Selamat 18 Bulan, Nak, Ibu Mencintaimu

Foto dokpri

Tanggal 14 kemarin, W tepat berusia 18 bulan. Yes, terima kasih Tuhan. Tak terasa, kami tiba juga di titik ini. Saat melihat ke belakang, rasanya kok nggak percaya. Tau-tau udah gede aja anaknya, hahaha.

Ada banyak perubahan yang terjadi. Saya memang tidak merekamnya satu-persatu, tetapi setidaknya saya mengalami dan menikmatinya. Salah satunya, pada aktivitas makan. Sekarang, W udah bisa makan sendiri, looo! Ah, senangnya. Jadi, kami bertiga bisa sesekali makan bareng. Ayah makan, Ibu makan, dan W jugaaa. Yeay.

Meskipun kalau badmood, (atau mungkin kalau lauknya nggak cocok), dia suka bertingkah. Sendoknya dibuanglah, piringnya dibalik sampe nasinya pada tumpah semua. Hadeuhhh *urut jidat*. Ibu sih pengennya sabar menghadapi tingkah seperti itu. Namanya juga kan anak-anak ya. Mau dilempar, dibalik, silakan saja, Nak. Yang penting kamu bisa mengekspresikan diri.

Susahnya kalau ibu lagi capek. Awalnya mungkin masih bisa mengontrol emosi, lama-kelamaan yang lepas juga. Untungnya, ayah selalu ada untuk menengahi. Ia akan datang dan mengangkat W, membawanya melihat ayam di luar atau mencari cicak. (Ya, anakku gemar nyari cicak hixx).

Perubahan lain yang saya rasakan adalah dari segi berbahasa dan kemampuan menirunya. Kosakata W sudah semakin banyak aja. Denger sekali pun ia sudah bisa meniru ucapan. Misalnya, kita nyebut “Ini nenek..” Dia pun mengulang, “Nek” dan begitu terus. Aduh imut banget pokoknya. Langsung deh ibu ciwel-ciwel pipinya yang montok lalu ditepis hahaha.

Bukan hanya perkataan, W juga senang meniru gerakan tubuh. Misalnya, ia melihat ayahnya mengorek kuping dengan cuttonbud, eh ya ampun anaknya juga ikut-ikutan. Meskipun cuttonbud yang ia dekatkan ke telinga entah ke mana arahnya.

Begitu pula jika ia dilarang, “No no no!” sambil telunjuk digoyang-goyangkan. Lha, besoknya ia tiba-tiba melakukan hal yang sama, tanpa sebab. Jiahahha.

Tapi hal itu membuat kami menjadi lebih berhati-hati. Bisa-bisa apa yang kami lakukan ditiru mentah-mentah oleh dia. Salah satu kebiasaan ayah yang “sulit” dihilangkan adalah melempar barang-barang, entah kunci, handuk, dll. Tak heran jika suatu saat pun W akan melakukan hal yang sama.

Nah, yang masih menjadi doa serta harapan saya adalah W seharusnya sudah mulai bisa berjalan. Namun, sejak bayi, ia memiliki riwayat keterlambatan gerak motorik kasar. Ya, serba terlambat, mulai dari tengkurep, berdiri, sampai berjalan. Meskipun sudah dilatih, sepertinya masih belum bisa juga berjalan. Ya, setidaknya saya bisa sedikit lega karena ada tanda-tanda meskipun ia belum berani melepaskan tangan kita saat berjalan.

Apakah saya khawatir? Ya, sedikit. Tapi, saya rasa dengan perkembangannya sampai sekarang, saya harus sedikit bersabar. Mungkin ada waktunya ia akan mengejutkan kami sembari bilang “Ibu, saya bisa berjalan!” Ah, kalau momen itu datang, saya mungkin akan langsung menangis.

Untuk sementara, saya harus bersabar. Saya nggak ingin menuntut W untuk harus sama dengan anak lainnya. Sambil melihat kemungkinan lain apakah W perlu terapi lagi atau cukup berlatih di rumah.

Nah, perubahan yang ketiga yang saya rasakan adalah W sekarang sudah jarang sakit. Horee. Pengalaman saya dahulu, hampir tiap bulan W demam. Mungkin kelelahan aja tiap hari ke sana kemari, dari rumah ke sekolah dengan jarak yang cukup jauh. Apalagi daya tahan tubuhnya masih belum sempurna.

Ibu seringnya sedih kalau W sakit, bahkan jika cuma demam. Kasian anaknya. Apalagi jika W lantas rewel nggak karuan. Haduhhh. Rasanya pegel semua badan ini. Tapi, bagaimana pun, saya ibunya yang harus mendampingi dia untuk menghadapi sakit itu. Saat W sakit, saya tambah stok sabar hingga berkali-kali lipat. Rasanya tak adil kalau saya marah karena ia rewel akibat sakit.

Nah, salah satu cara terpercaya yang saya lakukan untuk mengatasi demam W adalah menggunakan Tempra Syrup. Ini merupakan obat demam yang aman bagi lambung dan tidak perlu dikocok karena sudah larut 100%. Dengan menggunakan Tempra Syrup, dosis yang digunakan benar-benar tepat dan sesuai kebutuhan alias tidak overdosis maupun kurang dosis.

Saya selalu berharap W tidak sakit. Karena itu, kami juga melakukan tindakan-tindakan pencegahan. Misalnya, rajin makan jeruk sebagai sumber vitamin C. Ia juga harus makan secara teratur.

Di usia barunya ini, W sedang masa-masanya “iseng”. Ia senang banget “menggoda” dengan cara berteriak, merengek, marah, menangis kencang, dan sebagainya jika keinginannya tidak dituruti. Bahkan, hal-hal yang tak mungkin dilakukan juga membuatnya marah. Saya berharap bisa ada perubahan di soal ini. Ya, nggak ada salahnya kan berharap dia makin dewasa hehe.

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s