[Resensi Buku] Kisah Anak Jalanan

Kerlip dan Bintang. Jalinan persahabatan dua anak jalanan, bermula kala Bintang menyelamatkan Kerlip yang dikejar-kejar preman di daerah Gilingan, Solo. Demi menyelamatkan Kerlip yang dituduh mencuri, Bintang dengan berani menghadapi komplotan geng Brenos. Persahabatan mereka diuji saat tiba-tiba Kerlip pergi dari LSM Seroja, tempat mereka tinggal setelah ditolong oleh Tina, yang peduli terhadap anak jalanan.

Bintang kerap bertanya, mengapa Kerlip pergi? Akankah kedua sahabat ini bersua lagi?

♣♣♣

Judul: Kerlip Sang Bintang yang Hilang

Penulis: Anna Azlina

Penerbit: Diva Press

ISBN: 978-602-255-951-1

Tebal: 236 halaman

♣♣♣

Banyak yang tidak tahu bagaimana sebenarnya kehidupan anak jalanan. Yang kelihatan adalah kebiasaan mereka meminta-minta. Padahal, soal preman dan semacamnya sudah menjadi rahasia umum. Bagaimanapun, pihak yang berwenang tidak benar-benar bisa menyelesaikan masalah itu. Seperti kita tahu, anak jalanan masih ada dan kehidupan mereka menyedihkan.

Kisah dalam novel ini bercerita tentang anak-anak jalanan, khususnya Bintang dan Kerlip. Bintang masih cukup beruntung karena ia diperbolehkan menempati rumah kosong. Sementara Kerlip harus berjuang hingga akhirnya bertemu dengan Bintang. Kedua anak ini pun bahu-membahu mencari nafkah dengan cara menjual lukisan hasil karya bintang.

Konflik mulai muncul ketika Kerlip tanpa sengaja berada di tempat yang salah. Ia dituduh mencuri oleh seorang ibu-ibu. Meskipun tidak melakukan apa-apa, Kerlip tetap takut dan melarikan diri. Mereka pun harus berusaha keras menyamar supaya tidak ketahuan.

Pada suatu waktu, seorang gadis kaya bernama Tina bertemu dengan Bintang dan Kerlip. Gadis kaya yang baik hati ini bersama Bintang dan Kerlip menolong seseorang yang tertembak bernama Bono. Untuk menjalani penyembuhan, Bono pun ikut tinggal di rumah Bintang.

Setelah itu banyak hal yang terjadi. Ada adegan kejar-kejaran untuk meringkus bandit. Ada drama sebelum pernikahan. Ada kecelakaan. Dan ada pertemuan yang tak disangka-sangka. Semua peristiwa itu berada dalam bingkai cerita Bintang kepada anak-anaknya.

Tema cerita ini satu dua kali pernah saya baca. Di dalamnya ada cerita yang sedih tentang anak-anak jalanan. Lalu, ada tokoh yang menolong mereka: orang-orang baik. Saya rasa, kehadiran orang-orang baik ini menunjukkan sebuah harapan. Penulis menempatkan mereka dalam cerita untuk menginspirasi pembaca dan mengharapkan aksi yang sama.

Berkaitan dengan tokoh yang ada dalam novel ini, ada yang kurang fokus. Jika melihat dari awal, tokoh utama adalah Bintang dan Kerlip, tetapi selanjutnya, Tina pun dibahas begitu mendalam. Bahkan konflik Tina dengan ibunya (termasuk cerita mengenai hubungan Tina dan kekasih terdahulunya yang putus) sepertinya terlalu jauh dari tema utama.

Secara tersirat, penulis ingin menunjukkan bahwa orang-orang yang tak punya apa-apa pun memiliki kebaikan.

Akibat dari melebarnya konflik, cerita pun kurang fokus. Misalnya keberadaan sekolah lukis, pembahasan tokoh Tedy, beberapa konflik-konflik kecil lainnya.

Sebenarnya, novel ini bercerita tentang apa?

Kemudian, eksekusi cerita pun saya nilai terlalu terburu-buru. Pertemuan yang terjadi kurang menyentuh. Ada beberapa “kebetulan” yang digarap seadanya dan membuat cerita jadi kurang jreng. Misalnya pertemuan Tina dengan Bintang dan Kerlip, alasan kepergian Kerlip, atau pertemuan Bintang dengan Kakek Agung.

Dari sudut pemilihan setting, novel ini cukup bagus. Penulis menjadikan kota Solo sebagai tempat bercerita. Penguraian tempat cukup menunjukkan dimana kisah sedang berlangsung. Namun, lagi-lagi yang kurang diperhatikan adalah komunikasi antar tokoh. Saya rasa sih kalau settingnya di Solo, perlu ada sentuhan bahasa Jawa yang menegaskan cerita.

Berikut beberapa bagian yang menurut saya kurang pas:

“Oh, sungguh kehormatan bagi kami, Dokter,” jawab Tina sambil tersenyum malu-malu. Entah mengapa ia agak grogi berbicara dengan Dokter Irwan. Jatuh cintakah? Hal 86.

Bagian ini adalah ketika Dokter Irwan datang ke Seroja, tempat penampungan anak jalanan dan ingin menjadi relawan. Mengambil kesimpulan “jatuh cinta” saya rasa kurang cocok. Bagaimanapun, mereka baru bertemu. Dan misalnya itu adalah cinta pada pandangan pertama, perlu dicari cara yang lebih elegan untuk mengatakannya. Nggak semudah itu.

“Apa benar kau bukan pelakunya, Nak?” tanya kepala polisi.

“Iya, Pak!”

“Apa kau punya bukti?” Hal 100

Adegan ini adalah ketika Kerlip tertangkap oleh polisi karena pengaduan istri tuan tanah.  Seharusnya yang perlu dimintai bukti adalah yang mengadukan, bukan yang diadukan. Jika tidak ada bukti kejahatan, untuk apa ditangkap?

Namun yang menyenangkan dalam novel ini adalah adegan detektif-detektifan untuk mencari tahu persembunyian para bandit. Penuh misteri dan memancing rasa penasaran. Ngomong-ngomong, masih adakah yang menggunakan istilah bandit pada masa kini?

Iklan

One thought on “[Resensi Buku] Kisah Anak Jalanan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s