Hari Ini..

ist.
ist.

Hari ini sedang tak bersemangat. Rasanya.. ga tau mau ngapain. Pernah merasakan keadaan seperti itu kan? Bangun pagi, mandi, siap-siap, trus berangkat kerja, tapi ga ada keinginan untuk meraih sesuatu. Semuanya mengalir dan lambat. Saya kadang-kadang mengalami masa-masa seperti itu. Pengennya hibernasi di kamar, ga usah ketemu siapa-siapa. Ga usah harus berusaha keras merangkai senyuman. Pura-pura itu kan menyiksa.

Namunnn.. itu kan mustahil, betul? Kecuali saya kerjanya bisa dari rumah, atau semacam freelance (ya Tuhan, saya pengen banget kerja freelance aja). Jadi, hari-hari murung ini saya jalani dengan pelan-pelan, sebisanya aja. Mencoba untuk tidak memperburuk keadaan misalnya dengan tetap bereaksi positif ketika berkomunikasi dengan orang lain. Agak susah sih sebenarnya. Ketika keadaan hati tidak mendukung dan.. tadaaa.. tuh ada yang bercanda. Jangan cemberut dong! Ikut ketawa dong! Argh.

Oke, ini kan tantangan jadi pekerja fulltime. Harus bersosialisasi dengan sekitar selama 7 jam meskipun dalam keadaan tidak mood. Semua orang kan pasti pernah merasakan hal yang sama. Cuma lebih berat dikit karena saya introvert. Tapi, ah, itu seringnya ga diterima sebagai alasan. Ramah itu kan keharusan. Begitu sih katanya.

Ya sudahlah. Hari ini harus dijalani juga kan. Detik demi detik. Menit demi menit. Jam demi jam. Dan bentar lagi pulang. Bergelung di balik selimut yang hangat.. Selamat bekerja!

Anak-anak yang Mengalami Kasih Bapa

ist.
ist.

Setiap orang membutuhkan figur bapak. Ketiadaan figur itu di tengah keluarga dampaknya krusial. Gereja memiliki kewajiban melengkapinya.

Segelintir orang tidak pernah merasakan manisnya kasih sayang seorang ayah. Sebabnya macam-macam. Ada yang sebelum lahir atau masih kecil ditinggalkan ayahnya. Ada juga yang tinggal satu atap, tetapi tidak mengenal sosok itu dengan baik. Berdasarkan pengalaman menjadi bapak rohani bagi ratusan anak muda, Daniel Alexander (57) mengatakan bahwa tanpa kehadiran seorang ayah, manusia akan terus mencari apa saja untuk memuaskan perasaan kosong di dalam dirinya. Kekosongan tersebut menyebabkan banyak anak muda gagal dalam hidupnya atau malah terjerembab dalam kehancuran.

Menurut penelitian Dr. Loren Moshen dari National Institute of Mental Health, ketidakhadiran ayah merupakan faktor yang lebih kuat daripada kemiskinan yang menyebabkan anak-anak di bawah umur melanggar hukum. Dikutip dari Jurnal Psikologi Undip April 2011, penelitian senada yang bersifat lokal dilakukan oleh Farida Hidayati, dkk. Respondennya adalah 100 orang laki-laki dewasa yang sudah menikah dan mempunyai anak. Temuan penelitian ini memberi indikasi bahwa ayah dan ibu memiliki kewajiban yang sama untuk mengasuh anak. Keterlibatan ayah dalam pengasuhan membawa manfaat besar bagi perkembangan anak, dengan catatan keterlibatan itu cocok, hangat, bersifat positif, membangun, dan memfasilitasi anak untuk berkembang

Disfungsi Peran

Seseorang tidak mempunyai ayah bisa jadi karena ayahnya meninggal. Contohnya anak-anak panti asuhan yang memiliki latar belakang yang hampir sama. Mereka kehilangan orangtua sebelum bisa mandiri secara finansial maupun sosial. Tidak punya ayah bisa juga terjadi karena anak tersebut lahir di luar nikah atau merupakan korban perceraian. Berbeda dengan kelompok pertama, menurut Maria Yuni Megarini C. (42), M. Psi, dosen Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha, Bandung, anak-anak ini akan cenderung mengalami luka hati dan kepahitan. Mereka mungkin akan membenci diri sendiri dan bertanya-tanya mengapa dilahirkan. Mereka juga tumbuh menjadi pribadi yang tidak percaya diri.

Akan tetapi, kehadiran ayah secara fisik dalam keluarga juga bukan jaminan tidak ada disfungsi peran. Banyak ayah dalam keluarga tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik. “Ada dua penyebab utama hal ini. Pertama, ketika masih anak-anak, ia tumbuh tanpa mengenal figur ayah yang baik dalam hidupnya. Mungkin ia mengetahui bagaimana menjadi ayah yang baik, tetapi hasilnya berbeda ketika ia juga telah mengalami,” kata Yuni. Pernyataan ini disetujui oleh Daniel.

Kedua, ayah memprioritaskan hal-hal lain di luar keluarganya, seperti pekerjaan, pelayanan, dan sebagainya. Ada pria yang lebih mementingkan pelayanan daripada keluarganya. Padahal menurut Daniel, pria sebagai figur ayah yang baik jauh lebih penting daripada gembala, guru, presiden, dokter, dan sebagainya.

Peran Ayah

Daniel menambahkan, ayah yang tidak pernah dibapai atau mengalami kasih seorang bapak berpotensi menyebabkan anak-anaknya menjadi rusak. Ketika anak-anak tersebut sudah dewasa dan menikah, mereka pun akan melakukan hal yang sama dna menciptakan generasi serupa. Ini adalah bagian dari rencana besar Iblis untuk menghancurkan bumi.

Literatur tertua di dunia ini, yaitu Alkitab, menuliskan siapa sesungguhnya ibu dan ayah dengan fungsi mereka masing-masing. Dalam 1 Tesalonika 2:7-12 dijelaskan bahwa seorang ayah harus saleh atau takut Tuhan, adil atau tidak pilih kasih, tidak bercacat (menjadi teladan anak-anaknya), menguatkan hati atau menciptakan rasa percaya diri, dan meminta dengan sangat atau mendisiplin. Sementara fungsi ibu adalah bersikap ramah, mengasuh, merawat, dan menyayangi. Perbedaan fungsi ini tentu harus dimaknai secara seimbang.

Bila dijabarkan secara psikologis, ayah memiliki tiga peran penting dalam mengasuh anak, yaitu dalam aspek kognitif, afektif, dan konatif. Aspek kognitif meliputi masalah intelektual atau akademis. Seorang anak yang tidak pernah mengalami figur ayah akan bermasalah dalam hal ini. “Bukan berarti dia jadi tidak pandai, tetapi rasa ingin tahunya berkurang. Ayah yang berfungsi normal akan merangsang kemampuan intelektual anak,” ujar Yuni.

Sementara afektif adalah peran yang berhubungan dengan menjaga emosi dan sosialisasi anak. Konatif adalah hal-hal yang bersifat daya juang, semangat, dan daya tahan. Kadang-kadang ayah menjalankan satu dari ketiga fungsi ini. “Mungkin ayah hanya mementingkan pendidikannya saja, tetapi pelukan kurang. Asal ayah sering nanya, itu tandanya sayang. Padahal kan anak butuh lebih dari itu,” tambah Yuni. Dari sanalah muncul masalah.

Dampak Negatif

Tidak maksimalnya ayah dalam tiga aspek ini menimbulkan dampak negatif bagi anak. Selain bermasalah dalam aspek kognitif, anak juga akan bermasalah dengan aturan. Ayah seharusnya menjadi figur otoritas, berbeda dengan ibu yang menjadi figur afeksi. Ketika anak tidak melihat ayahnya memiliki otoritas, ia tidak belajar untuk mematuhi aturan. Anak-anak yang tumbuh dengan figur ayah yang memiliki otoritas akan hidup dengan disiplin.

“Kalau ibu kan beda. Untuk hal-hal yang bersifat aturan, sering kali ibu lebih fleksibel. Misalnya nonton televisi dua jam, ya udah, lewat dikit boleh. Bisa berubah. Sementara ayah, tegas,” papar Yuni. Dampak ketiga adalah ketidakmampuan anak untuk berkompetisi atau berjuang. Di sinilah peran konatif ayah berfungsi. Apalagi pada zaman sekarang di mana peralatan lebih canggih. Segalanya lebih mudah dan cepat. Urusan daya tahan ini harus distimulasi oleh ayah. Anak yang hidup tanpa figur ayah akan cenderung cepat menyerah. Semangat untuk bertahan tidak ada.

Selain itu, dampak yang keempat dan krusial adalah pengaruh terhadap identitas diri anak. Bila laki-laki, ia akan cenderung feminin karena tidak pernah melihat contoh figur laki-laki. Mungkin badannya gagah, tetapi emosinya sebagai laki-laki tidak terbentuk dengan baik. Sementara jika perempuan, ketiadaan figur ayah akan mendorongnya mencari figur tersebut dalam diri pasangannya. Bila berada di titik ekstrem, anak perempuan ini akan berusaha mengalahkan laki-laki, gonta-ganti pacar, dan cenderung menyakiti pasangannya. Dampak terakhir, ketika telah dewasa dan berkeluarga, orang yang tumbuh tanpa figur ayah akan melakukan tugasnya dengan cara trial and error. Seperti lingkaran setan yang terus terpelihara dari generasi ke generasi, inilah salah satu penyebab disfungsi peran ayah dalam keluarga.

Pembapaan

Untuk memutus lingkaran ini, yang pertama perlu diubah adalah pola pikir. Di antara pikiran, perasaan, dan perilaku, yang paling tinggi adalah pikiran. Jadi, pikiran perlu di-set ulang. Apabila pikiran sudah negatif, emosi juga ikut negatif. “Anak yang lahir tanpa figur ayah akan mempertanyakan mengapa ia lahir seperti itu. Jawabannya tidak akan pernah ketemu. Energi justru habis. Lebih baik menjalani masa sekarang dan melihat ke depan. Masa lalu memang memengaruhi, tetapi tidak menentukan,” kata Yuni.

Orang-orang terdekat, seandainya ayah sudah tidak hadir secara fisik berperan menolong anak-anak ini. Pengganti ayah bisa paman, kakek, atau siapa pun yang mampu, termasuk dari gereja. Perannya tentu saja sama seperti ayah kandung, meskipun intensitasnya tidak sesering itu. Tidak hanya menanyakan kabar atau berkunjung sekali seminggu tetapi terlibat aktif dalam kegiatan antara ayah dan anak.

Salah satu kegiatan yang telah dijalankan Gereja Abba Love Ministries, Jakarta adalah gaya hidup pembapaan. Pdt. Eddy Leo menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bisa dilakukan dalam 3 dimensi, yaitu komunitas (cell group), one in one, dan kepemimpinan. Pembapaan dalam cell group juga dilakukan oleh GBT Kristus Alfa Omega, Ngesrep, Semarang. “Hal ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan anak-anak muda, khususnya yang jauh dari orangtua karena kuliah,” ujar Pdt. Henoch Edi Haryanto, M. Th. (54). Sementara itu, one in one discipleship hasilnya juga efektif. Ini adalah pemuridan terbatas. Pemuridan hanya dilakukan satu berbanding satu.

Memiliki Roh Anak

“Pembapaan rohani adalah sistem yang dilakukan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika. Paulus berperan sebagai ibu yang merawat orang-orang yang lahir baru. Ia juga berperan sebagai bapa yang rela menasihati dan menguatkan anak-anak rohaninya agar dapat menggenapi rencana Tuhan dalam hidup mereka. Paulus menunjukkan betapa pentingnya gereja berlaku seperti keluarga, bukan sekadar organisasi,” papar Eddy Leo.

Eddy mengatakan, seseorang yang baru saja mengalami kelahiran baru dalam gereja harus dibapai. Ia harus mengetahui bahwa dosanya telah diampuni dan ia mengenal serta mengalami Allah sebagai Bapa. “Banyak orang Kristen yang tidak bisa bertumbuh karena pada masa kanak-kanak rohaninya tidak mengenal kedua hal ini.”

Setiap orang harus mengalami pembapaan terlebih dahulu sebelum menjadi bapa bagi yang lain. Tanpa mengalami, ia hanya menjalankannya sebagai program pengetahuan. Tantangannya adalah banyak orang Kristen yang tidak mau dibapai oleh orang lain. Orang-orang seperti ini tidak memiliki roh anak. Sementara waktu yang digunakan tergantung keadaan. Tuhan Yesus melakukan pembapaan rohani kepada murid-murid-Nya selama 3,5 tahun. Setelah itu, Ia meninggalkan mereka dan naik ke surga. Namun, Yesus masih berelasi dengan mereka melalui Roh Kudus.

Balapan dengan Waktu

Kegiatan ini menurut Eddy juga mampu menjadi jawaban bagi generasi yang mengalami ketidakhadiran ayah dalam hidupnya. “Melalui pembapaan, terjadi pertumbuhan rohani yang sangat pesat terhadap orang yang dibapai. Seorang anak juga bisa menemukan potensi terbaiknya. Penelitian membuktikan bahwa apa saja yang direkam seorang anak berusia tujuh tahun akan menjadi pola hidup anak tersebut hingga dewasa. Jadi, kehidupan anak akan sama persis seperti ayahnya. Hubungannya dengan Tuhan sebagai Bapa juga terganggu karena gambaran yang rusak dari ayahnya di dunia.”

Hal ini diamini oleh Yuni. Seorang ayah harus menyadari betapa krusialnya anak yang tumbuh tanpa figur ayah yang benar. Dalam perkembangannya, anak tumbuh dengan dua cara, yaitu observasi atau pengamatan dan modeling atau contoh. Setelah bertahun-tahun itu menjadi pola. “Mulailah menata diri sebagai pribadi yang layak dan bisa menjadi teladan. Menyediakan waktu dan menjaga kebersamaan adalah cara untuk menunjukkan teladan tersebut. Orangtua terutama para ayah harus balapan dengan waktu karena ketika anak sudah remaja, ia akan lebih banyak bersama dengan lingkungan sosialnya. Jika fondasi yang dibangun tidak kuat, anak bisa saja lepas,” pesan Yuni.

(Dimuat di BAHANA, April 2013)

Kemana Surat Saya, Pak, Bu..

Peristiwa ini terjadi sekitar seminggu yang lalu. Saat itu, saya sedang mencari bahan-bahan untuk melengkapi tulisan saya. Saya mendapati kenyataan bahwa saya harus berurusan dengan instansi pemerintah karena lembaga yang saya kejar ini adalah unit di bawahnya. Tentu, sesuai prosedur, saya harus melapor terlebih dahulu ke atasan alias Dinas Sosial.

Awalnya, saya bersikap optimis. Berbagai selentingan yang saya dengar perihal kinerja pegawai di instansi pemerintah berusaha saya kesampingkan. Prosedur yang bertele-tele, memakan waktu lama, dan fenomena ‘bola ping pong’, saya jauhkan dari benak. Semoga saja tidak, pikir saya waktu itu.

Rabu, 22 Mei 2013

Berbekal surat resmi dari tempat saya bekerja (ini adalah permintaan dari unit terkait), saya meluncur menuju Dinas Sosial. Tujuannya adalah mereka bersedia mengeluarkan izin tertulis supaya saya bisa mewawancarai salah satu pejabat di unit terkait. Karena belum paham mengenai siapa yang berwenang mengurus surat tersebut, saya pun diarahkan ke Bagian Umum. Di sana, saya disambut oleh beberapa pegawai. Surat saya diambil dan dibaca. Lalu mereka berdiskusi harus bagaimana. Kemudian salah seorang berkata kepada saya, “Surat ini harus ditinggal, ya. Butuh waktu dua sampai tiga hari untuk proses karena harus dilihat atasan terlebih dulu.” Saat itu, saya sedikit keberatan. Apakah ini hal yang tidak biasa terjadi di instansi itu sehingga perlu penanganan yang selama itu? Oke, tapi saya terima. Toh deadline saya masih bisa dikejar. Surat pun saya tinggalkan.

Senin, 27 Mei 2013

Saya datang kembali ke Dinas Sosial. Agak lama karena saya baru saja diserang flu sehingga perlu istirahat dan merelakan pekerjaan terbengkalai sementara. Dalam hati, ada sedikit rasa was-was muncul. Setelah saya tinggalkan lima hari, apakah surat saya masih aman? Tentu, pikir saya. Ini kan instansi pemerintah. Seharusnya semua sudah tercatat dan diproses sedemikian rupa. Jadi, ketika saya datang hari itu, saya tinggal menyusun janji dengan unit tersebut dan pekerjaan bisa dilanjutkan. Di Dinas Sosial, saya disambut dengan ramah. Saya mengamati, orang yang mengambil surat saya lima hari yang lalu tidak ada. Sial. Bagaimana kalau yang lainnya tidak tahu-menahu mengenai urusan saya. Akan tetapi, ternyata ketakutan saya tidak terbukti. Salah seorang langsung bereaksi dan mengatakan bahwa surat tersebut sudah diproses sehari setelahnya.

Ah, cuma sehari ternyata, batin saya. Setengah kecewa, setengah senang. Jadi, tunggu apalagi, dimana surat saya, Pak, Bu?

Lantas orang tersebut sibuk mencari sesuatu. Saya disuruh duduk dan menunggu. Lima belas menit dan saya hanya duduk diam. Semakin lama, raut muka saya semakin muram. Ini bagaimana, keluh saya dalam hati. Lalu seseorang angkat bicara, “Ehm, maaf. Orang yang kemarin tidak datang. Tetapi saya yakin surat itu sudah di-FAX ke yang bersangkutan. Saya mencari bukti fax-nya tetapi belum menemukan.”

“Jadi, saya tidak diberikan surat pengantar?”

“Tidak, surat itu sudah langsung di-FAX. Pihak di sana pasti sudah mengetahui.”

“Tetapi bagaimana jika yang menerima fax tidak sama dengan orang yang bertemu dengan saya. Bisa saja terjadi kesalahan semacam itu,” ucap saya ngeyel. Kenapa? Jarak tempuh menuju unit terkait butuh waktu lama. Jadi, saya tidak mau datang sia-sia ke sana hanya untuk menerima penolakan.

“Tidak. Mereka sudah tahu.”

Oke, dengan penegasan semacam itu, saya pun berusaha membangun rasa optimis. Semoga saja demikian. Jadi, saya tinggal membuat janji lalu bekerja.

Selasa, 28 Mei 2013

Saya datang ke unit tersebut dengan seorang teman. Sebelumnya, salah seorang staf yang saya hubungi mengatakan bahwa tidak ada fax yang masuk dari Dinas Sosial. Tetapi, ia tetap mengizinkan saya datang. Sesampai di tempat itu, saya disambut oleh Kepala Unit dan seorang staf. Setelah ngobrol bentar, persoalan itu muncul lagi. FAX BELUM SAMPAI. Dan mereka tidak mau diwawancari. Aduhhh. Kenapa jadi begini, sih. Berkali-kali saya yakinkan bahwa saya sudah datang dua kali ke Dinas Sosial dan mereka tidak memberikan satu pun bukti tertulis yang bisa saya bawa untuk diperlihatkan. Pihak unit lalu mencoba menghubungi Dinas Sosial untuk mengkonfirmasi melalui telepon tetapi yang dihubungi merasa tidak tahu-menahu.

Saat itu, saya merasa sangat kecewa. Sekaligus marah. Ada apa sebenarnya? Bukan saja perjalanan saya sia-sia, pekerjaan tertunda, tetapi nama lembaga tempat saya bekerja terkesan ‘abal-abal’. Saya dan rekan pun pulang dengan tangan hampa.

Rabu, 29 Mei 2013

Saya datang lagi ke Dinas Sosial. Kali ini, tujuan saya adalah mendapatkan penjelasan perihal apa yang terjadi terhadap surat saya. Sekaligus menghapus kesan abal-abal yang bisa saja melekat pada perusahaan tempat saya bekerja. Harus ada sikap saling menghargai, bukan.

Dan penjelasannya adalah: ternyata mesin FAX yang dimaksud berada di tempat lain (unit yang sama, lokasi berbeda). Ternyata orang yang biasa menerima FAX tidak berada di tempat sehingga tidak bisa ditanyai. Dan ternyata saya kemudian diberikan bukti FAX hanya untuk meyakinkan bahwa mereka telah melakukannya. Yang mana sih, saya sudah tidak butuh. Tetapi saya bawa saja sambil mengajukan permintaan supaya pihak Dinas Sosial segera menghubungi unit terkait dan menjelaskan masalah yang terjadi sehingga mereka tahu bahwa kami tidak datang untuk menipu.

Dari pengalaman ini, saya tidak ingin melakukan generalisasi meskipun bukti lain dari orang lain juga ada. Mungkin saja memang saat itu terjadi kesalahan yang tidak segera dibereskan sehingga akhirnya terjadi kesalahpahaman. Bagaimanapun, saya sih masih kesal diperlakukan demikian. Tetapi, mencoba untuk menarik hikmah yang baik saja. Lain kali, minta bukti tertulis, hitam di atas putih, untuk memastikan semua berjalan lancar, bahkan meskipun cuma bukti FAX.