Perjuangan Busui (1): Pengalaman Pertama

Tantangan selanjutnya setelah masa-masa begadang lumayan berkurang (atau sudah bisa diadaptasi), yaitu menyusui.

Jujur banget, baru sadar kalau ternyata seribet ini jika berkomitmen memberikan 6 bulan ASI eksklusif untuk baby W. Maklum, ibunya buruh pekerja yang “hanya” dapat cuti 3 bulan saja. Artinya, 3 bulan selanjutnya adalah perjuangan yang butuh strategi.

Saya ceritakan dulu ya pengalaman pertama menyusui 😀

Karena melahirkan secara SC, ASI belum bisa keluar spontan. Begitulah katanya. Jadi, selama beberapa hari, saya minum tablet pelancar ASI. Jangan tanya merknya karena saya hanya disediakan oleh suster untuk diminum pada jam tertentu. Lumayan manjur juga meskipun nggak serta merta mengucur deras gitu.

Satu dua hari pertama setelah baby W lahir, ia mulai belajar menyusu. Secara singkat, suster menjelaskan caranya dan kapan harus disusui. Idealnya, setiap 2 jam, ia harus diajak/dibangunkan supaya bisa minum.

Awal-awal kelahirannya, baby W tidurnya lama sekali. Hampir bisa dihitung berapa lama ia membuka mata. Nah, ini malah jadi tantangan tersendiri. Saat ia tidur lelap sekali, kami kesulitan membangunkannya. Dasar orangtua baru, khawatirnya berlebihan. Takut dia kelaparan karena nggak mau bangun. Belakangan diberitahu, bayi membawa ransum untuk maksimal 3 hari saat dia lahir. Jadi, nggak makan apa pun, ia tetap bisa sehat. Ia juga cuma butuh satu sendok teh ASI karena ususnya baru sebesar kelereng. Hihi, imut ya.

Namun, ternyata aturan menyusui 2 jam sekali itu supaya ia mulai belajar menyusu dan merangsang keluarnya air susu ibu. Kami pun melakukan berbagai cara supaya ia bisa bangun, mulai dari memanggil nama, menyentuh, hingga menggelitik. Enggak bangun juga! Haduh, sampai susternya juga turun tangan lalu angkat tangan. Solusinya, kami disuruh terus mencoba.

Sesampai di rumah, ASI mulai lancar. Kesulitannya hanya pada bagaimana mencari posisi yang tepat. Supaya ia dan saya merasa nyaman. Mulai dari duduk di kursi, punggung tegak, hingga pake bantal sebagai alas. Saya sendiri masih agak takut mengangkat bayi yang keliatan rapuh itu. Masa itu menjadi masa yang lumayan menantang.

Kemudian, masalah selanjutnya muncul: puting lecet. Wuahh. Rasanya lumayan. Apalagi baby W harus tetap menyusu. Tiap dia mulai mengisap, saya harus menahan sakit. Hal itu berlangsung hampir seminggu, sebelum benar-benar sembuh. Di antara waktu itu, saya mencoba untuk melakukan perah di payudara yang lecet. Dan, baby W pun minum dari botol. Hore, dia mau lho. Hitung-hitung belajar kalau nanti ibunya mulai bekerja.

Sekarang, semua udah terasa nyaman. Mulai dari posisi nyaman hingga cara menyusui. Bahkan, “menyusu” sekarang tampaknya menjadi solusi jika ia sedang rewel. Akibatnya lumayan pegel juga.

Fase selanjutnya untuk melanjutkan ASI eksklusif adalah menyediakan ASI perah selama saya bekerja. Ternyata enggak mudah lho. Saya harus cari-cari banyak informasi soal itu.

Bersambung…

Iklan