[Resensi Buku] Berselancar di Dunia Sirkus

Casa de Patrimonio, sebuah panti asuhan yang melatih anak-anaknya menjadi pemain sirkus. Di tempat inilah, Frene si pelempar pisau, tumbuh besar. Dia bertemu dengan Stella, seorang pecinta sirkus yang dilarang orangtuanya untuk menonton sirkus. Stella tertarik dengan Circo de Patrimonio, kemudian mengenal Luce, cewek yang dicintai Frene, juga Cent.

Konflik terjadi, mulai dari cedera pemain, perizinan pertunjukkan, permasalahan keluarga, juga percintaan.

“Awalnya Ella menolak. Tapi papamu terus memaksa. Akhirnya, Ella menuruti keinginan papamu. Ella terlalu percaya pada papamu, mungkin karena terbuai oleh ucapan manis papamu hingga mereka melakukan gerakan yang sangat berbahahaya. Ella bergantung di udara, hanya deengan menggenggam tangan papamu. Mereka berputar cepat di atas, lalu pegangan papamu terlepas.” Napas Stella tertahan. Lepas?

♣♣♣

Judul: Circo de Patrimonio

Penulis: Sylvee Astri

Tahun Terbit: November 2015

Penerbit: deTeens

Jumlah halaman: 268

ISBN: 978-602-0806-36-5

♣♣♣

Membaca blurbnya, kita sudah tahu cukup banyak. Bahwa cerita ini mengenai sirkus dan segala macam hal tentang itu. Ekspektasi saya adalah menemukan kisah petualangan yang menegangkan. Apalagi karena sebuah pernyataan yang membuat penasaran mengenai kecelakaan yang menimpa Ella. Siapakah Ella? Apa yang sebenarnya terjadi?

Kisah dimulai dengan Stella yang baru saja pindah ke Bilbao karena sebuah alasan yang diyakininya: orangtuanya kini membenci sirkus. Sebelumnya, kedua orangtuanya adalah pecinta sirkus dan sering menonton pertunjukkan sirkus bahkan melewati batas kota dan negara. Sekarang, meskipun kesukaan itu telah mendarah daging pada Stella, ia tidak lagi memiliki pendukung.

Di Bilbao, tampaknya kerinduannya pada sirkus tidak akan terpenuhi. Hingga ia bertemu dengan seorang cowok bernama Frene, yang hobi melempar pisau. Hampir saja Stella membencinya, tetapi karena melihat selebaran mengenai sirkus, ia berubah bersahabat.

Selanjutnya, seperti yang bisa dibaca di blurb, Stella masuk dalam kehidupan anak-anak yatim piatu di Casa de Patrimonio. Bukan hanya mengenai keahlian mereka, tetapi kehidupan mereka yang sesungguhnya. Termasuk mengapa mereka bisa ada di tempat itu dan dimana orangtua mereka. Kebanyakan dari anak-anak tersebut ternyata tidak memiliki orangtua karena ditinggalkan atau meninggal karena kecelakaan, termasuk Frene dan Cent.

Sesungguhnya, tema yang diusung oleh novel ini lebih kepada bagaimana tanggung jawab orangtua kepada anak yang dilahirkannya. Tidak serta-merta dilahirkan, tetapi juga harus dipenuhi kebutuhannya akan kasih sayang. Hal itulah yang dialami Frene, meskipun setelahnya ada seseorang yang mengaku sebagai ayah kandungnya.

Yang ingin ditunjukkan oleh penulis adalah bahwa hidup tanpa orangtua adalah hidup yang berat. Meskipun ada orang lain yang berperan sebagai orangtua pengganti, tetap saja itu berbeda. Namun, yang saya tangkap dari kisah ini, cerita percintaan antara Frene, Cent, Luce, dan Stella cukup mendominasi. Soal kemistri bagaimana hubungan anak dan orangtua menurut saya lemah dan kurang digali, kecuali kebencian Frene terhadap orangtuanya sendiri.

Selain itu, kembali pada kisah mengenai orangtua Stella yang sangat membenci sirkus, ternyata ada sebab di belakangnya. Sayangnya, sebab itu hanya melintas dan tidak mendapat perhatian serius. Akhirnya, rasanya kurang greget dan hanya berupa selingan semata yang ditempelkan untuk membuat cerita memiliki konflik tambahan.

“Tapi, mereka bisa membuangku begitu saja?” Frene menoleh dan menatap tajam pada Stella. “Tanpa meninggalkan barang.. atau apapun yang bisa membawaku kembali pada mereka?” desisnya kesal. “Bukankah itu berarti mereka nggak ingin ditemukan? Aku hanya melakukan apa yang mereka mau! Hal 48

“Aku sudah bilang padamu, kan? Nggak mungkin ada yang datang mencari kita di umur segini! Buat apa? Jadi, kalau ada yang mengaku sebagai orangtua kandung kita, mereka pasti bohong! Memangnya kita butuh mereka? Nggak! Hal 66.

Sisi positifnya, kita akan diajak berimajinasi mengenai kehidupan para pemain sirkus. Kita benar-benar terjun dalam dunia itu dan melihat bagaimana mereka berlatih, apa saja risiko yang bisa terjadi, dan sebagainya. Membaca novel ini sedikit banyak akan menginspirasi kita untuk mencari jadwal pertunjukkan sirkus dan menebak-nebak perasaan para pemainnya ketika sedang berada di atas panggung.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s