Day 33: [Review Buku] Penggores Kenangan

Judul: Penggores Kenangan

Penulis: Adhiati AP

Tahun terbit: Desember 2014

Penerbit: deTeens

Jumlah halaman: 223

Wira datang ke rumah Kia dengan membawa sebuah “bola berbulu dalam kurungan besi”. Niatnya ingin “menembak” Kia setelah sebelumnya menyogok cewek itu. Kia rupanya suka kucing dan entah bagaimana akhirnya ia bersedia menerima Wira sebagai pacar hanya agar si kucing tetap tinggal bersamanya.

Kia adalah seorang penyendiri. Ia murung dan suka marah-marah. Meskipun demikian, Wira menyukai gadis itu. Ia berusaha keras supaya kecuekan Kia berkurang sedikit demi sedikit, terutama kepada ibunya sendiri. Kia ternyata menyimpan luka hati yang dalam terhadap orang yang melahirkannya itu. Sebuah keputusan di masa lalu–yang sepenuhnya disesali oleh sang Bunda–membuat Kia terlantar dan kehilangan semangat hidupnya.

Untunglah ada Wira, cowok yang selalu siap menjadi teman, mengerti kelemahan Kia, dan mau menerima Kia seperti adanya. Wira adalah sosok yang ceria dan tak sungkan-sungkan bercanda dengan Kia yang super dingin. Istilahnya, muka tembok. Orang seperti ini yang dibutuhkan Kia untuk keluar dari guanya yang sempit.

Hanya saja, Tante Dani, ibu Wira, tak begitu menyukai Kia. Ini menjadi salah satu konflik yang diangkat penulis dalam novel ini. Wira pun terjebak dalam dilema ingin menyenangkan siapa. Hingga suatu hari, sebuah peristiwa terjadi. Tante Dani tiba-tiba bersikap baik pada Kia. Ini mengherankan. Kok bisa mendadak gitu? Perubahan lain adalah sikap Wira yang tak seceria dulu. Ia semakin lama semakin murung dan tak semangat. Bukan seperti Wira yang sebenarnya.

Lalu, bagaimana Kia menghadapi semua itu? Setelah disuguhi keramahan Tante Dani yang tiba-tiba dan perubahan sikap Wira, apakah Kia harus merasa senang atau justru sedih? Apa sebenarnya jawaban dari teka-teki di balik perubahan yang terjadi itu?

Saya nggak begitu suka ending cerita ini. Kurang mantep. Kado terakhir yang disampaikan Adhit kepada Kia dari Wira kurang dijelaskan maknanya dalam keseluruhan cerita. Padahal, menurut saya, itulah mata rantai yang menyatukan masa lalu dengan masa sekarang. Sebelum dan sesudah. Pada masa lalu, kado itu tidak dijelaskan sama sekali (atau saya yang melewati adegan itu?). Intinya benang merahnya terlalu kabur dan membuat saya sebagai pembaca merasa terpental ke sana kemari: sebenarnya apa yang ingin disampaikan penulis?

Hal kedua yang menurut saya agak ganjil adalah detail waktu atau kronologi cerita. Pada awal buku, ada kisah tentang usaha Wira untuk membuat Kia menjadi pacarnya. Lalu, cerita lompat pada peristiwa 3 tahun sesudahnya.

“Yah, sudah tiga tahun berlalu sejak perkenalan Kia dengan Saya. Artinya, sudah tiga tahun juga status mereka berubah.” Hal. 13

Hanya sedikit pembahasan mengenai apa yang terjadi dalam 3 tahun itu. Garis besarnya, Kia dan Wira pacaran seperti anak muda pada umumnya. Saya rasa, penulis hanya ingin menegaskan bahwa dalam kurun waktu itu, Tante Dani masih tidak mau menerima Kia sebagai pacar Wira. Tapi, rasanya kok sayang aja, 3 tahun seperti hilang tanpa bekas.

Soal waktu yang kedua adalah pada ending cerita. Di situ disebutkan..

“Tiba-tiba, kaki Adhit rasanya lemas. Dia teringat percakapan dengan Wira bertahun-tahun lalu”. Hal 209

Sepertinya, si penulis sangat senang melakukan skip waktu. Yang membuat bingung, nggak ada perubahan terhadap karakter tokohnya atau minimal perubahan fisik yang bisa dikenali dan menegaskan berlalunya waktu itu. Kia tetap Kia yang dulu. Begitu pula Adhit. Jadi, istilah “bertahun-tahun” rasanya tak terlalu bermakna.

Selebihnya, saya suka bagaimana penulis menggambarkan tokoh Wira. Cowok yang pantang menyerah dan bisa diandalkan. Siapapun cewek yang menjadi pasangannya seharusnya merasa beruntung. Dan ia cocok dipasangkan dengan Kia, yang notabene kekurangan kasih sayang.

Adegan-adegannya pun ditulis dengan sangat detail termasuk dialog sehari-hari sehingga kita seperti sedang menonton sinetron. Alurnya sengaja dibuat lambat, berlawanan dengan pilihan untuk melakukan skip pada waktu-waktu tertentu.

Selain itu, ada kesalahan teknis dalam buku yang saya baca ini, yaitu lembar berulang mulai hal halaman 33 sampai 48. Cukup banyak juga ya. 😀

Buku ini adalah novel remaja yang bercerita tentang bagaimana menerima kenyataan. Ada hal-hal yang berakhir dan tak sesuai dengan keinginan kita, tetapi kita harus tetap tegar. Bukan seperti pohon yang keliatan kokoh tapi tumbang juga kalau ditiup (?) badai. Tapi, seperti angin. Angin bisa pergi ke mana saja. Tenang tanpa ada yang sadar.

Iklan

1 thought on “Day 33: [Review Buku] Penggores Kenangan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s