[PART 1] Alasan di Balik Project Ini…

Photo by Pexels.com

Sudah lama saya ingin membuat sebuah project dan menuliskannya di blog ini. Temanya tentang “Mengelola Keuangan Rumah Tangga”

Apa alasannya?

Begini, saya kok semakin lama semakin merasa bahwa seberapa pun jumlah pemasukan tiap bulanan, jika cara pengelolaannya tidak benar, percuma saja.

Ini fakta yang saya alami sendiri.

Pemasukan  tiap bulan bisa dibilang fluktuatif, kadang naik kadang turun. Lucunya, pengeluaran juga seperti itu. Benar, pengeluaran memang cenderung berubah tiap bulan, tapi kok ya ini mengikuti besarnya jumlah pemasukan. Intinya, pemasukan datang, lalu habis oleh pengeluaran. Udah. Gitu aja. Apa nggak konyol?

Semacam angin yang terasa sebentar, lalu hilang. Dan, itulah yang mendorong saya untuk segera ambil tindakan. Minimal mencoba. Untuk mengelola pemasukan–seberapa pun jumlah pengeluaran–supaya ada bekasnya (sedikit). Plus bisa berbagi lebih banyak kepada orang lain.

Tidak perlulah investasi properti (atau yang besar-besar lainnya), cukup dengan menabung saja. Saya rasa ini sudah membuktikan bahwa kerja keras yang dilakukan selama ini ada hasilnya.

Memangnya, berapa pengeluaran bulanan saya (dan keluarga)?

Pernah mencapai 5 JUTA per bulan. Tapi, rata-rata tiap bulan adalah Rp 3 juta hingga Rp 4 juta. Untuk orang yang tinggal di kota sederhana ini, rasanya jumlah itu termasuk “keterlaluan”. Okelah, saya memang nggak ngutang, tapi trus apa?

Nah, bulan ini, karena saya sadar, ini tidak bisa dilanjutkan lagi–plus, saya juga masih optimis bisa berubah–saya ingin mencoba menata kembali keuangan keluarga.

Sebagai permulaan, saya akan memperkenalkan background saya.

  1. Saya tinggal di rumah kontrakan. Tiap bulan, kami menyisihkan sekitar Rp700.000 untuk membayar kontrak rumah setahun. Rata-rata sewa kontrakan di Jogja sekitar 6-8 juta per tahun (untuk ukuran sederhana).
  2. Saya memiliki seorang anak usia 1 tahun. Biaya daycare bulanan adalah Rp750.000.
  3. Masih untuk anak, kebutuhan bulanannya sekitar Rp500.000 hingga Rp600.000 yang mencakup susu, pospak, camilan, perlengkapan mandi, pakaian (sewaktu-waktu). Ini masih belum termasuk biaya jika sakit (berobat ke dokter) yang rata-rata Rp75.000 per kunjungan (minus obat).
  4. Belanja bulanan. Kami menjadwalkan sekali sebulan berbelanja keperluan rumah tangga. Rata-rata pengeluaran adalah Rp300.000-Rp400.000.
  5. Belanja mingguan. Tiap Sabtu atau Minggu, kami juga menyempatkan untuk berbelanja, khususnya untuk membeli bahan-bahan segar bagi si kecil (ikan, sayur-sayuran, buah-buahan). Pengeluaran antara Rp50.000-Rp100.000.
  6. Belanja harian. Karena kami berdua bekerja, kami tidak pernah memasak di hari Senin-Jumat. Jadi, untuk sehari-hari, lebih banyak jajan. Ini untuk efisiensi waktu dan tenaga. Untuk ini, pengeluaran adalah sebesar Rp25.000 per hari (pagi dan malam).
  7. Meskipun tidak memasak lauk-pauk, kami tetap berusaha menyediakan nasi sendiri. Untuk sebulan, kami membeli beras: maksimal Rp100.000.
  8. Untuk keperluan rumah tangga seperti gas, minuman kemasan, dan laundry, sekitar Rp200.000 per bulan.
  9. Biaya listrik dan Indovision: Rp300.000.
  10. Bensin kendaraan Rp150.000 per bulan.
  11. Kami juga sedang mencicil kredit motor sebesar Rp500.000 per bulan.
  12. Pulsa Rp200.000 untuk 2 orang.
  13. Lain-lain (kondangan, sakit, beli keperluan penting) Rp150.000

Nah, berapa semuanya? Tidak perlu dihitung, ya hahaha. Intinya, ada banyak sekali pengeluaran tiap bulan yang harus dipenuhi. Dan rasanya semuanya kok penting. Bagian mana yang harus dipangkas?

Project ini akan menjadi sebuah perjalanan pembuktian bahwa jika kita berusaha untuk mengontrol diri, kita pasti bisa. Tujuannya supaya pemasukan tiap bulan tidak sekadar mampir, tetapi juga ada jejaknya. Seperti yang saya bilang di awal, paling tidak untuk ditabung. Syukur-syukur bisa untuk investasi, baik dunia dan akhirat. Hehe.

Postingan selanjutnya, saya akan menulis tentang “Strategi Menghemat Pengeluaran Rumah Tangga Ala Saya“.

*Bagi yang punya strategi jitu dan sudah berhasil, boleh share juga dong. Tunggu postingan saya, ya.