Day 54: Menua dengan Bahagia

Lelaki separuh baya itu bersiul-siul sembari menjentikkan jemari tangannya. Matanya fokus pada sepasang sangkar merah bata yang tergantung di atas teras rumahnya. Dua ekor kenari berwarna kuning dengan hiasan merah di punggungnya sedang hinggap pada batang-batang kayu yang ada di dalam sangkar. Sesekali, dua makhluk kecil yang indah itu menirukan bunyi siulan yang mereka dengar.

Namanya Mateas. Kami memanggilnya Pak Mat. Ia adalah rekan senior di ruangan kami. Beberapa bulan yang lalu, ia pensiun. Ketidakhadirannya cukup menimbulkan rasa kehilangan. Salah satu hal yang paling berkesan adalah nasihatnya untuk selalu hidup sehat.

Pak Mat sangat memuja hal-hal yang berbau kesehatan, mulai dari minum air putih dalam jumlah banyak setiap hari, makan buah, tidak makan gorengan, dan olahraga. Akhir-akhir ini, ketika kami berkunjung ke rumah beliau, ia mengaku sedang menjalankan terapi urine. Duh, membayangkannya saja rasanya nggak sanggup.

Namun, dengan bijaknya, Pak Mat mengatakan bahwa segala sesuatu bermula dari niat. Pahami dulu apa manfaatnya, baru jalankan. Kalau sudah paham, halangan apapun pasti bisa dihadapi.

Pak Mat adalah tipe orangtua yang ngemong rekan-rekan kerjanya yang rata-rata masih muda. Suatu kali, ia menasihati saya soal kehidupan berkeluarga. Saat itu, saya dalam kondisi akan memulai sebuah hubungan. Niatnya adalah menguatkan keputusan yang saya pilih sehingga nanti saya tetap kuat menjalaninya.

Saya menangkap pesannya: Hidup bukan hanya untuk hari ini saja. Berkali-kali ia menyarankan saya untuk menabung, menabung, dan menabung. Tak segan-segan ia memberikan informasi yang intinya adalah untuk membangun kesejahteraan pada masa yang akan datang.

Kehidupan Masa Tua

Dua atau tiga tahun lalu, saya mewawancarai seorang mbah (nenek) di daerah Jawa Tengah. Ia hidup bersama suami yang sakit menahun karena uzur. Anak-anaknya tinggal di tempat lain dan telah memiliki kehidupan sendiri. Dalam keterbatasan itu, terlihat betapa tidak nyamannya kehidupan.

Saya tidak bermaksud menjelekkan kesederhanaan hidup yang mereka jalani setiap hari. Di balik itu, saya begitu kagum pada kemampuan mereka untuk bersyukur dan menerima segala keadaan dengan hati lapang. Meskipun terbaring sakit, setidaknya sang suami masih bisa menemani hari-hari istrinya.

Saya juga pernah menemui sepasang suami istri yang usianya tak lagi muda. Sang suami adalah satpam paruh waktu di sebuah gereja. Ketika kami berkunjung ke rumah mereka, saya melihat sang istri duduk di kursi roda. Wanita itu menyapa kami dengan senyum. Tangan sebelah kirinya tak bisa digerakkan karena stroke belasan tahun lalu. Ia pun sulit berbicara.

Masih banyak gambaran kehidupan masa tua yang tidak menyenangkan di sekitar kita. Ada yang digerogoti penyakit menahun, ada yang kesendirian dan kesepian, dan ada yang bahkan tidak mampu memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Di kota-kota besar, ada saja orang-orang tua yang tinggal di jalanan dan hidup dari belas kasihan orang lain.

Hidup Bahagia Bersama Anak Cucu

Iseng-iseng, saya bertanya kepada seorang teman. Usianya sekitar 30 tahun. Ia berpendapat bahwa sejahtera di masa pensiun adalah masa ketika kita hidup bahagia bersama anak cucu. Kita tidak perlu lagi memikirkan pekerjaan. Kesehatan baik. Kebutuhan sehari-hari cukup. Keluarga bahagia. Ideal, bukan?

Sebagian besar dari kita mencita-citakan hal itu pada masa muda. Ada pepatah iseng yang berbunyi, “Muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga.” Ini adalah potret kehidupan yang bener-bener “ideal” menurut sebagian orang. Tapi apa benar bisa begitu? Setelah puas berfoya-foya, apakah kehidupan di masa tua bisa tetap aman?

Beberapa waktu lalu, saya juga mewawancarai seorang agen asuransi Sunlife. Namanya Bu Dina. Ia ibu 2 anak. Kedua anaknya sukses di bidang mereka masing-masing. Di usianya yang tak muda lagi, Bu Dina masih sangat bersemangat. Ia tampak sangat peduli dan enak diajak curhat. Satu dua kali ia mengajak saya bergabung di Sunlife.

Meskipun, saya belum memutuskan apakah akan bergabung atau tidak, Bu Dina  samasekali tak memaksa. Hal itu meruntuhkan semua persepsi yang terlanjur terbentuk di kepala saya; bahwa agen asuransi banyak yang “keras kepala”, artinya tidak mau melepaskan begitu saja sebelum membeli asuransi dari mereka.

Mungkin juga, sih, hal itu tergantung karakter seseorang. Ada tipe pejuang yang benar-benar ingin mendapatkan sesuatu, ada yang lebih santai dan mengalir. Rupanya, ibu ini tipe kedua. Namun, sikap santai seperti itu menolong masyarakat awam seperti saya untuk lebih memahami posisi asuransi secara positif.

Tahun depan saya akan berusia 29 tahun. Saya dan pasangan bercita-cita memiliki kehidupan yang baik pada masa tua. Meskipun belum menikah, kami sepakat untuk mempersiapkan masa depan dengan memiliki tabungan bersama. Soal asuransi, dalam hati, saya pengen banget memilikinya. Bukan hanya persiapan jika salah satu dari kami mendahului yang lain, tetapi supaya tidak merepotkan anak cucu ketika tenaga dan pikiran tak bisa lagi diajak bekerja sama. Semoga.

*tulisan ini diikutsertakan pada Sun Anugerah Caraka Kompetisi Menulis Blog 2014
Iklan

Day 49: Cerita Tentang Toraja

Judul: Toraja

Penulis: Endang SSN

Penerbit: de Teens

Jumlah Halaman: 244

Tahun terbit: Agustus 2014

Sinopsis

Sandy adalah alumni Psikologi Universitas Airlangga yang lulus tepat waktu dengan embel-embel cumlaude di belakang gelarnya. Sungguh pun demikian, ia–yang sudah mengirim ratusan lamaran pekerjaan–tak diterima di perusahaan apapun di Jakarta, kampung halamannya.

Kondisi itu membuat Sandy depresi. Pada suatu ketika, ia bertemu dengan Tomi, sahabatnya di SMU, yang sudah hilang kontak sejak 4 tahun. (Kok bisa ya? Hehe). Tomi menantangnya untuk bertualang ke Toraja. Hitung-hitung untuk membuang suntuk, Sandy menerima tantangan itu.

Di Toraja, keduanya, terutama Sandy mengalami perubahan hidup yang besar-besaran. Perjalanan itu pula yang kemudian memberinya banyak pelajaran untuk tetap kuat dan tegar serta berjuang mendapatkan apa yang ia inginkan. Bagaimana kisah Tomi dan Sandy di Toraja? Apakah mereka mengalami pengalaman-pengalaman mistis seperti yang selama ini dibayangkan orang-orang tentang Toraja?

Tema dan Amanat

Sebagai salah satu seri dari #travelove, novel Toraja memiliki dua tema besar yaitu perjalanan dan kisah cinta. Melalui novel ini, pembaca disuguhkan keindahan Toraja lengkap dengan berbagai sisi uniknya, termasuk pertemuan mereka dengan Tangke, pemuda asli Toraja. Tangke pun mengajak kedua teman barunya untuk tinggal di tongkonan, rumah khas orang Toraja. Dan tentu saja, sebuah novel remaja takkan afdol jika tak dihiasi dengan kisah cinta yang dramatis.

Jika dilihat lebih mendalam, ada beberapa hal yang ingin disampaikan penulis melalui novel ini, yaitu 1) berjuanglah untuk mendapatkan apa yang kau mau, terutama hal-hal yang berkaitan dengan masa depan, 2) orangtua perlu melihat secara objektif, termasuk dari sudut pandang si anak, berkaitan dengan hal sensitif dan penting seperti pasangan hidup. Perjodohan? It’s so last year. 3). keberanian itu muncul saat dijalani, bukan cuma slogan semata.

Pada titik ini, Toraja cukup membuat saya puas.

Tokoh dan Penokohan

Tokoh utama dalam novel ini (setidaknya) ada 3, yaitu Sandy, Tomi, dan Tangke. Merekalah yang disebut-sebut penulis sampai akhir. Tokoh lainnya adalah Olla, Yanuar, Bira, Raka, Pak Broto, Rani, Tato, dan Eban. Secara subjektif, ada beberapa kejanggalan yang saya rasakan soal tokoh-tokoh ini. Pertama, posisi Olla dalam hidup Sandy. Pada permulaan cerita, disebutkan bahwa Olla adalah kekasih pertama Sandy. Sayangnya, Olla adalah jenis cewek yang suka mempermainkan lelaki. Akhirnya cinta mereka kandas di tengah jalan.

Memang sih, sesekali pikiran tentang Olla berkelebat di benak Sandy, tetapi, dampaknya tidak begitu terasa bagi saya sebagai pembaca. Anehnya lagi, Olla seolah hilang begitu saja di akhir cerita, padahal.. ia memiliki peran yang cukup dalam di hidup Sandy. Setidaknya 18 halaman pertama di novel ini berkisah tentang romantika cinta mereka. Nah, dalam angan-angan saya sebagai pembaca, tentu saya juga ingin melihat kelanjutan Olla seperti apa? Apakah ia tak diberi ruang untuk menunjukkan sesuatu? Apakah ia hilang begitu saja? Yah, namanya juga pembaca ya, maunya banyak, hehe.

Kedua, hubungan Sandy dengan kedua sahabatnya, Yanuar dan Tomi. Yanuar adalah sahabat Sandy saat kuliah. Mereka digambarkan sangat dekat, meskipun bagi saya persahabatan mereka agak gimana ya.. Coba baca kutipan berikut.

Sandi menghela napas lirih. Ia tersenyum, paham betapa Yanuar hanya ingin melindunginya dari kesakitan untuk kesekian kalinya. Namun, hidup tanpa Olla tetap bukan hal yang ingin ia pilih saat ini. Hal. 17

atau ketika Yanuar kembali menghubungi Sandy setelah mereka lulus dan Sandy mulai teringat lagi dengan sahabatnya itu.

Yanuar adalah sahabat yang sangat bangga dengan semua pencapaiannya selama di kampus… Yanuar bahkan sangat yakin kalau selepas Sandy menanggalkan status mahasiswanya, akan banyak tawaran pekerjaan. Hal. 131.

Menurut saya sih, menggunakan kata “bangga” untuk menunjukkan persahabatan itu tampaknya tak biasa (meskipun ini sebenarnya positif). Apalagi bagi situasi sahabatan ala cowok yang penuh dengan aroma kompetitif. Mereka juga berada dalam ‘wilayah’ yang sama, kuliah di bidang yang sama dan seumuran. Justru perasaan yang masuk akal adalah keinginan untuk terlihat sebanding atau setara dengan sahabatnya. Misalnya, ingin ikut lulus cepat seperti Sandy. Tapi, yah, semua hal bisa terjadi dalam sebuah novel. Karakter seperti ini bisa dibilang berbeda dan lumayan unik. Atau pendapat ini muncul karena saya sendiri terlalu menjunjung nilai kompetisi? Hihi.

Yang kedua adalah persahabatan dengan Tomi. Pertemuan dengan Tomi adalah sebuah kebetulan di sebuah kafe. Itu juga setelah Tomi mengulurkan sebuah foto dari dompetnya. Bisa dibilang, Tomi ini anak gaul bergaya vintage. Buktinya, ia masih menyimpan foto dirinya 4 tahun lalu dalam dompet. Nyimpan foto di memory handphone? Hmm. Bukan pilihannya mungkin ya.

Nah, setelah pertemuan itu, pembaca mulai dijejali ide tentang betapa akrabnya Tomi dan Sandy. Apa yang terjadi pada masa lalu yang membuat mereka seakrab itu, saya kurang begitu mengerti. Yang saya rasakan (subjektif lagi nih pasti :p ) adalah kurangnya reaksi di antar mereka. Seperti dibuat-buat. Apalagi jika melihat latar belakang dimana 4 tahun yang lalu, mereka begitu saja tidak berhubungan lagi setelah lulus SMU. Ya, tapi hal ini bisa jadi terjadi. Bisa juga nggak mungkin ya, mengingat banyaknya media sosial pada masa kini dan canggihnya teknologi. Tapi, mereka hidupnya pada masa apa ya? Nanti akan kita bahas pada poin selanjutnya.

Yang ketiga adalah Rani. Saya sih hanya sedikit terganggu saja dengan bagaimana gambaran hubungan adik kakak tersebut. Saat Sandy pergi dari rumah selama 3 hari, Rani protes dengan tampang manyun. Sandy bertanya mengapa, lalu Rani menjawab:

“Aku tuh maunya Kakak ada di sini, udah gitu aja. Emang susah, ya?” tanya Rani.  Sandy tersenyum mendengar pertanyaan Rani.. Rani melepas pelukannya dari Sandy. Ia mulai asyik masyuk dengan buku-buku yang ada di tangannya. Hal 227.

Dan jika diamati lebih jeli, hubungan Rani dan kakaknya hanya sebatas ungkapan kerinduan semata. Porsi interaksinya pun sangat sedikit. Satu dua scene saja. Tidak ada hal-hal atau kegiatan yang bersifat mendekatkan keduanya.

Jalan Cerita dan Setting

Saya ingin bahas tentang setting waktu yang digunakan penulis. Sangat sedikit petunjuk mengenai kapan sih tokoh-tokoh ini hidup. Seingat saya, komunikasi yang digunakan hanya satu dua SMS dan telpon. Tidak ada internet atau smartphone. Padahal seandainya ceritanya adalah masa kini, hal-hal seperti medsos udah ga bisa dipisahkan dari kehidupan anak muda, minimal Twitter atau Facebook. Tapi, ya mungkin penulis memiliki pertimbangan tersendiri sehingga para tokohnya tidak diizinkan terinfeksi oleh hal-hal berbau gaul semacam itu.

Untuk tempat, menurut saya lumayan memberi kontribusi. Setidaknya saya tahu apa itu tongkonan. Lalu, budaya-budaya di Toraja juga disebutkan. Ini sebuah hal yang cukup melegakan. Kehadiran Tangke cukup memberi dampak yang membangun suasana. Meskipun, saya agak heran mengapa Tangke tak pernah berbicara dalam bahasa atau ungkapan asli Toraja. Dia justru terdengar seperti orang Jakarta pada umumnya, tak ubahnya seperti Sandy dan Tomi.

Hal lain yang sepertinya perlu dipertanyakan adalah situasi hidup Sandy. Setelah lulus kuliah, beberapa saat kemudian ia memutuskan pergi ke Toraja bersama Tomi. Di sana ia bertemu seorang gadis bernama Bira. Mereka memang agak lama tinggal di Toraja (untuk ukuran traveling biasa) sekitar sebulanan. Sepulang dari Toraja, ada jeda beberapa saat sampai akhirnya ia kembali lagi ke tanah itu untuk sesuatu yang besar. Maaf, tanpa bermaksud spoiler, hanya saja ide tentang pernikahan, di usia Sandy yang masih muda–tanpa pekerjaan–sepertinya kurang masuk akal.

Namun, bagaimanapun, cerita tentang Toraja, rambu solo, dan tongkonan sedikit banyak bisa membangun imajinasi pembaca mengenai bagaimana rasanya bertualang di negeri orang yang memiliki budaya yang unik.

Sementara untuk cover dan layout, sudah sangat mewakili. 🙂

Day 42: Belajar Menghadapi Kenyataan Melalui Seduhan Secangkir Kopi

Kopiss

Judul: Kopiss

Penulis: Miko Santoso

Penerbit: DIVA Press

Jumlah halaman: 280

Tahun terbit: Agustus 2014

Sebelum memulai review novel ini, saya mau beri applause terlebih dulu untuk kepiawaian penulis merangkai kata-kata. Hebat. Ini jenis novel yang akan masuk dalam list saya saat belanja buku. Oh,ya, saya memang adiktif pada cerita yang kaya diksi.

Oke, mari kita mulai..

KOPISS. Ini adalah nama sebuah kafe di Kompleks Perumahan Bintaro Jaya. Kafe ini dulunya adalah sebuah rumah tinggal yang bergaya victoria. Pemiliknya Qiana (yang dibaca dengan cara biasa aja, bukan Kyaiianaa.. :p). Lalu, datanglah Gili serta Onne. Mereka bertiga menjadi motor penggerak kafe yang khusus menyajikan menu kopi racikan sendiri, mulai dari cappuccino, espresso, dan sebagainya. Pada gilirannya nanti, muncul pula seorang Sher, yang ahli menciptakan makanan berupa cheese cake, pretzel, cupcakes dan.. ah cukup, membayangkan semua itu membuat saya menelan ludah.

Cerita penuh dengan istilah-istilah kopi. Roasting. Milk jug. Crema. Third wave coffee. Saya yakin, mereka-mereka yang hanya minum kopi “seadanya” aja (termasuk peminum kopi sachetan) nggak begitu kenal dengan istilah-istilah seperti ini.

Wajar aja.

Mereka bertiga bisa dibilang cukup profesional dalam mengelola bisnis kopi yang sedang digeluti itu. Bahkan Gili, sudah pernah bekerja di Kafe Liwa dan mengenal teknik pembuatan kopi yang enak, pro meskipun belum sampai memenangi kejuaraan barista. Qiana sendiri lahir di antara aroma kopi. Sang ayah memiliki sebuah mesin bernama Silvia dan bersama mesin itulah Qiana memulai hari-harinya di masa kecil. Ia belajar meracik kopi dan teori-teori dasar lain yang seharusnya diketahui seorang penikmat kopi sejati. Sementara Onne, yah, sejalan dengan waktu, ia belajar dari kedua rekannya dan ikut menjadi profesional yang juga mengerti kepentingan manajerial dalam dunia bisnis kopi. Komplit. Cocok.

Namun, keberadaan mereka bertiga yang tampaknya sempurna bukan berarti hidup menjadi lancar-lancar saja. Satu demi satu diuji ketegarannya. Mereka memiliki problem sendiri-sendiri yang harus dihadapi. Qiana dengan ketidakmampuannya move on dari masa lalu, Onne dengan masalah pekerjaan dan keluarga, serta Gili dengan kekasih yang beda agama dan berada di ambang perceraian.

“Hidup itu memang seperti meniti tangga masalah. Setiap pendakian baru berarti masalah baru. Kita tidak bisa benar-benar lepas dari tangga itu. Ya, kecuali mati.” (Hal. 243)

Ya, siapa sih yang nggak punya masalah di dunia ini. Tokoh dalam novel aja punya. Haha. Ini satu hal yang saya senangi saat membaca Kopiss. Ia begitu mengerti fakta yang terjadi di dunia nyata. Bukan kisah yang mengawang-awang, bukan juga sesuatu yang berlebihan. Seperti adanya.

Cara penceritaan seperti itulah yang membuat saya, khususnya, bisa larut dalam lembar demi lembar novel ini. Selain dari kuliah tentang biji kopi yang harus diapain dulu biar enak, secara implisit dan eksplisit saya juga diajari mengenai bagaimana menghadapi dan menerima kenyataan. Misalnya, sesuatu yang sudah terjadi, ya sudah, biarkan saja terjadi. Hadapi dan terima. Lalu, bangkit lagi.

TOKOH, PLOT, SETTING

Seperti sudah disebutkan, tokoh utama dalam Kopiss adalah Qiana, Gili, dan Onne. Mereka begitu berbeda tetapi diikat dalam sebuah persaudaraan khas cewek-cewek. Sedikit usil, cerewet, agak cengeng, tapi tetap dewasa. Dalam beberapa adegan yang tersaji, para tokoh bisa tampak sangat kekanakan, bisa juga bersikap bijak. Memang begitulah seharusnya manusia. Emosi yang dirasakan nggak mungkin sama dan cara penyelesaian masalah bisa berbeda.

Untuk plot, nggak ada kelemahan apapun. Semuanya mengalir. Hal itu yang akan membuat pembaca enggan meletakkan novel ini sejenak saja. Setting? Selain Jakarta, Malang juga merupakan latar tempat yang dipilih penulis. Tentu saja, ia tak lupa menyisipkan ungkapan-ungkapan khas Malang yang membangun suasana. Misalnya, dalam percakapan Lek Karto dan Onne, ketika ia pulang kampung.

Selebihnya, ada beberapa yang typo, tapi dibanding dengan kesempurnaan yang terdapat dalam novel ini, saya bisa bilang, “No problemo”. Cover dan layout-an pun pas adanya. Nggak berlebihan, menarik, dan segar.

Dari semua hal yang telah saya beberkan tersebut, tentu nggak mengherankan jika (dengan spontan) saya bersedia merekomendasikan buku ini kepada teman-teman saya, para pecinta kopi dan buku. Mereka juga harusnya memiliki kesempatan menikmati sajian lezat dari seorang Miko Santoso. (Nah, tuh, sampai lupa mengulik latar belakang sang penulis saking asyiknya bicara soal kisah Kopiss. Sst, ia juga seorang pengusaha kopi, lho. Sana gih, kenalan. Hihi.)

“Namanya cinta. Benda ini bukannya tak berwujud seperti kentut. Cinta itu kumpulan materi, memiliki dimensi. Aku dapat melihatnya secara nyata. Dipegang pun bisa.” Hal 277.

Day 42: Mengenang Ibu

Stronger Than Me

Judul: Stronger Than Me

Penulis: Jazim Naira Chand dkk.

Penerbit: de TEENS

Jumlah halaman: 252

Tahun terbit: Agustus 2014

“Sekarang, kamu tahu, kan, kenapa aku menyukai air yang mengalir? Air yang mengalir mengingatkanku tentang pengorbanan dan kasih sayang Ibu. Air yang mengalir tak pernah berhenti. Terus berlari tanpa menarik alirannya kembali. Kasih ibu tak kenal lelah dan henti. Terus memberi tanpa menarik pemberiannya kembali.” (Air yang Mengalir Tak Pernah Berhenti hal. 110)

Bagaimana, sih, kamu memandang sosok seorang ibu? Kebanyakan pasti mengakui ya kalau jasa ibu terhadap anak-anaknya itu tak terbalas. Kita nggak bisa membayar seluruh pengorbanan ibu yang telah telah ia berikan sejak kita dalam kandungan.

Kebaikan tersebut nggak berhenti begitu saja ketika kita beranjak dewasa. Bahkan, saat kita khilaf dan melakukan “kesalahan” yang akhirnya melukai hatinya, ia tetap berusaha mencintai kita. Ia memaafkan sepenuh hatinya.

Ibu juga kita anggap sebagai sosok kuat yang selalu menampung curahan hati dan keluhan kita. Jarang kita denger, ada ibu yang mencelakakan anak-anaknya (kecuali ibu sakit jiwa, lho).

Nah, tema-tema yang sangat menyentuh tentang ibu tersebut dirangkum dalam sebuah kumpulan cerpen dan diberi judul Stronger Than Me. Setelah membaca keseluruhan isi buku, saya bisa menduga-duga kenapa kumcer ini diberi judul seperti itu. Yap, ibu adalah perempuan kuat yang selalu menopang kita dalam kondisi seburuk apapun.

Ada 19 cerpen segar yang ditulis oleh 19 penulis dalam kumcer ini. Dengan cara yang khas, mereka mencoba menjabarkan kisah perempuan yang mengambil peran sebagai ibu. Kisahnya beragam. Melihat latar belakang para penulis, hal itu sangat bisa dimaklumi. Bisa jadi, semakin lama kita bersama ibu, semakin dalam cara kita memaknai hubungan tersebut. Dan tentu saja, kisahnya pun semakin mengharukan.

Ohya, jangan buru-buru menilai bahwa cerita-cerita ini cengeng, ya. Selain menyentuh (seperti yang tadi saya sebut), kumcer ini juga sangat bervariasi. Konfliknya macem-macem. Tapi, yang jelas, cara penceritaannya keren-keren. Nggak diragukan, diksi para penulis bisa diacungin jempol. Ya, ada satu dua sih yang agak lebay. Misalnya, penggunaan kata, “mempersibuk”, “tersebab”, dan “mempertautkan” (Hal. 180). Tapi, nggak apa-apa. Sebagian besar masih menyenangkan, kok.

Dari seluruh cerpen yang ada dalam buku ini, ada beberapa yang menurut saya “berbeda”. Yang pertama, Impian Si Tukang Bangunan, karya Eni NN. Diceritakan, ada seorang ibu yang “tomboi” dan telah ditinggal suaminya, seorang tukang bangunan. Sebelum sang suami meninggal, si ibu seringkali mengikuti suaminya bekerja. Alasannya?

“Bapakmu samasekali nggak suka melihat ibumu ini sedih. Sampai-sampai, ke manapun bapakmu pergi untuk menukangi rumah orang, Ibu selalu setia mengikutinya, atas dasar kemauan Ibu sendiri yang dituruti oleh Bapak.” Hal 180.

Nah, bayangin, tuh. Dalam benak saya, si Ibu ini seperti ekor bagi sang suami, menemaninya kemana-mana. Catet juga kalau dalam cerita nggak disebut bahwa istri ikut bekerja. Bantuin mungkin iya. Tapi, wajarnya kan seorang istri ada di rumah, menunggu suami pulang, dan berusaha meredakan rasa lelahnya.

Saya mencoba menelusuri kemungkinan lain yang ingin disampaikan penulis, yang implisit. Bisa jadi, ikut sertanya si istri ke tempat kerja suaminya adalah untuk menunjukkan nilai kesetiaan dan tak terpisahkan. Ya, bisa jadi.

Kisah kedua yang menarik juga adalah Istana Baru untuk Emak. Cerita yang dipasang di bagian awal ini bisa dibilang memang pendek. Tak berpanjang-panjang ria. Tapi pesannya sangat jelas. Menohok. Tokoh utama dalam cerita ini ada 3, yaitu Emak Hindong, Hasan, dan Hude. (Saya nggak tau, apakah kesamaan huruf depan tokoh ini disengaja? Haha).

Diceritakan, Emak Hindong sudah tua dan sakit-sakitan. Bahkan, untuk buang hajat sendiri ia sudah tak mampu. Tersebutlah, ia memiliki anak angkat yang sudah beristri. Ini bukan anak angkat sembarang anak angkat, tapi anak angkat yang sudah seperti anak sendiri.

Seperti pola hubungan menantu dan mertua kebanyakan, dikisahkan jika Hude begitu emosi saat Emak Hindong lagi-lagi buang hajat sembarangan. Pada puncaknya, ia meminta Hasan untuk memindahkan Emak Hindong ke belakang rumah, di sebuah tempat kecil berdinding papan. Saya mengira-ngira kenapa Hasan kok tega mengiyakan permintaan seperti itu. Ya, dia seorang suami yang harus mempertimbangkan permintaan istri. Atau, dia merasa bahwa Emak Hindong berpotensi mengganggu acara sunatan anaknya yang akan segera diadakan.

Akhirnya… sesuatu yang mengejutkan terjadi keesokan harinya. Hal itu mengubah hidup Hasan selamanya. Hanya karena keputusan yang tidak bijak, ia menderita seumur hidup. Membaca cerita ini, perasaan saya campur aduk. Sesungguhnya sih “terpukul”. Dalam artian begini, jangankan kepada mertua (yang belum punya juga, sih haha), kepada ibu sendiri aja, bisa nggak saya berkomitmen untuk nggak bicara kasar dan tetap hormat meskipun nanti ia sudah tak berdaya. Bisa?

Cerita-cerita dalam buku ini memang memaksa kita melihat kembali ke dalam diri kita. Baik bagi yang masih punya ibu di dunia ini, maupun yang udah “pergi”, kita diberi kesempatan untuk mengenang mereka kembali saat mengeja satu demi satu barisan kalimat. Sebagian hal-hal yang dialami para tokoh dalam cerpen ini pun mungkin saja adalah pengalaman kita di dunia nyata.

Khusus bagi para calon ibu, buku ini menolong untuk mengambil keputusan, “Mau menjadi ibu yang seperti apa?” Ibu yang dikenal dan dikenang anaknya dengan penuh kekaguman karena kasihnya yang tak pernah habis atau ibu yang rapuh dan bersalah? Hmm, it’s our choice, women.

Day 34: Enam Tahun Lalu..

Pagi ini, ketika sedang membongkar-bongkar berkas-berkas, tiba-tiba menemukan amplop ini:

untuk soulmate. ditulis 7 Juli 2008.
untuk soulmate. ditulis 7 Juli 2008.

Saya nggak tahu apa yang waktu itu sedang saya pikirkan. Tunggu. Samar-samar saya ingat, suatu ketika, saya begitu rindu pada kehadiran seseorang. Seseorang yang nggak saya kenal. Hati seperti mencelos. Kangen banget. Tapi nggak tau siapa. Pernah merasa begitu?

Mengherankan, sih. Hihi.

Ketika tadi pagi saya menemukan ini, ingatan saya kembali ke masa lalu. Saya punya kebiasaan menulis surat untuk orang-orang tertentu. Kata-kata yang tak bisa saya sampaikan pada saat itu. Ada beberapa yang saya bubuhkan tanggal kapan harus dibuka dan dibaca.

Khusus untuk satu ini, saya hanya akan memberikannya kepada orang yang saya yakini “soulmate”.

Lalu, mengapa saya yakin dia seorang soulmate? Adalah… Itu cerita lain lagi, hihi.

Tadi pagi, ketika dia baca surat ini, matanya berbinar-binar. Senyumnya mengembang. Dia terlihat sangat senang. Saya? Malu.. Kok bisa dulu menulis seperti itu. Haha.

Setelah selesai membacanya, ia bilang: Thank You. Aku juga sayang kamu. Dan dia menunjuk sebuah kalimat:

foto bareng

Mungkin kamu juga sudah menunggu untuk menemukan seseorang, atau mungkin kamu baru kehilangan seseorang, tetapi Tuhan bilang kamu harus bersamaku sampai akhirnya.

Ya, dengan semua yang telah terjadi dalam hidup kami masing-masing, rasanya inilah perhentian terakhir. Sama-sama nggak mau pindah lagi.

Saya pernah menulis di sini, tentang seseorang yang sampai pada waktu yang tepat. Saya nggak mungkin mendesak Tuhan untuk mempercepat sebuah peristiwa. Ciptaan hanya bisa sabar menunggu waktu yang tepat–menurut Penciptanya.

Melihat kembali perjalanan hidup yang saya lewati, rasanya.. nggak percaya. Saya tiba di sini. Sesuatu yang dulu tampak sangat mustahil. Semua itu untuk membuktikan, bahwa Ia memiliki kuasa atas kita. Ia bekerja dengan cara-Nya. 🙂

Thank you, God. You’re really awesome! (Jaga kami dalam perjalanan selanjutnya, ya..) 

Nah, kamu punya pengalaman yang sama, nggak? 😀 

Day 26: Minggu Kedua #3L1Hari

*latepost

Postingan ini harusnya terbit tanggal 28 kemarin. Tapi, karena satu dan banyak hal, akhirnya malah nggak jadi-jadi.

Oke, saya harus ngaku bahwa 3 liter belum terpenuhi. Satu dua hari, iya. Itu pun dengan usaha yang sangat keras. Saya menyadari bahwa saya juga butuh waktu tambahan (atau bisa dibilang terbuang) untuk bolak-balik ke toilet. Pernah dalam 10 menit dua kali buang air kecil.

Beberapa kali saya memaksakan diri. Rasanya seperti mau muntah. Saya suka kalau minum air putih hangat. Lebih enak di lambung. Tapi kalau udah di rumah, air putih berasal dari galon.

Saya juga menghindari minum malam-malam. You know, itu bisa mengganggu jadwal tidur karena kebangun gara-gara pengen pipis. Akibatnya malah kurang tidur dan stres besok paginya. Jadi, selama ini berusaha untuk minum banyak di bawah jam 9 malam.

Nah, kalau untuk cewek, yang paling repot kalau lagi period. Bukan soal mood-nya, tapi ke toilet berkali-kali itu.. rasanya agak menghabiskan banyak waktu. If you know what I mean, yeah, 😀

Tapi… saya juga punya strategi sendiri agar keinginan minum itu bertambah. Olahraga. Yap. Dalam seminggu kemarin, saya udah dua kali lari sore. Lumayan juga karena sekali teguk bisa satu liter. Kalau kemarin sih dia cerita, saudaranya kesulitan minum air putih dan diatasi dengan banyak makan kerupuk. Kan, jadi kering, mau nggak mau harus minum banyak. Hmm. Bisa juga. Tapi, nggak tau apakah banyak makan kerupuk itu berpengaruh buat kesehatan.

Semoga minggu ini bisa lebih baik lagi. Semangat.

2014-09-01 14.59.16