[Resensi Buku] Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya – Lugina W.G. dkk.

Cerita-cerita pendek di kumpulan ini telah berusaha dengan baik menarik lepas persoalan kecil dari satu dunia besar kemudian menjadikannya jalan masuk bagi para pembaca untuk kembali ke dunia dari mana cerita itu berasal.

– M Aan Mansyur, novelis dan penyair

♣♣♣

Celia tak pernah mengerti, mengapa Puffin tak bisa berhati-hati. Ia menyenggol perabotan ke mana pun ia pergi; gelas beradu menyentuh lantai.. Prang! Seingat Celia, dulu Puffin tak pernah bertingkah nakal. Ia manis dan begitu lembut.

Namun, Celia kini sering terpaksa memarahi Puffin. Celia benci melihat pecahan gelas berhamburan. Ia sungguh benci terbangun di malam hari karena bunyi gelas-gelas bertumbukan. Bermalam-malam ia dihantui mimpi pecahan kaca yang mengejarnya seperti gerombolan lebah. Menyengat dan menancap di kepalanya seperti mahkota.

Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya (Lugina W.G)

♣♣♣

Jika selama ini mendengarkan musik, menonton film, atau menghirup aroma parfum menjadi pilihan untuk memperbaiki mood, coba tambahkan kumpulan cerpen #KampusFiksiEmas2016 ini.

Pembaca akan menyaksikan aroma parfum, mendengarkan film bisu, atau membaui kuatnya pengaruh musik kepada manusia. Coba buka, dan ikuti ke mana mata membawa indra lain mengembara.

♣♣♣

Judul: Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya

Penulis: Lugina W.G dkk.

Penerbit: Diva Press

Cetakan pertama: Mei 2016

Jumlah halaman: 256

ISBN: 978-602-391-147-9

♣♣♣

Membaca sebuah cerpen rasanya memang tidak sama dengan membaca sebuah novel meskipun keduanya sama-sama karya fiksi.

Saat membaca novel, saya harus berusaha untuk terus-menerus menggali ingatan supaya tak tersesat ketika terpaksa berhenti dan menyelinginya dengan kegiatan lain. Apalagi jika novel tersebut lumayan tebal sehingga butuh waktu lama untuk menyelesaikannya.

Berbeda ketika membaca cerpen—yang biasanya selesai dibaca dalam waktu sekali duduk. Ceritanya bisa utuh. Justru setelah selesai proses membaca itulah ada yang terkenang-kenang. Tentu ini berlaku pada cerpen-cerpen yang mengena secara personal.

Seperti yang dikatakan M Aan Mansyur dalam pengantarnya, tidak semua cerpen dalam kumpulan ini menarik perhatiannya, demikian juga saya. Sah-sah saja kan secara subjektif kita menilai kisah mana yang paling menarik. Yang lain? Belum tentu jelek juga kok.

Maka jika boleh memilih, ada 3 cerpen yang membuat saya terkesan, yaitu Celia dan Gelas-gelas di Kepalanya (Lugina W.G), Goodbye (Ghyna Amanda), dan Fatwa Soal Lelaki dan Perempuan (Amaliah Black).

Celia dan Gelas-gelas di Kepalanya

Puffin adalah kucing Celia yang dulu manis dan lembut. Sekarang, kucing itu begitu serampangan dan senang memecahkan berbagai perabotan pada saat malam tiba. Setidaknya, itulah yang dikira Celia. Ia masih kecil dan tak paham apa yang sedang terjadi dalam keluarganya.

Kenyataannya, “Bukan Puffin. Papa yang memecahkan gelas-gelas. Bukan Puffin. (Hal 103)”. Namun, dalam pikiran gadis kecil itu, ada semacam penolakan terhadap kenyataan. Bagaimana bisa Papa yang dulu sangat baik menjadi beringas?

Penulis meramu cerpen ini dengan sangat halus. Ada makna yang sangat dalam yang ingin disampaikannya. Ia meminjam mata seorang gadis kecil yang terjebak dalam ketidakharmonisan orangtua. Sesungguhnya, pertengkaran antara laki-laki dan perempuan dalam sebuah pernikahan sangatlah kompleks. Tapi, apakah anak-anak bisa memahami kekompleksan itu dan bisa menerimanya?

Anak-anak cenderung tak tahu apa yang sedang diperdebatkan oleh orangtuanya. Mereka tahunya ada perubahan situasi dan itu tak menyenangkan. Sebagai gadis kecil yang mengalami perubahan situasi tak mengenakkan, Celia hanya melihat Puffinlah sebagai penyebab semua kekacauan tersebut. Cerpen ini menyentil para orangtua untuk lebih menjadi teladan.

Goodbye

Tokoh “aku” sedang melaksanakan sebuah misi melalui perjalanannya ke Yokosuka dari Kobe. Misi itu adalah mengikuti pesan terakhir  sang Paman yaitu membawakan karangan bunga untuk gitaris bernama Hide yang terlebih dahulu meninggal. Paman adalah fans garis keras Hide.

Yang dimaksud dengan “garis keras” adalah benar-benar memengaruhi hidup seseorang, bahkan hingga membuatnya mengambil keputusan-keputusan ekstrem. Nggak masuk akal? Tapi itu bisa saja terjadi. Lihat saja para fans band-band masa kini atau fans JKT48, mungkin?

Dalam perjalanan tersebut, “aku” bertemu dengan seseorang yang berpenampilan aneh. Kedua tokoh ini duduk berdampingan dan memiliki kesempatan ngobrol yang cukup panjang.

Bagi saya, percakapan mereka sangat natural. Seperti hal-hal yang akan terjadi pada orang yang baru berkenalan dan kemudian tanpa sadar mengalirkan cerita-cerita yang tak seharusnya disampaikan kepada orang asing. Hal ini dituangkan oleh si penulis dengan baik. Tidak terlalu akrab, tapi juga tak paranoid.

Sebenarnya, perjalanan itu sangat berarti, mungkin bagi keduanya, tapi terlebih bagi “aku”. Ada yang disebut rekonsiliasi atas apa yang telah terjadi pada sang Paman. Intinya, sebuah “perjalanan” akan membuat kita mengerti mengenai apa yang awalnya tak kita mengerti. Ada petunjuk-petunjuk—yang bisa muncul dalam bentuk apa saja—yang memberi kita pemahaman secara magis.

Fatwa Soal Lelaki dan Perempuan

Cerpen ketiga ini bercerita tentang seorang gadis kecil bernama Srikandi yang tak beruntung karena lingkungan hidupnya. Awalnya, ia sangat memuja ibunya yang dianggapnya sebagai utusan Tuhan. Namun, ia sampai pada kenyataan pahit, ibunya ternyata tak seperti anggapannya selama ini.

Satu demi satu, seiring dengan usianya yang menanjak, pemahaman Srikandi semakin dalam. Ia melihat bukti bahwa ibunya tak berlaku seperti ibu yang baik. Begitu juga ketika banyak orang mempergunjingkan sang Ibu. Kekecewaannya semakin mencuat. Namun, apa daya, ia hanyalah gadis kecil yang tak memiliki ayah dan dicecoki dengan cerita Siti Maryam yang mengandung pula tanpa suami.

Sekali lagi, kisah ini merekam sejarah kegagalan orangtua sehingga anak-anak menjadi korban. Pada akhirnya, kita akan melihat bahwa kehidupan anak-anak tersebut pada masa selanjutnya tak jauh berbeda dengan apa yang mereka alami semasa kecil.

♣♣♣

Selain dari ketiga cerpen ini, cerpen yang lain juga layak untuk dinikmati dan dihargai. Meskipun kadar kenikmatannya dalam porsi yang berbeda-beda untuk setiap orang. Namun, saya tak memungkiri bila ketigabelas cerpen yang ada dalam kumpulan ini bukan jenis cerita yang abal-abal. Ada yang membekas setelah kita selesai membacanya. Tema yang ditetapkan, yaitu musik, film, dan parfum, benar-benar menyatu dengan cerita dan membuat cerita tersebut semakin hidup dan menarik.

Iklan

2 tanggapan untuk “[Resensi Buku] Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya – Lugina W.G. dkk.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s