Day 96: [Life] Siapa Kita?

Siapa kita ketika dalam genggaman ada setumpuk uang yang siap dibelanjakan kapan saja?

Siapa kita ketika di bahu tersampir tanda pangkat yang bisa digunakan untuk memenjarakan seseorang?

Siapa kita ketika memiliki banyak pengagum yang siap membenarkan seluruh ucapan kita?

Siapa kita ketika tak ada seorang pun melihat?

Siapa kita ketika kesulitan menjerat dan tak ada uang untuk membeli makan?

Siapa kita ketika dimintai tolong orang lain untuk melakukan sesuatu?

Siapa kita ketika tak memiliki apa-apa?

Siapa kita ketika dipercayai tanpa syarat?

Siapa kita ketika berhadapan dengan seorang pendosa dan patut dihakimi?

Siapa kita ketika banyak orang tak peduli di saat-saat paling gelap?

Kita adalah apa yang kita lakukan. Keputusan itu seluruhnya kita yang pegang. Jadi, siapa kita saat ini?

Iklan

Day 96: [Challenge] Love Letter #9

Ini surat terakhirku. Besok, kita pasti akan sibuk mempersiapkan berbagai hal. Aku pasti akan menulis lagi untukmu di hari-hari mendatang. Bercerita tentang apakah benar teori-teori yang tertulis di buku relationship itu karena kita telah mengalaminya sendiri.

Di surat ini, aku ingin singkat saja. bahwa kita sudah melewati banyak hal, tapi belum semuanya. Kita akan menemukan banyak hal baru yang mengejutkan dan tak terduga. Namun, aku ingin menjalani dan menghadapi semuanya itu denganmu. Setiap detik berharga dan setiap hari tak ternilai. Semoga kita terus mengingat, bahwa kita fana dan sewaktu-waktu bisa pergi kapan saja. Karena itu, masa kini adalah waktu yang paling tepat untuk mencintai, bukan kemarin, bukan besok.

Anyway, semoga acara seminggu ini lancar dan kita pulang dengan selamat. Lalu, kita bisa mempersiapkan segala sesuatu dengan baik. Amin.

Aku selalu sayang kamu. Selamanya.

With love,

L

Day 96: [Review Buku] The Chef

IMG_0355
Judul: The Chef

Penulis: Hanna Enka

Penerbit: Mazola

Jumlah halaman: 286

Tahun terbit: 2015

♥♥♥

Karena selain sentuhan, rasa adalah ingatan terbaik yang dapat menemukan berbagai kenangan di masa lalu yang sempat hilang. Berkat rasa dalam resep yang kuingat tentangmu itu, membawaku akhirnya ‘tuk menemukan dirimu lagi. Hanna Enka

Masih ingat apa cemilan kamu pada masa kecil? Kalau sekarang kamu kembali menemukan cemilan itu dan memakannya, apa yang kira-kira akan terjadi? Kebanyakan orang mengakui bahwa makanan bisa membawa kita ke masa lalu. Kita ingat tentang betapa bahagianya kita dulu, betapa menyenangkannya masa itu, atau sebaliknya, kita mengingat hal-hal buruk yang pernah terjadi.

Kalau ada orang yang merantau jauh dari rumah, cita rasa makanan di daerah asal pasti akan selalu dirindukan. Apalagi jika makanan tersebut setiap hari tersaji di meja makan dan dimasak sendiri oleh ibu. Lalu, kalau suatu ketika kita menemukan jenis makanan yang rasanya hampir sama, rasa kangen pun membuncah.

Mengambil ide sederhana itu, penulis menciptakan sebuah kisah berjudul The Chef. Diceritakan, seorang gadis bernama Feba kembali datang ke Miami untuk menemukan seorang laki-laki yang ia juluki Pangeran Puding. Mereka bertemu pertama kali di sebuah taman–saat itu Feba adalah mahasiswi jurusan kuliner–tepat ketika perasaan Feba sedang tidak baik-baik saja. Feba baru saja mendengar kabar bahwa orangtuanya meninggal. Tanpa teman di negeri orang, Feba merasa sangat sedih, tak ada tempat bersandar. Pada waktu itulah, seseorang di sebelahnya bertanya: “Apa kau baik-baik saja?”

Bukan hanya menyapa dan menenangkan Feba, laki-laki itu pun menawarkan sebuah puding pada Feba untuk menghiburnya. Alhasil, tindakan sederhana itu terekam kuat di ingatan Feba, meskipun ia telah pulang ke Indonesia.

Beberapa lama kemudian, Feba mendapat kesempatan untuk kembali ke Miami. Ia ingin mencari dan bertemu dengan laki-laki yang begitu peduli padanya di masa terberatnya itu. Meskipun ia harus mencari di seluruh Miami, Feba tetap berusaha. Salah satu cara yang dilakukannya adalah dengan bertanya pada Universitas Johnson and Wales, tempat kuliahnya dulu. Dengan membawa sebuah foto, ia akhirnya mendapatkan sebuah nama: Rein Davis.

Sayangnya, karena waktu yang mungkin membuat orang berubah, tampaknya Rein Davis tak ingat lagi dengannya. Meskipun ia sudah membawa puding yang persis sama dengan yang dimakannya beberapa tahun lalu. Feba pun tak terlalu ngeh lagi dengan wajah orang yang dicarinya tersebut.

Lalu, bagaimana selanjutnya hidup Feba di Miami? Apakah ia akan pulang ke Indonesia begitu saja karena orang yang dicarinya ternyata tak ingat lagi padanya? Atau adakah kejutan lain yang tak disangka?

Dari alur cerita, novel ini lumayan. Semua berjalan seperti seharusnya, meskipun beberapa hal menurut saya agak janggal. Misalnya, alasan Feba datang kembali ke Miami. Apakah hanya untuk menemukan seseorang yang pernah menyapamu di masa lalu kamu mau menyeberangi benua? Mmm.. mungkin. Mungkin juga enggak. Karena, tentu saja Feba mempunyai kehidupan yang ia jalani pada masa kini.

Tapi, okelah, itu pilihan penulis. Bisa saja, dalam novel ini, karakter tokohnya memang demikian; mengejar hal-hal sederhana karena itulah yang masih nyangkut di benak.

Kemudian, yang sebenarnya saya sayangkan adalah latarnya yang kurang kuat. Penulis mengambil latar di Miami, tapi rasa-rasanya nggak ada yang istimewa. Artinya, nggak ada yang berbeda. Entah dari kebiasaan masyarakatnya, cara berbicara, dan sebagainya. Artinya lagi, kalau latarnya mau diubah ke daerah lain yang kebetulan juga berada di tepi pantai, tak terlalu berpengaruh. Nah, kalau ini sih pasti karena saya berharap banget merasakan suasana Miami yang berbeda dari Indonesia.

Selain Feba, ada tokoh lain, yaitu Demian Davis, adik Rein Davis. Ada juga Sienna, cewek berprofesi model yang mengejar-ngejar Demian. Karena merasa terancam dengan kehadiran Feba, Sienna pun berkonflik dengan Feba.

Menariknya novel ini adalah 12 resep istimewa yang dimasukkan dalam cerita. Bukan sekadar tempelan, tapi bener-bener menyatu dengan cerita. Saya rasa, ini ide yang sangat brilian. Hingga sekarang, saya belum pernah membaca jenis novel yang sama. Feba, seorang chef, memasak untuk temannya, memasak untuk bertanding dengan Sienna, dan sebagainya.

Berikut salah satu resep yang bisa dicoba:

Angsio Tofu

  • Iris daun bawang, jahe, dan bawang putih, tumis.
  • Panaskan minyak dan goreng tahu.
  • Rebus udang dan cumi-cumi yang sudah diiris, masukkan jamur.
  • Tuang air dan lada ke dalam tumisan daun bawang. Tambahkan penyedap rasa dan diamkan 2 menit.
  • Lalu, masukkan ikan, udang, dan cumi serta maizena yang sudah dicairkan.
  • Aduk selama 5 menit.
  • Setelah itu, tuang di piring dan hias dengan daun seledri dan tomat.

Nah, gimana, tertarik untuk mencobanya? Masih ada sebelas resep lainnya, lho. Hehehe. 🙂

IMG_0353

Day 96: [Review Buku] Miminlicious

IMG_0303Judul: Miminlicious; tak ada mimin yang tak retak

Penulis: Jacob of @divapress01

Penerbit: DIVA Press

Jumlah halaman: 208

Tahun terbit: Januari 2015

Pada masa sekarang, segala macam hal bisa menjadi buku. Mulai dari curhatan di blog hingga kumpulan tweet. Nggak ada yang melarang. Publik pun lebih terbuka dan menerima. Didukung oleh penerbit yang gaul, jadilah buku-buku sejenis itu bisa kita dapatkan dan nikmati dengan mudah.

Salah satu buku yang tak biasa yang diterbitkan DIVA Press adalah Miminlicious. Buku ini isinya adalah curhatan seorang admin twitter akun @divapress01. Katanya sih namanya Jacob atau Admin Jacob atau Mincob, seperti nama karakter di sebuah buku fantasi terkenal karangan Stephanie Meyer.

Dari gaya bahasanya, saya bisa menarik kesimpulan kalau Jacob ini orangnya agak-agak gokil, melihat dunia dari perspektif humor. Semua hal bisa ditertawakan, termasuk pekerjaannya sendiri.. Ckck.. Hehe.

Nah, mungkin karena desakan dari berbagai pihak, termasuk diri sendiri mungkin, lahirlah buku Miminlicious. Secara garis besar, isinya adalah curhatan Jacob terhadap pekerjaannya yang menyenangkan. Karena kata orang, menjadi admin itu gampang, enak, dan bisa terkenal. Jacob pun menuliskan beberapa adegan-adegan yang membuatnya selalu berada dalam posisi dilematis; antara menjawab atau tidak. Kalau tidak dijawab kok nggak enak. Kalau dijawab kok wagu. Ya, gitulah… 😀

Misalnya, ada seseorang yang bertanya tentang “spasi ganda”. Si mimin yang baik hati ini pun menjelaskan kepada entah-siapa-yang-pada-zaman-sekarang-nggak-ngerti-spasi-ganda. Kalau saya yang ditanya begitu, mungkin udah muring-muring duluan. Mosok spasi ganda aja nggak tau?? Oke, tapi si Mincob tentu melakukan tindakan berbeda karena terpaksa tuntutan pekerjaan. Setelah dijelaskan panjang lebar, eh, si penanya nggak ngerti-ngerti juga. Gemes, kan?

Buku ini terbagi atas 6 bab, yaitu Dunia Mimin 1-hingga 6. Selain dunia per-Mimin-an, si Jacob juga menulis dialog-dialog lucu antara Mbak Nita dengan pelanggan. Macem-macem isinya. Ada yang sok kaya, bossy, dan sebagainya. Intinya, kalau kita baca buku ini, kita akan tahu sedikit banyak tentang situasi yang terjadi dalam sebuah penerbit. Lucu-lucu pastinya.

Buku ini merangkum berbagai kisah-kisah pendek di dunia penerbitan yang bisa membuat kita tersenyum. Dari situ, kita bisa belajar untuk memahami bahwa mereka yang berada di balik layar pun memberikan yang terbaik untuk melayani pembeli/follower. Sayangnya, banyak pembeli/follower yang tak sabar dan tak mudah puas.

Untuk mengisi waktu senggang, Miminlicious sangat cocok. Nggak terlalu berat, tapi tetap ada isinya. Bacanya juga boleh lompat-lompat kok. Bukan, maksudnya bukan yang baca yang lompat-lompat, tapi urutan bacanya. Lay out-nya pun nggak kaku. Ada ilustrasi segala. Top.

Nah, gimana? Mau kenal Mincob lebih dalam? Buku ini mungkin bisa menjadi jawabannya….. 😀

Day 95: [Challenge] Love Letter #8

Tadi malam kita ngobrol panjang lagi. Aku selalu suka kalau kita ngobrol panjang seperti itu. Kita memang selalu ngobrol, sih, tapi yang seperti tadi malam.. sekali-kali aja. Aku memintamu untuk duduk dengan tegak dan mendengarkan sungguh-sungguh.

Kira-kira isinya adalah..

Aku mengucapkan terima kasih untuk semua hal yang telah kamu lewati hingga berada di titik ini. Kamu pernah bercerita bahwa apa yang kamu miliki saat ini adalah hasil dari pengendalian diri yang tak main-main. Kamu bukan seperti laki-laki lain yang pergi ke sana kemari, hang out di kafe, membeli makanan yang enak-enak dan selalu menggunakan handphone canggih. Handphone-mu–meski ada 2–adalah yang paling jelek yang pernah kulihat dipakai manusia zaman sekarang.

Terlebih-lebih, aku juga mengucapkan terima kasih karena bersedia membagi segala hasil jerih payah itu, yang kau kumpulkan selama bertahun-tahun, untuk aku nikmati. Mungkin banyak orang mengejekmu dan menganggapmu tak memiliki apa-apa. Sesungguhnya, kamu menunggu seseorang, dimana untuk dialah akhirnya kamu akan menikmati semua itu. Semakin aku menyadari apa yang telah kau lakukan, semakin aku menyesal karena menuntutmu berlebihan.

Kamu telah melakukan banyak hal dan kamu berhasil melakukannya. Aku nggak peduli apa kata orang tentangmu, bahwa kamu “hanya” seperti itu. Bagiku, kamu luar biasa. Mungkin jika dibandingkan dengan orang lain, apa yang kamu capai tidak terlalu tinggi, tetapi niat dan usaha di dalamnya, sangat bernilai.

Saat ini, aku ingin mengingatkan diriku sendiri untuk tak melulu menuntutmu, harus begini dan begitu. Sesungguhnya, aku ingin–mulai sekarang–menikmati setiap hal, sesederhana apapun, bersamamu. Karena aku tahu, kamu mendapatkannya dari hasil keringatmu sendiri.

Aku pun merasa sangat tersanjung karena semua ini. Hanya lelaki yang mencintai pasangannya yang bersedia berbagi. Bukan soal materi, tetapi soal pencapaian. Dan aku ingin, kita terus melakukannya hingga kita sudah tak bersama lagi di dunia ini.

With love,

L

Day 94: [Challenge] Love Letter #7

Kita harus berhenti saling melukai..

Karena tekanan dan hal-hal lain, kadang-kadang emosi memuncak. Kita berubah menjadi musuh, meskipun setelahnya berdamai lagi. Dan selalu, saya menyesal karena pernah menyakitimu, baik dengan ucapan maupun tindakan. Mungkin buatmu itu tak apa-apa, karena sekali lagi, kamu itu sabar dan mudah memaafkan. Itu semakin menambah rasa bersalahku.

Yang kutahu, ketika kita bertengkar, kamu selalu berusaha untuk tak mengucapkan kata-kata kasar, tak bernada tinggi, dan tak melakukan tindakan yang merendahkan. Hanya, hal-hal yang tak sesuai denganku, “ketidakpekaanmu” -menurutku- itulah yang membuat aku sering ngambek. Dan mungkin aku bisa belajar untuk menerima semua itu. Toh, yang sempurna hanya Tuhan, manusia tentu jauh dari itu.

Dear kamu,

sebelum memulai sebuah bangunan yang baru, kita harus mempersiapkan banyak hal. Terutama kedewasaan berpikir. Untuk tak berlaku seperti “pemangsa” bagi yang lainnya. Kalau tidak, setiap hari pekerjaannya adalah bertengkar terus. Aku ingin membuang dari pikiranku kemungkinan untuk menganggapmu sebagai musuh. Dalam persoalan apapun, kamu bukanlah musuhku, sebaliknya juga begitu. Dengan pemikiran itu, aku ingin kita bisa saling mengasihi dan tak tega melukai.

Mungkin, teori hanyalah teori yang mudah diucapkan. Banyak orang yang sudah berumah tangga dan mengeluh tentang betapa sulitnya menciptakan keluarga yang harmonis. Tidak, jika pun betul, aku ingin menjadikannya dorongan positif untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

Terima kasih ya, untuk teladan mudah memaafkan itu. Kamu tak menyimpan dendam lama-lama dan selalu berlaku lembut, sekali pun sedang dalam kemarahan.

With love,

L

Day 92: [Next Chapter] Dokumen yang Harus Disiapkan

Namanya aja belum pernah menikah, sama sekali nggak tahu apa aja yang harus disiapin, termasuk dokumen-dokumen. Dulu mikirnya gampang aja. Tinggal ke catatan sipil, lalu ke gereja, dan pesta deh. Hehehe. Berikut beberapa hal yang perlu banget disiapin oleh pasangan yang akan menikah.

  • Surat tanda imunisasi TT/tetanus.

Ini bener-bener mengagetkan deh bagi saya. Masa, udah gede gini masih harus imunisasi juga. Pertanyaan lain, kenapa harus sebelum nikah? Ada apa? Bahkan, ada rumor yang menyebut-nyebut bahwa imunisasi hanya bisa dilakukan di desa asal. Whatt? Kalau gitu, ya, saya bisa rugi dong, harus bolak-balik antar pulau yang jauhnya minta ampun. Hanya demi imunisasi. Setelah saya tanya mb Wiwin, ternyata imunisasi sepertinya bisa dilakukan di mana saja. Iyalah. Kan, sama aja. Masa harus di tempat asal. Bayar pun nggak apa-apa, asal nggak mahal-mahal banget. Kalau mahal, ya mending saya pulang aja. Lalu, kenapa imunisasi harus dilakukan sebelum nikah? Nahh.. ternyata, setelah menikah, perempuan bisa saja mengalami luka-luka, baik luka saat melahirkan maupun ketika “berhubungan”. Oke, ini agak-agak gimana.. Tapi, dipikir-pikir bener juga. Jadi, untuk mencegah terjadinya hal-hal yang bisa membahayakan jiwa perempuan, ya, diadakanlah kebijakan imunisasi sebelum menikah. Udah gitu, bukan hanya sekali, bisa 2-3 kali. Huhu. Padahal saya takut jarum. Udah lama banget nggak kena jarum suntik sejak kena DB beberapa tahun lalu. Nggak adilnya lagi, cowok nggak diwajibkan imunisasi. Padahal, cowok kan bisa juga terluka ya? Haha. Maksudnya, terluka dalam aktivitas sehari-hari. Tapi, baiklah.. demi kebaikan, akan kita jalani. Yang belum dan harus dilakukan adalah: menanyakan di mana tempat yang bisa imunisasi serta mengambil suratnya.

  • Surat dari gereja

Ini beda-beda sih ya, tergantung kita menganut kepercayaan apa. Bahkan, beda gereja pun bisa beda aturan. Jadi, biar jelas dan nggak bolak-balik, ya harus langsung menghubungi pendetanya. Bukan hanya surat, kita juga perlu mengatur persiapan pranikah di gereja, berupa pertemuan beberapa kali agar kita punya bekal untuk menjalani rumah tangga kelak. Ya, memang awalnya nggak tau sama sekali gimana cara kerja. Setelah bertemu dengan yang berwenang, akhirnya jelas. Pertemuan pun bisa diatur tergantung waktu kedua belah pihak. Nah, biasanya sih pemberkatan dilakukan di gereja wanita. Namun, kalau ada kasus khusus, misalnya soal jarak dan berdasar kesepakatan kedua belah pihak, ya, boleh juga dilakukan di gereja pria. Hanya saja, harus ada surat dari gereja asal wanita yang intinya menyerahkan pemberkatan dilakukan di tempat lain. Selain itu, ada syarat lain agar pernikahan itu disahkan oleh gereja, yaitu pernyataan belum pernah menikah sebelumnya. Katanya, surat ini bisa diambil dari catatan sipil setempat. Memang nggak semua gereja meminta itu, lebih baik dipersiapkan aja. Dokumen lain adalah surat baptis dan surat sidi.

  • Kartu keluarga dan KTP yang dilegalisir

Ini dibutuhkan bukan hanya di pencatatan di gereja, tetapi juga untuk mendaftarkan pernikahan di catatan sipil. Yang penting sih, KTP diri sendiri, orangtua, dan saksi. Semuanya harus dilegalisir di kecamatan.

  • Pasfoto

Pasfoto itu penting banget. Kalau gereja butuhnya pasfoto berdampingan, itu bisa bikin sendiri, bisa juga di tempat-tempat bikin pasfoto. Perlu juga disiapkan pasfoto ukuran 3×4 untuk melengkapi dokumen-dokumen lain.

Nah, secara umum itulah beberapa dokumen yang perlu disiapkan. Saya dan dia masih berjuang untuk melengkapi semuanya, belum mengajukan. Semoga dimudahkan dan kami diberi kesehatan untuk mengurus semua itu. Amin.

Minta doanya juga, ya? 😉