[Review Buku] Hei, Pacar

Judul: Hei, Pacar!

Penulis: Musdalifah

Penerbit: Mazola

Tahun terbit: 2015

Jumlah halaman: 208

***

“Ketemu dengan pacar itu hanya satu dari banyak cara untuk mencintai. Lo belajar deh ama yang LDR-an, mereka bertahan karena saling percaya. Kunci suatu hubungan bukan seberapa sering mereka bertemu, tapi seberapa banyak kepercayaan yang mereka titipkan.”

Dissa dan Shaka, sepasang kekasih yang penuh dengan keunikan. Berbeda satu sama lain, tapi tetap berusaha untuk saling melengkapi.

Kebiasaan-kebiasaan Shaka dan Dissa yang terlihat tidak seperti sepasang kekasih, justru merupakan pengikat hati keduanya. Kebiasaan yang selalu memantik perdebatan, bahkan pertengkaran, menjadi ramuan penyatu cinta mereka.

Di SMA Negeri 2 Bandung, cinta keduanya bersemi. Selamat membaca!

***

Oke, mungkin ini memang hanya bukan tipe buku saya. Namun, tentu saja bukan berarti buku ini gagal. Bagi para pembacanya—yaitu remaja—tema yang diangkat penulis bisa jadi menyenangkan dan bikin penasaran.

Pernah menonton serial drama korea Meteor Garden di zaman dulu yang ada Dao Ming Shi-nya? Karakter Shaka tidak jauh berbeda dengan Dao Ming Shi. Karakter tersebut sering saya temukan di sinetron-sinetron di televisi Indonesia. Kadang saya agak bingung juga apa menariknya cowok yang cuek, suka marah-marah, dan dingin itu. Mungkin memang umur berpengaruh juga ya. Waktu muda dulu, saya juga pernah tuh tergila-gila dengan tokoh dengan karakter yang seperti itu. Saat ini sih, saya lebih memilih yang baik dan perhatian serta benar-benar bisa nunjukkin rasa sayang sama saya… eaaa *malah curhat*

Sebentar, sebelum saya membahas novel ini secara profesional, saya ingin berceramah sebentar kepada adik-adik yang saat ini merasa sangat patah hati karena cowok yang ditaksirnya justru “kasar” dan tak peduli. Hey, lupakan saja pacaran sama cowok seperti itu. Tunggu dia dewasa terlebih dulu. Lebih menyenangkan lho berhubungan dengan seorang pria dewasa (tentu setelah kamu dewasa juga ya) dibandingkan pria yang tak bisa menghargaimu dan justru membuat tersiksa. Percaya deh sama saya, hehehe.

Oke lanjut. Seperti penjelasan sebelumnya, novel ini bercerita tentang Shaka dan Dissa. Shaka adalah cowok yang sangaaattt cuek (meskipun penulis mengatakan bahwa ia melakukan itu agar Dissa mandiri). Saya sih nggak melihat Dissa terlalu manja. Setidaknya, nggak ada kesan seperti itu saya tangkap dari penjelasan penulis. Justru alasan Shaka itu menjadi mengada-ada dan bikin dongkol.

Nah, dalam hal ini, penulis berhasil mengangkat sebuah karakter yang “mendongkolkan” pembaca. Keberhasilan itu adalah nilai plus yang membuat novel ini boleh menjadi salah satu bacaan di kala senggang. Namun, harus jaga emosi juga ya, haha, siapa tahu akhirnya malah mencak-mencak karena tak setuju dengan perlakuan Shaka terhadap Dissa dan respons Dissa yang terkesan menerima begitu saja.

Dari segi logika, novel ini menawarkan sesuatu yang masuk akal meskipun klise. Misalnya, ketika Dissa tak begitu diperhatikan pacarnya, akhirnya ia mem-PHP cowok lain yang sepertinya menjadi idola di sekolahnya. Betul juga kalau ada yang mengatakan, cewek cantik akan kecantol dengan cowok cuek sedunia. Sedangkan cowok ganteng? Tampaknya kegantengan masih belum bisa mengalahkan kecuekan di mata seorang cewek seperti Dissa. Seberapa besarpun usaha yang dilakukan Fauzan, hati Dissa tetap menjadi milik Shaka.

Cinta memang tak bisa ditebak, ya. Meskipun sudah tersiksa dan ada pilihan yang lebih baik, ya nggak bisa semudah itu pindah kemana-mana.

Di tengah-tengah, saya lumayan merasa bosan membaca novel ini. Mungkin karena konfliknya yang kurang pas dan digarap dengan baik. Endingnya pun tak terlalu melegakan. Mungkin sih berhubungan dengan hal-hal yang sifatnya prinsip dan subjektif tadi. Saya kira, bagi para pembacanya—yaitu para remaja—novel ini bisa menjadi salah satu pengobat kerinduan terhadap sosok Dao Ming Shi yang memabukkan itu. Atau jangan-jangan mereka justru belum lahir ya pada saat itu? Aduhh *tutup muka*

[Review Buku] Senja yang Mendadak Bisu

Judul: Senja yang Mendadak Bisu

Penulis: Lugina W.G. dkk.

Penerbit: de TEENS

Tahun terbit: April 2015

Jumlah halaman: 240 halaman

Bah Kanta masih ingat apa yang dikatakan calon bupati berambut pitak kala itu, “Sss.., bukan buat dimakan..”, bisiknya pelan, mata culasnya melirik ke kiri dan kanan, takut ada yang mendengarkan. “Buat syarat, Ki… ehm buat… anu, sesajen. Minta berkahnya begitu lho, Ki. Namanya juga ikhtiar, sebentar lagi Pilkada, Ki.” Begitu katanya, sambil matanya bergerak-gerak tak mau diam. Barangkali begitulah gelagat manusia yang tak bisa dipercaya, batin Bah Kanta. Bah Kanta tak pernah mengira bahwa senja bisa tiba-tiba bisu.

Pembaca mungkin akan beberapa kali berhenti sejenak selama membaca antologi ini. Selain menikmati suguhan pesona budaya dari berbagai daerah di Indonesia, cerpen-cerpen ini akan meninggalkan jejak untuk direnungkan.

***

Bah Kanta adalah seorang duda yang telah dua tahun ditinggal istrinya. Rumahnya berdiri di tepi batas Dusun Tonggoh dan Dusun Kimaung. Tak ada yang paling diinginkan oleh Bah Kanta selain menanam rumpun bambu di tegalan kosong di samping saungnya. Konon, tegalan itu adalah jatah carik desa.

Ditemui di rumahnya, , carik desa Sukendar tak menghiraukan permintaan Bah Kanta, meskipun telah ditawari sawah yang bisa dipanen tiga kali. Alasannya, ribet ngurusnya. Sementara Bah Kanta memiliki keinginan yang menggebu untuk mencegah para pemburu amatiran dari kota membunuhi hewan-hewan di sekitar saungnya.

Usaha Bah Kanta bisa dibilang gagal ketika mendengar sebuah informasi mengejutkan. Tegalan itu ternyata telah ditawarkan kepada pengembang perumahan. Habis sudah harapannya untuk melindungi caladi bawang yang semakin jarang ditemui.

Senja yang Mendadak Bisu adalah satu dari 21 cerpen yang terangkum dalam buku ini. Benang merahnya adalah budaya; mitos dan adat istiadat yang ada dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Penilaian saya, hampir seluruh cerpen dalam buku ini berhasil membawakan tema besarnya dan memukau saya sebagai pembaca.

Saya menjadi tahu tentang klithik dan resik-resik sendang dari cerpen Penerus Klithik. Piil dan ulun dalam cerpen Piil Pesenggiri. Bahkan saya pun diajak untuk memahami kerumitan di balik penyelenggaraan upacara rambu solo di Toraja. Kemampuan untuk mengangkat sisi lain dalam sebuah cerita adalah keberhasilan, menurut saya. Kita disuguhi hal-hal yang berbeda, dari cara pandang yang berbeda, dan itu menyenangkan. Padahal tema yang diangkat adalah tema yang bisa dibilang klise, sangat biasa.

Dalam novel ini, beberapa cerpen, mengangkat tema tentang percintaan, seperti Battle Tirakat, Gadis di Pulau Seberang, dan Hikayat Terpendam Gadis Lasem. Ada juga tema tentang keluarga dan lingkungan hidup. Percintaan—selain tema yang menarik untuk diangkat—memang bisa menunjukkan betapa kentalnya adat istiadat masyarakat Indonesia. Masih banyak yang percaya mitos dan hal itu berpengaruh besar dalam memutuskan sesuatu soal percintaan.

Mengangkat persoalan budaya di tengah kehidupan modern bisa menjadi sebuah tantangan tersendiri, sekaligus kesempatan. Bagaimana tidak, kita tak pernah bisa lepas dari yang namanya budaya. Tapi, kita juga tak bisa serta-merta meleburkannya dalam kehidupan sehari-hari yang sudah sangat akrab dengan teknologi dan kondisinya berbeda dengan yang dulu. Melalui cerpen-cerpen ini, kita diberi ruang yang berbeda—seolah-olah bukan di tengah masyarakat yang gila gadget—untuk merasakan hal yang dulu pernah ada.

Selain tema, hal lain yang menyenangkan saat membaca buku ini adalah kosa katanya yang kaya. Para penulis, sebagian besar sudah menguasai diksi yang baik. Pembaca akan dimanjakan dengan kalimat-kalimat yang mengalir, seperti “Juru paes itu melenggang. Mendadak tengkukku meremang (hal 140).” Atau “bisikku lirik di samping jasadnya yang ringkih (hal 162).” Dan, “Dengung wanita desa yang khusyuk mengobrol perlahan reda begitu langit mulai berubah warna, dari biru cerah dengan gumpalan awan putih seperti kapas menjadi jingga dengan semburat awan merah laksana bara.”

Ohya, meskipun cerpen-cerpen ini ditulis oleh banyak orang, tidak terlalu kelihatan perbedaan level kualitas. Semua terlihat merata dan hal ini tentu melegakan karena kita membaca buku yang menarik, berisi, dan utuh.

[Review Buku] Meant To Be

Judul: Meant To Be

Penulis: Zee

Tahun terbit: 2015

Penerbit: PING!!!

Jumlah halaman: 231

♥♥♥♥♥

Blurb:

Kepalaku berderu ketika mataku menangkap sosok itu, duduk sendirian di sana sepertiku, tampak hampir tembus pandang di sisi jendela. Kepalaku berderu ketika otakku berputar brutal, mencoba memutuskan satu di antara dua pilihan. Haruskah aku menyapanya? Atau, aku harus tetap menjaga kewarasanku dan tetap duduk di sini?

Kedua pilihan itu berkeliaran di pikiranku, berkelebat dan berputar tanpa henti. Lalu, kilasan-kilasan bayangan dan kemungkinan mengalir di kepalaku, menyuguhkan hasil dari kedua pilihanku.

Jika menyapanya hari itu, akan banyak hal baru yang akan kulakukan bersama Vali dan teman-temannya. Tapi, juga ada banyak hal yang akan terkuak.

Jika tidak menyapanya hari itu, karierku akan bersinar bersama The Black Kit. Namun, akan banyak hunjaman tepat di hatiku.

Tapi, Tuhan selalu punya cara untuk membuat segalanya menjadi yang terbaik.

♥♥♥♥♥♥

 Ahhh.. harusnya saya yang nulis novel ini….

Begitulah pikir saya setelah menyelesaikan seluruh lembaran Meant To Be. Sejak dari halaman kedua, saya sudah terpikat dengan gaya bercerita penulis. Lincah dan ringan. Ia menceritakan banyak hal dengan sederhana tetapi menyenangkan. Tidak jarang saya bahkan terkikik menggeleng-gelengkan kepala karena imajinasi sang penulis yang tertuang dalam buku ini.

Temanya sederhana saja–lagi-lagi yang sederhana itulah yang membuat saya terpesona–adalah tentang PILIHAN. Dalam hidup ini, kita pasti selalu ditawari pilihan-pilihan yang membingungkan. Apa yang akan kita pilih? Berdasarkan apa?

Karena novel ini novel remaja, salah satu pilihan yang diangkat penulis adalah ketika harus berhadapan dengan lawan jenis. Memberanikan diri untuk mengucapkan, “Hai.” atau justru diam saja mengamati. Sangat bener. Seringkali pilihan semacam ini menjadi sesuatu yang berat dilakukan. Namun, kalau nggak dicoba, apakah kita akan kehilangan sesuatu?

Zee menjelaskan dengan sangat menarik mengenai hal yang terjadi pada seorang tokoh bernama Reo berusia 15 tahun. Masih sangat muda. Pada suatu ketika, Reo kebetulan melihat seorang gadis yang duduk sendirian di kafe dan bingung harus bagaimana. Penulis mulai membeberkan kemungkinan-kemungkinan yang akan dihadapi Reo ketika memutuskan untuk menyapa gadis tersebut. Sebaliknya, jika tidak menyapa, Reo pun akan mengalami kemungkinan-kemungkinan yang berbeda.

Untuk membangun sebuah kisah dengan dua alur–secara menarik–seperti ini saya kira perlu bakat dan kemampuan hebat. Tanpa tersandung oleh logika-logika yang tak masuk akal, penulis bercerita dengan mulus. Sebenarnya sih novel ini tidak membuat kita terlalu penasaran tentang endingnya, cara berceritanyalah yang benar-benar bisa dinikmati.

Kalau aku memutuskan menyapanya hari itu, inilah yang akan terjadi: …. Hal 9.

Sebaliknya,

Kalau aku memutuskan tidak menyapanya hari itu.. Hal.15

.. dan kedua hal itu berlangsung terus sampai babak terakhir.

Bukan hanya itu aja, kelebihan novel ini adalah sanggup membuat kita tersentak–betapa rumitnya dunia remaja masa kini. Bijak banget si penulis memberi nasihat tanpa terkesan lebih pintar.

Itu asyiknya Siska. Dia sportif dan tidak pernah menghancurkan suasana karena hal-hal pribadi. Hal 146.

Kemudian, hubungan ibu dan anak yang ideal juga diselipkan, yaitu ketika Reo bingung harus bersikap bagaimana karena sepupunya ternyata punya hubungan dengan Vali.

Aku diam sebentar. Aku masih mau memikirkannya, tapi sepertinya Ibu tidak pernah salah–setidaknya dalam pandanganku. Dari pilihannya soal makanan sampai pilihannya soal suami. Yang jelas, pilihannya itu berhasil memberikan dua keturunan super kece–aku dan Rio; terutama aku. Hal. 120

See?

Betapa koplaknya karakter Reo dalam novel ini. Membuat saya sendiri bisa saja jatuh cinta padanya–apabila benar-benar ada di dunia nyata. Masih banyak ungkapan-ungkapan konyol lain yang diselipkan penulis secara halus; tak berlebihan tetapi menyentak.

Keberhasilan yang lain adalah sosok Reo yang komplit, bisa dibayangkan dan diimajinasikan, serta masuk akal.

Oh, ya, jangan kaget juga kalau dalam novel ini nanti menemukan belasan judul lagu yang tak biasa, seperti The Look of Love, Shadow of Your Smile, Wave, dan sebagainya. Saya nggak yakin, semua remaja (bahkan orang dewasa) tahu judul-judul lagu itu. Ceritanya sih Reo adalah pemain saksofon yang mumpuni dan pengen berkarier di dunia musik sekaligus bercita-cita sebagai dokter. Bener-bener charming kan?

Pokoknya.. ini adalah salah satu novel remaja terbaik yang pernah saya baca. Kamu juga harus baca!

[Review Buku] Terminal Hujan

Judul: Terminal Hujan

Penulis: -hQZou-

Tahun terbit: Februari 2015

Penerbit: de TEENS

Jumlah halaman: 227

Blurb

Untuk berobat sang bapak, diam-diam Farah mengamen. Ini membuat nilainya buruk sehingga tidak naik kelas. Di sisi lain, Valesia terketuk hati untuk mendirikan sekolah bagi kaum marginal. Dengan meneruskan perjuangan Umi Hasna, Valesia dan pengajar lain mendirikan Terminal Hujan. Perjuangan Terminal Hujan tak selalu lancar. Kantor kelurahan yang biasa dipakai belajar tiba-tiba hanya boleh digunakan untuk urusan kelurahan saja. Akhirnya mereka belajar seperti di sekolah alam. Lalu, Farah harus rela ditinggalkan Bapak selamanya. Ia berjuang bersama Ibu. Kisah-kisah yang menyentuh dan akan membekas dalam benak kita.

♠ ♠ ♠

Novel ini bercerita tentang kehidupan sederhana Farah di ibukota. Farah adalah anak seorang penjaja nasi uduk dan gorengan. Ibu Farah adalah pengasuh paruh waktu. Meskipun baru kelas 2 SD, Farah sudah membantu bapaknya menyiapkan dagangan setiap. Setelah selesai, ia baru berangkat ke sekolah.

Kerajinan Farah ternyata tak sebanding dengan prestasinya di sekolah. Saat pembagian rapor, ibu Siti–ibunya Farah–baru mengetahui bahwa Farah ternyata nggak naik kelas. Lalu, ngapain aja Farah selama ini? Bukankah ia juga ikut pelajaran tambahan sampai harus pulang sore setiap hari? Ternyata Farah setiap hari ikut mengamen bersama Tisa, seorang anak jalanan.

Padahal bisa dibilang Farah nggak terlalu berkekurangan. Kebutuhannya masih dicukupi oleh orangtuanya meskipun ya nggak terlalu mewah. Ternyata, Farah memiliki alasan di balik kebiasaannya mangkir dari sekolah. Meskipun amarah Ibu Siti hampir tak tertahankan ketika mengetahui Farah nggak naik kelas, setelah mengetahui alasan itu, Ibu Siti menjadi menyesal telah memarahi dan menghukum Farah.

Novel ini ditulis dari pengamatan penulis terhadap situasi lingkungan di daerah sepanjang Sungai Ciliwung. Di sana berdirilah sebuah sekolah yang diprakarsai oleh anak-anak muda Kota Bogor yang dinamai Terminal Hujan. Pengalaman bersama para pengajar di Terminal Hujan itulah yang direkam penulis dalam sebuah kisah. Saya yakin, tokoh-tokoh seperti Farah memang ada di dunia nyata.

Ide menuangkan pengalaman bersama komunitas tertentu dan menjadikannya sebuah cerita bisa menjadi menarik. Bisa juga tidak kalau hanya sekadar menempelkan tokoh-tokoh ke dalamnya dan memaksakan sebuah jalan cerita. Saya yakin penulis sudah berusaha agar kaitan antara para tokoh dan ide yang diusung terlihat jelas. Hal ini penting supaya pembaca tak seperti sedang membaca buku teks pengetahuan aja ditambah ilustrasi. Namanya juga novel, sebisanya artistik dan menarik (dalam tatanan yang sesuai dengan ukuran sebuah novel).

Pada beberapa bagian, ada juga kok hal yang menarik. Misalnya, diksi penulis yang lumayan. Artinya, layak menjadi bahan bacaan. Lancar dan bisa dipahami. Meskipun masih ada juga yang kelewatan, misalnya di halaman 94.

Satu dua terlihat perawat sedang melepas lelah, menikmati makan siang yang baru dinikmatinya.

Bagaimana kalau begini:

Satu dua perawat terlihat sedang melepas lelah. Mereka menikmati makan siang dengan lahap.

Ada pula kesalahan dalam penulisan nama, misalnya

Tisa—yang menyampir ukulele di pundaknya—tiba di pertigaan lampu merah sambil bersiul. Ia terlonjak melihat Farah yang diseret paksa oleh ibunya. “Bu, jangan seret Tisa Bu. Lepaskan dia, Bu!” sergah Tisa. Hal 86.

Kesalahan lain yang saya temukan adalah

Di kejauhan, seorang polisi berhasil menciduk seorang pengendara beserta pembonceng motor yang tak kedapatan membawa helm. Hal 82.

Mungkin maksudnya adalah “yang kedapatan tak membawa helm”.

♠ ♠ ♠

Menurut penjelasan penulis, tokoh Farah adalah anak kelas 2 SD. Berarti usianya sekitar 7-8 tahun. Pada usia seperti itu, seorang anak biasanya masih senang bermain. Apa yang mereka pikirkan pun biasanya sederhana saja. Namun, yang saya temukan dalam novel ini adalah anak kecil berpikiran sangat dewasa. Ia mengetahui ada masalah dalam keluarganya, dan ia  ingin menemukan solusinya. Jarang banget anak-anak seperti itu pada masa sekarang. Apalagi kalau sudah dimanjakan oleh bermacam-macam fasilitas dari orangtua.

Mungkin memang jalanan bisa membuat seorang anak menjadi dewasa lebih dini. Hal-hal yang seharusnya tak menjadi tanggung jawab mereka harus dipikul—terpaksa atau sukarela.

Yang patut menjadi inspirasi dari ide novel ini adalah inisiatif anak-anak muda yang mau berbagi ilmu kepada mereka yang tak sanggup membayar. Mereka—dalam novel ini dipimpin oleh Valesia—memberi waktu, uang, tenaga, bahkan perhatian pada anak-anak terlantar. Jadi, setidaknya novel ini bisa pula membangkitkan hasrat di hati para anak muda lain yang membaca. Berkaca dari pengalaman Valesia dan kawan-kawan, sebenarnya bisa kok membantu mereka yang membutuhkan.. asal punya niat. Selamat membaca.