[Resensi Buku] Maple Terakhir – Aning Lacya

Bukan seberapa pentingnya masa lalu, tapi seberapa jauh kamu belajar darinya.

Apa kau pernah ingin berlari dari masa lalu tapi justru semakin tenggelam di dalamnya? Camille sedang mengalaminya. Mencoba berbagai cara dan masih dihantui masa lalu.

Camille berencana melakukan hal yang sama sekali baru: bolos kuliah, dan bertekad melihat dunia yang sama sekali baru baginya.

Di sanalah ia bertemu Joulien. Bahagia mendapat sahabat baru, Camille bersepeda untuk menikmati reruntuhan daun maple. Di sanalah ia memberanikan diri untuk menyapa Ken.

Dua kebiasaan baru. Dua sahabat baru. Tapi ternyata, Camille pada akhirnya harus tetap berhadapan dengan masa lalu yang baru.

Camille harus menghadapinya kali ini, karena ia tak mungkin selamanya berlari.

“Untuk orang-orang yang percaya, selalu ada harapan di masa yang akan datang.”

♣♣♣

Judul: Maple Terakhir

Penulis: Aning Lacya

Penerbit: PING

Cetakan pertama: 2016

Jumlah halaman: 188

ISBN: 978-602-407-002-1

♣♣♣

Awalnya, saya belum benar-benar menangkap maksud dari kisah dalam novel ini. Adalah seorang gadis bernama Camille yang ingin menemukan hal baru dalam hidupnya dan meninggalkan masa lalu. Secara singkat, dia menceritakan bagaimana hubungannya dengan seorang lelaki akhirnya kandas karena dia diperlakukan seperti robot, bukan kekasih. Karena itu, Camille memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka meskipun ia masih cinta.

“Ia yakin, ia masih mencintai laki-laki di masa lalunya. Tapi ia juga sangat yakin untuk tidak lagi melanjutkan hubungan tersebut. Jika saja laki-laki itu memercayainya, memberi sedikit ruang gerak, dan memberinya kesempatan untuk sesekali merasa benar, Camille masih akan mempertahankannya.” Hal 11.

Tidak ada nama. Tidak ada penjelasan yang lebih lanjut. Intinya adalah Camille ingin pergi dari kenangan tersebut dan menemukan hal-hal baru supaya tak teringat lagi pada kehidupan cintanya yang tak menguntungkan.

Pada sebuah pameran fotografi, Camille bertemu dengan seorang gadis bernama Joulien. Pertemuan mereka seperti ada yang mengatur dan kemudian mereka pun berteman. Mereka sama-sama suka fotografi dan selanjutnya akan menjadi sepasang sahabat.

Tidak berapa lama kemudian, Camille kembali bertemu dengan orang baru. Namanya Ken. Ken dan Joulien, kenalan baru Camille, sama-sama pecinta bokeh. Apakah bokeh itu? Tidak ada penjelasan detail mengenai hal itu dalam novel ini. Saya hanya mencoba meraba-raba artinya apa (karena sangat amatir dalam bidang fotografi). Setelah searching, kira-kira bokeh itu artinya area blur (out of focus) di luar titik fokus dalam foto. Hmm..

Cerita pun terus bergulir. Penulis bercerita tentang Camille yang sibuk menulis novelnya berjudul Questions for Love. Kemudian Camille bertemu kembali dengan Ken. Dan seterusnya. Percakapan-percakapan yang terbangun di antara mereka menurut saya agak-agak absurd dan puitis. Misalnya, saat Camille mengatakan pada Ken, “Ajak aku mengenal duniamu. Kemudian, ajak aku membentuk duniaku.” Ini kan bukan percakapan sehari-hari yang kita temui, apalagi pada orang yang belum terlalu lama dikenal. Percakapan-percakapan Ken dan Camille lebih seperti diskusi mengenai makna hidup dan kehidupan mereka saat ini dan masa lalu. Bukan termasuk dalam percakapan yang ringan.

Jika diamati, cerita didominasi oleh interaksi antara Ken dan Camille. Disela pula oleh seseorang yang ternyata pernah menjadi orang penting dalam hidup Ken. Sebut saja, “mantan”. Inilah yang menjadi bibit “konflik” dalam cerita yang awalnya datar-datar saja ini. 

Pada halaman 65, kita akan menemukan sebuah bagian yang mulai memancing emosi. Ternyata, Ken memiliki masa lalu yang dikenal Camille sebagai hal baru baginya. Dan Camille samasekali tidak mengetahui hal itu pada awalnya. Setelah tahu, duarr, ia pun kaget.

“Ken masih mengingat pertanyaan gadis itu. Hari ini cukup mengejutkan baginya. Entah ia harus gembira menyambutnya, ataukah ia akan memilih mundur dan memutuskan tak lagi memasukkan gadis itu dalam kehidupannya. Setahunya, ia memang menunggu saat-saat seperti itu.” Hal 68.

Nah dari sini, konflik mulai sedikit menarik. Meskipun lebih pada konflik dalam batin para tokoh. Hanya sedikit bagian yang menunjukkan konflik terbuka. Camille hanya menyimpan semua yang ia ketahui tentang teman-teman barunya itu dalam hati dan menjadi bingung dengan perasaannya. Ia kembali dilempar pada masa lalu berkaitan dengan cinta.

Secara keseluruhan, novel ini memiliki banyak ungkapan, istilah, dan kalimat yang bermakna dalam. Sehingga tidak mudah bagi kita untuk sekali baca langsung mengerti. Ada maksud-maksud lain yang ingin disampaikan penulis melalui kata-katanya yang bersayap. Diskusi-diskusi yang ada dalam sebuah percakapan ingin mengajak pembaca merenungkan sesuatu, terutama makna masa lalu.

Konflik yang dibangun menurut saya lumayan menarik meskipun itu baru muncul pada pertengahan cerita. Namun, adakalanya saya merasa sedikit gemas karena rasanya flat. Akhirnya saya cenderung men-skip bagian-bagian tertentu.

Setelah membaca seluruhnya, saya menjadi tahu apa yang dimaksudkan oleh penulis. Dan itu membuat saya harus kembali untuk melihat lagi bagian sebelumnya. Ohhh… jadi ini maksudnya. Yaaa.. rasa-rasanya seperti tidak ada koneksi yang terbentuk antara otak saya dengan rangkaian alur cerita. Bahkan, sempat juga pikiran saya lari kemana-mana saking lambatnya alur cerita berjalan.

Selain itu, saya juga belum bisa membayangkan karakter para tokoh, mulai dari usia mereka berapa atau bentuk fisik mereka seperti apa. Penjelasan semacam itu menurut saya masih minim sehingga saya harus meraba-raba seperti apa Camille, Joulien, atau Ken.

Setting cerita di novel ini adalah di luar negeri dengan kota-kota asing seperti Brugge, Gent, Rozenhoedkaai, dan sebagainya. Namun, saya belum terbawa oleh suasana yang berbeda. Memang ada penjelasan mengenai daun maple yang berguguran, cuaca, tempat-tempat umum, tapi tidak dengan kebudayaan masyarakat setempat, interaksi yang membawa kita menjadi lebih memahami setting yang dipilih tersebut. Padahal, bisa jadi itu menjadi pengalaman membaca yang menyenangkan karena setting yang belum pernah saya kunjungi dan berbeda dari biasanya.

Akan tetapi, tema yang ingin diangkat penulis sebenarnya bisa dimaknai dengan mendalam. Bahwa kita tak bisa menghindari masa lalu, tetapi harus menghadapinya. Karena kita akan terus dihadapkan pada masa-masa yang terus berlalu seberapapun kerasnya kita menghapusnya dari ingatan. Dan jika kita telah berani berdamai dengan masa lalu, kita akan menjadi manusia yang lebih bijak dan kuat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s