[Resensi Buku] Distance Blues – Agustine W.

Memilihmu, haruskah merasa ragu?

Nyatanya, Elmi memang sedang mempertanyakan isi hatinya sendiri. Bukan maunya jauh dari Dirga, sang kekasih. Lagian, Dirga bekerja untuk masa depan mereka juga, kan? Tapi, Rasyad–chef pemilik restoran Timur Tengah yang ganteng banget–membuat sesuatu di dalam dada Elmi tercampur baur.

Rasyad rajin memberi Elmi kejutan. Ia juga siap jadi “sopir” kalau saja Elmi mau. Sesekali, tindakan Rasyad yang spontan malah membuat Elmi tersentak–Dirga saja belum pernah melakukannya. Apalagi, Dirga bukan tipe cowok romantis yang suka memberi Elmi surprise.

Rasyad yang hadir saat LDR-an, OCD yang butuh terapi, belum lagi Mama yang cerewet dan berputar-putar di kepala Elmi.

Tapi, urusan hati harus diurai, kan? Berarti, Elmi memang harus memutuskan…

♣♣♣

Judul: Distance Blues

Penulis: Agustine W.

Jumlah halaman: 288

Cetakan pertama: 2016

Penerbit: PING

ISBN: 978-602-391-109-7

♣♣♣

Setiap mulai membaca sebuah buku, saya selalu berusaha untuk optimis. “Kira-kira, kejutan menarik apa nih yang bisa saya dapatkan dari buku ini?” Kurang lebih begitulah pikiran saya saat membolak-balik buku tersebut.

Soal kaver tentu saja menjadi bahan pertimbangan. Tampilan kaver yang menarik membuat rasa optimisme saya semakin besar. Judul juga. Semakin enak dibaca dan terasa keren, rasa penasaran saya semakin besar dan antusiasme membubung tinggi.

Nggak lupa, saya pun mencari tahu siapa penulisnya. Bukan untuk apa-apa sih. Semacam kebiasaan saja. Minimal, saya akan membaca bagian: Tentang Penulis secara sekilas. Nah, itu memberi saya gambaran mengenai kisah yang kira-kira akan saya nikmati.

Perasaan ini bukan kali pertama datang. Sebelumnya sudah cukup membuatnya gelisah. Namun ia sempat tak ingin mengambil pusing hingga payah. Hal. 9

Kalimat pertama (atau alinea pertama) dari sebuah cerita adalah bagian yang tak pernah saya lewatkan. Ketertarikan saya pada buku tersebut akan meningkat 50 persen saat mendapatkan barisan-barisan kalimat yang ringan dan lancar.

Saat membaca bagian pertama di novel ini, yang terbayang adalah sebuah kisah yang agak-agak puitis. Apalagi potongan kalimat, “.. tak ingin mengambil pusing hingga payah.” Terasa nggak biasa kan? Pasti ini novel yang lumayan berat, batin saya.

Selanjutnya, saya mulai mengunyah sedikit demi sedikit barisan kata-kata dari halaman pertama. Konsentrasi disiagakan. Namun, rasanya kok pembacaan saya tersendat-sendat. Nggak ngalir. Ada bagian-bagian yang seolah-olah lepas dari cerita atau tak berhubungan.

Misalnya:

Gadis dengan rambut yang digelung rapi selama bekerja itu mengangguk-angguk sambil berdeham. Hal. 30.

Situasi: Elmi dan Laras sedang ngobrol tentang hubungan Elmi dan Dirga. Penjelasan tentang rambut menurut saya tidak ada kaitannya alias tidak berdampak pada cerita yang sedang terjadi. Seandainya dihilangkan juga nggak apa-apa. Atau minimal, penjelasannya bukan pada adegan tersebut.

Ada juga bagian yang logikanya dipertanyakan. Atau saya yang kurang paham? Hehe.

Misalnya, ketika Dirga, kekasih Elmi berkunjung ke rumah calon mertuanya itu. Ceritanya Dirga didesak oleh keluarga Elmi, terutama sang Mama, untuk menegaskan komitmennya terhadap Elmi. Namun, Dirga dengan gesit mengelak dan memaparkan alasan kenapa ia belum kunjung melamar Elmi. Di balik keraguannya, Mama Elmi membatin.

Sepertinya anak ini jujur. Kalau enggak, mana mungkin Jeng Haryanti menitipkan jajanan segitu banyak ke anaknya ini? Pasti orangtua Dirga sudah tahu cukup baik Elmi dan kami sebagai keluarganya, walau memang belum pernah bertemu dengan kami. Hal 50

Saya agak “kehilangan arah” setelah membaca bagian ini. Maksudnya gimana to? Jika ingin menjelaskan mengenai hubungan antara orangtua Dirga dengan Elmi, tentu bukan hanya berdasar pada buah tangan yang dibawa oleh Dirga saja. Bisa saja kan Dirga membelinya sendiri dan mengatakan itu dari orangtuanya. Hehehe. Ya, semacam itulah. Menurut saya ya terlalu dangkal aja kalau menilainya hanya dari “jajanan” yang dititipkan.

Secara umum, saya tidak terlalu menikmati pembacaan terhadap novel ini. Rasanya kurang lincah sehingga saya skip beberapa bagian. Konfliknya pun menurut saya terlalu rame dan seolah lepas satu dengan yang lain. Percakapannya kurang mengalir.

Namun, temanya cukup menarik kok, meskipun saya baru ngeh di pertengahan cerita. Ohh, ini to masalahnya.. Awalnya sih sempet sebel juga, maksudnya apa kok cewek ini lebay banget ngurus soal kebersihan dan kerapian. Tema tulisan seperti ini menurut saya lumayan menantang sebenarnya. Dan rasanya seperti berkaca pada diri sendiri. Beberapa bagian memang rasanya benar-benar terjadi. Misalnya, jika ada barang jatuh dan diinjak orang lain, saya harus benar-benar memastikannya bersih.

Bedanya, saya pernah cerita ke orang lain soal kebiasaan saya yang aneh (terlalu bersih) yang juga mengganggu saya sendiri, tapi mereka malah nggak peduli. Ah, cuma gituuuu.. begitulah respons mereka. Kalau pada Elmi, bahkan ibunya sendiri membicarakan anaknya di belakang dan menyebutnya mengalami gangguan jiwa. Yaa.. mungkin itulah bedanya antara novel dan kenyataan. Hehe.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s