Cerpen Poe; Cermin bagi Jiwa Manusia

Edgar Allan Poe terkemuka karena memberikan warna baru dan lebih gelap dalam kesusastraan Amerika yang kala itu dikuasai genre romantik. Hal ini tidak bisa dipungkiri karena dunia telah lama mengenalnya sebagai master dari kisah-kisah pendek bernuansa gelap, gotik, dan kental akan nuansa horor.

Baginya, teror dan horor berasal dari jiwa. Poe percaya teror adalah bagian dari kehidupan dan karena itu subjek yang sah untuk sastra.

Karakter manusia memang tidaklah sederhana, tidak melulu hitam putih. Ada sisi kelam yang berusaha menyeruak dalam diri manusia. Poe lewat teknik penulisannya yang khas dan rumit, seolah hendak mengajak pembaca untuk mengupas lapis demi lapis karakter dalam diri manusia.

Selamat datang di dunia gotik ala Edgar Allan Poe. Mari membaca, Poe akan mengajak Anda berpikir ulang tentang diri kita sejatinya sebagai manusia.

♣♣♣

Judul: 7 Kisah Klasik

Penulis: Edgar Alan Poe

Penerbit: Diva Press

Jumlah halaman: 204 hlm

ISBN: 978-602-255-968-9

♣♣♣

Edgar Allan Poe adalah sastrawan besar yang menelurkan cerpen-cerpen dengan jejak yang khas. Poe disebut-sebut menyimpang dari kebiasaan para penulis di zamannya yang kental dengan nuansa romantisme. Cerita-cerita dari Poe justru terasa kelam dan gelap. Namun, seperti yang disebut dalam prolog buku ini, “Jika Anda membacanya dengan bijak, sejatinya kisah-kisah itu hanya mengungkap kengerian dan horor yang selama ini bergelung dalam jiwa kita.”

Ada 7 kisah yang terangkum dalam buku ini, yaitu Kucing Hitam, Jantung yang Berkisah, Kumbang Emas, William Wilson, Potret Oval Seorang Gadis, Runtuhnya Kediaman Keluarga Usher, dan Obrolan Bersama Sesosok Mumi.

Kucing Hitam bercerita tentang seseorang yang pada masa kanak-kanaknya dikenal penurut dan welas asih. Hal itu terlihat dari kesukaannya terhadap binatang. Jadi, ia pun memelihara berjenis-jenis binatang di rumahnya. Salah satu binatang kesayangannya adalah Pluto, seekor kucing.

Waktu berlalu dan karakter tokoh “aku” ini berubah. Ia menjadi orang yang cepat marah dan kasar. Para binatang peliharaannya menjadi korban, termasuk Pluto. Sampai suatu saat, Pluto mati karena kekejian orang ini. Si “aku” mencoba mencari pengganti Pluto hingga menemukan kucing lain yang hampir serupa dengan Pluto.

Setelah itu, terjadi hal yang tak diduga-duga dimana si “aku” menjadi semakin beringas. Entah karena perasaannya yang tidak stabil atau karena ketakutannya terhadap hal-hal yang telah ia lakukan selama hidupnya. Hal itu terus membuatnya tertuduh dan menciptakan tindakan lain yang lebih buruk.

Cerita yang kedua adalah Jantung yang Berkisah. Cerita ini lebih pendek dari yang saya duga. Kisahnya pun sederhana meskipun Poe tetap menjelaskannya dengan sangat detail. Sementara yang ketiga adalah Kumbang Emas. Ini adalah cerpen tentang penggalian harta karun yang dilakukan oleh Tuan William Legrand.

Tuan Will ini tinggal di Pulau Sullivan, Carolina Selatan. Bersama tokoh “aku” dan seorang pelayan negro bernama Jupiter, mereka bertualang mencari harta karun. Semula, saya menduga di sini akan terjadi sesuatu yang mengerikan karena saya tak percaya tindak-tanduk Tuan Will yang aneh. Bagaimanapun, cerpen ini mendebarkan dan membuat saya penasaran apakah mereka bisa menemukan harta karunnya atau tidak.

Cerpen ke-4 adalah William Wilson. Ini adalah tentang seseorang yang memiliki nama yang sama dengan anak yang lain. Ia dibayang-bayangi oleh kembarannya tersebut termasuk ketika sedang melakukan kesalahan. Bisa dibilang, Wilson yang lain ini adalah antitesis dari Wilson yang diceritakan ini.

Potret Oval Seorang Gadis adalah cerita pendek yang sangat pendek tentang sebuah lukisan gadis muda. Runtuhnya kediaman Keluarga Usher bercerita tentang sesuatu yang terjadi dalam keluarga yang aneh. Sedangkan yang terakhir, Obrolan Bersama Sesosok Mumi adalah cerita tentang pertemuan para ilmuan masa kini dengan seorang mumi yang masih hidup. Meskipun terlihat mustahil, tetapi makna pertemuan ini sangat masuk akal dan sebenarnya saya harapkan bisa terjadi di dunia nyata. Mereka adalah saksi-saksi yang bisa menjelaskan hal-hal yang terjadi di masa lalu secara otentik.

Keseluruhan kisah dalam buku ini dirangkai dengan sangat lihai oleh Poe. Ia sanggup membangkitkan hal-hal gelap dan kelam dalam diri manusia. Bukannya untuk menakut-nakuti, pembaca justru digiring untuk merasa sadar dan malu karena bercermin pada keadaan kemanusiaan masa kini. Karena, banyak orang yang melakukan kesalahan, tetapi tidak sudi melihat tangannya yang berlumuran darah. Solusi yang mereka pakai adalah melupakan begitu saja.

Poe ingin mengorek hal itu melalui cerpen-cerpennya. Ia ingin manusia menyadari kelemahannya. Tuduhan-tuduhan yang dilancarkannya melalui karyanya ini tentu secara sederhana diharapkan supaya menjadi pengingat agar tak seorang pun melakukan hal yang sama.

Seperti telah disebutkan, kalimat-kalimat Poe sangat panjang dan ribet. Namun, kita bisa memahaminya, yaitu agar ia tak kehilangan penggambaran dengan sebaik-baiknya. Di sanalah kelebihan karya-karya klasik, selain daripada isinya yang kental dan penuh makna.

Jika Anda memiliki ketertarikan khusus untuk memahami diri dan jiwa manusia dari sisi yang berbeda, akan asyik sekali jika membaca buku ini. Inilah buku yang bisa mewakili segala “ketakutan” dan “kekhawatiran” kita mengenai sifat-sifat alamiah (yang kadang menakutkan) dalam diri seorang manusia. Selamat membaca.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s