Day 38: Track Lari Baru

Jadi, ceritanya.. saya udah lama pengen ke tempat ini lagi. Udah pernah sih beberapa kali. Namanya Embung Tambak Boyo. Dari tempat tinggal saya, hanya sekitar 300 meter. Ini adalah semacam waduk yang ukurannya lumayan luas. Pada sore hari, terutama hari Minggu, di tempat ini banyak orang yang nongkrong. Mereka kebanyakan anak-anak muda dan berpasang-pasangan. Hihi.

Suasananya memang enak. Udaranya segar. Sisi sebelah sana berbatasan dengan bukit. Meskipun tidak luas, jalannya sudah lumayan datar dan diaspal. Nah ini cocok untuk jalur lari di sore hari. Hari Minggu lalu, saya mencoba datang ke sana. Berbekal sepatu yang ditenteng (karena saya belum yakin dengan jalurnya), saya jalan kaki. Untuk parkir motor, biasanya harus membayar dua ribu rupiah. Ternyata, di sana rame banget. Hampir setiap sisi ada orang yang nongkrong. Ada yang membawa kamera untuk berfoto. Ada juga yang membawa anjing peliharaan. Ada yang membawa pacar. Dan ada yang membawa alat memancing.

Pada sore hari, Embung Tambak Boyo memang adem. Nyaman juga buat ngobrol sambil memancing. Atau sekadar duduk menikmati aktivitas orang lain. Saya senang telah mencoba datang ke sini. Mungkin besok-besok, saya akan menyediakan waktu di sore hari untuk jogging lagi. Kesulitan saya untuk bangun pagi hari akhirnya terpecahkan. Hahahaha.

Ada yang mau ikut?

Iklan

Day 36: Ponakan Baru

odellllll

Thanks God, akhirnya punya ponakan. Hehehe. Ia lahir 27 September 2013, beda satu hari dengan ibu saya. Rasanya seneng meskipun ga ada di sana buat cium dan gendong. Liat fotonya aja udah membuat hati jadi mekar berbunga-bunga. Hahaha. Segitunya ya. Iya. Soalnya ini yang pertama. Biasanya cuma liat ponakan orang lain.

Namanya Cordellia. Panggilannya Odel? Haha. Lucu juga. Lucu dan terkesan tomboy.

“Hai Odel, selamat datang ya ke keluarga kami. Semoga kehadiranmu membuat dunia jadi berbeda, lebih baik dan lebih berwarna. Jadilah anak yang patuh pada orangtua dan taat pada Tuhan. Sayangi mama dan papa karena mereka pasti sangat menyayangimu. Tante Leni akan pulang suatu saat nanti dan kita bisa main sepuasnya. Love you”

Day 27: Menemukan Tuhan..

Saya bukan orang yang terlalu religius. Bagi saya, agama adalah bungkus. Sementara sosok Tuhan belum bisa sepenuhnya saya lukiskan. Hingga saat ini, saya masih terus belajar memahami keberadaan-Nya. Saat sedang sedih dan sendirian, saya mendapati uluran persahabatan yang tulus, yang tidak pernah saya dapatkan di manapun. Saat sedang bingung dan putus asa, saya dituntun untuk mengambil keputusan yang tepat. Saat sedang ingin melanggar aturan, Ia muncul sebagai Guru yang berdiri dengan tegas dan menggeleng-gelengkan kepala tanda melarang.

Saat ini, saya sedang merensensi buku berjudul The Book of Jesus. Isinya kurang lebih tentang mengenal sosok Yesus yang memiliki beragam peran. Ia adalah Gembala, Tuhan, Raja, Sahabat, bahkan Kekasih. Penjelasan seperti ini membuat pemahaman saya semakin diasah. Pencarian berdasarkan pengalaman menjadi semakin genap. Saya suka juga sih kalau ada orang-orang yang berteori mengenai siapa Tuhan itu. Namun, rasanya lebih afdol jika saya pada akhirnya mengalami teori itu bukan saja hanya mengamini pengalaman orang lain.

Sekarang saya paham, dalam krisis tertentu, Ia sedang memberi saya kesempatan untuk mengenal siapa Dia. Hari demi hari. Waktu demi waktu. Pelajaran ini seolah tak kunjung selesai. Saya maklum, Ia adalah Tuhan. Ia tak terbatas dan luar biasa. Bagaimana kita bisa mengklaim sudah mengenal Dia hanya dalam waktu singkat saja? Mustahil.

Salah satu pengalaman yang berkesan dalam pengembaraan menemukan Tuhan adalah doa-doa yang terjawab. Kebetulan-kebetulan yang beruntun. Bukan, bukan hanya pemenuhan materi saja. Itu hal yang menurut saya sangat merendahkan kemampuan-Nya. Ingat, Ia tak terbatas, bukan? Tetapi maksud saya adalah hal-hal sederhana yang menyentil. Ketika kita sedang tak bersemangat, Ia hadir dalam sapaan seorang teman yang sudah lama tak bersua. Ketika kita sedang butuh kekuatan, Ia menyapa melalui renungan pagi hari itu. Kepedulian-Nya itu yang membuat saya begitu takjub. Segala teori di dunia ini yang mencoba menjelaskan perihal ‘kebetulan’ menurut saya tidak ada artinya dibanding pemahaman bahwa ada sebuah tangan raksasa yang mengatur segala sesuatu.

Oleh karena itu, dalam masa-masa paling kelam, hal itu yang paling saya ingat. Saya tidak ingin berusaha supaya terlihat baik. Dosa saya banyak. Kalau dipikir-pikir, apakah saya masih layak untuk melanjutkan sesi pengenalan ini? Tuhan bisa saja bilang: “Pergi, tidak ada lagi tempat bagimu!” Namun, saya yakin kok Tuhan tak putus asa semudah itu. Walaupun pada saatnya Ia membuat saya seolah-olah ditinggalkan. Orang-orang tempat saya biasa bergantung tak bisa diandalkan. Itu mungkin bagian dari pola penyelamatan-Nya.

Sekali lagi, saya bukan orang yang mudah membicarakan iman secara blak-blakan. Bagi saya, itu urusan pribadi. Inti dari curhat saya adalah sekaligus ingin menegaskan dan mengakui, Ia tidak pernah meninggalkan orang yang bergantung kepada-Nya. Jika kamu (yang baca blog ini) pernah membaca tulisan saya mengenai betapa putus asanya saya menghadapi hari-hari yang biasa saja (seperti yang sekarang saya alami), lalu menemukan doa saya terselip di sana; mengenai keinginan saya mendapatkan pekerjaan freelance. Tuhan sudah menjawabnya, teman. Hari ini, saya bahkan akan mendapatkan hasilnya. Saya agak terlambat mengakuinya, ya. Hehe.

Ini satu lagi penemuan dari sekian banyak penemuan yang lain tentang Tuhan, bukan agama. Saya berharap, hari-hari ke depan, Ia tak bosan mengajari saya tentang pribadi-Nya, karakter-Nya, dan ketakterbatasan-Nya di segala hal. Konsep itu membuat saya kuat dan memiliki pengharapan. Pernah mengalaminya juga?

Day 27: Cinta Tiada Akhir

Bahkan ia tak sempat mengucapkan selamat tinggal. Cincin putih yang diberikannya pagi itu masih tersimpan di tempat biasa. Sebuah kotak kecil di dasar lemari. Sesekali aku membukanya, melihat kilaunya. Kadang-kadang sambil tersenyum, tapi lebih sering menangis. Airmata inilah saksi bisu.

Ia bukan seorang pengusaha sukses. Itulah sebabnya aku tak mendapat restu orangtua untuk menerima pinangannya bulan lalu. Hanya seorang penulis freelance di salah satu majalah di kota ini. Menurutku, itu pekerjaan yang hebat. Tapi, apa mereka tahu apa maksudku dengan hebat?

Barangkali tidak. Yang mereka tahu adalah kenaikan saham bulan ini, harga emas, mungkin sesekali iklim politik dan ekonomi di negara ini. Semua itu untuk mendukung bisnis. Ya, bisnis inilah yang telah mencuri hati mereka sehingga tak tersisa untuk Ardian, kekasihku.

“Jadi, apa pekerjaanmu?”

Ardian tampak bersemangat. Sebelumnya, aku sudah wanti-wanti jika Bapak tak terlalu suka siapapun memakai kaos, jins belel, dan sandal jepit. Seperti kebiasaan Ardian selama ini. Dan, hasilnya, ia tampak berbeda dengan stelan jas model terbuka itu.

“Saya penulis, Pak.”

“Penulis? Pekerjaan macam apa itu?”

“Yah, maksudnya, saya mengirimkan tulisan ke beberapa media, dimuat, lalu saya hidup dari itu. Biasa saja.”

Sejak percakapan singkat itu Bapak tak lagi antusias. Diikuti oleh Ibu yang tak pernah mau menyampaikan pesan Ardian jika ia terpaksa menelepon ke rumah. Keadaan ini berlangsung lama, hampir dua tahun. Kebisuan kedua orangtuaku, yang artinya tidak melarang, juga tidak memberi restu, membuatku terkatung-katung padahal umur sudah semakin menanjak.

Tetapi, ketakutan terbesarku adalah, aku tak mampu mengikhlaskan kepergian Ardian dari hidupku. Beberapa bulan terakhir, aku mulai berpikir yang tidak-tidak. Bagaimana jika kami kawin lari saja. Bagaimana jika tidak ada jalan keluar selain itu. Sanggupkah aku menjalani hidup tanpa restu kedua orangtua? Pikiran-pikiran itu berkelebat sehingga membuatku sering tak bisa tidur hingga dini hari.

“Sudahlah, Dik, nggak usah terlalu dipikirkan. Anggap saja, mereka belum mengenalku. Kita hanya perlu waktu sedikit lagi. Nanti jika waktunya sudah tepat, semua pasti lancar,” hibur Ardian. Ia menyikapi persoalan ini dengan dewasa. Mungkin karena pergaulannya dengan seni. Tenang. Mengalir. Diam.

Sebenarnya aku juga bisa tenang. Tetapi rupanya, semakin lama ditunggu, tidak ada satu pun sinyal positif dari Bapak dan Ibu. Begitu keras mereka memegang prinsip yang menurutku konyol itu.

“Paling tidak, dia harus seorang pengusaha. Kecil-kecilan tidak apa-apa. Mau hidup apa kamu dari menulis, ha?! Penjual kata-kata itu hanya omong kosong.”

Aku tak menyangka Bapak bisa berpikiran seperti itu. Padahal, menurutku ia berwawasan luas, meskipun lebih banyak di bidang bisnis. Minimal, ia memahami asas kebebasan, terutama dalam hal memilih jodoh.

“Bapak ingin yang terbaik buatmu, Nak. Kamu tidak usah membantah. Orangtuamu ini sudah makan banyak asam garam kehidupan. Kenapa tidak kau biarkan kami menolongmu?”

Setelah perdebatan panjang itu, akhirnya aku memutuskan bahwa hubunganku dengan Ardian memang tidak bisa dipertahankan. Bagian tersulitnya adalah mengatakannya kepada Ardian. Hari yang kupilih tepat empat tahun kami bersama. Aku mencoba untuk menegaskan hatiku, agar tak berubah pikiran di tengah jalan. Sudah bulat. Aku tak boleh berada dalam bayang-bayang ini selamanya. Aku harus menemukan titik balik.

Tidak sesulit yang kubayangkan. Ardian memahami maksudku. Ia bahkan lebih banyak tersenyum di bawah taburan lampu kuning, kafe langganan kami. Ketika sudah larut dan kami pulang, masih tersisa pertanyaan dalam hatiku. Tetapi kutegur diri sendiri karena bukankah ini yang kuinginkan? Ardian tidak membuatnya terlalu sulit bagiku.

Laki-laki itu hanya meminta waktu.

“Seminggu.”

Aku tertegun. Tak menduga akan mendapat jawaban seenteng itu.

“Apa itu cukup?”

Ia mengangguk mantap sambil meremas jemariku. Matanya memandangku seolah berkata jangan khawatir, semua akan baik-baik saja.

Selama waktu itu, aku merasa kosong. Benar-benar kosong. Ardian juga semakin sulit dihubungi. Sms-sms tidak dibalas, telpon tidak diangkat. Aku tahu ini berat. Mungkin dia sedang menenangkan diri agar bisa berpikir jernih. Dan kekosongan semakin merajalela.

Seminggu berlalu. Akhirnya, penantianku akan berujung pada sesuatu. Aku berharap Ardian akan mengambil keputusan yang paling tepat untuk hubungan kami. Bukan saja karena mengingat empat tahun yang begitu lama, tapi juga kekuatanku untuk menerima jika seandainya ia memutuskan hubungan ini.

Belum ada kabar darinya. Sehari, dua hari, seminggu. Sia-sia kuhubungi dengan segala macam cara. Ia seperti ditelan bumi. Aku terkejut ketika mendapati sebuah cerpen di salah satu koran lokal siang itu atas nama Fradian. Itu dia. Kubeli, kubaca dengan teliti, ini kisah kami. Dan kudapati kejanggalan. Cerpen itu belum selesai. Setelah masa pertapaan Satria, sang tokoh utama, habis sudah ceritanya. Bagaimana akhirnya? Apakah mereka tetap mempertahankan cinta mereka? Kenapa Ardian tidak membuat cerita itu happy ending saja? Dimana Ardian sekarang?

Jogja, 2010.

Day 27: Meninggalkan Jogja

Kota ini mendung. Hujan telah turun sejak sore. Awalnya rintik lalu bertambah deras. Bau tanah basah menyeruak pelan-pelan. Sendu.

Ara yang kukenal sekarang berbeda dengan Ara yang dulu. Orang-orang mengatakan hal yang sama. Sifat pendiamnya muncul setelah beberapa kejadian yang tak semuanya kuketahui.

Kukenal Ara delapan bulan yang lalu. Kami tiba-tiba bertemu di sebuah komunitas seni, yang akhirnya mendekatkan kami. Kurang lebih karena persamaan persepsi dalam memandang dunia ini. Kadang-kadang, keceriaannya membuat semangatku bertambah dua kali lipat. Ia selalu berhasil menjadi kekuatan yang bisa meledak tiba-tiba. Seperti bom.

Tapi, seperti yang baru saja kukatakan, akhir-akhir ini Ara berubah. Beberapa potong kecil cerita yang kudengar adalah mengenai seorang laki-laki yang baru saja dikenalnya.

“Aku akan pindah ke Jakarta , Kal…”

Aku terkesiap. Menatap lurus-lurus ke dalam bola matanya yang bulat.

“Buat apa ke Jakarta ? Jangan bercanda.”

Aku tentu heran. Kami pernah membicarakan ini sebelumnya. Jakarta adalah monster. Titik.

“Aku serius.”

“Buat apa? Kamu sudah nggak cinta Jogja lagi?”

Ia mengerling, menyikutku perlahan, dan tersenyum.

“Sungguh mati aku cinta Jogja.”

Kami tertawa. Itu semboyan yang mewakili perasaan kami berdua sejak pertama kali bertemu.

***

Rupanya tidak ada yang sanggup menghentikan niat Ara. Kuantarkan ia ke Stasiun Tugu, sambil berharap tiba-tiba ia membatalkan  kepergian. Sepanjang perjalanan berbagai pikiran berkelebat. Hingga detik ini, ia belum juga memberitahuku apa-apa perihal tujuannya ke ibukota.

“Hati-hati, Ara. Kamu tak punya siapa-siapa di sana .”

“Jangan khawatir. Aku bisa jaga diri.”

Ketika kereta malam itu membawanya pergi, kuusap mataku lantas cepat-cepat berbalik. Ah, Jogja-Jakarta itu dekat. Kapan-kapan aku akan bertandang.

***

Memang benar teknologi sudah canggih. Komunikasi tak lagi kalah oleh jarak. Tapi itu tidak berlaku bagiku. Kadang-kadang, aku merindukan kehadiran Ara. Komunitas yang kuikuti semakin lama semakin hambar. Tidak ada diskusi-diskusi seru menjelang malam. Biasanya, Aralah pemantik yang melemparkan pertanyaan-pertanyaan mencengangkan.

Kabar pertama yang kuterima dari Ara berwujud email singkat. Sekitar seminggu setelah ia meninggalkan Jogja.

Aku baik-baik saja, Kal. Sudah dapat kerjaan baru. Tapi, yang kucari belum kunjung ketemu. Aku merindukanmu dan Jogja. Salam.

Aku berusaha merangkai sisa memori. Memang dulu ia pernah bercerita tentang kehilangan seseorang.

“Laki-laki itu punya janji,” tukasnya. Waktu itu, aku bertanya kenapa ia muram sepanjang hari. Topik soal pasangan hidup memang jarang kami bicarakan. Mungkin tenggelam oleh hal-hal lain.

Tapi, soal itu selesai sampai di sana . Ara tak pernah lagi menyinggung-nyinggung. Hanya saja, ia semakin muram. Ide-idenya tak lagi cemerlang seperti dulu. Ia lebih suka diam dan mendengarkan.

Surat kedua, kuterima kembali dua bulan setelahnya. Masih berisi tentang rasa kangennya pada kota ini. Mau makan gudeg, tidak ada yang seenak di warung pojok langganan kami dulu. Kalau malam, ia tak lagi sempat menikmati bintang seperti kebiasaan kami di alun-alun selatan. Sambil menikmati wedang ronde, berdiskusi tentang hal remeh-temeh, dan diam-diam mengamati anak-anak muda pacaran ala barat.

“Aku sibuk menghadapi macet,” keluhnya. Aku menghibur sembari merayunya pulang. “Tidak. Aku belum menemukan dia. Aku harus bertemu dia lebih dulu. Janjinya belum ditepati.”

Kureka-reka sendiri seperti apa laki-laki yang membuatnya kekeuh ke ibukota. Bukankah Jogja sudah lebih dari segalanya, kutipku dari salah satu pernyataan Ara.

“Jangan marah, Kal, aku harus menemukannya.”

Aku tidak marah. Aku sadar tidak punya hak untuk marah.

***

Di dalam transjogja ini, kuterima sebuah sms. Aku baru saja pulang dari Malioboro. Memutuskan untuk kembali setelah puas berjalan kaki di bawah guyuran lampu-lampu kuning yang terasa semakin suram. Mencoba mengingat-ingat Ara sambil duduk sendirian di kursi batu yang dingin di depan Benteng Vredeburg. Aku hanya termenung, tanpa sadar mengamati seliweran motor-motor berisi gadis-gadis manis bercelana pendek.

Rupanya Ara. Ia mengabarkan telah bertemu lelaki yang dicarinya sekian lama, secara tidak sengaja di antara kursi-kursi bus kota yang lowong. Kabar itu membuatku sumringah. Kuucapkan selamat, “Kalau begitu, kapan pulang ke Jogja?”

“Tidak. Aku tetap di sini, Kal. Sudah kepalang basah,” balasnya. Aku mengangguk meski gagu. Segurat kerinduan menelusup ke dalam hatiku. Transjogja hampir kosong, seseorang di sudut sana mengamati diam-diam. Ia seperti pernah singgah dalam ingatan. Sekejap, setitik air luruh melewati sudut mataku. Entah karena apa. Tetapi kubiarkan. Sayup-sayup terdengar sebuah nada sumbang, sungguh mati aku cinta kamu, janganlah kau ragu, percayalah ku hanya untukmu…

Buat seorang sahabat, selamat jalan!

Jogja, 15 November 2009

Day 25: Dihadiahi Senyuman Manis

Hari ini saya bangun pagi. Rencananya pengen jogging. Menurut penelitian, jogging (atau olahraga apapun) bisa meningkatkan hormon endorfin dalam tubuh sehingga kita merasa feel good. Akhir-akhir ini saya memang merasa kurang bersemangat. Daripada mengeluh terus-terusan, saya coba aja membuktikan hasil penelitian itu. Masalahnya, bangun pagi itu sulit banget. Ya kan? Iya. Lalu, saya pun mencoba strategi TCBC. Apa itu TCBC? 😀 TCBC adalah Tidur Cepat Bangun Cepat. Wah, ternyata bisa juga lhooo. Saya bahkan bangun 5 menit lebih cepat mendahului alarm. Hebat. Hehehe.

Setelah urusan kamar mandi selesai, saya keluar rumah dilengkapi sepatu dan mp3. Ini barang wajib. Tentunya selain baju lengkap dong ya :p Sampai di luar.. wihh udaranya segeeerrrr banget. Di sepanjang jalan, saya ketemu dengan orang-orang yang sedang menjalankan aktivitas paginya. Ada yang ke pasar, ada yang menyapu halaman, ada juga yang menyiapkan dagangan. Beberapa dari mereka tersenyum manis dan menyapa. Tulus. Menyenangkan rasanya memulai hari seperti itu 🙂

Sesampai di perempatan yang nggak jauh dari tempat tinggal saya, banyak orang berkerumun. Ada apa ya? Saya mendekat. Wah, ternyata baru aja terjadi kebakaran. Ada banyak orang datang dan menonton peristiwa itu. Hehe, katanya sih tipikal orang Indonesia memang begitu. Habis itu difoto dan di-upload ke jejaring sosial. Tapi, tadi ada juga kok yang membantu angkut-angkut. Pemadam kebakaran juga ada. Selangnya masih diulurkan ke rumah yang ternyata berada di dalam gang sempit. Mungkin kejadiannya dini hari tadi. Untung aja cepat ditangani, jadi rumah-rumah sebelah kiri dan kanan ga kena api juga.

Bangun pagi dan olahraga memang bikin badan jadi lebih ringan. Apalagi ditambah sarapan yang cukup. Doa. Dan secangkir kopi. Hari ini jadi lebih siap untuk melakukan apapun. Besok lagi mau?

Day 20: Ayo Lariiii

mp3

Beberapa waktu yang lalu, saya dan Lea melihat benda ini di situs diskon. Ini adalah semacam mp3 dengan bentuk headset sehingga ga perlu kabel yang bikin ribet. Kita tinggal menyantolkan benda ini di telinga sambil beraktivitas dengan bebas.

Kebetulan, kami punya hobi yang hampir sama. Lari. Jadi, ketika benda ini ditawarkan, kami langsung sepakat untuk memesannya secara online. Hari ini, barangnya datang. Horeeee… Besok udah bisa lari sambil mendengarkan musik dengan praktis 😀

Bersyukur barangnya udah sampai dengan selamat dan dalam keadaan baik.. 🙂