[Rumah] Repotnya Pindahan Rumah

Sebelum memutuskan untuk pindahan pada Minggu (13/3) kemarin, kami sudah berupaya mempersiapkan segala sesuatunya. Beruntung di pertengahan minggu ada hari libur, jadi kami (baca: dia) bisa bersih-bersih sekaligus ngecat. Memang nggak semua kamar dicat, hanya ruang tamu dan satu ruang tidur. Inget tenaga juga sih. Itu pun udah seharian.

Proses selanjutnya adalah benerin listrik. Beli lampu dan dipasangin. Colokan listrik pun baru ada satu. Jadi, Sabtu pulang kerja, kami datang lagi ke sana untuk memastikan hari berikutnya sudah bisa ditempati.

Malam itu, boks-boks besar sudah memenuhi lantai kamar kos yang sempit. Makin pengap deh udaranya hehe. Yang tersisa di luar tinggal barang-barang yang penting aja. Semua udah di-packing dengan rapi. Dia sepertinya udah nggak betah banget tidur semalam lagi di kamar itu. “Ayo segera pindah!” katanya bolak-balik. Iya, iya. Sabar.

Besoknya, pagi-pagi banget kami udah bersiap-siap. Mandi dulu dong meskipun nanti bakal keringetan lagi. Untuk mengisi tenaga, kami sarapan soto di dekat kos. Sejak tinggal di sana selama 9 bulan, baru kali ini kami sarapan soto di tempat itu. Enak juga ya, komentarnya. Hehehe. Terakhir-terakhir aja baru nyobain, kemarin-kemarin kemana aje..

Setelah selesai sarapan, dia pun pergi mencari pick up. Untungnya di Jogja banyak penyewaan pick up. Mungkin karena kota ini dipenuhi para mahasiswa/i yang demen pindah-pindah kos. Nggak berapa lama kemudian, dia pun datang disusul pick up berwarna putih. Si bapak tampaknya orang Sunda karena bahasa Jawanya nggak fasih. Ia menyapa saya, “Teh.”

Karena sedang hamil, jelas saya nggak bisa bantu-bantu. Jangankan bantuin, berdiri nunggu semua barang pindah ke pick up pun rasanya melelahkan. Untungnya si bapak mau bantu-bantu mengangkut barang juga. Kalau nggak, kasihan banget misua berjuang sendirian.

Jarak antara kos dengan kontrakan baru ini tidak begitu jauh. Hanya saja, mobil tidak bisa masuk persis di depan rumah. Akibatnya, proses ngangkat-ngangkat jadi lebih panjang dan lama. Ya sudahlah, yang penting setelah selesai, si bapak nggak protes dengan kesepakatan bayaran sebelumnya. Hari itu pun cerah. Semua boks udah tiba di ruang tamu dengan selamat.

Namun, nggak sampai di situ aja prosesnya. Yang lebih bikin capek adalah menatanya. Saya diberi kebebasan untuk menata ruang tidur. Yeay. Dia ngurus ruang tamu. Selebihnya boks-boks yang isinya belum kepake dibiarkan dulu teronggok di ruang kosong . Agak ribet juga karena harus bersih-bersihin dan rapiin. Kadang kami beda pendapat soal barang tertentu mau diletakkan dimana. Atau soal apa dulu yang dikerjakan. Asli, masih banyak banget yang butuh perhatian. Ya, karena sudah capek, sesekali suara naik beberapa oktaf. Tapi untungnya kami segera sadar kalau berantem dulu justru akan membuat kami semakin capek. Kami pun berusaha menenangkan diri lagi dan mulai menyelesaikan semuanya pelan-pelan, satu demi satu.

Sekitar pukul 3 sore, semuanya hampir udah tertata. Hampir. Hehe. Yang penting-penting sudah ada di tempatnya, seperti kasur (penting banget bagi bumil supaya bisa istirahat) dan baju-baju. Malamnya, kami sudah bisa menyelonjorkan kaki sambil ngeteh dan nyusu. Fyuhh, hari yang berat, terutama bagi dia. Semoga rumah baru ini membuat kami lebih bergembira dan bahagia. Saya pun menjadi lebih produktif menulis. Semoga 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s