[Resensi Buku] Harmoni – Heruka

Paras berkutat dengan revisian novel ketiganya yang tersendat lantaran sang editor ingin karya Paras jadi the breathtaking one, nggak sama dengan novel sebelumnya.

Rafal masih bergeming dengan tulisannya yang sebentar-sebentar dihapus, diedit, lalu frustrasi dan merasa nggak berbakat menulis.

Lalu, serangkaian kejadian di Writing Clinic, hingga kepergian Rafal ke Polandia meletakkan keduanya di area yang berbeda.

♣♣♣

Judul: Harmoni

Penulis: Heruka

Jumlah halaman: 240

Cetakan pertama: April 2016

Penerbit: de TEENS

ISBN: 978-602-296-199-4

♣♣♣

Rafal terobsesi melahirkan karya tulis masterpiece. Oleh karena itu, ritme menulisnya sangat lambat. Setiap beberapa kalimat terkumpul, ia menghapusnya kembali karena merasa tak puas. Begitu seterusnya. Pergumulan Rafal sejak 7 bulan lalu tersebut mengawali novel berjudul Harmoni ini.

Sekali pun satu bab dalam setahun, bagiku tak masalah. Yang penting menghasilkan karya hebat! Hal. 10

Wew, idealisme Rafal ini keren juga. Ia pun menyamakan proses menulisnya dengan para penulis hebat seperti Oscar Wilde atau Emily Bronte yang tidak banyak menghasilkan karya, tetapi berkualitas dan dikenang banyak orang bahkan setelah mereka meninggal. Karena itu, Rafal banyak membaca buku-buku “bermutu”, karya-karya sastra klasik, untuk mendukung kelahiran buku pertamanya tersebut.

Berbeda dengan cerita Paras, penulis yang cukup berhasil di genre teenlit, justru sedang berkutat dengan revisian novel ketiganya. Dua novel sebelumnya bisa dibilang memuaskan–artinya laku di pasaran. Namun, karena editor “kesayangan”nya Ellan dipindahkan ke bagian sastra, Paras pun berencana untuk menulis novel bergenre sastra. Tak lain supaya bisa bertemu dan berdiskusi dengan Ellan. Editornya yang baru, Prita, dirasa kurang memahami dirinya.

Awalnya, Rafal dan Paras memiliki hubungan yang kurang enak. Konflik itu mulai membesar ketika tahu bahwa mereka berada di aliran yang berbeda. Rafal yang memuja genre sastra dan tak begitu menghargai teenlit, sedangkan Paras yang terlebih dahulu sudah sukses berkecimpung di dunia teenlit. Selanjutnya, dalam novel ini, kita akan dihadapkan pada diskusi-diskusi panas Rafal dan Paras mengenai apa yang lebih baik di antara keduanya: genre sastra atau teenlit.

Selain itu, Rafal pun memiliki konflik dengan keluarganya, terutama ayahnya yang suka menimbun koleksi buku langka berharga mahal dan ibunya yang bercerai dengan ayahnya. Jauh dalam hatinya, ia menginginkan kedua orangtuanya bersatu kembali, tetapi tampaknya sang ayah tidak berusaha mewujudkan itu.

Nah, Paras sendiri, selain sedang galau dengan editor barunya dan revisi novelnya, ia pun harus terlibat dengan masalah mantan pacar yang terobsesi untuk balikan dengannya. Padahal, mantannya itu sudah menjadi pacar sahabatnya, Irene.

Pada suatu titik, keduanya–Rafal dan Paras–mengalami masa-masa yang berat dan sulit. Bahkan hubungan mereka kembali memburuk seperti sebelumnya karena kesalahpahaman.

Novel ini bisa dibilang sarat konflik. Seperti kehidupan manusia pada umumnya, ketika satu masalah belum selesai dan sudah ditambah oleh masalah lain, Harmoni seperti menjadi cermin. Situasi “ribet” itulah yang coba di-capture oleh penulis. Hasilnya adalah kisah yang terasa hidup dan mengena. Hanya saja, menurut saya penyelesaian masalahnya tampak terburu-buru. Penulis seperti ingin segera menutup konflik itu tanpa sentuhan yang alami dan lalu happy ending. Padahal, kalau dilogika, setiap masalah butuh waktu dan proses untuk benar-benar selesai.

Tema yang diangkat dalam novel ini bisa dibilang cukup menarik. Perdebatan tentang aliran karya mana yang lebih “bernilai” memang sering terdengar. Baik novel sastra maupun teenlit, keduanya memiliki fans garis keras masing-masing. Namun, tentu saja keduanya pun bisa bermakna dengan caranya sendiri-sendiri.

Kutipan menarik:

Mengikuti hasrat bukan berarti kita harus terkurung pada dunia ideal kita sendiri… Idealis itu penting, tapi membaur dengan lingkungan –yang mana di sini adalah industri penerbitan–itu perlu… That’s what I call when passion and work meet in balance. Hal 111.

Sesuatu yang manis memang akan selalu datang pada waktunya. Hal 193.

Aku takut kehilangannya. Menjauh darinya hanya memberi luka baru. Aku mengharapkannya bukan sekadar untuk menyembuhkan luka. Melainkan karena aku benar-benar menginginkannya karena cinta. Hal 239.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s