Kita Perlu Kue Ulang Tahun?

Rabu, 14 Juni 2017, W ulang tahun. Momen ini saya tunggu sejak lama. Bukan mau apa-apa sih, cuma karena baru pertama kali saja.

Dari pagi, emaknya ini udah baper nggak karuan. Saya bangun pagi-pagi banget, antara lain karena tidurnya kecepetan. Lalu, memandang wajah anak lanang yang masih lelap di tengah kegelapan. Damai rasanya.

Nah, hari itu sebenarnya berlangsung biasa sih. Kami hanya mengucap syukur dan berbagi sedikit dengan guru-guru W di sekolah. Nggak ada roti, nggak ada lilin yang ditiup. Saya udah cukup bahagia karena W sembuh dari demam berhari-hari.

Namun, saat pulang, si ayah mampir BreadTalk. Ternyata… dia mau beliin kue ultah buat W, yang bentuknya Angry Birds. Astagaaa… Haha. Emaknya yang berpikir fungsional menolak. Ah, si dede kan belum bisa makan roti begituan. Beli yang lain aja, bolu kek, atau yang lembut-lembut.

Wkwkwkwk…

Habis itu jadi nyesel sih saya melarangnya. Padahal, niatnya mungkin pengen ngerayain ultah pertama anak lanang. Biar sepesial dikit.

Nah, kalau saya prinsipnya beda. Nggak mau mainstream. Udah biasalah pake kue buat ngerayain ultah. Justru.. kalau nggak dirayain malah membanggakan (buat saya). Dan saya pengen kelak W juga nggak selalu berharap ultahnya dirayain, dapat kado macem-macem. Karena memang bukan itu intinya. Saya pengen dia bersyukur aja dengan sederhana setiap tanggal ultahnya.

Sesederhana itu pertentangan kemarin. Tapi, saya jadi berpikir juga. Besok-besok, mesti akan banyak pertentangan lain dalam merawat W. Boleh ini atau boleh itu. Perlu ini atau perlu itu. Ikut prinsip siapa? Semoga selalu ada jalan tengah dimana kami bisa menyelaraskannya. Semoga selalu ada yang mau mengalah di antaranya keduanya.

NB: W sekarang sudah bisa bilang, “Cicak”, “Kereta”, dan “Topi”. Dia juga bisa niruin suara tekek. Hahaha.

Iklan

Piknik Pertama W di Bonbin Gembiraloka

Bulan April dan Mei ini banyak hari liburnya. Senang, sih. Itu berarti saya punya waktu lebih banyak di rumah bersama W. Sedihnya, nggak ada kegiatan. Masa cuma leyeh-leyeh saja sepanjang hari. Bosen!

Nah, beberapa hari sebelum tanggal 1 Mei, si ayah tiba-tiba ngomong dengan nada bertanya, “Libur panjang ini kamu mau ke mana, *Nogu?” Saya yang dengerin dari ruang tengah langsung menyahut. “Emang mau ke mana kita?”

Hahaha. Dasar ibu-ibu kurang piknik! Ayah pura-pura cuek saja dan masih sibuk ngegodain anak lanang. Nyiumin sampe bayi itu ketawa terkekeh-kekeh.

Setelah dikorek baik-baik (karena si ayah ini jarang banget usul soal piknik dan hal-hal yang bikin “senang” lainnya), akhirnya mau juga dia menjelaskan. Tepatnya sih, memaparkan rencananya untuk berwisata ke Kebun Binatang Gembiraloka dengan mengajak W. Yeaayy!

Saya… langsung saja setuju tanpa mikir apa-apa lagi. Akhirnya…

Senin, 1 Mei 2017, kami berangkat sekitar pukul 09.00 WIB. Takutnya kalau kesorean bakal hujan. Repot. Untungnya hari itu cerah banget, malah cenderung panas terik. Sebelumnya, kami mampir di toko Essen, toko roti langganan. Rencananya, kami sudah pulang sebelum makan siang. Jadi, kami cuma beli makanan kecil saja.

Tiba di Gembiraloka, suasana masih sepi. Ya, ada beberapa gerombol anak-anak yang riang banget berlarian. Ada juga ibu-ibu yang bawa balita-balita seperti W. Heuheu, banyak temen jadinya.

Setelah membayar tiket, kami pun masuk. Tentu saja, tiket hanya untuk orang dewasa. Sekarang harganya Rp30.000 per orang. Bersama tiket, kami dibekali selembar brosur yang berisi peta wilayah bonbin dan beberapa informasi seputar bonbin lain.

Setelah W lepas jaket (biar lebih nyaman), kami mulai berkeliling. Tujuan pertama adalah menonton acara Gelar Satwa Terampil. Ini adalah sebuah atraksi yang menampilkan beberapa satwa di Gembiraloka. Semuanya memiliki keterampilan khusus. Misalnya, mendorong gerobak, menghitung, mengerek tali bendera, dan sebagainya. Maafkan, saya lupa nama-nama hewannya. Hehe. Yang jelas, semuanya pinter-pinter dan nurut kata pemandunya.

Pertama kali lihat atraksi itu, sekitar dua atau tiga tahun lalu, kami tertarik dengan burung-burung yang dipandu untuk terbang ke sana kemari. Mereka cantik-cantik banget dan suaranya indah. Nah, kami pengen mengajak W juga melihat itu.

Si ayah pun mengajak kami untuk memutar arah. Kalau biasanya para pengunjung diarahkan untuk menyusuri jalan yang sudah disediakan (yaitu belok kiri), kami justru ke kanan. Katanya, “Biar cepet nyampe. Soalnya atraksinya pukul 10.00 WIB”. Dan.. kami pun berjalan tergopoh-gopoh mengejar itu.

Aih, dan ternyata tempatnya jauh juga ya dari pintu masuk. Saya yang kebagian menggendong W lumayan ngos-ngosan. Rasanya kok seperti jalan tak berujung. Halah!

Area bonbin memang luas. Jadi, ya siap-siap saja kakinya pegel. Sebenarnya ada kereta yang disebut Taring berkeliling di sepanjang area bonbin, tapi kami memilih untuk jalan kaki saja. Sekalian olahraga hahaha.

Tepat pukul 10.00 WIB, kami tiba di lokasi atraksi. Ini adalah semacam panggung kecil yang dikelilingi tempat duduk dari papan kayu. Suasana udah rame. Masih ada tempat  kosong di sudut dan kami pun menuju ke sana.

Atraksi sepanjang 30 menit itu cukup bagus. Hanya saja, apa yang kami harapkan nggak muncul. Entah ke mana burung-burung itu pergi. Hiks. Dan sedihnya lagi, W malah nggak bisa menonton dengan jelas karena posisi kami di sudut. Dia malah asyik ngemil roti. Wew.

BERSAMBUNG…

*Nogu (bahasa Nias): Anakku

[Resensi Buku] Ogomadara Kanojo – Zephyr

Judul: Ogomadara Kanojo

Penulis: Zephyr

Penerbit: PING

Cetakan pertama: 2016

Jumlah halaman: 200

ISBN: 978-602-391-164-6

***

“Jika kau berhasil menemukan hoshizuna, keberuntungan akan segera datang kepadamu.”

“Jadi, keberuntungan apa yang akan kau dapat setelah ini?”

Gadis itu berdiri kaku, merasa begitu bodoh karena kesulitan menjawab pertanyaan sederhana itu. Tenggorokannya tercekat, jemarinya terkepal erat saat menyadari betapa selama ini hanya sedikit sesuatu yang bisa membuatnya tersenyum. Matanya mengerjap, kenangannya seketika terbang bersama kepakan sayap ogomadara yang baru saja hinggap di bahunya.

“Kau suka ogomadara?”

Jantung sang gadis berdenyut begitu dalam saat pertanyaan itu tiba-tiba meluncur dari bibir pria di sampingnya—pertanyaan yang bukan kali pertama ia dengar. Rekaman memori dalam benaknya seakan diputar kembali hingga membuatnya sedikit gemetar, karena yang ia lihat saat ini bukanlah ayahnya.

***

Apakah Ogomadara? Menurut cerita dalam novel ini, ogomadara adalah spesies kupu-kupu beracun berwarna hitam dan putih. Semasa menjadi ulat, hewan ini memakan houraikagami—jenis rumput beracun. Racun bernama danaidone ini tersimpan dalam tubuh ogomadara hingga ia menjadi kupu-kupu.

Chouko, tokoh utama dalam novel ini, tak menyukai ogomadara. Padahal ayahnya senang sekali menyamakannya dengan kupu-kupu ini. “Karena ogomadara adalah kupu-kupu tercantik di pulau kita!’

Chouko memiliki dua orang saudara, yaitu Hayato dan Masaru. Mereka adalah pendatang di Kota Chiba. Telah terjadi sesuatu pada keluarga Chouko sehingga mereka pindah dari Pulau Taketomi. Di kota itu, Hayato bekerja untuk menghidupi mereka bertiga.

Karena kasihan, Chouko juga membantu kakaknya dengan menjadi pelayan di kafe milik sepupu Yoshida Shiki, teman satu-satunya di SMA. Adapun Shiki adalah anak seorang konglomerat, tetapi tak terlalu menonjol. Bertemu dengan Chouko semacam takdir. Meskipun gadis itu berkarakter dingin dan sulit didekati, Shiki pantang menyerah.

Dalam novel ini, kita akan disuguhi perjalanan hidup Chouko dan kedua saudaranya. Anak SMA itu harus belajar mandiri supaya bisa bertahan hidup. Di sisi lain, ada karakter Shiki yang memiliki segalanya sekaligus merasa kosong karena dianggap invisible oleh teman-temannya.

Tema besar cerita ini sebenarnya sederhana, yaitu bagaimana dua karakter bertemu dan saling melengkapi. Kemudian, terciptalah reaksi yang wajar terjadi dan alamiah.

Konflik yang cukup sempurna membuat novel ini terasa hidup. Chouko, Hayato, dan Shiki memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Pengalaman inilah yang menentukan sikap mereka selanjutnya. Apa yang sebenarnya terjadi pada keuarga Chouko akhirnya terbongkar pada halaman-halaman selanjutnya. Di sini, kita menyadari betapa wajar sikap gadis itu setelah peristiwa yang terjadi.

Membaca novel ini membuat kita larut dalam situasi yang diciptakan penulis. Karakter para tokoh dibuat sedemikian rupa supaya tak terkesan dibuat-buat. Konfliknya menyatu dan saling berkaitan.

Selain itu, kita juga bisa mempelajari beberapa istilah-istilah sederhana dalam bahasa Jepang. Istilah ini dilengkapi dengan penjelasan yang lengkap sehingga pembaca memahami maksudnya.

Novel ini menurut saya cukup lengkap secara struktur. Alurnya pun tak membosankan karena disusun maju mundur. Para tokohnya memesona dengan caranya masing-masing.

Kita disuguhi oleh perjuangan berat seorang gadis muda untuk membuat keluarganya yang tersisa tetap utuh. Sembari menyembuhkan diri dari kesalahan masa lalu, masa depan harus dijalani. Chouko menunjukkan kepada pembaca bahwa bangkit dari kesalahan serta tak menyimpan penyesalan yang mendalam adalah kunci untuk maju.

Bagi yang suka hal-hal berbaju Jepang, novel ini juga patut dikoleksi. Pemaparan setting-nya sangat mendukung dan menolong kita sebagai pembaca untuk membayangkan di mana peristiwa itu terjadi. Meskipun tidak terlalu kental, aroma Jepang tetap terasa.

Hal itu juga diperkuat oleh cover buku yang sangat Jepang. Kita jadi ingat komik-komik romantis Jepang, tetapi ini versi novel. Jadi, bagi penggemar komik, Ogomadara Kanojo ini bisa dicoba.

[Resensi Buku] Cafe Lovers – Rosyidina Afifah

Judul: Cafe Lovers

Penulis: Rosyidina Afifah

Penerbit: deTeens

Cetakan pertama: Juni 2016

Jumlah halaman: 268

ISBN: 978-602-391-179-0

***

Berawal dari insiden kantong belanja yang tertukar, Ersen bertemu dengan Adile, gadis periang yang mendalami lukisan aliran surealis. Setiap tiga hari, Adile mengunjungi Ersen di Kafe Velvet, tempat pria itu bekerja.

Suatu ketika, Adile menjanjikan sebuah kejutan pada ulang tahun Ersen, tepat seminggu lagi. Ersen amat tak sabar dengan itu. Ia penasaran, kejutan seperti apa yang disiapkan Adile untuknya.

Di hari ulang tahunnya, Ersen mendapatkan kejutan yang lain. Adille menghilang. Kenapa? Apa yang terjadi pada Adile? Begitulah tanya Ersen setiap hari. Rasa tanya itu menghantuinya, menuntut jawaban. Akan kah Ersen mendapatkan jawaban dari segala tanyanya akan Adile?

***

TOKOH

Ada dua tokoh utama dalam novel ini, yaitu Ersen dan Adile. Ersen, lelaki berusia 26 tahun baru saja pindah dari Izmir ke Istanbul. Adile, seorang gadis pelukis dengan rambut cokelat almond bergelombang sepunggung. Keduanya bertemu dalam insiden tertukarnya tas belanjaan.

Ersen bekerja di sebuah kafe bersama Sahan. Tak lama kemudian, Sahan membuka kafe sendiri dan Ersen pun pindah ke sana. Ada sebuah alasan besar yang membuat Ersen terpaksa harus pindah meskipun sudah betah di Kafe Velvet.Hal ini berkaitan dengan Adile, gadis yang sudah menjadi temannya yang sering mengunjungi kafe itu.

Penggambaran kedua tokoh ini menurut saya biasa saja. Ersen mungkin hanya lelaki kebanyakan yang tak memiliki keunikan. Saya juga tidak terlalu menangkap karakter dasarnya melalui percakapan atau penjelasan langsung. Kalau Adile.. saya rasa dia mungkin agak gaul, lumayan menarik, tetapi suka terburu-buru.

Ada tiga tokoh lain yang cukup berpengaruh yaitu Sahan, Ayla, dan Ardic. Ketiganya diberi tugas untuk menyempurnakan konflik dalam cerita. Di sini, peran Sahan agak membingungkan. Yang cukup jelas adalah Ardic, yang ternyata mantan Adile. Lalu, terjadilah tarik-menarik antara Ersen dan Ardic dengan memanfaatkan ketidaktahuan Adile.

SETTING

Kisah ini terjadi di Kota Istanbul. Penulis menjelaskannya dengan menjabarkan situasi di sana, misalnya:

“Sistem tata kota Istanbul memang sengaja membuat terowongan bawah tanah untuk dilalui oleh pejalan kaki yang ingin menyeberang dari satu sisi jalan ke sisi yang lain di kota ini, sehingga lajur kendaraan di jalan utama tidak terganggu. Dan biasanya, ada beberapa toko yang meramaikan suasana terowongan itu.” Hal. 15.

“Dari kejauhan, lelaki itu mengamati salah satu objek wisata terkenal di kota Istanbul itu. Mulai dari atap kerucutnya, turun ke balkon yang mengelilingi menara 360 derajat, lalu mengamati susunan bebatuan kokoh penyusun Menara Galata.” Hal. 25.

Sedikit banyak, kita diberi gambaran mengenai keadaan outdoor di sana. Begitu juga penggambaran di dalam ruangan, lumayan menolong kita berimajinasi.

“Ersen memasuki kafe itu yang lebarnya mungkin kurang lebih sekitar lima meter. Di luar, kafe ini memiliki suasana full colour yang cerita. Namun ketika menapakkan kaki di dalam, nuansa vintage dan klasik akan menyelimuti hati tiap pengunjung yang datang.” Hal. 27.

ALUR

Dengan menggunakan alur maju, cerita novel ini cukup mudah dipahami. Kita hanya perlu mengikuti setiap percakapan dan peristiwa yang dibangun oleh penulis. Kita diminta untuk bersimpati pada Ersen yang menyukai seseorang tetapi terhalang oleh peristiwa yang tak terduga.

Namun, endingnya menurut saya kurang mantap. Bukannya saya penggemar happy ending, tetapi cara membangun ending yang seperti itu yang menurut saya agak terburu-buru dan terkesan dibuat-buat.

Novel dengan halaman 268 ini saya rasa terlalu tebal dan masih bisa diringkas. Menghilangkan bagian-bagian yang tidak berdampak terhadap alur utama cerita. Sebaliknya, untuk mendukung ending yang bagus, tentu dibutuhkan struktur yang mengarah ke sana. Karena agak kurang fokus, cerita justru kelihatan mengambang di permukaan.

Secara keseluruhan, saya menyukai ide ceritanya. Kisah yang mengangkat kehidupan para pelayan kafe ini cukup menarik dan sederhana, seperti layaknya kisah hidup sehari-hari. Di sini kita bisa memahami bahwa ternyata dari hal-hal sederhana juga bisa muncul sebuah konflik yang bisa diolah menjadi kisah yang panjang.

Jika Anda menyukai novel dengan setting luar negeri dan berhubungan dengan dunia kafe, novel ini bisa menjadi salah satu pilihan.

Perjuangan Busui (1): Pengalaman Pertama

Tantangan selanjutnya setelah masa-masa begadang lumayan berkurang (atau sudah bisa diadaptasi), yaitu menyusui.

Jujur banget, baru sadar kalau ternyata seribet ini jika berkomitmen memberikan 6 bulan ASI eksklusif untuk baby W. Maklum, ibunya buruh pekerja yang “hanya” dapat cuti 3 bulan saja. Artinya, 3 bulan selanjutnya adalah perjuangan yang butuh strategi.

Saya ceritakan dulu ya pengalaman pertama menyusui 😀

Karena melahirkan secara SC, ASI belum bisa keluar spontan. Begitulah katanya. Jadi, selama beberapa hari, saya minum tablet pelancar ASI. Jangan tanya merknya karena saya hanya disediakan oleh suster untuk diminum pada jam tertentu. Lumayan manjur juga meskipun nggak serta merta mengucur deras gitu.

Satu dua hari pertama setelah baby W lahir, ia mulai belajar menyusu. Secara singkat, suster menjelaskan caranya dan kapan harus disusui. Idealnya, setiap 2 jam, ia harus diajak/dibangunkan supaya bisa minum.

Awal-awal kelahirannya, baby W tidurnya lama sekali. Hampir bisa dihitung berapa lama ia membuka mata. Nah, ini malah jadi tantangan tersendiri. Saat ia tidur lelap sekali, kami kesulitan membangunkannya. Dasar orangtua baru, khawatirnya berlebihan. Takut dia kelaparan karena nggak mau bangun. Belakangan diberitahu, bayi membawa ransum untuk maksimal 3 hari saat dia lahir. Jadi, nggak makan apa pun, ia tetap bisa sehat. Ia juga cuma butuh satu sendok teh ASI karena ususnya baru sebesar kelereng. Hihi, imut ya.

Namun, ternyata aturan menyusui 2 jam sekali itu supaya ia mulai belajar menyusu dan merangsang keluarnya air susu ibu. Kami pun melakukan berbagai cara supaya ia bisa bangun, mulai dari memanggil nama, menyentuh, hingga menggelitik. Enggak bangun juga! Haduh, sampai susternya juga turun tangan lalu angkat tangan. Solusinya, kami disuruh terus mencoba.

Sesampai di rumah, ASI mulai lancar. Kesulitannya hanya pada bagaimana mencari posisi yang tepat. Supaya ia dan saya merasa nyaman. Mulai dari duduk di kursi, punggung tegak, hingga pake bantal sebagai alas. Saya sendiri masih agak takut mengangkat bayi yang keliatan rapuh itu. Masa itu menjadi masa yang lumayan menantang.

Kemudian, masalah selanjutnya muncul: puting lecet. Wuahh. Rasanya lumayan. Apalagi baby W harus tetap menyusu. Tiap dia mulai mengisap, saya harus menahan sakit. Hal itu berlangsung hampir seminggu, sebelum benar-benar sembuh. Di antara waktu itu, saya mencoba untuk melakukan perah di payudara yang lecet. Dan, baby W pun minum dari botol. Hore, dia mau lho. Hitung-hitung belajar kalau nanti ibunya mulai bekerja.

Sekarang, semua udah terasa nyaman. Mulai dari posisi nyaman hingga cara menyusui. Bahkan, “menyusu” sekarang tampaknya menjadi solusi jika ia sedang rewel. Akibatnya lumayan pegel juga.

Fase selanjutnya untuk melanjutkan ASI eksklusif adalah menyediakan ASI perah selama saya bekerja. Ternyata enggak mudah lho. Saya harus cari-cari banyak informasi soal itu.

Bersambung…

Ucapan Terimakasih

*untuk suamiku tercinta*

Saya akui, judulnya agak kurang keren. Tampak seperti pengantar membosankan di buku-buku teks tebel yang kayaknya jarang ada yang baca. Tapi, saya merasa inilah judul yang paling cocok untuk postingan saya kali ini.

Proses yang kami lewati mulai dari ketika saya hamil hingga melahirkan terasa cepat sekali. Baru dua Juni kemarin kami melewati anniversary pertama pernikahan, tapi perubahan udah banyak banget.

Saya bersyukur diberi kepercayaan oleh Tuhan bersama suami untuk menjaga dan merawat seorang anak. Berkat orang beda-beda, dan berkat bagi kami adalah seorang anak. Jadi, kami sungguh-sungguh bahagia karena itu. Terlepas dari beragam perubahan yang terjadi dalam hidup kami setelah itu.

Melewati semua itu, ada masa-masa seolah kami nggak sanggup menjalaninya. Pokoknya, memikirkan satu hari ke depan bagaimana, rasanya berat banget. Kami berdua baru pertama kali mengalami situasi ini. Apalagi masa setelah melahirkan yang nggak bisa dijabarkan dengan kata-kata. Rasanya, hidup hanya sanggup untuk satu hari. Berhasil melewati hari ini dengan selamat saja sudah bersyukur. Untuk besok ya besok aja urusannya.

Dalam situasi inilah peran suami kelihatan. Meskipun kadang-kadang saya selalu merasa “kurang dibantu”. Namanya aja orang perfeksionis yang belum tobat sempurna. Masih ada aja hal-hal yang tak sesuai dengan hati untuk dikomplain.

Atas semua komplain saya, saya akui suami sudah cukup sabar. Ia nggak berniat menandingi komplain saya dengan komplain lain yang sebenarnya bisa ia lontarkan. Biasanya ia hanya diam dan terlihat sedih. Untungnya, selain perfeksionis, saya tipe perasa banget. Melihat muka sedihnya itu saya langsung luluh dan lupa pada komplain. Malah jadi merasa bersalah…

Satu bulan lebih setelah baby W hadir, hidup kami seperti jungkir balik. Dan sungguh menenangkan ketika pasanganmu tetap kuat dan bisa berdiri bersama-sama melewati setiap tantangan. Meskipun saya tahu, jauh di dalam sana dia juga khawatir (saya tahu karena dia pernah satu dua kali menangis selama itu).

Namun, yang paling nyata adalah apa yang ia lakukan setiap hari untuk kami bertiga. Contohnya, ia bangun lebih pagi (karena saya udah ditempeli anak dan biasanya habis begadang jadi masih ngantuk) dan memasak. Ia menyiapkan semuanya supaya saya bisa makan hari itu. Pulangnya ya begitu juga. Saya masih belum berani meninggalkan baby W meskipun ia sedang tidur. Takut ada apa-apa. Mungkin perasaan ini besok-besok harus saya kurangi supaya saya bisa lebih leluasa melakukan sesuatu. Toh, baby W hari-hari ini lumayan bisa diajak kerja sama. Siang hari dia lebih banyak tidur dan bangun untuk nenen dan ganti popok.

Anyway, inilah ucapan terima kasih saya yang ngalor-ngidul ke sana ke mari. Bersyukur punya suami yang mengerti kebutuhan istrinya dan mau berkorban meskipun ia bisa aja mengelak dan santai-santai. Semoga kami bisa melewati masa ini dengan tetap sehat dan waras, jasmani dan rohani.

Saya Kembali ;)

*di sela-sela momong anak lanang*

Akhirnya, saya memutuskan untuk mulai kembali nulis di blog. Semoga niat ini nggak menguap begitu saja hehehe. Sekarang, alasannya lebih karena “nggak punya waktu” sih. Ah, masa. Buktinya, banyak tuh emak-emak IRT yang masih bisa berkarya. Gimana ya, caranya, hmm..

Meskipun baby W udah lahir 14 Juni kemarin, sebulan selanjutnya hidup rasanya belum senormal biasanya. Asal tahu aja ya, saya tuh orangnya lebih suka yang keadaan yang stabil-stabil aja. Kalau bisa, jangan ada perubahan apa pun. Dannn.. punya anak ternyata mengubah semua hal. Everything.

Sederhananya mulai dari jam tidur. Sama seperti pas hamil dulu, saya buta soal bagaimana sih rasanya menjadi ibu. Saya tahu banyak artikel atau sharing pengalaman dari para ibu di blog, tapi dasarnya memang belum mikir ke sana jadi tak pernah baca-baca secara serius. Intinya sih tahu kalau kerempongan seorang ibu itu seperti itu. Tapi, kenyataannya? Oh, you must try it yourself hehehe. Bagi yang udah jadi ibu, pasti senyam-senyum dan berbisik, “Welcome to the club!” :p

Balik lagi ke soal jam tidur. Saat kuliah, seperti kebanyakan mahasiswa, saya tahan begadang sampai jam satu malam. Makan lagi jam 12 malam sih biasa-biasa aja. Ngerumpi sampai jam 2 malam di kosan? Udah budaya. Tapi setelah bekerja dan menikah, jam tidur kembali normal. Soal umur juga sih, begadang semalam aja karena harus menyelesaikan project tertentu besoknya badan udah pegel-pegel.

Now, tampaknya “kekuatan” begadang saya harus dibalikin lagi. Siap-siap aja kalau seharian baby W udah bobo, berarti giliran malamnya dia bangun. Nggak selalu emang. Saya berusaha ngikutin aja kemauan dia. Kalau mau tidur atau bangun silakan aja hehe. Kasian juga kalau siang-siang enak-enakan tidur trus dibangunin supaya malamnya nggak begadang. Saya anggap aja dia sedang masanya “kuliah”. Butuhnya memang begitu.

Hal kedua yang berbeda adalah pekerjaan. Saya memang sedang cuti melahirkan selama 3 bulan. Namun, saya juga memiliki pekerjaan lain yang dikerjakan di rumah. Biasanya, saya memiliki banyak waktu untuk melakukannya. Sekarang? Hemm. Jangankan megang kerjaan, makan dan ke kamar mandi aja harus curi-curi waktu.

Tapi.. saya rasa itu semua bisa diakalin. Nggak bisa dong begitu terus. Itu namanya saya manja. Jadi, ya, saya usahain banget mulai manage waktu supaya bisa bekerja saat dia sedang tidur. Meskipun godaan untuk ikut tidur (baca: istrahat) juga demikian besar.

Sekarang, baby W usianya sudah sebulan lebih. Saya rasa sih ada peningkatan dari kemampuan saya ngatur waktu. Saya belajar untuk nggak panik kalau dia gerak-gerak heboh di kasur. Kalau bangun, ya udah, nanti diajak tidur lagi. Saya juga belajar meningkatkan konsentrasi. Nulis postingan ini aja bisa sampe 4 kaki break dan seringnya saya kehilangan mood di tengah-tengahnya. Sekarang harus beda dong ya. Kalau enggak, ya nggak bakal selesai-selesai.

Okelah, banyak hal yang sebenarnya ingin saya tulis. Tapii.. belum ada waktunya. Hehehe. Nantilah kalau ada waktu luang lagi, saya mau lanjutin lagi ceritanya.

Terima kasih sudah baca ya.
Have a nice day 😉