Cara Mudah dan Murah Membuat Toko Online

Banyak orang berpikir bahwa membuat toko online tidak mudah dan tidak murah. Sepertinya, hal itu membutuhkan banyak modal dan sulit dilakukan. Ternyata hal itu tidak benar. Kini, ada pilihan bagi siapapun yang ingin membuat toko online dengan mudah dan tentunya murah.

Menjadi pedagang, bukan cita-cita saya. Dalam garis keturunan keluarga besar pun tidak ada yang berhasil menjadi pedagang. Pernah, sih, sesekali saya mencoba. Bermodalkan beberapa ratus ribu, saya membeli barang-barang yang kelihatannya layak jual dan mengirimkannya ke rumah—kebetulan saya ini anak rantau–untuk dijual kembali. Harapannya, saya akan mendapat laba dari kegiatan tersebut. Setelah itu—dalam rencananya—saya akan membeli barang-barang yang lain dan menjualnya lagi. Demikian siklus idealnya.

Sayangnya, harapan tinggal harapan. Barang-barang tersebut tidak kembali dalam wujud uang, tetapi berupa SMS yang berbunyi, “Wah, bagus bangettt. Barangnya buat saya, ya?” Pendek cerita, barang-barang tersebut pun menjadi bagian dari isi lemari kakak, adek, maupun ibu. Hemmm.

Berkaca dari pengalaman tersebut, kadangkala dalam hati muncul keraguan ketika terbesit keinginan untuk menjadi pengusaha. “Ah, nggak mungkin saya bisa menjadi pengusaha. Udah dari sononya saya nggak punya bakat menjadi pengusaha.” Namun, tanpa saya sadari, keinginan untuk terjun di dunia wirausaha tidak bisa dipungkiri. Apalagi dalam beberapa kesempatan, saya bertemu dan mewawancarai beberapa pengusaha-pengusaha muda. Beberapa dari antara mereka memulai usaha dari nol. Artinya, mereka harus belajar keras untuk menjadi seorang pengusaha yang akhirnya cukup diperhitungkan.

Untuk mengetes kadar “darah” wirausaha yang mengalir dalam jiwa saya—jika memang benar ada—saya mulai melakukan bisnis kecil-kecilan di tempat kerja. Niatnya, saya ingin memulai dari kecil, setia dalam hal-hal kecil. Berdasarkan pengetahuan sederhana yang saya dapatkan dari seseorang, ia mengatakan bahwa “usaha” adalah memenuhi kebutuhan orang lain. Jadi, untuk memulai sebuah usaha, kita harus melihat dan mengamati kebutuhan orang-orang di sekeliling kita. Nggak usah jauh-jauh.

Nasihat itu saya praktikkan. Saya mengamati bahwa ternyata teman-teman saya sering merasa kelaparan pada siang hari dan sangat merepotkan jika harus keluar tempat untuk membeli cemilan. Jadi, saya memulai sebuah rencana, yaitu membeli cemilan untuk dijual kembali. Semacam warung sederhana. Untungnya sangat sedikit. Bahkan bisa dibilang hampir tidak terlihat. Namun, saya mendapatkan keuntungan dalam bentuk lain, yaitu pengalaman. Saya mengetahui bagaimana cara yang tepat untuk memperlakukan konsumen. Bukan hanya teori tetapi secara praktik. Kita pasti tahu, kebanyakan teori tidak benar-benar bisa dilakukan. Sebaliknya, kebanyakan praktik seringkali tidak ada teorinya.

Sementara itu, saya mengenal http://jejualan.com. Ini adalah sebuah situs yang membantu para calon entreprenur untuk membuat toko online sendiri. Tentu dengan biaya yang terjangkau. Hal itu menerbitkan harapan kecil dalam hati saya. Artinya, jika saya ingin melebarkan sayap dalam bidang usaha (apapun), kini sudah tak sulit lagi. Semua kini mungkin dilakukan, termasuk (memiliki) membuat toko online sendiri. Jejualan didukung oleh berbagai kemudahan dan layanan yang dibutuhkan oleh seorang pengusaha online. Bayangkan saja, hanya dengan membeli paket Alfa seharga 99ribu/bulan, kita sudah bisa memajang 500 produk. Jejualan pun menyediakan fitur SMS dimana ada pemberitahuan ke ponsel kita maupun pelanggan setiap transaksi. Jejualan bahkan membantu kita dalam SEO sehingga toko online memiliki kesempatan lebih besar untuk menjaring pelanggan. Hayo, jujur saja, banyak dari kita yang masih kurang paham dengan teknik SEO yang baik. Padahal, itu penting bagi siapapun yang ingin berbisnis di dunia maya yang sangat kompetitif.

Harga yang ditawarkan tersebut sangat jauh lebih murah jika kita harus menyewa sebuah toko fisik. Biaya operasional bisa mencapai berpuluh-puluh kali lipat. Kita pun harus menyediakan tenaga khusus untuk itu. Kemudahan-kemudahan yang ditawarkan Jejualan tentunya sebuah kesempatan besar untuk meraih keuntungan dan sukses sebagai pengusaha online. Kita pun memiliki banyak waktu tambahan untuk mengatur strategi penjualan. Nah, kalau masih terasa membingungkan, layanan customer support yang informatif bisa dihubungi 24 jam per hari.

Jadi, jika saat ini Anda sudah sering mengamati kebutuhan orang lain yang kira-kira bisa menjadi peluang besar, satu-satunya langkah pertama yang harus dilakukan adalah mendaftarkan diri ke Jejualan. Selanjutnya kita pun bisa fokus pada penyelenggaraan usaha secara keseluruhan.

Cita-cita saya adalah menjadikan toko online pertama  tersebut sebagai batu loncatan menuju sesuatu yang lebih besar. Saya percaya, setia dan bertanggung jawab dalam hal-hal kecil akan mengantarkan kita menuju sesuatu yang lebih besar dan luar biasa. Ayo membuat toko online sendiri!

Untuk mengetahui lebih banyak tentang Jejualan, pelajari lebih lanjut di sini ya.. 

Iklan

Menguak Rahasia Lewat Kahve

Judul: Kahve, Shamrock & Raven

Penulis: Yuu Sasih

Penerbit: deTeens

Terbit: Mei 2015

Jumlah hlm: 240 hlm

“Saat orang sudah putus asa, hal seremeh apa pun akan dijadikan pegangan harapan.”

Kencana pergi ke ibu kota untuk kuliah sekaligus mencari jawaban atas alasan Saras, kakaknya, bunuh diri. Dia menemukan gambar shamrock (semanggi berhelai tiga) di buku harian kakaknya yang bertanggalkan empat bulan sebelum hari kematiannya, yang juga menjadi entri terakhir di sana. Isi dari halaman yang dipenuhi gambar semanggi itu menyatakan bahwa kakaknya baru saja mendapatkan hasil ramalan yang bagus dari Black Dream, kedai kopi dekat kampusnya.

“Hari ini di Black Dreams aku dapat shamrock di cangkir kopiku. Tentu aku nggak lihat apa-apa di cangkir kopiku selain ampas hitam, tapi si barista kelihatan yakin saat mengatakannya. Katanya itu pertanda akan terkabulnya keinginan terbesar orang yang mendapatkannya. Dia juga bilang kalau gambar itu jarang ditemukan saat pembacaan. Memang cuma ramalan biasa, tapi akan menyenangkan kalau benar.”

**

Saras meninggal karena menjatuhkan diri dari gedung kampus. Adiknya, Kencana, mencoba mencari tahu penyebab kakaknya bunuh diri. Seingat Kencana, Saras bukan tipe perempuan yang mudah menyerah seperti itu. Kencana pun masuk ke dalam lingkaran pertemanan Saras.

Ternyata, semua tidak segampang yang diharapkan Kencana. Banyak teka-teki yang ia hadapi. Ia pun bertemu dengan Linda dan Rasy. Mereka berdualah yang menemani Kencana untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya yang membanjir seputar kematian Saras. Kencana juga bertemu dengan Farran yang mengajarinya tasseografi–teknik membaca peruntungan menggunakan sisa daun teh, bubuk kopi, dan sedimen anggur di dasar gelas (Hal. 10). Farran, laki-laki yang juga pernah berinteraksi dengan Saras pada akhir hidupnya.

Semuanya mengarah pada benang merah yang sama. Namun, setiap orang seakan membiarkan Kencana menemukan sendiri jawaban yang tepat tanpa bermaksud memaksa. Hingga akhirnya Kencana terlibat langsung dalam persoalan inti yang juga dialami oleh beberapa perempuan di kampus tersebut. Bagaimanapun, segalanya telah selesai dan Kencana mengetahui apa yang sebenarnya ia inginkan dalam hidup ini.

**

Di dunia ini hanya ada dua golongan manusia. Kencana menyebutnya sebagai golongan resah dan golongan ikut arus. Dirinya adalah golongan yang terakhir. Baginya, menjalani hidup adalah perkara cara melewati hari dari awal membuka mata hingga kembali menutupnya. Tak pernah ada tujuan spesifik dalam hidupnya. Hal. 24.

Setelah menyelesaikan buku ini, saya menarik napas lega. Rasanya seperti baru keluar dari labirin. Bukan, bukan sesuatu yang membingungkan, tetapi sesuatu yang mendebarkan dan membuat penasaran. Poin ini tentu penting dalam alur cerita karena mampu membuat pembaca menyelesaikan pembacaan hingga akhir.

Tak jarang ada novel yang samasekali tidak menawarkan kejutan dalam kisahnya. Datar saja. Akhirnya proses pembacaan terasa sungguh membosankan. Kalau sudah ketemu buku seperti ini, rasanya ogah untuk menyelesaikannya. Untung saja, Kahve berbeda.

Sejak membuka halaman pertama, saya bisa merasakan bahwa novel ini seperti film-film mikir yang mengajak kita untuk merenung. Kita tidak hanya dibeberi fakta, tetapi diajak menganalisis apa yang sedang terjadi. Peristiwa-peristiwa pun disusun dengan detail dan mengalir secara perlahan pada suatu waktu dan cepat pada waktu lainnya. Kombinasi ini sungguh menyenangkan.

Saya juga menyukai penggambaran tokoh-tokohnya yang kuat. Kepedulian penulis untuk menyisihkan tempat bagi hal-hal remeh membuat pembacaan terasa enak. Misalnya, Rasy yang suka menggosok leher..

Rasy kembali menggosok lehernya–belakangan ini dia sering melakukannya. Hal 235

Bukan hanya Rasy, tokoh-tokoh lain pun berpengaruh pada posisi masing-masing dengan porsinya sendiri-sendiri. Tidak ada yang terlalu menonjol dan tidak ada yang muncul percuma.

Novel ini penuh dengan hal-hal yang berbau psikologis. Saya yakin, sebelum meletakkan kata pertama novel ini, penulis sudah mengendapkan idenya dengan matang hingga Kahve terasa berisi. Bukan sekadar tulisan untuk senang-senang, novel ini juga menyinggung persoalan pelecehan seksual dan sedikit tentang perbedaan orientasi seksual. Hmm, jadi ingat sebuah peristiwa dimana Indonesia pernah geger ketika seorang “dosen” diberitakan memperkosa mahasiswinya.

Kaya, mengesankan, dan jujur. Itulah kata-kata yang tepat untuk melukiskan novel ini. Membacanya, saya kira kita tak akan rugi, justru mendapat pencerahan dan hal-hal baru.

“Carpe diem. Teruslah berusaha, walaupun kepalamu yang keras bilang kalau hal itu mustahil. Hal. 136,”