[Inspirasi Jumat] Kebersihan Hati

Menjaga diri kita untuk tetap bersih sejatinya adalah perjuangan setiap hari.

Begitu katanya.

Faktanya, kita sering lupa pada apa yang sedang kita perjuangkan itu. Saking banyaknya kesibukan, kita tak lagi mengingat hal-hal yang sebenarnya lebih utama.

Lalu, apa yang membuat kita tidak bersih?

Segala ketidakbaikan kita. Mulai dari apa yang kita perbuat, katakan, dan pikirkan. Seluruh dari hal-hal tersebut. Bukan hanya pornografi dan kejahatan seksual, tetapi korupsi, iri hati, menyimpan dendam, menghakimi, dan sebagainya.

Sebagian orang terjebak dalam kebiasaan menuding kekotoran orang lain. Karena lebih mudah menilai dan menghakimi orang lain daripada menelisik kekotoran yang dilakukan oleh tangan kita, mulut kita, dan pikiran kita.

Salah seorang mengatakan bahwa, “Kebersihan dan kebaikan kita adalah urusan kita secara pribadi dengan Tuhan. Hanya Tuhan sendiri yang boleh dan mampu menilai.”

Intinya, dalam hidup ini, kekotoran orang lain bukanlah urusan kita apalagi bagian kita untuk menghakimi.

Sulit juga sih melakukan prinsip seperti itu. Apalagi jika kekotoran orang tersebut akhirnya merugikan kita, baik secara langsung maupun tidak.

Sekali lagi, kebersihan hati dan pikiran kita (yang kemudian menjelma dalam tindakan kita di dunia nyata) adalah untuk dinilai oleh Tuhan. Jadi, fokuslah pada hal itu. Bila masih ada orang yang “iseng” mencoba menerapkan konsep kebenaran yang ia hidupi pada kita, maka lebih baik abaikan saja.

[Pregnancy] Minggu 24

Selasa kemarin, jadwal kontrol rutin ke Puskesmas. Saat ditimbang, berat badan saya sudah mencapai 56 kg. Tidak terlalu signifikan sih naiknya. Tapi, nggak apa-apa, kata bu bidan. Nanti juga akan bertambah lagi.

Perut sudah mulai kelihatan besar dan bulat. Baju-baju yang dulunya longgar sudah terasa sempit semua. Apalagi celana. Aduhh, rasanya kesulitan. Kebanyakan celana saya pake restleting dan kancing. Karena nggak bisa dikancing penuh, terpaksa saya menyiasatinya dengan memakai tali di pinggang. Hihi.

Mau beli celana khusus kok rasanya sayang, nanti mungkin nggak akan kepakai lagi. Tapi, minggu depan mau coba cari yang bisa digunakan baik saat hamil maupun sehari-hari.

Minggu ini, saya lumayan aktif keluar kantor. Bagaimana lagi, tuntutan pekerjaan. Banyak sih yang nanya, “Sendirian?” Terus dilanjut dengan, “Hati-hati, lho.”

Rasanya memang sudah mulai enak dibawa kemana-mana. Cuma goncangan di motor saja yang membuat saya harus memegangi perut sekali-kali. Dan saya harap sih bisa menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan mendatang dengan lebih cepat karena pasti akan menjadi lebih susah dari sekarang.

Banyak juga tatapan-tatapan bermakna dari orang lain mengenai kondisi saya. Ya sudah dinikmati saja. Jika ada yang menjadi lebih ramah ya disyukuri hehehe.

Jadi, bulan depan akan jalan 6 bulan. Semoga semuanya tetap sehat.

[Inspirasi Jumat] Kebahagiaan yang Berdampak

Membicarakan kebahagiaan adalah sesuatu yang menyenangkan. Berbahagia mungkin adalah cita-cita dan impian terdalam manusia selama hidup di dunia ini. Menikah, punya rumah, naik jabatan, juga cita-cita, tapi apa benar-benar bisa menciptakan kebahagiaan?

Belum tentu.

Banyak pakar telah mencoba menggali makna kebahagiaan dalam diri manusia. Namun, sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa kebahagiaan hadir dalam pribadi yang selalu bersyukur, apapun situasi yang terjadi.

Jadi, kalau dirunut, kita perlu bersyukur lebih dulu untuk merasa bahagia. Bukan sebaliknya, bahagia baru bisa bersyukur. Hal ini pulalah yang menjelaskan mengapa kebahagiaan itu adalah pilihan. Sesuatu yang membutuhkan usaha dari kita untuk mewujudkannya, menampilkannya, dan menyebarkannya.

Namun, kita tentu tidak mengelak bahwa melakukannya tidak mudah. Banyak tantangan bagi seseorang untuk bisa tetap merasa bahagia. Sebut saja: kekhawatiran, yaitu hal-hal yang belum tentu terjadi tetapi mampu merampas ketenangan dan kebahagiaan hidup kita di masa kini.

Ada lagi yang disebabkan oleh situasi dan keadaan. Orang-orang yang berada di sekitar kita. Tumpukan pekerjaan. Kebetulan-kebetulan yang tidak berpihak pada kita. Dan sebagainya. Bisa tetap berbahagia? Bisa dan bisa tidak.

Karena kita harus patuh pada garis waktu. Dimana tidak semua hal-hal yang mendukakan akan berlalu secepat kita mau. Tantangan yang sebenarnya adalah “kesabaran” dan “ketahanan” kita dalam melewati kondisi buruk dalam garis waktu yang telah ditentukan itu.

Yang terakhir, apakah kebahagiaan kita bermanfaat? Apakah hanya untuk diri sendiri atau berdampak juga bagi orang lain? Seperti gelas yang penuh dan isinya luber kemana-mana, seharusnya kebahagiaan kita memberi manfaat positif bagi orang lain.

Dan ketika semua orang melakukan hal yang sama bagi orang lain, dunia pasti akan penuh dengan senyuman.

[Pregnancy] Minggu 23

Akhirnya saya paham, mengapa orang-orang (terutama ibu-ibu) selalu mengingatkan saya untuk berhati-hati.

Kejadiannya dalam minggu ini. Seperti biasa, di pagi hari, saya menunaikan kewajiban di toilet sekalian mandi. Keluhan konstipasi sudah berkurang. Semua lancar. Yang mulai terasa akhir-akhir ini adalah kaki yang terasa bengkak dan kaku.

Setelah kewajiban selesai, saya pun beranjak ke posisi mandi. Entah bagaimana, saya juga nggak tahu kok bisa, tiba-tiba saya terpeleset. Sepersekian detik, semua terasa bergoyang. Saya benar-benar tak bisa menjaga keseimbangan badan. Bagian pinggul kiri pun mencium lantai, bahkan kepala sedikit terantuk.

Mendengar bunyi gedebukan yang beruntun itu, suami langsung kaget dan menyerbu kamar mandi. Saya masih terduduk dengan shock di lantai. Ia bertanya dengan panik, “Kenapa??? Apa yang terjadi?? Apa yang sakit??”

Saya bersyukur, kejadian itu nggak berlanjut dengan tanda-tanda aneh. Saya memang berusaha untuk nggak terlalu banyak bergerak seharian itu. Saya juga berdoa supaya Tuhan yang menjaganya di dalam sana.

Dan terasa semakin lega ketika seharian itu ia tetap bergerak aktif seperti biasa.

Terpeleset di kamar mandi bisa menjadi momok bagi ibu-ibu hamil. Kalau saya menduga sih kemarin itu sebabnya karena keseimbangan badan agak berkurang. Kaki yang bengkak dan kaku membuat saya nggak awas. Padahal, saya sudah berusaha untuk berhati-hati, tetap saja kejadian.

Semoga peristiwa ini membuat saya menambah level kehati-hatian saya di bulan-bulan berikutnya.

[Resensi Buku] Cinta Membuat Perbedaan

Seandainya bisa, kita akan memilih untuk menolak perjumpaan dengan sebagian orang dan menghalau perpisahan dengan sebagian yang lain dalam hidup. Sayangnya, hidup sejatinya mengenai perputaran perjumpaan dan perpisahan tanpa henti. Musim semi lirih berlalu, sementara musim dingin runtuh perlahan.

Dan meskipun tidak menginginkannya, kita terpaksa mengalaminya.

Berjumpa dengan orang yang kemudian kita sesali, berpisah dengan orang yang tak mungkin ditemukan penggantinya.

Seperti halnya perjumpaan dan perpisahan yang disuguhkan Sungging Raga. Tak terduga.

♣♣♣

Judul: Reruntuhan Musim Dingin

Penulis: Sungging Raga

Penerbit: DIVA Press

Cetakan pertama: 2016

Jumlah halaman: 204

ISBN: 978-602-391-079-3

♣♣♣

Meminjam analisa Tia Setiadi dalam pengantar kumpulan cerpen ini, cinta adalah pusat cerpen-cerpen Sungging Raga. Sejak bagian pertama hingga akhir, kita akan menemukan beragam scene yang identik dengan romantisme, entah itu membahagiakan ataupun tidak.

Misalnya di cerpen pembuka berjudul Selebrasi Perpisahan, penulis menggambarkan betapa sendunya sebuah perpisahan di antara dua manusia yang saling mencintai. Jika tidak saling mencintai, bisa jadi perpisahan semacam ini biasa saja. Sama seperti perpisahan-perpisahan lain yang tak akan berkesan sama sekali. Cintalah yang membuat perbedaan dalam perpisahan mereka.

Percakapan-percakapan kedua insan dalam cerpen ini terdengar begitu puitis. Jauh berbeda dengan percakapan biasa yang hanya didasarkan oleh basa-basi semata atau sekadar membunuh waktu. Atau karena butuh saja alias didorong semata oleh kepentingan, baik salah satu pihak maupun keduanya. Cinta membuat percakapan mereka terasa sangat indah (meskipun dalam konteks perpisahan).

Misalnya,

Wanita itu tersenyum dan menundukkan kepala. “Malam ini pasti sangat berat.”

“Ya. Satu malam untuk mengenang semuanya, dan pagi hari untuk melupakan segalanya,” ucap lelaki itu, menerjemahkan sebuah judul lagu: “A Night to Remember, A Morning to Forget.” Hal. 30

Para pasangan yang sedang dimabuk cinta, baik dalam suasana yang menyenangkan maupun sedang bermasalah, kalimat-kalimat puitis semacam itu otomatis keluar. Seolah-olah, cinta melarutkan kita dalam suasana dan mau tak mau kita harus mengizinkan bibir melontarkan kata-kata yang puitis (meskipun setelahnya menyesal).

Mari berlanjut ke cerita kedua. Cerpen berjudul Dermaga Patah Hati ini bercerita tentang seorang perempuan yang setia menjaga dermaga karena menunggu sesuatu. Meskipun tema cerpen ini agak-agak horror, nuansa romantismenya tetap terasa. Penulis menggambarkan tokoh dengan penampilan yang indah. Misalnya,

Perempuan itu mengenakan kaus putih bertuliskan “Eluveitie”, dengan syal melingkar di leher, dan celana jin tiga perempat yang disobek-sobek bagian lututnya. Rambutnya lurus dan hitam seperti iklan sampo, dan ia tak mengenakan alas kaki. Di ujung dermaga itu, ia duduk menghadap ke barat, tanpa bicara apa-apa, tanpa  melakukan apa-apa, kecuali bernapas dan memandang ke depan. Hal. 33

Lihat, betapa detailnya imajinasi penulis tentang tokoh perempuan ini. Seakan-akan si perempuan benar-benar hidup di depan mata pembaca dan membawa kita dalam suasana yang menyayat hati. Lagi-lagi, berdasarkan spekulasi penulis yang menyamar menjadi “orang-orang yang melihat perempuan ini”, sebab semua ini adalah karena penantian terhadap cinta.

Mungkin saja dulunya perempuan itu duduk bersama kekasihnya di ujung dermaga tersebut. Di sore hari yang cerah ketika mereka menikmati pemandangan senja yang begitu jelas sebagaimana cinta mereka. Lelaki itu pasti menggenggam tangan perempuan itu, dan sesekali mereka akan saling bertatapan. Hal. 36.

Dan cintalah yang membuat adegan itu menjadi lebih indah dan bermakna. Siapapun yang melihatnya (atau membaca kisahnya) pasti akan lebih tertarik. Bagaimana bila tokohnya berdiri di sana dan tanpa cinta? Bisa jadi tak akan seindah ini jadinya.

Ada juga cerpen yang bercerita tentang cinta yang tak mungkin. Misalnya, cinta seekor laba-laba kepada perempuan penghuni kamar. Lha gimana bisa laba-laba kok mencintai manusia? Harusnya sih mustahil. Tapi, begitulah cara penulis menghidupkan imajinasi pembaca.

Tanpa kisah cinta, laba-laba tentu hanya dianggap sebagai “musuh”, apalagi bagi seorang perempuan. Mereka justru akan dipandang sebagai pengotor rumah dan perlu dibasmi. Dengan memakai alasan cinta, terlihatlah sisi lain dari sebuah situasi.

Masih banyak cerita lain yang bisa dinikmati dalam kumpulan cerpen ini. Jumlah seluruhnya 22 cerpen. Sebagian dari cerpen itu telah diterbitkan di media-media nasional, seperti cerpen berjudul Melankolia Laba-laba; Serayu, Sepanjang Angin Akan Berembus; Rayuan Sungai Serayu, dan beberapa yang lain.

Nah, meskipun rada nyastra, buku ini enak kok dinikmati oleh orang awam. Bahkan mungkin kita akan menjadi cinta sastra setelah membaca kisah-kisah di buku ini.

Selamat mengeksplorasi sastra ya!

[Life] Kunjungan Kakak

Memang sudah dikabari sejak beberapa hari sebelumnya bahwa kakak ipar akan datang ke Jogja untuk tes. Untuk akomodasi yang terjangkau, saya mencarikan tempat kos yang bisa ditempati selama seminggu.

Psst, di Jogja ada lho kos untuk harian dan mingguan. Biasanya, kos seperti ini diperuntukkan mereka yang tidak terlalu lama tinggal di Jogja. Hitungan sewanya tentu lebih mahal dibanding jika bulanan atau pun tahunan. Namun, bila dibandingkan dengan penginapan, tentu kos masih lebih murah.

Okelah, saya pun mengontak salah seorang teman yang kebetulan masih ngekos di daerah kampus. Ada. Saya lega. Ya sudah nggak usah nyari lagi. Apalagi harganya pun sesuai. Dua ratus ribu untuk 5 hari. Sama-sama menguntungkan bagi pemilik kos maupun penginap.

Tepat hari Minggu, si kakak pun datang. Saya dan suami menjemputnya di bandara. Tepat saat itu juga, sebuah pesan masuk. “Kosnya roboh.” Plus foto tempat yang agak berantakan gitu. Saya langsung kaget. Aduh, ngepas banget ya. Saya udah nggak sempat nyari lagi. Mepeettt..

Tak mau  berlama-lama merenungi nasib, saya pun berusaha menghubungi teman lain. Saya juga mencari penginapan terjangkau di sekitar situ. Yah, sayangnya, semua di atas 100 ribu/malam. Wajar aja sih. Beberapa yang saya telpon juga sudah terisi penuh. Maklum long weekend.

Penginapan Murah

Di bandara, ada lagi kejadian yang tak diharapkan. Bagasi si kakak ternyata nggak ada. Aduduh. Kenapa sih harus kejadian lagi. Saya pernah mengalaminya saat pulang ke kampung halaman. Ibu saya juga pernah. Dan sekarang kakak saya. Jadi, dia hanya muncul dengan sebuah ransel. Bagasi menyusul.

Karena akan segera les, kami pun beranjak dari sana. Sementara kakak saya les, saya dan suami mencoba mencari tempat nginap yang nyaman. Minimal untuk hari itu. Besok bisa cari lagi. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 WIB saat kami berangkat dari kos. Hmm, doa saya supaya hari itu nggak hujan.

Saat kami lewat dekat tempat tes, kebetulan kami melihat ada tulisan “Menerima Kos Putri” di depan sebuah  bangunan yang cukup megah. Dibatasi oleh pagar, bangunan rumah itu terlihat bersih dan nyaman. Iseng-iseng, kami bertanya. Ternyata semalam sewanya 100 ribu. Wajarlah. Isinya pun lengkap. Kamar mandi dalam, air panas, AC, televisi, spring bed, dan bersiiihh banget.

“Ini kos-kosan baru, Mbak,” kata si ibu penjaga. Ada sebelas kamar dan semuanya masih kosong. Wah, ya agak gimana juga. Kasian sendirian.

Kebetulan, saya mendapat informasi dari teman, tidak jauh dari sana, bekas kosnya masih kosong. Ya sudah, kami langsung menuju ke sana. Si ibu belum pulang gereja. Sebelumnya, saya diizinkan salah satu penghuni kos untuk melihat-lihat ke dalam. Ya, lumayan. Seperti kos putri kebanyakan. Kamarnya di dalam rumah. Dan tentunya cukup ramai sehingga si kakak nggak akan kesepian.

Saat bertemu ibu kos, saya mencoba merayunya. “Tolong saya, Bu.” Kata si ibu, ia sebenarnya tidak mengizinkan ada orang yang hanya tinggal 4 hari saja. Biasanya sebulan. Itu juga ditambah biaya listrik. Aduh, ini kan cuma 5 hari, Bu, masa suruh bayar listrik sebulan. Tapi ya udahlah, karena kepepet, saya terima saja. Setelah dirayu, si Ibu pun bersedia untuk tidak memungut biaya listrik. Untuk biaya nginap selama itu dipatok Rp. 350.000,-

Setelah kakak saya pulang les, sekitar pukul 8, kami pun langsung mengunjungi kedua tempat itu. Ohya, sebelumnya, saya iseng menelpon ke bandara menanyakan keberadaan bagasi. Ternyata sudah datang. Dan tutup kantornya adalah pukul 9 malam. Oh, baiklah. Jadi kita harus berlomba dengan waktu.

Setelah menimbang sana sini, akhirnya diputuskanlah kakak saya menginap di kos putri dekat tempat lesnya. Setelah ditawar-tawar, akhirnya harganya turun menjadi Rp.400.000,- Dua kali lipat dari budget awal. Namun, kami tetap bersyukur. Setidaknya tempatnya lebih nyaman. “Seperti hotel bintang lima..” celetuk Abang saya berlebihan saat melihat bentuknya. 😛

Nonton Deadpool

Selama 5 malam, kakak saya menginap di tempat itu. Saya berkunjung dua kali. Pertama untuk mengantarkan camilan dan melihat keadaan hehehe. Siapa tahu nggak betah 😀 Ternyata semua baik-baik aja. Syukurlah.

Karena dua hari terakhir, ia akan tes, kami pun tak berkunjung. Pada malam terakhir, kami sudah janjian untuk bertemu. Sayangnya, hari itu hujan turun cukup deras. Saya agak males kemana-mana. Dia juga nggak sedang mencari apapun. Terus, kami mengobrol beberapa waktu. Sampai tiba pada obrolan tentang film dan keinginannya untuk nonton.

Hm, boleh juga. Supaya bisa sekalian mencari makan malam, kami pun memutuskan ke Jogja City Mall. Saya dan suami belum pernah ke sana. Hitung-hitung pengalaman baru. Saya juga dengar kalau film yang akan kami tonton, Deadpool, cukup bagus. Jadi, kebetulan.

Karena motornya cuma satu dan kondisi hujan, kami pun naik taksi. Wih, ternyata susah banget dapatnya. Kami menunggu hampir setengah jam baru kemudian bisa duduk dengan nyaman di dalam taksi.

Di JCM, waktunya udah mulai mepet. Saya yang biasanya jalannya lambat pun berusaha cepat. Takut kehabisan tiket. Apalagi tinggal 45 menit dari jadwal tayang. Untungnya sih dapat. Meskipun saya dan suami duduknya di kursi depan. Nontonnya harus ndangak dong. Kakak saya masih kebagian yang atas. Ya nggak apa-apalah.

Setelah itu ya makan malam dan nyari bekal untuk besok. Semua ada di JCM. Nggak usah kemana-mana lagi karena kendala cuaca dan transportasi. Pulangnya pun naik taksi. Pulang ke kos, kami masih kena gerimis kecil-kecil.

Jumat pagi, kakak saya berangkat. Paginya gerimis agak banyak. Meskipun begitu, suami tetap datang ke sana untuk mengecek barang bawaan apakah masih ada yang perlu di-packing. Kasian juga bawanya kalau nggak rapi. Ntar di bagasi bisa rusak. Supaya nyaman, kakak naik taksi dan suami pulang kembali ke kos.

Semoga bisa bertemu kembali April ini untuk tes lanjutan yaaa.. 🙂

See you.

[Inspirasi Jumat] Saat Melakukan Kebaikan dan Kebenaran

Hari ini kami kedatangan teman baru. Ia berasal dari Jambi. Senang bisa berkenalan dengannya. Semoga kita bisa belajar bersama-sama, ya 😉

Tema kali ini sebenarnya sederhana. Tapi mari saya membuatnya lebih rumit. Lah..?

Jadi begini..

Mengasihi karena telah dikasihi terlebih dahulu

Pernahkah Anda mendengar kalimat bernada ancaman seperti, “Jangan melakukan kesalahan, nanti masuk neraka.” Atau kalimat lain seperti, “Banyak-banyaklah berbuat baik supaya masuk surga.”

Jika dibahas, hal ini akan menghasilkan perdebatan panjang. Tapi bukan itu yang ingin saya tulis kali ini. Motivasi kita melakukan apapun yang baik (dan tidak melakukan yang tidak baik) terhadap orang-orang di sekitar seharusnya tidak didasarkan oleh keinginan untuk masuk surga atau ketakutan masuk neraka. Jika hanya itu sebabnya, kebaikan kita tidak murni dong. Kita sendiri memiliki maksud tertentu selain dari membantu yang membutuhkan itu. Dengan kata lain, kita sebenarnya sedang peduli pada “masa depan” kita, bukan situasi orang lain.

Motivasi yang paling sejati untuk melakukan kebaikan dan menghindari ketidakbaikkan adalah karena kita telah dikasihi terlebih dahulu. Siapa yang melakukannya? Tuhan. Kapan? Setiap hari. Sejak dahulu. Kok saya nggak sadar? Pikirkan dan renungkanlah.

Akibat dari kasih tersebut seharusnya muncul dalam bentuk aksi kasih yang juga nyata untuk orang lain. Apa iya sudah dikasihi tidak bisa mengasihi orang lain? Apalagi jika yang telah mengasihi kita terlebih dahulu adalah Tuhan.

Jadi, stop pemahaman yang kurang tepat mengenai alasan berbuat kebaikan untuk orang lain. Surga dan neraka memang ada, tetapi Tuhan sendiri yang menentukan siapa yang akan masuk ke dalamnya.

Melakukan kebenaran dan kebaikan adalah pilihan personal

Saya bilang pilihan bukan berarti “oke” jika tidak melakukannya. Adanya pilihan berarti kita dihargai sebagai makhluk yang memiliki akal untuk memutuskan. Kitalah yang mengambil keputusan itu.

Tuhan tentu nggak senang ketika kita mengambil keputusan yang salah. Ia tentu ingin kita terus melakukan kebaikan dan kebenaran selama hidup kita. Namun, kadang kita lalai, bukan? Di sanalah Tuhan berperan menuntun kita untuk mengambil keputusan-keputusan yang tepat dan mengabaikan pilihan yang salah.

Namun, dalam keseharian, kitalah yang memegang kontrol. Andai Tuhan memaksa kita melakukan kebenaran dan kebaikan (dan Ia bisa melakukannya), untuk apa kita hidup? Kita hanya akan menjadi robot yang selalu patuh, tak punya nurani.

Nah, dengan penghargaan yang luar biasa ini, mari kita memutuskan dan memilih hal-hal yang sesuai dengan keberadaan dan nilai kita. Jangan mau lebih rendah daripada itu.

Memberi bukan hanya berupa benda

Banyak orang berpikir bahwa melakukan kebaikan dan kebenaran harus punya modal materi. Uang, tepatnya. Paradigma yang selama ini tertanam dalam pikiran kita adalah uang bisa melakukan segalanya: menolong orang sakit, membangun gereja, membantu yang kekurangan, dan sebagainya.

Padahal ada modal yang sudah disediakan oleh Tuhan sejak awal penciptaan yaitu tubuh kita sendiri. Tubuh–dengan segala keluarbiasaannya–sesungguhnya mampu digunakan untuk melakukan kebaikan dan kebenaran. Kita bisa menolong melakukan sesuatu, bahkan sekadar menyediakan telinga untuk mendengar.

Jadi, pergunakanlah modal itu dengan baik supaya jangan menjadi sia-sia. Selanjutnya, kita pun bisa belajar mengenai betapa baiknya Tuhan karena telah memberikan kemampuan, bakat, dan kebisaan kepada setiap manusia. Tinggal bagaimana cara menggalinya supaya bisa dimanfaatkan untuk kebaikan. Bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain.

Berani melawan “kebenaran adalah pendapat terbanyak”.

Saya nggak bilang bahwa kebenaran yang merupakan pendapat terbanyak dari masyarakat adalah salah. Tapi, ada juga yang salah. Ada kalanya, karena sebagian besar orang mengatakan hal itu benar, maka itulah yang dianggap kebenaran.

Jangan terkecoh atau takut melawannya.

Kebenaran adalah: hal-hal yang selaras dengan apa yang disampaikan Tuhan. Bila bertentangan dengan itu, berarti bukan kebenaran, sebanyak apapun orang yang mengatakannya sebagai kebenaran.

Tentu ada risiko jika berani melawan pandangan banyak orang. Dianggap aneh atau berontak atau sok tahu atau sebagainya. Ya, sudah. Toh kita hidup untuk menyenangkan Tuhan, bukan? Selama kita berada dalam jalur yang benar menurut Tuhan, biarkan saja orang mau bilang apa.

Berubah setiap hari

Inti dari kehidupan adalah kita masih memiliki kesempatan untuk membuat perubahan pada hari yang akan datang. Jarang sekali atau bahkan tidak ada orang yang tak pernah terpeleset dan tidak melakukan kesalahan bahkan dalam rentang waktu satu hari.

Beruntungnya, karena kita masih hidup, kita mendapat kesempatan baru untuk mengubah yang tidak baik menjadi baik, yang tidak benar menjadi benar, dan yang gagal menjadi berhasil. Masalahnya adalah, apakah kita menyadari mana yang tidak benar, tidak baik, dan gagal?

Semua dimulai dari pengakuan itu. Jika sudah, yuk, langkah selanjutnya adalah belajar terus-menerus untuk menjadi pribadi yang luar biasa dan bermanfaat bagi sesama. Kita bisa kok 😉