polos. Memang benar. Namun, hal itu tidak membuat Matty boleh menyepelekan Kim berdasarkan aturan yang ditetapkan Granny untuknya.

Aku menghela napas. “Miss Tuddels, pria yang baik memperlakukan wanita sebagaimana dia harus diperlakukan,” gumamku sambil memandangi jari kaki. Granny memukul belakang kepalaku sampai aku berhenti menunduk. Hal 11.

Saya cukup tertarik dengan hubungan Granny dan Matty, dimana Matty adalah keluarga bangsawan sedangkan Granny hanyalah pengasuh. Namun, ketika kau sudah diasuh sejak kecil olehnya—bahkan ayahmu juga diasuh olehnya—mau tidak mau kau akan menghormatinya seperti nenekmu sendiri. Itulah yang terjadi pada hubungan mereka.

Ketika Kim masuk dalam rumah itu, ada sedikit perubahan yang dialami Matty. Meskipun ia secara “terpaksa” bersikap baik padanya, ia pun memiliki kepedulian tersendiri pada pelayan muda itu. Misalnya, ia dengan sukarela mengajarinya membaca. Kim tentu sangat senang sekali. Hal itu membuka dunia baru baginya. Semakin lama mereka pun semakin cocok. Tidak heran sih, usia mereka memang tidak jauh berbeda.

Namun, membayangkan dirimu diasuh oleh seorang wanita yang lebih muda darimu tentu berpotensi menyebabkan “masalah” dalam hidupmu. Hal ini terjadi pada Kim dan Matty. Mereka memulainya dengan pertemanan atau boleh disebut partner in crime. Matty leluasa mengajak Kim kemana saja yang seharusnya tidak diperbolehkan sedangkan Kim tentu tidak punya kekuasaan untuk mencegahnya.

Benih-benih yang berbeda mulai tumbuh di antara mereka ketika pada suatu hari Kim ulang tahun. Dengan ikhlas, Matty bersedia memberikan separuh hak miliknya terhadap anjing jenis bichon frise kepada Kim. Matty memang penggemar anjing dan Kim juga menyukai binatang itu.

Karena jauhnya perbedaan yang terbentang, tentu saja benih itu tidak berkembang. Hingga akhirnya desas-desus mengenai perjodohan Matty santer terdengar. Wow, ternyata di kalangan bangsawan Inggris, laki-lakilah yang menjadi rebutan dan dilamar oleh para gadis dari kalangan yang setara. Nah mulai dari situ, konflik muncul. Matty dengan dewasa harus menghadapi dan memutuskan hal terbaik dalam hidupnya. Di sisi lain, ia memiliki perasaan khusus pada pelayannya yang selalu ada di sampingnya sejak Granny pergi.

Kisah cinta mengharukan antara Kim dan Matty bisa kita baca dalam novel ini. Meskipun tidak terlalu mendayu-dayu, tetapi lebih ringan dan mengalir, kisah ini sungguh menarik. Saya tidak bisa membayangkan seandainya situasi tersebut benar-benar terjadi pada masa kini. Rasa simpatik saya dibangun untuk Kim dan Matty meskipun sebenarnya hubungan mereka tidak dibenarkan karena perbedaan status yang jauh.

Gaya bercerita penulis dalam buku luar biasa mengagumkan. Saya seperti mengalami de javu. Ya, gaya berceritanya seperti gaya bercerita para penulis luar yang khas dan mengalir. Saya benar-benar menikmati bagaimana penulis membawa saya menelusuri lika-liku kehidupan seorang bangsawan yang kelihatan menyenangkan dari luar padahal dingin dan kaku.

Karena memiliki dua POV, yaitu Matty dan Kim, kisah ini terasa lengkap. Saya juga tahu apa yang dirasakan Kim atas apa yang dirasakan Matty. Buku ini pun penuh pesan-pesan yang meskipun tidak ditunjukkan secara terang-terangan tetapi tetap terasa. Bahkan, hal itu menjadi sebuah perenungan bagi anak-anak muda. Misalnya, bagaimana cara bersikap menghormati wanita, bagaimana mempertahankan komitmen, dan sebagainya.

Mrs. Walfred memelukku hangat. “Gapai cintamu, Putraku. Cinta abadi tak pernah mudah, tapi itulah satu-satunya keabadian yang bisa kita capai di dunia ini.” Hal 188.

Ahh, pengen deh ketemu tokoh sempurna seperti Matthew di dunia nyata… 🙂

Kisah Seorang Anak Batak

Pakk!

Tangan kasarnya berhasil mendarat di pipiku. Perih.

“Kapan sikap pembangkangmu itu bisa berubah?”

“Sampai Bapak juga bisa melunak terhadapku,” jawabku.

Pukulan kedua mendarat di perutku.

Marolop kecil tidak mengerti, mengapa baju Natalnya berbeda dengan milik kakak-kakaknya. Ia tidak mengerti, mengapa bapaknya tidak pernah mengajak bercanda ria. Ia tidak mengerti, mengapa harus menerima hantaman hanya karena bermain di bawah hujan.

Hingga akhirnya Marolop berhenti berusaha mengerti. Tidak peduli lagi dengan alasan kebencian bapaknya, Marolop yang masih remaja memilih pergi, jauh ke kota Bogor.

Tanah rantau mengajarkannya banyak hal. Namun, masa lalu tetap mengetuk sela-sela waktu Marolop, memaksa kembali masuk. Atau mungkin sebenarnya perasaan itu memang tidak pernah keluar. Perasaan tidak diterima oleh bapak sendiri sudah bercokol buat dalam diri, membuatnya menjadi pemuda yang benci sekaligus iri melihat kasih sayang bapak kepada anaknya.

Hingga akhirnya, alasan kebencian bapaknya terkuak. Dan Marolop harus belajar makna kedewasaan.

♣♣♣

Judul: Bapak, Kapan Kita akan Berdamai?

Penulis: Regza Sajogur

Penerbit: deTeens

Tahun terbit: September 2015

Jumlah halaman: 264 hlm

ISBN: 978-602-0806-37-2

♣♣♣

Dibenci oleh orangtua pasti hal yang tidak pernah terbayangkan. Daannn.. sebagian orangtua pun tidak menyadari telah memperlakukan anak-anak mereka seperti musuh. Hal ini terlihat dari cara mendidik yang kasar, berbeda, dan tidak dilandasi kasih sayang. Tentu ada sebab di baliknya.

Sebab itulah yang ingin diketahui Marolop. Dalam awal-awal kisahnya, kita akan diajak mengalami apa yang dialami Marolop sepanjang masa kecilnya. Ia menceritakan perbedaan perlakuan dari sang bapak.

Aku hanya tertunduk lesu mendengar kemarahan yang keluar dari mulut Bapak. Meski ini adalah sebuah pelanggaran dan aku mengakuinya, namun aku hanya anak kecil yang ingin merasakan kebebasan layaknya seorang anak pada umumnya. Hal 6.

Berbagai perlakuan kasar serta sentimen yang dialamatkan padanya oleh sang Bapak perlahan-lahan mengikis rasa bahagia dalam diri Marolop. Ia bertanya-tanya mengapa Bapak sangat keras padanya, tapi tidak pada kakak-kakaknya.

Seingatku, abang-abang dan juga kakak perempuanku yang sudah menikah tidak pernah diperlakukan keras oleh Bapak. Diam-diam aku selalu memerhatikan sikap Bapak kepada mereka. Hal. 9.

Konflik antara bapak dan anak ini pun terus berlanjut, bahkan ketika Marolop hendak melanjutkan sekolah. Ia harus mengikuti titah sang Bapak untuk melanjutkan ke sekolah kejuruan jurusan pertanian. Padahal, ia lebih suka hal-hal yang berbau teknik. Namun, karena tak ingin memicu pertengkaran yang lebih besar, ia pun menurut pada kehendak sang Bapak.

Ternyata kepatuhan Marolop tidak berarti akan meluluhkan hati Bapak. Ia justru menerima perlakuan keras lain karena biaya yang harus ditanggung. Sejak itulah, Marolop memutuskan untuk minggat dari rumah, pergi jauh dari rumah orangtuanya. Niatnya ingin ke Jakarta. Padahal, ia samasekali tidak memiliki uang. Namun, berbekal rasa nekat, ia pun berangkat menumpang truk menuju Jakarta.

Selanjutnya, kita akan disuguhi kisah perjuangan hidup Marolop yang penuh dengan tanjakan yang berliku. Untungnya, ia bertemu dengan orang-orang baik yang mau menolongnya. Orang-orang ini mengasihinya lebih dari bapaknya sendiri. Hal ini justru semakin membuat miris. Ia hanyalah pemuda tanggung yang berjuang melarikan diri dari bayang-bayang dendam terhadap Bapak dan ia menghadapi berbagai tantangan. Namun, tantangan itu lebih pada perasaannya sendiri. Juga ketika ia memikirkan ibunya yang tentu sangat merindukan anak bungsunya.

Teka-teki itu mulai terbuka ketika sang Ibu hendak mengajaknya pulang ke rumah. Dengan gamblang, Ibu menjelaskan mengapa Bapak sangat membenci kehadirannya. Marolop pun harus belajar melapangkan dada supaya tidak semakin marah pada apa yang sudah terjadi. Tuhan pun sudah mengatur langkah Marolop, yaitu ketika ia bertemu dengan orang-orang yang tepat dan mendukungnya, termasuk calon istrinya, Tiur.

Kisah hidup Marolop yang tidak mudah membuka hati kita. Ia mengajarkan kita bagaimana cara bertahan dalam kesulitan. Ia tidak menyerah dan tetap menjaga harga dirinya sebagai manusia yang baik. Ia tidak jatuh dalam kejahatan.

Sedangkan bagi para orangtua, memiliki anak seharusnya adalah anugerah. Ketika kita tidak mampu mensyukuri anugerah itu, banyak duka akan timbul. Banyak orang akan terluka. Sesungguhnya, mengasihi anak adalah kewajiban orangtua. Sebaliknya, anak harus belajar mendewasakan diri untuk memaafkan kekhilafan orangtua.

♣♣♣

Penulis piawai membawa pembaca untuk menaruh empati terhadap tokoh utamanya. Kita seolah-olah hadir di tengah keluarga Marolop dan ikut merasakan kesedihannya. Di manapun Marolop berada, kita dibawa ikut serta, termasuk ketika ia bersama keluarga Simbolon yang tidak memiliki anak. Tidak lupa, sentuhan romantisme pun menjadi bumbu-bumbu yang menyegarkan dalam kisah ini.

Tokoh-tokoh dalam novel ini memiliki karakter yang kuat. Misalnya, Marolop yang berkarakter baik, tetapi sebenarnya menyimpan banyak luka. Ibu Marolop yang sangat baik dan pasrah. Bapak yang pemarah dan emosional. Semua pas.

Novel ini sangat khas Batak. Dengan ungkapan-ungkapan yang berbahasa Batak, novel ini menggambarkan segalanya dengan tepat dan sesuai. Yang lebih penting, ada perubahan yang terjadi dalam diri tokoh utama sehingga membuat kita tidak merasa sia-sia membaca kisahnya.

Aku sudah sejak lama menginginkan pemandangan seperti ini. bukan karena semata berakhinya pencarian cinta sejati dalam hidupku. Namun, wajah-wajah baru stok lama yang begitu bahagia. Tersenyum penuh hangat penuh kedamaian. Hal 263.

Minggu ke-9

Nulis dikit untuk pemanasan hari ini 🙂

Minggu ini udah minggu ke-9. Banyak perkembangan yang terjadi. Senangnya, rasa mual udah mulai menghilang. Cuma kalau nyium bau tumisan aja, masih mual. Sampe-sampe, kemarin pas dia “minta izin” mau bikin sayur kangkung tumis, daku tak membolehkan dulu hihihi. Maaf ya Kamu.

Nggak tahu juga ya kok cepet pulih kondisinya (dan sampai seterusnya sehat, amen!) Setahu saya, setelah baca-baca, banyak yang sampe minggu ke-13 masih mual-mual aja. Tentunya bersyukur dengan kondisi ini. Meskipun nggak berani makan nasi banyak-banyak karena perut jadi tegang. Setidaknya, sekarang udah lumayan banyak pilihan makanan.

Justru yang sekarang lagi “hot” adalah rasa nyeri yang lumayan di bagian pinggul kiri. Mau jalan aja susahnya minta ampun, sampai harus ngesot-ngesot. Untungnya dia lumayan pengertian. Kalau dulu nggak bisa sering-sering berdiri karena cepat pusing, sekarang karena sendinya sakit. Uh. Sabar ya kita 😛

Awalnya sih khawatir ya. Jangan-jangan ada yang salah nih. Setelah beberapa hari nggak sembuh juga, kami pun memutuskan untuk ketemu dokter. Tapi, sehari sebelumnya, saya coba search dulu. Ternyata itu adalah gejala Pelvis Girdle Pain (PGP). Penjelasannya persis sama dengan yang saya alami. Memang sebagian ibu hamil di trimester pertama mengalami PGP. Mengingat itu, akhirnya kami pending dulu ke dokternya, nunggu satu minggu lagi karena memang udah ada jadwal ketemu dokter pada 24 Nov nanti. Saya pikir, sekalian aja, semoga nggak apa-apa 🙂

Itu dulu pengalaman minggu ini. Semoga ke depan semakin sehat, semakin banyak makan, dan si cabay sabar menunggu di sana. Semangat.

Fase Baru; Minggu ke-8

Halo, saya udah lama nggak cerita di sini. Sekarang, saya mau cerita dikit, dengerin ya… *maksa* 😀

Bulan-bulan terakhir ini, ada kabar gembira. Tentunya, saya harus bersyukur pada Tuhan karena itu semua adalah berkat-Nya bagi saya dan suami. Setelah menikah pada Juni 2015, doa kami sederhana saja, “Tuhan, Engkau tahu apa yang kami butuhkan. Baik tempat tinggal, maupun keturunan, Engkau yang telah mengatur semuanya. Ajarlah kami untuk bersabar sembari berusaha. Kami percaya, semua akan Kauberikan pada waktunya.”

Lalu, hari-hari berjalan. Di sela-sela itu, berbagai pertanyaan kami terima. Yang paling sering seperti, “Sudah isi, belum?” Sampai-sampai, saya mulai bosen ditanyain begitu terus. Kadang juga, saya agak ketus jawabnya, “Nanti kalau udah, akan saya kabari langsung.” Hihihi, maaf ya, yang pernah mendengar jawaban tidak ramah seperti itu. Habisnya, saya agak males dengan lanjutannya. “Coba begini aja, coba begitu aja.”

Seperti doa kami, semua pasti akan diberikan pada waktu yang tepat. Apalagi karena baru menikah, masih banyak yang harus dipersiapkan, termasuk mental. Berkali-kali kami mengobrol soal apakah kami sudah siap jika dikaruniai seorang anak. Pada titik tertentu, akhirnya kami sepakat, “Yap. sudah.” Dan tidak berapa lama kemudian, Tuhan pun memberikannya.

Karena masih awam soal kehamilan, kami berdua harus bertanya-tanya kepada teman. Senangnya, suami juga nggak diam aja atau cuek. Bahkan, banyak info yang akhirnya kami tahu karena ia lebih banyak bertanya. Saya, mengandalkan Google dan satu dua teman yang saya percayai aja.

Awalnya, belum ada tanda-tanda apapun. Saya hanya merasa (semacam feeling), kalau ada sesuatu yang harus dijaga. Untungnya, saya cukup rajin mencatat tanggal menstruasi sehingga bisa menghitung berdasarkan kalkulator awam kapan sudah telat. Setelah itu, kami membeli test pack. Seumur-umur, baru kali ini saya membeli barang itu dan rasanya agak malu. Dia bilang, “Untung aku nemeni ya pas beli itu.” Yeee malah gitu. 😛

Pagi-pagi, saya pun mencoba mengetes sesuai petunjuk. Hati-hati banget karena cuma beli satu, takut salah cara hahaha. Lucu deh. Dia belum bangun. Lalu, keluar dari KM, saya langsung bangunin dia dan memeluk. Dia, yang juga nggak tau apa arti tanda di test pack itu, mendengarkan penjelasanku dengan muka baru bangun tidur.

Hari itu rasanya nggak terdefinisikan. Ada bahagia, ada deg-degan, ada sesuatu yang membentang di depan sana. Kami sudah diberi tanggung jawab besar. Dan yang kami pikirkan adalah bagaimana menjaganya dengan baik sampai dia bisa “mentas”. Sungguh suatu perjalanan panjang. Dan perjalanan itu dimulai dari sekarang.

Soal mual dan muntah karena morning sickness belum kepikiran tuh pada saat itu.

Semua masih baik-baik. Selera makan masih baik. Hanya sedikit capek aja. Kalau berdiri lama bisa pusing.

Beberapa hari kemudian, kami ke Puskesmas. Ya, Puskesmas karena mau ke klinik yang pakai BPJS, ternyata kartunya tidak aktif. Hadeh, belum pernah dipakai sih, jadi nggak dicek. Sempat sebel juga pada saat itu. Yang di otak adalah cepat ke dokter biar tahu apa langkah selanjutnya. Dia, “Sabarrr…”

Di Puskesmas, semua dicek. Mulai dari urine, darah, dsb. Kebetulan bukan jadwal dokter kandungan, jadi hanya ketemu bidannya saja. Itu pun setelah pusing karena mereka olahraga di dalam ruangan Puskesmas dengan musik yang ingar bingar. Ampunn, ini kan rumah sakit ya. Tapi, udahlah, kebetulan juga itu hari Jumat. Hari pendek dan hari “bebas”.

Nah, setelah hari itu, rasa mual mulai menyerang. Entah bagaimana, saya menjadi nggak selera makan sama sekali. Bahkan mencium bau nasi yang dimasak saja rasanya luar biasa eneg. Cium tumis-tumis juga mual. Naik motor mual. Capek mual. Hehehe. Badan jadi lembek banget. Jalan dikit capek. Sempat agak nyerah juga sih, apa kuat seperti ini sampai 3 bulan. Kadang dalam sehari, tidak ada nasi yang masuk.

Untuk menghindari perut kosong, saya pun mencoba berbagai macam cara. Mencoba mencari makanan kesukaan, makanan yang kepikiran bisa membuat senang, dan sebagainya. Semakin lama, akhirnya tahu makanan apa yang bisa masuk dan apa yang membuat mual. Memang harus dicoba dulu biar tahu. Misalnya, saya suka makan jagung rebus, pisang rebus, dan ubi rebus. Roti juga bisa. Susu bisa. Pokoknya kecuali nasi dan daging. Nah, yang bisa dimakan itu pun distok di rumah. Beberapa sih nggak kemakan, dialah yang menjadi tumbal untuk menghabiskan hahaha.

Ini udah minggu ke-8. Perasaan saya agak baikan. Mungkin karena sudah bisa menemukan apa yang bisa dimakan. Perut lumayan terisi. Saya mulai paham, harus makan sebelum lapar karena kadang lapar itu yang membuat mual jadi tambah parah.

Masih cukup lama di trimester pertama ini. Menurut yang saya baca, minggu ke-13 atau 14 semuanya bisa normal kembali. Selera makan juga akan kembali (semoga). Semoga saya (dan dia) bisa bertahan menghadapi ini, terutama bagaimana supaya perut tetap terisi dengan makanan yang nggak bikin mual. Kadang, saya kasihan juga sih melihat dia yang kesana-kemari memenuhi keinginan saya. Misalnya, pengen mendoan yang masih panas. Kan yang jual mendoan nggak deket, dek. Hehehe. Semoga dia tetap sehat dan sabar. Semoga saya nggak kebanyakan ngeluh dan tetap bersyukur.

Kami belum USG hingga sekarang. Kami masih nunggu pertemuan dengan dokter di akhir bulan ini. Ada banyak pertanyaan yang ingin saya tanyakan, termasuk kapan seharusnya kami USG. Pengennya sih dari awal, tetapi akhirnya kami memutuskan untuk menunggu saja. Semoga semua baik-baik saja dan ia tetap sehat di dalam sana.

Untuk yang sedang menunggu, Tuhan tahu kok. Dan yang kita alami sekarang adalah yang terbaik yang Ia berikan. Tetap bersyukur, berdoa, dan bersemangat yaa! Nikmati hari-hari bersama suami karena nanti masa itu mungkin nggak akan terulang tepat seperti itu. Percayalah, bukan hanya orang hamil yang bisa berbahagia, yang belum hamil pun bisa berbahagia dengan cara yang berbeda. Semua bisa berbahagia 🙂

[Resensi Buku] Permintaan Terakhir

“Tuhan, jangan ambil nyawaku malam ini.” Seorang membuatnya kuat menghadapi penyakit. Vonis dua bulan ia akan lewati. Sisa hidupnya akan bermakna, dan dikenang melalui karyanya. Karena, pohon pisang tidak akan pernah mati sebelum dia menghasilkan buah. Romantisme dan heroisme persahabatan yang mengharu biru ada dalam kisah Tara n Khazilla. Kau punya sahabat, bukan? Kau beruntung.

Ketika tiba saat perpisahan, janganlah ada duka. Sebab, yang paling kau kasihi dalam dirinya, mungkin akan tampak lebih cemerlang dari kejauhan. Seperti gunung yang tampak lebih agung dari padang dan ngarai. Lenyapkan maksud lain dari persahabatan, kecuali saling memperkaya ruh kejiwaan. (Kahlil Gibran)

♣♣♣

Judul: Permintaan Terakhir

Penulis: Helda Tunkeme Xwp.

Penerbit: PING!!!

Tahun terbit: 2015

Jumlah halaman: 304 hlm.

ISBN:978-602-255-209-3

♣♣♣

Adegan pertama dalam novel ini hampir sama dengan Langit Jingga di Acapulco yang saya baca sebelumnya. Kebetulan banget, ya. Berturut-turut gitu lagi bacanya. Jadinya seperti merasa sedang de javu. Tapi karena lay out buku yang lebih renggang, ada sedikit perbedaan rasa ketika membacanya. Rasanya lebih lega aja…

Diceritakan kalau Khazilla memutuskan Radin secara sepihak ketika mereka sedang di berada sebuah kafe. Alasannya?

“Segala sesuatu tidak harus dijelaskan secara mendetail, kan?” Hal. 8

Nah, lho. Jawabannya juga hampir sama dengan Reza. Serba buram dan tidak jelas. Hal ini tentu menyisakan pertanyaan di hati Radin. Mengapa kekasihnya itu tiba-tiba memutuskannya padahal hubungan mereka sedang baik-baik saja?

Sedikit, saya bisa menduga. Khazilla ini pasti memiliki alasan yang sangat masuk akal. Cuma ya kenapa harus putus, kenapa tidak membiarkan saja Radin tetap berada di sisinya. Secara logika, sisi manusiawi saya berbicara. Namun, entah ya, bila berada dalam kondisi itu, dengan berbagai pertimbangan, mungkin saya akan mengambil keputusan senada.

Ya, Khazilla memang sedang menderita kanker otak. Kanker yang berbahaya dan bisa mengambil nyawanya dalam waktu yang sebentar. Oleh karena itu, ia ingin menghindari semua orang supaya tidak merepotkan mereka. Okelah, cukup bisa diterima sih alasan itu. Meskipun hati kecil saya masih mengatakan bahwa sebaiknya dan seharusnya orang sakit itu didampingi dengan kasih. Siapa tahu bisa menyembuhkan penyakitnya. Namun, tentu saja dalam keadaan depresi dan putus asa, sisi pikiran positif itu tidak muncul begitu saja.

Kebetulan, Khazilla bertemu dengan Tara. Entah kenapa, gadis ini tertarik untuk berkenalan dengan Khazilla walaupun sudah ditolak dengan marah-marah. Ketertarikan itu berbuah pada persahabatan yang akhirnya mereka bina. Persahabatan tersebut bukan persahabatan biasa, tetapi persahabatan sejati yang rela melakukan apapun demi sahabatnya.

Namun, tetap saja karakter Khazilla yang sangat mandiri membuat Tara seringkali kesusahan untuk menolong gadis itu. Bahkan, Tara bersedia menggadaikan surat rumahnya demi bisa menyelamatkan Khazilla melalui operasi. Atas doa dan bantuan Tara pula (karena gadis ini adalah seorang dokter), Khazilla bisa bertahan hidup.

Setelah sembuh, saya pikir semua konflik sudah berakhir. Rasanya tenang-tenang saja. Hidup mereka berjalan dengan aman dan nyaman. Tara berkutat dengan pendidikannya dan hubungannya dengan Datas, Khazilla dipertemukan dengan Bioa yang melihat bakat desainnya. Dalam waktu itu, Khazilla berhasil menunjukkan kebolehannya dalam mendesain. Tara pun berhasil dalam pendidikannya.

Namun, sepertiga akhir cerita, sebuah kenyataan menghantam mereka berdua. Sesungguhnya, miris juga membaca kisah ini. Setelah semuanya terlihat baik, ada badai yang kembali datang menyerang. Bagaimana mereka menghadapinya? Apakah mereka tetap tegar dan mampu menjalani semuanya dengan ikhlas?

♣♣♣

Jalinan persahabatan Tara dan Khazilla memang terlihat sangat romantis. Membacanya, saya agak rikuh. Misalnya, dalam SMS-SMS yang mereka kirimkan, percakapan-percakapan mereka, maupun sikap mereka satu sama lain. Ya, tapi bisa saja sih masih ada persahabatan semacam itu. Dan mungkin bagi orang-orang tertentu, model persahabatan ini sangat wajar.

Yang jelas, Khazilla sangat beruntung memiliki seorang sahabat seperti Tara. Tara pun merasa bahagia bisa bersama-sama dengan Khazilla. Alangkah menyenangkan memiliki sahabat yang selalu ada apapun kondisi kita. Kisah ini akan membangkitkan kepedulian kita terhadap orang-orang yang menjadi sahabat kita. Karena sahabat adalah bagian dari hidup yang tak bisa dipisahkan.

Hal yang kurang oke menurut saya adalah gaya penceritaan penulis yang kurang terasa penjiwaannya. Ia cenderung bercerita begitu saja, lebih tepatnya memaparkan. Jadi, rohnya kurang kerasa.

Khazilla sudah mulai merancang sepatu dengan merek “Tara Khazilla” pelanggan menyukai desainnya. Sederhana, menarik, dan nyaman digunakan. Hampir separuh isi butik Ikke diisi oleh rancangan dari Khazilla. Itu membuat Khazilla tidak punya kendala lagi untuk menyekolahkan adik-adiknya. Suatu saat, ia berniat akan membeli butik Bosnya itu. untuk mewujudkan itu, ia harus bekerja lebih keras lagi. Hal 193.

Ohya, dan saya menemukan cukup banyak awalan di- yang seharusnya disambung tetapi dipisah, seperti “di cari” (hal. 192), “di isi” (hal. 193), “di operasi” (hal. 81), “di lewati” (hal. 130), dan sebagainya.

[Resensi Buku] Susahnya Move On dari Cinta yang Rumit

“Kalau seseorang menghabiskan hidupnya dengan seseorang lainnya, tapi cintanya mekar di lain hati, lantas yang manakah yang menjadi tulang rusuknya?”

“Tulang rusuk itu hal yang paling dekat dengan pemiliknya. Seseorang yang hidup bersamamu, yang akan menjadi tulang rusukmu.”

Mia, Reza, dan Kevin. Tak seorang pun tahun alasan besar Reza mengakhiri hubungannyan dengan Mia. Tak seorang pun menyangka Kevin merelakan Mia yang dicintainya. Bukan sekadar masalah memiliki, cinta juga mengikhlaskan. Ini tentang persahabatan dan cinta.

♣♣♣

Judul: Langit Jingga di Acapulco – Cinta yang tertitip pada bulan

Penulis: Triya Elmor

Penerbit: deTeens

Tahun terbit: Agustus 2015

Jumlah halaman: 300 hlm.

ISBN: 978-602-255-953-5

♣♣♣

Cerita ini dimulai saat Reza memutuskan hubungannya dengan Mia di Pantai Parangtritis pada Mei 2013. Hubungan yang “udah nggak sehari dua hari” itu harus putus karena menurut Reza ada sesuatu yang salah. Apakah itu? Reza (dengan ragu) mengatakan ia sudah tidak lagi mencintai gadis itu. Tentu saja Mia sedih. Apalagi karena peristiwa itu terjadi sangat tiba-tiba.

Tapi, mau bagaimana lagi, ya. Namanya diputusin, jangankan buat nanya alasannya, mengetahui bahwa pasangan memiliki niat seperti itu saja, pasti sangat menyakitkan. 😦

Jadi, seperti di sinetron-sinetron, Mia hanya bisa terisak, mengayunkan tangan untuk menampar Reza, lalu pergi.. Ohh.. 😦

Pada babak selanjutnya, Reza kembali menceritakan kejadian tersebut dari sudut pandangnya. Di sini, kita bisa mengenal sosok cowok ini dengan lebih baik. Ternyata, Reza juga merasa sulit memutuskan Mia. Bahkan, ia mengaku masih mencintai gadis itu. Lalu, kenapa, kamu berbohong, Za? Sampai di sini kita masih belum tahu ada apa di antara kedua anak muda ini..

“Tuhan, aku tak sanggup melihat kesedihan di wajah itu, kataku dalam hati saat melihat kesedihan menggelayuti wajah dan hati Mia, saat angin menyibakkan rambutnya yang tergerai indah.” Hal 16.

Ceritanya belum selesai sampai di situ. Ada tokoh lain yang tiba-tiba datang memukul Reza. Ia adalah Kevin. Mereka pun mengobrol ala cowok muda, penuh emosi dan pukulan. Padahal, Kevin hanya bertanya kenapa Reza membuat Mia menangis. Lalu, siapa Kevin ini? Kembali lagi, Reza menjelaskan dari sudut pandangnya bahwa ia, Kevin (dan Mia) adalah kumpulan sahabat.

Sebenarnya, unik juga kisah ini. Dalam sebuah persahabatan, ada dua orang yang pacaran, sementara seorang lagi jadi “nyamuk” yang ternyata naksir juga sama yang satu. Anehnya, persahabatan itu bisa berjalan dengan baik. Di sini kita bisa menebak bahwa si “nyamuk” ini tentu orang yang sangat baik, ikhlas, dan luar biasa sabar.

Anyway, alasan Reza ternyata tidak sederhana. Hal itu berhubungan dengan masa lalu keluarganya dan keluarga Mia. Sayangnya, kita baru akan mengetahui itu secara blak-blakan pada hal. 263 (sst, jangan langsung ke sana dong). Meskipun sebelumnya sudah banyak clue yang tersebar di sepanjang cerita. Menurut saya sih, penulisan cerita terlalu lama dan bertele-tele sebelum Reza mengeluarkan semua alasan tersebut. Gregetan. Kenapa nggak bilang aja lebih awal biar semua pada tahu, termasuk orang-orang yang sering menyalahkannya. Selanjutnya, baru dirancang penyelesaian.

Tapi rupanya tidak semudah itu bagi penulis untuk mengungkapkan fakta itu. Apalagi juga hal itu berhubungan dengan Kirana, ibu Mia. Jadi, di satu sisi, konflik antara anak muda harus diselesaikan, di sisi lain, orang tua pun punya konflik sendiri dimana keduanya saling berhubungan. Penulis ingin menyelesaikannya dalam waktu bersamaan.

Kisah dalam novel ini cukup rumit. Selain dari seolah-olah dibuat agar lebih panjang dan tebal, ceritanya sebenarnya sungguh menarik. Bisa saja terjadi di dunia nyata. Dan bila itu terjadi, tentunya sungguh bikin kita miris dan kasihan. Kenapa? Hehe, ada alasannya, harus baca dulu dong.

Setting dalam novel ini mengambil tempat di Yogyakarta, Bali (sedikit) dan Meksiko. Paling banyak sih di Yogyakarta. Untuk menjelaskan itu, penulis memasang tanda dengan nama tempat dan tanggal kejadian. Kadang juga dengan tambahan nama Reza sebagai pencerita di beberapa bagian.

Sebenarnya, menggunakan dua sudut pandang (yaitu sudut pandang orang ketiga dan orang pertama) kurang efektif. Beberapa malah overlapping. Dan tampak kurang seimbang karena yang ditunjukkan hanya kata hati Reza saja. Yang lain nggak ada. Jadi, nggak terlalu beda misalnya memakai satu sudut pandang saja, tinggal pilih yang mana.

Bahkan untuk beberapa hal, pemakaian waktu peristiwa pun terlalu sering. Peristiwa-peristiwa yang berdekatan tetap diberi waktu. Padahal sebagai pembaca, kita pasti tahu bahwa peristiwa itu belum lewat sebulan alias masih dalam bulan yang sama, nggak perlu diperjelas lagi.

Terakhir, saya mungkin kurang suka endingnya. Penyelesaian yang disampaikan kurang tuntas alias tanggung. Jika penulis memang berencana mengungkapnya, kenapa Mia tidak diberi tahu juga. Tanggung banget. Padahal teman-temannya udah tahu semua. Kurang adil juga sih hehe padahal inti dari awal adalah menjelaskan kenapa Reza memutuskan Mia. Tentu ini harus ditanggung konsekuensinya, yaitu merangkai cerita untuk memperbaiki kembali hubungan yang retak akibat mengetahui kenyataan tersebut.

Kevin sudah memulai cerita baru bersama Mia. Aku harus mengikhlaskan Mia, melepaskan dia seutuhnya untuk kebahagiaan yang seharusnya dia miliki. (hal 297)

Aku mengangguk pasrah. Aku sudah menyelesaikan ceritaku, menyaksikan Kevin dan Mia memulai cerita baru. Sekarang, aku yang harus memulai cerita baru….

Jarak terjauh adalah bisa melihatmu, tetapi tak bisa menyatakan cinta ini padamu, Mia Kecil. Aku menggumam dalam hati. (298)