Day 37: Maret 2015 #Review

Maret 2015

  1. Memulai challenge Minimalist Lifestyle–yang mana jarang update karena kebanyakan fokus huhuhu. Tapi, semoga tetap jalan meskipun pelan-pelan. Yes, pasti bisa! 😛
  2. Sakit dan harus istirahat di rumah (pada awal bulan) selama 2 hari. Sesuatu yang jarang terjadi karena seharusnya pada tanggal-tanggal tersebut menyelesaikan deadline.
  3. Ikut posting #FFRabu di MFF, tapi yah, baru bisa sekali. Pengin setiap minggu sih. Apa daya..
  4. Baca dan resensi buku Lukisan Dorian Gray, Penggores Kenangan, dan Between Me and Your Horse of Steel
  5. Ikut lomba #ReviewMaret di bianglalakata.wordpress.com, tapi belum berhasil (lagi) 😛
  6. Dapat job pertama di Project. Yeayy! Semoga besok-besok ada kesempatan lagi. Lumayan 🙂
  7. Udah jahit kebaya di Samantha. Ehemm. Proses yang cukup sulit, mulai dari nyari bahan sampai nganter ke penjahit hihi 😀
  8. Udah foto juga, meskipun hasilnya.. ya gitu haha. I love it. Yang penting kebersamaannya.
  9. Ngerjain transkrip lagi. Ayeee…
  10. Nonton film American Sniper, Into the Woods, Into the Storm, Kill the Messenger, Brick Mansion, dan Birdman. Lumayan banyak juga bulan ini 😀
  11. Mulai katekisasi. Pertemuan pertama dari beberapa pertemuan. Semoga lancar sampai akhir.

Thanks, God!

Day 34: [Next Chapter] Semakin Mendekat..

Hai hai…

Cukup lama juga ya saya belum update soal persiapan #NextChapter. Padahal waktunya udah semakin mendekat hua.. Ya, sibuk ngurus ini itu, milih ini itu, ngobrol ini itu. Banyaklah.

Tapi di titik ini, saya senang kok. Ini memang pertama kali dan juga terakhir kali (amin!) Jadi, wajar aja kalau banyak hal yang “terasa berantakan”. Setelah pulang kemarin, justru semakin banyak yang perlu dipersiapkan. Lingkupnya semakin luas dan semakin jelas. Namun, di satu sisi, saya tetap mencoba untuk menikmatinya. Nikah kan bukan suatu tujuan, tetapi tahap kehidupan selanjutnya. Jadi, nggak perlulah menghabiskan energi sebelum nikah hanya demi acara yang terkesan hebat, luar biasa, dan mengagumkan. Bisa-bisa malah setelah itu tepar dan tak bisa memulai kehidupan baru dengan baik dan nyaman.

Saya akui, sulit menyenangkan semua orang. Dalam banyak hal. Soal tempatlah, soal acaralah, soal macem-macem. Saya sendiri rasanya juga sulit merasa puas. Pengen yang kayak begini, yang kayak begitu, dekorasi, kebaya, etc… Sampai pernah berantem juga karena salah paham soal itu. Yang satu minta begini, eh yang lain langsung nggak setuju (tanpa mempertimbangkannya dulu).

Namun, semakin lama ya semakin mengerti dan paham soal apa yang harus diperdebatkan dan apa yang tidak. Belajar menerima pendapat juga, tanpa buru-buru menghakimi. Karena toh pendapat itu dilatarbelakangi oleh sesuatu hal. Kalau kita langsung menilai itu salah, berarti kita menganggap pasangan bukan orang yang cerdas, kok bisa-bisanya mengajukan ide seperti itu.

Misalnya saja, ide dekorasinya pengen seperti ini, lho. Karena memikirkan biaya, yang satu langsung menolak. “Mahal,” katanya gitu. Padahal kan belum tentu. Perlu survei dulu atau minimal tanya-tanya dululah sama yang udah pernah. Setelah tau jawabannya ya baru berdua memutuskan dan menanggung konsekuensinya. Misalnya kalau mahal berarti harus ada pos yang dipotong. Atau saling mengutarakan pendapat mengenai apa sih yang menjadi prioritas dalam acara tersebut.

Hal kedua yang saya pelajari dalam proses ini adalah menggali kreativitas. Karena pake sistem low budget alias sederhana ya semua harus dikerjakan sendiri. Seandainya ada yang bisa diminta bantu (dalam batas tidak merepotkan) ya lumayan juga. Meskipun ya hasilnya harus bersedia seadanya. Tapi, kreativitas sangat membantu. Semua yang sederhana jika disentuh dengan tangan-tangan kreatif akan menjadi berbeda dan menarik.

Menyiapkan #NextChapter ini seperti sebuah perjalanan tersendiri. Lorong waktu menuju sebuah kehidupan baru di sana. Kami berdua harus saling menolong dan mendukung agar tiba di sana dengan “selamat” dan fit untuk memulai hari yang baru.

Oh, ya, saya juga senang karena pihak keluarga akhirnya meluluskan permintaan untuk mengundang grup Campursari. You know, saya memiliki ikatan yang tak bisa dijelaskan dengan jenis musik ini dan ini adalah mimpi saya. Hari yang bahagia dengan musik yang indah, apa lagi yang kurang, kan? Hehehe. Doain lancar, yah 🙂

Day 33: [Review Buku] Penggores Kenangan

Judul: Penggores Kenangan

Penulis: Adhiati AP

Tahun terbit: Desember 2014

Penerbit: deTeens

Jumlah halaman: 223

Wira datang ke rumah Kia dengan membawa sebuah “bola berbulu dalam kurungan besi”. Niatnya ingin “menembak” Kia setelah sebelumnya menyogok cewek itu. Kia rupanya suka kucing dan entah bagaimana akhirnya ia bersedia menerima Wira sebagai pacar hanya agar si kucing tetap tinggal bersamanya.

Kia adalah seorang penyendiri. Ia murung dan suka marah-marah. Meskipun demikian, Wira menyukai gadis itu. Ia berusaha keras supaya kecuekan Kia berkurang sedikit demi sedikit, terutama kepada ibunya sendiri. Kia ternyata menyimpan luka hati yang dalam terhadap orang yang melahirkannya itu. Sebuah keputusan di masa lalu–yang sepenuhnya disesali oleh sang Bunda–membuat Kia terlantar dan kehilangan semangat hidupnya.

Untunglah ada Wira, cowok yang selalu siap menjadi teman, mengerti kelemahan Kia, dan mau menerima Kia seperti adanya. Wira adalah sosok yang ceria dan tak sungkan-sungkan bercanda dengan Kia yang super dingin. Istilahnya, muka tembok. Orang seperti ini yang dibutuhkan Kia untuk keluar dari guanya yang sempit.

Hanya saja, Tante Dani, ibu Wira, tak begitu menyukai Kia. Ini menjadi salah satu konflik yang diangkat penulis dalam novel ini. Wira pun terjebak dalam dilema ingin menyenangkan siapa. Hingga suatu hari, sebuah peristiwa terjadi. Tante Dani tiba-tiba bersikap baik pada Kia. Ini mengherankan. Kok bisa mendadak gitu? Perubahan lain adalah sikap Wira yang tak seceria dulu. Ia semakin lama semakin murung dan tak semangat. Bukan seperti Wira yang sebenarnya.

Lalu, bagaimana Kia menghadapi semua itu? Setelah disuguhi keramahan Tante Dani yang tiba-tiba dan perubahan sikap Wira, apakah Kia harus merasa senang atau justru sedih? Apa sebenarnya jawaban dari teka-teki di balik perubahan yang terjadi itu?

Saya nggak begitu suka ending cerita ini. Kurang mantep. Kado terakhir yang disampaikan Adhit kepada Kia dari Wira kurang dijelaskan maknanya dalam keseluruhan cerita. Padahal, menurut saya, itulah mata rantai yang menyatukan masa lalu dengan masa sekarang. Sebelum dan sesudah. Pada masa lalu, kado itu tidak dijelaskan sama sekali (atau saya yang melewati adegan itu?). Intinya benang merahnya terlalu kabur dan membuat saya sebagai pembaca merasa terpental ke sana kemari: sebenarnya apa yang ingin disampaikan penulis?

Hal kedua yang menurut saya agak ganjil adalah detail waktu atau kronologi cerita. Pada awal buku, ada kisah tentang usaha Wira untuk membuat Kia menjadi pacarnya. Lalu, cerita lompat pada peristiwa 3 tahun sesudahnya.

“Yah, sudah tiga tahun berlalu sejak perkenalan Kia dengan Saya. Artinya, sudah tiga tahun juga status mereka berubah.” Hal. 13

Hanya sedikit pembahasan mengenai apa yang terjadi dalam 3 tahun itu. Garis besarnya, Kia dan Wira pacaran seperti anak muda pada umumnya. Saya rasa, penulis hanya ingin menegaskan bahwa dalam kurun waktu itu, Tante Dani masih tidak mau menerima Kia sebagai pacar Wira. Tapi, rasanya kok sayang aja, 3 tahun seperti hilang tanpa bekas.

Soal waktu yang kedua adalah pada ending cerita. Di situ disebutkan..

“Tiba-tiba, kaki Adhit rasanya lemas. Dia teringat percakapan dengan Wira bertahun-tahun lalu”. Hal 209

Sepertinya, si penulis sangat senang melakukan skip waktu. Yang membuat bingung, nggak ada perubahan terhadap karakter tokohnya atau minimal perubahan fisik yang bisa dikenali dan menegaskan berlalunya waktu itu. Kia tetap Kia yang dulu. Begitu pula Adhit. Jadi, istilah “bertahun-tahun” rasanya tak terlalu bermakna.

Selebihnya, saya suka bagaimana penulis menggambarkan tokoh Wira. Cowok yang pantang menyerah dan bisa diandalkan. Siapapun cewek yang menjadi pasangannya seharusnya merasa beruntung. Dan ia cocok dipasangkan dengan Kia, yang notabene kekurangan kasih sayang.

Adegan-adegannya pun ditulis dengan sangat detail termasuk dialog sehari-hari sehingga kita seperti sedang menonton sinetron. Alurnya sengaja dibuat lambat, berlawanan dengan pilihan untuk melakukan skip pada waktu-waktu tertentu.

Selain itu, ada kesalahan teknis dalam buku yang saya baca ini, yaitu lembar berulang mulai hal halaman 33 sampai 48. Cukup banyak juga ya. 😀

Buku ini adalah novel remaja yang bercerita tentang bagaimana menerima kenyataan. Ada hal-hal yang berakhir dan tak sesuai dengan keinginan kita, tetapi kita harus tetap tegar. Bukan seperti pohon yang keliatan kokoh tapi tumbang juga kalau ditiup (?) badai. Tapi, seperti angin. Angin bisa pergi ke mana saja. Tenang tanpa ada yang sadar.

Day 26: [Inspirasi Jumat] Semuanya Akan Ditambahkan

“.. maka semuanya akan ditambahkan kepadamu.”

Frasa ini seringkali diartikan berbeda. Kelompok yang pertama menganggap bahwa penambahan tersebut adalah jaminan akan kesuksesan, kekayaan, kepopuleran, dan sebagainya. Sementara kelompok yang kedua–saya ingin masuk dalam kelompok ini–mengartikannya sebagai jaminan kecukupan.

Seringkali kita memaknai segala sesuatu sesuai dengan kehendak dan keinginan kita sendiri. Kita memakai aturan-aturan dasar tersebut untuk menyenangkan diri sendiri. Bahwa segala hal yang bersifat “kesenangan” (duniawi) adalah menjadi hak kita, sebenarnya adalah pandangan yang salah.

Apa sebenarnya yang akan ditambahkan kepada kita? Mengapa frasa tersebut tertulis sedangkan pada kenyataannya tak banyak yang terlihat kaya padahal sudah melakukan syaratnya. Di sanalah kekurangtepatan kita memaknainya. Menurut saya, berkat dari Tuhan itu ada bukan karena kita telah melakukan syarat apapun. Tuhan tidak bisa disogok (dengan syarat-syarat itu). Bahkan ketika kita jungkir balik untuk melayani sana sini, bila semua itu tidak berkenan, trus mau apa?

Kembali lagi, hidup ini adalah anugerah. Kita diberikan secara “cuma-cuma” untuk dijalani dengan baik dan benar. Lalu, buat apa ada frasa tersebut. Bukankah itu berarti bahwa kita berhak atas semua penambahan itu? Merasa berhak adalah kepedean yang luar biasa yang pernah dilakukan oleh manusia.

Jadi, bukan untuk menunjukkan apa yang menjadi hak kita (karena Tuhan tidak melakukan barter.. ) tetapi untuk menunjukkan kebaikan-Nya, kasih-Nya, kesetiaan-Nya, perlindungan-Nya, dan kepedulian-Nya terhadap kita. Ada jaminan kecukupan dan kesejahteraan sehingga tak perlu merasa khawatir. Apapun yang terjadi, bila kita telah melakukan yang sesuai keinginan-Nya, kita aman bersama-Nya.

Gitu aja.. 🙂

Day 25: [Review Buku] Between Me and Your Horse of Steel

Judul: Between Me and Your Horse of Steel

Penulis: Sianida

Tahun terbit: 2015

Penerbit: Senja

Jumlah halaman: 223 halaman

Cerita dimulai dengan perkenalan lika-liku kehidupan seorang penulis bernama Rena dengan nama pena Cyanite. Di sini, Rena mengatakan bahwa ia tak ingin seorang pun mengenal jati dirinya. Cyanite adalah seorang penulis yang lumayan populer di London. Buku-buku yang ia tulis memengaruhi banyak orang, termasuk Stanwell.

Dari kekagumannya itu, Stanwell pun menawari Rena untuk menulis biografi keponakannya, Zac Zuaress, seorang pembalap muda yang sedang naik daun. Meskipun Rena tak ingin kedoknya terbongkar, ia tetap menerima job tersebut dengan berbagai persyaratan yang tampaknya tak terlalu dijelaskan di novel ini.

Lalu, bisa ditebaklah apa yang terjadi. Bahkan saat Rena baru mencari tahu tentang Zac melalui internet, kita sudah diberi sinyal oleh penulis bahwa bakal terjadi cinlok antara kedua manusia itu. Benar saja. Dengan adegan sebuah kebetulan dimana Zac mengira Rena adalah wanita panggilan, mereka pun bersentuhan pertama kali.

Selanjutnya, Rena berjuang keras untuk tetap menjaga profesionalitasnya dan berusaha untuk tidak jatuh cinta kepada Zac—yang mana itu sangat sulit dilakukan karena Zac digambarkan sangat tampan dan ahli meluluhkan hati. Rena terbentur pada poin dalam kontrak mereka yang mengatakan bahwa ia tidak boleh memiliki hubungan romantis dengan Zac selama pengerjaan biografi tersebut.

Zac, meskipun usianya setahun lebih muda daripada Rena, tampaknya sangat memuja gadis itu. Sepanjang cerita, ia adalah tokoh yang konsisten mempertahankan cintanya kepada Rena. Namun, apakah Rena begitu saja akan menerima Zac? Selain itu, ada kejutan-kejutan lain yang disisipkan penulis dalam buku ini mengenai masa lalu Rena yang suram.

Horse atau Borse?

Menurut pendapat saya, kaver harus dilengkapi dengan judul yang menarik dan jelas dibaca. Kalau nemu judul buku yang justru bikin berpikir sampai berbelas-belas detik, hanya ada dua pilihan, penasaran dan berusaha mencari tahu atau meninggalkan buku itu segera.

Saat melihat kaver berwarna dasar putih tulang ini, yang terbaca adalah Between me and your.. hor.. borse? Horse of steel? Pemilihan font lumayan berpengaruh, itu intinya. Apalagi karena kaver adalah bagian pertama yang dilihat oleh calon pembeli atau pembaca. Pengennya sih sekali lihat langsung lebbb.. eh, kebb..baca. 🙂

Kalau dari segi warna ya lumayan menarik. Apalagi karena pake warna pink, favorit. Haisyah.

Mana Nih Puncaknya?

Alur di novel ini tampaknya tidak terlalu berliku-liku. Permasalahan utama adalah bagaimana menyatukan hubungan cinta antara kedua insan yang bertemu secara kebetulan. Selebihnya, bagaimana Rena lepas dari kungkungan masa lalunya yang tidak menyenangkan. Masa lalu itu terus-menerus muncul di hadapan Rena seolah-olah ia tak dapat menghapusnya. Memang, masih ada yang belum selesai antara Rena dan keluarganya di masa lalu.

Saya merasa, novel ini memiliki dua klimaks. Pertama, penyelesaian Rena dengan keluarganya yang dibuat lumayan dramatis. Kedua, penyelesaian Rena dan Zac. Klimaks pertama yang terjadi sebelum halaman terakhir rasanya tidak enak. Ending sebenarnya menjadi kurang menarik lagi.

Perlu Berciuman?

Memang sih di dalam novel ini tidak ada kalimat-kalimat seronok yang mengganggu. Mungkin juga karena ingin menyesuaikan latar novel yaitu di Inggris dan negara-negara lain, berciuman dianggap bahasa tubuh yang wajar saja dilakukan oleh para remaja. Tetapi, banyaknya kata-kata itu di novel ini membuat saya agak risih juga. Misalnya,

Secara perlahan, Zac mencondongkan tubuh, dan mencium bibir Rena.

Hal 26.

Lalu, Rena melayangkan sebuah ciuman singkat. Zac menahan tubuh gadis itu dan membuat ciuman mereka lebih lama.

Hal 78

Zac mencondongkan tubuh dan mencium dahi Rena.

Hal 129

Setelah cukup lama mencium Rena, pemuda itu berhenti dan menjauhkan wajahnya untuk memandangi Rena.

Hal 155

Saya harap sih novel ini tidak dikonsumsi oleh anak-anak di bawah umur dan menganggap bahwa pacaran dan berciuman itu sesuatu yang wajar dan biasa saja dilakukan. Meskipun, yah, meskipun itu adalah hak setiap orang. 🙂

Seluk beluk balapan motor yang diceritakan di buku ini cukup menarik. Ada istilah-istilah baru yang membuat saya tambah pinter hehehe. Penulis juga cukup bisa menggambarkan situasi di dalam sebuah paddock. Hikmah ceritanya pun cukup terlihat jelas dan mengajarkan pembaca agar tak mudah menyerah, bahkan terhadap masa lalu.

Kalau Anda penyuka otomotif sekaligus suka baca, novel ini cocok banget. Siapa tahu mengalami hal yang sama dengan Sianida.. eh Cyanite. 😀

Day 19: [Inspirasi Jumat] Makanan dan Minuman

Sebenarnya tema kali ini bukan “Makanan&Minuman” seperti judul postingan di mana kita lantas membahas jenis-jenis makanan dan minuman yang pastinya akan sangat menyenangkan. 😛

Namun, tema ini pun ada kaitannya dengan soal “makanan&minuman”.

Begini,

Makanan dan minuman adalah kebutuhan pokok manusia. Kita bisa hidup sehat karena makan makanan sehat dan minum secukupnya. Tanpa makan dan minum, bisa dipastikan, kita akan mati (dalam artian sebenarnya, lhoh!) Atau, mungkin saudara-saudara pernah mendengar ada orang yang tetap hidup tanpa makan dan minum? Mungkin ada ya, tapi jarang dan merupakan kasus khusus. Itu pun lama-lama juga akan mati bila tak dimasuki makanan dan minuman.

Oke, dari pemahaman sederhana itu, banyak orang yang menganggap bahwa makanan dan minuman adalah hal terpenting yang harus dikejar selama berada di dunia ini. Kita bekerja siang dan malam untuk memenuhi kebutuhan akan makanan dan minuman itu. Kadangkala, kita terjebak dalam kenikmatan semu dimana kita merasa bahwa tanpa memakan jenis makanan tertentu, kita tidak akan bahagia. Hayo, siapa itu?

Intinya adalah menjadikan makanan sebagai kebutuhan sah-sah saja. Memang kenyataannya seperti itu. Namun, kita pun harus mengontrol diri. Jangan sampai makanan dan minuman yang masuk ke tubuh kita tidak berdampak positif justru negatif bagi kita. Misalnya saja, kita jadi berutang dimana-mana karena tak mampu mengontrol kebiasaan wisata kuliner di tempat-tempat mahal. Atau makanan yang kita makan justru menjadi penyakit karena tidak sehat atau berlebihan.

Namun, kalau dilihat dari konteks prinsip ini di Alkitab, sebenarnya Paulus mengatakannya supaya kita tidak menjadi batu sandungan kepada sesama. Di dalam kehidupan kekristenan masa itu, beberapa orang menganggap bahwa sesuatu makanan tidak halal, seperti yang tertulis di Perjanjian Lama. Prinsip-prinsip itu dibawa hingga Perjanjian Baru dimana semua makanan yang diciptakan Tuhan dinyatakan “boleh dimakan”. Perbedaan keyakinan ini bisa saja menciptakan permusuhan di antara sesama pengikut Tuhan. Oleh karena itu, Paulus pun memberi teguran bahwa apa yang kita kejar sebenarnya bukan soal makanan atau minuman (yang kita yakini benar untuk dimakan) tetapi lebih pada kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita (di antara sesama).

Itu lebih penting daripada segala perdebatan soal apa yang boleh dimakan dan apa yang tidak boleh.

Day 17: [Challenge] Bantuan dari Si Buah Segar

Minggu kemarin, saya sakit. Lumayan juga. Setengah hari ijin untuk tidur-tiduran di kos. Satu hari besoknya lagi. Whew. Badan rasanya nggak enak semua. Pusing banget. Demam. Selama sakit itu, saya minum dua jenis obat generik–yang sebenarnya hasil dari rekomendasi orang-orang. Baiklah. Obat yang kedua lumayan manjur. Demam langsung turun meskipun badan masih nggak enak.

Yang paling nyebelin kalau sakit itu adalah lidah yang pahit. Huh. Paling nggak suka kalau udah nggak enak buat makan. Semua rasa makanan jadi datar aja. Gimana mau sembuh ya kan? Kata dia, harus dipaksa makan. Tapi, saya selalu nggak bisa menghabiskan makanan yang dipesan. Sisa terus.

Saya mencoba berbagai jenis makanan. Mulai bakso, soto, mi ayam, dan sebagainya. Tetep aja. Seorang temen nyaranin buat beli susu sapi kardusan. Saya suka juga sih apalagi kalau dingin (lah!) Jadinya malah berburu susu di supermarket yang ada promonya hehehe. Tiap lidah terasa pahit, susulah yang membantu saya.

Namun, di tengah-tengah kondisi nggak enak itu, saya ingat kalau buah bisa membantu. Pertama beli jeruk. Kedua beli apel. Kedua buah itu praktis dan mudah untuk dimakan. Saya juga bisa membawanya ke tempat kerja dan nggak ribet. Ya, dulu saya suka banget makan tomat. Tapi karena sibuk belakangan ini, kebiasaan itu hilang.

Mungkin udah waktunya harus konsumsi buah lagi tiap hari. Kalau bisa, harus. Semoga benar-benar pulih dan tetap sehat ya diriku. 🙂