Day 10: Hore, Saya Punya Sahabat Pena #1

Helo. Sebelum memulai pekerjaan hari ini, tiba-tiba saya terpikir sebuah hal. Sekitar sebulan ini, saya intens berkomunikasi dengan seseorang di Italia. Dulunya ia WNI, sekarang udah WNA karena ikut suami di Italia. Seorang teman lain (yang merupakan temannya juga) mengenalkannya kepada saya dalam hubungannya dengan pekerjaan. Setelah urusan itu selesai, ternyata ibu yang baik ini masih rajin mengirim kabar. Isinya macem-macem dan sungguh menarik. Jadi, pengen berkunjung ke Italia. Hehe.

Pagi ini, saat saya membuka email, yang terlintas di pikiran saya adalah bucket list yang pernah saya posting di sini. Saya menulisnya pada hari ke-129 tepat akhir tahun kemarin. Salah satu hal yang ingin saya kerjakan tahun ini adalah memiliki seorang sahabat pena. Saya pernah memilikinya dulu, ketika masih SMP. Waw! Masa-masa SMP ketika teman-teman saya sibuk dengan penghias kuku palsu, komik, dan sebagainya, saya berkirim surat dengan seseorang di luar pulau saya yang kecil. Hehehe. Kalau ingat hal itu, saya merasa sangat heran. Kok bisa ya.

Yang masih saya ingat adalah salah seorang atlet dari Lampung atau Bengkulu (agak lupa) yang bernama Lia. Ia adalah seorang atlet loncat indah. Saya mendapat alamatnya dari Majalah Bobo. Lalu, saya pun mengirim surat perkenalan. Dengan hangat ia membalas surat saya. Ada lagi beberapa orang lain yang berkirim surat dengan saya. Mereka juga tidak lupa menyertakan foto hehehe.

Nah, sekarang saya tersentak. Tanpa disadari, salah satu daftar itu udah tercapai. Saya senang dan merasa semangat untuk melanjutkan bucket list yang lainnya.

Oh, ya. Selain bucket list, saya juga punya daftar resolusi (oke, salahkan saja sisi melankolis saya, si maniak daftar). Tapi begini, buat saya, resolusi itu semacam cara untuk mengingat kebaikan Tuhan dalam hidup ini. Segala hal yang diizinkan-Nya maupun tidak diizinkan-Nya terlaksana adalah salah satu bukti cinta-Nya kepada saya. Nah, salah satu resolusi itu sudah tercapai awal tahun ini. Hanya ucapan syukur saja yang bisa saya ucapkan untuk hal itu 🙂 .

Bagaimana dengan Anda? Apakah tahun ini berjalan dengan baik?

Iklan

Day 1: Kalau Saya Kaya Nanti

Kalau saya kaya nanti, apakah saya akan tetap rendah hati, masih mengingat teman lama, dan tetap hidup sederhana? Apakah saya akan tetap bersedia menunggu meski saya punya uang untuk mendesakkan keinginan? Apakah saya akan cukup ikhlas untuk memaafkan kesalahan orang lain meski saya punya kuasa untuk membawanya ke pengadilan? Apakah saya masih mau belajar, baik hal-hal luar biasa yang akan membawa saya menuju pengetahuan yang lebih abadi, maupun hal-hal sederhana seperti menghormati rekan yang lebih tua?

Kalau saya kaya nanti, masih cukup sportifkah saya menerima kekalahan meski saya sanggup membayar orang lain untuk berjuang demi saya? Masih beranikah saya memikirkan hal-hal positif dari para sahabat-sahabat yang dekat dengan saya? Masih cukup bersediakah saya menerima uluran tangan orang lain yang ingin menunjukkan kebaikan hatinya?

Kalau saya kaya nanti, apakah saya akan semakin peduli penderitaan orang lain? Akankah saya memiliki empati yang lebih tinggi?

Kalau saya kaya nanti, mampukah saya tetap berjalan di lajur yang benar? Mematuhi peraturan sederhana layaknya orang lain? Sanggup mencukupkan diri?

Kalau saya kaya nanti, apakah semua rasa sakit yang saya rasakan saat ini akan berakhir? Apakah saya bisa benar-benar bahagia? Apakah hidup saya akan berubah seperti yang diperkirakan banyak orang? Apakah saya boleh berbuat semena-mena, membalas dendam pada semua bagian masa lalu saya yang buruk?

Seringkali saya menganggap bahwa menjadi miskin itu banyak godaannya. Saya tergoda mencuri agar bisa memiliki apa yang dimiliki orang lain. Saya tergoda menangis saat saya ditekan. Saya tergoda mengumpat saat saya direndahkan. Saya tergoda untuk menyerah saat saya menghadapi jalan buntu.

Tapi ternyata tidak semudah itu. Kalau saya kaya nanti, ternyata godaannya lebih banyak lagi. Bahkan saat saya tidak menyadarinya. Bahkan saat saya tidak membutuhkannya namun saya mendapatkan kesempatan melakukannya.

Tuhan, kalau saya kaya nanti, apakah saya akan lebih baik?

*Masih dari blog sebelah. Saya suka tulisan ini.

Day 1: Berdamai dengan “Pembunuh” Di Balik Meja Kantor

Rata-rata pegawai kantoran menghabiskan waktu minimal 8 jam di belakang meja kerja. Jumlah itu masih bertambah apabila si pegawai harus lembur menyelesaikan tugas yang menumpuk. Betul sekali jika ada yang sampai menganggap kantor adalah rumah kedua tempat seseorang menghabiskan hampir sepertiga masa hidupnya.

Mau tak mau, fakta tersebut menyadarkan seorang pegawai kantoran untuk tidak melulu duduk dan bekerja. Apalagi jika pekerjaan tersebut menuntutnya untuk duduk di belakang meja demikian lama tanpa jeda. Sebut saja pegawai admin, editor, dan sebagainya. Kadang-kadang, karena terlalu asyik bekerja, seseorang tidak sadar untuk bergerak dari posisi duduknya.

Lalu, memangnya kenapa kalau demikian? Apa sih bahayanya duduk terlalu lama? Menurut sebuah sumber, bila seseorang tidak bergerak selama beberapa jam tanpa jeda, bisa memicu penggumpalan darah yang berbahaya bagi kesehatan. Bahasa medisnya disebut Deep Vein Thrombosis (DVT). Semakin sering Anda melakukan kebiasaan itu dan semakin lama waktu yang Anda pergunakan untuk duduk, semakin tinggi risiko mengalami DVT. Efeknya pelan-pelan bisa mematikan.

Berikut aktivitas yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko tersebut :

Pertama,

Gunakan botol minum berukuran sedang  (tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil). Dengan demikian, ada  alasan untuk berdiri dari tempat duduk dan melangkah sebentar untuk mengisi kembali stok minuman yang habis.

Don’t : Malas. Kondisi ini kadang malah membuat orang malas minum. Apalagi jika sedang mengejar untuk menyelesaikan tugas tertentu. Tapi ingat, ruang AC menyerap sebagian cairan tubuh kita. Usahakan untuk tetap minum meski tidak haus. Biar mudah diingat, tetapkan target minum air putih sesuai dengan besar botol minum tersebut.

Kedua,

Jika butuh berkomunikasi dengan rekan kerja, usahakan untuk berbicara langsung. Emang sih zaman sekarang via online lebih mudah dan praktis. Kita bisa saja menyampaikan maksud atau kebutuhan lewat YM, BBM, SMS, padahal rekan kerja hanya berada sejauh 5 meter dari kita. Atau berada di ruang sebelah. Jadikan itu alasan untuk bangkit dari tempat duduk dan berjalan sebentar. Bonusnya, apa yang kita sampaikan bisa lebih dimengerti.

Don’t : Kelamaan. Ngobrol dengan rekan kerja kadang menyerempet hal-hal lain yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Bergurau atau berbasa-basi sejenak boleh saja. Tapi, perlu liat waktu dan tempat juga. Kalau suasana sedang sibuk atau dilanda deadline, hendaknya kita hanya berkomunikasi untuk hal yang perlu-perlu saja.

Ketiga,

Pergunakan waktu istirahat untuk jalan-jalan sebentar. Rata-rata waktu istirahat atau makan siang adalah satu jam. Jeda ini bisa digunakan untuk berbincang-bincang dengan rekan kerja lain. Selain untuk menjalin pertemanan, kita juga kembali disegarkan. Usahakan untuk tidak hanya duduk di dalam ruangan, namun pergi ke ruang terbuka (jika ada). Lebih baik lagi jika kantor tersebut dilengkapi oleh area hijau.

Don’t : Keasyikan. Kadang kala topik yang asyik membuat orang jadi lupa waktu dan terus mengobrol. Tetap ikuti aturan yang telah ditetapkan meskipun sebenarnya masih belum puas. Salurkan energi tersebut untuk melakukan pekerjaan yang sudah menunggu.

Keempat,

Lakukan gerakan-gerakan ringan dalam jangka waktu tertentu. Ada banyak gerakan yang dianjurkan oleh pakar kesehatan untuk membuat aliran darah tetap normal. Bisa dengan menggerakkan tangan ke atas, samping, dan ke bawah. Atau mungkin sambil menggerakkan pinggang. Hal ini lumayan bermanfaat untuk menyegarkan kembali.

Don’t : Mengganggu. Gerakan-gerakan ringan tersebut bisa saja mengganggu rekan kerja yang sedang serius bekerja. Sebaiknya keluarlah dari ruangan sebentar untuk melakukan gerakan tersebut.

Kelima,

Sesekali bantulah orang lain membawa barang saat ia kesulitan. Selain beramal, hal ini juga menambah daftar aktivitas ringan lain yang bisa dilakukan selain ketak-ketik di atas keyboard.

Don’t : Keseringan. Apalagi jika itu bukan tugas utama kita. Efeknya, tugas utama bisa terbengkalai atau malah orang lain menjadi terganggu karena over inisiatif tersebut.

Selain kelima hal tersebut, tentu masih banyak hal-hal lain yang bisa dilakukan agar tubuh tetap sehat dan segar. Yang penting adalah kemauan masing-masing pribadi untuk melakukan yang terbaik bagi tubuhnya sendiri. Hindari penyakit dengan terus bergerak.

*Tulisan ini dari akun blog sebelah yang sebentar lagi mau dihapus (ganti baru). Sayang dibuang. 😀

Day 1: New Chapter

Rasanya udah waktunya memulai bagian baru dalam hidup ini. Bukan hanya karena momen tahun baru atau ulang tahun yang dirayakan di awal tahun, tetapi adanya rasa cukup terhadap apa yang saya kejar akhir-akhir ini. Memang sih, target yang tercapai tidak begitu sesuai dengan impian. Awalnya, saya pengen mendapatkan status baru dalam pekerjaan: menjadi profesional. Namun, apa yang saat ini saya miliki dan rasakan, sama sekali tidak berhubungan dengan itu. Bagaimana pun, saya sangat bersyukur diizinkan melangkah ke dalam fase yang baru dan berbeda.

Hal ini mengajari saya untuk siap menerima segala kemungkinan. Apa yang kita rencanakan masih kalah menarik dari rencana Tuhan. Menerima dan bersyukur; itu saja yang perlu dilakukan.

So, begitu saja dulu. Saya siap menjalani bab yang baru ini dengan segala kejutannya. Pasti banyak cerita menarik menunggu saya di depan. Thanks God!