[Inspirasi Jumat] Sekolah Kehidupan

Minggu ini kami belajar tentang “Sekolah Kehidupan”.

Apakah itu?

Di sekolah, biasanya yang kita lakukan adalah belajar. Kita juga mempunyai tujuan yaitu lulus dengan nilai yang baik. Jika tidak belajar sungguh-sungguh, bisa jadi kita akan tinggal kelas atau nilainya anjlok. Sebaliknya, jika belajar dengan benar, perjalanan kita mencapai tujuan akan lancar.

Begitu juga sekolah kehidupan. Selama hidup, kita belajar memahami apa yang kita alami, nikmati, dan jalani. Kita juga belajar dari kesalahan. Setiap kita merasa putus asa, di sanalah kita sudah kalah. Menganggap bahwa kehidupan di dunia ini adalah sebuah sekolah sedikitnya akan membuat kita lega. Di sekolah, kesalahan adalah tanda bahwa kita telah berusaha. Kita bisa mengulangnya hingga benar.

Intinya adalah tidak jemu-jemu berusaha melakukan yang terbaik alias pantang menyerah. Sekali merasa putus asa dan bosan dengan segala pelajarannya ya sudah kita akan menjalani hidup tanpa makna. Hampa. Jadi, kita perlu antusias untuk belajar di sekolah kehidupan.

Dalam proses bersekolah, hal yang bisa menjadi jebakan bagi kita adalah merasa sudah tahu. Orang yang merasa sudah tahu segalanya tidak pernah bisa belajar hal-hal baru. Padahal, pengetahuan adalah sesuatu yang terbuka dan sangat luas. Jika kita sudah mengklaim kita bisa dan tahu, ya akhirnya kita tak menemukan hal-hal menarik lain.

Begitu pula dalam hidup ini. Saat diberi pelajaran yang sama berulang-ulang dan kita bosan, yang rugi adalah kita sendiri. Seharusnya kita bisa melihat dari sudut pandang berbeda. Kita memahami dengan cara yang berbeda dan itu akan memperkaya hidup kita setiap hari.

Jangan menyerah, tetap berpikir positif, dan jalani sekolah kehidupan dengan antusias. Semangat!

[Pregnancy] Minggu 27 – Perlengkapan Bayi Baru Lahir

Waktu begitu cepat berlalu. Usia kehamilan sudah mencapai minggu ke-27. Artinya, seorang bayi akan lahir tidak lama lagi. Horey, akhir-akhir ini saya sering membayangkan seperti apa ya nanti rupanya. Dari dulu, saya juga terkagum-kagum dengan mungilnya bagian-bagian tubuh bayi yang baru lahir. Dan sebentar lagi.. dia akan lahir 🙂 🙂 🙂

Eits, tapi tunggu dulu. Sebuah “peringatan” dari ibu saya beberapa waktu lalu seperti menyentak. “Sudah beli-beli perlengkapan?” Oh, iyaa… belum. Belum beli-beli apapun. Mungkin karena tak sadar bahwa waktu berjalan begitu cepat. Masih terpaku pada hal-hal lain yang harus diselesaikan. Dan saya pun mulai bingung harus membeli apa saja untuk keperluan bayi yang baru lahir.

Oke, saya mencoba searching dan inilah beberapa hal yang bisa saya dapatkan dan menjadi list belanja minggu-minggu ini.

  • Baju dan celana. Catatan: cari yang nyaman dipakai. Lengan panjang dan pendek harus ada supaya bisa disesuaikan dengan kebutuhan.
  • Kaos kaki dan sarung tangan. Biasanya bayi selalu butuh dua hal ini supaya ia selalu merasa hangat.
  • Topi. Sekali lagi, bayi butuh kehangatan.
  • Selimut
  • Handuk
  • Kain bedong
  • Popok/diapers
  • Botol susu
  • Sikat botol
  • Sabun/shampo bayi
  • Body lotion
  • Bedak bayi
  • Baby wipes (tisu khusus bayi)
  • Bak mandi bayi
  • Gunting kuku bayi
  • Baby oil
  • Bantal bayi
  • Perlak
  • Washlap
  • Tas bayi
  • Gendongan

Masih belum lengkap dan terlalu acak ya hihihi. Ya, nanti sembari jalan biar tahu mana aja yang benar-benar butuh dan mana yang dibeli hanya karena lapar mata. Menurut pengalaman berkunjung ke toko-toko perlengkapan bayi, perlengkapan bayi umumnya eye catching dan memanggil-manggil kita untuk menguras isi dompet. 😀

[Resensi Buku] Sejak Awal Kami Tahu, Ini Tidak Akan Pernah Mudah – Sisimaya

Dua jalan bercabang dalam hutan. Dan aku-

Aku memilih yang jarang ditempuh

Dan perbedaannya besar sungguh.

“Jalan yang Tak Dipilih” – Robert Frost

Pikiranku dipenuhi dengan satu tanda tanya yang tak seorang pun bisa membantuku memberikan jawaban. Benarkah jalan dengan semak belukar yang belum pernah ditempuh itu kelak akan membawa perubahan besar dalam hidupku?

Agus dalam dilema. Kariernya sebagai auditor di kosmopolitan Jakarta sedang menanjak, namun sang kakak memintanya pulang ke Desa Manggar Wangi di Blitar. Mas Bayu membangun mimpi membuat pabrik gula jawa. Dan Agus diminta untuk membantu mewujudkan mimpi itu. Banyak yang Agus pertaruhkan; kenyamanan pekerjaan, cinta sang kekasih. Maka, jalan mana yang akan ia pilih?

♣♣♣

Judul: Sejak Awal Kami Tahu, Ini Tidak Akan Pernah Mudah

Penulis: Sisimaya

Penerbit: Diva Press

Cetakan pertama: 2016

Jumlah halaman: 268

ISBN: 978-602-391-080-9

♣♣♣

Tak salah jika saya mengatakan bahwa dari sekian buku yang pernah saya baca, bersama novel ini saya mengalami salah satu proses pembacaan yang paling memuaskan.

Saya akan menjelaskannya dalam beberapa poin.

Sebuah novel akan memikat sejak awal dari judulnya. Ada jenis-jenis judul yang “membosankan”. Ada yang terdengar sangat elegan. Nggak semua penulis mampu membuat judul yang keren dan memancing perhatian. Nah, novel ini, secara khusus bagi saya, judulnya sangat menarik. Panjang sih, tapi beda. Setelah membaca keseluruhan cerita, kita akan menyadari bahwa judul ini memang sangat cocok. Nggak berlebihan dan nggak kurang. Pas.

Yang kedua, halaman pertama. Pembaca yang baik pasti tidak akan melewatkan halaman pertama. Di sanalah para pembaca akan memutuskan apakah novel ini akan menyajikan sebuah cerita yang menarik atau tidak. Di sanalah biasanya jiwa sebuah novel terletak.

Ada perbedaan yang mencolok antara ibuku dan gula jawa soal rentang waktu aku mengenal keduanya. Hlm. 7

Ketika membaca kalimat pertama ini, saya mulai merasa sedang jatuh cinta. Ini novel yang tepat untuk saya, begitu bisikan dalam hati. Yap, semakin jauh membaca, saya merasa semakin suka dengan gaya bahasa dan ritme yang disajikan penulis. Ia bercerita dengan perlahan tetapi penuh makna. Tidak ada kalimat yang terbuang sia-sia karena semuanya saling menopang sebuah cerita yang utuh.

Dalam menuturkan ceritanya, penulis menggunakan alur maju. Ia bercerita tentang kehidupan Agus yang ditinggal pergi (meninggal) oleh bapaknya yang berprofesi sebagai penderes. Penderes adalah sebutan bagi orang-orang yang menyadap nira dari batang-batang bunga kelapa. Bukan hanya menderes, sang bapak juga seorang pengrajin gula jawa tradisional.

Setelah sang bapak meninggal, hidup Agus berubah drastis. Ia diangkat menjadi anak oleh Pak Lurah atas dasar balas budi kebaikan bapaknya pada masa lalu. Agus pun memiliki kesempatan untuk meneruskan sekolah hingga ia berhasil menjadi seorang trainer dan auditor di sebuah perusahaan sertifikasi internasional yang memiliki cabang di Jakarta.

Singkat kata, hidup Agus sudah sempurna. Namun, jalan bercabang itu tampak ketika kakak angkatnya, Mas Bayu datang menawarkan sebuah kesepakatan. Mas Bayu memintanya pulang kembali ke desa di Blitar untuk membuat sebuah pabrik gula kelapa berbentuk cair.

Bukan pilihan yang mudah bagi Agus mengingat ia telah berhasil mencapai puncak kehidupan. Ia harus kembali turun dan memulai segala sesuatu dari nol bersama keluarganya. Ia juga harus meninggalkan kekasihnya, Anggi, di Jakarta.

Cerita yang sarat konflik psikologis ini benar-benar dikemas dengan menarik oleh penulis. Kita akan larut dalam pergulatan batin tokoh Agus sehingga membuat kita ikut berefleksi tentang kehidupan. Kalau saya berada dalam posisi Agus, jalan apa yang akan saya pilih? Senangnya, meskipun pilihan Agus ini terlihat nggak masuk akal, penulis dengan telaten menjabarkan alasan-alasan yang tepat sehingga tak berkesan sekadar dongeng.

Bagian ketiga yang membuat saya mengagumi novel ini adalah kemampuannya mendeskripsikan para tokoh dengan baik. Ada konsistensi yang nyata ketika penulis menyebut Mas Bayu adalah orang yang sangat tekun. Artinya, di dalam seluruh cerita, karakter itulah yang bisa kita dapatkan dari Mas Bayu. Begitu juga dengan Ratna dan Agus.

Minggu demi minggu berlalu. Berat badan Mas Bayu turun drastis. Aku tahu jam tidurnya sudah sangat kurang dibanding kebutuhan tidur manusia normal. Sebenarnya dari dulu Mas Bayu memang bukan tipe orang yang senang tidur berlama-lama. Hlm. 122

Hal selanjutnya adalah ide. Memilih sebuah cerita yang berlatar kedaerahan bisa dibilang gampang-gampang susah. Bisa jadi terlalu datar atau justru menarik. Menarik ketika penulis mampu menggali dengan dalam segala persoalan yang ada di daerah tersebut dan menjabarkannya dalam sebuah kisah. Kehidupan para penderes, yang tertekan oleh harga gula jawa yang rendah, adalah kegelisahan yang ingin diungkapkan penulis. Begitu juga dengan kebiasaan hijrahnya anak-anak muda ke kota untuk mendapatkan penghidupan yang layak dan meninggalkan tanggung jawab mereka di desa. Semua menyatu dalam sebuah cerita yang awalnya tampak seperti keping-keping masalah. Menyatukan isu-isu semacam itu membuat cerita ini lebih mendarat dan penuh nilai.

Selebihnya novel ini berisi banyak sekali hal baru. Kadang-kadang malah tampak seperti “kuliah” dimana kita belajar tentang cara membuat mesin atau cara pemasaran yang efektif. Namun, hal itu masih belum mengganggu kok. Justru menjadi tambahan pengetahuan bagi pembaca.

Ada pula satu bagian yang seperti diulang, yaitu ketika Agus mempertanyakan maksud sang kakak membuat pabrik di desa.

“Mengapa Mas hendak melakukan ini? Apakah hasil dari sawah dan ternak sapi masih kurang?.. ” Hlm. 55

“Tapi, mengapa Mas mau melakukan ini semua? Apakah hasil dari sawah dan sapi masih kurang?” Hlm. 57.

Dan jawaban dari kedua pertanyaan yang sama ini ternyata berbeda. Jika memang untuk menegaskan, pertanyaannya mungkin harus diubah atau dimodifikasi supaya tak terkesan mengulang-ulang hal yang sama.

[Rumah] Repotnya Pindahan Rumah

Sebelum memutuskan untuk pindahan pada Minggu (13/3) kemarin, kami sudah berupaya mempersiapkan segala sesuatunya. Beruntung di pertengahan minggu ada hari libur, jadi kami (baca: dia) bisa bersih-bersih sekaligus ngecat. Memang nggak semua kamar dicat, hanya ruang tamu dan satu ruang tidur. Inget tenaga juga sih. Itu pun udah seharian.

Proses selanjutnya adalah benerin listrik. Beli lampu dan dipasangin. Colokan listrik pun baru ada satu. Jadi, Sabtu pulang kerja, kami datang lagi ke sana untuk memastikan hari berikutnya sudah bisa ditempati.

Malam itu, boks-boks besar sudah memenuhi lantai kamar kos yang sempit. Makin pengap deh udaranya hehe. Yang tersisa di luar tinggal barang-barang yang penting aja. Semua udah di-packing dengan rapi. Dia sepertinya udah nggak betah banget tidur semalam lagi di kamar itu. “Ayo segera pindah!” katanya bolak-balik. Iya, iya. Sabar.

Besoknya, pagi-pagi banget kami udah bersiap-siap. Mandi dulu dong meskipun nanti bakal keringetan lagi. Untuk mengisi tenaga, kami sarapan soto di dekat kos. Sejak tinggal di sana selama 9 bulan, baru kali ini kami sarapan soto di tempat itu. Enak juga ya, komentarnya. Hehehe. Terakhir-terakhir aja baru nyobain, kemarin-kemarin kemana aje..

Setelah selesai sarapan, dia pun pergi mencari pick up. Untungnya di Jogja banyak penyewaan pick up. Mungkin karena kota ini dipenuhi para mahasiswa/i yang demen pindah-pindah kos. Nggak berapa lama kemudian, dia pun datang disusul pick up berwarna putih. Si bapak tampaknya orang Sunda karena bahasa Jawanya nggak fasih. Ia menyapa saya, “Teh.”

Karena sedang hamil, jelas saya nggak bisa bantu-bantu. Jangankan bantuin, berdiri nunggu semua barang pindah ke pick up pun rasanya melelahkan. Untungnya si bapak mau bantu-bantu mengangkut barang juga. Kalau nggak, kasihan banget misua berjuang sendirian.

Jarak antara kos dengan kontrakan baru ini tidak begitu jauh. Hanya saja, mobil tidak bisa masuk persis di depan rumah. Akibatnya, proses ngangkat-ngangkat jadi lebih panjang dan lama. Ya sudahlah, yang penting setelah selesai, si bapak nggak protes dengan kesepakatan bayaran sebelumnya. Hari itu pun cerah. Semua boks udah tiba di ruang tamu dengan selamat.

Namun, nggak sampai di situ aja prosesnya. Yang lebih bikin capek adalah menatanya. Saya diberi kebebasan untuk menata ruang tidur. Yeay. Dia ngurus ruang tamu. Selebihnya boks-boks yang isinya belum kepake dibiarkan dulu teronggok di ruang kosong . Agak ribet juga karena harus bersih-bersihin dan rapiin. Kadang kami beda pendapat soal barang tertentu mau diletakkan dimana. Atau soal apa dulu yang dikerjakan. Asli, masih banyak banget yang butuh perhatian. Ya, karena sudah capek, sesekali suara naik beberapa oktaf. Tapi untungnya kami segera sadar kalau berantem dulu justru akan membuat kami semakin capek. Kami pun berusaha menenangkan diri lagi dan mulai menyelesaikan semuanya pelan-pelan, satu demi satu.

Sekitar pukul 3 sore, semuanya hampir udah tertata. Hampir. Hehe. Yang penting-penting sudah ada di tempatnya, seperti kasur (penting banget bagi bumil supaya bisa istirahat) dan baju-baju. Malamnya, kami sudah bisa menyelonjorkan kaki sambil ngeteh dan nyusu. Fyuhh, hari yang berat, terutama bagi dia. Semoga rumah baru ini membuat kami lebih bergembira dan bahagia. Saya pun menjadi lebih produktif menulis. Semoga 🙂

[Mari Merajut] 2 – Teknik dan Alat Merajut

Dari penuturan Mbak Mita, ada dua teknik dasar rajut yaitu crocheting dan knitting. Bedanya apa? Crocheting adalah teknik merajut dengan menggunakan sebuah benda serupa jarum yang disebut hakpen, sedangkan knitting menggunakan dua alat serupa jarum yang disebut breien

Kedua teknik ini sah-sah saja digunakan untuk merajut. Namun, bagi pemula dianjurkan menguasai teknik crocheting terlebih dahulu karena dianggap lebih mudah. Meskipun menggunakan teknik crochet akan membutuhkan lebih banyak benang daripada knit. Hasilnya pun disebut-sebut lebih kaku dan padat.

Nah, setelah mengenal kedua teknik ini secara umum, langkah selanjutnya adalah mempersiapkan alat dan bahan. Agar lebih mudah–sesuai saran–maka saya akan belajar crochet terlebih dahulu.

Alat utama yang dibutuhkan adalah: hakpen. Hakpen ada bermacam-macam alias beberapa ukuran. Ukuran hakpen yang bisa digunakan lebih baik menyesuaikan dengan benang yang akan dipakai. Macam hakpen pun ada banyak, yaitu yang terbuat dari besi, plastik, dan sebagainya. Silakan dipilih tergantung kenyamanan. Peralatan lain standar saja, seperti gunting dan penggaris.

Untuk bahan merajut, kita bisa memilih beragam benang, tergantung produk yang akan dibuat. Sebagai pemula, benda yang menurut saya paling mudah dibuat adalah syal. (Lagipula, saya tergila-gila dengan syal). Setelah mencari tahu jenis benang apa yang cocok untuk syal. Ternyata oh ternyata.. ada banyak jenis yang bisa dipakai. Sampai saya menjadi bingung hahaha.

Okelah, postingan selanjutnya saya akan share pengalaman membeli bahan dan alat. Semoga bisa direalisasikan 😀

[10 Film Indonesia] 4 – Janji Joni (2005)

Film keempat: Janji Joni.

Butuh waktu cukup lama bagi saya menyelesaikan film ini. Menurut saya, ceritanya kurang menarik. Ide yang diusung sih keren: bagaimana supaya kita menikmati dan mencintai pekerjaan. Bukan terpatok pada uang segala.

Contohnya si Joni yang berprofesi sebagai pengantar film. Ceritanya, zaman dulu film itu harus diantar dari satu bioskop ke bioskop lain. Itu pun nggak bisa full episode, hanya sebagian karena harus bergiliran. Jadi, tugas Joni adalah memastikan film nggak putus di tengah-tengah karena ia terlambat tiba di tempat pemutaran.

Agak nggak praktis juga ya sistem kayak gitu. Beda banget dengan sekarang. Tinggal copy paste file. Alahh.

Suatu hari, Joni melihat seorang gadis cantik yang menonton film bersama pacarnya yang temperamental dan perfeksionis. Mereka bertemu dan saat hendak mengetahui siapa namanya, si cewek hanya meminta Joni untuk memastikan film yang akan mereka tonton tidak putus. Setelah itu, Joni bisa tahu siapa namanya.

Joni pun berjanji untuk mengantar film dengan tepat waktu sama seperti yang selama ini ia lakukan.

Apa daya, dalam perjalanan, Joni menemui banyak banget hambatan. Mulai dari motornya dicuri, tasnya dicuri, harus menggantikan orang (sebagai figuran dan pemain drum), dan sebagainya. Keseluruhan isi film adalah seputar bagaimana Joni mengalami banyak masalah sebelum tiba di bioskop.

Rasa-rasanya kok nggak masuk akal karena waktu yang terbuang sangat banyak. Dan ternyata Joni disebutkan hanya terlambat beberapa menit saja.

Tapi, dari film ini, ada beberapa hal yang cukup menarik:

Pertama, tentang pekerjaan sebagai sesuatu yang disukai. Meskipun hanya sebagai pengantar film, Joni cukup berdedikasi. Ia benar-benar memegang profesionalitasnya. Saat gagal untuk pertama kalinya melaksanakan tugasnya, ia terlihat sangat sedih. Track record-nya dirasa tercoreng.

Kedua, ada ambiguitas dimana kita bertanya-tanya apakah Joni sebenarnya ingin mengantar film tepat waktu karena bertemu gadis cantik atau lebih kepada komitmennya terhadap pekerjaan? Agak blur di bagian ini karena kalau alasannya hanya karena si gadis cantik bernama Angelic, rasanya terlalu rapuh. Tapi, tampaknya bukan itu, mendengar dari apa yang dikeluhkan Joni pada saat tiba di bioskop.

Joni diperankan oleh Nicholas Saputra yang mana aktingnya menurut saya pas-pasan. Kalimat-kalimat tanggung dengan nada yang mengambang. Agak aneh. Saya jadi mikir kenapa ya dulu sempat nge-fans sama cowok satu ini. Di film ini pun bertabur banyak bintang, seperti Rachel Maryam, Mariana Renata, dan sebagainya. Namun, kehadiran mereka sepertinya nggak berdampak pada film secara keseluruhan.

[Inspirasi Jumat] Bertumbuh

Saya sangat terinspirasi dengan sebuah aplikasi di gadget saya bernama Memrise. Aplikasi ini sangat menolong saya untuk mengingat kata-kata dalam bahasa Inggris beserta maknanya. Untuk memudahkan, Memrise pun menggunakan gambar yang sesuai dengan kata yang dimaksud. Nah, setelah diberi waktu untuk mengingat, Memrise mulai mengetes seberapa banyak kata yang sudah ada dalam kepala. Setiap kali sebuah kata dijawab dengan benar, ada ikon seperti benih yang tumbuh dimana daunnya bertambah satu demi satu.

Ilustrasi yang menunjukkan ingatan kita terhadap sebuah kata ini membuat saya merenung cukup dalam. Bukan hanya untuk mengingat sesuatu, untuk meraih sesuatu pun perlu usaha berkali-kali sehingga menghasilkan pertumbuhan benih. Semakin sering dilakukan dengan kualitas yang semakin baik, daunnya akan semakin lebat, lalu berbuah. Semakin banyak usaha yang dilakukan, kesempatan untuk melihat buah pun akan semakin besar. That’s it. Saya langsung menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari melakukan pekerjaan, membina relasi, dan sebagainya. Semua butuh proses. Semua butuh usaha.

Nah, pertemuan Jumat ini, temanya adalah pertumbuhan. Seperti tanaman yang perlu waktu untuk menghasilkan buah yang baik, ada proses yang harus dijalani, kita jalani. Dalam proses itulah segalanya diuji. Seandainya kita bisa bertahan dan konsisten melakukan segala sesuatu yang bertujuan untuk mendukung pertumbuhan, maka kita pasti akan mendapatkan hasil maksimal.

Lalu, apa saja halangan yang membuat kita tak bertumbuh?

  • Abai terhadap proses pertumbuhan, membiarkan hidup kita mengalir apa adanya tanpa refleksi setiap hari. Kita tidak tahu akan mengarah kemana, apakah hidup kita digerogoti penyakit atau tidak. Sebaliknya jika kita berusaha menyadari dengan sungguh-sungguh apa yang kita lakukan hari ini, niscaya kita akan melihat langkah-langkah positif untuk memperbaiki diri.
  • Tidak mau menerima sumber makanan yang baik. Ada orang yang merasa supertahu sehingga tak bersedia belajar dari manapun untuk membuat dirinya semakin baik dari hari ke hari. Mereka akan stagnan di tingkat tertentu dan tak mengalami pertumbuhan. Bila bertumbuh pun hasilnya tak signifikan alias lambat.
  • Tidak fokus pada pertumbuhan diri sendiri, tetapi mengurusi orang lain. Eits, ngapain sih kita mengurus pertumbuhan orang lain. Ingat, kita punya tanggung jawab yang lebih besar yaitu memperhatikan pertumbuhan kita secara pribadi alias terus-menerus memperbaiki diri. Efek pertumbuhan kita pasti akan terlihat dan menginspirasi orang lain untuk menjadi lebih baik. Begitu kan?

Jadi, apa yang menghalangi Anda mengalami pertumbuhan setiap hari?