Day 86: Becoming A Good Listener (H31) – Menerima Nasihat

Mendengar itu juga berkaitan dengan bagaimana kita “menerima nasihat”.

Dalam berbagai percakapan, ada kalanya kita menjadi pihak yang dinasihati. Mungkin secara sengaja kita meminta saran dari orang tersebut, mungkin juga tanpa meminta ada nasihat yang disampaikan kepada kita.

Ketika saya merenungkan apa yang akan saya laporkan pada perkembangan project ini, saya berpikir mengenai kemampuan untuk menerima pandangan, nasihat, saran, termasuk kritik dari orang lain. Orang yang nggak memiliki keahlian mendengar akan selalu memotong ucapan orang lain tanpa memberi kesempatan. Padahal, bisa saja hal yang akan dikatakan itu benar adanya.

Jadi, mendengar selalu berkaitan dengan hati yang lembut dan mau belajar. Merasa diri sendiri lebih baik akan membuat mata kita tertutup. Segala saran yang disampaikan orang lain akan tampak seperti kritik yang ingin menjatuhkan.

Meskipun, tidak berarti pula segala ucapan orang lain harus dimasukkan dalam hati. Kemampuan memilah dan memilih hal-hal yang bermanfaat untuk diri sendiri perlu ditingkatkan. Misalnya, kritik apa yang membangun kualitas kita? Saran apa yang akan meningkatkan kemampuan kita? Nasihat apa yang membuat kita menjadi lebih baik? Kalau nilainya negatif, kita hanya perlu menyingkirkannya dan memakai senjata: masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri.

Tentu saja ini bukan sesuatu yang bisa terjadi begitu saja. Perlu proses yang kontinyu untuk membuatnya menjadi kebiasaan. Kalau udah mampu menyeimbangkan mana yang perlu diambil dan mana yang tidak, tentu kualitas sebagai listener juga akan makin meningkat.

Day 86: Oktober 2014 #Review

Oktober udah mau selesai. Yeay! Bulan ini berjalan begitu cepat. Tapi, rasanya masih belum maksimal. Semoga November akan lebih bersemangat dan rajin.

Oktober 2014

  1. Mulai melakukan 100 Days Project (1 Okt 2014 – 8 Jan 2015) yaitu Becoming A Good Listener. Pengennya sih belajar lebih banyak untuk menjadi lebih baik dalam mendengar. Semoga lancar.
  2. Bikin kategori baru di blog, namanya Inspirasi Jumat. Isinya tentang pelajaran-pelajaran yang saya dapatkan selama Kelompok Belajar Jumat (KBJ) yang juga diadakan tiap Jumat. Biar inget aja.
  3. Akhirnya punya jersey Chelsea, tepatnya dibeliin pacar. Hehehe. šŸ™‚
  4. Resensi 3 novel dari Diva Press: Weh, The Banker, dan The Royal Bread. Dua novel pertama review-nya cepet banget. Seminggu. Rekor banget, deh.
  5. Ikutan lomba blog PLN. Haha. Meskipun nggak yakin bakal menang sih. Itung-itung latian nulis aja.
  6. Menyelesaikan film drama Korea berjudul The Cunning Single Lady (16 eps). Jarang-jarang banget nonton drama Korea. Tapi, ini ceritanya bagus sih. Ntar mau posting deh resensinya.
  7. Mulai menulis di buku harian. I mean, benar-benar menulis–menuangkan pikiran. Biasanya buku harian hanya berfungsi sebagai pengatur jadwal aja.
  8. Nenek (dari Ibu) meninggal di usia 79 tahun. Sedih nggak bisa pulang. šŸ˜¦
  9. Beres-beres kamar dan bikin gorden manual dari kain pantai dan sarung. Keren banget rasanya. šŸ˜€
  10. Dapat info KPR dan mulai berusaha mengejar itu bareng dia. Cita-cita: punya rumah. Sederhana nggak apa-apa.
  11. Punya rekening baru dari kantor: Mandiri. Lengkap sudah rasanya šŸ˜›
  12. Mulai pake yang alami dari Nature Organic. Efeknya lumayan sih. Bikin lebih seger. Semoga tetap begitu. Pengen review, tapi kapan-kapan deh šŸ˜€
  13. Bikin akun di GWP (Gramedia Writing Project). Pengennya lancar dan ada hasilnya.

Thanks, God!

Day 86: Tak Pernah Berubah #InspirasiJumat

Menurut Anda, berapa lama pernikahan akan bertahan jika hanya berdasarkan rasa cinta saja?

Kita mendengar banyak pasangan yang cerai begitu saja hanya karena merasa tak cocok lagi. Padahal, dulu sampe berbusa-busa bilang, “Aku mencintaimu.” Dari pengalaman banyak orang yang sudah menikah, rasa cinta yang “membuat perutmu seperti dihinggapi kupu-kupu” itu–ungkapan ini nyontek dari mb Wiwin–hanya bertahan kira-kira satu tahun lebih sedikit. Selanjutnya, akan terjadi banyak pertengkaran, ketidakakuran, dan sebagainya.

Masalah kecil bisa menjadi besar. Masalah besar akan tampak seperti musibah. Pasangan seakan-akan berubah. Dulu sayang banget, sekarang terlihat cuek banget.

Manusia bisa berubah karena keadaan, tetapi Tuhan nggak berubah dalam keadaan apapun.

Mengapa kita seringkali merasa bahwa Tuhan berubah?

Ada dua alasan.

Pertama, Tuhan ingin kita menjadi dewasa. Ketika masih menjadi bayi rohani, segala yang kita inginkan seolah-olah terpenuhi begitu saja, hidup penuh dengan berkat-berkat, ada kegembiraan yang melimpah, dan tidak ada masalah. Semakin dewasa, Tuhan ingin kita belajar melalui masalah-masalah yang diizinkannya terjadi dalam hidup kita. Ia membiarkan kita mencari hikmah dari setiap peristiwa sehingga kita bertumbuh.

Kecenderungan manusia adalah menganggap bahwa masalah adalah malapetaka dan selalu negatif. Jika melihat dengan cermat, di balik setiap masalah, kita memiliki kesempatan untuk meng-upgrade kualitas diri.

Kedua, Tuhan selalu hadir. Ketika kita senang atau sedih, Tuhan ada. Ketika kita menghadapi masalah, Tuhan ada. Ketika kita tertatih-tatih untuk lepas dari masalah, Ia juga ada. Tugas kita adalah selalu mendekat kepada-Nya ketika berada dalam kesulitan.

Diskusi kami hari ini berakhir dengan kesimpulan bahwa hubungan harus selalu dilandasi dengan komitmen, baik hubungan dalam pernikahan maupun hubungan dengan Tuhan. Kita harus berusaha sekuat tenaga untuk memegang janji bahwa apa yang sudah dimulai, harus tetap dijaga, termasuk dalam pernikahan.

Day 85: Rest in Peace, Nek.

Hal yang paling saya ingat tentang Nenek adalah semangatnya yang membara untuk bekerja di ladang. Semangat itu yang seringkali membuat anak-anaknya “marah” karena Nenek nggak mau disuruh istirahat di rumah. Padahal, kondisi fisiknya udah lemah, ringkih, dan sering sakit.

Saya cukup dekat dengan Nenek ketika masih kecil. Ia tinggal nggak jauh dari rumah kami, sendirian, karena anak-anaknya merantau. Ibu sayalah yang jaraknya paling dekat. Kalau libur sekolah, saya sering tidur di rumah Nenek dan dimanjakan dengan kasih sayang, dibelikan jajan, dan sebagainya.

Nenek adalah perempuan kuat yang pernah saya kenal. Ia jarang sekali mengeluh. Ia sederhana. Ia mandiri. Ia sabar. Ia penyayang. Di usianya yang senja, ia masih kuat berjalan kaki sepanjang 1 KM untuk datang ke gereja, pake jarik dan kebaya model lama. Kadang-kadang, kalau cucu-cucunya lagi nggak sibuk nonton teve di Minggu pagi, Nenek baruĀ dijemput. Hiks, nyesel nggak meluangkan banyak waktu bersamanya.

Sejak saya “pergi” dari rumah diĀ usia 15 tahun, saya hanya sebentar-sebentar berjumpa dengan wanita itu. Nenek memang nggak lagi tinggal di rumah yang dulu, tetapi ikut dengan anak-anaknya yang lain di Jambi dan Palembang. Sekali-kali saja ia pulang ke kampung halaman. Saya udah nggak ingat kapan terakhir kali kami bertemu. Mungkin 6 tahun lalu? Mungkin lebih.

Sayangnya, saya nggak bisa ikut mengantarkannya keĀ tempat peristirahatan yang terakhir. Ada banyak hal yang membuat saya harus berpikir ulang untuk pulang. Hanya doa yang saya kirimkan dari jauh, rest in peace, Nek. Senang mengenalmu dan menjadi cucumu. Sampai bertemu kembali. Aku sayang Nenek.

Day 84: Yang Renyah dari New York

Judul: The Royal Bread

Penulis: Eko

Penerbit: PING!!!

Jumlah halaman: 188

Tahun terbit: 2014

the royal bread

Sebelum membaca sebuah buku, biasanya saya akan melihat-lihat dulu tampilannya. Memang, sih, ada peribahasa yang berbunyiĀ don’t judge the book by it’s cover,Ā tapi tetep aja.. meraba, mengamati, dan menikmati kaver buku yang indah itu.. menciptakanĀ perasaan yang tak bisa diungkapkan.

Kaver buku berjudulĀ The Royal BreadĀ ini didominasi oleh warna hitam yang anggun. Gambar rotiĀ yang tampaknya jenis baguette dengan aksen timbul seakan-akan menciptakan kesan tiga dimensi pada kavernya. Lumayan keren juga konsepnya.

Kemudian.. saya beranjak ke belakang dan melihat latar belakang penulisnya. Tujuannya sih semata-mata untuk mendapatkan gambaran yang lebih umum mengenai tema cerita. Biasanya, nih, seorang penulis menulis tentang hal-hal yang nggak jauh dari pengalaman sehari-harinya. Biasanyaa..

Terus terang, ekspektasi saya nggak terlalu tinggi. Kira-kira, saya akan mendapati kisah cinta a la anak sekolahan yang labil dan lebay. Seperti sinetron-sinetron zaman sekaranglah. Saya juga nggak mengharapkan cara penceritaan yang baik, bisa dimengerti aja tampaknya udah cukup.

Tapiii..

Ini harus digarisbawahi, nih. TAPI, BUKU INI KEREN, KOK. Yakin, deh. Saat mulai membaca halaman pertamanya, saya seperti terbius. Saya kenal perasaan ini, perasaan ketika membaca novel-novel teenlit terjemahan yang ringan dan mengalir. Kalimat-kalimatnya pendek dan khas. Beberapa halaman pertama, saya masih nggak yakin kalau sedang membaca novel karangan anak SMA, asli Indonesia pula.

Yang paling menonjol dari novel ini adalah gaya bahasa yang sangat ringan. Saya bisa menyelesaikannya dalam waktu 2 jam saking lancarnya. Nggak ada bagian yang membuat tersendat-sendat. Nggak ada typo (sepanjang pengamatan saya). Dan nggak ada kalimat yang aneh atau dibuat-buat. Ahh, sekaligus saya iri juga kenapa belum bisa menulis sebaik ini. Hehehe.

Jadi, ceritanya novel ini mengambil setting di New York. (Nah, tau kan kenapa saya agak-agak khawatir pada awalnya. Settingnya begitu jauh di sana. Mampu nggak nih si penulis menjelaskan dengan baik?). Diceritakan seorang Albert Glister, siswa SMU, hidup di New York. Dari penggambaran si penulis sih, saya menangkap Albert ini merupakan anak biasa-biasa saja. Prestasinya di sekolah biasa juga. Ia bersahabat dengan Jack. Dan ia bisa bermain basket meskipun keahliannya biasa juga. Orangtuanya memiliki toko roti yang biasa juga yang nggak terlalu laris. Intinya, semacam random student yang banyak berkeliaran di koridor sekolah. Hanya itu.

Lalu, sebuah kabar datang. Seorang putri dari keluarga kerajaan di Inggris bernama Putri Vanessa Carrol akan bersekolah di sekolah Albert. Kenapa memilih di sana, nggak dijelaskan secara detail. Awalnya Albert nggak peduli, tetapi ketika melihat penampilan Putri di dunia nyata–bukan hanya di televisi–yaa, dia agak sedikit tertarik.

Sayangnya, ia kalah populer dengan penguasa sekolah bernama Seth. Seth ini adalah tipe siswa bandel yang tampaknya memiliki tampang lumayan. Ia gemar mengintimidasi teman-temannya dan bersikap seolah-olah menjadi raja di sekolah. Tipe yang menyebalkan, right?

Jadi, nggak ada yang berani mendekati atau berkawan dengan Putri Vanessa selain Seth karena cowok bandel itu udah mewanti-wanti duluan. Karena masih murid baru, jelas saja Putri Vanessa nggak bisa berbuat apa-apa. Ia sedikit terganggu tapi ya, gimana lagi..

Hingga.. pada suatu ketika.. mereka berkenalan secara nggak sengaja. Tunggu, sebenarnya Albert hanya ingin mengagumi Putri Vanessa dari jauh, sih, karena nggak mau ambil risiko berhadapan dengan Seth, tapi, ada sesuatu yang memaksanya. Ia harus berkenalan dengan Putri Vanessa dan meminta bantuan cewek itu. Bantuan yang sangat penting bagi keluarga Albert dan toko rotinya.

Lalu, mulailah terjalin hubungan antar kedua insan ini (alaaahh). Mereka mulai sering ketemu dan dihiasi oleh banyak intrik-intrik lain yang ingin memisahkan mereka, termasuk persetujuan dari keluarga Putri Vanessa di Inggris.

Overall, cerita ini seru juga. Beda dari novel-novel anak negeri yang pernah saya baca. Mungkin juga karena setting yang bertempat di luar negeri. Meskipun nggak ada selipan percakapan dalam bahasa Inggris, tapi mulai dari pemilihan nama tokoh, gaya bahasa, hingga kebiasaan-kebiasaan seperti sarapan roti, bus sekolah, dan sebagainya, sudah cukup membawa pembaca membayangkan seolah-olah sedang berada di New York.

Good jobĀ untuk penulis dan tentu saja orang-orang yang mendukung di belakangnya.

Day 82: Screening Hati

Saya mendengar kata ini muncul dua kali dalam kurun waktu dua hari kemarin.

Pertama, ketika menonton siaran dr. Oz. Disebutkan, screening itu penting dilakukan untuk mendeteksi penyakit berdasarkan gejala-gejala yang dialami. Hal ini dilakukan untuk memverifikasi apakah seseorang menderita penyakit tertentu atau tidak, misalnya kanker usus. Screening dilakukan dengan menggunakan peralatan yang canggih. Melalui proses itu, kita bisa benar-benar lega karena hasilnya tepat dan bisa dipercaya.

Kedua, ketika saya beribadah pada hari Minggu di gereja. Sang pengkhotbah, Daniel K. Listijabudi, yang juga seorang dosen, mengatakan bahwa Tuhan juga melakukan screening pada hati seseorang ketika melakukan sesuatu.

Penjelasan singkatnyaĀ begini..

Seseorang bisa saja melakukan tindakan kasih bukan didorong oleh kasih. Wujud tindakan yang terlihat memang kasih. Orang lain yang menerima tindakan itu pun merasa terberkati. Namun, siapa yang melihat hati?

Di sinilah Tuhan akan melakukan screening pada hati kita. Apa motivasi kita “memberi”? Untuk mendapatkan berkat yang lebih besar? Supaya bisa dipujiĀ orang lain? Hanya karena nggak enak? Dan sebagainya.

Memang sulit untuk menilai diri sendiri. Kadang-kadang tanpa sadar, kita merasa bahwa diri sendiri sudah benar. Kebaikan hati berbalut kerendahan hati yang palsu. Ada pula yang tak segan-segan mencari pembenaran diri dan memutuskan sendiri bahwa tindakan itu benar-benar nggak ditumpangi oleh motivasi yang lain dengan berbagai alasan yang “rohani”.

Tapi, kembali lagi, yang berhak melakukan screeningĀ adalah Tuhan sendiri. Secara sederhana, setiap tindakan kasih yang dilakukan berdasarkan KASIH SEJATI bukan saja hanya berdampak bagi orang lain, tetapi juga akan membuat diri sendiri semakin bahagia, tanpa pamrih, dan ikhlas. Sementara itu, Tuhan bertindak menjadi pihak yang melakukan verifikasi.

Jadi, tindakan kasih apa yang telah Anda lakukan hari ini? Biarkan Tuhan yang melakukan screening danĀ menilainya.

Day 82: Bahaya Pornografi #InspirasiJumat

Jumat (24/10) kemarin, kami belajar tentang bahaya pornografi. Pornografi berasal dari dua kata bahasa Yunani, yaitu porneia dan grafe. Porneia adalah seksualitas yang tidak bermoral atau beretika dan grafe adalah kitab atau tulisan. Jadi, pornografi adalah penggambaran seksualitas yang tidak bermoral atau beretika melalui tulisan maupun gambar (atau lisan).

Pertanyaan yang memancing diskusi agak seru adalah: kapan pertama kali Anda bersentuhan dengan pornografi? Saya yakin, melihatĀ perkembangan dunia ini, nggak ada orang yang betul-betul bebas dari pornografi. Semua orang pernah bersentuhan dengan pornografi, baik secara sengaja maupun tidak. Hanya saja, seberapa dekat dan dalam, itu yang berbeda-beda tiap orang.

Inti dari diskusi ini sebenarnya adalah memahami bahwa pornografi adalah bibit dasar dari tindakan-tindakan atau perilaku-perilaku yang tidak baik pada masa yang akan datang. Mari kita lihat secara sederhana. Begini.. bergaul dengan orang-orang yang suka berolahraga bisaĀ membuat kita ikut memandang bahwa olahraga itu penting. Terbiasa memakan makanan yang sehat (bukan junk food) akan membuat tubuh kita seakan-akan “menolak” makanan junk food yang terpaksa kita makan. Bentuknya bisa perasaan mual atau sekadar nggak menikmati. Contoh lainnya, terbiasa dengan suasana yang bising akan membuat kita nggak terganggu ketika suatu ketika harus bekerja di tengah-tengah suara mesin yang ramai.

So, itulah poinnya. Terbiasa. Kebiasaan pelan-pelan akan melunturkan nilai-nilai yang dulu dipegang. Mau tak mau, standar kehidupan akan menyesuaikan diri dengan apa yang kita akrabi sepanjang waktu. Melihat hal-hal yang berbau porno mungkin nggak akan membunuh secara instan, tetapi akan mengubah mindset kita terhadap apa yang benar dan apa yang tidak.

Namun, semua itu juga dilandasi dengan wawasan yang luas, panjang, dan lebar. Anak-anak yang mulai akil balig mungkin saja melakukannya karena didorong oleh rasa penasaran. Hormon juga berpengaruh. Melarang justru akan membuat mereka semakin ingin tahu dan mencari cara lewat pintu belakang. Saya ingin, ketika nanti menjadi orangtua, mampu membaca keingintahuan tersebut dan memperkenalkan dunia kepada mereka–dengan segala sisi baik dan buruknya–dengan cool dan nggak otoriter.

Soal pornografi ini, saya ingat betul, dulu semasa kuliah, di kelas penulisan kreatif, kami menonton film–yang sampai sekarang saya lupa judulnya apa–yang isinya agak-agak “gimana”. Memang sih, latar belakangnya seni. Ada keindahan dalam pengemasannya. Saya juga ingat seorang teman yang mengambil keputusan untuk nggak lagi menonton film-film “barat” karena takut adegan yang (nggak) diinginkan itu nyembul secara tiba-tiba. Jadi, prinsipnya adalah mencegah, bukan mengobati.

Bagaimanapun, itu semua adalah personal choice. Apalagi ketika kita bicara tentang seorang individu yang dewasa. Beberapa hari yang lalu, ketika saya mewawancarai seorang psikolog (dalam rangka kerjaan), ia menyinggung mengenai dampak dari tindakan-tindakan yang dilakukan seseorang. Sebagai orang dewasa, kita harus mampu mempertanggungjawabkan tindakan kita dan paham risiko dan dampaknya, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Saya rasa, kalau udah sampai pada pemahaman itu, kita nggak mungkin menuntut orang lain jika terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan, bukan? Kita pun akan berusaha lebih keras memakai “otak” untuk memutuskan akan melakukan tindakan apa hari ini.

Nonton, enggak? Lihat, enggak? Penting, enggak? Perlu, enggak? Ada manfaatnya, enggak? Dan seterusnya…