[Resensi Buku] Permintaan Terakhir

“Tuhan, jangan ambil nyawaku malam ini.” Seorang membuatnya kuat menghadapi penyakit. Vonis dua bulan ia akan lewati. Sisa hidupnya akan bermakna, dan dikenang melalui karyanya. Karena, pohon pisang tidak akan pernah mati sebelum dia menghasilkan buah. Romantisme dan heroisme persahabatan yang mengharu biru ada dalam kisah Tara n Khazilla. Kau punya sahabat, bukan? Kau beruntung.

Ketika tiba saat perpisahan, janganlah ada duka. Sebab, yang paling kau kasihi dalam dirinya, mungkin akan tampak lebih cemerlang dari kejauhan. Seperti gunung yang tampak lebih agung dari padang dan ngarai. Lenyapkan maksud lain dari persahabatan, kecuali saling memperkaya ruh kejiwaan. (Kahlil Gibran)

♣♣♣

Judul: Permintaan Terakhir

Penulis: Helda Tunkeme Xwp.

Penerbit: PING!!!

Tahun terbit: 2015

Jumlah halaman: 304 hlm.

ISBN:978-602-255-209-3

♣♣♣

Adegan pertama dalam novel ini hampir sama dengan Langit Jingga di Acapulco yang saya baca sebelumnya. Kebetulan banget, ya. Berturut-turut gitu lagi bacanya. Jadinya seperti merasa sedang de javu. Tapi karena lay out buku yang lebih renggang, ada sedikit perbedaan rasa ketika membacanya. Rasanya lebih lega aja…

Diceritakan kalau Khazilla memutuskan Radin secara sepihak ketika mereka sedang di berada sebuah kafe. Alasannya?

“Segala sesuatu tidak harus dijelaskan secara mendetail, kan?” Hal. 8

Nah, lho. Jawabannya juga hampir sama dengan Reza. Serba buram dan tidak jelas. Hal ini tentu menyisakan pertanyaan di hati Radin. Mengapa kekasihnya itu tiba-tiba memutuskannya padahal hubungan mereka sedang baik-baik saja?

Sedikit, saya bisa menduga. Khazilla ini pasti memiliki alasan yang sangat masuk akal. Cuma ya kenapa harus putus, kenapa tidak membiarkan saja Radin tetap berada di sisinya. Secara logika, sisi manusiawi saya berbicara. Namun, entah ya, bila berada dalam kondisi itu, dengan berbagai pertimbangan, mungkin saya akan mengambil keputusan senada.

Ya, Khazilla memang sedang menderita kanker otak. Kanker yang berbahaya dan bisa mengambil nyawanya dalam waktu yang sebentar. Oleh karena itu, ia ingin menghindari semua orang supaya tidak merepotkan mereka. Okelah, cukup bisa diterima sih alasan itu. Meskipun hati kecil saya masih mengatakan bahwa sebaiknya dan seharusnya orang sakit itu didampingi dengan kasih. Siapa tahu bisa menyembuhkan penyakitnya. Namun, tentu saja dalam keadaan depresi dan putus asa, sisi pikiran positif itu tidak muncul begitu saja.

Kebetulan, Khazilla bertemu dengan Tara. Entah kenapa, gadis ini tertarik untuk berkenalan dengan Khazilla walaupun sudah ditolak dengan marah-marah. Ketertarikan itu berbuah pada persahabatan yang akhirnya mereka bina. Persahabatan tersebut bukan persahabatan biasa, tetapi persahabatan sejati yang rela melakukan apapun demi sahabatnya.

Namun, tetap saja karakter Khazilla yang sangat mandiri membuat Tara seringkali kesusahan untuk menolong gadis itu. Bahkan, Tara bersedia menggadaikan surat rumahnya demi bisa menyelamatkan Khazilla melalui operasi. Atas doa dan bantuan Tara pula (karena gadis ini adalah seorang dokter), Khazilla bisa bertahan hidup.

Setelah sembuh, saya pikir semua konflik sudah berakhir. Rasanya tenang-tenang saja. Hidup mereka berjalan dengan aman dan nyaman. Tara berkutat dengan pendidikannya dan hubungannya dengan Datas, Khazilla dipertemukan dengan Bioa yang melihat bakat desainnya. Dalam waktu itu, Khazilla berhasil menunjukkan kebolehannya dalam mendesain. Tara pun berhasil dalam pendidikannya.

Namun, sepertiga akhir cerita, sebuah kenyataan menghantam mereka berdua. Sesungguhnya, miris juga membaca kisah ini. Setelah semuanya terlihat baik, ada badai yang kembali datang menyerang. Bagaimana mereka menghadapinya? Apakah mereka tetap tegar dan mampu menjalani semuanya dengan ikhlas?

♣♣♣

Jalinan persahabatan Tara dan Khazilla memang terlihat sangat romantis. Membacanya, saya agak rikuh. Misalnya, dalam SMS-SMS yang mereka kirimkan, percakapan-percakapan mereka, maupun sikap mereka satu sama lain. Ya, tapi bisa saja sih masih ada persahabatan semacam itu. Dan mungkin bagi orang-orang tertentu, model persahabatan ini sangat wajar.

Yang jelas, Khazilla sangat beruntung memiliki seorang sahabat seperti Tara. Tara pun merasa bahagia bisa bersama-sama dengan Khazilla. Alangkah menyenangkan memiliki sahabat yang selalu ada apapun kondisi kita. Kisah ini akan membangkitkan kepedulian kita terhadap orang-orang yang menjadi sahabat kita. Karena sahabat adalah bagian dari hidup yang tak bisa dipisahkan.

Hal yang kurang oke menurut saya adalah gaya penceritaan penulis yang kurang terasa penjiwaannya. Ia cenderung bercerita begitu saja, lebih tepatnya memaparkan. Jadi, rohnya kurang kerasa.

Khazilla sudah mulai merancang sepatu dengan merek “Tara Khazilla” pelanggan menyukai desainnya. Sederhana, menarik, dan nyaman digunakan. Hampir separuh isi butik Ikke diisi oleh rancangan dari Khazilla. Itu membuat Khazilla tidak punya kendala lagi untuk menyekolahkan adik-adiknya. Suatu saat, ia berniat akan membeli butik Bosnya itu. untuk mewujudkan itu, ia harus bekerja lebih keras lagi. Hal 193.

Ohya, dan saya menemukan cukup banyak awalan di- yang seharusnya disambung tetapi dipisah, seperti “di cari” (hal. 192), “di isi” (hal. 193), “di operasi” (hal. 81), “di lewati” (hal. 130), dan sebagainya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s