Walk The Talk!

Kecanggihan teknologi telah menyeruduk sistem-sistem konvensional dalam hidup manusia. Cara menunjukkan eksistensi dan memenuhi tanggung jawab semakin beragam. Saat ini, dunia maya adalah sebuah pilihan.

Berangkat dari kebutuhan individu untuk selalu terhubung dengan sesamanya, lahirlah berbagai inovasi jejaring sosial di dunia maya. Kehadiran facebook dan twitter adalah salah satu bagian dari rangkaian penemuan manusia di bidang komunikasi. Kedua raksasa jejaring ini sebelumnya telah didahului oleh beberapa situs lain yang meski populer namun tidak terlalu berpengaruh.

Replika Dunia Nyata

Menurut Josep J. Darmawan, M. A. (45), Dosen Fisipol Atma Jaya, Yogyakarta, fungsi media sosial secara umum adalah menghubungkan individu sehingga interaksi dan komunikasi terbangun. Tentu ada perbedaannya ketika berinteraksi dengan orang lain secara langsung. “Jejaring sosial muncul seolah-olah sebagai replika komunikasi manusia di dunia nyata,” kata Josep.

Sebagai replika, manfaatnya pun tidak jauh berbeda. Kalau dulu seseorang mengirim surat atau berbagi foto secara manual, media sosial mampu menawarkan kemudahan dan kepraktisan soal itu. Mencari jejak teman lama yang tak lagi terdengar kabarnya bukan sesuatu yang mustahil. Bahkan, interaksi sederhana seperti saling berkomentar atas aktivitas sehari-hari kini lumrah dilakukan. Media sosial menempati posisinya sebagai jawaban atas kebutuhan manusia terhadap cara berkomunikasi yang efektif.

Namun, di balik sejuta faedah dan keuntungan yang mengikuti perkembangan ini, ada pula dampak negatifnya. Dalam Tempo edisi 9 Desember 2012 disebutkan bahwa facebook menjadi situs favorit anak-anak usia belia. Aktifnya anak-anak di jejaring sosial ini memancing kecemasan orangtua. Sejumlah 56% di antaranya khawatir jika anak mereka menjadi korban kejahatan seksual yang mencari mangsa lewat facebook. Sebagian dari mereka juga was-was jika anak mereka dikontak orang tidak dikenal di jejaring sosial itu. Sementara, 10% dari responden penelitian tidak memonitor akun facebook anak-anak mereka yang berusia kurang dari 15 tahun.

Konsumen Informasi

Dalam sebuah penelitian lainnya yang diadakan oleh ICT pada 2011 lalu, ditemukan bahwa 68% pengguna internet belum beretika dalam menyampaikan ekspresinya. “Meskipun belum ada regulasi yang secara khusus mengaturnya, etika bergaul di dunia maya pasti ada, seperti tatakrama dalam pergaulan sehari-hari. Tidak tertulis namun perlu dilakukan,” ujar Josep. Misalnya, tidak boleh menyerobot pembicaraan orang lain. Etika yang bicara soal tatanan nilai misalnya tidak boleh bohong, dan sebagainya, juga termasuk di dalamnya.

Persoalan selanjutnya yang terlihat adalah ketimpangan luar biasa dalam hal aksesibilitas teknologi. Hal ini diungkapkan oleh Anton Novenanto, M.A., (32), Dosen Sosiologi di Universitas Brawijaya, Malang. Menurutnya, kesenjangan akses internet, tidak hanya di Indonesia tetapi secara global, menyebabkan terjadinya sebuah dominasi.

“Memang benar jumlah pengguna internet meningkat. Namun menurut sebuah survei, internet di Indonesia lebih banyak digunakan untuk konsumsi informasi daripada produksi. Di sini terjadi sebuah arus informasi yang deras, dari para produsen informasi, yang secara sosiologis adalah orang-orang terdidik dan tinggal di pusat, kepada para konsumen informasi atau orang-orang yang kurang terdidik dan tinggal di pinggiran. Pada titik ini, saya melihat permasalahan yang lebih serius daripada sekadar hubungan antara teknologi dan komunikasi,” papar Anton.

Mencapai Pemahaman

Bila diamati dari sisi kualitas relasi yang dicapai dalam pemanfaatan jejaring sosial sebagai sarana komunikasi, Anton menjelaskan bahwa hal itu kembali pada pemaknaan  individu terhadap hakikat berkomunikasi itu sendiri. Mengutip Habermas, Anton mengatakan bahwa praktik komunikasi bukan sekadar “menyampaikan pesan”, tetapi mencapai pemahaman antarmanusia. Pada level ini, komunikasi via internet, belum tentu bisa menggantikan komunikasi tatap muka.

“Dalam komunikasi via internet ini, ada beberapa hal dari komunikasi tatap muka yang direduksi sebagai konsekuensi dari keterbatasan teknologi. Meningkat dan menurunnya kualitas relasi manusia bergantung pada hakikat berkomunikasi yang dimaksud tersebut,” jelas Anton.

Mengenai kualitas relasi, sebagai pengamat media, Josep menilai hal itu relatif. Secara teoritis, kualitas akan meningkat dalam interaksi yang bersifat langsung. Saat menggunakan media sosial, peningkatan kualitas relasi bergantung pada bagaimana orang tersebut berkomunikasi secara mendalam. “Namun, dalam perkembangannya, semakin banyak orang berada dalam kecemasan, ketakutan, dan kekhawatiran karena semakin banyak yang menyalahgunakan media sosial ini. Tidak heran jika sebagian orang memilih untuk berhati-hati dan membatasi relasi yang mendalam,” kata Josep.

Alat Propaganda

Prinsipnya yang murah meriah dan praktis membuat media sosial tidak jarang dimanfaatkan sebagai sarana menyebarkan informasi, menggalang dukungan, dan memengaruhi orang lain. Tentu masih jelas bagaimana Barack Obama, presiden Amerika Serikat sukses berkampanye dan menggalang dukungan berkat ampuhnya peran jejaring sosial. Fenomena yang hampir sama tampak dalam dunia perpolitikan Indonesia saat ini. Sebuah akun bisa saja digunakan untuk menekan lawan politiknya. “Sesungguhnya itu hanya momentum saja,” ujar Josep. Terlepas dari itu, keberhasilan media sosial membangun empati masyarakat seperti pada kasus Prita tidak bisa dipungkiri.

Anton menambahkan, efektivitas media sosial dalam memberi pengaruh kepada pembacanya tergantung pada siapa audiens sasaran yang bisa mengakses teknologi serupa. Bagi audiens yang tidak memiliki aksesibilitas atas media sosial tersebut tentu tidak efektif. “Dampak media cenderung parsial, bukan universal. Perihal tentang apa yang sudah dipublikasikan di media kemudian menjadi massif, itu hanya mitos. Contohnya, apa yang saya sampaikan saat ini tentang teknologi komunikasi hanya massif pada pembaca. Sementara orang lain yang tidak masuk dalam segmen pembaca, memiliki peluang yang sangat kecil untuk menerima pesan yang saya sampaikan,” tutur Anton.

Pdt. Joshua Bob Jokiman, D. Min (70), Ketua Sinode Gereja Injili Agape, mengatakan bahwa kemudahan menyampaikan pesan seperti ini bisa dimanfaatkan untuk mewartakan Kabar Baik. Menurut Badan Misi Joshua Project, jumlah penduduk dunia yang belum dijangkau oleh Injil Kristus sekitar 2,85 milyar atau 41,1%. “Setiap orang percaya terpanggil untuk menyebarkan Kabar Baik sesuai Amanat Agung dalam Matius 28:18-20. Itu adalah tugas dan kewajiban, bukan pilihan.”

Kesempatan Terbuka

Berdasarkan data Kominko April 2012, jumlah pengguna jejaring sosial di Indonesia lumayan besar. Setidaknya tercatat sebanyak 44,6 juta pengguna Facebook dan 19,5 pengguna Twitter. Saat ini jumlah tersebut tentu sudah naik. “Melalui jejaring sosial, kita dapat memberitakan Kabar Baik selama 24 jam. Ini sangat efektif di tengah bertumbuh pesatnya pengguna internet,” sebut Joshua.

Joshua mengutip pendapat Rev. Michael White, seorang pendeta dari United Methodist dan penulis buku Penginjilan Digital, yang mengatakan, situs jejaring sosial menawarkan lebih banyak kesempatan untuk memberitakan Kabar Baik karena menyediakan ruang untuk berdialog. Dibandingkan dengan hanya membaca satu halaman statis, jejaring sosial dapat menjangkau para pencari informasi tentang kekristenan. Bahkan, situs ini juga memberi kesempatan kepada umat beragama untuk berbagi ajaran iman dan kepercayaan, serta saling berdiskusi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang meragukan.

Namun, dalam konteks masyarakat plural, agar pewartaan seperti itu tidak menyulut isu kristenisasi, Joshua menganjurkan orang Kristen untuk berdoa memohon hikmat dari Tuhan. “Dalam Lukas 10:16, Tuhan Yesus mengingatkan murid-murid-Nya dan kita agar cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Hendaknya kita memberitakan kasih agape Tuhan Yesus, kasih yang tidak bersyarat dan tidak menuntut, serta tidak mementingkan diri. Hasilnya diserahkan kepada Tuhan sendiri,” papar Joshua.

Walk The Talk

Lebih lanjut, Joshua juga menjelaskan bahwa pewartaan Kabar Baik yang efektif seharusnya harmonis dan saling melengkapi antara ucapan dan tindakan atau teladan. Jejaring sosial yang membatasi pewartaan berhenti sekadar kata-kata adalah dilema yang perlu diwaspadai. Apalagi jika semua orang dari seluruh lapisan masyarakat bisa membaca apa yang kita tuliskan di dinding atau linimasa jejaring sosial tersebut. “Jangan arogan, jangan sombong, jangan menganggap diri lebih benar dan lebih baik dari orang lain. Kita ini bagaikan pengemis yang sudah mendapat berkat keselamatan dan memberitahukan kepada pengemis lain tentang kemurahan hati Tuhan Yesus. Kita tidak memberitakan agama dan gereja, karena keduanya tidak mampu menyelamatkan. Hanya Tuhan Yesus yang bisa menyelamatkan,” jelas Joshua.

Bukan hanya itu, terkait berbagai pengajaran yang berseliweran di situs jejaring sosial, Joshua mengatakan bahwa seseorang harus melakukan dahulu apa yang diajarkannya atau dikatakannya. Dengan menjadi pelaku firman, kesaksian memiliki kuasa untuk memengaruhi.

“Sebuah ungkapan berbunyi, walk the talk, artinya kita melakukan seperti apa yang kita katakan. Konsisten dengan apa yang kita ucapkan dan lakukan. Jika kita tidak mempraktikkan apa yang kita katakan atau tulis, kita hanya seperti tong kosong yang nyaring bunyinya. Ingat, perbuatan lebih kuat pengaruhnya daripada perkataan,” kata Joshua.

Tetap Bijak

Manusia tidak serta-merta bisa melepaskan diri dari perubahan yang terjadi di sekelilingnya, termasuk inovasi di bidang teknologi. Manfaat positif dari setiap penemuan adalah keuntungan menjalani hidup di zaman yang lebih modern. Namun, seperti dua sisi mata uang, selalu ada hal berbeda yang mengintip di baliknya.

Sebagai contoh, Anton tidak setuju jika publik memahami bahwa internet itu gratis. Menurutnya, ini hanya sebuah mitos. “Tidak benar bahwa internet itu gratis. Internet menuntut sesuatu untuk kembali kepadanya.”

Bagaimanapun, kehadiran internet yang menopang fungsi jejaring sosial ini perlu dimaknai dengan bijak. Etika bergaul dan berkomunikasi tidak selayaknya diabaikan. Bahkan, fungsi media sosial terlalu dangkal jika hanya dimanfaatkan sebagai penyampai pesan semata. Kemampuan memahami orang lain di dunia maya, meski rasa-rasanya mustahil, tidak rugi untuk dicoba. Termasuk ketika melaksanakan tanggung jawab kekristenan sebagai garam dan terang, tidak sampai membuat orang lain gerah, justru tercerahkan.

(Dimuat di BAHANA, Maret 2013)