Day 153: Ketika Melucu Tak Mudah Lagi

cover YNFE

Judul               : You’re Not Funny Enough

Penulis             : Jacob Julian

Penerbit           : PING!!!

Jmlh Hal          : 280 halaman

Tahun              : Juni 2014

 

Membaca judul buku ini, yang sekilas terlintas dalam pikiran adalah sejenis buku humor yang akan membuat saya terpingkal-pingkal. Ya. Funny. Kosakata yang sangat menarik. Dalam dunia kita yang semakin ruwet, mendapati kelucuan untuk ditertawakan adalah sebuah mukjizat.

TIDAK LUCU LAGI

Jamie Dupont alias JD ingin menjadi pencipta mukjizat. Ia adalah seorang comic yang biasa manggung di Jukebox Scene, kafe milik sahabatnya, Beni. Tugas Jamie adalah menghibur para pengunjung dengan menampilkan stand up comedy.

Masalah mulai muncul ketika lawakan Jamie tidak lagi menghibur. Ia tidak mampu menggerakkan saraf tawa penontonnya. Jokes-nya garing dan hambar. Show yang digelar setiap malam hanya menuai kekecewaan, terutama bagi Jamie sendiri.

Apa penyebabnya? Ia sungguh tak mengerti. Berbagai materi sudah dieksplor. Latihan tak ketinggalan. Tetap saja tak mempan. Klimaksnya, ia memutuskan untuk hengkang dari kafe dan memulai kehidupan baru yang jauh dari panggung.

Beni berkali-kali memintanya untuk berpikir ulang. Sang sahabat baik ini selalu berusaha membuka pintu kesempatan bagi Jamie. Kafenya bebas digunakan sebagai tempat pertunjukkan. Namun, bukan hanya “persoalan tak lucu” itu yang mengintimidasi Jamie, bayangan mantan pacar, Sonya, pun terus hadir seolah-olah sedang mengolok-olok.

Ia putus – tepatnya ditinggalkan oleh gadis itu – karena profesinya yang tidak menjanjikan. Bagaimana mungkin seseorang bisa hidup dan membangun keluarga hanya dari menjual guyonan. Tidak ada kepastian dan kemapanan. Padahal, para perempuan kebanyakan mengejar kedua hal itu.

Akhirnya, Jamie mengambil langkah besar. Ia memutuskan hijrah ke Kalimantan, cukup jauh dari Madiun, tanah kelahirannya. Di atas kapal, ia bertemu pasangan Luka dan Fey. Keduanya akan segera menikah. Ternyata, Fey penggemar stand up comedy. Jamie pun didapuk untuk tampil. Lumayan sukses. Namun, semangat Jamie terlanjur redup. Tawaran kapten kapal untuk menjadi penghibur tetap dilewatkannya.

Ia mendarat dengan selamat di pulau tujuan. Dalam keputusasaan, ia bertemu dengan Gaiman, kepala cleaning service di sebuah mal. Uniknya, Gaiman adalah mantan pesulap. Seorang penghibur. Seorang penguasa panggung. Hal ini diketahui Jamie lama kemudian karena terhalang karakter Gaiman yang kurang bersahabat.

Dengan cara mereka sendiri, interaksi terjadi. Saling menyemangati meskipun bukan dalam percakapan yang hangat. Namun, hal itu memuluskan jalan pulang Jamie ke dunia lawak. Ia bertemu dengan orang-orang yang mendorongnya untuk kembali memperjuangkan passion. Hasilnya, ia memulai tur lima kota, termasuk Madiun. Pada saat itu pula, ia bertemu kembali dengan Fey, semangatnya yang baru.

IDE CERDAS

Ide yang ditawarkan penulis melalui novel ini saya akui cerdas. Siapa sangka, di balik profesi seorang comic, ada kisah hidup yang menggetarkan. Tawa, mantra ajaib yang menciptakan suasana menyenangkan, ternyata melewati proses yang tidak mudah. Tidak semua orang bisa menjadi pembuat tawa. Bahkan, mungkin saja ada pelawak yang hatinya menangis di balik tawa para penontonnya.

Untuk menceritakan kisah Jamie, penulis melakukannya dengan sederhana. Ia memakai alur maju yang mudah dipahami. Tidak merepotkan. Kita bisa membacanya dengan santai sambil menyeruput secangkir kopi di beranda rumah.

Namun, masih ada beberapa bagian yang cukup mengganjal. Misalnya, hubungan Jamie dan Sonya yang terus-menerus dibahas dari bab awal sampai akhir. Buat saya, poin ini mengambang karena tidak digali lebih dalam. Sonya tidak lebih sebagai lambang kegagalan bagi Jamie, bukan inti persoalan. Padahal, pudarnya semangat Jamie kurang lebih disebabkan oleh gadis itu. Setidaknya, itulah yang tertangkap oleh saya sebagai pembaca.

Selanjutnya, penulis juga kurang memberi perhatian pada  kehadiran Fey di awal-awal pertemuannya dengan Jamie. Tidak ada sentuhan emosional yang membuat jantung berdebar-debar. Akibatnya, posisi Fey menjadi tidak kuat. Seandainya mereka tidak bertemu lagi di akhir cerita, tampaknya bukan masalah besar. Ohya, sebagai pasangan Fey, Luka pun belum maksimal menjalankan perannya.

Yang unik adalah tokoh Gaiman. Bagi saya, tokoh Gaiman memegang peranan yang sangat penting dalam perjalanan hidup Jamie, khususnya dalam fase kebangkitannya. Ya, hubungan mereka cukup jelas dan saya mengagumi imajinasi penulis yang menyatukan profesi seorang cleaning service dengan pesulap. Di luar sana, banyak pekerja seni yang juga hidup sengsara. Realita yang sering kita ingkari.

Penulis rupanya menggelisahkan hal-hal yang luput disadari sehingga melahirkan buku yang memaksa pembaca untuk merenung. Sehabis membacanya, sebuah pertanyaan pasti akan menyelinap ke kepala: “Apakah kehidupan para pelawak di negeri ini juga penuh dengan drama yang tak terbayangkan?” Bisa jadi. Kesadaran itu membuat kita bersyukur; semua orang pun memiliki masalah, tak terkecuali mereka yang seperti raja di atas panggung.

Iklan