Day 25 Le Mannequin—Sahabat yang Kembali

2014-09-01 09.39.48

Judul: Le Mannequin, Hatiku Tidak Ada di Paris

Penulis: Mini GK

Jumlah halaman: 300

Tahun terbit: Juni 2014

Penerbit: Diva Press

Ia lahir dan tumbuh di sebuah desa kecil di Gunung Kidul, Yogyakarta. Namanya Sekar. Karena keterbatasan biaya, ia tidak bisa melanjutkan kuliah. Namun, cita-citanya tinggi. Ia ingin menjadi desainer ternama. Dengan keahliannya menggambar, ia memutuskan untuk berangkat ke Jakarta, mengadu nasib di sebuah pabrik garmen.

Di belakangnya, Candra, sahabat masa kecilnya, merasa sangat kehilangan. Ia melakukan berbagai cara agar Sekar mengurungkan niat itu. Apa mau dikata, tekad Sekar sudah bulat. Dengan berani dan sedikit nekad, ia menuju Ibu Kota. Dalam kereta yang ditumpanginya itu, ia bertemu dengan Lukman, yang akhirnya menjadi kekasihnya selama bertahun-tahun.

Kehidupan Sekar perlahan menjadi rumit. Bukan hanya karena rekan kerja yang iri pada keberhasilannya, tetapi juga karena hubungannya dengan Lukman terancam bubar. Seseorang dari masa lalu Lukman, Sabinta, lebih disetujui orangtua menjadi pendamping hidup Lukman. Di tengah kegalauan tersebut, Sekar pulang ke Gunung Kidul dan bertemu Candra, yang menjelma menjadi idola gadis-gadis anak pejabat.

Lalu, sebuah email datang dan menawari Sekar berangkat ke Paris untuk menghadiri sebuah acara fashion. Di Paris, Sekar bertemu dengan kakak beradik, Yasak—mantan bosnya di butik  Pavo–dan Demian, yang ternyata menyimpan hati untuknya. Tanpa disangka, Lukman pun datang untuk menawarkan kembali cinta masa lalu karena rumah tangganya telah kandas.

Dalam situasi tersebut, keputusan apakah yang akan diambil Sekar? Siapa yang akan dipilihnya untuk menjadi suami? Candra, Yasak, Demian, atau malah Lukman?

***

Novel dengan cover yang lembut ini terlihat menarik. Ikon Kota Paris yang sangat terkenal digabung dengan tampilan manekin berbusana apik menyambut pandangan saya. Hmm, tampilannya sangat memberi harapan. Saat mulai membuka lembarannya, rasanya saya ingin segera duduk di sebuah taman dan menikmati buku itu tanpa gangguan sama sekali. (Hehe, tapi itu sepertinya nggak mungkin…)

Oke, inilah catatan saya tentang novel ini..

Pada satu sisi, hidup Sekar bisa dibilang sangat sempurna. Ia berhasil menggapai cita-citanya dan karyanya memuaskan banyak orang. Ia disukai bos dan dianggap sebagai tangan kanan. Di sisi lain, kisah cintanya gagal diwujudkan dalam sebuah ikatan karena latar belakangnya sebagai orang biasa. Keluarga Lukman lebih memilih seseorang yang berpendidikan dan berpenampilan lebih baik. Meskipun sebenarnya, Sekar juga termasuk gadis cantik. Sakit hati Sekar tambah terasa ketika akhirnya Lukman memilih meninggalkannya.

Cerita dibangun dengan plot maju mundur. Pertemuan Sekar secara kebetulan dengan Demian dan Yasak di Paris serta email Lukman membawa Sekar menelusuri kembali masa lalunya. Mengapa akhirnya ia berada di situ? Siapa saja orang yang telah hadir dan berpengaruh di hidupnya? Jejak-jejak itu memberinya pertimbangan untuk memutuskan siapa yang ingin ia cintai selamanya.

Pasti banyak wanita yang merasa Sekar sebenarnya sangat beruntung. Bagaimana tidak, empat orang laki-laki mapan mengejar-ngejar untuk mendapatkan cintanya. Namun, yang dirasakan Sekar justru kesedihan dan nelangsa. Mengapa? Karena cinta tidak sembarangan bisa hinggap pada setiap orang. Sekali ia sudah mendarat, susah untuk melihat ke arah lain.

Penokohan

Ada 4 tokoh utama dalam kisah ini, yaitu Sekar, Candra, Lukman, dan Yasak. Sekar adalah gadis desa yang mencoba menaklukkan Jakarta demi mencapai cita-citanya. Perjalanan hidup membuatnya berubah. Pertama, ia semakin cantik.

“Temenmu pulang kampung. Bocahe ayu tenan. Ibu-ibu sampai pangling lihat dia belanja sayur tadi pagi.” Hal 302

Kedua, ia [mengaku] sudah tidak bisa berenang,

“Bukankah kamu jago renang?” Seingat Candra, dari kecil Sekar adalah penguasa air.

“Banyak kejadian yang mengubah segalanya.” Hal 317

Sekar yang awalnya tangguh, kini tampak rapuh. Ia memang berhasil menjadi desainer, tetapi kisah cintanya kandas. Wajar jika ia pulang dengan hati yang hancur. Orang pertama yang membantunya selama di Jakarta telah meninggalkannya. Kepercayaannya untuk bergantung kepada orang lain tidak mudah lagi untuk tumbuh.

Tokoh utama kedua adalah Candra, sosok laki-laki sederhana yang tidak neko-neko. Ia adalah sahabat masa kecil Sekar yang memilih untuk tetap tinggal di desa untuk membangun dan menyemangati penduduk di sana. Banyak ibu-ibu menginginkannya menjadi menantu, termasuk pejabat seperti Camat dan Bupati. Waw. Ini adalah pria idola yang bisa meruntuhkan hati siapapun.

Ketiga, ada Lukman. Menurut saya, Sekar jatuh hati pada Lukman hanya karena ia menjadi malaikat di saat yang tepat. Bayangkan saja, jika kita adalah orang baru di suatu tempat dan ada seorang pria baik yang menolong. Ya, wajar jika mereka akhirnya menjalin hubungan. Latar belakang yang berbedalah yang akhirnya membuat Lukman tidak sanggup meneruskan itu dan memilih jalan aman, menikahi Sabinta. Dari keputusannya terlihat bahwa Lukman adalah tipe pria yang ingin mencari jalan yang mudah, alih-alih berusaha meluluhkan hati orangtuanya untuk menerima Sekar. Ia juga lebih suka melarikan diri dari Sekar. Namun, mengingkari kata hati tentu hasilnya tidak baik.

Yasak. Pria ini nyaris tanpa kekurangan. Ia digambarkan sangat karismatik. Ibunya baik. Pekerjaannya juga baik. Menurut saya, ini seperti dongeng. Manusia tentu punya kekurangan, bukan? Ya, tapi mari anggap saja itu sebagai kurangnya kesempatan bagi penulis untuk memperkenalkan Yasak lebih jauh. Tentu karena datangnya Yasak bisa dibilang pada ronde terakhir.

Latar

Kisah ini sebagian besar terjadi di Gunung Kidul, Jakarta, Paris, dan sedikit Bandung. Di setiap tempat, penulis berusaha menyisipkan hal-hal yang bersifat khas, seperti tempat wisata daerah itu dan bahasa. Kita bisa belajar bahasa Jawa, Prancis, dan Sunda sekaligus meskipun dalam beberapa kalimat saja. Kita juga diperkenalkan dengan air terjun Sri Gethuk, Goa Rancang, Pantai Baron, Menara Eiffel, dan Sungai Seine. Menurut saya, ini usaha yang bagus.

Untuk setting waktu, ada hal yang menarik. Sekar pulang ke Gunung Kidul pada Desember 2011 karena galau Lukman menikah. Lalu, Maret 2012 ada email dari Lukman mengabarkan bahwa pernikahannya telah gagal karena Sabinta berselingkuh. Memang bisa jadi, pernikahan zaman sekarang begitu rapuh, sampai-sampai mempertahankan 3 bulan saja kesusahan. Bisa jadi, pernikahan tersebut terjadi bukan dilandasi oleh cinta sejati.

Dalam catatan saya, novel ini layak dinikmati. Saya menyelesaikannya dalam hitungan jam. Bukan saja karena kalimat-kalimatnya mengalir, tetapi karena penulis berani memancing rasa penasaran pembaca. Saya ingin tahu bagaimana kisah Sekar pada akhirnya. Saya ingin ikut merasakan kebahagiaannya setelah berani memutuskan yang terbaik dalam hidupnya. Menurut saya, perasaan seperti inilah yang seharusnya dibangun penulis sehingga pembaca membuka halaman demi halaman dengan antusias.

Namun, ada beberapa hal lain yang sedikit mengganggu:

  • Kalimat yang janggal. Pria itu belum tua. Malah terlihat lebih muda (hal. 27). Ini terdengar aneh. Logikanya nggak masuk. Menurut saya, cukup dengan: Pria itu terlihat lebih muda dari usianya. Atau, bila memang penekanannya pada kata belum tua. Menghilangkan kata malah bisa jadi solusi. Pria itu belum tua. Ia bahkan terlihat lebih muda dari usianya.
  • Hal. 31 ada sebuah adegan dimana Demian berkomentar mengenai suasana di Menara Eiffel. “Iya. Lucu aja lihat orang pacaran di sini. Banyaknya..” Di sana, memang banyak muda-mudi yang berpacaran. Dalam hal ini, komentar Demian menjadi aneh karena bisa dibilang lingkungannya di sana. Meskipun orang Indonesia, Demian lahir dan bekerja di Paris. Seharusnya yang mengatakan itu adalah Sekar. Belum lagi ditambahin dengan embel-embel ancaman, “Sukurin. Bakalan jadi berita asyik. Pergaulan mahasiswa di luar negeri.” Dan, Demian bekerja sebagai fotografer majalah pula. Pasti hal itu udah jadi makanan sehari-harinya. Melihat komentar seperti itu, saya jadi membayangkan Demian adalah cowok brondong yang kampungan, bertabrakan dengan gambaran penulis.
  • Hal. 128. Antoro, ayah Lukman, tersenyum sembari mengelus rambut Sekar yang dibiarkan tergerai. Adegan ini terjadi pada pesta ulangtahun Ibu Lukman. Membaca kalimat ini, saya menjadi sedikit bergidik. Jangan-jangan, Antoro juga jatuh hati pada Sekar. Menurut saya, ini bukan bahasa tubuh yang wajar dilakukan pada perkenalan pertama orangtua dengan calon menantunya. Apalagi banyak orang yang melihat. Dan Sekar kan bukan anak lima tahun yang menggemaskan.

Overall, saya menyukai kisah Sekar yang berangkat dari nol menjadi terkenal dengan lika-liku hidupnya. Meskipun terasa seperti dongeng, sih. Tapi, bukankah itu salah satu kenikmatan saat membaca..

Iklan

Day 25: Maya—Terjebak Cinta Persahabatan

maya cover

Judul: Maya and The Darkness Surrounding

Penulis: Arikho Ginshu

Jumlah halaman: 295

Tahun terbit: Agustus 2014

Penerbit: PING!!!

 

Kisah ini dimulai ketika 4 sahabat, Binar Saga, Rimba, Damar, dan Tondi akan melakukan pendakian di Gunung Kerinci. Pada pertengahan jalan, mendadak Binar Saga tak sadarkan diri. Di tengah kepanikan tersebut, ketiganya turun ke pemukiman dan mencari pertolongan. Untunglah, bidan yang memberi pertolongan pertama menyarankan mereka untuk bertemu dengan Ki Rangkat.

Ki Rangkat mengatakan bahwa Binar Saga tersesat di alam lain. Ia harus dijemput oleh salah seorang dari mereka. Alih-alih memilih Damar, kekasih Binar Saga, justru Tondi yang diminta untuk melakukan tugas tersebut.

Di alam yang berbeda itu, Tondi bertemu dengan sepasang saudara kembar, Amorza dan Arzoda. Mereka adalah penjaga api suku Maya. Amorzalah yang membantu Tondi untuk bertemu dengan Binar Saga dan akhirnya membawanya pulang. Berhasilkah Tondi melakukan misi tersebut? Apakah mereka pulang dengan selamat? Bagaimana kisah 4 sekawan itu pasca kejadian yang aneh tersebut?

***

Seorang gadis berkupluk merah menatap dengan dingin dan kosong. Di belakangnya berdiri tegak bangunan menantang petir yang muncul di sela-sela awan. Aura mistis mulai terasa saat mengamati cover-nya. Oke, mari kita nikmati halaman demi halaman…

Tema utama yang ingin diangkat penulis melalui novel ini adalah mengenai rumitnya persahabatan yang ditumpangi oleh perasaan cinta. Namun, persahabatan yang begitu kental seakan mengaburkan batas-batas yang seharusnya milik sepasang kekasih saja.

Mungkin itulah alasan penulis sehingga hubungan Binar Saga dan Damar tak berasa seperti sepasang kekasih. Dalam kenyataannya, Binar Saga lebih dekat dengan Rimba bahkan Tondi. Misalnya, ketika Binar Saga tanpa sengaja tertidur di dekapan Tondi dalam perjalanan mereka

Namun, aku lebih  kaget lagi saat Binar Saga tersenyum dalam dekapanku sesaat setelah ia membuka mata. Entah sejak kapan ia tertidur di sana. Hal 60.

Binar Saga tertidur pulas di dipan yang sama denganku, dan aku sama sekali tak menyadarinya sejak tadi. Hal. 62.

Dua kejadian ini terjadi dalam satu hari. Anehnya, tidak ada reaksi dari Damar. Seolah-olah itu hal biasa saja.

Hubungan Binar Saga dan Rimba pun bisa dibilang tidak biasa. Memang benar mereka seumuran dan jauh lebih muda, tetapi pada usia 20 tahun, benih-benih cinta sudah bisa tumbuh, lho. Dalam perjalanan mereka, yang tidur satu tenda dengan Binar Saga justru Rimba. Kecuali kalau dalam hal ini, Rimba adalah cowok yang gemulai alias tidak tertarik pada cewek.

Tokoh-tokoh lain yang juga membangun cerita adalah Amorza dan Arzoda. Diceritakan bahwa keduanya memiliki hubungan yang sangat dekat, layaknya saudara kembar. Hanya saja, Arzoda telah mati tetapi masih bisa berkomunikasi dengan Amorza. Percakapan mereka tidak jauh-jauh dari keinginan mendapatkan sebuah bulan.

Latar yang digunakan oleh penulis adalah daerah Sumatera Barat. Namun,  tidak ada hal khusus yang membuat kita merasa sedang berada di Sumatera Barat. Ini salah satu yang kurang kena dari novel ini.

Hal kedua yang bisa jadi menjadi sebuah pertanyaan adalah, kapan Binar Saga dan Damar putus. Damar mengakui bahwa mereka putus pada saat malam sebelum Binar Saga tak sadarkan diri. Sedangkan diceritakan bahwa Binar Saga tidak berdua dengan Damar, bahkan asik bercanda dengan Rimba sampai larut malam. Secara logika, ini tidak mungkin. Binar Saga pun tidak menampakkan ciri-ciri cewek yang baru saja putus dengan pacarnya.

Lalu, ketika penulis ingin mengeksekusi cerita, kesannya terburu-buru. Ia tidak menyisakan clue dengan rapi untuk pembaca sehingga bisa menebak, setidaknya memiliki satu dua pertimbangan mengenai apa yang akan terjadi setelahnya. Rasanya seperti menggantung dan belum selesai.

Hal menarik yang bisa dilihat dari novel ini yaitu penggunaan subjek predikat yang terbalik. Mungkin saja ini memang disengaja mengingat jumlahnya yang tidak sedikit. Agar berbeda sih, tetapi tidak menganggu aspek cerita lainnya.

Kisah ini lebih banyak membahas pribadi si “aku” yang bingung menentukan sikap. Wajar saja, gadis pujaannya memang sudah memiliki kekasih dan ia berposisi sebagai sahabat. Tekanan dalam hatinya tersebut bisa lebih dieksplor lagi. Usaha yang sudah dilakukan penulis adalah dengan memilih Tondi menjadi utusan yang menjemput Binar Saga dari dunia lain.

Bagi Damar sendiri, ini bukan hal yang mudah. Sayangnya, kerumitan itu tidak sepenuhnya diceritakan kepada pembaca. Saya membayangkan bagaimana nggak enaknya perasaan Damar ketika melihat Binar Saga lebih dekat dengan Tondi atau Rimba. Jujur saja, saat membaca buku ini, saya ingin merasakan juga perasaan terluka yang dialami Damar. Namun, kita diberi suguhan yang sudah matang, ketika akhirnya Damar bisa menyelesaikan hal itu dalam dirinya dan mengikhlaskan Binar Saga untuk dekat dengan Tondi.

Nah, kalau melihat Binar Saga beda lagi. Ia seakan-akan tidak memiliki perasaan. Dari bahasa tubuhnya, kelihatan ia tidak begitu dekat dengan Damar. Hanya satu dua pengakuan keluar melalui mulutnya.

Selebihnya, cerita ini menjadi semacam acuan bagi mereka yang terjebak dalam cinta persahabatan. Bagaimanapun, kejujuran dan keikhlasan harus dimiliki untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Sesuatu yang dipendam hasilnya pasti tidak baik.

Oh, ya, saya juga menyukai diksi penulis. Bagi saya, ini sesuatu yang menyenangkan. Kata-katanya kaya dan artistik, bukan hanya itu-itu saja. Jempol untuk kelihaian penulis dalam merangkai kalimat-kalimat yang indah itu.

Day 19: Yogyakarta Gamelan Festival 2014 — Campur Aduk

Dari tiga hari pagelaran festival gamelan di TBY, saya dan dia memilih hari terakhir. Alasannya lagi-lagi karena waktu. Hari Sabtu (kalau nggak pulkam) adalah hari yang paling fleksibel.

Sebelumnya, saya udah memantau timeline untuk memastikan situasi di sana. Ada yang bilang: rame banget. Jadi, harus datang lebih awal untuk dapat kursi–yang strategis.

Pukul 18.45, kami udah tiba di lokasi. Bener aja. Parkiran pun macet. Orang-orang seperti tumpah dari mana-mana. Bahkan, untuk jalan aja susah. Even Pasar Kangen memang belum selesai. Kami langsung menuju Concert Hall di lantai dua. Ah, ternyata masih ditutup. Panitia masih berbenah. Kami datang kecepetan. 

Sembari menunggu, kami menikmati pagelaran tarian yang udah setengah jalan.

Setengah delapan, pintu lobby dibuka. Bukan, bukan pintu masuk ruangan konser. Orang-orang lantas berebutan masuk. Kami beranjak dan ikut arus. Ternyata, hanya sampai di situ aja. Semua orang disuruh menunggu lagi. Pemuda berbaju hitam-hitam berjaga di tangga untuk menghadang siapapun lewat. 

Selama setengah jam itu, semua orang menunggu sambil berdiri. BERDIRI. Ckck. Saya dan dia nggak tahan dan memilih untuk menyingkir. Duduk di sudut. Pukul delapan kurang beberapa menit, pintu masuk baru dibuka. Dan, semua orang merangsek maju. Dorong-dorongan, you know. Fiuhhh. Baru kali ini ya, nonton gamelan aja sampai rame begitu. Mau nggak mau saya dan dia ikut-ikutan. Terjepit di antara puluhan orang. Hahah. Berasa muda lagi di antara semua anak muda yang datang malam itu. :p

Sampai di dalam, kami segera mencari tempat duduk. Nggak terlalu dekat, tetapi nggak terlalu jauh. Pandangan lumayan bebas. Thank God! Hehehe.

Malam itu ada 4 penampil. Kemasannya beda-beda meskipun tetap menggunakan media gamelan. Ada yang tradisional banget, ada yang modern dengan akustikan dan piano, dan ada yang pake semacam mantra.

Overall, keren semua. Kreatif. Tapi kalau mau diminta pendapat pribadi mengenai siapa yang paling bersinar malam itu, adalah gamelan dan akustik. Hehe. Nggak bisa dipungkiri ya jiwa masa kininya.

Acaranya bisa dibilang lumayan sukses. Meskipun ada satu dua hal yang mengganggu. Misalnya, peserta yang keluar masuk. Memang antusiasme peserta sangat tinggi. Di tengah-tengah pertunjukkan pun masih banyak orang yang datang kemudian duduk di depan panggung — saking penuhnya. Hal mengganggu kedua adalah: handphone. Bukan suaranya, tapi cahayanya. Please deh. Lampu udah mati semua, gelap, masih ada aja yang buka handphone hanya untuk wasapan dengan temannya entah di mana. Dan kurang sopannya lagi, ia mengangkat hp nggak berdosa itu tinggi-tinggi. Pas di depan saya. Silau. Mata jadi sakit. Nggak fokus ke depan. Saya berusaha keras untuk menahan diri agar nggak mencoleknya dengan lembut dan berbisik di kupingnya: Mbak, niat nonton nggak? 

Yah, bagaimanapun, masih ada orang-orang yang nggak peduli pada kenyamanan orang lain. Kita cukup tau aja dan berdoa semoga mereka mendapat jalan kesadaran.

*Untuk kali ini, nggak ada foto. Kejauhan sekaligus gelap. 

Day 17: Saat Ika Putus Cinta

“Huhuhu… Huhuhu…”

Ika tersedu-sedu di balik bantal. Sesekali ia bergumam ngga jelas, “Ryann… Kenapaaa? Huhuhu.. Aku salah apaaa…?”

Clara yang kebetulan lewat di depan kamar Ika merasa heran. Ini anak kenapa kok nangis begitu?

“Tok tok tok.”

“Ika, kamu kenapa?”

“Huhuhu… ngga apa-apa, kak. Huhu…”

“Ngga apa-apa kok nangis? Kakak masuk ya?” Pintu dibuka pelan-pelan. Clara melongokkan kepala dan terkejut melihat adik bungsunya tergolek di tempat tidur dengan mata yang sembab.

“Kenapa, dek? Kamu lagi sedih, ya? Cerita donks sama Kakak,” bujuk Clara sambil mengelus kepala Ika.

“Kak… Huhuhu… Ryan, Kak. Kami putus.”

Clara menatap adiknya yang sekarang beranjak dewasa itu. Ia mengenal Ryan, pacar Ika yang rajin berkunjung ke rumah tiap akhir pekan.

“Kenapa bisa putus?” selidik Clara.

“Ryan bilang kami udah ngga cocok, Kak. Padahal aku pikir semuanya baik-baik aja. Hubungan kami masih sama. Tapi, huhu, tapi kenapa Ryan bilang begitu,” keluh Ika dengan pandangan kosong. Ia menarik-narik ujung selimut dengan tangannya.

Clara tersenyum. “Yaa, kalo Ryan udah bilang begitu, kamu harus belajar untuk menerima. Mungkin suatu saat nanti kalian bisa bersama-sama lagi,” nasihat Clara.

“Tapi, Kak. Aku udah pacaran sama Ryan sejak setahun yang lalu. Buktinya, kami bisa melewati itu. Tapi ini, cuma gara-gara hal sepele, kami bertengkar. Trus katanya kami udah ngga cocok lagi. Kan aneh, Kak,” ujar Ika berapi-api. Ia kesal dengan perlakuan Ryan yang menurutnya ngga adil.

Lagi-lagi Ika tersenyum mendengar curhatan adiknya. “Ya udah. Jangan sedih gitu, donks. Putus cinta itu kan bukan segalanya. Siapa tahu, selain Ryan memang ada cowok lain yang lebih cocok denganmu. Kamu masih muda, Ika. Ada banyak hal di luar sana yang bisa kamu raih. Kamu punya banyak waktu untuk berkarya. Masa karena ini jadi nyerah? Yuk, semangat lagi.”

Ika mengangguk pelan. “Iya, Kak. Aku akan berusaha ngga sedih lagi. Semoga Ryan ngga menemukan orang yang cocok dengannya selamanya. Huh.”

“Hush, jangan gitu. Meskipun Ryan udah buat kamu sedih, kamu harus bisa memaafkannya. Mungkin Ryan terbawa emosi sampe memutuskan seperti itu. Kalo Tuhan mengizinkan, kalian pasti bisa bersama lagi kok,” hibur Clara dengan tulus. Ika mengangguk lagi. “Udah, sekarang kamu tidur. Sebelumnya berdoa dulu biar Tuhan memberi yang terbaik.”

Besoknya, Ika bangun dengan perasaan yang damai. Pagi-pagi sebelum berangkat ke sekolah, ia membantu Clara menyiapkan sarapan. “Gimana, Ka, udah baikkan?”

Ika tersenyum kecil. “Udah, Kak. Hari ini aku lebih semangat.”

“Nah, gitu dong. Tuh, di depan ada yang menunggu kamu. Katanya mau minta maaf.”

Ika kaget, “Ryan??”

“Maafin aku ya, Ka. Aku yang salah.” Cowok itu memohon. Ika hanya tersenyum malu-malu.

(Dimuat di Renungan Anak Muda, Maret 2014)

Day 16: Festival Kesenian Yogyakarta 2014–Rame, Seru, dan Lucu

2014-08-21 20.37.09Akhirnyaaaa main juga ke FKY. Setelah “kemupengan” dan penyesalan pada hari sebelumnya karena tak mampu ikut di pembukaan, yang katanya heboh dan keren itu, akhirnya saya ke sana juga besoknya.

Sebelum ke FKY, saya dan beberapa teman mampir sebentar ke Pasar Kangen. Karena laper banget (duh! baru jam 4 gitu) saya jadi banyak jajan di PK. Tapi, ehem, seperti yang udah saya ceritain sebelumnya di sini, memang harus sedia uang tunai. List jajanan saya hari itu adalah: 1) jajanan pasar berupa ketan hitam, putih, dan wajik, harga Rp.5000, jumlah segenggaman tangan, 2) tempe mendoan bakar, harga Rp.5000 per porsi, isi 3 bijik, 3) nasi teri sambel, harga Rp.2500, jumlah 1 bungkus berisi 3 suapan 😦

Sekitar pukul 6 sore, kami memutuskan pindah ke FKY. Suasana di sana agak sedikit lebih menyenangkan. Pintu gerbang dihias dengan sungguh keren. Ada tulisan “fky dodolan” di puncaknya. Di tembok yang mengelilingi area, ada tempelan puluhan–mungkin lebih–anyaman berbentuk topi. Jadi kesannya tradisional banget. Penerangan di dalam area pun keren, hanya menggunakan lampu-lampu kecil yang membuat suasana menjadi semakin asik.

Di lokasi, kita bisa menjumpai beragam stand, mulai dari makanan, kerajinan tangan, sampai penjual lukisan. Yang paling banyak sih kerajinan. Dompet-dompet lucu, tas-tas apik, bantal duduk, aksesoris, pokoknyaaa bisa miskin mendadak kalau sampe lupa diri. Seperti pada umumnya handmade, harga memang lebih mahal. Tapi, keunikan dan kualitasnya, jangan ditanya. Sempet naksir juga sama bantal duduk yang cuma bentuknya segiempat. Nggak lembek karena isinya kapuk. Pasti anget deh kalau didudukin di lantai. 

Stand makanan yang kami kunjungi adalah makanan khas Bali. Bisa dibilang, di sana nggak terlalu banyak pilihan. Kami memilih paket ayam betutu. Rasanya.. agak kurang cocok di lidah. Dan ternyata, ketika melewati stand terakhir, di balik pagar berjejer para penjual nggak resmi. Bawa gerobak. Ada angkringan, bakso bakar, dsb. Hehe. Kreatif juga.

Setelah puas muter-muter, kami mencari tempat duduk. Ada sebuah panggung terbuka di tengah venue dan dilengkapi lampu sorot. Bentuknya seperti stadion mini. Banyak orang sudah mulai duduk menunggu pertunjukkan malam itu. Kesan saya ada tiga:

1) MC-nya kocak banget. Malam itu, mereka jadi bintang. Gaya si cewek mirip-mirip Soimah. Sangat energik dan menarik perhatian. Banyak orang sepertinya lebih terpana dengan kehadiran mereka dibanding dengan pengisi pertunjukkan. 

2) Ternyata jazz memang nggak mudah dinikmati. Ketika penampil pertama, Air Batu, membawakan lagu aransemen mereka, beberapa ibu-ibu di belakang kami berseru-seru, “Wis, bubar-bubar..” Maksudnya, penampil jangan lama-lama hahaha. Emang sih, agak ngebosenin juga. Apalagi genre musiknya jazz intrumental gitu. Sementara yang nonton ibu-ibu dan anak-anak yang butuh hiburan. 😀

3) Banyak anak-anak berkeliaran di bawah panggung. Mereka berlarian ke sana ke mari. Heboh. Salah satu anak kecil begitu ekspresif mengikuti lagu jazz. Ia menari di depan banyak orang. Gerakannya bisa pas gitu. Sepertinya dia akan menjadi penari latar di masa depan. :p

Begitulah. Kami nggak mengikuti acara sampai akhir. Pada 20.30wib, kami pulang. Rasanya punggung udah pegel banget. Pengen istirahat 😀

Kesan lain, pagi sebelumnya, saya pengen banget beli permen Mint*. Rasanya enak. Rencananya besok-besok mau beli banyak di warung. Eh, ada beberapa mbak-mbak SPG yang nawarin permen itu malam itu. Beli dua bungkus diskon 2 rebu. What a coincidence, right. Ya, kebetulan yang menyenangkan.

2014-08-21 18.07.27
tembok luar
2014-08-21 18.15.05
suasana di venue
2014-08-21 18.14.43
mbak-mbak heboh hahaha

Day 15: Minggu Pertama #3L1Hari

2014-08-20 19.43.27Harus saya akui, memasukkan 3 liter air putih ke dalam tubuh dalam waktu sehari benar-benar butuh perjuangan. Sejauh ini, saya hanya berhasil satu hari saja. Kemarin. Saya udah mencoba mengatur jadwal: 1 botol (500ml) pagi ketika bangun tidur, 2 botol sebelum makan siang, 2 botol setelah makan siang (sebelum pulang), dan 1 botol lagi waktu malam. Ternyata. Rencana memang beda dari kenyataan. Akibatnya, malam hari saya ‘memaksa diri’ untuk menghabiskan 2 botol yang setara dengan 1 liter.

Kesulitan yang selama ini saya hadapi dalam minggu ini ada beberapa. Pertama, nggak konsisten dan berusaha lebih keras sesuai jadwal. Kedua, ada jadwal pergi-pergi dan jarak jauh. Otomatis ini sangat berpengaruh. Nggak bisa kan kalau setiap 15 menit berhenti karena mau buang air kecil. Ketiga, ada tempat dimana saya kesulitan mendapatkan air putih. Keempat, kamar mandi bermasalah. Akibatnya, jadi males minum banyak.

Dampak yang paling terasa setelah menjalani kebiasaan minum yang nggak biasa ini tentu saja sering buang air kecil. Dalam sehari, saya bisa ke KM 8 kali. Wah. Banyak. Selain itu, saya juga agak merasa kembung. Penuh. Rasanya kenyang banget. Air seni juga entah kenapa jadi agak berbau obat gitu. Tapi, warnanya sangat jernih. Beda banget dengan yang dulu. Efek lain mungkin belum kerasa ya. Kan aktifnya aja baru dua hari, termasuk hari ini. Pasti nggak begitu ngaruh.

Jadi, kalau memungkinkan, saya akan menambah waktunya seminggu lagi. Hitung-hitung untuk membayar yang kemarin gagal. Semoga minggu kedua bisa lebih baik dan konsisten.