[Resensi Buku] Cinta Membuat Perbedaan

Seandainya bisa, kita akan memilih untuk menolak perjumpaan dengan sebagian orang dan menghalau perpisahan dengan sebagian yang lain dalam hidup. Sayangnya, hidup sejatinya mengenai perputaran perjumpaan dan perpisahan tanpa henti. Musim semi lirih berlalu, sementara musim dingin runtuh perlahan.

Dan meskipun tidak menginginkannya, kita terpaksa mengalaminya.

Berjumpa dengan orang yang kemudian kita sesali, berpisah dengan orang yang tak mungkin ditemukan penggantinya.

Seperti halnya perjumpaan dan perpisahan yang disuguhkan Sungging Raga. Tak terduga.

♣♣♣

Judul: Reruntuhan Musim Dingin

Penulis: Sungging Raga

Penerbit: DIVA Press

Cetakan pertama: 2016

Jumlah halaman: 204

ISBN: 978-602-391-079-3

♣♣♣

Meminjam analisa Tia Setiadi dalam pengantar kumpulan cerpen ini, cinta adalah pusat cerpen-cerpen Sungging Raga. Sejak bagian pertama hingga akhir, kita akan menemukan beragam scene yang identik dengan romantisme, entah itu membahagiakan ataupun tidak.

Misalnya di cerpen pembuka berjudul Selebrasi Perpisahan, penulis menggambarkan betapa sendunya sebuah perpisahan di antara dua manusia yang saling mencintai. Jika tidak saling mencintai, bisa jadi perpisahan semacam ini biasa saja. Sama seperti perpisahan-perpisahan lain yang tak akan berkesan sama sekali. Cintalah yang membuat perbedaan dalam perpisahan mereka.

Percakapan-percakapan kedua insan dalam cerpen ini terdengar begitu puitis. Jauh berbeda dengan percakapan biasa yang hanya didasarkan oleh basa-basi semata atau sekadar membunuh waktu. Atau karena butuh saja alias didorong semata oleh kepentingan, baik salah satu pihak maupun keduanya. Cinta membuat percakapan mereka terasa sangat indah (meskipun dalam konteks perpisahan).

Misalnya,

Wanita itu tersenyum dan menundukkan kepala. “Malam ini pasti sangat berat.”

“Ya. Satu malam untuk mengenang semuanya, dan pagi hari untuk melupakan segalanya,” ucap lelaki itu, menerjemahkan sebuah judul lagu: “A Night to Remember, A Morning to Forget.” Hal. 30

Para pasangan yang sedang dimabuk cinta, baik dalam suasana yang menyenangkan maupun sedang bermasalah, kalimat-kalimat puitis semacam itu otomatis keluar. Seolah-olah, cinta melarutkan kita dalam suasana dan mau tak mau kita harus mengizinkan bibir melontarkan kata-kata yang puitis (meskipun setelahnya menyesal).

Mari berlanjut ke cerita kedua. Cerpen berjudul Dermaga Patah Hati ini bercerita tentang seorang perempuan yang setia menjaga dermaga karena menunggu sesuatu. Meskipun tema cerpen ini agak-agak horror, nuansa romantismenya tetap terasa. Penulis menggambarkan tokoh dengan penampilan yang indah. Misalnya,

Perempuan itu mengenakan kaus putih bertuliskan “Eluveitie”, dengan syal melingkar di leher, dan celana jin tiga perempat yang disobek-sobek bagian lututnya. Rambutnya lurus dan hitam seperti iklan sampo, dan ia tak mengenakan alas kaki. Di ujung dermaga itu, ia duduk menghadap ke barat, tanpa bicara apa-apa, tanpa  melakukan apa-apa, kecuali bernapas dan memandang ke depan. Hal. 33

Lihat, betapa detailnya imajinasi penulis tentang tokoh perempuan ini. Seakan-akan si perempuan benar-benar hidup di depan mata pembaca dan membawa kita dalam suasana yang menyayat hati. Lagi-lagi, berdasarkan spekulasi penulis yang menyamar menjadi “orang-orang yang melihat perempuan ini”, sebab semua ini adalah karena penantian terhadap cinta.

Mungkin saja dulunya perempuan itu duduk bersama kekasihnya di ujung dermaga tersebut. Di sore hari yang cerah ketika mereka menikmati pemandangan senja yang begitu jelas sebagaimana cinta mereka. Lelaki itu pasti menggenggam tangan perempuan itu, dan sesekali mereka akan saling bertatapan. Hal. 36.

Dan cintalah yang membuat adegan itu menjadi lebih indah dan bermakna. Siapapun yang melihatnya (atau membaca kisahnya) pasti akan lebih tertarik. Bagaimana bila tokohnya berdiri di sana dan tanpa cinta? Bisa jadi tak akan seindah ini jadinya.

Ada juga cerpen yang bercerita tentang cinta yang tak mungkin. Misalnya, cinta seekor laba-laba kepada perempuan penghuni kamar. Lha gimana bisa laba-laba kok mencintai manusia? Harusnya sih mustahil. Tapi, begitulah cara penulis menghidupkan imajinasi pembaca.

Tanpa kisah cinta, laba-laba tentu hanya dianggap sebagai “musuh”, apalagi bagi seorang perempuan. Mereka justru akan dipandang sebagai pengotor rumah dan perlu dibasmi. Dengan memakai alasan cinta, terlihatlah sisi lain dari sebuah situasi.

Masih banyak cerita lain yang bisa dinikmati dalam kumpulan cerpen ini. Jumlah seluruhnya 22 cerpen. Sebagian dari cerpen itu telah diterbitkan di media-media nasional, seperti cerpen berjudul Melankolia Laba-laba; Serayu, Sepanjang Angin Akan Berembus; Rayuan Sungai Serayu, dan beberapa yang lain.

Nah, meskipun rada nyastra, buku ini enak kok dinikmati oleh orang awam. Bahkan mungkin kita akan menjadi cinta sastra setelah membaca kisah-kisah di buku ini.

Selamat mengeksplorasi sastra ya!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s