Surat untuk Anakku

Sudah lebih dari 13 tahun Ibu tinggal di Pulau Jawa ini. Sembilan tahun di antaranya adalah di Jogja, tempat tinggal kita kini. Banyak yang mengatakan, Jogja adalah kota yang sangat indah. Ibu sangat setuju. Itu pula salah satu sebab yang membuat Ibu memutuskan untuk menetap di kota ini.

Sebelum menjadi warga Jogja, Ibu adalah seorang penduduk di pulau kecil yang terletak di sebelah barat Pulau Sumatera. Nama pulau itu Pulau Nias. Jaraknya lumayan jauh dari Jogja. Makanya, Ibu jarang sekali pulang ke rumah.

Semenjak merantau di Pulau Jawa, Ibu baru 3 kali pulang kampung. Pertama, pada saat Ibu menyelesaikan kuliah. Kedua, pada saat kakak Ibu (pamanmu) menikah. Ketiga, pada saat (calon) Ayahmu ingin menjumpai Nenek dan Kakek. Itu semua peristiwa penting yang “memaksa” Ibu untuk menempuh perjalanan jauh.

Seberapa jauh memangnya? Dengan menggunakan transportasi udara atau pesawat, Pulau Nias bisa ditempuh dalam waktu satu hari. Maksud Ibu, kita bisa berangkat dari Jogja pada pagi hari dan tiba di Pulau Nias sore hari, sekitar pukul 15.00 WIB atau 16.00 WIB. Namun, kalau ada masalah penerbangan–delay misalnya–kita bisa saja sampai keesokan harinya.

Melelahkan, ya.

Meskipun demikian, Ibu tak pernah menyesali–justru begitu menyukai–3 kali momen kepulangan tersebut. Masing-masing merupakan pengalaman yang luar biasa dan membuat Ibu ingin mengulangnya.

Karena itu, Ibu dan Ayah pun berencana untuk mengajakmu berkunjung ke Pulau Nias kelak. Pada hari yang tepat dan ketika kita semua sudah siap. Nah, sekaligus sebagai janji Ibu, berikut kira-kira rancangan perjalanan yang akan kita lalui nanti.

Perjalanan Jogja-Nias yang Penuh dengan Drama

Kepulangan terakhir Ibu bersama Ayah diwarnai oleh masalah yang sangat rumit. Bukan, maksud Ibu bukan pada hubungan kami, tetapi pada kondisi penerbangan yang luar biasa melelahkan. Saat itu, ada sebuah peristiwa yang menghebohkan, yaitu delay belasan bahkan puluhan jadwal penerbangan oleh salah satu maskapai.

Salah satu penumpang yang tak beruntung itu adalah Ibu dan Ayah. Sebenarnya, sejak dari Jogja, masalah itu sudah mulai terasa. Misalnya, ketika jadwal penerbangan molor sekitar  1 jam. Sudah begitu, pesawatnya pun bukan pesawat yang tersebut dalam tiket. Namun, kami merasa bahwa hal itu masih wajar-wajar saja.

Dari Jogja, dibutuhkan waktu sekitar 45 menit penerbangan ke Jakarta. Kami tiba di Jakarta sekitar pukul 08.30 WIB. Ya, kita memang harus transit di Jakarta sebelum menuju ke Nias-Gunungsitoli. Pilihan lain, kita bisa memilih untuk transit di Batam. Kami tiba di Jakarta dalam keadaan selamat. Namun, kabar buruknya, Bandara Soekarno-Hatta dipenuhi oleh para penumpang yang terlantar. Mereka sudah lama menunggu pemberangkatan. Tentu saja, kedatangan kami semakin menambah parah suasana.

Saat itu, Ayah dalam kondisi yang agak kurang sehat. Jadi, Ibulah yang berusaha untuk mencari informasi ke sana ke mari. Anehnya, para petugas dari maskapai tersebut pun menghilang. Sangat khawatir, itulah perasaan kami saat itu. Terkatung-katung di tengah ketiadaan informasi itu benar-benar menakutkan.

Setelah menunggu hingga cukup lama, kami pun akhirnya diberangkatkan sekitar pukul 17.00 WIB. Kali ini, kami akan transit di Bandara Kualanamu Medan. Untungnya, kami membeli tiket terusan melalui website tiket.com sehingga penerbangan selanjutnya tidak hangus. Memesan tiket di tiket.com memang sangat praktis dan efektif juga.

Namun, karena penerbangan terakhir ke Pulau Nias hanya dilayani hingga maksimal pukul 15.00 WIB, kami tampaknya terlambat.

Sebenarnya, ada drama yang masih berlangsung di bandara ini. Mulai dari simpang siur informasi mengenai keberangkatan selanjutnya hingga soal penginapan yang belum pasti. Namun, kami akhirnya bisa beristirahat dengan cukup nyaman dan diberangkatkan keesokan paginya ke Bandara Binaka, Gunungsitoli, Pulau Nias.

Menyusuri Pantai hingga Wisata Kuliner

Anakku, orang Nias menyebut dirinya, “Ono Niha” atau bermakna “Anak Manusia” dalam bahasa Indonesia. Entahlah, Ibu juga kurang mengerti asal-usul nama tersebut. Yang Ibu tahu, sebagai masyarakat yang tinggal di daerah paling barat di Indonesia, Ono Niha itu unik.

Salah satu di antaranya adalah bahasanya yang (katanya) sulit untuk dipelajari oleh penduduk luar. Ayah saja saat itu baru bisa mengucapkan salam khas Ono Niha, yaitu “Yaahowu!”

Selain keunikan bahasanya, kamu perlu tahu bahwa kamu adalah seorang “anak pantai” dan “anak gunung” sekaligus. Mengapa Ibu mengatakan demikian? Karena tempat tinggal Ibu berada di dataran tinggi, tetapi setiap hari Ibu selalu menyusuri pantai. Jalan raya dari rumah kita menuju kota adalah tepat di pinggir pantai. Debur ombak bukan lagi hal yang asing, begitu pula bau asin lautan di udara. Dengan kondisi ini, meskipun Ibu tidak bisa berenang dan hanya sesekali main ke pantai, rasanya masih boleh menyebut diri sebagai anak pantai.

Ketika Ayah datang ke Nias, Ibu pun tak ketinggalan mengajaknya berkunjung ke pantai. Saat itu, kami memang memiliki waktu sedikit di sela-sela persiapan acara yang sangat padat. Bukan hanya sekali, bahkan dua kali Ayah menikmati suasana pantai di Nias. Yang sekali lagi bersama keluarga besar kita.

Sebagai daerah di pinggir pantai, Ibu tumbuh sebagai pecinta makanan laut, khususnya ikan laut. Hampir setiap hari, Ibu makan ikan. Harganya jangan ditanya, murah sekali. Mungkin itu pula sebabnya kamu suka makan ikan. Hehe.

Selain ikan, ada banyak kuliner yang menggugah selera di Nias. Salah satu kesukaan Ibu adalah miesop. Favorit Ibu adalah salah satu warung mie sop di pinggir pantai di pusat kota. Saat Ibu mengajak Ayah ke sana, ia suka sekali. Rasanya memang lezat. Setelah lidah dimanjakan oleh miesop yang menggugah itu, kami juga menikmati es campur yang rasanya tak kalah maknyus. Kalau saat itu kamu sudah ada, kamu pasti akan suka juga, Nak.

Sayangnya, kami hanya beberapa hari di Nias. Namun, pengalaman itu adalah pengalaman yang menarik, khususnya bagi Ayah. Sayangnya lagi, Ayah belum sempat berkunjung ke tempat-tempat wisata yang sebenarnya terkenal di Nias.

Pulau Nias dan Objek Wisatanya yang Tersembunyi

Lihat saja pengalaman Ibu dan Ayah yang penuh perjuangan untuk tiba di Nias. Tentu bagi orang-orang yang belum pernah ke Nias, hal ini pasti akan lebih menegangkan lagi. Tak salah jika Ibu menyebut pulau nenek moyangmu ini sebagai pulau tersembunyi. Mungkin, hanya orang-orang nekat saja yang berani memutuskan untuk datang ke Nias.

Nah, jika kelak kamu ikut pulang ke rumah kita di Nias, Ibu akan mengajakmu ke sebuah daerah yang disebut Teluk Dalam. Ini merupakan daerah yang terkenal dengan objek wisatanya. Dari Kota Gunungsitoli, Kota Teluk Dalam bisa dijangkau dengan waktu 3-4 jam perjalanan. Bila jalan raya sudah agak mulus, sepertinya waktu tersebut masih bisa dipangkas.

Di Teluk Dalam, kamu bisa melihat dengan jelas kebudayaan orang Nias yang masih kental. Mulai dari berkunjung ke Bawomataluo, sebuah desa yang terletak di ketinggian dan dipenuhi oleh rumah adat Nias, hingga bersantai di pinggir Pantai Lagundri yang eksotis.

FB_IMG_1505663575153
Kampung Bawomataluo
FB_IMG_1505663632013
Rumah Adat Nias

Di Bawomataluo, selain melihat kemegahan rumah adat Nias yang ditopang oleh beberapa tonggak berdiameter lebih dari sepelukan orang dewasa bernama, “Ehomo”, pengunjung pun dapat menikmati atraksi budaya yang dikenal dengan nama Lompat Batu atau Fahombo Batu.

Fahombo Batu adalah salah satu kebudayaan orang Nias yang maknanya adalah tanda kedewasaan seorang remaja laki-laki. Atraksi ini adalah dengan melompati batu setinggi 2 meter hanya dengan bantuan sebuah batu kecil sebagai tempat berpijak. Dahulu, ini merupakan prosesi yang penting, tetapi seiring perkembangan zaman, atraksi ini kini sebatas pertunjukkan saja.

FB_IMG_1505663651001
Atraksi Lompat Batu
FB_IMG_1505663643024
Bersama pelompat batu yang mengenakan pakaian adat Nias

Ibu tak bisa bayangkan jika masih berlaku, kamu tentu harus menjalaninya pula. Aduh, cukup khawatir juga melihat batu yang berdiri tegak itu.

Nah, dari Bawomataluo, perjalanan akan dilanjutkan ke pinggir pantai. Sebenarnya, ada banyak pantai di sekitar daerah ini. Namun, ada beberapa yang sudah dikelola dan menarik banyak pengunjung. Salah satunya di Pantai Lagundri.

FB_IMG_1505663622972
Pemandangan dari pinggir pantai

Selain duduk-duduk santai, aktivitas lain yang bisa dilakukan di pantai-pantai di Nias adalah berselancar air. Ya, karena daerah ini terletak berbatasan dengan Samudera Hindia, ombaknya sangat tinggi. Tak heran, banyak peselancar, baik warga asing maupun warga lokal, memanfaatkannya. Di kejauhan, kita akan bisa melihat mereka menari di permukaan lautan yang bergelombang. Ah, seru sekali pokoknya.

Situasi dan kondisi di sekitar pantai juga masih asri dan sebagian besar belum tersentuh oleh perkembangan zaman. Jadi, ingin membawa bekal sambil bercengkerama bersama keluarga akan sangat menyenangkan.

Jika kita sempat berkunjung ke sana nanti, Ibu yakin kamu akan sangat senang dan bahagia. Bebas berinteraksi dengan alam sambil menikmati indahnya ciptaan Tuhan.

Nah, itu saja cerita Ibu yang belum sempurna detailnya. Ibu berharap, hal itu membuat kamu semakin tertarik untuk datang dan menyaksikan sendiri indahnya Pulau Nias, sebuah surga yang tersembunyi.*

FB_IMG_1505663457768
Berkunjung ke pantai sore-sore
Iklan

One thought on “Surat untuk Anakku”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s