[Review Buku] Bertemu Lima Orang Penting

Eddie bekerja di taman hiburan hampir sepanjang hidupnya, memperbaiki dan merawat berbagai wahana. Tahun-tahun berlalu, dan Eddie merasa terperangkap dalam pekerjaan yang dirasanya tak berarti. Hari-harinya hanya berupa rutinitas kerja, kesepian, dan penyesalan.

Pada ulang tahunnya yang ke-83, Eddie tewas dalam kecelakaan tragis ketika mencoba menyelamatkan seorang gadis kecil dari wahana yang rusak. Saat mengembuskan napas terakhir, terasa olehnya sepasang tangan kecil menggenggam tangannya. Ketika terjaga, dia mendapati dirinya di alam baka. Dan ternyata Surga bukanlah Taman Eden yang indah, melainkan tempat kehidupan manusia di dunia dijelaskan oleh lima orang yang telah menunggu. Lima orang yang mungkin orang-orang yang kita kasihi, atau bahkan orang-orang yang tidak kita kenal, namun telah mengubah jalan hidup kita selamanya, tanpa kita sadari.

♣♣♣

Judul: The Five People You Meet in Heaven

Penulis: Mitch Albom

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: 2007

ISBN: 978-979-22-1349-2

Tebal: 208 halaman

♣♣♣

Setiap orang pasti akan meninggal. Hanya saja, kita tidak tahu kapan waktunya. Berangkat dari ide tersebut, Mitch Albom meramu kisah yang luar biasa. Tersebut seorang lelaki–Eddie–penjaga wahana permainan di Ruby Pier. Usianya di dunia ini tersisa 50 menit saja. Kebetulan, hari yang diceritakan itu adalah ulang tahun Eddie yang ke-83. Eddie bekerja seperti biasa, sebagai maintenance. Sisa hidup Eddie yang tinggal sedikit itu ternyata berisi sebuah peristiwa besar. Peristiwa yang berkaitan dengan penyesalan terbesar mantan prajurit yang kini kakinya tak bisa normal lagi.

Setelah Eddie meninggal, kisah tidak serta merta selesai. Justru, penulis mulai meraih satu-persatu benang merah yang ia tinggalkan sebelumnya. Satu demi satu ia simpulkan seolah-olah itulah waktu yang tepat. Di alam baka tersebut, Eddie bertemu dengan lima orang yang paling berpengaruh dalam hidupnya.

Kita sering berpikir dengan dangkal bahwa orang-orang yang kita kenal saat inilah yang sepenuhnya menjadi bagian dari kehidupan kita. Dengan sangat lihai, Mitch Albom membantah pengetahuan umum itu. Bahkan, orang-orang yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya, bisa pula menjadi bagian dari kehidupan kita yang sederhana ini. Rumit sekali jika dibayangkan hubungan-hubungan yang terjadi.

Di dunia nyata, hal itu tidak mustahil. Seberapa sering kita berkenalan dengan seseorang dan ternyata ia adalah kakak dari sahabat kita di masa lalu? Atau teman dari guru les idola kita? Katanya, dunia ini sempit. Kita bersinggungan dengan orang-orang yang sejatinya memiliki kaitan dengan kita. Dan bukan hanya berkaitan, orang-orang tersebut bisa jadi mempengaruhi jalan kehidupan kita.

Bermain-main dengan alur maju mundur membuat pembacaan novel ini sangat menarik. Kita memang harus belajar untuk fokus–dan itu bukan hal yang sulit, permainan kata Mitch Albom yang sangat indah akan mendukung kita melakukannya. Saya hanya ingin terus memakukan mata pada baris-baris kalimat Albom, berharap tak ada satu pun yang terlewatkan.

Bicara secara menyeluruh, novel ini sangat kaya. Memang rasanya kurang masuk akal. Bagaimana mungkin Surga bisa seperti itu? Albom memang belum pernah ke Surga. Namun, esensi dari karyanya ini benar-benar tercapai dan jelas sekali. Siapa yang kira-kira akan kita temui pada waktunya kita sudah mati? Apakah yang akan mereka katakan jika nanti mereka menjelaskan jalan hidup kita yang tampaknya tak berarti?

Atas cerita dari pamannya sendiri, Albom meramu sebuah kisah yang bukan hanya menginspirasi tetapi juga memotivasi. Tentu saja dengan menanamkan kesadaran dalam diri pembaca masing-masing bahwa hidup yang sekali ini sungguh tak layak untuk disia-siakan. Jika pun kita merasa itu sia-sia, kita hanya belum tahu siapa yang merasa beruntung karenanya.

Kadang-kadang kalau kau mengorbankan sesuatu yang berharga, kau tidak sungguh-sungguh kehilangan itu. Kau hanya meneruskannya pada orang lain. The Five People You Meet in Heaven – halaman 97

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s