Piknik Pertama W di Bonbin Gembiraloka

Bulan April dan Mei ini banyak hari liburnya. Senang, sih. Itu berarti saya punya waktu lebih banyak di rumah bersama W. Sedihnya, nggak ada kegiatan. Masa cuma leyeh-leyeh saja sepanjang hari. Bosen!

Nah, beberapa hari sebelum tanggal 1 Mei, si ayah tiba-tiba ngomong dengan nada bertanya, “Libur panjang ini kamu mau ke mana, *Nogu?” Saya yang dengerin dari ruang tengah langsung menyahut. “Emang mau ke mana kita?”

Hahaha. Dasar ibu-ibu kurang piknik! Ayah pura-pura cuek saja dan masih sibuk ngegodain anak lanang. Nyiumin sampe bayi itu ketawa terkekeh-kekeh.

Setelah dikorek baik-baik (karena si ayah ini jarang banget usul soal piknik dan hal-hal yang bikin “senang” lainnya), akhirnya mau juga dia menjelaskan. Tepatnya sih, memaparkan rencananya untuk berwisata ke Kebun Binatang Gembiraloka dengan mengajak W. Yeaayy!

Saya… langsung saja setuju tanpa mikir apa-apa lagi. Akhirnya…

Senin, 1 Mei 2017, kami berangkat sekitar pukul 09.00 WIB. Takutnya kalau kesorean bakal hujan. Repot. Untungnya hari itu cerah banget, malah cenderung panas terik. Sebelumnya, kami mampir di toko Essen, toko roti langganan. Rencananya, kami sudah pulang sebelum makan siang. Jadi, kami cuma beli makanan kecil saja.

Tiba di Gembiraloka, suasana masih sepi. Ya, ada beberapa gerombol anak-anak yang riang banget berlarian. Ada juga ibu-ibu yang bawa balita-balita seperti W. Heuheu, banyak temen jadinya.

Setelah membayar tiket, kami pun masuk. Tentu saja, tiket hanya untuk orang dewasa. Sekarang harganya Rp30.000 per orang. Bersama tiket, kami dibekali selembar brosur yang berisi peta wilayah bonbin dan beberapa informasi seputar bonbin lain.

Setelah W lepas jaket (biar lebih nyaman), kami mulai berkeliling. Tujuan pertama adalah menonton acara Gelar Satwa Terampil. Ini adalah sebuah atraksi yang menampilkan beberapa satwa di Gembiraloka. Semuanya memiliki keterampilan khusus. Misalnya, mendorong gerobak, menghitung, mengerek tali bendera, dan sebagainya. Maafkan, saya lupa nama-nama hewannya. Hehe. Yang jelas, semuanya pinter-pinter dan nurut kata pemandunya.

Pertama kali lihat atraksi itu, sekitar dua atau tiga tahun lalu, kami tertarik dengan burung-burung yang dipandu untuk terbang ke sana kemari. Mereka cantik-cantik banget dan suaranya indah. Nah, kami pengen mengajak W juga melihat itu.

Si ayah pun mengajak kami untuk memutar arah. Kalau biasanya para pengunjung diarahkan untuk menyusuri jalan yang sudah disediakan (yaitu belok kiri), kami justru ke kanan. Katanya, “Biar cepet nyampe. Soalnya atraksinya pukul 10.00 WIB”. Dan.. kami pun berjalan tergopoh-gopoh mengejar itu.

Aih, dan ternyata tempatnya jauh juga ya dari pintu masuk. Saya yang kebagian menggendong W lumayan ngos-ngosan. Rasanya kok seperti jalan tak berujung. Halah!

Area bonbin memang luas. Jadi, ya siap-siap saja kakinya pegel. Sebenarnya ada kereta yang disebut Taring berkeliling di sepanjang area bonbin, tapi kami memilih untuk jalan kaki saja. Sekalian olahraga hahaha.

Tepat pukul 10.00 WIB, kami tiba di lokasi atraksi. Ini adalah semacam panggung kecil yang dikelilingi tempat duduk dari papan kayu. Suasana udah rame. Masih ada tempat  kosong di sudut dan kami pun menuju ke sana.

Atraksi sepanjang 30 menit itu cukup bagus. Hanya saja, apa yang kami harapkan nggak muncul. Entah ke mana burung-burung itu pergi. Hiks. Dan sedihnya lagi, W malah nggak bisa menonton dengan jelas karena posisi kami di sudut. Dia malah asyik ngemil roti. Wew.

BERSAMBUNG…

*Nogu (bahasa Nias): Anakku