Menghadapi Antikristus; Apakah Gereja Sudah Siap?

Umat manusia sedang berada pada zaman terakhir. Nubuat tentang kedatangan Kristus yang kedua kali, termasuk peristiwa yang mengiringinya, akan segera tergenapi. Gereja harus menyiapkan diri. 

Pembicaraan mengenai siapa Antikristus bukan lagi sesuatu yang baru. Sejak zaman dahulu, setelah masa kebangkitan Yesus, umat Kristen terus-menerus berusaha menemukan siapa sosok yang disimbolkan oleh angka 666 ini. Tidak sedikit orang yang menjadi takut dan panik. Keberadaan Antikristus yang tersembunyi dari pengetahuan manusia sesungguhnya benar-benar menggelisahkan. Kita menjadi tidak tahu cara menghadapinya.

Dalam tulisannya yang berjudul Who is The Antichrist? (PMBR ANDI, 2012), Mark Hitchcock memaparkan empat alasan umat Kristen perlu menaruh perhatian terhadap keberadaan Antikristus. Pertama, tersedia banyak informasi mengenai hal ini di dalam Alkitab. Lebih dari 100 ayat menggambarkan asal mula, karakter, dan karier Antikristus di bumi ini merupakan alasan yang cukup untuk membuat kita waspada. Kedua, mengetahui hal ini semakin menambah keyakinan umat Kristen bahwa Allah akan mengalahkan semua kejahatan. Ketiga, umat Kristen bisa bekerja sama mempersiapkan diri untuk menghadapi kemunculannya. Alasan yang terakhir adalah mengenal kebenaran tentang Antikristus akan membantu umat Kristen mengetahui kesalahan dan kemurtadan yang terjadi pada zamannya.

Konsep Antikristus

Banyak orang mencoba menerka-nerka siapa sebenarnya Antikristus. Beberapa tokoh yang berpengaruh dalam lingkaran masyarakat dunia sering dituding sebagai Antikristus. Faktanya, tudingan tersebut hingga kini belum ada yang terbukti. Pendiri Sekolah Tinggi Theologi Injili Indonesia (STTII), Pdt. Dr. Chris Marantika, Th. D., D. D. (73), meyakini bahwa Antikristus benar sebuah figur yang disiapkan untuk masa depan. Figur ini adalah pimpinan ajaran sesat yang mewakili Iblis untuk menyesatkan umat manusia. Ia dipersiapkan dengan baik dan pekerjaannya adalah menyiksa orang-orang yang percaya kepada Yesus.

Marantika mengutip Daniel 9:24-27 untuk menunjukkan bagaimana periode kedatangan Mesias dan dilanjutkan oleh kemunculan Antikristus sudah termasuk dalam plot agenda kerja Allah. “Dalam Kitab Wahyu juga ada tentang Antikristus. Ia digambarkan akan muncul dengan kuasa yang mewakili Bapa, Kristus, dan Roh Kudus. Namun, figur ini akan dikalahkan oleh Tuhan.”

Melengkapi penjelasannya, Marantika menyebut bahwa kemunculan figur tersebut akan terjadi setelah pengangkatan orang percaya. Hal ini juga diyakini oleh Hitchcock. Menurut Hitchcock, Antikristus akan dinyatakan pada awal Hari Tuhan (masa Kesusahan Besar). Sebelum itu terjadi, jemaat sudah diangkat terlebih dahulu. Mengacu pada keyakinan ini, ada dua fakta yang mengikutinya. Pertama, umat percaya tidak akan bertemu dengan Antikristus. Kedua, justru yang akan mengetahui identitas Antikristus adalah mereka yang telah ditinggalkan dalam peristiwa pengangkatan.

Berbeda dengan pemahaman Marantika dan Hitchcock, Rev. DR. Yusak B. Setyawan (45), Kepala Program Studi Theologi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), menilik konsep mengenai Antikristus dari sisi sejarah kemunculannya. Menurut Yusak, ide tentang Antikristus mulai kental pada era penulisan teks-teks Perjanjian Baru. Pada masa Yesus masih hidup dan melayani, pembahasan ini belum pernah muncul. “Bahkan dalam fase pra-Perjanjian Baru atau kelahiran Kristus, saya melihat tidak ada ide tentang Antikristus. Ide ini berkembang sesudah Kristus bangkit lalu orang Kristen mengalami perkembangan,” kata Yusak yang juga mendalami penelitian mengenai sejarah masa lampau dan hubungannya dengan teks Kitab Suci.

Fakta Historis

Yusak menjelaskan, kemunculan ide tentang Antikristus tidak lepas dari konteks sosial politik pada zaman itu, yaitu sekitar tahun 50 hingga 60 dan menguat pada 80. Awalnya, kekristenan belum dianggap sebagai agama. Saat Yesus naik ke Surga, murid-murid-Nya tersebar ke mana-mana. Mereka membentuk kantong-kantong komunitas yang tertutup dan minoritas karena situasi politik pada masa itu. Orang Kristen terus berkembang walaupun kecil, khususnya di kalangan rendahan, seperti budak, petani kelas bawah, dan orang miskin. Ada juga orang kaya, tetapi jumlahnya terbatas.

Rupanya perkembangan ini menggelisahkan kekaisaran Romawi. Orang Kristen dianggap sebagai ancaman. Lalu pada tahun 60, Nero membakar Kota Roma dan menyebarkan isu bahwa orang Kristenlah yang melakukannya. Sejak itu para pengikut Kristus mengalami penderitaan dan penganiayaan yang hebat.

Akan tetapi, pada zaman itu penderitaan dan penganiayaan tidak dianggap negatif atau buruk. “Salah satu refleksi yang terus-menerus dihayati oleh umat Kristen adalah menerima bahwa bagian dari iman dan kesetiaan kepada Yesus berkaitan erat dengan konsekuensi menerima penderitaan. Oleh karena itu, penderitaan yang mereka alami justru menarik simpati banyak orang. Perkembangan kekristenan pun semakin kelihatan. Seiring dengan itu, penganiayaan juga semakin hebat. Lalu, muncullah refleksi yang kemudian ditulis dalam Kitab Wahyu sekitar tahun 100 atau 110-an.”

Berangkat dari keadaan tersebut, mereka kemudian membuat simbol yang menggambarkan kekuatan yang melawan Kristus dan menimbulkan penganiayaan hebat terhadap orang Kristen pada masa itu. Itulah Antikristus. Jadi, kata Yusak, konsep Antikristus adalah pengalaman riil meskipun secara eksplisit dalam teks umat percaya tidak pernah menyebut penguasa Roma. Konsep ini berkaitan dengan kekuatan, terutama kekuatan destruktif.

Selain pemahaman tersebut, ada juga pendapat lain yang mengatakan bahwa kemunculan Antikristus terjadi sebelum peristiwa pengangkatan. Artinya, orang percaya akan ikut mengalami masa penyiksaan hebat bersama seluruh isi bumi ini.

Mendahulukan Inti Pesan

Secara psikologis, kata penyiksaan, penganiayaan, dan penderitaan akan menciptakan ketakutan. Menurut Esther Gunawan, M. Th., dosen STT Moriah, setiap orang bisa menanggapi hal ini secara berbeda-beda tergantung latar belakang dan kematangan psikologis masing-masing, termasuk kehidupan rohaninya. Ada yang mengalami depresi atau gangguan jiwa, ada juga yang kuat hingga mampu menolong orang lain.

“Ini hampir sama ketika kita bicara tentang bencana alam, seperti tsunami dan lainnya. Kejadian dan beritanya sama, tetapi tanggapannya berbeda-beda. Ada korban bencana yang bisa menolong orang lain. Bagi yang kuat, berita ini biasa saja. Sementara bagi yang lain, muncul ketakutan di hati mereka. Malah ada yang kehidupannya menjadi kacau,” papar Esther.

Kegelisahan semakin terpicu oleh terjadinya simpang siur dan perdebatan di kalangan theolog kristiani soal topik ini. Menurut Marantika, banyak perkembangan theologi merupakan hasil spekulasi manusia. “Pemaknaan teks yang tidak bertanggung jawab tersebut memunculkan berbagai penafsiran yang sering kali berbahaya dan salah,” lanjut Yusak.

Agar tidak tersesat, umat Kristen, terutama para pemimpin gereja harus membentengi diri dengan firman Tuhan. Menggali teks Kitab Suci dari bahasa asli dan menafsirkannya sedemikian rupa harus dilakukan dengan hikmat tanpa melupakan peran Roh Kudus. Perbedaan penafsiran sebetulnya tidak pantas menjadi perdebatan di antara sesama umat percaya. Justru yang harus menjadi perhatian adalah inti pesan yang tersirat dalam teks, yaitu Antikristus itu ada dan akan datang. Hicthcock meyakini bahwa roh Antikristus itu telah ada saat ini, bahkan di setiap generasi ia siap tampil dan mencoba menguasai dunia sambil menunggu waktu Tuhan.

Bagaimana dengan Gereja?

Yusak mengatakan gereja atau kekristenan adalah komunitas yang ditentukan oleh pengajaran. Sejak awal, orang Kristen menyadari bahwa iman mereka dibentuk oleh sabda dan penafsiran. Kata kunci yang amat penting dalam pembentukan iman Kristen adalah sejauh mana pendeta atau theolog bisa menafsirkan teks.

“Jadi, saya berpendapat bahwa sebelum pendeta atau theolog berbicara di depan publik atau umat, mereka harus mendalami terlebih dahulu teks-teks Kitab Suci dan bagaimana itu terbentuk. Setelah itu baru ditafsirkan sedemikian rupa untuk membangun iman jemaat dan menguatkan mereka. Bukan hanya kepada gereja, melainkan tetapi tempat gereja itu berada,” kata ahli hermeneutik Perjanjian Baru ini.

Jika setelah pengajaran tersebut malah muncul semacam ketakutan, berarti pesan yang disampaikan justru bertentangan dengan kabar baik yang diberitakan oleh Yesus dan murid-murid-Nya. Esther juga berpendapat bahwa ketakutan yang muncul dari intimidasi bisa berawal dari cara penyampaian hal tersebut.

Pesan yang benar adalah jemaat menjadi berpengharapan dan kembali memiliki kekuatan setelah mendengar tentang Antikristus. “Yang ditonjolkan bukan Antikristus, melainkan Kristus. Antikristus memang mendominasi dan terlihat sangat kuat, tetapi pertolongan Tuhan dan penyertaan Roh Kudus menolong kita untuk menghadapi realitas yang paling buruk sekalipun,” kata Yusak.

Rumitnya memahami persoalan Antikristus ini tidak boleh pula membuat umat Kristen menjadi acuh. Meskipun Yusak mengatakan bahwa mengetahui identitas Antikristus adalah sesuatu yang mustahil, bukan berarti kita menyerah saja dan tidak perlu berjaga-jaga.

“Tanda-tandanya makin meningkat. Gempa, kelaparan, kejahatan, dan bobroknya keadaan sosial. Itu sudah terjadi di mana-mana. Frekuensinya begitu cepat sehingga kita sebagai orang percaya mengamininya sudah dekat,” tutur Marantika. Tugas hamba Tuhan adalah mengulangi kebenaran ini di atas mimbar supaya umat tersentuh dan menjadi peka. Sesuatu yang diulang-ulang lama-kelamaan akan menguasai pikiran.

Pesan

Sebagai konselor, Esther memberi masukan kepada umat percaya agar mampu menerima hal ini dengan baik. “Pertama, karena ini adalah firman Tuhan, jemaat dituntut untuk menerima dengan sikap yang dewasa dan hati yang terbuka. Bukan menolak, tetapi mengukur semua itu dengan kebenaran yang ada dalam Alkitab. Kedua, jemaat harus melakukan pendalaman Alkitab. Ingat, yang disampaikan adalah firman Tuhan, tetapi yang menyampaikan adalah manusia. Manusia bisa keliru.”

Sementara Marantika mengatakan bahwa percaya Yesus dan lahir baru adalah kunci menghilangkan kegelisahan, ketakutan, dan kebingungan menghadapi Antikristus. Ia mengutip surat Paulus yang pertama kepada Timotius tentang pertandingan iman. “Kita sudah menang, tetapi masih ada peperangan. Jaga diri supaya tetap fit. Supaya menang, harus makin dekat dan bergantung kepada Tuhan.”

“Kalau pengajaran tentang Antikristus membuat kita semakin takut, fanatik, dan eksklusif, kita justru sedang tidak sejalan dengan kehendak Kristus,” pungkas Yusak.

(Dimuat di BAHANA, Januari 2013)

Iklan

Kekuatan Inspirasi

Banyak orang terburu-buru menghakimi orang lain dengan kebenaran yang mereka yakini. Bukannya membuka ruang diskusi malah menutup diri rapat-rapat. Padahal melihat kebenaran, dari sudut pandang yang berbeda-beda, bukan hal yang haram hukumnya. Justru, melatih kita untuk bersikap bijak dan belajar menghargai orang lain.

Tidak terkecuali ketika berada di ranah ‘kepercayaan’. Menganggap bahwa pemaknaan kita terhadap sesuatu lebih benar – seraya tidak bersedia mendengar pendapat orang lain – rasa-rasanya bukan tindakan yang adil. Bukankah sesuatu yang bersifat pemaknaan dan penafsiran bisa saja salah? Bukan berarti kita perlu meragukan keyakinan kita sendiri, tetapi mendengarkan alasan-alasan orang lain bisa juga membuat kita semakin teguh berdiri.

Kenapa sih takut kalo ada orang yang mempertanyakan apa yang kita yakini? Takut ga bisa menjelaskan? Atau takut kalo salah-salah malah kita menjadi goyah?

Kenapa harus memaksa orang lain untuk mengikuti keyakinan kita? Bukankah dengan kehidupan kita yang penuh dengan kebaikan bisa menginspirasi orang lain untuk belajar? Kekuatan inspirasi itu, menurut saya sih, lebih dari segala-galanya. Tanpa itu, manusia adalah robot yang terpaksa mengikuti perintah orang lain karena takut pada konsekuensi-konsekuensi tertentu.

Apakah kamu pernah dipaksa soal prinsip dan keyakinan juga?

Tontonan Februari

1. Amour (2012)

2. Arbitrage (2012)

3. Rust and Bone (2012)

4. The Perks of Being Wallflower (2012)

5. Veronica Guerin

6. Django Unchained (2012)

7. Flight (2012)

8. The Paperboy (2012)

9. Marigold Hotel (2012)

10. Killing Them Softly (2012)

11. Moonrise Kingdom (2012)

12. Silver Lining Playbook (2012)

13. Deep Blue Sea (2011)

14. The Master (2012)

15. Noble Last Will (2012)

16. Brave (2012)

17. September Issue (2010)