Day 164: Mengapa Tuhan Masih Mencintaiku?

Jika kita mengamati silsilah kelahiran Yesus Kristus dengan saksama, akan terlihat bagaimana Allah tetap memakai pribadi yang sebenarnya tak layak sebagai alat penggenapan rencana-Nya bagi dunia ini. Apa pengaruh tindakan Allah tersebut terhadap kita, ciptaan-Nya?

 

Masih ingat kisah Tamar dan Yehuda? Ah, tentu saja. Ini adalah salah satu kisah dalam Alkitab yang mengguncang konsep berpikir kita mengenai moral dan etika. Betapa tidak,  dikisahkan ada seorang wanita yang hamil di luar nikah setelah berhubungan badan dengan mertuanya, yaitu Tamar. Dari hubungan tersebut, lahirlah anak kembar bernama Peres dan Zerah. Jika dirunut kemudian, dari keturunan Pereslah lahir Yusuf, suami Maria, ayah Yesus.

Di rentang silsilah tersebut, kita bisa menemukan seorang sosok berpengaruh yang tergelincir dalam dosa perzinaan. Benar, ia adalah Daud. Daud dikenal sebagai figur yang ideal dan berkenan di hadapan Tuhan. Sejak muda, ia telah dipilih untuk menjadi seseorang yang menggoreskan sejarah dalam perjalanan umat Israel. Tuhan memandangnya begitu istimewa, hingga pada suatu hari, seorang wanita cantik menggetarkan hatinya. Sayangnya, wanita itu telah bersuami. Lalu, terjadilah seperti cerita yang tertera dalam Alkitab. Setelah Daud melewati masa-masa penyesalan serta penyelesaian dengan Allah, Batsyeba, istri Uria, melahirkan seorang anak yang dinamai Salomo. Dari Salomo, lahirlah generasi-generasi selanjutnya yang kemudian menjadi nenek moyang Yesus secara lahiriah.

Sebelum itu, ada pasangan Boas dan Rut yang berasal dari Moab. Bangsa Moab adalah keturunan dari hasil hubungan inses Lot dan anak perempuan sulungnya. Jika dilihat secara pribadi, Rut memiliki latar belakang yang tidak begitu bagus. Ia hanya seorang janda miskin yang meminta-minta makanan. Sementara, Boas tidak jauh berbeda. Ia adalah anak Rahab, seorang perempuan sundal dari Yerikho. Pasangan ini adalah nenek moyang Raja Daud.

Lantas, pertanyaan besar yang tentu menggantung di benak kita adalah apakah saat itu Allah kekurangan orang-orang kudus lain yang bisa dijadikan sebagai cikal bakal kelahiran Yesus Kristus di dunia ini? Mengapa Allah memilih orang-orang dengan jejak-jejak kehidupan yang tidak beres? Apa sebenarnya maksud Allah.

Dosa Manusia

Sejak kejatuhan manusia dalam dosa di Taman Eden, ada yang disebut dengan janji induk. Janji induk adalah dampak dari kejadian antara Hawa, Adam, dan ular atau Iblis. Pada peristiwa ini, ada semacam perjanjian tak tertulis antara Iblis dan anak-anak manusia. Intinya, dari keturunan seorang wanita akan datang seorang penyelamat, sementara Iblis tak henti-hentinya akan berupaya menghancurkan manusia.

“Karena tahu bahwa keselamatan akan datang dari seorang wanita, Iblis mencoba menghancurkan itu. Itulah sebabnya ketika ditelusuri, ternyata Yesus bukan berasal dari garis keturunan baik-baik. Ini adalah usaha Iblis untuk menggagalkan rencana penyelamatan Allah terhadap manusia,” ungkap Pdt. Dr. Budyanto (65), Dosen Theologi di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Yogyakarta.

Akan tetapi, rencana Allah tidak bisa digagalkan oleh kebobrokan manusia tersebut. Sebenarnya, Allah telah merancangkan hal-hal baik untuk mencapai tujuan-Nya. Namun, karena tersandung oleh godaan duniawi, manusia menjadi jatuh dan berdosa. Namun, itu tidak berarti rencana Allah mandeg sampai di situ. Kasih-Nya yang besar mengambil alih. Rencana penyelamatan tetap berjalan meskipun diliputi oleh berbagai halangan, yaitu ketidaktaatan manusia.

Pendekatan Secara Pribadi

Seseorang dikatakan beriman bukan karena tidak pernah jatuh dalam dosa. Namun, beriman berarti bangkit lagi meskipun pernah jatuh dalam dosa. Siapa, sih, manusia yang tidak pernah berdosa? Ada banyak tokoh Alkitab yang mengalami hal tersebut, seperti Abraham, Musa, bahkan Petrus.

Kita mengenal Petrus sebagai figur yang impulsif dan ekstrover. Ia adalah murid Yesus yang sangat suka berbicara. Ia mengungkapkan perasaannya dengan blak-blakan, termasuk janjinya untuk menjadi sependeritaan dengan Gurunya. Namun, pada malam penyaliban itu, Petrus justru menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Apakah tidak sebaiknya Yesus memecatnya sebagai murid?

“Gaya teguran Tuhan Yesus memang sangat berbeda. Ia tidak menghakimi terlebih dahulu, tetapi justru merangkul. Setelah itu baru memberi tahu, ‘Kamu itu salah’,” ujar Budyanto. Hal itu dialami sendiri oleh Petrus. Pada akhirnya, Yesus mendatangi Petrus secara pribadi dan memulihkannya. Ia kemudian memakai rasul itu untuk menyelamatkan 3.000 orang pada hari Pentakosta

Ada banyak tokoh lain yang dipakai Yesus dengan luar biasa tanpa melihat latar belakang kehidupan mereka. Jejak suram yang mereka tinggalkan dibiarkan Tuhan tak terlihat. Tampak jelas, Yesus begitu mengasihi manusia dan tidak membiarkan ketidaksempurnaan menghentikan proses penyelamatan.

“Kasih Tuhan itu luar biasa. Bisa kita lihat secara jelas saat Dia menyelesaikan persoalan perempuan pezina. Ia tidak menghakimi. Ia justru meminta, jika ada, orang-orang yang tak berdosa untuk melemparkan batu. Yang ingin ditunjukkan Yesus adalah bahwa setiap orang sudah berdosa. Mungkin bukan kejahatan seksual, bisa saja korupsi, menipu, memanipulasi, dan sebagainya,” jelas mantan Rektor UKDW ini.

Mengadopsi Prinsip Allah

Cara yang dipakai Yesus tersebut tidak mudah dijalani. Ada risiko yang harus ditanggung di balik keputusan untuk menerima dan mengasihi orang lain apa adanya. Untuk mempertahankan prinsip seperti itu, Yesus bersedia dihina dan direndahkan. Begitu pula setiap orang atau gereja dan komunitasnya harus bersedia mengalami kerepotan, dianggap tidak berdaya, untuk mengikuti teladan Yesus. “Saat ini gereja hanya berada dalam zona nyaman,” tambah Budyanto.

Akan tetapi, hasil dari menanggung risiko tersebut tidak sia-sia. Dalam kasus Petrus, rasul besar ini bukan hanya menyelamatkan 3.000 orang sekaligus, ia juga menjadi rasul yang setia sampai mati. Perhatian dan kepedulian Yesus secara pribadi justru membangkitkan sisi paling dalam dari Petrus untuk mengasihi sesamanya. Ia memberitakan Kabar Baik dengan menggebu-gebu.

Setidaknya itu juga yang dirasakan oleh Pdt. CH. Martinus Nussy, S. Miss. (46). Martinus adalah anak ke-9 dari sebuah keluarga kaya. Ketika ia dilahirkan, kondisi keluarganya sedang tidak baik alias sedang mengalami kebangkrutan. Sang ayah juga ketahuan berselingkuh. Sejak bayi, Martinus diasuh oleh orang lain yang bukan beragama Kristen dan ia dikucilkan dari lingkungan keluarga.

Latar belakang yang tidak ideal ini tidak menjadi penghalang bagi rencana besar Allah dalam hidup Martinus. Setelah melewati masa-masa penolakan karena ia kuliah di sebuah sekolah theologi dan dibaptis menjadi orang percaya, kini Martinus mengelola sebuah panti asuhan, yaitu Lembaga Pelayanan Peduli Anak Bangsa Batu Penjuru di Kulonprogo, Yogyakarta. Lembaga ini baru berdiri pada 11 Juni 2011 lalu. Visi mereka adalah mencari anak-anak yang terhilang dan mengubahnya dari nothing menjadi something.

Pengalaman Martinus secara pribadi bersama Yesus membawanya pada komitmen yang kuat untuk melayani dan mengasihi anak-anak di Batu Penjuru. Kesempatan baru serta pertolongan yang tak henti dari Tuhan menguatkan Martinus bersama istri untuk mengelola panti asuhan dengan kasih yang datang dari hati.

Sulit, Tetapi Tidak Mustahil

Stevanus Sanjaya, seorang psikolog, mengatakan ada kecenderungan pada seseorang untuk takluk jika didekati dengan kasih. Hal ini bermula dari pengalaman pertama manusia bersentuhan dengan kasih, yaitu sejak bayi. Namun, kemampuan untuk mengasihi orang lain yang sesungguhnya tidak ideal untuk dikasihi adalah berkat kematangan spiritual.

“Mungkin dalam hidupnya ia pernah mengalami kekurangan kasih. Namun secara psikologi, dalam diri setiap manusia ada dokter dan apotek sehingga ia bisa menyembuhkan luka-lukanya. Orang yang terlatih menyembuhkan luka batinnya akan mampu menolong dirinya sendiri. Ketika berjumpa dengan orang-orang yang tidak layak dikasihi, ia justru bisa mengasihi. Ini adalah orang-orang tipe teflon, dalam hatinya tidak lengket perbuatan buruk orang lain,” ujar Stevanus.

Selain pendekatan secara psikologis tersebut, umat kristiani pun dilimpahi kasih yang menakjubkan dari Allah. Penerimaan-Nya terhadap keberadaan manusia tanpa memandang jejak-jejak masa lalu adalah penegasan bahwa Dia, Allah yang Pengasih, memiliki rencana agung yang tidak tergoyahkan oleh kebobrokan manusia. Itulah sebabnya Dia terus bersedia menerima manusia dengan kelemahannya terhadap godaan.

Pada dimensi yang berbeda, gereja memiliki tanggung jawab untuk meneladani sosok Kristus ketika menghadapi para pendosa yang bertobat. Mengucilkan dan menghakimi adalah cara-cara duniawi yang sejatinya tidak sealiran dengan ajaran Yesus. Jika masih ada gereja atau komunitas umat Kristen yang melakukan tindakan seperti itu, pertanyaan paling mendasar yang harus direnungkan adalah, “Apakah kita masih mengusung Kristus sebagai teladan hidup?”

(Dimuat di BAHANA Desember 2013)

Iklan