Day 109: Sang Penolong

Perannya sentral. Tak tergantikan. Roda zaman menuntutnya untuk terus bergerak. Tenaga dan kapasitasnya tak henti diuji oleh kebutuhan hidup. Mampukah para wanita tetap bertahan di tengah berjibunnya tanggung jawab itu?

Pada zaman sekarang, wanita tidak hanya memegang tanggung jawab sebagai istri dan ibu. Banyak wanita yang memiliki posisi penting di berbagai bidang pekerjaan. Mereka ikut menguasai bidang-bidang yang sebelumnya lazim ditekuni oleh pria. Sebut saja sebagai pilot, manajer, atau berkecimpung di dunia politik. Tak ketinggalan, mereka pun setia mengabdikan diri dalam pelayanan gereja. Memikul beragam tanggung jawab tersebut tidak mudah. Rentan lelah dan stres. Apa mau dikata, keadaan itulah yang kini tengah mengancam keberadaan kaum wanita.

Istri Modern

Wanita yang sudah berkeluarga memiliki kebutuhan psikologis. Ia tidak semata-mata mengurus rumah tangga, anak, dan suami. Menurut Mariani Sutanto, wanita pun ingin diakomodasi keunikannya sebagai seorang pribadi. Ia ingin bisa diterima apa adanya oleh keluarganya. “Artinya, kalau misalnya wanita ini bersifat outgoing, suka keluar rumah, keluarga mengetahui dan menerima itu sehingga kebutuhan bisa terpenuhi.”

Dalam kebudayaan pada masa lalu, istri harus manut kepada suami. Satu di depan, yang lain di belakang. Kini, perkembangan zaman mengikis sedikit demi sedikit kebiasaan tersebut. Istri dan suami berjalan beriringan, bukan hierarki. Semakin lama, setiap orang harus menghargai keunikan masing-masing pribadi. Namun, kata Mariani, wanita atau istri harus belajar menyesuaikan kebutuhan tersebut dengan kondisi keluarganya. Ada waktu ketika wanita tidak bisa serta-merta menuntut kebutuhannya dipenuhi. Kewajiban sebagai ibu rumah tangga tak bisa dipungkiri dan ditiadakan begitu saja.

Meski terhalang, bukan berarti wanita hanya bisa diam dan berkeluh kesah. Beragam solusi kini hadir mengatasi keterbatasan manusia karena situasi. Salah satunya adalah memanfaatkan teknologi internet. Melalui jaringan global tersebut, wanita bisa mengekspresikan diri meskipun tak memiliki waktu untuk keluar rumah secara fisik. “Minimal sebagian kebutuhan psikologisnya terjawab di situ. Bila hal itu tidak diusahakan, wanita akan terkungkung di rumahnya sendiri. Ia nggak ngerti apa-apa. Ia pun akan mendidik anak-anaknya seperti didikan yang diterimanya pada zaman dulu, bukan dengan visi masa depan,” ujar Mariani.

Memiliki Keunggulan

Selain menjadi ibu rumah tangga, kini banyak wanita yang bekerja. Ini pun adalah dalam rangka memenuhi kebutuhan, baik secara ekonomi maupun psikologis. Menurut Yoeannie, kesempatan berkarier bagi wanita kini terbuka lebar, sama seperti pria. Kemampuannya tidak dinomorduakan. Wanita juga memiliki berbagai keunggulan ketika dipercaya memegang jabatan tertentu di sebuah perusahaan.

“Wanita dikaruniai keluwesan atau fleksibilitas. Mereka lebih bisa diterima di mana-mana dan mudah masuk ke segala segmen, bukan hanya di antara sesama gender,” kata Yoeannie. Namun, fleksibilitas dan keramahan tersebut tidak berdiri sendiri. Untuk menjadi pekerja profesional, wanita membuktikan keseimbangan perfomance dan appearance-nya dengan ilmu pengetahuan. Hal itu menjadi nilai tambah bagi wanita pekerja masa kini. Keunggulan tersebut semakin disadari dan diasah oleh para wanita sehingga kaum ini semakin potensial mengisi posisi penting dalam pekerjaannya.

Meski demikian, wanita pun memiliki kelemahan dalam statusnya sebagai pekerja. “Mereka kadang-kadang cengeng. Ada masalah yang tidak terlalu besar, lantas dibesar-besarkan. Akibatnya pikiran terbelah sementara banyak hal yang belum terselesaikan,” papar Yoeannie. Wanita yang sudah mengatur goal, baik dalam karier maupun keluarga, dipastikan tidak akan mengalami kesulitan menjalani perannya yang begitu kompleks.

Berurusan dengan keluarga, wanita pekerja tidak lepas dari tanggung jawab. Mengatur rumah tangga dan mengasuh anak adalah kewajiban yang tak terelakkan. Menurut Yoeannie, kuncinya adalah manajemen waktu yang tepat. Membekali orang kepercayaan untuk menemani anak ketika ibu sedang bekerja adalah ide yang brilian. “Memang tidak gampang. Harus ada trial and error. Banyak orang menilai, ibu yang sukses dalam karier sering kali anak-anaknya tidak terurus. Menurut saya, itu bergantung ketegasan mengambil langkah-langkah yang diperlukan. Saya sudah membuktikan sendiri,” ujar ibu tiga anak yang pernah menjabat sebagai pemimpin cabang sebuah bank swasta nasional ini.

Berperan Sentral

Dilihat dari perspektif alkitabiah, wanita atau istri akrab disebut sebagai penolong. Ia berada di tengah-tengah, menjadi penghubung antara suami dan anak-anaknya. Dalam rumah tangga, peran wanita sangat sentral. “Peran ini bukan berarti menyingkirkan tugas lelaki. Wanita justru bersifat menolong. Tuhan menempatkan wanita dalam posisi yang sangat khusus dan menentukan. Dalam lingkup pergumulan sehari-hari, tanggung jawab utamanya adalah mengurus keluarga,” jelas Pdt. Matheus Mangentang, Rektor STT SETIA, Jakarta.

Sibuk bekerja di luar rumah bahkan memimpin organisasi apa pun, menurut Matheus, bukan pilihan yang salah. Pilihan itu menjadi tak relevan ketika wanita mengabaikan tugas utamanya sebagai ibu. “Sentuhan seorang ibu dalam rumah tangga itu beda, lho. Ada kasih sayang yang lembut. Hal ini tidak mungkin diperankan atau diwakili oleh pria,” papar Matheus.

Meskipun tidak dijelaskan panjang lebar, terdapat kisah beberapa tokoh wanita yang bisa dijadikan panutan sesuai porsinya dalam Alkitab. Misalnya, Ester yang bergerak di bidang politik pada masa itu. Selain itu, ada Rut yang memiliki keteguhan, keuletan, dan kesetiaan. Ia bertanggung jawab atas kelangsungan hidup mertuanya. Di satu sisi, perannya bisa menjadi contoh.

Pdt. Debora Vivi M., S.Si. (37) juga menyebut Lidia, perempuan dari Tiatira, kota kecil di Asia Kecil. Lidia adalah pedagang kain yang mendengar pengajaran Rasul Paulus dan bertobat. Bukan hanya itu, seluruh keluarganya juga ikut bertobat. Wanita lain yang disebut-sebut adalah Debora, seorang istri yang juga berprofesi sebagai hakim wanita satu-satunya dalam sejarah umat Tuhan. Ia dipakai Tuhan memimpin bangsa Israel untuk menang atas orang-orang Sisera.

Debora sepakat dengan peran istri sebagai penolong. Gambaran perempuan ideal jelas tercantum dalam Ams. 31:10–31 . Dukungan terhadap suami tidak hanya berupa dukungan batiniah, tetapi juga lahiriah. Istri bisa mendukung suami dalam hal materi atau penghasilan. Oleh karena itu, menurut Debora, wanita boleh saja bekerja di luar rumah asal dalam kerangka menjadi penolong bagi suaminya. “Istri yang bijak harus mampu membagi waktu dan perhatian, baik untuk keluarga, pelayanan di gereja, maupun masyarakat.”

Tentukan Prioritas

Persoalan yang sering dialami kaum wanita pada masa kini adalah terjebak di antara kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri dan tanggung jawabnya sebagai ibu rumah tangga. Akibatnya, stres timbul. Semua pemenuhan tanggung jawab justru terbengkalai dan tidak maksimal. Mariani mengatakan, wanita yang bekerja tetapi tidak merasa bahagia harus menguji kembali motivasinya. “Kalau ia bekerja hanya agar tidak dipandang rendah oleh suami dan teman-temannya, ini menjadi beban. Bekerja harus sesuai dengan passion.”

Hal ini juga diamini oleh Yoeannie. “Ketidakbahagiaan bisa dicari penyebabnya. Mengapa saya tidak menyukai pekerjaan ini? Itu bisa dianalisis. Mungkin ada juga yang bekerja karena tidak mempunyai pilihan lain, misalnya harus menghidupi keluarga. Pada kondisi ini, tekanan bisa muncul. Karena itu, suami istri sebagai tim harus membuka ruang diskusi. Tim harus memiliki goal yang sama dan menanggung konsekuensinya bersama.”

Apabila keluarga tersebut berada dalam kondisi ekonomi yang aman, bekerja tidak menjadi keharusan bagi seorang ibu. Selanjutnya keduanya perlu mengadakan negosiasi, pekerjaan apa saja yang bisa ditekuni ibu tanpa menyampingkan keluarga. Dalam hal ini, suami memiliki peran penting. Sebagai nakhoda dalam keluarga, suami bertugas memberi pandangan yang menyeluruh serta jauh ke depan.

Keseimbangan Hidup

“Seorang wanita memerlukan hikmat Tuhan untuk melaksanakan perannya dengan baik sesuai kehendak Tuhan. Prioritas diberikan untuk bagian yang sungguh-sungguh memerlukan kehadirannya. Prinsip menentukan prioritas ini ditentukan dengan memandang faktor tanggung jawab, kepentingan, kebutuhan, dan risiko,” ujar Debora. Komunikasi dan keterbukaan dalam kehidupan rumah tangga sangat menentukan idealnya tindakan perempuan ketika menentukan prioritasnya.

Banyaknya tanggung jawab akan diikuti oleh banyaknya persoalan. Sebagai tim, suami dan istri harus saling menopang. Jika suami tidak ada, atau karena kondisi tertentu ia tidak bisa diandalkan, istri harus menyerahkan segala keluh kesah dan bebannya kepada Tuhan. “Berbagi juga kepada sesama kaum di lingkungan gereja atau orangtua yang patut dipercaya,” saran Matheus.

Agar tetap merasa bahagia, Yoeannie menyarankan para wanita untuk banyak bersyukur. “Ketika bangun tidur, kita harus segera bersyukur dan berdoa. Kita diciptakan luar biasa dan dipercayakan banyak tanggung jawab. Bersyukur untuk pekerjaan, keluarga, bahkan untuk hal-hal kecil yang kita miliki. Ucapkan afirmasi-afirmasi positif. Dengarkan lagu yang ceria dan bersemangat. Baca buku-buku yang menginspirasi dan menambah pengetahuan.”

Jadikan Sederhana

Meski dijuluki penolong, wanita bukan makhluk perkasa dan tahan banting. Ada waktunya untuk merasa lelah. Melakukan hal-hal sederhana untuk melepaskan kelelahan akan sangat membantu, misalnya menyisihkan waktu untuk me time. Ini adalah waktu bagi wanita untuk meletakkan bebannya sejenak serta menarik napas panjang. “Me time tidak harus pergi ke kafe, salon, dan tempat-tempat lain. Minum segelas cokelat hangat sambil ngemil beberapa potong biskuit pada pukul sepuluh pagi di sela-sela rutinitas, sudah termasuk me time berkualitas. So simple,” tutup Mariani tersenyum.

(Dimuat di BAHANA, Oktober 2013)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s