[Resensi Buku] Cafe Lovers – Rosyidina Afifah

Judul: Cafe Lovers

Penulis: Rosyidina Afifah

Penerbit: deTeens

Cetakan pertama: Juni 2016

Jumlah halaman: 268

ISBN: 978-602-391-179-0

***

Berawal dari insiden kantong belanja yang tertukar, Ersen bertemu dengan Adile, gadis periang yang mendalami lukisan aliran surealis. Setiap tiga hari, Adile mengunjungi Ersen di Kafe Velvet, tempat pria itu bekerja.

Suatu ketika, Adile menjanjikan sebuah kejutan pada ulang tahun Ersen, tepat seminggu lagi. Ersen amat tak sabar dengan itu. Ia penasaran, kejutan seperti apa yang disiapkan Adile untuknya.

Di hari ulang tahunnya, Ersen mendapatkan kejutan yang lain. Adille menghilang. Kenapa? Apa yang terjadi pada Adile? Begitulah tanya Ersen setiap hari. Rasa tanya itu menghantuinya, menuntut jawaban. Akan kah Ersen mendapatkan jawaban dari segala tanyanya akan Adile?

***

TOKOH

Ada dua tokoh utama dalam novel ini, yaitu Ersen dan Adile. Ersen, lelaki berusia 26 tahun baru saja pindah dari Izmir ke Istanbul. Adile, seorang gadis pelukis dengan rambut cokelat almond bergelombang sepunggung. Keduanya bertemu dalam insiden tertukarnya tas belanjaan.

Ersen bekerja di sebuah kafe bersama Sahan. Tak lama kemudian, Sahan membuka kafe sendiri dan Ersen pun pindah ke sana. Ada sebuah alasan besar yang membuat Ersen terpaksa harus pindah meskipun sudah betah di Kafe Velvet.Hal ini berkaitan dengan Adile, gadis yang sudah menjadi temannya yang sering mengunjungi kafe itu.

Penggambaran kedua tokoh ini menurut saya biasa saja. Ersen mungkin hanya lelaki kebanyakan yang tak memiliki keunikan. Saya juga tidak terlalu menangkap karakter dasarnya melalui percakapan atau penjelasan langsung. Kalau Adile.. saya rasa dia mungkin agak gaul, lumayan menarik, tetapi suka terburu-buru.

Ada tiga tokoh lain yang cukup berpengaruh yaitu Sahan, Ayla, dan Ardic. Ketiganya diberi tugas untuk menyempurnakan konflik dalam cerita. Di sini, peran Sahan agak membingungkan. Yang cukup jelas adalah Ardic, yang ternyata mantan Adile. Lalu, terjadilah tarik-menarik antara Ersen dan Ardic dengan memanfaatkan ketidaktahuan Adile.

SETTING

Kisah ini terjadi di Kota Istanbul. Penulis menjelaskannya dengan menjabarkan situasi di sana, misalnya:

“Sistem tata kota Istanbul memang sengaja membuat terowongan bawah tanah untuk dilalui oleh pejalan kaki yang ingin menyeberang dari satu sisi jalan ke sisi yang lain di kota ini, sehingga lajur kendaraan di jalan utama tidak terganggu. Dan biasanya, ada beberapa toko yang meramaikan suasana terowongan itu.” Hal. 15.

“Dari kejauhan, lelaki itu mengamati salah satu objek wisata terkenal di kota Istanbul itu. Mulai dari atap kerucutnya, turun ke balkon yang mengelilingi menara 360 derajat, lalu mengamati susunan bebatuan kokoh penyusun Menara Galata.” Hal. 25.

Sedikit banyak, kita diberi gambaran mengenai keadaan outdoor di sana. Begitu juga penggambaran di dalam ruangan, lumayan menolong kita berimajinasi.

“Ersen memasuki kafe itu yang lebarnya mungkin kurang lebih sekitar lima meter. Di luar, kafe ini memiliki suasana full colour yang cerita. Namun ketika menapakkan kaki di dalam, nuansa vintage dan klasik akan menyelimuti hati tiap pengunjung yang datang.” Hal. 27.

ALUR

Dengan menggunakan alur maju, cerita novel ini cukup mudah dipahami. Kita hanya perlu mengikuti setiap percakapan dan peristiwa yang dibangun oleh penulis. Kita diminta untuk bersimpati pada Ersen yang menyukai seseorang tetapi terhalang oleh peristiwa yang tak terduga.

Namun, endingnya menurut saya kurang mantap. Bukannya saya penggemar happy ending, tetapi cara membangun ending yang seperti itu yang menurut saya agak terburu-buru dan terkesan dibuat-buat.

Novel dengan halaman 268 ini saya rasa terlalu tebal dan masih bisa diringkas. Menghilangkan bagian-bagian yang tidak berdampak terhadap alur utama cerita. Sebaliknya, untuk mendukung ending yang bagus, tentu dibutuhkan struktur yang mengarah ke sana. Karena agak kurang fokus, cerita justru kelihatan mengambang di permukaan.

Secara keseluruhan, saya menyukai ide ceritanya. Kisah yang mengangkat kehidupan para pelayan kafe ini cukup menarik dan sederhana, seperti layaknya kisah hidup sehari-hari. Di sini kita bisa memahami bahwa ternyata dari hal-hal sederhana juga bisa muncul sebuah konflik yang bisa diolah menjadi kisah yang panjang.

Jika Anda menyukai novel dengan setting luar negeri dan berhubungan dengan dunia kafe, novel ini bisa menjadi salah satu pilihan.

Perjuangan Busui (1): Pengalaman Pertama

Tantangan selanjutnya setelah masa-masa begadang lumayan berkurang (atau sudah bisa diadaptasi), yaitu menyusui.

Jujur banget, baru sadar kalau ternyata seribet ini jika berkomitmen memberikan 6 bulan ASI eksklusif untuk baby W. Maklum, ibunya buruh pekerja yang “hanya” dapat cuti 3 bulan saja. Artinya, 3 bulan selanjutnya adalah perjuangan yang butuh strategi.

Saya ceritakan dulu ya pengalaman pertama menyusui 😀

Karena melahirkan secara SC, ASI belum bisa keluar spontan. Begitulah katanya. Jadi, selama beberapa hari, saya minum tablet pelancar ASI. Jangan tanya merknya karena saya hanya disediakan oleh suster untuk diminum pada jam tertentu. Lumayan manjur juga meskipun nggak serta merta mengucur deras gitu.

Satu dua hari pertama setelah baby W lahir, ia mulai belajar menyusu. Secara singkat, suster menjelaskan caranya dan kapan harus disusui. Idealnya, setiap 2 jam, ia harus diajak/dibangunkan supaya bisa minum.

Awal-awal kelahirannya, baby W tidurnya lama sekali. Hampir bisa dihitung berapa lama ia membuka mata. Nah, ini malah jadi tantangan tersendiri. Saat ia tidur lelap sekali, kami kesulitan membangunkannya. Dasar orangtua baru, khawatirnya berlebihan. Takut dia kelaparan karena nggak mau bangun. Belakangan diberitahu, bayi membawa ransum untuk maksimal 3 hari saat dia lahir. Jadi, nggak makan apa pun, ia tetap bisa sehat. Ia juga cuma butuh satu sendok teh ASI karena ususnya baru sebesar kelereng. Hihi, imut ya.

Namun, ternyata aturan menyusui 2 jam sekali itu supaya ia mulai belajar menyusu dan merangsang keluarnya air susu ibu. Kami pun melakukan berbagai cara supaya ia bisa bangun, mulai dari memanggil nama, menyentuh, hingga menggelitik. Enggak bangun juga! Haduh, sampai susternya juga turun tangan lalu angkat tangan. Solusinya, kami disuruh terus mencoba.

Sesampai di rumah, ASI mulai lancar. Kesulitannya hanya pada bagaimana mencari posisi yang tepat. Supaya ia dan saya merasa nyaman. Mulai dari duduk di kursi, punggung tegak, hingga pake bantal sebagai alas. Saya sendiri masih agak takut mengangkat bayi yang keliatan rapuh itu. Masa itu menjadi masa yang lumayan menantang.

Kemudian, masalah selanjutnya muncul: puting lecet. Wuahh. Rasanya lumayan. Apalagi baby W harus tetap menyusu. Tiap dia mulai mengisap, saya harus menahan sakit. Hal itu berlangsung hampir seminggu, sebelum benar-benar sembuh. Di antara waktu itu, saya mencoba untuk melakukan perah di payudara yang lecet. Dan, baby W pun minum dari botol. Hore, dia mau lho. Hitung-hitung belajar kalau nanti ibunya mulai bekerja.

Sekarang, semua udah terasa nyaman. Mulai dari posisi nyaman hingga cara menyusui. Bahkan, “menyusu” sekarang tampaknya menjadi solusi jika ia sedang rewel. Akibatnya lumayan pegel juga.

Fase selanjutnya untuk melanjutkan ASI eksklusif adalah menyediakan ASI perah selama saya bekerja. Ternyata enggak mudah lho. Saya harus cari-cari banyak informasi soal itu.

Bersambung…

Ucapan Terimakasih

*untuk suamiku tercinta*

Saya akui, judulnya agak kurang keren. Tampak seperti pengantar membosankan di buku-buku teks tebel yang kayaknya jarang ada yang baca. Tapi, saya merasa inilah judul yang paling cocok untuk postingan saya kali ini.

Proses yang kami lewati mulai dari ketika saya hamil hingga melahirkan terasa cepat sekali. Baru dua Juni kemarin kami melewati anniversary pertama pernikahan, tapi perubahan udah banyak banget.

Saya bersyukur diberi kepercayaan oleh Tuhan bersama suami untuk menjaga dan merawat seorang anak. Berkat orang beda-beda, dan berkat bagi kami adalah seorang anak. Jadi, kami sungguh-sungguh bahagia karena itu. Terlepas dari beragam perubahan yang terjadi dalam hidup kami setelah itu.

Melewati semua itu, ada masa-masa seolah kami nggak sanggup menjalaninya. Pokoknya, memikirkan satu hari ke depan bagaimana, rasanya berat banget. Kami berdua baru pertama kali mengalami situasi ini. Apalagi masa setelah melahirkan yang nggak bisa dijabarkan dengan kata-kata. Rasanya, hidup hanya sanggup untuk satu hari. Berhasil melewati hari ini dengan selamat saja sudah bersyukur. Untuk besok ya besok aja urusannya.

Dalam situasi inilah peran suami kelihatan. Meskipun kadang-kadang saya selalu merasa “kurang dibantu”. Namanya aja orang perfeksionis yang belum tobat sempurna. Masih ada aja hal-hal yang tak sesuai dengan hati untuk dikomplain.

Atas semua komplain saya, saya akui suami sudah cukup sabar. Ia nggak berniat menandingi komplain saya dengan komplain lain yang sebenarnya bisa ia lontarkan. Biasanya ia hanya diam dan terlihat sedih. Untungnya, selain perfeksionis, saya tipe perasa banget. Melihat muka sedihnya itu saya langsung luluh dan lupa pada komplain. Malah jadi merasa bersalah…

Satu bulan lebih setelah baby W hadir, hidup kami seperti jungkir balik. Dan sungguh menenangkan ketika pasanganmu tetap kuat dan bisa berdiri bersama-sama melewati setiap tantangan. Meskipun saya tahu, jauh di dalam sana dia juga khawatir (saya tahu karena dia pernah satu dua kali menangis selama itu).

Namun, yang paling nyata adalah apa yang ia lakukan setiap hari untuk kami bertiga. Contohnya, ia bangun lebih pagi (karena saya udah ditempeli anak dan biasanya habis begadang jadi masih ngantuk) dan memasak. Ia menyiapkan semuanya supaya saya bisa makan hari itu. Pulangnya ya begitu juga. Saya masih belum berani meninggalkan baby W meskipun ia sedang tidur. Takut ada apa-apa. Mungkin perasaan ini besok-besok harus saya kurangi supaya saya bisa lebih leluasa melakukan sesuatu. Toh, baby W hari-hari ini lumayan bisa diajak kerja sama. Siang hari dia lebih banyak tidur dan bangun untuk nenen dan ganti popok.

Anyway, inilah ucapan terima kasih saya yang ngalor-ngidul ke sana ke mari. Bersyukur punya suami yang mengerti kebutuhan istrinya dan mau berkorban meskipun ia bisa aja mengelak dan santai-santai. Semoga kami bisa melewati masa ini dengan tetap sehat dan waras, jasmani dan rohani.

Saya Kembali ;)

*di sela-sela momong anak lanang*

Akhirnya, saya memutuskan untuk mulai kembali nulis di blog. Semoga niat ini nggak menguap begitu saja hehehe. Sekarang, alasannya lebih karena “nggak punya waktu” sih. Ah, masa. Buktinya, banyak tuh emak-emak IRT yang masih bisa berkarya. Gimana ya, caranya, hmm..

Meskipun baby W udah lahir 14 Juni kemarin, sebulan selanjutnya hidup rasanya belum senormal biasanya. Asal tahu aja ya, saya tuh orangnya lebih suka yang keadaan yang stabil-stabil aja. Kalau bisa, jangan ada perubahan apa pun. Dannn.. punya anak ternyata mengubah semua hal. Everything.

Sederhananya mulai dari jam tidur. Sama seperti pas hamil dulu, saya buta soal bagaimana sih rasanya menjadi ibu. Saya tahu banyak artikel atau sharing pengalaman dari para ibu di blog, tapi dasarnya memang belum mikir ke sana jadi tak pernah baca-baca secara serius. Intinya sih tahu kalau kerempongan seorang ibu itu seperti itu. Tapi, kenyataannya? Oh, you must try it yourself hehehe. Bagi yang udah jadi ibu, pasti senyam-senyum dan berbisik, “Welcome to the club!” :p

Balik lagi ke soal jam tidur. Saat kuliah, seperti kebanyakan mahasiswa, saya tahan begadang sampai jam satu malam. Makan lagi jam 12 malam sih biasa-biasa aja. Ngerumpi sampai jam 2 malam di kosan? Udah budaya. Tapi setelah bekerja dan menikah, jam tidur kembali normal. Soal umur juga sih, begadang semalam aja karena harus menyelesaikan project tertentu besoknya badan udah pegel-pegel.

Now, tampaknya “kekuatan” begadang saya harus dibalikin lagi. Siap-siap aja kalau seharian baby W udah bobo, berarti giliran malamnya dia bangun. Nggak selalu emang. Saya berusaha ngikutin aja kemauan dia. Kalau mau tidur atau bangun silakan aja hehe. Kasian juga kalau siang-siang enak-enakan tidur trus dibangunin supaya malamnya nggak begadang. Saya anggap aja dia sedang masanya “kuliah”. Butuhnya memang begitu.

Hal kedua yang berbeda adalah pekerjaan. Saya memang sedang cuti melahirkan selama 3 bulan. Namun, saya juga memiliki pekerjaan lain yang dikerjakan di rumah. Biasanya, saya memiliki banyak waktu untuk melakukannya. Sekarang? Hemm. Jangankan megang kerjaan, makan dan ke kamar mandi aja harus curi-curi waktu.

Tapi.. saya rasa itu semua bisa diakalin. Nggak bisa dong begitu terus. Itu namanya saya manja. Jadi, ya, saya usahain banget mulai manage waktu supaya bisa bekerja saat dia sedang tidur. Meskipun godaan untuk ikut tidur (baca: istrahat) juga demikian besar.

Sekarang, baby W usianya sudah sebulan lebih. Saya rasa sih ada peningkatan dari kemampuan saya ngatur waktu. Saya belajar untuk nggak panik kalau dia gerak-gerak heboh di kasur. Kalau bangun, ya udah, nanti diajak tidur lagi. Saya juga belajar meningkatkan konsentrasi. Nulis postingan ini aja bisa sampe 4 kaki break dan seringnya saya kehilangan mood di tengah-tengahnya. Sekarang harus beda dong ya. Kalau enggak, ya nggak bakal selesai-selesai.

Okelah, banyak hal yang sebenarnya ingin saya tulis. Tapii.. belum ada waktunya. Hehehe. Nantilah kalau ada waktu luang lagi, saya mau lanjutin lagi ceritanya.

Terima kasih sudah baca ya.
Have a nice day 😉

[Resensi Buku] Somewhere Called Home – Dhamala Shobita

Dila dan Lila. Mereka adalah dua perempuan yang bersaudara. Dila tampaknya sangat senang dengan air (laut) sementara Lila tidak. Keduanya berbeda.

Lalu, ada Ben. Awalnya ia membenci air. Tapi, karena dipaksa oleh Dad, yang merupakan ayah kandungnya dan kekasih ibunya – tapi bukan suami sah ibunya – Ben pun menjadi bersahabat dengan laut.

Ben dan Lila bertemu di Mentawai. Saat itu, Ben sedang menikmati ombak tinggi sambil mencari kesempatan umtuk berselancar. Lila sering datang menemui Ben sehingga akhirnya mereka menjadi teman ngobrol. Di sinilah Lila menceritakan hal yang mengganjal di hatinya yaitu tentang kakaknya, Dila.

Dila dan ayahnya ternyata sudah lama pergi dari kehidupan Lila dan ibunya. Kedua bersaudara ini harus rela berpisah karena orangtua mereka tidak lagi akur. Dila ikut ayah, sedangkan Lila ikut ibu. Selama itu, hanya ada satu dua kabar dari Dila dan Lila merasa rindu banget dengan saudara perempuannya itu.

Tujuan Lila adalah mencari keberadaan Dila supaya bisa bertemu kembali. Sayangnya, hal itu tidak mudah. Dari surat-surat yang dikirimkan Dila, Lila mencoba menapak tilas perjalanan kakaknya tersebut. Mulai dari Bono, Pulau Rinca, dan Tomohon. Lila menulis semua pengalaman mencari kakaknya itu dalam beberapa buah jurnal.

Suatu hari, Lila meninggal. Oleh ibu Lila, Ben diberikan jurnal-jurnal tersebut untuk mencoba ulang mencari Dila. Ben pun mulai berangkat dan menapak tilas ulang perjalanan Lila mencari Dila. Lucu dan unik juga ya kisah ini. Petualangan yang sama diulang dua kali. Itulah yang dilakukan Lila lalu Ben.

Nah, dalam petualangan Ben, ia bertemu dengan seorang gadis secara kebetulan dalam berbagai kesempatan. Namanya Ris. Ris ini mengingatkan Ben pada sosok Lila. Siapakah Ris? Pada akhir kisah, akan ada penjelasan lengkap. Ben tidak tahu. Tapi, pembaca -saya- udah bisa nebak. Kenapa Ben tidak tahu? Mungkin dia memang kurang jeli atau sibuk dengan masalahnya sendiri.

Ya, Ben memang punya masalah pribadi juga. Keluarganya nggak harmonis. Bisa dibilang, keluarganya agak aneh. Ia adalah anak tidak sah ibunya dari seorang laki-laki asing. Ia sering minggat dari rumah karena tidak menemukan suasana seperti layaknya keluarga sesungguhnya. Pelampiasannya adalah berselancar di pantai-pantai berombak besar di Indonesia.

Kisah ini bisa digolongkan travel story. Kita akan menemukan berbagai hal menarik dari kebiasaan masyarakat setempat di pinggiran pantai. Kita disuguhi dengan keindahan sunrise. Kita menjadi ikut bertualang bersama Ben dan Lila.

Namun, kisah ini juga secara tidak langsung ingin menyadarkan pembaca betapa berdampaknya ketidakharmonisan dalam keluarga terhadap masa depan anak-anak. Yang paling terluka dari perceraian orangtua adalah anak-anak. Mereka menjadi trauma dan tidak bahagia. Mereka melarikan diri dari tempat yang harusnya menjadi rumah.

Kisah ini berakhir bahagia. Ben akhirnya menemukan banyak hal baru dari petualangannya. Ia juga menemukan rumahnya kembali.

#BahagiadiRumah Meskipun Sederhana

300x250-novaversery

Bagi sebagian besar pasangan yang baru menikah, rumah mungkin hanya berupa impian semata. Bagaimana tidak, mereka baru saja melangsungkan pernikahan yang memakan biaya yang tak sedikit. Masih mending jika di awal pernikahan tidak ada utang yang harus dibayar. Jika ada? Tentu semakin rumit ceritanya.

Oleh karena itu, kebanyakan pasangan baru akan memilih untuk tinggal di rumah kontrakan sebelum memiliki rumah sendiri. Yang penting bisa tinggal bersama setelah resmi menjadi suami istri. Ada juga sih pilihan lain, yaitu tinggal di PMI alias Pondok Mertua Indah. Namun, saya tidak terlalu menyukai pilihan ini. Selain karena nggak mau bergantung, baik kepada orangtua sendiri maupun mertua, saya dan pasangan juga ingin belajar sendiri tentang hal-hal baru dalam pernikahan melalui pengalaman, bukan teori. Kebayang, kan, betapa banyaknya intervensi jika tinggal satu atap bersama orangtua, apalagi terhadap pasangan yang baru menikah–yang dianggap belum tahu apa-apa soal kehidupan berkeluarga.

Sebelum menikah, kami berdua adalah anak kos-kosan. Saya memang berasal dari luar pulau sehingga sudah biasa tinggal nomaden di berbagai tempat. Sementara suami, meskipun tempat kelahirannya tidak begitu jauh, lebih memilih untuk ngekos, demi alasan kepraktisan saja. Setelah menikah, lebih mudah bagi kami untuk bergabung dalam satu rumah. Tepatnya sih satu ruangan (kamar kos khusus pasutri) karena ternyata kami tidak sempat mencari rumah kontrakan gara-gara sibuk dengan persiapan pernikahan.

Bagi kami, masa-masa tersebut begitu menyenangkan. Namanya saja baru menikah. Meskipun sempit, semuanya jadi terasa indah. Kabar baiknya, kami tidak memiliki banyak tempat untuk bersembunyi. Terutama jika sedang ada konflik. Lha mau kemana lagi, wong cuma satu kamar begitu. Jadi, paling-paling kalau bertengkar, yang satu pura-pura tidur, yang lain duduk agak jauh di ujung kasur hahaha.

Semakin lama, kebutuhan untuk memiliki rumah semakin besar. Barang-barang bertambah banyak dan kami membutuhkan space khusus untuk memasak. Tentu hal ini tidak bisa direalisasikan bila hanya ada satu kamar. Karena itu, kami pun mulai mencari rumah kontrakan yang sekiranya cocok dan sesuai. Tidak mudah untuk menemukan yang sesuai dengan kriteria kami.

Berikut beberapa pertimbangan kami ketika memilih rumah kontrakan.

Konstruksi Rumah

Pengennya sih kami memiliki rumah yang bagus dan indah dengan budget yang rendah. Tapi, itu kan hampir mustahil, ya. Ada barang, tentu ada harga. Karena itu, kami nggak mau terlalu mengada-ada. Yang penting adalah rumah itu nggak terlalu “lama” dan kumuh. Meskipun dinding atau lantainya agak kotor sedikit, jika dibersihkan tentu akan kinclong lagi. Konstruksi juga berkaitan dengan apakah rumah itu pengap, sumpek, dan memiliki langit-langit yang pendek. Pernah lho, kami menemukan rumah seperti itu. Luas sih. Tapi karena langit-langitnya rendah, jadinya sumuk dan pengap. Udah deh, nggak masuk kriteria. Keberadaan jendela pun berpengaruh. Kami ingin di setiap kamar ada jendela sehingga sirkulasi udara pun lancar. Kemudian, situasi dalam rumah harus bikin sreg. Misalnya, kami pernah menemukan rumah dimana sumurnya ada di dalam rumah dan tertutup. Saya agak nggak sreg dengan keadaan itu. Alhasil, meskipun budgetnya cocok, kami nggak jadi ambil rumah seperti itu.

Lingkungan

Bagaimanapun, kami akan tinggal di rumah itu selama setahun (sesuai perjanjian kontrak). Setahun itu waktu yang cukup lama, lho. Apalagi saya dalam keadaan hamil. Kami mencoba mencari tempat tinggal yang kondusif untuk adek bayi kelak. Rumah yang berada di kawasan padat jadi pilihan belakangan. Di kawasan sepi juga nggak masuk hitungan. Kriteria selanjutnya adalah tetangga-tetangganya. Apakah mereka terkesan cuek atau ramah? Apakah ada hal-hal yang mengganggu, misalnya ada kandang binatang di sekitar rumah? Ini pernah kami temukan. Samping rumah yang akan dikontrak ternyata digunakan oleh penduduk sebagai tempat kandang ayam yang cukup banyak. Selain bau yang mengganggu, tentu banyak bakteri yang akan beterbangan gara-gara ini.

Akses

Sekali lagi, pertimbangannya adalah karena saya sedang hamil. Kami mencoba mencari rumah dengan akses yang cukup mudah ke kota supaya nanti bisa lebih gampang jika ada apa-apa. Kami pernah ditunjukkan rumah yang terletak di jalanan kampung dimana mobil tidak bisa masuk. Bukannya tidak mau hidup di kampung ya, tapi yang penting aksesnya lancar dan mudah.

Privasi

Privasi itu perlu bagi setiap keluarga. Bukan berarti kami lebih suka menutup diri dari pergaulan sosial. Setidaknya, ada privasi yang bisa kami dapatkan, baik dari lingkungan maupun pemilik rumah itu sendiri. Kami menghindari rumah kontrakan yang hanya berbatasan pintu dengan rumah induk.

Kepastian Hak Milik Rumah

Pernah ada teman yang ngontrak, tetapi akhirnya bermasalah karena rumah tersebut ternyata bukan milik sendiri si empunya. Jadi, yang dikejar-kejar justru si pengontrak. Ini tentu tidak membuat nyaman. Karena itu, kami memastikan jika kami telah membayar kewajiban kepada orang yang tepat dan tidak ada pihak lain yang tersinggung atau haknya diabaikan.

Harga

Ini tentu pertimbangan penting juga. Sebelumnya, kami menetapkan minimal dan maksimal harga rumah kontrak yang bisa kami bayar. Jika ada yang bikin sreg, tetapi di atas harga maksimal, tentu mikir-mikir juga. Meskipun godaan untuk mengambilnya sangat besar. Tapi, sekali lagi, kami harus mengenyampingkan keinginan dan mengutamakan kebutuhan.

 

Nah, cukup banyak juga ternyata pertimbangannya. Makanya, suami sempat merasa kesulitan mencari rumah kontrakan yang sesuai dengan saya yang terlalu picky. Kalau dia sih sepertinya tidak terlalu banyak nuntut harus begini atau begitu. Yang penting layak untuk ditinggali.

Karena kami berdua sama-sama bekerja, proses untuk mencari rumah ini bisa dibilang tersendat-sendat. Hanya saat libur saja, kami bisa maksimal. Ralat: dia sendiri yang mencari karena saya cepat merasa capek. Bukannya menolong malah merepotkan.

Strateginya, setelah menemukan beberapa alternatif rumah yang sesuai, dia akan membawa foto dan menceritakan rumah itu sesuai persepsinya. Saya mendengarkan dan memilih mana yang harus kami lihat ulang. Setelah kami berdua melihatnya, barulah kami berdiskusi mengenai baik buruknya. Proses ini mungkin sekitar 1 bulan hingga akhirnya kami menemukan sebuah rumah yang tidak terlalu menarik (awalnya), tetapi beberapa kriteria sudah ada di rumah tersebut.

Saya jatuh hati sejak awal pada rumah ini. Meskipun proses untuk menemui pemiliknya dan akhirnya deal cukup lama. Kami harus ke sana kemari untuk memastikan beberapa hal. Namun, hasilnya tidak mengecewakan. Tidak semua yang kami inginkan ada di rumah itu, tetapi kami senang bisa mendapatkannya.

Sebelum pindah, kami beres-beres dulu selama beberapa waktu. Ini juga dibantu oleh para tetangga. Menyenangkan sekali memiliki tetangga yang peduli dan tidak cuek. Awalnya sih rumah ini terlihat biasa saja. Ada dua kamar tidur, satu ruang tamu, dan satu ruang tengah. Kamar mandi dan dapur terletak di luar. Tidak terlalu sempurna. Namun, kami melihat ada masa depan di sana. Beberapa hal memang perlu diperbaiki. Misalnya saluran air, pintu belakang, dan sebagainya. Saya juga memaksa untuk mengecat dinding terlebih dahulu sebelum pindah supaya terlihat cukup bersih. Hal ini dikerjakan sendiri oleh suami tanpa bantuan orang lain.

Selanjutnya kami pun pindah. Perbaikan lainnya menyusul. Ada beberapa masalah yang harus diselesaikan, termasuk listrik. Untungnya, suami adalah tipe serba bisa. Bahkan, memperbaiki listrik pun bisa dilakukan sendiri. *tepuk tangan*

Sekitar dua bulan kemudian, rumah kami sudah terasa sangat nyaman. Kami benar-benar senang tinggal di sana. Kegiatan tambahan yang bisa kami lakukan adalah memasak. Selama hamil , saya memang tidak terlalu doyan membeli makan di luar. Sekali lagi, saya beruntung memiliki suami yang serba bisa. Dia juga bisa memasak lho. Kadang-kadang, saat saya menemukan resep di website Nova, saya akan menceritakan padanya dan ia yang mengeksekusi resep tersebut. Hal itu sekarang dimungkinkan karena kami benar-benar memiliki dapur sendiri. Hampir setiap sore, kami bercengkrama di dapur sambil menyiapkan makan malam.

Jadi, saya perlu berterima kasih dengan keberadaan Nova yang menyediakan resep-resep ciamik itu. Dengan kehadiran Nova, kebahagiaan kami dalam rumah tangga yang baru itu semakin bertambah. Apalagi dalam merayakan NOVAVERSARY, ulang tahun Tabloid Nova yang ke-28 ini, Nova semakin terlihat lebih bermanfaat. Banyak hal yang bisa saya dapatkan dan pelajari dari Nova untuk menjadi istri yang lebih baik.

Sebentar lagi, kami memiliki seorang bayi. Tempat yang kami tempati sekarang saya kira sudah cukup kondusif untuk menyambut dia. Menurut saya, tidak perlu berbagai fasilitas mewah untuk membuat sebuah rumah nyaman ditinggali. Yang penting ada cinta di sana. Ada ketentraman yang diciptakan oleh para penghuninya. Kami berusaha untuk melakukan itu. Meskipun ada satu dua yang kurang, kami berusaha untuk tetap mensyukurinya. Hal-hal kecil, yang bisa kami penuhi, kami lakukan satu-persatu. Nggak perlu terlalu ngoyo, begitu kata orang Jawa. Seadanya dan secukupnya saja. Yang penting kami bahagia bisa bersama di rumah.

Tentu, di masa depan, kami ingin memiliki rumah sendiri. Hal ini kami realisasikan dengan mencari informasi KPR. Meskipun bertipe sederhana, bagi kami tidak masalah. Kami bisa menerapkan konsep rumah tumbuh di rumah kami nanti. Memang butuh dana yang tidak sedikit, tetapi kami bisa melakukannya secara perlahan.

Mendapatkan sesuatu dengan cara yang instan tentu rasanya akan biasa saja. Berbeda ketika kita berusaha dengan keras dan hasil dari jerih payah sendiri akan membuat kita lebih merasakan nikmatnya. Saat sudah didapatkan pun pasti akan lebih disyukuri. Hal kedua yang menjadi inti pelajaran adalah tidak perlu rumah besar untuk mendapatkan kebahagiaan di rumah. Menerima dan mensyukuri apa yang dimiliki saat ini pun adalah sebuah pencapaian yang luar biasa. Hal itu akan mendorong kita untuk menjalani hidup dengan penuh kebahagiaan.

2014-11-19 15.45.20

 

Sebelum Hari-H

Sebelum cuti, saya ingin nyoret-nyoret dikit di sini. Boleh ya? 😀

Ceritanya, saya udah lama banget nggak “nulis” di blog ini. Beberapa project terbengkalai. Pengennya sih diselesaiin. Tapi, apa daya.. si ibu hamil ini seperti kehilangan setengah kekuatannya terutama pada trimester ketiga.

Kerjaannya setiap hari ya istirahat, termasuk di rumah. Suami yang lebih banyak beraktivitas, mulai dari memasak, bersih-bersih, bahkan manasin air buat mandi. Ahh, baik banget. Jadi, saya agak kurang setuju kalau ada orang yang mengatakan bahwa kehamilan itu semata-mata hanya perjuangan ibu. Suami juga turut menanggung beban, lho. Saya malah kadang-kadang kasihan karena nggak bisa bantu apa-apa. Jangankan melayani dia sebagai suami, saya sendiri kadang masih harus ditolong olehnya.

Udah gitu, selama hamil ini, saya lebih suka makan masakan sendiri (baca: suami, saya bantu-bantu aja). Makanan jadi yang beli di warung kadang rasanya kurang pas dengan lidah saya. Meskipun sederhana, masakan sendiri bagi saya terasa lebih enak. Saya bisa makan lahap sekali. Dan karena kami berdua sama-sama baru pulang kerja pada sore hari, setelah itulah kami baru masak bareng. Romantis, kan? Haha.

Tapi, sebentar lagi saya akan cuti. HPL-nya sih masih sekitar 2-3 minggu lagi. Cuma, saya bersyukur juga bisa cuti segera. Sepertinya, saya memang butuh waktu untuk mempersiapkan dan menenangkan diri. Ada banyak distraksi yang saya temui di tempat kerja, seperti suara-suara yang bikin stres. Pengennya kuping ini lepas dari bunyi-bunyian yang tidak pas. Tapi, nggak mungkin kan memaksa orang lain untuk selalu mengutamakan kita. Meskipun gemes juga sih sama orang yang nggak peduli soal kenyamanan orang lain. Bukan hanya karena saya sedang hamil. Polusi udara itu juga dirasakan orang lain kok. Udah disindir dengan halus sampai diminta terus terang nggak mempan juga. Hhee.. Jadi, ya, cuma berusaha kuat sambil nunggu jam pulang.

Anyway…hari-hari terakhir ini, saya sibuk dengan segala persiapan. Terutama menyelesaikan berbagai pekerjaan. Saya usahakan nggak terlalu merepotkan. Meskipun adalah beberapa hal yang akan membuat rekan kerja terbebani. Kan nggak mungkin ya saya tetap bekerja selama cuti. Selain itu, persiapan benda-benda yang harus dibawa saat hari-H pun semakin gencar. Agak khawatir juga jika masih ada yang ketinggalan. Tapi, dibawa santai aja sambil dilengkapi satu demi satu setiap hari.

Keadaan tubuh lumayan fit. Memang ada beberapa keluhan seperti rasa nyeri yang perlahan-lahan datang. Tapi semoga itu adalah hal baik, untuk persiapan kelahiran nanti. Menurut bidan sih, semuanya normal. Jadi, kemungkinan melahirkan secara normal pun bisa dilakukan. Saya berdoa yang terbaik saja, normal atau tidak, yang penting ibu dan bayi tetap sehat.

Memang ada beberapa kendala, tapi saya dan suami berusaha berpikir jernih. Nggak terlalu dibikin stres karena toh juga nggak ada gunanya. Yang penting adalah tetap siaga dan siap apapun yang terjadi.

Ada satu dua teman yang hamil barengan dan sudah melahirkan kadang-kadang bikin saya iri. Hehehe. Mereka udah melewati fase itu. Saya pengennya segera aja. Tanpa sadar udah lewat gitu lho. Tapi kan nggak mungkin ya. Ya sudah sambil dinikmati aja. Nanti kalau udah selesai pasti akan merasa lega. (Meskipun setelahnya pun babak baru resmi dimulai).

Nah, itu dulu untuk kali ini. Sampai bertemu kembali setelah hari-H. Saya rasa udah nggak sempat menulis lagi sebelum selesai. Semoga semua baik-baik saja dan saya bisa kembali ke sini lagi. Yukk optimis dan semangaatttt! 😉