[Rumah] “Rumah” Baru

Layaknya pasangan muda yang baru menikah, kami belum punya cukup dana untuk membeli rumah sendiri. Idealnya sih setiap keluarga, baru atau lama, membutuhkan sebuah rumah. Namun, jika terpaku pada idealisme itu, yang ada justru akan membuat kami takut menatap masa depan.

So, kami menikah dan memutuskan untuk memulai hidup baru di sebuah kos pasutri. Hal ini tidak terlalu berdampak pada keseharian kami karena toh awalnya kami memang “anak kos-kosan”. Bedanya, sekarang satu kamar dibagi berdua.

Menyenangkan juga sih karena kami jadi bisa bertemu setiap detik. Hehehe. Banyak juga cerita kawan-kawan yang terlebih dahulu menikah bahwa kondisi ini tak perlu dirisaukan. Dinikmati dengan santai saja. Nanti, kalau sudah waktunya, pasti ada jalan yang terbuka untuk memiliki rumah sendiri.

Kondisi mulai berubah sejak saya hamil. Yap, kami sudah harus mulai mencari tempat tinggal yang lebih besar. Bukan hanya untuk kami dan si kecil, tetapi juga untuk keluarga yang mungkin akan berkunjung sewaktu-waktu. Belum lagi barang-barang yang terus bertambah dari waktu ke waktu.

Pilihan yang paling memungkinkan adalah mencari rumah kontrakan. KPR? Sudah mencoba mencari info. Kendalanya pada jarak. Biasanya, rumah KPR yang cicilan per bulannya terjangkau, jarak ke kota cukup jauh. Hmm. Prosesnya pun tidak mudah dan tidak cepat. Jadi, ya di-pending dululah. Meskipun mencicil rumah KPR adalah salah satu cita-cita saya bahkan sejak sebelum menikah.

Mencari rumah kontrakan di kota ini bisa dibilang gampang-gampang susah. Kenapa demikian? Karena kita harus melihat dan mempertimbangkan banyak hal. Jangan sampai sudah deal dengan pemilik kontrakan, ternyata rumahnya nggak nyaman.

Apa saja sih yang membuat rumah tidak terasa nyaman?

  • Bisa jadi lingkungannya kurang kondusif. Misalnya, terlalu dekat dengan sumber kebisingan (jalan raya, dsb), lingkungan tidak ramah dan tidak aman alias sering terjadi kerusuhan, dan masih banyak lagi.
  • Bisa jadi rumahnya itu sendiri tidak bagus pembuatannya, sering bocor, langganan banjir, kamar terlalu pengap, dan banyak lagi.
  • Pemilik tidak kooperatif. Ini ngaruh juga lho.
  • Rumah bermasalah secara kepemilikan alias dalam sengketa. Wah, kalau begini sih nggak bakal membuat kita nyaman.

Selain faktor internal dan eksternal rumah itu sendiri, memilih kontrakan pun perlu mempertimbangkan harga. Ada yang murah tapi jauh. Ada yang dekat tapi mahal. Tinggal keputusan kita mana yang lebih praktis. Beruntungnya, kami menemukan sebuah rumah kontrakan yang cukup “ideal”. Nggak terlalu jauh, nggak terlalu besar, nggak terlalu mahal, dan tetangganya cukup membantu. Situasi lingkungan pun sejauh ini lumayan menyenangkan. Di depan rumah masih ada beberapa petak sawah yang terbentang. Jadi, suasananya terasa adem dan angin berembus semilir. Heemm enaakk.. Hehe.

Namun, mendapatkan rumah ini tidak mudah. Suami harus muter beberapa minggu (karena luangnya hanya hari Minggu) dan bertanya kesana kemari. Tidak semua rumah yang akan dikontrakkan ada pengumumannya. Jadi, kita harus bertanya-tanya dengan telaten. Pada minggu terakhir pencarian, akhirnya dia menemukan beberapa rumah. Besoknya, kami datang bersama ke sana untuk melihat-lihat. Karena merasa cocok, saya pun segera memintanya menghubungi pemilik.

Ternyata prosesnya agak ribet karena sang pemilik tidak tinggal di situ dan kunci rumah dibawa orang lain. Waduh. Sempat putus asa juga, tetapi kami terus berusaha. Jika memang tempatnya untuk kami, pasti akan ada jalan. Benar saja, mulai dari keramahan tetangga dan bu RT yang membantu menghubungkan kami dengan pemiliknya, hingga proses renovasi yang lancar, akhirnya kami pun deal dan akan menempati rumah ini pada pertengahan Maret.

Agak “telat” juga sih ya karena saya akhirnya malah nggak bisa bantu-bantu. Takut kecapekan dan si Dedek kenapa-kenapa. Tapi yang penting kami berusaha. Pelan-pelan saja, satu demi satu. 🙂

Setelah bersih-bersih dan ngepel seharian kemarin Minggu, suasananya menjadi lebih menyenangkan. Tinggal proses mengecat dan pindahan. Semoga diberi kesehatan untuk melakukan itu semua. Aminnnn.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s