Kisah Seorang Anak Batak

Pakk!

Tangan kasarnya berhasil mendarat di pipiku. Perih.

“Kapan sikap pembangkangmu itu bisa berubah?”

“Sampai Bapak juga bisa melunak terhadapku,” jawabku.

Pukulan kedua mendarat di perutku.

Marolop kecil tidak mengerti, mengapa baju Natalnya berbeda dengan milik kakak-kakaknya. Ia tidak mengerti, mengapa bapaknya tidak pernah mengajak bercanda ria. Ia tidak mengerti, mengapa harus menerima hantaman hanya karena bermain di bawah hujan.

Hingga akhirnya Marolop berhenti berusaha mengerti. Tidak peduli lagi dengan alasan kebencian bapaknya, Marolop yang masih remaja memilih pergi, jauh ke kota Bogor.

Tanah rantau mengajarkannya banyak hal. Namun, masa lalu tetap mengetuk sela-sela waktu Marolop, memaksa kembali masuk. Atau mungkin sebenarnya perasaan itu memang tidak pernah keluar. Perasaan tidak diterima oleh bapak sendiri sudah bercokol buat dalam diri, membuatnya menjadi pemuda yang benci sekaligus iri melihat kasih sayang bapak kepada anaknya.

Hingga akhirnya, alasan kebencian bapaknya terkuak. Dan Marolop harus belajar makna kedewasaan.

♣♣♣

Judul: Bapak, Kapan Kita akan Berdamai?

Penulis: Regza Sajogur

Penerbit: deTeens

Tahun terbit: September 2015

Jumlah halaman: 264 hlm

ISBN: 978-602-0806-37-2

♣♣♣

Dibenci oleh orangtua pasti hal yang tidak pernah terbayangkan. Daannn.. sebagian orangtua pun tidak menyadari telah memperlakukan anak-anak mereka seperti musuh. Hal ini terlihat dari cara mendidik yang kasar, berbeda, dan tidak dilandasi kasih sayang. Tentu ada sebab di baliknya.

Sebab itulah yang ingin diketahui Marolop. Dalam awal-awal kisahnya, kita akan diajak mengalami apa yang dialami Marolop sepanjang masa kecilnya. Ia menceritakan perbedaan perlakuan dari sang bapak.

Aku hanya tertunduk lesu mendengar kemarahan yang keluar dari mulut Bapak. Meski ini adalah sebuah pelanggaran dan aku mengakuinya, namun aku hanya anak kecil yang ingin merasakan kebebasan layaknya seorang anak pada umumnya. Hal 6.

Berbagai perlakuan kasar serta sentimen yang dialamatkan padanya oleh sang Bapak perlahan-lahan mengikis rasa bahagia dalam diri Marolop. Ia bertanya-tanya mengapa Bapak sangat keras padanya, tapi tidak pada kakak-kakaknya.

Seingatku, abang-abang dan juga kakak perempuanku yang sudah menikah tidak pernah diperlakukan keras oleh Bapak. Diam-diam aku selalu memerhatikan sikap Bapak kepada mereka. Hal. 9.

Konflik antara bapak dan anak ini pun terus berlanjut, bahkan ketika Marolop hendak melanjutkan sekolah. Ia harus mengikuti titah sang Bapak untuk melanjutkan ke sekolah kejuruan jurusan pertanian. Padahal, ia lebih suka hal-hal yang berbau teknik. Namun, karena tak ingin memicu pertengkaran yang lebih besar, ia pun menurut pada kehendak sang Bapak.

Ternyata kepatuhan Marolop tidak berarti akan meluluhkan hati Bapak. Ia justru menerima perlakuan keras lain karena biaya yang harus ditanggung. Sejak itulah, Marolop memutuskan untuk minggat dari rumah, pergi jauh dari rumah orangtuanya. Niatnya ingin ke Jakarta. Padahal, ia samasekali tidak memiliki uang. Namun, berbekal rasa nekat, ia pun berangkat menumpang truk menuju Jakarta.

Selanjutnya, kita akan disuguhi kisah perjuangan hidup Marolop yang penuh dengan tanjakan yang berliku. Untungnya, ia bertemu dengan orang-orang baik yang mau menolongnya. Orang-orang ini mengasihinya lebih dari bapaknya sendiri. Hal ini justru semakin membuat miris. Ia hanyalah pemuda tanggung yang berjuang melarikan diri dari bayang-bayang dendam terhadap Bapak dan ia menghadapi berbagai tantangan. Namun, tantangan itu lebih pada perasaannya sendiri. Juga ketika ia memikirkan ibunya yang tentu sangat merindukan anak bungsunya.

Teka-teki itu mulai terbuka ketika sang Ibu hendak mengajaknya pulang ke rumah. Dengan gamblang, Ibu menjelaskan mengapa Bapak sangat membenci kehadirannya. Marolop pun harus belajar melapangkan dada supaya tidak semakin marah pada apa yang sudah terjadi. Tuhan pun sudah mengatur langkah Marolop, yaitu ketika ia bertemu dengan orang-orang yang tepat dan mendukungnya, termasuk calon istrinya, Tiur.

Kisah hidup Marolop yang tidak mudah membuka hati kita. Ia mengajarkan kita bagaimana cara bertahan dalam kesulitan. Ia tidak menyerah dan tetap menjaga harga dirinya sebagai manusia yang baik. Ia tidak jatuh dalam kejahatan.

Sedangkan bagi para orangtua, memiliki anak seharusnya adalah anugerah. Ketika kita tidak mampu mensyukuri anugerah itu, banyak duka akan timbul. Banyak orang akan terluka. Sesungguhnya, mengasihi anak adalah kewajiban orangtua. Sebaliknya, anak harus belajar mendewasakan diri untuk memaafkan kekhilafan orangtua.

♣♣♣

Penulis piawai membawa pembaca untuk menaruh empati terhadap tokoh utamanya. Kita seolah-olah hadir di tengah keluarga Marolop dan ikut merasakan kesedihannya. Di manapun Marolop berada, kita dibawa ikut serta, termasuk ketika ia bersama keluarga Simbolon yang tidak memiliki anak. Tidak lupa, sentuhan romantisme pun menjadi bumbu-bumbu yang menyegarkan dalam kisah ini.

Tokoh-tokoh dalam novel ini memiliki karakter yang kuat. Misalnya, Marolop yang berkarakter baik, tetapi sebenarnya menyimpan banyak luka. Ibu Marolop yang sangat baik dan pasrah. Bapak yang pemarah dan emosional. Semua pas.

Novel ini sangat khas Batak. Dengan ungkapan-ungkapan yang berbahasa Batak, novel ini menggambarkan segalanya dengan tepat dan sesuai. Yang lebih penting, ada perubahan yang terjadi dalam diri tokoh utama sehingga membuat kita tidak merasa sia-sia membaca kisahnya.

Aku sudah sejak lama menginginkan pemandangan seperti ini. bukan karena semata berakhinya pencarian cinta sejati dalam hidupku. Namun, wajah-wajah baru stok lama yang begitu bahagia. Tersenyum penuh hangat penuh kedamaian. Hal 263.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s