Day 33: Checkpoint

Sekadar checkpoint project yang baru saja selesai dikerjakan dan masih jadi PR.

Februari – Maret 2014

Ada dua pekerjaan dalam rentang waktu ini. Satu, menulis artikel. Dua, mengedit artikel. Bagi saya, keduanya butuh usaha yang keras mengingat kondisi pengerjaannya. Apalagi yang project menulis. Deadline-nya tepat ketika saya harus keluar kantor untuk tugas lapangan. Saya udah berusaha membagi waktu sebelumnya supaya tidak kewalahan ketika berada di akhir. Tapiii.. ternyata harus banyak belajar untuk disiplin. Akhirnya, saya kelewatan satu hari. Yah, semoga bisa jadi pembelajaran untuk project-project mendatang. Untuk yang kedua sebenarnya tidak ada masalah, hanya saja saya diserang flu yang lumayan. Kondisi cuaca juga memburuk. Akhirnya, saya harus angkat tangan untuk berhenti dan tidak mengikuti sampai akhir.

Dari kedua project ini saya belajar lebih banyak untuk bekerja lebih smart, berani menolak jika tidak sanggup, dan harus selalu menepati deadline. Itu wajib bagi freelancer yang butuh membangun kepercayaan. Kepercayaan adalah seperti mata uang yang digunakan dalam bidang ini. Tugas saya tentu membuatnya semakin bertambah. Semoga semakin hari semakin baik.

Project Buku SDB

Yang ini adalah PR sejak kemarin-kemarin. Ada perkembangan sih, cuma memang agak lambat. Project ini sudah berjalan tiga bulan dan saya harus mengakui bahwa menulis buku adalah sebuah maraton. Harus punya ketahanan yang kuat. Semangat yang tak pernah padam. Dan sebagainya. Sekarang sudah mencapai tahap revisi (mungkin yang ketiga? Hehe). Perlu ada penambahan halaman naskah dan konten. Ah, lumayan beratlah. Tapi, saya harus berusaha sebelum mengeluh. Project ini deadline pada 28 Maret 2014. Pasti bisa!

Project Buku SJ

Nah ini. Hehe.. Agak speechless juga dengan yang satu ini. Dimana seharusnya sudah selesai beberapa waktu yang lalu, Namun, karena belum nemu pola yang tepat, usaha yang kurang keras, akhirnya masih tetap jadi PR. Untuk ini, saya usahakan April harus dimulai kembali. Butuh waktu satu bulan minimal untuk menyelesaikan. Selanjutnya bisa melangkah ke potensi-potensi lain yang mungkin bisa dikerjakan

Lain-lain

Masih ada beberapa hal lain yang jadi ‘utang’ untuk dikerjakan. Buku anak, novel, tulisan di koran, renungan, dan sebagainya. Saya berharap bisa membagi waktu dengan benar sehingga semuanya berjalan maksimal. Memang tidak ada yang sempurna di dunia ini, kita hanya harus terus berusaha. Itulah yang membuatnya menjadi sempurna dan layak dinikmati.

Selamat siang para pejuang!

Iklan

Day 30: Setiap Orang Akan Sampai Pada Waktu Yang Tepat

Pagi. Sejak semalam, saya ingin sekali menulis tentang ini di sini. Ya, hanya ingin berbagi..

Jadi, begini..

Ehem..

Bentar..

Jadi, begini. Saya tak kuasa menahan diri untuk mengungkapkan bagaimana Tuhan sedang membentuk karakter saya di setiap sisi kehidupan. Termasuk ketika memilih pasangan hidup. Bagi saya, ini adalah perjalanan panjaaang… banget. Seperti tak berujung.

Saya sebenarnya bukan tipe orang yang mencari atau mengeluh karena selalu bertemu dengan orang yang salah. Setidaknya itu yang saya rasakan. Saya menilai diri sendiri sebagai orang yang tidak menempatkan hal “pasangan hidup” pada prioritas pertama. Memang, pada masa-masa tertentu, ada saja perasaan tidak enak. Misalnya ketika harus pulang malam, ketika sakit, ketika membutuhkan bantuan, dan sebagainya. Rasanya sangat ingin ada orang yang memperhatikan dan menolong. Namun, sebagai anak rantau (hehe) saya terbiasa melakukan banyak hal sendiri. Perasaan membutuhkan itu lama-lama menghilang dan jarang sekali muncul, paling-paling ketika pas lagi PMS. Biasa. Mood jelek :p

Lalu, usia bertambah. Ada pernyataan klise yang seringkali diucapkan oleh orang-orang iseng, “Kalau di kampung, usia segitu udah punya dua anak, lho.” Itu memang benar. Para sahabat masa kecil saya sudah memiliki 2-3 balita yang lucu-lucu. Kalau yang tinggalnya di perkotaan, ya minimal punya anak 1. Lihat aja foto-foto mereka di jejaring sosial. Banyak, deh. Nggemesin, hehehe.

Itu semua tentu berkaitan pada faktor-faktor yang mendukung kehidupan. Contohnya, jika kita tinggal di daerah, kita dikelilingi oleh budaya yang berprinsip, “Cewek jangan lama-lama melajang.” Bukan apa-apa, orangtua ingin segera menimang cucu. Lagipula, apalagi yang perlu ditunggu. Jika semua sudah tercukupi, bisa tinggal di rumah (atau dekat) orangtua, pekerjaan mapan, dan sebagainya. Ya, tinggal dinikahi..

Sementara di kota, masalahnya lebih kompleks. Selain lingkungan yang tidak terlalu mempermasalahkan kapan mau menikah atau tidak menikah samasekali, tantangan dalam pekerjaan bisa menjadi sebuah alasan. Banyak lajang yang lebih memilih untuk mengejar sesuatu demi sesuatu. Satu langkah menaiki anak tangga yang lebih tinggi. Lama-lama lupa kalau belum berkeluarga (Haha, bisa lupa, ya?). Pokoknya, waktu. Waktu terasa kurang. Semua untuk bekerja dan melakukan sesuatu yang mendatangkan penghasilan atau sekadar mengekspresikan diri lewat hobi.

Oke, berangkat dari situ, saya ingin mengatakan bahwa saya baik-baik saja merasa sendirian ketika menginjak usia 27 tahun. Saya merasa keren, percaya diri, bebas, dan ingin berkarya lebih banyak. Angka 27 bagi saya adalah sesuatu yang bermakna penting. Puncak dari kehidupan seorang lajang. Dan memang benar. Saya benar-benar menikmati setahun itu dengan penuh syukur. Saya melewati berbagai hal menarik dan tak terlupakan di tahun itu.

Hingga.. akhir tahun datang. Sebentar lagi saya menyudahi masa-masa kejayaan itu. Waktunya untuk berpikir serius. Setelah semua yang saya jalani, rasanya cukup bagi saya. Waktu-waktu luang yang tak harus dilaporkan ke orang lain. Waktu-waktu menonton film maraton seharian. Waktu-waktu membelanjakan uang tanpa harus ditegur. Waktu-waktu yang berbeda. Hehe. Saya merasa cukup. Lalu, saya berdoa dan meminta Tuhan menolong saya untuk mulai menyiapkan diri. Untuk menjadi pasangan yang tepat, entah siapa. Saya mulai berusaha. Saya belajar menjadi orang baik yang tidak pemarah, tidak egois, peduli dan mengasihi orang lain. Saya belajar untuk mengandalkan Tuhan. Saya belajar hal-hal baik. Dan meninggalkan hal-hal yang tidak baik.

Titik paling penting adalah ketika saya mengatakan, “Saya siap, Tuhan.” Pernyataan ini tidak hanya berisi permintaan, tetapi kesediaan untuk menerima dan mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh serta komitmen untuk menjalani hubungan yang serius.

Saya tahu Tuhan Maha Mendengar. Saya bersyukur, bahkan dengan pelanggaran-pelanggaran saya, Ia tidak menulikan telinga. Ia mendengar. Dan Ia mengirim seseorang. Seseorang yang penting.

Saya sudah lama tahu orang ini. Ia berada dalam lingkungan pertemanan. Tapi, saya belum kenal. Ya, karena beberapa hal, hehe. Yang saya tahu, ia tipe orang yang layak dicintai. Kalau Anda tahu maksud saya. Memang subjektif, itu menurut saya. Meskipun saya belum jatuh cinta padanya dari awal. Lalu, semua berjalan. Ada pembicaraan-pembicaraan serius. Ada hal-hal baru setiap hari. Ada pelajaran-pelajaran tentang bagaimana memedulikan perasaan orang lain. Ada harapan. Ada semangat. Dari sana semua mulai tumbuh. Pengalaman bersamanya setiap hari memberi saya keyakinan bahwa ia orang yang tepat.

Kalau bicara soal cinta yang meledak-ledak, saya memang bukan ahlinya. Pada awal-awal dekat, saya justru masih “gamang” setiap bangun pagi. Kesadaran saya kembali beberapa saat ketika berpikir lebih dalam. Waw. Tuhan membuatnya hingga seperti ini. Lalu, seiring dengan waktu, semua menjadi semakin tampak settle. Seperti puzzle yang mulai ditempatkan satu-persatu pada tempatnya. Satu-persatu rasanya menjadi lengkap dengan gambar yang lebih detail.

Saya menyadari satu hal dari perjalanan ini. Tuhan membentuk saya dengan bertemu orang-orang yang “salah” sebelumnya. Karakter saya dibangun satu demi satu. Bagaimana berkomunikasi dengan tepat, bagaimana mengelola keuangan, bagaimana memilih keputusan yang baik. Semua pelajaran itu bukan hal yang sederhana. Ada rasa sakit yang mengiringinya. Dan setiap fase yang dilewati membuat saya semakin kuat dan mengerti.

Saya nggak bilang bahwa semua sudah beres sekarang. Bukan. Ini adalah permulaan dari setiap langkah-langkah baru. Saya menulis di sini sebagai pertanda bahwa saya akan memulai sebuah perjuangan. Banyak airmata yang mungkin akan tertumpah. Ada hati yang hampir menyerah. Ada semangat yang mungkin bisa patah. Tetapi ada juga harapan. Sebuah keajaiban yang menunggu di ujung jalan.

Semua yang terjadi saat ini adalah masalah waktu. Tuhan memberikannya pada waktu yang tepat. Saya tahu itu sekarang. Saya ingin mengatakan kepada para lajang di seluruh dunia, saya adalah bukti dari kesempurnaan rencana Tuhan. Saya tidak lebih hebat. Tidak lebih baik. Hanya sudah sampai pada waktu yang tepat. Setiap orang akan sampai pada waktu yang tepat. Sebelum waktu itu tiba, bersiaplah. Jangan lepaskan kesempatan. Tuhan baik. Sangat baik. Ia mencintai dan mengasihi kita. Semangat!

Day 20: Bercanda Juga Ada Batasnya..

Pernah nggak sih nemu orang yang asal ngomong dan menganggap bahwa omongannya itu lucu? Untuk menegaskan, beberapa orang memang tertawa. Ada yang terpaksa, ada yang takut dikira nggak nyambung, ada yang basa-basi. Sebenarnya, ya, engga apa-apa sih kalau lucunya itu hanya dalam kemasan garing. Namun, ada orang yang melucu dengan cara mengorbankan orang lain. Entah kelemahannya, kekurangannya, dan ketidakmampuannya dalam beberapa hal.

Jangan jauh-jauh kalau mau melihat contohnya. Di televisi (saya udah jarang nonton televisi, entah sekarang masih begitu), ada komedian-komedian gadungan yang meluncurkan guyonan dengan cara mengejek orang lain. Misalnya menyebutnya pendek, botak, cadel, dan sebagainya. Ada juga yang bersifat menyakiti secara fisik, misalnya menarik kursi ketika seseorang ingin duduk. Otomatis orang ini pun jatuh. Lalu, orang-orang tertawa. Saya heran, apa sih yang lucu dari adegan tersebut. Apakah ekspresi orang yang jatuh itu memang lucu? Yaa.. ini relatif ya. Bisa jadi memang iya karena dari sananya ia memiliki respon yang mengundang tawa.

Saya agak kurang respek pada orang-orang yang memakai orang lain untuk memancing tawa. Saya lebih menghargai mereka yang justru memakai kekurangan diri sendiri untuk melucu. Sulit lho menerima kekurangan sendiri dan menganggapnya patut ditertawakan. Kalau bukan hanya orang-orang hebat yang tidak peduli bagaimana dunia menilai mereka. Di dalam jiwa mereka, ada kekuatan tersembunyi yang membuat mereka tetap tegar bahkan menghadapi rasa malu.

Karena sulit itulah, topik-topik paling populer yang digunakan untuk melawan, ya orang lain. Entah dengan ucapan yang tidak menyenangkan, entah dengan sindiran, entah dengan cara apapun. ‘

Mungkin sebagian orang tidak begitu peduli. Terserah saja. Mau menyindir kek, mau mengejek, mau bilang apapun, toh nggak ngaruh apa-apa. Sayangnya, sebagian yang lain peduli dan terpengaruh. Ada perasaan tidak nyaman yang muncul. Kalau mau jujur dikatakan, ada saja yang iseng bilang, “Halah, cuma bercandaaa… Sensitif banget, sih!”

Oke. Dengar ya. Tuhan menciptakan orang beda-beda, lho. Dengan karakter yang berbeda. Kalau bagi seseorang, guyonan semacam itu hanya angin lalu, bagi orang lain bisa menjadi sesuatu yang menyakitkan. Kita tidak bisa menyamaratakan karena itu menunjukkan betapa kita merasa lebih benar dan lebih kuat. Yang artinya, yang merasa sensitif selalu berada di pihak yang salah. Kita yang tegar adalah orang-orang yang hebat.

Tunggu dulu, mungkin saja kita kuat menerima sindiran dan guyonan yang berlebihan, tetapi apakah kita juga kuat ketika menghadapi masalah-masalah lain? Menerima penghinaan? Menerima penolakan? Menerima kekecewaan? Daya tahan orang tidak sama. Entah.. mungkin pada masalah yang kita anggap berat, orang-orang tadi justru bisa survive. Jadi, ya, cukup dengan saling menghargai perbedaan saja, kok. Kalau memang, kita merasa diri sudah benar, tidak ada salahnya untuk diam dan membiarkan waktu yang berbicara.

Dalam bahasa ibu, ada sebuah kata yang saya ingat untuk situasi ini. “Harumani”. Jika diterjemahkan secara bebas, artinya: Mengapa sampai tega? Jika sudah tahu sensitif, mengapa sampai tega melemparkan guyonan yang demikian? Jika memang kita lebih tegar dan tidak gampang disakiti, mengapa sampai tega menyakiti orang lain? Apakah kita selalu merasa kurang?

Maafkan, ini hanya tulisan ngelantur di sebuah hari di antara hari-hari dalam setahun.

Mari belajar peduli *terutama bilang untuk diri sendiri 😀

Day 18: Selamat Datang, Maret!

Maret.

Hmm. Udah Maret, ya. Perasaan baru kemarin ngerayain tahun baru, kok udah Maret aja? Semacam perasaan tidak ikhlas. Hahaha. Thank you, Lord, Engkau masih mengizinkan anak-Mu ini menginjak bulan ketiga di tahun ini.

Ada satu pengalaman berkesan yang terjadi bulan kemarin, yaitu mengenai deadline pekerjaan. Bukan, sejak dua bulan sebelumnya tepatnya. Saat itu, saya mulai agak ‘kebanjiran’ job plus kerjaan kantor (Bukan dengan maksud menyombong sih. Memang begitu adanya.) Jadi, ada beberapa hal yang harus saya kerjakan dengan deadline yang sangat ketat. Ada yang harus selesai, ada yang statusnya masih menggantung alias waktunya tidak ditentukan. Bagaimanapun, itu menyita seluruh waktu saya. Ditambah dengan hal-hal yang bersifat pribadi, mood yang tidak menentu, dan hambatan-hambatan lainnya.

Akibat dari semua itu, saya menjadi sangat keponthal-ponthal. Ini istilah dari seorang teman yang berarti sangat terburu-buru mengejar sesuatu sampai jatuh bangun tidak karuan 😀 Hahah. Itulah kondisi saya dua bulan terakhir. Yang satu belum selesai, yang lain sudah ditagih. Karena saya tipe orang yang sangat menghargai janji, otomatis ketidakmampuan saya tersebut benar-benar berpengaruh pada diri saya secara keseluruhan. Maksudnya, saya jadi didera oleh rasa gagal dan tidak berharga. Halah.

Di balik semua peristiwa yang sudah terjadi itu, saya langsung mengangkat tangan dan berjanji akan lebih disiplin dengan jadwal mengerjakan job. Saya tidak ingin mengecewakan orang-orang yang telah menaruh kepercayaan kepada saya. Caranya, ya dengan menghargai waktu luang saya, berkonsentrasi pada apa yang akan saya kerjakan sehingga saya tidak kehilangan banyak waktu, serta tidak asal menerima job. Saya harus berani untuk memilih dan memutuskan pekerjaan mana yang perlu dan sanggup saya selesaikan.

Dengan semua hal ini, saya tidak ingin menjadi budak dari apa yang seharusnya saya kontrol; pekerjaan dan penghasilan. Di sisi lain, saya ingin semuanya bertambah. Namun, jika setiap hari saya harus berlari kesana kemari dan kehilangan waktu untuk menikmati hidup, buat apa lagi saya bekerja. Waktu terus berlalu dan saya tidak menemukan apa-apa. Semoga besok-besok saya lebih mampu mengendalikan diri. Doakan, ya. Hehe.

Hal kedua adalah niat saya untuk mulai hidup sehat. Klise. Mengingat saya ini anak kos hihihi. Lebih sering makan di luar dengan kandungan gizi yang tidak jelas. Tapi, saya ingin berusaha mulai bulan ini membentuk habit baru, yaitu makan makanan sehat. Buah dan sayur. Mengurangi gorengan. Banyak minum air putih. Tidur tidak malam-malam. Olahraga. Banyak bersyukur. Dan sebagainya.

Semoga sanggup ya. Hehe.

Oke, deh. Selamat menjalani Maret dengan bahagia sesuai versi kita masing-masing. Kalau masih ada yang mengganjal di dada, mari kita minta Tuhan memberi keikhlasan. Semangat dan selamat berkarya!